Anda di halaman 1dari 17

Tumbuh dan Kembang pada Anak

1


Tumbuh dan Kembang pada Anak

Kelompok E1 - NIM : 102012289
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna utara nomor 6, Jakarta Barat
E-mail : andrew_juanda@hotmail.com

Pendahuluan
Pediatri berkenaan dengan kesehatan bayi, anak, dan remaja, pertumbuhan dan
perkembangan, dan kesempatannya untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa.
Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh oleh berbagai faktor seperti imunisasi,
pemberian makanan, dan pola asuh. Pemberian imunisasi dasar merupakan imunisasi yang
wajib dilakukan. Pemberian makan yang baik harus memerlukan kerja sama antara ibu dan
anak. Hal ini sangat membantu kesehatan emosional bayi dan anak. Apabila faktor-faktor
tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangan anak akan terganggu. Untuk
mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dilakukan pemeriksaan denver II
dan pemeriksaan antropometri. Karena itu pada kesempatan kali ini, penulis membuat
makalah ini dengan tujuan membahas mengenai anamnesis (riwayat kehamilan, persalinan,
perkembangan, dan penyakit keluarga), pemeriksaan fisik pada anak (pemeriksaan denver,
pemeriksaan antropometri, dan pemeriksaan umum), dan penatalaksanaan (medika mentosa
dan non medika mentosa).
Pembahasan
I. Anamnesis
Dalam praktik ilmu kesehetan anak, tidak mungkin membuat diagnosis atau perencanaan
program perawatan yang memadai tanpa data mengenai anak, umur, ukuran tubuh,
kemampuan, dan kepribadiannya. Lebih lanjut, seorang anak adalah bagian dari sebuah
Andrew Logan
Tumbuh dan Kembang pada Anak
2

keluarga. Maka untuk memahami anak, kita harus tahu tentang keluarganya, orang tuanya,
gaya hidupnya, kehidupan keluarganya, kemampuan keluarga memelihara anak, terutama
hubungan keluarga dengan pasien kita serta sikap keluarga terhadap penyakitnya.
1
Setiap dokter mengembangkan caranya sendiri dalam mengumpulkan informasi. Kita
sebaiknya memulai anamnesis dengan menanyakan keluhan utama pasien. Jika terdapat
banyak masalah, maka kita perlu menyusun suatu daftar masalah singkat yang dapat
mempermudah kita. Kemudian kita harus mengembangkan dan menetapkan setiap masalah,
serta menanyakan masalah-masalah yang berhubungan. Penyelidikan yang obsesif mengenai
seluruh fungsi tubuh biasanya tidak selalu diperlukan karena hal tersebut membuang waktu
dan dapat mengganggu jalannya anamnesis. Namun, informasi tertentu tentang latar belakang
penyakit merupakan hal yang penting pada sebagian besar malasah kesehatan dan juga pada
setiap anak yang dirawat di rumah sakit. Pertama, kita harus menanyakan informasi tentang
kehidupan anak. Apakah kehamilan, persalinan dan kelahirannya normal? Berapa berat
lahirnya? Bagaimana keadaan anak pada hari-hari pertama kehidupannya? Mungkin kita juga
perlu menayakan apakah anak mendapat ASI atau susu formula dan kapan anak itu disapih.
Apakah anak pernah mengalami infeksi yang sering ditemukan pada masa kanak-kanak?
Apakah sudah diimunisasi? Apakah pernah dirawat di rumah sakit? Bila pernah, kapan, di
mana, dan untuk apa?
1
I.A Riwayat Penyakit Sekarang

Mulailah dari sini karena inilah yang ingin mereka sampaikan pada anda. Biarkan mereka
menceritakan dengan caranya sendiri; kemudian berikan pertanyaan spesifik untuk
mendapatkan detail yang penting. Interupsi yang terlalu sering atau mendapat kronologis
cerita akan menghalangi pembicaraan yang terbuka. Untuk mengukur tingkat keparahan, cari
tahu bagaimana penyakitnya mempengaruhi kehidupan anak. Apakah akut atau tidak.
Tanyakan tentang pola makan, tidur dan aktivitasnya. Jika tidak terjadi perubahan kebiasaan,
kecil kemungkinan adanya penyakit yang serius. Penurunan selera makan atau aktivitas, atau
meningkatnya kebutuhan tidur menandakan penyakit yang serius.
2

