Anda di halaman 1dari 17

Beberapa Aspek Hukum Perjanjian Kredit

(Credit Agreement)
August 24, 2012 by bh4kt1
Beberapa Aspek Hukum Perjanjian Kredit (Credit
Agreement/Loan Agreement)
Perjanjian kredit (credit/loan agreement) merupakan salah satu perjanjian yang dilakukan antara
bank dengan pihak ketiga, yang dalam hal ini adalah nasabahnya. Perjanjian kredit sebenarnya
dapat dipersamakan dengan perjanjian utang-piutang. Perbedaannya, istilah perjanjian kredit
umumnya dipakai leh bank sebagai kreditur, sedangkan perjanjian utang-piutang umumnya
dipakai leh masyarakat dan tidak terkait dengan bank.!1" #enurut Pasal 1 angka 11 $$
Perbankan,!2" kredit diartikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan
pihak lain yang me%ajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka %aktu
tertentu dengan pemberian bunga. &erdasarkan pengertian ini, perjanjian kredit dapat diartikan
sebagai perjanjian pinjam-meminjam antara bank sebagai kreditur dengan pihak lain sebagai
debitur yang me%ajibkan debitur untuk melunasi utangnya setelah jangka %aktu tertentu dengan
pemberian bunga.
Pemberian istilah 'perjanjian kredit( memang tidak tegas dinyatakan dalam peraturan
perundang-undangan. )amun, berdasarkan surat &ank *ndnesia ).0+/10,+/$P-/-P. tanggal
2, .esember 1,/0 yang ditujukan kepada segenap &ank .e0isa saat itu, pemberian kredit
diinstruksikan harus dibuat dengan surat perjanjian kredit sehingga perjanjian pemberian kredit
tersebut sampai saat ini disebut Perjanjian -redit.!+"
$$ Perbankan memberikan ketentuan-ketentuan pkk terhadap bank yang memberikan kredit
kepada para nasabahnya. -etentuan-ketentuan pkk ini merupakan pedman perkreditan yang
%ajib dimiliki dan diterapkan leh bank dalam pemberian kredit,!4" yaitu1
1. Pemberian kredit dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis.
2. &ank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur yang
antara lain diperleh dari penilaian seksama terhatap %atak, kemampuan, mdal, agunan
dan prspek usaha nasabah debitur.
+. -e%ajiban bank untuk menyusun dan menerapkan prsedur pemberian kredit.
4. -e%ajiban bank untuk memberikan in2rmasi yang jelas mengenai prsedur dan
persyaratan kredit.
3. 4arangan bank untuk memberikan kredit dengan persyaratan yang berbeda kepada
)asabah .ebitur dan atau pihak-pihak tera2iliasi.
5. Penyelesaian sengketa.
Pada prinsipnya, ketentuan-ketentuan pkk tersebut tidak hanya memberikan pedman atau
landasan bagi bank sebagai kreditur untuk menerapkan prinsip kehati-hatian, melainkan juga
dapat digunakan sebagai pegangan bagi para nasabah debitur dalam memperleh 2asilitas kredit
dari bank.
-redit dapat diglngkan dalam berbagai ma6am kategri. #a6am-ma6am kredit!3" dilihat dari
tujuannya, dapat dibedakan sebagai berikut1
1. -redit knsumti2, yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk memperleh/membeli
barang-barang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang bersi2at knsumti2.
2. -redit prdukti2, yaitu kredit yang diberkan dengan tujuan untuk memperlan6ar jalannya
prses prduksi.
+. -redit perdagangan, yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk membeli barang-
barang untuk dijual lagi, yang terdiri atas kredit perdagangan dalam dan luar negeri.
-alau dilihat dari sudut jangka %aktunya, kredit dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu kredit
jangka pendek (kurang dari 1 tahun), kredit jangka menengah (maksimal + tahun) dan kredit
jangka panjang (lebih dari + tahun). 7ementara, kalau kredit dilihat dari sudut jaminannya,!5"
dapat berupa kredit tanpa jaminan (di *ndnesia dilarang dilakukan leh bank) dan kredit dengan
jaminan, seperti barang bergerak/tidak bergerak, pribadi (borgtocht), dan e2ek-e2ek saham.
Perjanjian borgtocht adalah perjanjian di mana satu pihak (borg) menyanggupi pihak lainnya
(kreditur) bah%a ia menjamin pembayaran suatu utang, apabila si terutang (debitur) tidak
menepati ke%ajibannya.
7elain itu, subyek dalam perjanjian kredit tidaklah selalu perserangan. &erdasarkan status
hukum debiturnya,!/" kredit bank umum dapat dibedakan menjadi 2 ma6am glngan, yaitu
kredit yang diberikan kepada debitur yang berstatus badan hukum (kredit krprasi) dan kredit
yang diberikan kepada debitur perrangan. .alam hal pertama, debitur kredit ini merupakan
badan usaha yang membutuhkan dana untuk mdal kerja, pengadaan 2asilitas baru, penggantian
atau ren0asi 2asilitas prduksi yang ada dan sebagainya. .alam hal kredit perrangan, kredit
yang diberikan umumnya untuk membiayai kebutuhan barang dan jasa knsumti2, antara lain
kredit perumahan, atau kartu kredit.
Subyek Hukum dalam Perjanjian Kredit
#anusia adalah rang (persoon) dalam arti hukum, demikian menurut Paul 76hlten.!8" 9ukum
merupakan hal yang tidak terlepas dari manusia (persoon) karena hukum mengatur bagaimana
manusia bertindak di depan hukum. .i dalam ilmu hukum, persoon disebut sebagai pendukung
atau subyek hak.!," )amun, istilah persoon memiliki memiliki pengertian yang lebih luas, tidak
saja men6akup naturrlijk persoon (rang pribadi), melainkan melainkan juga rechtpersoon
(badan hukum), yaitu rang yang di6iptakan hukum se6ara 2iksi.!10"
#enurut 7emitr, pengertian badan hukum merupakan suatu badan yang dapat mempunyai
harta kekayaan, hak serta ke%ajiban seperti rang-rang pribadi.!11" .alam hal ini, 7emitr
melihat badan hukum dari segi ke%enangannya, yang terbagi atas dua, yaitu1 1) ke%enangan atas
harta kekayaan dan 2) ke%enangan untuk mempunyai hak dan mempunyai ke%ajiban.
Pendekatan lain dikemukakan leh 7ri 7ede%i #asj6hen!12" yang menyebutkan bah%a
badan hukum merupakan kumpulan rang yang bersama-sama bertujuan untuk mendirikan suatu
badan, yaitu ber%ujud himpunan dan harta kekayaan yang disendirikan untuk tujuan tertentu.
Pandangan ini di2kuskan pada pengertian badan hukum dari segi tujuan dan pendiriannya.
&erdasarkan kedua pandangan tersebut, badan hukum setidaknya memiliki unsur-unsur sebagai
berikut1
1. mempunyai tujuan tertentu
2. mempunyai harta kekayaan
+. mempunyai hak dan ke%ajiban dan
4. mempunyai rganisasi.
