Anda di halaman 1dari 33

8

BAB II
PENGALAMAN KERJA PRAKTIK

2.1 Gambaran Umum BPJS Kesehatan
2.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya BPJS Kesehatan
Asuransi kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara
khusus menjamin biaya kesehatan atau perawatan para anggota asuransi tersebut
jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan. Secara garis besar ada dua
jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan asuransi, yaitu rawat
inap (in-patient treatment) dan rawat jalan (out-patient treatment).
Produk asuransi kesehatan diselenggarakan baik oleh perusahaan asuransi
sosial, perusahaan asuransi jiwa, maupun juga perusahaan asuransi umum. Di
Indonesia, PT Askes Indonesia merupakan salah satu perusahaan asuransi sosial
yang menyelenggarakan asuransi kesehatan kepada para anggotanya yang
utamanya merupakan para pegawai negeri baik sipil maupun non-sipil. Anak-anak
mereka juga dijamin sampai dengan usia 21 tahun. Para pensiunan beserta istri
ataupun suami juga dijamin seumur hidup.
PT Askes (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang
ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan
TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan
Usaha lainnya. Sejarah singkat penyelenggaraan program Asuransi Kesehatan
sebagai berikut :

9



a. Tahun 1968
Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur
pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan
ABRI) beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 230
Tahun 1968. Menteri Kesehatan membentuk Badan Khusus di lingkungan
Departemen Kesehatan RI yaitu Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan
Kesehatan (BPDPK), dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (Prof. Dr.
G.A. Siwabessy) dinyatakan sebagai cikal-bakal Asuransi Kesehatan Nasional.
b. Tahun 1984
Untuk lebih meningkatkan program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi
peserta dan agar dapat dikelola secara profesional, Pemerintah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan
bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun (PNS, ABRI dan Pejabat Negara)
beserta anggota keluarganya. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun
1984, status badan penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada
Bhakti.
c. Tahun 1991
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991, kepesertaan
program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada Bhakti
ditambah dengan Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarganya.
Disamping itu, perusahaan diijinkan memperluas jangkauan kepesertaannya ke
badan usaha dan badan lainnya sebagai peserta sukarela.

10



d. Tahun 1992
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 status Perum
diubah menjadi Perusahaan Perseroan (PT Persero) dengan pertimbangan
fleksibilitas pengelolaan keuangan, kontribusi kepada Pemerintah dapat
dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada peserta dan manajemen lebih
mandiri.
e. Tahun 2005
PT. Askes (Persero) diberi tugas oleh Pemerintah melalui Departemen
Kesehatan RI, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1241/MENKES/SK/XI/2004 dan Nomor 56/MENKES/SK/I/2005, sebagai
Penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin
(PJKMM/ASKESKIN).
Dasar penyelenggaraan:
a) UUD 1945.
b) UU No. 23/1992 tentang Kesehatan.
c) UU No.40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
d) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004 dan
Nomor 56/MENKES/SK/I/2005.
Prinsip penyelenggaraan Mengacu pada:
a) Diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia dengan azas gotong
royong sehingga terjadi subsidi silang.
b) Mengacu pada prinsip asuransi kesehatan sosial.
11



c) Pelayanan kesehatan dengan prinsip managed care dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang.
d) Program diselenggarakan dengan prinsip nirlaba.
e) Menjamin adanya protabilitas dan ekuitas dalam pelayanan kepada
peserta.
f) Adanya akuntabilitas dan transparansi yang terjamin dengan
mengutamakan prinsip kehati-hatian, efisiensi dan efektifitas.

f. Tahun 2014
Mulai tanggal 1 Januari 2014, PT Askes Indonesia (Persero) berubah nama
menjadi BPJS Kesehatan sesuai dengan Undang-Undang No. 24 tahun 2011
tentang BPJS.

2.1.2 Landasan Hukum Terbentuknya BPJS Kesehatan
Dasar hukum transformasi Askes menjadi BPJS Kesehatan ialah:
1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional.
2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, menjelaskan bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu
tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan
penyelenggaraan jaminan sosial. Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan
berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh
12



rakyat Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan
jaminan terpenuhinya dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota
keluarganya.
Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan pada prinsip:
a. Kegotong-royongan
Gotong-royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam
hidup bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam
kebudayaan kita. Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang
mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat
membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat
membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat
wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang bulu. Dengan demikian,
melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented).
Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana
amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan di manfaatkan sebesar-
besarnya untuk kepentingan peserta.


13



c. Prinsip Keterbukaan, Kehati-hatian dan Akuntabilitas
Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan
dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
d. Portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan
jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah
pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
e. Kepesertaan Bersifat Wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi
seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan
ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program.
Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan
itu sektor informal dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada
akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh
rakyat.
f. Dana amanat
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada
badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka
mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
g. Hasil Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.pengelolaan Dana.
14



Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial, menjelaskan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS bertujuan untuk mewujudkan
terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang
layak bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya.
BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas :
a) kemanusiaan;
b) manfaat; dan
c) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011, BPJS akan
menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di Indonesia yaitu
lembaga asuransi jaminan kesehatan PT Askes dan lembaga jaminan sosial
ketenaga kerjaan PT Jamsostek. Transformasi PT Askes dan PT Jamsostek
menjadi BPJS dilakukan secara bertahap. Pada awal 2014, PT Askes akan
menjadi BPJS Kesehatan, selanjutnya pada 2015 giliran PT Jamsostek menjadi
BPJS Ketenagakerjaan.
Setiap warga negara Indonesia dan warga asing yang sudah berdiam di
Indonesia selama minimal enam bulan wajib menjadi anggota BPJS. Ini sesuai
pasal 14 UU BPJS. Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya sebagai
anggota BPJS. Sedangkan orang atau keluarga yang tidak bekerja pada
perusahaan wajib mendaftarkan diri dan anggota keluarganya pada BPJS. Setiap
peserta BPJS akan ditarik iuran yang besarnya ditentukan kemudian. Sedangkan
15



bagi warga miskin, iuran BPJS ditanggung pemerintah melalui program Bantuan
Iuran.
Menjadi peserta BPJS tidak hanya wajib bagi pekerja di sektor formal,
namun juga pekerja informal. Pekerja informal juga wajib menjadi anggota BPJS
Kesehatan. Para pekerja wajib mendaftarkan dirinya dan membayar iuran sesuai
dengan tingkatan manfaat yang diinginkan.
Jaminan kesehatan secara universal diharapkan bisa dimulai secara
bertahap pada 2014 dan pada 2019, diharapkan seluruh warga Indonesia sudah
memiliki jaminan kesehatan tersebut. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
menyatakan BPJS Kesehatan akan diupayakan untuk menanggung segala jenis
penyakit namun dengan melakukan upaya efisiensi.
Kementerian Sosial mengklaim Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Kesehatan yang berlaku pada awal 2014 akan menjadi program jaminan
sosial terbaik dan terbesar di Asia. Namun pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial
Nasional oleh BPJS pada 2014 diperkirakan terkendala persiapan dan
infrastruktur. Misalnya, jumlah kamar rumah sakit kelas III yang masih kurang
123 ribu unit. Jumlah kamar rumah sakit kelas III saat ini tidak bisa menampung
29 juta orang miskin. Kalangan DPR menilai BPJS Kesehatan belum siap
beroperasi pada 2014 mendatang.

2.1.3 Transformasi Askes menjadi BPJS Kesehatan
UU SJSN dan UU BPJS memberi arti kata transformasi sebagai
perubahan bentuk BUMN Persero yang menyelenggarakan program jaminan
16



sosial, menjadi BPJS. Perubahan bentuk bermakna perubahan karakteristik badan
penyelenggara jaminan sosial sebagai penyesuaian atas perubahan filosofi
penyelenggaraan program jaminan sosial. Perubahan karakteristik berarti
perubahan bentuk badan hukum yang mencakup pendirian, ruang lingkup kerja
dan kewenangan badan yang selanjutnya diikuti dengan perubahan struktur
organisasi, prosedur kerja dan budaya organisasi.
Transformasi menjadi kosakata penting sejak tujuh tahun terakhir di
Indonesia, tepatnya sejak diundangkannya UU SJSN pada 19 Oktober 2004.
Transformasi akan menghadirkan identitas baru dalam penyelenggaraan program
jaminan sosial di Indonesia.
Perintah transformasi kelembagaan badan penyelenggara jaminan sosial
diatur dalam UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU
SJSN). Penjelasan Umum alinea kesepuluh UU SJSN menjelaskan bahwa, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang dibentuk oleh UU SJSN adalah
transformasi dari badan penyelenggara jaminan sosial yang tengah berjalan dan
dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru.
Transformasi badan penyelenggara diatur lebih rinci dalam UU No. 24
tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). UU BPJS
adalah pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi atas Perkara No. 007/PUU-
III/2005.
Penjelasan Umum UU BPJS alinea keempat mengemukakan bahwa UU
BPJS merupakan pelaksanaan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 UU SJSN pasca
Putusan Mahkamah Konstitusi. Kedua pasal ini mengamanatkan pembentukan
17



BPJS dan transformasi kelembagaan PT ASKES (Persero), PT ASABRI
(Persero), PT JAMSOSTEK (Persero) dan PT TASPEN (Persero) menjadi BPJS.
Transformasi kelembagaan diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset dan
liabilitas, serta hak dan kewajiban.
Dengan telah disahkan dan diundangkannya UU No. 24 Tahun 2011
tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS), pada tanggal 25
November 2011, maka PT Askes (Persero) ditranformasi menjadi BPJS
Kesehatan. Transformasi tersebut meliputi perubahan sifat, organ dan prinsip
pengelolaan, atau dengan kata lain berkaitan dengan perubahan stuktur dan
budaya organisasi.
UU BPJS menentukan bahwa PT Askes (Persero) dinyatakan bubar tanpa
likuidasi pada saat mulai beroperasinya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari
2014. Tranformasi PT Askes (Persero) menjadi badan hukum publik BPJS
Kesehatan diantarkan oleh Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero)
sampai dengan mulai beroperasinya BPJS Kesehatan.
Masa persiapan transformasi PT ASKES (Persero) menjadi BPJS
Kesehatan adalah selama dua tahun terhitung mulai 25 November 2011 sampai
dengan 31 Desember 2013. Dalam masa persiapan, Dewan Komisaris dan
Direksi PT Askes (Persero) ditugasi untuk menyiapkan operasional BPJS
Kesehatan, serta menyiapkan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak
dan kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan.
Penyiapan operasional BPJS Kesehatan mencakup:
1. penyusunan sistem dan prosedur operasional BPJS Kesehatan.
18



2. sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan.
3. penentuan program jaminan kesehatan yang sesuai dengan UU SJSN.
4. koordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengalihkan
penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
5. kordinasi dengan KemHan,TNI dan POLRI untuk mengalihkan
penyelenggaraan program pelayanan kesehatan bagi anggota TNI/POLRI dan
PNS di lingkungan KemHan,TNI/POLRI; dan
6. koordinasi dengan PT Jamsostek (Persero) untuk mengalihkan
penyelenggaraan program jaminan pemeliharaan kesehatan Jamsostek.
Penyiapan pengalihan asset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban
PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan, mencakup penunjukan kantor akuntan
publik untuk melakukan audit atas:
1. laporan keuangan penutup PT Askes(Persero),
2. laporan posisi keuangan pembukaan BPJS Kes,
3. laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan kesehatan.
Pada saat BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014, PT
Askes (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi. Semua asset dan liabilitas serta
hak dan kewajiban hukum PT Askes (Persero) menjadi asset dan liabilitas serta
hak dan kewajiban hukum BPJS Kesehatan, dan semua pegawai PT Askes
(Persero) menjadi pegawai BPJS Kesehatan.
Pada saat yang sama, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan laporan
posisi keuangan penutup PT Askes (Persero) setelah dilakukan audit kantor
akuntan publik. Menteri Keuangan mengesahkan laporan posisi keuangan
19



pembuka BPJS Kes dan laporan keuangan pembuka dana jaminan kesehatan.
Untuk pertama kali, Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) diangkat
menjadi Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Kesehatan untuk jangka waktu
paling lama 2 tahun sejak BPJS Kesehatan mulai beroperasi.
Mulai 1 Januari 2014, program-program jaminan kesehatan sosial yang
telah diselenggarakan oleh pemerintah dialihkan kepada BPJS Kesehatan.
Kementerian kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas.
Kementerian Pertahanan, TNI dan POLRI tidak lagi menyelenggarakan program
pelayanan kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu
berkaitan dengan kegiatan operasionalnya yang ditentukan dengan Peraturan
Pemerintah. PT Jamsostek (Persero) tidak lagi menyelenggarakan program
jaminan kesehatan pekerja.
Mencermati ruang lingkup pengaturan transformasi badan penyelenggara
jaminan sosial yang diatur dalam UU SJSN dan UU BPJS, keberhasilan
transformasi bergantung pada ketersediaan peraturan pelaksanaan yang harmonis,
konsisten dan dilaksanakan secara efektif. Kemauan politik yang kuat dari
Pemerintah dan komitmen pemangku kepentingan untuk melaksanakan
trasnformasi setidaknya tercermin dari kesungguhan menyelesaikan agenda-
agenda regulasi yang terbengkalai.
Peraturan perundangan jaminan sosial yang efektif akan berdampak pada
kepercayaan dan dukungan publik akan transformasi badan penyelenggara. Publik
hendaknya dapat melihat dan merasakan bahwa transformasi badan penyelenggara
bermanfaat bagi peningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan SJSN,
20



sebagai salah satu pilar untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Pembangunan
dukungan publik diiringi dengan sosialisasi yang intensif dan menjangkau
segenap lapisan masyarakat. Sosialisasi diharapkan dapat menumbuhkan
kesadaran pentingnya penyelenggaraan SJSN dan penataan kembali
penyelenggaraan program jaminan sosial agar sesuai dengan prinsip-prinsip
jaminan sosial yang universal, sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan UU
SJSN.
2.1.4 Gambaran Umum dan Sejarah Terbentuknya BPJS Kesehatan KLOK
2Sabang
BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota Sabang adalah
tranformasi dari PT Askes (persero) Cabang Banda Aceh yang merupakan salah
satu unit kerja pada regional 1 Medan yaitu Sumatera Utara dan Provinsi Aceh
yang mempunyai tanggung jawab memberikan pelayanan pada seluruh peserta PT
Askes (persero) Kantor Layanan Operasional Kota Sabang yang kini telah
berganti menjadi BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota Sabang
dimana kepesertaan kini bersifat wajib. Organisasi dan tata laksana PT Askes
(persero) Kantor Layanan Operasional Kota Sabang yang kini telah berganti
menjadi BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota Sabang berdasarkan
pada surat keputusan direksi PT Askes (persero) Indonesia No.
248/KEP/V.I/20/Oa/1993.Tanggal 1 Oktober 1993 tentang PKM (pelayanan
Keseluruhan Masyarakat).
Pembentukan BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota Sabang
telah dilakukan sesuai surat keputusan kepala kantor regional provinsi Aceh
No.15/KEP/01-UM/42 Dan/00495 tanggal 3 April 1995 tentang BKPKM (Badan
21



Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Masyarakat) pada tahun 1968, pemerintah
Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur pemeliharaan
kesehatan bagi Pegawai Negeri dan penerima pensiun (PNS dan ABRI) beserta
anggota keluarganya berdasarkan keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968.
Menteri Kesehatan Membentuk Badan Khusus di Lingkungan Departemen
Kesehatan RI yaitu BPDPK (Badan Penyelenggaraan Dana Pemeliharaan
Kesehatan), dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (prof. Dr. G. A.
Siwabessy) dinyatakan sebagai cikal-bakal Asuransi Kesehatan Nasional.
BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota Sabang memberikan
bermacam-macam fasilitas kesehatan dan jaminan kesehatan kepada masyarakat
sehingga masyarakat mendapat fasilitas kesehatan dan jaminan kesehatan berupa :
1. Puskesmas dan Fasilitas kesehatan tingkat pertama lainnya.
2. Rumah Sakit Pemerintah.
3. Rumah Sakit TNI/POLRI/Swasta.
4. Apotek.
5. Optikal.
6. Fasilitas kesehatan lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
BPJS Kesehatan, memberikan jaminan kesehatan berupa:
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama.
2. Pelayanan kesehatan tingkat pertama.
3. Rawat inap.
4. Persalinan.
5. Pelayanan obat sesuai daftar Dan plafon harga obat (DPHO).
22



