Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


IDENTIFIKASI SENYAWA ASAM

Golongan / Kelompok : T / D


Claudio Dassmer / 2443012026
Dewi Kartikasari / 2443012145
Elisabeth Wulan / 2443012218

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2014
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS
FAKULTAS FARMASI-UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA

GOLONGAN/KELOMPOK : T/D
TOPIK PRAKTIKUM : KLT Senyawa Asam
TANGGAL PRAKTIKUM : 11 April 2014
NAMA ASISTEN : Senny Y. Esar, S.Si., M.Si., Apt
NAMA MAHASISWA / NRP : Claudio Dassmer / 2443012026
Dewi Kartikasari / 2443012145
Elisabeth Wulan / 2443012218
I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi dan pemisahan senyawa dari
campuran dengan metode KLT
2. Mahasiswa mampu membuat eluen (fase gerak)
3. Menentukan harga Rf senyawa

II. DASAR TEORI
Dalam analisis kimia suatu bahan, maka akan sering dihadapkan pada
pekerjaan-pekerjaan seperti menghilangkan konstituen pengganggu atau
mengisolasikannya maupun memekatkan konstituen yang dikehendaki sebelum
dilakukuan identifikasi maupun pengukuran jumlahnya. Untuk melakukan
analisis kimia tersebut maka kita harus menggunakan suatu metode agar dapat
menentukan hasil yang tepat, kromatografi salah satunya, dan dapat pula
digunakan sebagai analisa secara kuantitatif.