:leh sebab itu, hukum tidak hanya memberikan legal personality kepada manusia. #anusia
dapat membentuk suatu krprasi yang kemudian diakui sebagai juristic person !1+" sehingga
dapat bertindak seperti halnya rang-perserangan. :leh karena badan hukum merupakan entitas
hukum (legal entity) yang diberikan leh hukum, maka badan hukum tersebut harus ditetapkan
menurut ketentuan yang berlaku.
#asing-masing subyek hukum, baik rang pribadi maupun badan hukum dapat bertindak dalam
lalu lintas hukum, yaitu melakukan perbuatan hukum. 7uatu perbuatan hukum adalah setiap
perbuatan yang akibatnya diatur leh hukum sebagai akibat yang dikehendaki leh yang
membuatnya,!14" misalnya untuk dapat memiliki kekayaan, mempunyai utang, membuat
perjanjian dan seterusnya. ;erkait dengan subyek hukum dalam perjanjian, Pasal 1+20 juncto
Pasal 1+2, -$9 Perdata mensyaratkan bah%a perjanjian itu harus dibuat leh rang yang 6akap
dalam melakukan tindakan hukum. 7ementara terkait dengan badan hukum, -$9 Perdata
mengaturnya se6ara khusus dalam &ab *< &uku ***, mulai Pasal 153+ sampai dengan Pasal 1553
-$9 Perdata. Pasal 1534 -$9 Perdata menyatakan bah%a badan hukum yang diakui sah dapat
melakukan perbuatan-perbuatan hukum perdata sehingga ketentuan ini dipandang sebagai dasar
hukum yang menyatakan bah%a badan hukum sebagai subyek hukum.
Perjanjian kredit dapat juga ditinjau dari sudut subyek hukumnya, yaitu dari sisi kreditur maupun
debitur. .ari sisi kreditur, perjanjian kredit dapat dilakukan antara dua kreditur dengan satu
debitur, yang disebut sebagai kredit sindikasi. .ari sisi debitur, subyek hukumnya dapat berstatus
badan hukum (krprasi) maupun perrangan. =alaupun badan hukum krprasi dan rang
perserangan dapat melakukan tindakan hukum (rechtsbevoegdheid), namun keduanya tetap
memiliki penge6ualian atau pembatasan. Penge6ualian atau pembatasan ini biasanya diatur
se6ara tegas dalam peraturan perundang-undangan. 7ebagai 6nth, terhadap subyek hukum
perserangan, -$9 Perdata masih memberlakukan adanya ke6akapan berbuat
(handelingsbekwaam) dan ketidak6akapan berbuat (handelingsbekwaan) bagi anak-anak di
ba%ah umur, yang belum genap 21 tahun atau di ba%ah pengampuan. .alam lapangan hukum
kekayaan pada prinsipnya kemampuan badan hukum sama seperti rang perserangan sehingga
badan hukum dapat melakukan hubungan-hubungan hukum dalam bidang perikatan dan
kebendaan, membuat perjanjian-perjanjian tertulis dan tidak tertulis dengan pihak ketiga atau
memiliki benda-benda, baik yang ber%ujud atau tidak ber%ujud. 7ebagai penge6ualiannya,
badan hukum menurut $$ Pkk Agraria!13" tidak dapat memiliki 9ak #ilik atas tanah.
Pada lapangan hukum a6ara perdata, badan hukum dapat menjadi pihak yang berperkara.
)amun, badan hukum selalu di%akili dan pihak yang me%akilinya adalah rgan yang berhak
atau yang ditunjuk leh undang-undang atau anggaran dasar badan hukum tersebut. &adan
hukum yang di%akili disebut dengan materielle partij, sedangkan rgan yang me%akilinya
disebut formeele partij.!15" -nsep hubungan hukum antara badan hukum dan rang yang
me%akilinya merupakan suatu bentuk per%akilan. #enurut ilmu hukum, per%akilan
dimaksudkan sebagai bentuk mempertanggungja%abkan perbuatan hukum seserang kepada
rang lain daripada rang yang berbuat, untuk bertindak dalam batas %e%enang yang diberikan
dan atas nama principaal.!1/".engan demikian, suatu per%akilan memiliki + unsur, yaitu 1)
pertanggungja%aban suatu perbuatan hukum, 2) dilaksanakan dalam batas %e%enang dan +)
dilakukan dengan atas nama dan untuk kepentingan prinsipal.
7alah satu bentuk badan hukum adalah Perusahaan ;erbatas (P;).!18" Pengertian Perseran
;erbatas dapat dilihat pada Pasal 1 angka 1 $$ Perseran ;erbatas, !1," yaitu badan hukum
yang merupakan persekutuan mdal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha
dengan mdal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam undang-undang. 7eperti halnya rang pribadi,Perseran terbatas dapat
melakukan perbuatan hukum dalam menjalankan usahanya. $ndang-undang menentukan bah%a
ke6akapan bertindak hanya timbul apabila undang-undang menyatakan demikian. -e6akapan
bertindak perseran terbatas sebagai subyek hukum ditegaskan dalam $$ Perseran ;erbatas.
Agar dapat ditetapkan sebagai subyek hukum, akta pendirian perseran terbatas harus disahkan
leh #enteri 9ukum dan 9ak Asasi #anusia >epublik *ndnesia. 7etelah memperleh status
badan hukum, perseran terbatas resmi dapat melakukan tindakan hukum yang dalam
pelaksanaanya di%akili leh pengurus perseran.!20" Pasal ,2 juncto Pasal ,8 $$ Perseran
;erbatas menyebutkan bah%a direksi me%akili perseran, baik di dalam maupun di luar
pengadilan. -e%enangan direksi untuk me%akili perseran tersebut tidak terbatas dan tidak
bersyarat, ke6uali ditentukan lain dalam undang-undang, anggaran dasar, atau keputusan >apat
$mum Pemegang 7aham. .engan demikian, ke6akapan bertindak perseran dijalankan leh
direksi sebagai pengurus perseran. .alam menjalankan pengurusannya, direksi bekerja untuk
kepentingan perseran dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseran serta dalam batas-batas
yang ditentukan leh $$ Perseran ;erbatas dan Anggaran .asar Perseran. .alam
Penjelasannya, ketentuan tersebut menugaskan direksi untuk mengurus perseran yang, antara
lain meliputi pengurusan sehari-hari dari perseran.
.alam menjalankan tindakan pengurusan, seperti membuat perikatan dengan pihak ketiga,
direksi tidak bertanggung ja%ab untuk diri sendiri, melainkan menjadi tanggung ja%ab perseran
terbatas sebagai subyek hukum yang mandiri. Pertanggungja%aban direksi se6ara pribadi
terhadap perikatan yang dibuatnya atas nama perseran terbatas hanya dapat terjadi dalam situasi
tertentu.!21" Pasal ,/ ayat (+) $$ Perseran ;erbatas menyatakan bah%a setiap anggta
direksi!22" bertanggung ja%ab penuh se6ara pribadi!2+" atas kerugian perseran apabila yang
bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan itikad baik dan penuh
tanggung ja%ab. $ntuk dapat terhindari dari ke%ajiban untuk menanggung kerugian yang
diderita perseran terbatas, maka direksi harus dapat membuktikan1
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya?
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan
sesuai dengan maksud dan tujuan Perseran?
6. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan
pengurusan yang mengakibatkan kerugian? dan
d. telah mengambil tindakan untuk men6egah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.