6. Alat kesehatan meliputi: Kacamata, gigi tiruan, alat bantu dengar, kaki,
tangan tiruan dan implant.
7. Operasi termasuk operasi jantung dan paru-paru.
8. Haemodialisis (cuci darah).

2.2 Visi Misi BPJS Kesehatan
2.2.1 Visi BPJS Kesehatan
Cakupan Semesta 2019
Paling lambat 1 Januari 2019, seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan
kesehatan nasional untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan
perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatannya yang
diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang handal, unggul dan terpercaya.

2.2.2 Misi BPJS Kesehatan
1. Membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga dan mendorong
partisipasi masyarakat dalam perluasan kepesertaan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN).
2. Menjalankan dan memantapkan sistem jaminan pelayanan kesehatan yang
efektif, efisien dan bermutu kepada peserta melalui kemitraan yang optimal
dengan fasilitas kesehatan.
3. Mengoptimalkan pengelolaan dana program jaminan sosial dan dana BPJS
Kesehatan secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel untuk mendukung
kesinambungan program.
23



4. Membangun BPJS Kesehatan yang efektif berlandaskan prinsip-prinsip tata
kelola organisasi yang baik dan meningkatkan kompetensi pegawai untuk
mencapai kinerja unggul.
5. Mengimplementasikan dan mengembangkan sistem perencanaan dan evaluasi,
kajian, manajemen mutu dan manajemen risiko atas seluruh operasionalisasi
BPJS Kesehatan.
6. Mengembangkan dan memantapkan teknologi informasi dan komunikasi
untuk mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan.

2.3 Struktur Organisasi BPJS Kesehatan KLOK Sabang
Organisasi merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang bertujuan
untuk mencapai suatu tujuan bersama. Setiap orang dalam organisasi harus
mempunyai tugas serta tanggung jawab yang jelas dan tergambar dalam struktur
organisasi. Struktur organisasi merupakan suatu karangka yang menunjukkan
seluruh kegiatan mencapai tujuan organisasi. Pembentukan struktur organisasi
bertujuan memudahkan organisasi mencapai tujuannya dengan cara yang lebih
efektif dan efisien.
Sruktur organisasi BPJS Kesehatan Kantor Layanan Operasional Kota
Sabang adalah bertipe organisasi garis lurus (line organization), yaitu bertipe
organisasi yang sederhana. Dalam organisasi tugas-tugas perencanaan,
pengendalian, dan pengawasan berada satu tangan garis kewenangan langsung
dari pimpinan kepada bawahan yang berarti setiap tingkatan organisasi dikepalai
24



oleh seorang kepala bagian atau pimpinan yang membawahi beberapa karyawan
dan mengawasi secara langsung bawahannya.
Dalam melakukan kegiatan usahanya BPJS Kesehatan Kantor Layanan
Operasional Kota Sabang dipimpin oleh 1 orang Kepala Kantor Layanan
Operasional dan dibantu oleh 2 (dua) Kepala Bagian serta BPJS Kesehatan Center
yang bertempat di Rumah Sakit. Adapun tugas dan tanggung jawab masing-
masing bagian adalah sebagai berikut :
1. Kepala Kantor Layanan Operasional Kota
Kantor Layanan Operasional Kabupaten atau Kota adalah kantor layanan
operasional BPJS Kesehatan Cabang Banda Aceh yang ditempatkan di empat
kabupaten dan kota yaitu untuk Kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten
Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya. Layanan operasional di 4 (empat) Kabupaten
tersebut bertujuan untuk dapat menunjang kegiatan pelaksanaan dan pelayanan
BPJS Kesehatan Cabang Banda Aceh baik dari pendataan peserta ataupun
pelayanan informasi untuk peserta BPJS Kesehatan di empat kabupaten dan kota
tersebut.
Tugas dan tanggung jawab kepala Kantor Layanan Operasional Kota
meliputi:
1. Membuat laporan layanan operasional kabupaten/kota.
2. Melakukan administrasi layanan operasional kabupaten kota.
3. Mengelola file layanan operasional kabupaten kota.
4. Membuat file kepesertaan.
25



5. Memberikan informasi pelayanan kesehatan maupun pelayanan pengurusan
kartu.
6. Membuat laporan kepesertaan jaminan kesehatan.
7. Membuat Laporan Keuangan dan Pencatatan Kas Kecil untuk Kantor
Operasional Kota.
8. Mengawasi kerja tugas para bawahannya.
9. Mengkoordinir penyusunan prosedur kerja kepala bagian.
10. Menetapkan dan melakukan penilaian hasil kerja pegawai.
11. Melakukan monitoring dan evaluasi kerja kepala bagian.
12. Menangani keluhan dan membuat laporan penanganan keluhan.
13. Melakukan tugas-tugas lain yang dibebankan Kantor Cabang untuk
dilaksanakan di wilayah operasional masing-masing KLOK.