Kromatografi adalah suatu metoda untuk separasi yang menyangkut komponen
suatu contoh di mana komponen dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang
mana adalah keperluan selagi gerak yang lain. Di dalam gas kromatografi adalah
gas mengangsur suatu cairan atau tahap keperluan padat. Di dalam
cairan kromatografi adalah campuran cairan pindah gerakkan melalui cairan yang
lain, suatu padat, atau suatu gel agar. Mekanisme separasi komponen mungkin
adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange, penyebaran/perembesan,
atau mekanisme lain (David. 2001).
Teknik kromatografi merupakan teknik pemisahan yang sangat sensitif,
yang dapat memisahkan campuran kompleks, seperti minyak bumi yang
merupakan campuran dari ratusan senyawa yang terkandung di dalamnya, dan
masih banyak lagi keunggulan lainnya.
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan tahun 1938 oleh Ismailoff
dan Schraiber. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi
kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan kromatografi kolom yang mana fase
diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase
diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar
yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun
demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari
kromatografi kolom (Khopkar, 2007).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran
senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang
menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan
bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya (Khopkar, 2007).
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya
sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua,
dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga yang akan dipakai
dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (Khopkar, 2007).
KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang
sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan
dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk
kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom,
identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil.
Pelarut yang dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan
senyawa yang dianalisis. Bahan lapisan tipis seperti silika gel adalah senyawa
yang tidak bereaksi dengan pereaksi pereaksi yang lebih reaktif seperti asam
sulfat (Khopkar, 2007).
Bila KLT dibandingkan dengan KKt, kelebihan khas KLT ialah
keserbagunaan, kecepatan, dan kepekaannya. Keserbagunaan KLT
disebabkanoleh kenyataan bahwa di samping selulosa, sejumlah penjerap yang
berbeda-beda dapat disaputkan pada plat kaca atau penyangga lain dan digunakan
untuk kromatografi (Harborne, 1987; 13).
Adsorben dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak sebagai penunjang
fase diam. Fase bergerak akan merayap sepanjang fase diam dan terbentuklah
kromatogram. Ini dikenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka. Metode ini
sederhana, cepat dalam pemisahan tinggi dan mudah untuk memperoleh kembali
senyawa-senyawa yang terpisahkan (Khopkar, 2007: 155).
Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak
sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun
(descending) (Khopkar, 2007).
Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih
murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang
digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang digunakan lebih
sederhana dan dapat dikatakan hampir semua laboratorium dapat melaksanakan
setiap saat secara cepat (Khopkar, 2007).
Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini : (Khopkar, 2007).
Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,
fluorosensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending),
atau dengan cara elusi 2 dimensi.
Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.
Pada dasarnya kromatografi lapis tipis (KLT atau TLC = Thin layer
Chromatography) sangat mirip dengan kromatografi kertas, terutama pada cara
melakukannya. Perbedaan nyata terlihat pada media pemisahannya, yakni
digunakan lapisan tipis adsorben halus yang tersangga pada papan kaca,
aluminium atau plastic sebagai pengganti kertas. Lapisan tipis adsorben ini pada
pross pemisahan berlaku sebagai fasa diam (Soebagio, 2002: 87).
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika
atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik
yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat
berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau
campuran pelarut yang sesuai (Clark, 2007).
Bahan adsorben sebagai fasa diam digunakan silica gel, alumina, dan
serbuk selulosa. Partikel silica gel mengandung gugus hidroksil di permukaannya
yang akan membentuk ikatan hidrogen dengan molekul-molekul polar. Alumina
lebih disukai untuk memisahkan senyawa-senyawa polar lemah, sedangkan silica
gel lebih disukai untuk memisahkan molekul-molekul seperti asam-asam amino
dan gula. Magnesium silikat, kalsium silikat, dan arang aktif mungkin juga dapat
digunakan sebagai adsorben (Soebagio, 2002; 87-88).
Zat yang paling umum digunakan sebagai adsorben adalah alumina, silica
gel, dan bubuk silica. Zat-zat tersebut dibuat bubuk tepung yang selanjutnya
tersebar di atas lempeng dan dibuat sedemikian rupa hingga ketebalannya merata.
Kadang-kadang suatu pengikat, misalnya plaster parte ditambahkan untuk
menambah daya lekat zat tersebut. Setelah kering, selanjutnay diaktivasi dengan
pemanasan dalam oven pada temperature 110 oC selama beberapa jam. Cara
kerjanya sama dengan kromatografi kertas. Deteksi terhadap noda timbul kadang-
kadang lebih mudah dibandingkan kromatografi kertas karena dapat dipakai cara-
cara yang lebih umum (Clark, 2007).
Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon
dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada
permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Jadi, pada
permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Gambar ini
menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika (Clark, 2007).
Eluen pengembang dapat berupa pelarut tunggal dan campuran pelarut
dengan susunan tertentu. Pelarut-pelarut pengembang harus mempunyai
kemurnian yang tinggi. Terdapatnya sejumlah kecil air atau zat pengotor lainnya
dapat menghasilkan kromatogram yang tidak diharapkan (Soebagio,2002; 88).
Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi
senyawa. Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari
senyawa standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh
senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik
asal. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0 (Khopkar, 2007).
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan
banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina,
selulosa dan polianida. Untuk menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca,
pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari
lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber)
(Rudi, 2010)
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-
komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh pase diam dibawah
gerakan pelarut pengembang. Pada dasarnya KLT sangat mirip dengan
kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan nyatanya
terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan lapisan tipis
adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat
digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung
gugus hidroksil pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul polar air. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet.
Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
Gambar kromatografi lapis



Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah bewarna
dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak
relative pada pelarut. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh
komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh eluen ( fase gerak ) untuk setiap
senyawa berlaku rumus sebagai berikut:
Rf juga menyatakan drajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karenan itu
Rf juga disebut factor referensi.
Pemisahan campuran dengan cara kromatografi didasarkan pada perbedaan
kecepatan merambat antara partikel-partikel zat yang bercampur pada medium
tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari pemisahan secara kromatografi dapat kita
temui pada rembesan air pada dinding yang menghasilkan garis-garis dengan
jarak ternentu.
KLT dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion
anorganik, kompleks senyawa senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa
senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa senyawa organik
sintetik. Kelebihan penggunaan kromatografi lapis tipis dibandingkan dengan
kromatografi kertas ialah karena dapat dihasilkannya pemisahan yang lebih
sempurna, kepekaan yang lebih tinggi, dan dapat dilaksanakan dengan lebih cepat.
Banyak pemisahan yang memakan waktu berjam-jam bila dikerjakan dengan
kromatografi kertas, tetapi dapat dilaksanakan hanya beberapa menit saja bila
dikerjakan dengan KLT. Empat macam adsorben yang umum dipakai ialah silika
gel, alumina, kieselguhr, dan selulosa. Sampel yang merupakan campuran
senyawa yang akan dipisahkan, dilarutkan dalam zat pelarut yang mudah
menguap, misalnya kloroform atau zat pelarut lain yang serupa, yang mempunyai
titik didih antara 50-100 C. Tetesan sampel harus di usahakan sekecil mungkin
dengan meneteskan berulang kali, dengan di biarkan mengering sebelum tetesan
berikutnya dikerjakan. Pemilihan sistem pelarut yang dipakai didasarkan atas
prinsip like dissolves like, yakni untuk memisahkan sampel yang bersifat non
polar digunakan sistem pelarut yang bersifat non polar juga. Penggunaan sinar
ultraviolet dapat memberikan fluoresensi pada plat yang mengandung unsur fosfor
(Adnan, 1997).

