Anda di halaman 1dari 14

1

TAFSIR MAFATIH AL-GHAIB


KARYA FAKHRUDDIN AR-RAZI

A. Pendahuluan
Susunan dan bahasa al-Quran merupakan alasan tersendiri mengapa
penafsiran dan penggalian terhadap makna ayat-ayatnya justru menjadi tugas
umat yang tak pernah berakhir. Hal ini ditopang oleh keyakinan umat Islam
bahwa al-Quran adalah kitab suci yang akan berlaku abadi sepanjang masa.
Oleh karena itu, ia memerlukan interpretasi dan reinterpretasi secara kontinyu
mengikuti perkembangan zaman. Jelasnya, selalu dibutuhkan adanya
reaktualisasi nilai-nilai al-Quran sesuai dengan dinamika al-Quran sendiri.
Tafsir, sebagai usaha memahami dan menerangkan maksud dan
kandungan al-Quran, telah mengalami perkembangan yang cukup bervariasi.
Sebagai hasil karya manusia, terjadinya keanekaragaman dalam corak
penafsiran adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Berbagai faktor dapat
menimbulkan keragaman itu; perbedaan kecenderungan, interest, dan
motivasi mufassir; perbedaan misi yang diemban; perbedaan kedalaman dan
ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan yang mengitari;
perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi dan sebagainya. Semua ini
menimbulkan berbagai corak penarsiran yang kemudian berkembang menjadi
aliran tafsir yang bermacam-macam, lengkap dengan metodenya sendiri-
sendiri.
Pada abad-abad setelah masa sahabat, usaha penafsiran berdasarkan
ra'y mulai berkembang, timbul seiring dengan perkembangan Islam di bidang
politik yang ditandai dengan meluasnya wilayah-wilayah Islam. Dalam
ekspansi ini, umat Islam bertemu dengan berbagai problema yang
membutuhkan pemecahan-pemecahan berdasarkan al-Quran dan hadis. Di
samping itu, umat Islam bertemu pula dengan beraneka macam budaya yang
tentunya turut mempengaruhi mereka dalam memahami al-Quran. Karena
problema-problema yang ditemui tidak selalu tersedia jawabannya secara
2

eksplisit dalam al-Quran dan hadis, maka para ulama pun melakukan ijtihad
dengan memberikan interpretasi rasional terhadap ayat-ayat al-Quran.
Dengan demikian, penafsiran rasional terhadap ayat al-Quran adalah hal
yang tak terhindarkan sesuai dengan perkembangan hidup dan akal pikiran
manusia.
Perkembangan ilmu-ilmu keislaman yang tumbuh sejalan dengan
perkembangan dan perluasan Islam, mempengaruhi pula perkembangan corak
dan metode tafsir. Setiap mufassir yang memiliki bidang keahlian tertentu
cenderung menafsrikan al-Quran berdasarkan latar belakang keahlian dan
ilmu yang dimilikinya. Muncullah kemudian corak tafsir yang bermacam-
macam. Misalnya, tafsir yang bercorak fiqih, filsafat, tasawwuf, keilmuan,
kebahasaan, teologis, dan sebagainya.
Salah satu pemikir muslim yang ikut menyumbang khazanah tafsir al-
Quran adalah Fakhruddin al-Razi, seorang ilmuwan yang menguasai berbagai
bidang keilmuan secara mendalam. Salah satu karya fenomenalnya adalah
Mafatih al-Ghaib sebuah kitab tafsir dengan gaya pembahasan yang berbeda
dengan kitab-kitab tafsir sebelumnya, yang dikenal sebagai kitab tafsir yang
mempunyai cirri-ciri penafsiran bi al-ray.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis akan mengupas beberapa hal, diantaranya
adalah:
1. Biografi penulis Mafatih al-Ghaib, yaitu Fakhruddin ar-Razi.
2. Gambaran umum Mafatih al-Ghaib
3. Karakteristik Mafatih al-Ghaib