2. Kepala Bagian Pelayanan Peserta
Tugas dan tanggung jawab bagian pelayanan peserta meliputi:
1. Menerbitkan Kartu Jaminan BPJS Kesehatan.
2. Membuat laporan kepesertaan jaminan kesehatan.
3. Menginformasikan data peserta mutasi dan pindah domisili
4. Memberikan informasi pelayanan kesehatan maupun pelayanan pengurusan
kartu.
5. Melakukan administrasi kepesertaan BPJS Kesehatan.
6. Mengelola file kepesertaan.
7. Mengawasi kualitas mutu pelayanan peserta.
8. Membuat laporan keluhan peserta.
26



9. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan kepala BPJS Kesehatan
KLOK Sabang.

3. Kepala Bagian Keuangan
Tugas dan tanggung jawab bagian keuangan meliputi:
1. Melakukan pembukuan semua administrasi kantor.
2. Melakukan penerimaan uang.
3. Melakukan penyimpanan uang (kas dan bank).
4. Membuat laporan klaim dana kapitasi.
5. Melakukan administrasi kepegawaian.
6. Meremajakan/updating tabel-tabel referensi data base wilayah kerja BPJS
Kesehatan KLOK Sabang.
7. Menerima, menyimpan dan mendistribusikan barang dan dokumen.

4. BPJS Kesehatan Center
BPJS Kesehatan Center adalah pusat pelayanan untuk peserta BPJS
Kesehatan yang ditempatkan di setiap rumah sakit, terdiri dari RSU, RSUP,
RSUD, RSU TNI, RSU Bhayangkara POLRI dan Rumah Sakit Swasta, dengan
tujuan untuk melaksanakan pelayanan dalam hal memberikan informasi kepada
peserta tentang segala hal yang kurang jelas mengenai pelayanan yang ada di
rumah sakit untuk peserta BPJS Kesehatan dan mengawasi pelayanan yang
diberikan oleh pihak rumah sakit kepada peserta BPJS Kesehatan yang berobat di
rumah sakit.
Tugas dan Tanggung Jawab BPJS Kesehatan Center Meliputi:
1. Membuat laporan pelayanan dan penanganan pengaduan peserta.
27



2. Memonitoring pelaksanaan pemberian pelayanan kepada peserta.
3. Melakukan utilisasi review data dan fasilitas pelayanan rumah sakit.
4. Memberikan informasi mengenai pelayanan BPJS Kesehatan di rumah sakit
kepada peserta.
2.4 Kegiatan Umum BPJS Kesehatan
2.4.1 Sistem Program OJT
Kegiatan Program On The Job Training (OJT) pada BPJS Kesehatan
Kantor Layanan Operasional Kota Sabang. Selama kegiatan Program On The Job
Training, penulis ditempatkan pada Bagian Keuangan dan Pelayanan, sedangkan
lama pelaksanaan kegiatan tersebut 2 bulan yaitu dimulai pada tanggal 01 Juli
sampai dengan 29 Agustus 2014.
2.4.2 Kegiatan Pekerjaan Yang Dilakukan Selama OJT
Selama menjalankan kegiatan On The Job Training dari tanggal 01 Juli
sampai dengan 29 Agustus 2014. Penulis ditempatkan pada bagian Keuangan dan
Pelayanan. Selama bekerja penulis dituntut untuk disiplin, karena BPJS
Kesehatan di seluruh Indonesia sangat mengutamakan kedisiplinan. Dan itu
menjadi pelajaran paling berharga bagi penulis, karena mengajarkan penulis untuk
lebih disiplin dalam melakukan berbagai hal. Untuk hari Senin Kamis absen
pagi diterapkan pukul 07.30 Wib, dan absen sore diterapkan pada pukul 16.30
Wib, untuk hari Jumat absensi pagi diterapkan pukul 07.30 Wib, dan absen sore
diterapkan ada pukul 17.00 Wib.
Adapun tugas-tugas yang dikerjakan penulis pada saat melaksanakan On
The Job Training antara lain :
28



1. Input Data Peserta Baru JKN dengan System Portal BPJS Kesehatan.
Portal BPJS Kesehatan adalah program komputer yang dirancang khusus
untuk menginput semua data yang berhubungan dengan kegiatan operasional pada
BPJS Kesehatan.
Peserta dan kepesertaan Jaminan Kesehatan diatur dalam Bab II, mulai
dari Pasal 2 sampai dengan Pasal 9 Perpres Nomor 12 Tahun 2013.
Menurut Pasal 2 Perpres, Peserta Jaminan meliputi:
a. Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang meliputi orang yang tergolong fakir
miskin dan orang tidak mampu. Penetapan Peserta PBI Jaminan Kesehatan
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,dalam hal
ini Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang PBI Jaminan
Kesehatan.
b. Bukan PBI Jaminan Kesehatan, yaitu orang yang tidak tergolong fakir miskin
dan orang tidak mampu yang terdiri atas:
1. Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya;
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya; dan
3. Bukan Pekerja dan anggota keluarganya.
Perpres Nomor 12 Tahun 2013 tidak membatasi jumlah anggota keluarga
yang menjadi Peserta Jaminan Kesehatan. Ketentuan tersebut diatas berbeda
dengan Pasal 20 ayat (1) UU SJSN yang menentukan Peserta jaminan kesehatan
adalah setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah. Kemudian pada ayat (2) ditentukan Anggota keluarga peserta
berhak menerima manfaat jaminan kesehatan.
29