Kedudukan Perjanjian Kredit dalam Hukum Perjanjian
-$9 Perdata membedakan antara perjanjian yang mempunyai nama tertentu (perjanjian
bernama) dan yang tidak mempunyai nama tertentu (perjanjian tidak bernama). Perjanjian
bernama adalah perjanjian yang ditentukan leh undang-undang se6ara khusus, terdapat dalam
&ab @ sampai &ab <@*** &uku *** -$9 Perdata, antara lain perjanjian jual beli, perjanjian
tukar-menukar, perjanjian se%a-menye%a dan perjanjian pinjam-meminjam.
#enurut Pr2. 7ubekti,!24" semua pemberian kredit pada hakekatnya merupakan perjanjian
pinjam-meminjam sebagaimana diatur dalam Pasal 1/34 s/d 1/5, -$9 Perdata. Perjanjian
pinjam-meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada
pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian, dengan
syarat bah%a pihak yang terakhir ini mengembalikan sejumlah yang sama dari jenis dan mutu
yang sama pula (Pasal 1/34 -$9 Perdata). .alam hal ini, Pr2. 7ubekti melihat kredit sebagai
suatu hal yang umum. 7ementara, perjanjian kredit yang diberikan leh bank memiliki
karakteristik yang khusus, terutama berkaitan dengan knsep utang. Pada perjanjian kredit dalam
bentuk >ekening -ran, utang yang timbul sebagai akibat perjanjian tersebut bukanlah nilai
pagu kredit yang diberikan leh bank, melainkan jumlah yang benar-benar dipakai leh debitur.
#enurut yurisprudensi #ahkamah Agung, dalam hal peminjaman uang, utang yang terjadi
karenanya hanyalah terdiri atas jumlah uang yang disebutkan dalam perjanjian.!23"
#ariam .arus &adrulAaman mengglngkan perjanjian kredit bank sebagai perjanjian bernama.
!25" .engan demikian, perjanjian kredit diglngkan dalam perjanjian pinjam-meminjam atau
perjanjian peminjaman yang terbagi dalam perjanjian pinjam-meminjam se6ara pinjam pakai
yang byek hukumnya berupa benda yang tidak dapat diganti (bruikleen) dan yang byek
hukumnya merupakan benda yang dapat dihabiskan dalam pemakaian dan dapat diganti dengan
benda yang sejenis (verbruikleen). 7umardi #angunkusum!2/" melihat bah%a byek hukum
dalam perjanjian kredit adalah uang yang diglngkan sebagai benda yang dapat digunakan
sampai habis. Badi, perjanjian kredit termasuk perjanjian peminjaman benda yang dapat
habis/diganti (verbruikleen). Perjanjian peminjaman merupakan perjanjian yang riil (nyata) yang
berarti bah%a perikatan baru dianggap terjadi apabila byek hukumnya (uang) dengan nyata
telah diserahkan. 7ementara, perjanjian pemberian kredit merupakan perjanjian knsensual
(consensuele overeenkomst) yang berarti perikatannya sudah terjadi %alaupun uang belum
diserahkan. .alam hal ini, perjanjian pemberian kredit atau membuka kredit hanya merupakan
kesanggupan saja dan dapat diglngkan sebagai perjanjian bersyarat dengan syarat tangguh atau
penundaan (opschortende voorwaarde) sampai nantinya debitur mengambil atau menerima
uangnya.
Pasal 1 angka 11 $ndang-$ndang Perbankan, kredit diberi pengertian sebagai penyediaan uang
atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang me%ajibkan pihak peminjam untuk
melunasi utangnya setelah jangka %aktu tertentu dengan pemberian bunga. &erdasarkan
pengertian ini, $ndang-$ndang jelas menegaskan bah%a pemberian kredit merupakan suatu
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam. #enurut 7jahdeini, pembentuk $ndang-
$ndang dalam hal ini melihat perjanjian kredit sebagai perjanjian kntraktual antara bank dan
nasabah debiturnya yang berbentuk pinjam-meminjam.!28" .engan demikian, terhadap
hubungan hukum para pihak dalam perjanjian kredit, berlaku ketentuan-ketentuan umum tentang
perikatan dan khususnya &ab <*** -$9 Perdata mengenai pinjam-meminjam seperti yang telah
diuraikan sebelumnya.
=alaupun umumnya perjanjian kredit dianggap sebagai perjanjian bernama dan dikuasai leh
ketentuan-ketentuan khusus dalam &ab <*** &uku *** -$9 Perdata, namun beberapa sarjana
juga menganggap perjanjian kredit sebagai perjanjian tidak bernama karena memiliki
karakteristik yang tidak sama dengan yang diatur leh ketentuan-ketentuan &ab <*** tersebut.
.alam hal ini, perjanjian kredit diglngkan sebagai perjanjian riil. .ikatakan riil karena
perjanjian kredit diikuti baru terjadi setelah dilakukan penyerahan uang, sedangkan dalam
prakteknya penyerahan uang belum tentu dilakukan pada saat penandatanganan perjanjian kredit.
7utan >emi 7jahdeini!2," sendiri mengglngkan perjanjian kredit sebagai perjanjian bernama
(khusus) namun bukan termasuk perjanjian pinjam-meminjam seperti yang diatur leh -$9
Perdata. &eliau mengemukakan + alasan mengapa perjanjian kredit bank bukan perjanjian
pinjam-meminjam yang diatur leh -$9 Perdata. Pertama, perjanjian pinjam-meminjam (Pasal
1/34 -$9 Perdata) termasuk perjanjian riil karena sudah terjadi penyerahan uang. 7ebaliknya,
perjanjian kredit bank merupakan perjanjian knsensuil karena perjanjian tersebut baru
merupakan perjanjian pendahuluan dan belum terjadi penyerahan uang. -edua, pada perjanjian
kredit debitur tidak leluasa dalam menggunakan uang yang dipinjamkannya karena harus sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam perjanjian kredit. 7ebaliknya, dalam perjanjian
pinjam-meminjam, debitur dianggap sebagai pemilik uang sehingga berkuasa penuh untuk
menggunakan uang tersebut. -etiga, perjanjian kredit disertai dengan syarat-syarat penggunaan,
yaitu dengan menggunakan 6ek atau melalui pemindahbukuan. &ank selalu memberikan kredit
dalam bentuk rekening kran yang penarikan atau penggunaannya selalu berada di ba%ah
penga%asan bank. -etiga karakteristik inilah yang membedakan perjanjian kredit bank dari
perjanjian pinjam-meminjam menurut -$9 Perdata.
.alam perjanjian kredit, kreditur tidak bleh meminta kembali apa yang telah dipinjamkannya
sebelum le%at %aktu yang ditentukan dalam perjanjian (Pasal 1/3, -$9 Perdata). 7ebaliknya,
debitur yang menerima pinjaman sesuatu di%ajibkan mengembalikannya dalam jumlah dan
keadaan yang sama dan pada %aktu yang ditentukan (Pasal 1/5+ -$9 Perdata). .alam hal ini,
debitur diberi kekuasaan untuk menghabiskan uang yang dipinjamkan sehingga berdasarkan
debitur di%ajibkan untuk mengembalikannya. !+0"
#eskipun perjanjian kredit tidak diatur se6ara tegas dan khusus dalam -$9 Perdata, unsur-
unsur perjanjian kredit tidak bleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diatur leh -$9
Perdata. 9al ini tegaskan leh Pasal 1+1, -$9 Perdata yang menyatakan bah%a semua
perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama
khusus, harus tunduk pada peraturan-peraturan umum yang termuat dalam &ab * dan &ab **.
Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku
Pembuatan perjanjian baku (standard contract atau perjanjian baku/adhesi) atau kntrak yang
mena%arkan klausula-klausula baku pada prinsipnya tidak dilarang. &entuk perjanjian-perjanjian
seperti ini memang tidak dapat lagi dihindari dalam kehidupan mdern seperti sekarang ini.
9ampir ,, persen dari perjanjian tertulis (kntrak) merupakan perjanjian dengan klausula baku.
!+1" -ndisi ini menunjukkan bah%a transaksi bisnis yang terjadi de%asa ini bukan melalui
prses negisasi yang seimbang di antara para pihak. Pihak yang satu telah menyiapkan syarat-
syarat baku dalam bentuk 2rmulir perjanjian yang disdrkan kepada pihak lain untuk disetujui
dengan hampir tidak memberikan kebebasan bagi pihak tersebut untuk melakukan negisasi.
=alaupun $ndang-$ndang Perbankan menentukan bah%a pemberian kredit harus diberikan
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam, namun tidak ada ketentuan lanjut
mengenai bagaimana bentuk dari perjanjian kredit tersebut. .alam prakteknya, perjanjian kredit
seringkali merupakan perjanjian baku.!+2" &ank biasanya mempunyai 2rm tersendiri dan di
sana-sini dilakukan perubahan seperlunya. =alaupun demikian, semua syarat dan kndisinya
(terms and conditions) sudah bersi2at baku. .alam hal ini, debitur hanya dalam psisi menerima
atau tidak perjanjian kredit tersebut. Apabila menerima semua syarat dan ketentuan dalam
perjanjian kredit, maka debitur harus menandatanganinya. 7ebaliknya, apabila debitur menlak,
ia tidak perlu menandatangani perjanjian kredit tersebut. Pasal 1++8 ayat (1) -$9Perdata
men6erminkan asas kebebasan bagi para pihak untuk dapat menentukan isi perjanjian. )amun,
masih ada pertentangan pendapat mengenai apakah perjanjian baku memenuhi asas
knsensualisme dan asas kebebasan berkntrak atau tidak.!++" Perjanjian dengan klausula baku
dianggap tidak memenuhi asas kebebasan berkntrak karena dibuat leh satu pihak, sehingga
pihak lainnya tidak dapat mengemukakan kehendak se6ara bebas.
#enurut 7jahdeini, kebebasan berkntrak yang menjadi prinsip umum perjanjian hanya dapat
ter6apai apabila para pihak yang terlibat memiliki bargaining power yang seimbang
(gelijkwaardigheid van partijen).!+4" 9al ini penting agar pelaksanaan perjanjian tersebut dapat
memberikan hasil yang sesuai, patut dan adil. -etidakseimbangan kedudukan antara para pihak
terjadi apabila pihak yang lebih kuat dapat memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lemah
sehingga pihak yang lemah mengikuti saja syarat-syarat kntrak yang diajukan kepadanya.
.alam perjanjian kredit, ketidakseimbangan kedudukan ini dapat terlihat dari bentuk perjanjian
kredit itu sendiri yang telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga nasabah debitur hanya perlu
memba6a dan menandatangani perjanjian tersebut. 4antaran perjanjian kredit bank umumnya
berupa perjanjian baku, pihak bank 6enderung hanya memperhatikan kepentingan-kepentingan
bank saja dalam menentukan hak dan ke%ajiban pada pihak.!+3" .alam hal ini, bank kurang
memperhatikan kepentingan nasabah debiturnya.
;erkait dengan perjanjian kredit bank, perjanjian baku tersebut umumnya telah dipersiapkan
se6ara sepihak leh bank. 7jahdeini!+5" melihat pengertian perjanjian baku se6ara lebih luas.
Perjanjian baku merupakan perjanjian yang hampir semua syarat-syaratnya telah dibakukan
sehingga pihak lain tidak dapat lagi merundingkan atau meminta perubahan atas klausula-
klausula tersebut. *stilah bakunya bukan merujuk 2rmulir perjanjiannya, melainkan pada
klausula-klausulanya. &erdasarkan pengertian tersebut, %alaupun perjanjian kredit tersebut
dibuat leh ntaris, namun apabila masih mengadpsi klausula-klausula yang disdrkan leh
salah satu pihak, sedangkan pihak lain tidak memiliki peluang untuk melakukan perundingan,
maka perjanjian ntariil tersebut juga dapat diglngkan sebagai perjanjian baku.
=alaupun demikian, keabsahan perjanjian baku tidak perlu dipersalkan mengingat adanya
kebutuhan masyarakat terhadap kndisi tersebut guna menjalankan usahanya. .unia bisnis tidak
dapat berjalan tanpa perjanjian baku.!+/" -etidakseimbangan kedudukan antara bank dan
nasabah debiturnya tidak selalu bertentangan dengan asas kebebasan berkntrak. 9al ini
disebabkan leh peranan bank itu sendiri yang tidak saja mengemban kepentingan masyarakat,
melainkan juga selaku bagian dari sistem mneter. Pertimbangannya, bank juga harus menjaga
kepentingan atau eksistensinya dalam melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang
mneter. 7ebagai 6nth, kebijakan bank menlak penarikan kredit yang telah disepakati demi
pertimbangan likuiditas bank yang sedang teran6am sehingga bank tidak bertanggung ja%ab
terhadap kerugian nasabah debiturnya sebagai akibat dari penlakan kredit tersebut. .alam hal
ini, tindakan yang dilakukan bank tidak dapat dianggap sebagai bertentangan dengan ketertiban
umum dan keadilan karena bank dalam hal ini justeru sedang mempertahankan eksistensinya.
Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Tertulis (Akta)
Akta merupakan tulisan yang sengaja dibuat untuk dijadikan alat bukti yang dalam 9ukum
(A6ara) Perdata diatur leh Pasal 1+8, 153, 15/ 9*> serta Pasal 1858 -$9 Perdata. &ukti tulisan
merupakan salah satu alat bukti yang sah atau yang diakui leh hukum. #enurut Pasal 185/
-$9 Perdata, pembuktian dengan tulisan dapat dilakukan se6ara tentik maupun dengan tulisan
di ba%ah tangan. #engenai ini, $$ Babatan )taris ($$ B)) tidak memberi pengertian lebih
lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan akta tentik. *stilah dan pengertian akta tentik
dapat dilihat dalam &uku -e-4 -$9 Perdata mengenai Bukti dan Daluwarsa. #enurut Pasal
1858 -$9 Perdata tersebut, akta tentik merupakan suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang
ditentukan undang-undang leh atau di hadapan pejabat umum yang ber%enang untuk itu di
tempat akta itu dibuat. .engan demikian, sebuah akta dapat dikatakan tentik apabila telah
memenuhi unsur-unsur1
1. .ibuat dalam bentuk yang ditentukan leh undang-undang?