Berikut merupakan rumus menghitung Rf :

Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang tidak berwarna:
1. 1. Menggunakan pendarflour
Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase diam pada
sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan
kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar
ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda menyinarkannya dengan sinar UV, akan
berpendar.
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada,
meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu
berarti bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan timbul
pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak
sebagai bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai posisi-
posisi dari bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah
bercak-bercak itu. Seketika anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut
tidak tampak kembali.
1. 2. Penunjukkan bercak secara kimia
Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi
tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan
produk yang berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang
dihasilkan dari campuran asam amino.
Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin.
Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa
berwarna, umumnya coklat atau ungu.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian
ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji)
bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan
bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada
lempengan. Substansi yang dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian
ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji)
bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan
bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada
lempengan. Substansi yang dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Penggunaan kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa
Anggaplah anda mempunyai campuran asam amino dan ingin menemukan asam
amino-asam amino tertentu yang terkandung didalam campuran tersebut. Untuk
sederhananya, mari kira berasumsi bahwa anda mengetahui bahwa campuran
hanya mungkin mengandung lima asam amino.
Setetes campuran ditempatkan pada garis dasar lempengan lapis tipis dan bercak-
bercak kecil yang serupa dari asam amino yang telah diketahui juga ditempatkan
pada disamping tetesan yang akan diidentifikasi. Lempengan lalu ditempatkan
pada posisi berdiri dalam pelarut yang sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya.
Bagian kiri gambar menunjukkan lempengan setelah pelarut hampir mencapai
bagian atas dari lempengan. Bercak-bercak masih belum tampak. Gambar kedua
menunjukkan apa yang terjadi setelah lempengan disemprotkan ninhidrin.
Tidak diperlukan menghitung nilai Rf karena anda dengan mudah dapat
membandingkan bercak-bercak pada campuran dengan bercak dari asam amino
yang telah diketahui melalui posisi dan warnanya. Dalam contoh ini, campuran
mengandung asam amino 1, 4 dan 5.

Fase Diam
Sifat fase diam yang satu dengan fase diam yang lain berbeda karena strukturnya,
ukurannya, kemurniannya, zat tambahan sebagai pengikat dll. Fasa diam yang
digunakan TLC tidak sama dengan yang digunakan untuk kromatografi kolom,
terutama karena ukuran dan zat yang ditambahkan. Fase diam dijual dengan
spesifikasi tertentu, iaitu ukuran (diameter) dalam mesh dan untuk kegunaannya
(mis: untuk TLC atau kromatografi kolom).
Beberapa fase diam yang banyak dijual dipasaran:
Silika gel
Silika gel merupakan fase diam yang sering digunakan pada TLC. Dalam
perdagangan dijual dengan variasi ukuran (diameter) 10-40m. Makin kecil
diameter akan makin lambat kecepatan alir fase geraknya dengan demikian
mempengaruhi kualitas pemisahan. Luas permukaan silica gel bervariasi dari 300-
1000 m2/g. Bersifat higroskopis, pada kelembaban relatif 45-75% dapat mengikat
air 7-20%. Macam-macam silka gel yang dijual dipasaran:
Silika gel dengan pengikat. Pada umumnya digunakan pengikat gypsum, (CaSO4
5-15%). Jenis ini diberi nama Silika gel G. Ada juga menggunakan pengikat pati
(starch) dan dikenal Silika gel S, penggunaan pati sebagai pengikat mengganggu
penggunaan asam sulfat sebagai pereaksi penentuan bercak.