Pada ayat (3) ditentukan Setiap peserta dapat mengikutsertakan anggota
keluarga yang lain yang menjadi tanggungannya dengan penambahan iuran. Dari
Penjelasan ayat (3) dapat disimpulkan bahwa UU SJSN membatasi anggota
keluarga peserta yang berhak menerima manfaat jaminan kesehatan paling banyak
5 (lima) orang yaitu suami/istri dan paling banyak 3 (tiga) orang anak sah, karena
anak ke empat dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua dapat diikutsertakan dengan
menambah iuran. Perlu ditambahkan bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 4
ayat(6) Perpres, warga Negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6
(enam bulan) termasuk dalam kelompok Pekerja Penerima Upah dan Pekerja
Bukan Penerima Upah. Sedangkan Jaminan kesehatan bagi warga Negara
Indonesia yang bekerja di luar negeri, menurut Pasal 4 ayat (7) Perpres diatur
dengan peraturan perundang-undangan tersendiri.
A. Rincian Kelompok Peserta
Rincian masing-masing kelompok Peserta Jaminan Kesehatan bukan PBI
Jaminan Kesehatan diatur dalam Pasal 4 Perpres,sebagai berikut.
1. Pekerja Penerima Upah terdiri atas:
a) Pegawai Negeri Sipil;
b) Anggota TNI;
c) Anggota Polri;
d) Pejabat Negara;
e) Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri;
f) Pegawai swasta; dan
30



g) Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang
menerima Upah.
2. Pekerja Bukan Penerima Upah terdiri atas:
a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri; dan
b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan Penerima Upah.
3. Bukan Pekerja terdiri atas:
a) Investor;
b) Pemberi Kerja;
c) penerima pensiun;
d) Veteran;
e) Perintis Kemerdekaan;dan
f) Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e yang
mampu membayar Iuran.
g) Perpres juga mengatur secara rinci siapa yang dimaksud dengan
penerima pensiun yang dikelompokkan ke dalam kelompok Peserta
Bukan Pekerja.
4. Penerima pensiun terdiri atas:
a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;
b) Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun;
c) Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;
d) penerima pensiun selain huruf a, huruf b, dan huruf c, dan
e) Janda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun yang mendapat hak
pensiun.
31



B. Anggota Keluarga Pekerja Penerima Upah
Anggota keluarga Peserta Bukan PBI Jaminan Kesehatan dari Pekerja
Penerima Upah, menurut Pasal 5 ayat (1) Perpres meliputi:
1. Istri atau suami yang sah dari Peserta; dan
2. Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari Peserta,
dengan kriteria:
a) Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan
sendiri; dan
b) Belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (dua
puluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal.
C. Kepesertaan Wajib Dan Pentahapan Kepesertaan
Menurut Pasal 6 ayat (1) Perpres, ditentukan bahwa kepesertaan Jaminan
Kesehatan bersifat wajib dan dilakukan secara bertahap sehingga mencakup
seluruh penduduk. Pentahapan kepertaan Jaminan Kesehatan menurut ayat (2),
dilakukan sebagai berikut:
1. Tahap pertama mulai tanggal 1 Januari 2014 paling sedikit meliputi:
a) PBI Jaminan Kesehatan;
b) Anggota TNI/Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian
Pertahanan dan anggota keluarganya;
c) Anggota Polri/Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Polri dan anggota
keluarganya;
32



d) Peserta asuransi kesehatan Perusahaan (Persero) Asuransi Kesehatan
Indonesia dan anggota keluarganya; dan
e) Peserta Jaminan Pemeliharaan kesehatan Perusahaan (Persero) Jaminan
Sosial tenaga Kerja (Jamsostek) dan anggota keluarganya.
2. Tahap kedua meliputi seluruh penduduk yang belum masuk sebagai Peserta
BPJS Kesehatan paling lambat pada tanggal 1 Januari 2019.
D. Peserta Yang Mengalami PHK dan Cacat Total Tetap
Menurut Pasal 7 ayat(1) Perpres, Peserta yang mengalami PHK tetap
memperoleh hak Manfaat jaminan kesehatan paling lama 6 (enam) bulan sejak
di PHK tanpa membayar iuran. Pada ayat (2) ditentukan, Peserta yang terkena
PHK dan telah bekerja kembali wajib memperpanjang status kepesertaannya
dengan membayar iuran.
Dalam hal Peserta yang terkena PHK tidak bekerja kembali dan tidak mampu,
berhak menjadi Peserta PBI Jaminan Kesehatan, demikian ditentukan pada
ayat (3). Kemudian Pasal 8 ayat (1) Perpres menentukan, Peserta Bukan PBI
Jaminan Kesehatan yang mengalami cacat total tetap dan tidak mampu, berhak
menjadi Peserta PBI Jaminan Kesehatan. Pada ayat (2) ditentukan, penetapan
cacat total tetap dilakukan oleh dokter yang berwenang.
E. Perubahan Status Kepesertaan
Perubahan status kepesertaan dari Peserta PBI Jaminan Kesehatan menjadi
bukan Peserta PBI Jaminan Kesehatan, menurut Pasal 9 ayat (1) Perpres
dilakukan melalui pendaftaran ke BPJS Kesehatan dengan membayar iuran
33