2. .ibuat leh atau di hadapan pejabat umum yang ber%enang untuk maksud pembuatan
akta tersebut?
+. .ibuat di %ilayah ntaris ber%enang.
Akta yang dibuat di hadapan ntaris disebut akta ntarial, atau authentik, atau akta tentik.!+8"
:tentik itu berarti sah, harus dibuat di hadapan pejabat yang ber%enang, yang dalam hal ini
adalah ntaris sesuai dengan $$ B).!+," Pasal 18/0 -$9 Perdata kemudian menegaskan bah%a
akta tentik memberikan suatu bukti yang sempurna (terkuat) tentang apa yang termuat di
dalamnya, sepanjang berhubungan langsung dengan pkk isi akta. )amun, seringkali para
pihak membuat perjanjian yang ditulis sendiri leh para pihak, tidak dibuat di hadapan ntaris
yang disebut akta di ba%ah tangan (onderhands).!40"
$ndang-$ndang Perbankan di dalam pasal-pasalnya tidak menyatakan dengan tegas bah%a suatu
perjanjian kredit %ajib dalam bentuk tertulis. #enurut Pasal 8 ayat 2 $$ Perbankan, bank umum
%ajib memiliki dan menerapkan pedman perkreditan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
leh &ank *ndnesia sebagai lembaga yang ber%enang untuk menga%asi dan mengatur bank.
)amun, dalam Penjelasannya, $$ Perbankan se6ara tidak langsung telah menetapkan suatu
pedman perkreditan bah%a perjanjian kredit bank harus dibuat se6ara se6ara tertulis.!42"
.alam praktek perbankan di luar negeri, ada kemungkinan untuk memberikan 2asilitas kredit
berupa 6erukan (overdraft facility) tanpa adanya suatu perjanjian tertulis.!4+" #engenai bentuk
2rmal perjanjian kredit, &ank *ndnesia $nit *!44" pada tahun 1,55 pernah mengeluarkan
instruksi kepada bank untuk memberikan kredit dengan mempergunakan akad perjanjian kredit.
#enurut 7utan >emy 7jahdeini,!43" dengan adanya ke%ajiban untuk membuat akad perjanjian
kredit dapat dita2sirkan bah%a perjanjian kredit bank harus dilakukan dalam bentuk tertulis.
Alasannya, kalau peraturan tersebut tidak bermaksud merujuk pada suatu perjanjian tertulis,
peraturan tersebut tidak perlu menekankan istilah akad perjanjian kredit karena 9ukum
Perjanjian sebenarnya tetap mengakui adanya perjanjian tidak tertulis.
.alam praktek perbankan di *ndnesia, bank-bank membuat perjanjian kredit dengan dua
bentuk, yaitu perjanjian kredit berupa akta di ba%ah tangan dan perjanjian kredit berupa akta
ntaris. )amun, %alaupun $$ Perbankan dalam Penjelasannya me%ajibkan perjanjian kredit
bank harus dalam bentuk tertulis, bank lebih banyak membuatnya dalam bentuk perjanjian di
ba%ah tangan.!45" .engan kata lain, perjanjian tersebut dibuat tidak di hadapan pejabat umum
yang diberi %e%enang untuk membuat suatu perjanjian, dalam hal ini ntaris. Perjanjian
pemberian kredit leh bank kepada nasabahnya hanya dibuat di antara kreditur (pihak bank) dan
debitur, tanpa kehadiran ntaris. 4aAimnya, dalam penandatanganan akta perjanjian kredit, saksi
turut serta membubuhkan tandatangannya. Akan tetapi, %alaupun perjanjian dibuat di ba%ah
tangan, perjanjian tersebut tetap berlaku sah dan mengikat menurut hukum. Perbedaannya adalah
perjanjian tersebut tidak dipandang sebagai alat pembuktian yang sempurna dibandingkan
dengan akta tentik. &ila dikatakan tentik, maka hakim harus menerima dan menganggap apa
yang dituliskan di dalam akta tersebut sungguh-sungguh telah terjadi sehingga hakim tidak bleh
memerintahkan penambahan pembuktian lagi.!4/"
)taris merupakan pejabat umum yang diberi %e%enang leh undang-undang untuk membuat
akta tentik. #enurut Pasal 13 ayat (1) $$ Babatan )taris, ntaris ber%enang membuat akta
tentik mengenai perjanjian yang diharuskan leh peraturan perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki leh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta tentik, sepanjang
pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dike6ualikan kepada pejabat lain atau rang
lain yang ditetapkan leh undang-undang. .alam menjalankan ke%enangannya, ntaris dituntut
untuk mengetahui dan memahami seluk-beluk permasalahan hukum yang akan dihadapi dalam
menjalankan tugasnya. 9al ini dapat berarti bah%a dalam membuat perjanjian, ntaris harus
berpedman pada ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. )amun, %alaupun pembuatan
akta tentik merupakan ke%enangan ntaris, ketika pihak bank menggunakan jasa ntaris dalam
membuat perjanjian kredit, bank umumnya meminta ntaris untuk tetap berpedman pada
klausula-klausula yang baku dari pihak bank.!48"
=alaupun perjanjian kredit yang dibuat di ba%ah tangan maupun perjanjian kredit yang
dibuat dengan akta ntaris tidak memberikan kekuatan pembuktian yang sama, pada prinsipnya
perjanjian kredit tersebut memiliki 2ungsi yang sama, yaitu1!4,"
1. Perjanjian kredit merupakan alat bukti bagi kreditur dan debitur untuk membuktikan
adanya hak dan ke%ajiban yang timbal-balik antara bank sebagai kreditur dan nasabah
yang meminjam sebagai debitur.
2. Perjanjian kredit dapat digunakan sebagai alat bukti atau sarana peman2aatan atau
penga%asan kredit yang sudah diberikan, karena perjanjian kredit berisi syarat dan
ketentuan dalam pemberian kredit.
+. Perjanjian kredit merupakan perjanjian pkk yang menjadi dasar dari perjanjian
ikutannya, yaitu perjanjian pengikatan jaminan.
4. Perjanjian kredit hanya sebagai alat bukti yang membuktikan adanya utang debitur dan
perjanjian kredit tidak mempunyai kekuatan eksekutrial, yaitu tidak memberikan
kekuasaan langsung kepada bank (kreditur) untuk mengeksekusi barang jaminan/agunan
apabila debitur tidak mampu melunasi utangnya.