Silika gel dengan pengikat dan indicator flouresensi. Jenis silica gel ini sama
seperti silika gel diatas dengan tambahan zat berfluoresensi bila diperiksa dibawah
lampu UV A, panjang atau pendek. Sebagai indicator digunakan timahkadmium
sulfida atau mangan-timah silikat. Jenis ini disebut Silika gel GF atau Silika gel
GF254 (berflouresensi pada 254 nm). Silika gel tanpa pengikat, dikenal dengan
nama Silika gel H atau Silika gel N.
Silika gel tanpa pengikat tetapi dengan indicator flouresensi.
Silika gel untuk keperluan pemisahan preparative


Alumina
Banyak digunakan setelah silika gel, alumina termasuk kelompok fase diam yang
beraktifitas tinggi. Alumina yang digunakan TLC bersifat sedikit basa (pH 9), ada
juga yang bersifat netral (pH 7) dan alumina yang bersifat asam (pH 4). Juga
digunakan CaSO4 sebagai pengikat yang dapat menurunkan bebasaan pada
tinggkat tertentu. Sepertihalnya Silica gel, alumina dikenal dengan atau tanpa
pengikat dan bahan indicator. Pemberian namapun identik dengan silika gel
dengan code G.H.P.F.

Selulosa
Menggunakan selulosa sebagai fase diam maka mekanisme pemisahannya sama
seperti mekanisme pemisahan pada kromatografi kertas. Perbedaannya hanya
serat selulosenya pada TLC/KLT lebih pendek dari pada serat selulosa
kromatografi kertas. Panjang serat bervariasi 2-20 . Serat lebih pendek
menyebabkan difusi rendah selama elusi dan menghasilkan bercak yang sempit
(lebih kecil). Selulosa untuk TLC terdapat dim bentuk selulosa serat asli
(contohnya MN 300) dan selulosa mikrokristal (contohnya Avicel). Fase diam
selulosa biasanya digunakan senyawa yang bersifat polar.

Fase diam-jel silika
Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan
oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan
jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.
Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk
ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana
halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol.
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom
aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan
tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina.
Penentuan jumlah komponen senyawa dapat dideteksi dengan kromatografi lapis
tipis (KLT) dengan menggunakan plat KLT yang sudah siap pakai. Terjadinya
pemisahan komponen-komponen pada KLT dengan Rf tertentu dapat dijadikan
sebagai panduan untuk memisahkan komponen kimia tersebut dengan
menggunakan kolom kromatografi dan sebagai fasa diam dapat digunakan silika
gel dan eluen yang digunakan berdasarkan basil yang diperoleh dari KLT dan
akan lebih baik kalau kepolaraan eluen pada kolom kromatografi sedikit dibawah
kepolaran eluen pada KLT (Lenny, 2006)
Pada hakekatnya KLT merupakan metoda kromatografi cair yang melibatkan dua
fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Fasa geraknya berupa campuran pelarut
pengembang dan fasa diamnya dapat berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai
permukaan penyerap (kromatografi cair-padat) atau berfungsi sebagai penyangga
untuk lapisan zat cair (kromatografi cair-cair). Fasa diam pada KLT sering disebut
penyerap walaupun berfungsi sebagai penyangga untuk zat cair di dalam sistem
kromatografi cair-cair. Hampir segala macam serbuk dapat dipakai sebagai
penyerap pada KLT, contohnya silika gel (asam silikat), alumina (aluminium
oksida), kiselgur (tanah diatomae) dan selulosa. Silika gel merupakan penyerap
paling banyak dipakai dalam KLT (Iskandar, 2007)

Berikut ini adalah beberapa penjerap fase diam yang digunakan pada KLT :

Fase Gerak
Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan
mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling
sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua
pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi
secara optimal.
Berikut adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak :
Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT
merupakan teknik yang sensitif.
Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf
terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silica gel,
polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang
berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit
polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzene
akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.
Solut-solut ionik dan solute-solut polar lebih baik digunakan campuran
pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan methanol dengan
perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau ammonia
masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang bersifat basa dan
asam.
Pencampuran dari campuran fase gerak juga harus diperhatikan. Yang
digunakan sebagai fase gerak biasanya adalah pelarut organik. Dapat digunakan
satu macam pelarut organic saja ataupun campuran.
Bilamana fase gerak merupakan campuran pelarut organik dengan air
maka mekanisme pemisahan adalah partisi. Pemilihan pelarut organic ini sangat
penting karena akan menentukan keberhasilan pemisahan. Pendekatan polaritas
adalah yang paling sesuai untuk pemilihan pelarut. Senyawa polar
akan lebih mudah terelusi oleh fase gerak yang bersifat polar dari pada fase gerak
yang non polar. Sebaliknya, senyawa non polar lebih mudah terelusi oleh fase
gerak non polar dari pada fase gerak yang polar.