pertama. Perubahan status kepesertaan sebagaiman tersebut diatas tidak
mengakibatkan terputusnya Manfaat Jaminan Kesehatan.
Proses input data peserta baru adalah sebagai berikut:
- Buka Portal BPJS Kesehatan
- Mengisi user name dan user ID pengendali JKN
- Mengisi data identitas peserta baru yang sesuai dengan KTP, Kartu Keluarga
dan Data Kepegawaian (bila tersedia).
- Mengisi daftar gaji yang tersedia.
- Melakukan proses dan penyimpanan data identitas yang telah diisi sesuai
dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
- Mencetak kartu kepeserta.
2. Mengisi Laporan Kepesertaan JKN dan Membuat Laporan Keluhan
Peserta
Proses pengisian laporan kepesertaan JKN dan membuat Laporan Keluhan
peserta yaitu sebagai berikut:
- Penulis mengisi daftar peserta JKN pada buku yang telah disediakan pada BPJS
Kesehatan KLOK Sabang .
- Daftar peserta JKN diisi sesuai dengan formulir dan persyaratan-persyaratan
yang telah dilengkapi oleh peserta yang telah mendaftar menjadi peserta JKN.
- Laporan keluhan peserta juga diisi pada buku yang telah disediakan pada BPJS
Kesehatan KLOK Sabang.
34



- Laporan ini diisi sesuai dengan hasil keluhan yang disampaikan oleh peserta
pada BPJS Kesehatan KLOK Sabang.

3. Pindah PPK (Pusat Pelayanan Kesehatan)
Fasilitas kesehatan yang termasuk Faskes Tingkat Pertama adalah:
a. Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
suatu wilayah kerja. (Permenkes No. 128 Tahun 2004)
b. Praktik dokter umum
Praktik dokter umum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
dokter umum terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. (UU
No. 29 Tahun 2004)
c. Praktik dokter gigi
Praktik dokter gigi adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter
gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. (UU No. 29
Tahun 2004)
d. Klinik umum
Klinik umum adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar,
diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin
oleh seorang tenaga medis. (Permenkes No. 28 tahun 2011)


35



e. RS Kelas D pratama
RS Pratama adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan kesehatan dasar yang tidak membedakan kelas
perawatan dalam upaya menjamin peningkatan akses bagi masyarakat
dalam rangka penyelenggaraan kegiatan upaya kesehatan perorangan yang
memberikan pelayanan gawat darurat selama 24 jam, pelayanan rawat
jalan, dan rawat inap. Bila Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat menyatakan tidak ada dokter di daerah tersebut, BPJS Kesehatan
dapat bekerja sama dengan praktik bidan dan/atau praktik perawat untuk
memberikan Pelayanan Kesehaan Tingkat Pertama.
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat non spesialistik (primer) meliputi pelayanan rawat jalan
dan rawat inap. Pelayanan kesehatan tingkat pertama diselenggarakan oleh
fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama tempat peserta terdaftar.
1. Cakupan Pelayanan Medis
Pelayanan medis tingkat pertama meliputi:
a. Kasus medis yang dapat diselesaikan secara tuntas di Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama;
b. Kasus medis yang membutuhkan penanganan awal sebelum dilakukan
rujukan
c. Kasus medis rujuk balik;
d. Pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan pelayanan kesehatan gigi tingkat
pertama;
36



e. Pemeriksaan ibu hamil, nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita oleh
bidan atau dokter;
f. Rehabilitasi medik dasar;
g. Rawat inap pada pengobatan/perawatan kasus yang dapat diselesaikan
secara tuntas di Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama;
h. Rawat inap pada pertolongan persalinan pervaginam bukan risiko tinggi;
i. Rawat inap pada pertolongan persalinan dengan komplikasi dan/atau
penyulit pervaginam bagi Puskesmas PONED;
j. Rawat inap pada pertolongan neonatal dengan komplikasi; dan
k. Rawat inap pada pelayanan transfusi darah sesuai kompetensi Fasilitas
Kesehatan dan/atau kebutuhan medis.
2. Pemilihan faskes tingkat pertama
Setiap peserta wajib terdaftar pada salah satu faskes tingkat pertama. Saat
pertama kali melakukan pendaftaran, BPJS Kesehatan memilihkan fasilitas
kesehatan peserta berdasarkan wilayah tempat tinggal. Sedangkan bagi peserta
JKN yang berasal dari program peralihan. Peserta JKN dapat merubah pilihan
faskes tingkat pertama jika sudah terdaftar minimal 3 (tiga) bulan pada faskes
tingkat pertama sebelumnya.
Untuk peserta yang ingin berpindah dari faskes yang telah terdaftar ke
faskes yang lainnya dapat dilakukan dengan cara :
- Mengecek faskes tempat peserta terdaftar
- Mengisi seluruh formulir perpindahan pusat pelayanan kesehatan
37



- Menginput data perpindahan pusat pelayanan kesehatan yang sebelumnya
telah diisi oleh peserta pada formulir yang diberikan penulis.
- Membuat dan mencetak bukti perpindahan ke faskes lainnya, jika nanti peserta
ingin berobat maka dapat membawa bukti tersebut kepada faskes yang baru
didaftarkan, jangka waktu untuk peserta agar dapat berpindah ke faskes yang
lain yaitu tiga bulan kemudian.