Klausula-Klausula Penting dalam Perjanjian Kredit
Asas kebebasan berkntrak yang berlaku dalam 9ukum Perjanjian mengisyaratkan para pihak
untuk dapat memperjanjikan hal-hal apa saja yang menurut mereka diperlukan sepanjang tidak
menyimpang dari ketentuan Pasal 1++, -$9 Perdata. Alasan inilah yang membuat materi
perjanjian kredit tidak memiliki 2rmulasi yang standar. -redit yang diberikan leh bank kepada
nasabah tentu mengandung risik. >isik yang dimaksud di sini merupakan ke%ajiban memikul
kerugian yang disebabkan leh suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak. ;erkait dengan
pemberian kredit leh bank, risik yang dimaksud adalah ketidakmampuan debitur untuk
membayar angsuran atau melunasi kreditnya karena sesuatu hal yang tidak dikehendaki.!30"
:leh karena pemberian kredit mengandung risik, maka bank di%ajibkan untuk mempunyai
keyakinan akan kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya.!31" *si dari
perjanjian kredit sangat ber0ariasi, namun laAimnya terdapat klausula-klausula yang dianggap
penting untuk sebuah perjanjian kredit. -lausula-klausula yang dianggap penting dalam suatu
perjanjian kredit, antara lain1!32"
1. 7yarat-syarat penarikan kredit pertama kali (predisbursement clause) yang menyangkut
pembayaran pr0isi, premi asuransi kredit dengan tujuan untuk memperke6il risik yang
terjadi di luar kesalahan debitur maupun debitur dan asuransi barang jaminan, penyerahan
barang jaminan beserta dkumennya.
2. -lausula mengenai maksimum kredit (amount clause) yang merupakan byek dari
perjanjian kredit dan menjadi batas ke%ajiban kreditur dalam menyediakan dana selama
tenggang %aktu perjanjian. -lausula ini juga terkait dengan penetapan nilai agunan yang
diserahkan berikut dengan besarnya pr0isi atau commitment fee.
+. -lausula mengenai jangka %aktu kredit yang merupakan tenggang %aktu antara
pemberian atau pen6airan kredit leh bank dengan pelunasan kredit leh debitur.
4aAimnya, pelunasan kredit dilakukan dengan 6ara angsuran sesuai kemampuan debitur.
&erdasarkan jangka %aktu ini pula, bank memiliki hak tagih dan dapat melakukan
teguran-teguran kepada debitur dalam hal debitur tidak memenuhi ke%ajibannya tepat
pada %aktunya.
4. -lausula mengenai bunga pinjaman (interest clause) yang merupakan penghasilan bank
yang baik se6ara langsung maupun tidak langsung diperhitungkan dengan biaya dana
untuk penyediaan 2asilitas kredit tersebut. &erdasarkan Pasal 1/53 dan 1/5/ -$9
Perdata, penetapan bunga di atas 5 C per tahun dapat dilakukan asalkan diperjanjikan
se6ara tertulis.
3. -lausula mengenai barang agunan kredit yang mengatur bah%a debitur tidak dapat
melakukan penarikan atau penggantian barang jaminan se6ara sepihak, tetapi harus
berdasarkan kesepakatan bersama. .alam perjanjian kredit, jaminan utang dapat berupa1
9ak ;anggungan atas ;anah, hiptik, 2idusia, gadai, corporate garansi, persnal garansi,
pengalihan tagihan (receivable assignment) dan sebagainya.!3+"
5. -lausula asuransi (insurance clause) yang bertujuan untuk mengalihkan risik yang
mungkin terjadi, baik atas barang agunan maupun atas kreditnya sendiri. Pada
hakekatnya, penutupan asuransi ini bertujuan untuk menjaga kepentingan bank dalam hal
debitur tidak dapat membayar kembali utangnya atau disebut kredit ma6et. )amun,
ketika terjadi sesuatu atas barang agunan atau kreditnya, bank bukan sebagai pihak dalam
perjanjian asuransi tersebut sehingga bank tidak memiliki kedudukan yang kuat. $ntuk
men6egah hal tersebut, biasanya bank melakukan 2 6ara.!34" Pertama, dengan
menambahkan klausula pemberian kuasa dari nasabah debitur kepada bank untuk
menagih dan menerima pembayaran dari maskapai asuransi. Perjanjian pemberian kuasa
ini dianggap tidak terpisahkan dengan perjanjian kredit dengan mengesampingkan sebab-
sebab berakhirnya pemberian kuasa menurut Pasal 181+ -$9 Perdata. =alaupun
demikian, klausula ini dianggap memiliki kelemahan karena pemberian kuasa tersebut
tidak akan menghilangkan hak debitur untuk menagih sendiri gantirugi dari maskapai
asuransi. Dara kedua disebut sebagai bankers clause yang di6antumkan pada perjanjian
asuransi (plis asuransi) bah%a debitur tersebut mengadakan perjanjian untuk
kepentingan bank sesuai yang diatur dalam Pasal 1+1/ -$9 Perdata. .engan demikian,
debitur tersebut tidak dapat menuntut haknya ketika bank telah menyatakan kehendaknya
untuk mempergunakan hak tersebut.
/. -lausula mengenai tindakan yang dilarang leh bank (negative clause) yang pada
utamanya bertujuan untuk melindungi kepentingan bank, baik se6ara yuridis maupun
se6ara eknmis, antara lain larangan untuk meminta kredit dari pihak lain tanpa seiAin
bank atau larangan mengubah bentuk perusahaan atau membubarkan perusahaan tanpa
seiAin bank.
8. Trigger clause (opeisbaar clause) berupa klausula yang mengatur hak bank untuk
mengakhiri perjanjian kredit se6ara sepihak %alaupun jangka %aktu perjanjian kredit
belum berakhir.
,. -lausula mengenai denda (penalty clause) yang dimaksudkan untuk mempertegas hak-
hak bank untuk melakukan pemungutan, baik mengenai besarnya maupun mengenai
kndisinya.
10. Expense clause yang mengatur mengenai beban biaya atau ngks-ngks yang timbul
sebagai akibat pemberian kredit dan biasanya dibebankan kepada nasabah debitur,
meliputi antara lain biaya pengikatan jaminan, pembuatan akta-akta perjanjian kredit,
pengakuan utang dan penagihan kredit.
11. -lausula mengenai ketaatan pada ketentuan bank untuk menjaga kemungkinan adanya
hal-hal yang belum diperjanjikan se6ara khusus, akan tetapi masih dipandang perlu
sehingga dianggap telah diperjanjikan se6ara umum, misalnya tempat dan %aktu
pen6airan serta penyetran kredit.
12. Dispute settlement (alternative dispute resolution) yang merupakan klausula mengenai
metde penyelesaian sengketa yang timbul antara kredit dan debitur sebagai akibat dari
perjanjian kredit tersebut.
!1" Erank ;aira 7upit, 'Aspek-Aspek 9ukum .ari '4an Agreement( dalam .unia &isnis
*nternasinal(, imposium !spek"!spek #ukum $asalah %erkreditan (Bakarta1 &adan Pembinaan
9ukum )asinal .epartemen -ehakiman, 1,83) hlm. 43.
!2" $$ )mr / ;ahun 1,,2 tentang Perbankan, 4) ;ahun 1,,2 )mr +1, ;4) )mr +4/2,
sebagaimana yang telah diubah dengan $$ )mr 10 ;ahun 1,,8 tentang Perbankan, 4) ;ahun
1,,8, )mr 182, ;4) )mr 2/,0.
!+" 7utarn, !spek"!spek #ukum %erkreditan pada Bank& hlm. ,,.
!4" Penjelasan Pasal 8 ayat (2) $$ Perbankan.
!3" >. Ali >idh, et. al, #ukum Dagang (&andung1 Alumni, 1,,2), hlm. 2/+.