C. Pembahasan
1. Biografi Fakhruddin al-Razi dan Karya-karyanya
3

Nama lengkap Fakhruddin al-Razi adalah Abu Abdillah Muhammad
bin Umar bin al-Husein Ibn al-Hasan Ibn al-Tammy al-Bikri al-Tibristani
al-Razi. Sedangkan al-Razi merupakan julukan yang dinisbahkan kepada
kota kelahirannya yaitu Rayy. Beliau lahir di kota Herat, salah satu kota di
Rayy pada tanggal 25 Ramadhan tahun 544 Hijriyah.
1
Pendidikan awal
diterima dari orang tuanya bernama Dauddin, seorang ulama dan pemikir
yang dikagumi masyarakat Rayy. Selanjutnya ia belajar kepada ulama-
ulama besar lainnya. Filsafat dipelajarinya dari ulama besar bernama
Muhammad al-Bagawi dan Majdin al-Jilly.
Kematangan pengetahuan al-Razi membuatnya berani berdialog
dengan para tokoh di tanah kelahirannya dan di beberapa daerah lain. Al-
Razi dinyatakan sebagai tokoh reformasi dunia Islam pada abad 6
Hijriyah, sebagaimana tokoh Abu Hamid al-Ghazali pada abad 5 Hijriyah.
Bahkan ia dijuluki sebagai tokoh pembangun sistem teologis melalui
pendekatan filsafat.
2

Kecenderungan al-Razi mendalami berbagai cabang pengetahuan
tampaknya muncul karena kebiasaan-kebiasaan yang telah tertanam dalam
jiwanya semenjak kecil, baik karena pengaruh dari orang tuannya sendiri
ataupun karena pengaruh dari gurunya. Sebagai seorang intelektual yang
sudah cukup matang dan luas pengetahuannya, al-Razi telah banyak
berperan dan memikirkan bagaimana mengembalikan kemurnian ajaran
Islam sebagaimana mulanya dan semua yang mengakibatkan ketimpangan
dapat dihapuskan. Tindak lanjut dari kemampuan dan kematangan al-Razi
dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan membuatnya berani mengembara
ke daerah-daerah yang bertetangga dengan kawasan al-Razi.
Pada mulanya al-Razi adalah seorang yang sederhana sebagaimana
keadaan kebanyakan ulama. Akan tetapi keadaan itu tidak mengendorkan

1
Muhammad Husein al-Zahabi, Tafsir Wa al-Mufasrrun, Juz I, Daar al-Kitab, Beirut,
Libanon, Cet. II, 1976, h. 290
2
Team Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta,
1993, Cet. I, h. 328
4

semangatnya untuk mencari dan melakukan pengembaraan demi ilmu. Ia
belajar berbagai ilmu dasar sebagaimana para pemula lainnya dan dapat
dikuasainya dengan baik, di samping itu ia juga mengkaji ilmu ushul al-
din. Dalam pencariannya, ia selalu berpindah-pindah, sehingga ia sangat
menguasai dan dalam ilmunya serta mempunyai keahlian berdiskusi yang
meyakinkan tentang berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya.
3

Kebesaran al-Razi dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan sangat
tergantung pada situasi dan kondisi zamannya. Zaman hidup al-Razi
adalah masa di mana dunia Islam sedang mengalami disintegrasi politik
dan labilnya sistem keamanan. Sementara dalam soal penggembangan
kebudayaan dan peradaban, dalam masyarakat telah muncul sikap anti dan
sikap simpati terhadap cabang-cabang pengetahuan tertentu
4
.
Al-Razi meninggal dunia pada malam senin hari 'Id al-Fithri, tahun
606 Hijriyah dalam usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulallah Saw.
Menurut satu pendapat, ia meninggal disebabkan karena diracun oleh
golongan Mu'tazilah di mana ia sering melakukan diskusi dengannya.
Kemudian mereka melakukan tipu daya dengan meminumkan racun
kepadanya. Sedangkan menurut pendapat yang lain, karena ia mencela
kelompok karamiyah dan membeberkan kesalahannya sehingga mereka
menculiknya, kemudian meminumkan racun kepadanya.
5

Beragamnya cabang pengetahuan yang berkembang, sebelum dan
yang sezaman dengan masa al-Razi, telah memberikan rangsangan khusus
dalam pengembangan wawasan intelektual para pemikir Islam. menurut al-
Razi pengetahuan yang berkembang itu mempunyai akar hubungan yang
erat dengan agama dan jiwa dari wahyu al-Quran. Karena ketajaman
penalaran dan kuatnya argumen yang dibawa al-Razi dalam