Pelarut organik yang sering digunakan sebagai fase gerak (deret eluotropik)

Indeks Kepolaran Pelarut Organik

Solvent
Polarity
Index
Solvent
Polarity
Index
Acetic Acid 6.2 Heptane 0
Acetone 5.1 Hexane 0
Acetonitrile 5.8 Pentane 0
Benzene 2.7 Cyclohexane 0.2
n-Butanol 4 Trichloroethylene 1
Butyl Acetate 3.9 Carbon Tetrachloride 1.6
Carbon Tetrachloride 1.6 Di-Iso-Propyl Ether 2.2
Chloroform 4.1 Toluene 2.4
Cyclohexane 0.2 Methyl-t-Butyl Ether 2.5
1,2-Dichloroethane 3.5 Xylene 2.5
Dichloromethane 3.1 Benzene 2.7
Dimethylformamide 6.4 DiEthyl Ether 2.8
Dimethyl Sulfoxide 7.2 Dichloromethane 3.1
Dioxane 4.8 1,2-Dichloroethane 3.5
Ethanol 5.2 Butyl Acetate 3.9
Ethyl Acetate 4.4 Iso-Propanol 3.9
DiEthyl Ether 2.8 n-Butanol 4
Heptane 0 Tetrahydrofuran 4
Hexane 0 n-Propanol 4
Methanol 5.1 Chloroform 4.1
Methyl-t-Butyl Ether 2.5 Ethyl Acetate 4.4
2-Butanone 4.7 2-Butanone 4.7
Pentane 0 Dioxane 4.8
n-Propanol 4 Acetone 5.1
Iso-Propanol 3.9 Methanol 5.1
Di-Iso-Propyl Ether 2.2 Ethanol 5.2
Tetrahydrofuran 4 Acetonitrile 5.8
Toluene 2.4 Acetic Acid 6.2
Trichloroethylene 1 Dimethylformamide 6.4
Water 9 Dimethyl Sulfoxide 7.2
Xylene 2.5 Water 9


Pengamatan (mendeteksi) bercak / visualisasi
Cara mengamati bercak pada TLC dapat digolongkan menjadi dua :
Pertama dengan cara merusakkan / mereaksikan komponen/senyawa yang ada
bercak itu dan Kedua tanpa merusakkan komponen / senyawa. Cara pertama
dengan menyemprotkan pereaksi penanda.
Banyak pereaksi-pereaksi yang digunakan dapat dilihat dalam literature
dan dijual dipasaran (niaga). Contoh pereaksi semprot yang umum untuk senyawa
organik adalah asam sulfat dalam metanol, selanjutnya bercak dipanaskan di
dalam oven, sebaiknya digunakan oven yang ada jendela kacanya sehingga dapat
diikuti perubahan bercak selama pemanasan menjadi bercak warna hitam.
Pada dasarnya adalah reaksi oksidasi pada senyawa organic oleh asam
sulfat. Pereaksi lain adalah dengan disemprot dengan larutan lodium dan paling
mudah adalah dengan memasukkan plat kedalam bejana yang berisi uap lodium
(Kristal lodium diletakkan dalam bejana, tidak merusak 75% senyawa). Contoh
pereaksi semprot dan penggunaannya dapat dilihat pada tabel dibawah.
Cara ke dua, yang tidak merusak komponen/ senyawa di bercak. Untuk
senyawa berwarna atau berpendar dibawah lampu UV (berfluoresensi) tidak ada
masalah menggunakan silika tanpa tambahan zat berpendar. Sedang untuk
senyawa yang tidak berpendar dibawah lampu UV digunakan fase diam dengan
tambahan zat berpendar.