!5" >idh, #ukum Dagang, hlm. 2/4. 4embaga jaminan di *ndnesia dapat dibedakan menurut
6ara terjadinya, yaitu jaminan yang lahir karena ditunjuk leh undang-undang (misalnya hak
retensi, Pasal 11+1 -$9 Perdata). Apabila dilihat si2atnya, maka jaminan dapat dibedakan
sebagai jaminan umum atau khusus.
!/" 7is%ant 7utj, !nalisa 'redit Bank (mum. 'onsep dan Teknik, hlm. 23.
!8" Dhidir Ali, Badan #ukum, 6et.2 (&andung1 Alumni, 1,,,), hlm. 5.
!," )bid., hlm. +.
!10" &adan hukum dapat dianalisis berdasarkan beberapa teri pendekatan, antara lain teri 2iksi,
teri knsesi, teri *weckvermogen, teri kekayaan bersama (teri Bhering) dan teri realis atau
rganik. ;eri 2iksi berpendapat bah%a kepribadian hukum sebenarnya hanya ada pada manusia,
sementara lainnya hanya khayalan. )egara, krprasi, lembaga tidak dapat menjadi subyek hak
dan ke%ajiban, namun diperlukan selah-lah badan itu adalah manusia. ;eri knsesi
berpendapat bah%a badan hukum dalam negara tidak memiliki kepribadian hukum, ke6uali
diperkenankan leh hukum, yang berarti negara. ;eri *weckvermogen memandang badan
hukum sebagai tujuan-tujuan tertentu dan untuk tujuan tersebut diperlukan pengabdian dari
rang-rang yang mengella badan hukum tersebut. ;eri kekayaan bersama (teri Bhering)
melihat bah%a subyek badan hukum adalah manusia-manusia di belakangnya karena inti dari
badan hukum adalah pemilikan bersama dari harta kekayaan badan hukum. ;eri realis atau teri
rganik memandang badan hukum sebagai badan yang membentuk kehendaknya dengan
perantaraan rgan-rgan atau alat-alat badan hukum tersebut. 7alim 9.7, #ukum 'ontrak.., hlm.
/+.
!11" )bid., hlm. 54.
!12" )bid.
!1+" .enis -eenan dan 7arah >i6hes, Business +aw, +
rd
ed., (4ndn1 Pitman Publishing, 1,,+),
hlm. 3+.
!14" Perbuatan hukum adalah perbuatan yang dilakukan leh subyek hukum, baik rang maupun
badan hukum. Perbuatan hukum biasanya dikehendaki leh yang membuatnya sehingga dapat
dikatakan perbuatan yang tidak dikendaki leh yang membuatnya bukan merupakan perbuatan
hukum. 4ihat Ali, Badan #ukum, hlm. 182.
!13" $$ )mr 3 ;ahun 1,50, 4) )mr 104, ;4) )mr 204+.
!15" &adan hukum hanyalah sebuah pengertian (begrip), yang bertindak atas nama badan hukum
tersebut selalu rang-rang, Badi, badan hukum bertindak dengan perantaraan rang yang
biasanya disebut dengan rgan.. 4ihat Ali, Badan #ukum,, hlm. 1/8.
!1/" Per%akilan menurut ilmu hukum dibagi menjadi per%akilan menurut undang-undang
(wettelijke vertegenwoordiging) dan per%akilan menurut perjanjian (vollmacht). #enurut
7ena%ar 7eka%ati per%akilan dibagi tiga, yaitu 1) per%akilan menurut undang-undang
(per%akilan yang ditetapkan leh undang-undang), 2) per%akilan menurut perjanjian (vollmacht)
seperti perjanjian kuasa atau perjanjian kerja, dan +) per%akilan rganik yang timbul berdasarkan
statuten suatu badan hukum (tidak ada perjanjian maupun undang-undang). 4ihat Ali, Badan
#ukum, hlm. 18/.
!18" $ntuk melakukan bisnisnya, undang-undang memberikan kemungkinan bagi pelaku usaha
untuk membentuk krprasi, antara lain perseran terbatas (P;) sebagai badan hukum krprasi
sehingga dapat melakukan perbuatan-perbuatan dalam bidang hukum perdata. Pemilihan bentuk
perseran ini memiliki keuntungan, antara lain tanggung ja%ab terbatas bagi para in0estrnya,
in0estr dapat se6ara bebas mengalihkan kepentingannya, kemandirian perseran yang tetap ada
%alaupun terjadi perubahan kepemilikan perseran, serta adanya manajemen yang terpusat.
=alaupun demikian, perseran terbatas dapat juga disalahgunakan untuk melindungi para
pemegang saham (in0estr) dari perbuatan hukum yang dilakukan leh perseran itu sendiri,
yang dalam hal ini, di%akili leh direksinya. $ntuk men6egah hal tersebut, undang-undang
memberi kemungkinan bagi para in0estr untuk dimintai pertanggungja%abannya apabila
perbuatan perseran merugikan kepentingan pihak ketiga (kreditur). .ktrin ini disebut piercing
the corporate veil. 4ihat 7uharnk, #ukum %erjanjian. Teori dan !nalisa 'asus, hlm. 143.
!1," $$ )mr 40 ;ahun 200/, 4) )mr 105, ;4) )mr 4/35.
!20" #enurut Paul 76hlten, per%akilan badan hukum termasuk dalam per%akilan pengangkatan
(aanstelling) karena pengurus diangkat leh rapat umum. =alaupun demikian rapat umum tidak
dapat memerintahkan pengurus karena luasnya ke%enangan pengurus ditentukan dalam
anggaran dasar/statutair sehingga pengangkatan pengurus bukan per%akilan berdasarkan surat
kuasa. Pada per%akilan surat kuasa, rang yang mengangkat dapat memerintahkan rang yang
me%akilinya. 4ihat Ali, Badan #ukum, hlm. 1,1.
!21" ;erkait dengan tanggung ja%ab pribadi, >d. 9asan )ata Permana memberikan tinjauan
yang menarik mengenai perusahaan. &eliau membedakan perusahaan yang dtinjau dari sudut
pertanggungja%abannya untuk membayar utang-utang dan ke%ajiban-ke%ajiban perusahaan
lainnya, yaitu1 1) perusahaan di mana pemiliknya bertanggung ja%ab penuh untuk membayar
segala utang-utang perusahaan, termasuk dalam hal ini adalah perusahaan perserangan
(eenmans-aken) dan 2irma dan 2) perusahaan di mana pemiliknya hanya tidak bertanggung
ja%ab atas utang-utang perusahaan, ke6uali sebatas mdal yang disetrkan sebagai peserta dalam
perusahaan, misalnya perseran terbatas yang dikenal sebagai ).@. (.aamlo-e /ennootschap).
4ihat >d. 9asan )ata Permana, Bentuk #ukum %erusahaan (&andung1 7ari 4td.,1,32), hlm.12.
!22" .alam hal direksi lebih dari 1 (satu) rang, direksi pada prinsipnya menganut sistem
per%akilan klegial, yang berarti tiap-tiap anggta direksi ber%enang untuk me%akili perseran.
)amun, untuk kepentingan Perseran, anggaran dasar dapat menentukan bah%a perseran
di%akili leh anggta direksi tertentu. #engingat sistem yang dianut adalah klegial, maka
ketika terjadi kerugian terhadap perseran sebagai akibat perbuatan hukum yang dilakukan leh
direksi, maka berdasarkan Penjelasan Pasal ,8 ayat (2) $$ Perseran ;erbatas, seluruh anggta
direksi bertanggung ja%ab penuh se6ara pribadi.