3
Ali Hasan al-'Aridl, Sejarah Dan Metodologi Tafsir, Terj. Ahmad Akrom, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 1994, Cet.II, h. 30
4
Ali Muhammad al-Umari, al-Imam Fakhr al-Din al-Razi; Hayatuhu Wa Asaruhu, Uni
Emirat Arab; al-Majlis al-A'la Li al-Syiun al-Islamiyah, Cet. III,1969, h. 14
5
Ali Hasan al-'Aridl, op. cit., h. 31
5

mempertahankan pendapatnya, terkadang membawa kepada perbedaan
pendapat antara lawannya menjadi bertambah jelas dan serius. Pada tahun
599 Hijriyah, saat ia berada di kota Farrukh terjadi perdebatan yang sangat
seru dan tajam. Di antara mereka ada yang menuduhnya sebagai seorang
yang telah merusakkan ajaran dasar Islam. Di samping menuduh intimidasi
dan penekanan terhadap dirinya, baik dengan cara menuduhnya sebagai
seorang kafir ataupun dengan membawa fitnah kepadanya terus
berlangsung.
Selama hidupnya, al-Razi telah menyusun sejumlah karya ilmiah,
ada yang langsung ditulisnya sendiri dan ada pula yang disalin oleh murid-
muridnya dari hasil kuliah yang disampaikannya. Tulisan itu sendiri terdiri
atas beberapa disiplin ilmu pengetahuan. Para pengkaji dan para pengamat
al-Razi belum dan tidak dapat memberikan kata sepakat tentang berapa
karya tulis yang telah dihasilkannya. Ibnu Katsir berdasarkan penelitian
yang dilakukannya, menyimpulkan bahwa lebih kurang karya al-Razi
berjumlah dua ratus judul. Al-Razi menghasilkan menghasilkan karya tulis
dalam berbagai aspek pengetahuan yang berkembang di jamannya. Semua
karya tersebut dapat dipilah dalam beberapa bidang.: Dalam karya tulis ini
akan dipaparkan karya-karya ilmiah al-Razi seperti dalam kitab al-Imam
Fakhruddin al-Razi Hayatuh Wa Asaruhu, karya Ali Muhammad Hasan
al-Umari dan kitab al-Imam al-Razi Wa Manhajuh Fi al-Tafsir karya Dr.
Thahir al-Mamun,
6
yaitu :
a. Karya Ilmiah al-Razi dalam bidang Tafsir :
1) Mafatih al-Gaib, di sebut juga Tafsir al-Kabir
2) Tafsir Surah al-Fatihah atau di sebut juga Mafatih al-Ulum
3) Tafsir Surah al-Baqarah ala al-Wahji al-Aqli La al-Naql (1
Jilid)
4) Tafsir al-Asma al-Husna
5) Asrar al-Tanzil Wa Anwar al-Tawil

6
Ali Muhammad Al-Umari, op.cit., h. 209-213
6

6) Durrah al-Tawil Fi Ayat al-Mutasyabihat
7) Tafsir Surah al-Ikhlas
8) Al-Ayat al-Bayyinat disebut juga Risalah Fi ayat al-Mutasyabiha.
9) Risalah Fi al-Tanbiyyah ala Bada al-Asrar Fi al-Quran.
10) Ajaib al-Quran
b. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang ilmu Fiqih, diantaranya:
1) Kitab al-Mahsul Fi al-Fiqih.
2) Kitab Syarh al-Wajiz Fi al-Fiqih al-Ghazali
c. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Ushul Fiqh, diantaranya .
1) Kitab al-Maallim fi Usul al-Fiqh.
2) Kitab al-Mahsul Fi Usul al-Fiqh.
3) Kitab al-Arbain Fi Usul al-Fiqh
d. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Ilmu Kalam, diantaranya:
1) Kitab al-Mahsul Fi Nihayah al-Uql Fi Ilm al-Usul
2) Kitab al-Bayan Wa al-Burhan Fi al-Raad ala Ahl al-Zaig Wa al-
Tugyan.
3) Kitab al-Muhassal Fi ilm al-Kalam (1 Jilid ).
4) Kitab al-Qada Wa al-Qadar.
5) Al-Arbain Fi Ushul al-Din.
e. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Filsafat, diantaranya :
1) Kitab al-Mulakhkhas Fi al-Falsafah.
2) Kitab al-Matalib al-Aliyah Fi al-Hikmah.
3) Kitab Tajiz al-Falasiyyah.
4) Kitab Mabahis al-Masyriqiyyah.
f. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang ilmu Mantiq, diantaranya :
1) Kitab Mabahis al-Jadi.
g. Karya Ilmiah al-Razi dalam Bidang Kedokteran, diantaranya :
1) Al-Tasyrih min al-Rasail al-Haq.
2) Kitab al-Jami al-Kabir Fi al-Tibb .
3) Masail Fi al-Tibb
7

h. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Ilmu Kealaman (Kosmologi),
diantaranya:
1) Kitab Masadirat Iqlidas.
2) Kitab Fi al-Handasah
i. Karya ilmiah al-Razi dalam bidang Ilmu Bahasa dan Balagah,
diantaranya :
1) Syarh al-Mufassal Li al-Zamakhsyari Fi al-Nahwi.
2) Syarh Nahj al-Balagah.
3) Nihayah al-I'jaz Fi Dirayah al-I'jaz.
j. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Biografi (al-Manaqib) dan zuhud,
diantaranya :
1) Kitab Fadl al-Sohibah al-Rasyidah.
2) Kitab Manaqib al-Imam al-Syafii.
3) Kitab Fi al-Dunya.
k. Karya ilmiah al-Razi dalam Bidang Ilmu Musik, diantaranya :
1) Mausuh al-Ulum
2. Gambaran Umum Tentang Tafsir Mafatih al- Ghaib
Tafsir Mafatih al- Ghaib merupakan karya Fakhruddin al-Razi yang
paling besar yang terdiri dari 17 jilid. Menurut Cyril Classe
7
, penamaan
tafsir tersebut di ilhami oleh sebuah ayat dalam al-Quran dalam surat al-
Anam ayat 59 yang berbunyi:

Artinya : Pada sisi Allah terdapat kunci-kunci semua yang ghaib (Mafatih
al- Ghaib) dan tidak ada yang mengetahunya selain Dia ( Allah)
sendiri.
Dalam muqaddimah tafsirnya, al-Razi pernah melontarkan suatu
pernyataan dalam beberapa kesempatan bahwa dalam surat al-Fatihah bisa

7
Cyril Classe, Ensiklopedi Islam (Ringkas), Terj. Ghufron A. Masadi, Raja Grafindo
Persada, 1996, Jakarta, Cet. I, h. 337
8

digali sebanyak sepuluh ribu permasalahan. Maka dengan memohon
petunjuk kepada Allah Swt, beliau membuktikan ucapannya dengan
mengarang tafsir tersebut dan membongkar rahasia dan hakekat yang
terkandung dalam al-Quran.
Menurut Muhammad Husein al-Zahabi, al-Razi telah menyelesaikan
tafsirnya sampai dengan surat al-Anbiya, selanjutnya Syihabuddin al-
Khaubi menyempurnakan kekurangan tersebut, namun ia tidak
menyelesaikan dengan tuntas dan sesudah itu tampil lagi Najmuddin al-
Qamuli menyelesaikan sisanya, tetapi dapat dikatakan bahwa al-Khaubi
telah menyelesaikannya sampai selesai dan al-Qamuli menulis
penyempurnaan lain, bukan yang telah ditulis oleh al-Khaubi. Inilah
pendapat yang jelas dalam kitab Kasyfu al-Zunun. Sekalipun al-Razi tidak
menyelesaikan penulisan tafsirnya sampai tuntas, namun nuansa pemikiran
al-Razi terlihat mendominasi dalam kitab tersebut. Sehingga seolah-olah
para pembaca akan menyangka bahwa kitab tafsir Mafatih al-Ghaib adalah
murni karya al-Razi.
Melalui karya tafsirnya ini, al-Razi berupaya mencurahkan segenap
ilmunya yang menjadikan karya tafsirnya berbeda dari kitab tafsir yang
lain. Melalui ayat-ayat yang berhubungan dengan bidang filsafat, beliau
tuangkan pembahasan yang bersifat falsafi dan ayat-ayat yang
berhubungan dengan bidang teologi, beliau juga menuangkannya yang
bersifat teologis.
Demikian pula dengan ayat-ayat lain yang menyangkut berbagai
disiplin ilmu pengetahuan yang ditinjau oleh penguasannya dalam bidang-
bidang tersebut. Dikalangan pakar tafsir mengemukakan tentang
metodelogi yang dipergunakan al-Razi dalam menafsirkan ayat-ayat al-
Quran melalui pendekatan bi al-rayu. Hal ini dengan beberapa
pertimbangan antara lain :
a. Al-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, menguraikan panjang lebar
tentang suatu masalah yang beliau bahas disertai argumentasi yang
9