Macam pereaksi warna / penanda dan penggunaannya
III. CARA KERJA
1. Membuat fase gerak
- Kloroform : Aseton ( 4 : 1 )
Ambil kloroform sebanyak 14,4 ml
Dan Aseton sebanyak 3,6 ml



Masukan dalam beaker glass


aduk ad larut


Pindahkan dalam Chamber


Biarkan jenuh (30menit)

- Etilasetat : Metanol : NH4OH (85:10:5)
Ambil Etilasetat 15,3 ml, Metanol 1,8 ml
Dan NH4OH 0,9 ml


Masukan dalam beaker glass


aduk ad larut


Pindahkan dalam Chamber


Biarkan jenuh (30menit)

2. Membuat Larutan Uji dan Larutan Pembanding
Ambil sedikit (qs) masing-masing dari Sampel,
Parasetamol, Fenobarbital, Salisilamida, Asam Mefenamat


Masukkan dalam tabung reaksi kecil


Tambahkan Alkohol


Tutup dengan kapas
3. Penotolan Pada Lempeng Gilica Gel
Masing-masing larutan uji dan pembanding ditotol kan satu pipa kapiler
dengan jarak 1cm


Biarkan totolan kering


Masukan dalam chember untuk di eluasi


Angkat jika eluasi sudah sampai batas garis


Keringkang silika lalu amati bercak
Dibawah UV 254 nm


Hitung harga Rf

IV. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Pembuatan Eluen
Kloroform = 4/5x18 = 14,4 ml
Aseton = 1/5x18 = 3,6 ml
Etil asetat = 85/100x18 = 15,3 ml
Metanol = 10/100x18 = 1,8 ml
NH4OH = 5/100x18 = 0,9 ml

Harga Rf
Fase Gerak Kloroform : Aseton ( 4 : 1 )
Rf Paracetamol = 1,5/7,7 = 0,1948 = 2,6/7,7 = 0,34
Rf As. Mefenamat = 5,25/7,7 = 0,68
Rf Fenobarbital = 4,2/7,7 = 0,55
Rf Salisilamida = 4,2/7,7 = 0,55
Rf Sampel = 4,2/7,7 = 0,55

Fase Gerak Etilasetat : Metanol : NH4OH (85:10:5)
Rf Paracetamol = 3,7/8 = 0,4625 = 5,8/8 = 0,725
Rf As. Mefenamat = 2,7/8 = 0,3375
Rf Fenobarbital = 6,6/8 = 0,825
Rf Salisilamida = 7/8 = 0,875
Rf Sampel = 7/8 = 0,875