!2+" Pengertian pertanggungja%aban se6ara pribadi yang terpisah dari pertanggungja%aban
perseran terlihat jelas pada knsep pemisahan antara harta kekayaan pribadi pemegang saham
dan harta kekayaan perseran, seperti yang diuraikan dalam Penjelasan Pasal + ayat (1) bah%a
pemisahan harta kekayaan pribadi pemegang saham merupakan 6iri perseran dan pemegang
saham hanya bertanggung ja%ab sebesar setran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak
meliputi harta kekayaan pribadinya. .engan demikian, yang dimaksud sebagai
pertanggungja%aban pribadi direksi adalah pertanggungja%aban sampai pada harta pribadinya
sendiri.
!24" 7ubekti, 0aminan"0aminan untuk %emberian 'redit menurut #ukum )ndonesia& 6et. ke-
3(&andung1 Ditra Aditya &akti, 1,,1), hlm. +.
!23" *bid., hlm 4.
!25" #arian .arus &adrulAaman, Bab"Bab tentang 1redietverband& 2adai& dan 3idusia
(&andung1 Alumni,1,8/), hlm. 40.
!2/" 7umardi #angunkusum, 'Aspek-Aspek 9ukum Perkreditan bagi Flngan Gknmi
4emah(, dalam imposium !spek"!spek #ukum $asalah %erkreditan (Bakarta1 &adan
Pembinaan 9ukum )asinal .epartemen -ehakiman, 1,83) hlm. /+.
!28" 7jahdeini, 'ebebasan Berkontrak dan %erlindungan yang eimbang bagi %ara %ihak& hlm.
180.
!2," )bid., hlm. 150.
!+0" =alaupun Pasal 1/5+ -$9 Perdata menyebutkan bah%a debitur hanya di%ajibkan untuk
mengembalikan utang dalam jumlah yang sama, namun berdasarkan asas kebebasan berkntrak
para pihak dapat memperjanjikan bah%a yang dikembalikan tersebut tidak hanya berupa utang
saja, melainkan juga disertai dengan pembayaran bunga berdasarkan Pasal 1/53 dan 1/5/ -$9
Perdata yang menyebutkan bah%a penetapan bunga di atas 5 C per tahun dapat dilakukan
asalkan diperjanjikan se6ara tertulis. .engan demikian, perjanjian kredit tetap dapat diglngkan
sebagai perjanjian pinjam-meminjam menurut -$9 Perdata atau diglngkan sebagai perjanjian
bernama/khusus.
!+1" >bert A. 9illman H Be22rey B. >a6hlinski, '7tandard-Erm Dntra6ting in the Gle6trni6
Age(, Ihttp1//ssrn.6m/abstra6tJ28/81,Hgt?, diakses + #ei 2012.
!+2" Euady, #ukum %erkreditan 'ontemporer, hlm. 41.
!++" 9. #an 7. 7astra%idjaja, Bunga 4ampai #ukum Dagang (&andung1 P.; Alumni, 2003),
hlm. 1//.
!+4" 7jahdeini, 'ebebasan Berkontrak dan %erlindungan yang eimbang bagi %ara %ihak, hlm.
183
!+3" )bid., hlm. 182.
!+5" )bid., hlm. 55.
!+/" )bid., hlm. /0. 7jahdeini melihat perjanjian baku sebagai sebuah kebutuhan dalam
masyarakat sehingga tidak perlu dipersalkan legalitasnya sepanjang klausula-klausula yang
diperjanjian tidak men6erminkan kndisi yang 'berat sebelah( atau mengandung klausula-
klausula yang 'tidak %ajar( sehingga keberadaan perjanjian baku berdampak menindas hak-hak
dan keadilan pihak lain. 7ebagai 6nth, dalam perjanjian kredit, bank hanya men6antumkan
hak-haknya saja tanpa menjelaskan apa yang menjadi hak dari debitur. 7ebaliknya, perjanjian
tersebut 6enderung menegaskan ke%ajiban-ke%ajiban debitur saja.
!+8" A. -har, .otaris dalam %raktek #ukum (&andung1 Alumni, 1,8+), hlm. +.
!+," )bid.
!40" Para pihak juga dapat memintah peneguhan terhadap akta yang dibuat di ba%ah tangan.
)taris akan memberikan 6ap.
!42" Penjelasan Pasal 8 ayat (2) $$ Perbankan.
!4+" 7jahdeini, 'ebebasan Berkontrak dan %erlindungan yang eimbang bagi %ara %ihak.., hlm.
180. Derukan atau overdraft adalah sald negati2 pada rekening gir nasabah yang tidak dapat
dibayar lunas pada akhir hari.
!44" 7urat Gdaran &ank )egara *ndnesia $nit * ). 2/3+,/$P-/Pemb. tanggal 8 :ktber 1,55.
!43" 7jahdeini, 'ebebasan Berkontrak dan %erlindungan yang eimbang bagi %ara %ihak,,hlm
181. Pena2siran ini termasuk pena2siran se6ara telelgis, bukan se6ara grammatikal karena akad
sebenarnya berarti 'perjanjian( juga. Perjanjian kredit sudah %ajar dalam bentuk tertulis
ketentuan yang menyebutkan bah%a pemberian kredit harus berdasarkan persetujuan
memberikan pena2siran bah%a persetujuan yang dimaksud tidak lain adalah perjanjian se6ara
tertulis.
!45" &udi $ntungK 'redit %erbankan di )ndonesia, hlm. +1.
!4/" 7ebekti, %okok"%okok #ukum %erdata, 6et. 28 (Bakarta1 *ntermasa, 1,,5), hlm. 1/,.
!48" )bid, hlm. 182.
!4," 7utarn, !spek"!spek #ukum %erkreditan pada Bank& hlm. 101.
!30" 9ermansyah, #ukum %erbankan .asional )ndonesia, edisi re0isi, 6et. ke-5 (Bakarta1
-en6ana, 2011), hlm. 50.
!31" .alam mendukung prinsip keper6ayaan dan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit,
bank juga menerapkan prinsip-prinsip lain, seperti Prinsip 3D, yaitu character (penilaian
kepribadian apakah berkelakuan baik atau tidak), capacity (apakah memiliki kemampuan
berbisnis yang baik), capital (apakah kndisi keuangan atau permdalannya memberikan
kemampuan untuk membayar utang), condition of economy (kndisi eknmi yang terkait
dengan bisnis debitur) dan collateral (keharusan adanya agunan yang menjadi last resort bagi
kreditur dalam hal kredit ma6et). 4ihat Euady, #ukum %erkreditan 'ontemporer, hlm. 2+.
!32" *gnatius >id%an =idyadharma, #ukum sekitar %erjanjian 'redit (7emarang1 &adan
Penerbit $ni0ersitas .ipnegr, 1,,/), hlm. 28-+2.
!3+" #unir Euady, #ukum %erkreditan 'ontemporer, hlm. 4,.
!34" 7jahdeini, 'ebebasan Berkontrak dan %erlindungan yang eimbang bagi %ara %ihak.., hlm.
285.
bhkt!"#$!#