rasional.di samping itu, ia banyak sekali membicarakan masalah
teologi dan masalah alam semesta.
b. Dalam tafsirnya, al-Razi mengemukakan pendapat yang beraliran
rasional, seperti pemikiran Mutazilah secara luas, kemudian
menyoroti dan membantah dengan segala kemampuannya serta
menyoroti berbagai pendapat ahli fiqih.
c. Dalam tafsirnya. ia kadangkala membahas masalah-masalah ushul dan
masalah yang berhubungan ilmu nahwu dan balagah kemudian
mengaitkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kealaman.
8

Dengan demikian kitab tafsirnya menjadi ensiklopedi ilmiah tentang
berbagai disiplin pengetahuan yang luas dan kepahaman penafsiran dari
setiap redaksi ayat-ayat al-Quran. Sehingga kitab tafsir tersebut telah
menjadi rujukan para ulama tafsir dalam memahami penalaran al-Quran,
baik dari segi ayat maupun segi surat al-Quran.
3. Corak Penafsiran Fakhr al-Razi pada Tafsir Mafaith Al-Ghaib
Tafsir Mafatih al-Gholib merupakan karya monumental Fakhr al-
Razi, dalam menafsiri surat al-Fatikhah yaitu berisi sanggahan-sanggahan
dan pendapat-pendapat ahli.
Al Shofwandi dalam kitabnya al-Wafi bi al-Wafiyat berkata : Fakhr
al-Razi dalam membahas suatu permasalahan dalam kitanya menggunakan
metode yang belum pernah dijumpai sebelumnya, karena beliau mulai
menulis dengan menyodorkan masalah kemudian mengklasifikasian
masalah tersebut lalu membahasnya dengan beberapa dalil maka tidak ada
satupun masalah yang tidak dibahas.kemudian mengemukakan kaidah-
kaidah dengan menarik kesimpulan dari masalah tersebut. Sesungguhnya
Imam Fakhr al-Razi dalam menulis kitabnya dengan syarat ilmu hikmah

8
Asy- Syurbasyi, Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran al-Karim, Terj.
Zufran Rahman, Kalam Mulia, Jakarta, 1999, Cet. I, h. 215-216
10

dan ilmu filsafat, mengupas satu persatu masalah sampai timbul
kekaguman orang yang membacanya.
9

Tentang bacaan, Fakhr al-Razi mengemukakan bacaan yang
berbeda-beda dengan makna yang berbeda pula. Dan kadang-kadang
Imam Fakhr al-Razi mengemukakan beberapa ayat sesuai dengan beberapa
bacaannya terkadang juga menyelesaikan perbedaan bacaan dengan
mengemukakan ahli nahwu.
Terhadap hadits, Fakhr al-Razi sangat sedikit meggunakannya
sebagai pedoman dalam menafsirkan sampai diskusi masalah fiqh, beliau
hanya menggunakan pendapat-pendapat ahli fiqih.
Syair banyak digunakan untuk memecahkan masalah bahasa,
balaghoh dan kesesuaian bacaan, ini menunjukkan bahwa Fakhr al-Razi
sangat pandai dalam masalah bahasa Arab.
Asbab al-Nuzul banyak dikemukakan oleh Fakhr al-Razi dalam kitab
tafsirnya, baik itu Asbab al-Nuzul yang bersanad maupun tidak, namun
kebanyakan beliau menggunakan Asbab al-Nuzul yang sanad kepada
sahabat atau tabiin.
Dalam menjelaskan munasabah antara satu ayat dengan ayat yang
lain dan antara satu surat dengan surat yang lain sangat berbeda dengan
ahli tafsir yang lain Fakhr al-Razi tidak cukup menyebutkan satu
kesesuaian, tetapi disebut beberapa korelasi bahkan lebih banyak.
10