V. PEMBAHASAN
Analisis kuantitatif dengan KLT ada dua macam. Yang pertama noda
cuplikan setelah dikembangkan diukur langsung luasnya atau kerapatannya
(density). Secara manual atau menggunakan alatalat yang disebut densitometer.
Tehnik ini disebut evaluasi in one. Luas atau kerapatan noda dibandingkan
dengan kerapatan noda senyawa standar yang telah diketahui konsentrasinya. Cara
yang kedua, noda diambil dengan cara dikerok atau diisap dengan suatu alat
kemudian dilarutkan dalam suatu pelarut dan larutan terakhir diamati dengan
spectrometer UV vis atau ditimbang (gravimetric) setelah pelarut diuapkan.
Cara gravimetric hanya dapat dilakukan apabila jumlah cuplikan cukup besar.
Cara ini tidak membutuhkan standar pembanding
Pada percobaan ini, tehnik kromatografi lapis tipis yang digunakan adalah
suatu plat tipis (aluminium) yang berfungsinya untuk tempat berjalannya
adsorbens sehingga proses migrasi analit oleh solventnya bisa berjalan. Hal inilah
yang membedakan antara kromatografi kertas dengan kromatografi lapis tipis.
Yang dimana pada KLT menggunakan plat tipis sedangkan pada KK
menggunakan kertas (lapisan selulosa) sehingga proses elusinya lebih lama (kira
kira 1020 menit lebih lama dari KLT). Perbedaan lainnya dari kedua
kromatografi tersebut adalah pembentukan noda pada adsorbensnya dimana pada
KLT noda yang dihasilkan lebih tajam dibandingkan noda yang nampak dalam
KK. Hal ini disebabkan pada KK penyusun dari adsorbens berupa selulosa yang
dapat mengikat air, sehingga ketika dielusi dengan suatu pelarut atau fase gerak
maka noda yang dihasilkan mengalami penyebaran akibat terdapatnya gugus OH
dalam adsorbens yang masih tertingal dalam fase diamnya sehingga penampakan
nodanya terlihat lebih pudar dan bentuk nodanya tidak bulat. Sedangkan dalam
KLT adsorbens yang digunakan berupa slika gel (SiO
2
) yang tidak mengikat
molekul air, sehingga noda yang tercipta lebih terfokus dan tajam.
Faktor penyebab yang mempengaruhi nilai Rf pada KLT seperti kualitas
adsorben, ketebalan lapisan, kejenuhan ruang kromatografi, tehnik
pengembangan (elusi), suhu, dan kualitas pelarut. Fase gerak adalah campuran 2
pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah
diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Pada
percobaan kali ini digunakan campuran aseton-HCl. Digunakan HCl karena HCl
dapat mengikat zat sampel dan membawanya menuju garis akhir plat dengan
bantuan aseton yang merupakan zat organic yang mudah menguap.
Pencampuran campuran fase gerak memperhitungkan dari kepolaran dari
masing-masing pelarut. Pencampuran harus didahulukan dari yang paling polar,
semi polar dan yang paling non polar. Hal tersebut dikarenakan bila fase non polar
langsung ditambahkan pada pelarut fase yang polar maka kedua pelarut tesebut
tidak akan menyatu karena perbedaan derajat kepolaran yang sangat jauh. Bila
diteruskan, maka pada chamber akan terbentuk dua fase eluen yang menyebabkan
hasil yang nampak akan buruk.
Penentuan nilai Rf suatu standar analit pada KLT pada dasarnya sama
dengan penentuan nilai Rf dalam KK, dimana nilai Rf ditentukan dengan
membandingkan jarak noda yang dihasilkan dari migrasi solvent/ pelarutnya
dengan jarak sample/ standar. Nilai Rf menyatakan ukuran daya pisah suatu zat
dengan kromatografi planar (KK mapun KLT), dimana jika nilai Rf-nya besar
berarti daya pisah zat yang dilakukan solvent (eluenya) maksimum sedangkan jika
nilai Rf-nya kecil berarti daya pisah zat yang dilakukan solvent (eluenya)
minimum. Tidak munculnya noda dalam percobaan kali ini dapat disebabkan oleh
faktorfaktor yang mempengaruhi nilai Rf seperti diatas, akan tetapi ada juga
kemungkinan lain misalnya noda yang tidak nampak, sehingga untuk
menampakkan noda tersebut harus direaksikan dengan reagen penampak warna
berupa ion logam transisi untuk membentuk kompleks, karena salah satu ciri
senyawa kompleks adalah berwarna akibat adanya bilangan koordinasi dari atom
pusatnya. Adapun untuk identifikasi dan deteksi zat setelah terbentuknya noda
dilakukan dengan beberapa cara misalnya; planimetri, densitometri,
spektrofotometri, dan fluorensis, dimana masing masing alat tersebut memeliki
kelebihan dan kekurangan yang jika dijabarkan akan lebih panjang dan rumit
karena dihubungkan dengan proses penggunaanya.


VI. KESIMPULAN
1. Sampel yang diberikan merupakan salisilamida.


DAFTAR PUSTAKA

Basset. J etc. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Jakarta: Kedokteran EGC.
Clark, Jim. 2007. Kromatografi Lapis Tipis. Instrument Analisis
Harborne. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Penerbit ITB.
Iskandar, Yusuf. 2007. Karakteristik Zat Metabolit Sekunder Dalam Ekstrak
Bunga Krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium) Sebagai Bahan Pembuatan
Biopestisida. FMIPA. Semarang.
Khopkar, S,M. 2009. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Khopkar. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.
Rudi, L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Kendari: Universitas
Haluoleo.
Rudi, L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Kendari: Universitas
Haluoleo.
Shevla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta:
PT. Kalman Media Pustaka.
Soebagio. 2002. Kimia Analitik II. Malang : JICA
Sofia, Lenny. 2006. Isolasi dan Uji Bioaktifitas Kandungan Kimia Utama Puding
Merah dengan Metoda Uji Brine Shrimp. Sumatera Utara: USU Repository.
Sudjadi. 1988. Metode pemisahan. Yogyakarta : Kanisius
Underwood, AL dan JR. Day R.A. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif edisi keenam.
Jakarta: Erlangga.
.