4. Menginput Klaim Masuk Dari RSUD Kota Sabang dan RSAL J. Lily
Pory
Proses input data klaim pasien yang telah berobat di RSUD dan RSAL
bertujuan agar dana penggatian biaya pengobatan dapat ditanggung oleh BPJS
Kesehatan. Klaim merupakan bukti transaksi antara pihak rumah sakit dengan
pihak BPJS Kesehatan . Proses input data klaim adalah sebagai berikut:
- Membuka Portal BPJS Kesehatan
- Mengisi daftar biaya klaim yang telah disesuaikan dengan besaran biaya yang
timbul ketika para peserta berobat di Rumah Sakit.
- Memproses data yang telah diolah untuk dievaluasi pada BPJS Kesehatan
Kantor Cabang Banda Aceh.

5. Menginput Data Peserta Jamkesmas Pada Microsoft Excel
- Buka master file peserta Jamkesmas kota Sabang.
- Memperbaiki dan memperbaharui data peserta yang salah dan tidak lengkap.
- Menyimpan data yang telah direview.
38



Tabel 1. Ketentuan Pemilihan Faskes Peserta JKN Program Peralihan
No Jenis Peserta Faskes Tingkat Pertama
1. Askes Sosial Sama dengan Faskes Tingkat Pertama sebelumnya
2. JPK Jamsostek Sama dengan Faskes Tingkat Pertama sebelumnya
3. TNI Faskes Tingkat Pertama TNI
4. POLRI Faskes Tingkat Pertama POLRI
5. Jamkesmas Faskes Tingkat Pertama terdekat dari tempat tinggal
Sumber: PT Askes. Penyiapan PT Askes (Persero) Menuju BPJS Kesehatan dan
Perluasan Kepesertaan Jaminan Kesehatan SJSN. Jakarta. 2013
2.4.3 Tugas Khusus Yang Diberikan Oleh Perusahaan
Mengarsipkan berkas-berkas dokumen Kepesertaan
Dokumen kepesertaan merupakan dokumen tentang biodata yang harus
disediakan oleh calon peserta yang ingin mendaftar sebagai peserta JKN pada
BPJS Kesehatan.
Dokumen kepesertaan terdiri dari:
1. Photo copy KTP
2. Photo copy KK
3. Photo copy Daftar Gaji bulan terakhir
4. Photo copy SK Kepegawaian/Ketenagakerjaan,
5. Pas photo 3X4 1 lembar dan
6. Photo Copy Akte Kelahiran

39



Mencatat pemakaian dana Kas Kecil/Petty Cash
Kas Kecil/Petty Cash adalah sejumlah uang tunai tertentu yang disisihkan
dalam perusahaan dan digunakan untuk melayani pengeluaran-pengeluaran
tertentu, biasanya pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan melalui dana kas
kecil adalah pengeluaran-pengeluaran yang berjumlah relatif kecil.
Proses pencatatan kas kecil dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh Kantor Cabang Banda Aceh, yaitu seminggu sekali.
Mengarsipkan surat masuk bulan Juli dan Agustus 2014
Surat masuk pada BPJS Kesehatan KLOK Sabang terdiri dari 2 jenis, yaitu:
1. Surat masuk dari dalam
Surat masuk dari dalam merupakan surat yang diterima dari ruang lingkup
BPJS Kesehatan baik surat yang diterima dari BPJS Kesehatan antar KLOK,
kantor cabang, kantor regional, maupun dari kantor pusat
2. Surat masuk dari luar
Surat masuk dari luar merupakan surat yang diterima dari dinas/instansi
luar, yang tidak berkaitan dengan BPJS Kesehatan. Misalnya: surat dari
Dinkes, surat dari Walikota, surat dari Kemenkes, dll.
Proses pengarsipan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan
oleh Kantor Cabang Banda Aceh, yaitu seminggu sekali.
Mengagenda surat masuk di bagian Keuangan
Surat masuk di bagian keuangan hanya terdiri dari surat perintah dan ketentuan
yang bersangkutan dengan pengeluaran dana. Proses pengagendaan surat di
40



bagian ini dilakukan seminggu sekali sesuai dengan ketentuan yang telah
ditentukan oleh Kantor Cabang Banda Aceh
Menginput dokumen Klaim pasien dari rumah sakit untuk penggantian biaya
pengobatan pasien peserta BPJS Kesehatan
Klaim pasien dari rumah sakit merupakan bukti pengobatan yang telah dijalani
oleh pasien. Proses menginput dokumen klaim ini menggunakan aplikasi Portal
BPJS Kesehatan.

2.5 Hambatan-hambatan selama di Perusahaan
Ketika melaksanakan Praktik Kerja Lapangan, sebenarnya penulis tidak
mengalami kesulitan pada saat menjalankan tanggung jawab tugas yang diberikan
oleh mentor, karena para mentor selalu membimbing penulis terlebih dahulu
sebelum tugas diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan
baik. Namun demikian ada beberapa hambatan yang penulis alami, adapun
hambatan hambatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pelajaran teori yang penulis dapatkan didalam perkuliahan ada beberapa
perbedaan dengan praktiknya sehingga penulis harus beradaptasi terlebih
dahulu dengan tugas yang diberikan, namun semua dapat diatasi dengan
bimbingan mentor yang setiap harinya memberikan ilmu sehingga kesulitan
yang penulis alami dapat diatasi.
2. Waktu yang diberikan untuk On The Job Training terlalu singkat, sehingga
penulis tidak mendapatkan banyak ilmu baru dari tempat Praktik Kerja
Lapangan.