Fakhr al-Razi dalam kitab tafsirnya banyak membahas ilmu-ilmu
yang baru berkembang pada saat itu seperti ilmu eksakta, fisika, falaq,
filsafat dan kajian-kajian masalah-masalah ketuhanan menurut metode dan
argumentasi para filosof yang rasional.
11
Imam Ibnu Athiyah berkata;

9
Imam Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir al Kabir, Juz I, Dar al Fikhr, Beirut, 1990, h. 8-9
10
Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Op. Cit., h. 294
11
Manna Kholil Al Qotton, Study Ilmu Al-Quran, Terj. Mudzakir. AS, Litera Antar
Nusa, Jakarta, 1992, h. 567.
11

Dalam kitab Imam Fakhr al-Razi, segalanya ada, kecuali tafsir itu
sendiri. Namun sesungguhnya sekalipun Imam Fakhr al-Razi banyak
berbicara tentang masalah-masalah ilmu kalam dan tinjauan-tinjauan
terhadap alam semesta, beliau telah berbicara tentang tafsir al-Quran.
12

Dalam madhzab aliran, Imam Nashir al-Razi, menentang keras
madhzab Mutazilah dan membantahnya dengan segala kemampuannya.
Sebab itu beliau tidak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk
menghadapkan bantahan terhadap madzab MuTazilah itu. Beliau
bentangkan pendapat-pendapat tersebut dan beliau menyoroti madzab fiqh
dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, dengan segala kemampuan beliau ,
dengan tujuan menguatkan madzab SyafiI karena beliau memegang
madzab Syafii karena beliau memegang madzab Syafii.
Dilihat dari situ, maka corak yang digunakan Fakhr al-Razi adalah
tafsir bir-rayi (penjelasan al-Quran dengan jalan ijtihad) yaitu
memasukkan-pendapat ulama lain.
4. Keistimewaan Tafsir Mafatih al-Ghaib
Dari sekian banyak ulama yang meneliti tentang tafsirnya Al-Razi,
maka ditemukanlah beberapa keistimewaan yang terdapat dalam tafsirnya
antara lain:
a. Dia sangat mengutamakan tantang munasabah (korelasi) surat dan
ayat dengan keilmuan yang berkembang. Bahkan tak jarang ia
menyebutkan lebih dari satu muna>sabah untuk satu ayat tertentu atau
surat tertentu.
b. Dia bisa menghubungkan tafsir itu dengan ilmu riyad}iyah
(matematika) dan falsafah, serta ilmu-ilmu lain yang dianggap baru di
kalangan agama pada masanya.

12
Dr. Mahmud Basuni, Tafsir-Tafsir al-Quran, Pustaka, Bandung, 1987, h. 80.
12

c. Dia bisa menjelaskan tentang akidah yang yang berbeda dan bisa
mencocokkan di mana perbedaan itu.
d. Dia mengemukakan tentang balaghah al-Qu'an dan menjelaskan
beberapa kaidah usul.
5. Kritik terhadap Tafsir Mafatih al-Ghaib
Kitab ini juga tidak luput dari kritik para ulama dari zaman dulu
sampai sekarang. Beberapa kritik tersebut antara lain Rasyid Ridha dalam
tafsir al-Mannar banyak melontarkan kritikan terhadap cara penafsiran
ayat al-Quran yang dilakukan Fakhruddin, diantaranya Fakhruddin al-
Razi adalah seorang ahli tafsir yang sangat sedikit pengetahuannya tentang
sunnah, pendapat para sahabat, tabiin dan pendapat tokoh-tokoh salaf.
Akan tetapi penulis kurang setuju dengan pendapat ini karena sedikitnya
sunnah Rasulullah SAW atau pendapat sahabat yang dipakai al-Razi bukan
karena sedikit pengetahuannya, akan tetapi karena luasnya rayu yang dia
gunakan sehingga ada kesan sunnah yang digunakan hanya sedikit sekali.
Diantara beberapa kritikan yang menghujat metode yang dilakukan
oleh al-Razi ini sebenarnya telah diketahui oleh al-Razi sendiri ketika
masih hidup. Bahkan ia pernah mengatakan, Kalau engkau menghayati
kandungan yang ada dalam al-Quran secara cermat dan benar, maka
engkau nanti akan yakin bahwa pendapat yang menghujat metode yang
saya lakukan adalah pendapat yang salah. Menurut Fakhruddin al-Razi,
metode yang ia lakukan itu lebih baik daripada menafsirkan al-Quran
dengan hanya berkutat pada pembahasan gramatika dan sastra suatu ayat.

D. Penutup
1. Kesimpulan
Dari paparan di atas, penulis mengambil kesimpulan, antara lain:
a. Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husein Ibn al-Hasan Ibn al-
Tammy al-Bikri al-Tibristani al-Razi, merupakan sosok reformis
13

pemikiran Islam pada abad 6 Hijriah. Banyak karya intelektual yang
telah beliau hasilkan, diantaranya yang termasyhur adalah kitab tafsir
Mafatih al-Ghaib.
b. Tafsir Mafatih al- Ghaib merupakan karya Fakhruddin al-Razi yang
paling besar yang terdiri dari 17 jilid. Menurut Cyril Classe, penamaan
tafsir tersebut di ilhami oleh sebuah ayat dalam al-Quran dalam surat
al-Anam ayat 59. Al-Razi telah menyelesaikan tafsirnya sampai
dengan surat al-Anbiya, selanjutnya Syihabuddin al-Khaubi
menyempurnakan kekurangan tersebut, namun ia tidak menyelesaikan
dengan tuntas dan sesudah itu tampil lagi Najmuddin al-Qamuli
menyelesaikan sisanya, tetapi dapat dikatakan bahwa al-Khaubi telah
menyelesaikannya sampai selesai dan al-Qamuli menulis
penyempurnaan lain, bukan yang telah ditulis oleh al-Khaubi. Inilah
pendapat yang jelas dalam kitab Kasyfu al-Zunun. Sekalipun al-Razi
tidak menyelesaikan penulisan tafsirnya sampai tuntas, namun nuansa
pemikiran al-Razi terlihat mendominasi dalam kitab tersebut. Sehingga
seolah-olah para pembaca akan menyangka bahwa kitab tafsir Mafatih
al-Ghaib adalah murni karya al-Razi.
c. Corak yang digunakan Fakhr al-Razi adalah dalam Mafatih al-Ghaib
adalah tafsir bir-rayi (penjelasan al-Quran dengan jalan ijtihad) yaitu
memasukkan-pendapat ulama lain.
2. Kata Penutup
Demikianlah makalah yang dapat penulis presentasikan di hadapan
para pembaca sekalian. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi khasanah keilmuan kita semua. Amin
14

DAFTAR PUSTAKA

Ali Hasan al-'Aridl, Sejarah Dan Metodologi Tafsir, Terj. Ahmad Akrom, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 1994.
Ali Muhammad al-Umari, al-Imam Fakhr al-Din al-Razi; Hayatuhu Wa Asaruhu,
Uni Emirat Arab; al-Majlis al-A'la Li al-Syiun al-Islamiyah, Cet.
III,1969.
Asy- Syurbasyi, Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran al-Karim,
Terj. Zufran Rahman, Kalam Mulia, Jakarta, 1999.
Cyril Classe, Ensiklopedi Islam (Ringkas), Terj. Ghufron A. Masadi, Raja
Grafindo Persada, 1996.
Dr. Mahmud Basuni, Tafsir-Tafsir al-Quran, Pustaka, Bandung, 1987.
Imam Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir al Kabir, Juz I, Dar al Fikhr, Beirut, 1990.
Manna Kholil Al Qotton, Study Ilmu Al-Quran, Terj. Mudzakir. AS, Litera Antar
Nusa, Jakarta, 1992.
Muhammad Husein al-Zahabi, Tafsir Wa al-Mufasrrun, Juz I, Daar al-Kitab,
Beirut, Libanon, Cet. II, 1976.
Team Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve,
Jakarta, 1993.