Tanyakan pendapat orang tua sendiri tentang apa yang menjadi masalah pada anaknya.
Sesekali hal tersebut akan memungkinkan anda untu meredakan kegelisahan orang tua yang
berlebihan; kadangkala hal itu juga akan membawa pada diagnosis tepat yang mungkin
sebelumnya belum terpikirkan. Dibandingkan orang lain, ibu lebih baik dalam memahami
Tumbuh dan Kembang pada Anak
3

tangisan bayinya, dan riset menunjukkan bahwa bayi dapat berbicara. Mereka memiliki
tangisan yang berbeda untuk lapar, sakit, dan lain-lain. Ibu biasanya akan memahami jika
tangisan bayi tersebut tidak biasa dan seringkali mengetahui sebabnya.
2

I.B Riwayat Penyakit Dulu
Berikut adalah yang ditanyakan mengenai riwayat penyakit dulu:
2
Kesakitan, operasi, atau perawatan rumah sakit
Alergi atau sentiitas pada obat
Riwat Imunisasi: mungkin dapat menolong untuk menyingkirkan suatu kondisi yang
mencurigakan, dan hal itu menunjukkan perlunya memberikan imunisasi lebih lanjut
kepada keluarga tersebut.
Tanyakan pada orang tua tentang catatan kesehatan pada anak mereka (pujilah mereka
jika mereka membawa dan memilikinya). Catatan mencakup berat badan sebelum
imunisasi dan berbagai peristiwa kesehatan yang pernah dialami.
I.C Riwayat Keluarga

Berikut adalah yang ditanyakan mengenai riwayat keluarga:
2

Usia saudara kandung dan orang tua
Apakah ada anggota keluarga lain yang pernag, atau sedang, mengalami kondisi yang
sama dengan anak tersebut; apakah anak itu mendapatkan infeksi yang sama, apakah
anak mewarisi sifat yang sama dalam keluarga.
Apa saja penyakit yang pernah diderita oleh orang tua atau saudara dekat, dengan
tujuan untuk menenangkan kekhawatiran yang berlebihan. Orang tua mungkin cemas
bahwa sakit perut anaknya disebabkan kanker, karena ada kerabat yang baru saja
meninggal karena kanker.
Pertanyaan yang berkaitan dengan famili atau kekerabatan pda adat tertentu. Hal ini
penting, karena penyakit genetik yang langka menjadi lebih besar kemungkinannya
jika kedua orang tua memiliki hubungan kekerabatan.
I.D Riwayat Perinatal
Berikut adalah yang ditanyakan mengenai riwayat perinatal :
2
Tumbuh dan Kembang pada Anak
4

Riwayat kehamilan
Usia kehamilan (normalnya 38 minggu setelah konsepsi)
Sakit yang pernah diderita pada masa kehamilan
Riwayat persalinan
Tempat kelahiran (rumah sakit/rumah)
Presentasi (kepala/sungsang)
Jenis (spontan, forseps, bedah sesar)
Periode neonatal
Abnormalitas
Kesakitan
Kebutuhan perawatan khusus/gawat darurat/intensif
Hari dipulangkan dari rumah sakit
I.E Riwayat Perkembangan

Hal ini hampir merupakan ciri khas pediatrika, khususnya bagian anak yang masih kecil atau
cacat. Hal ini melibatkan detail tentang saat anak mulai memiliki kemampuan seperti berjalan
atau berbicara.
2

I.F Riwayat Sosial

Sesudah membina hubungan dengan orang tua, berbicaralah dengan mereka tentang
kehidupan mereka, rumah merekam pekerjaan mereka pekerjaan si ayah (digunakan sebagai
petunjuk keadaan keuangan), dan teliti lebih lanjut bagaimana pekerjaan si ayah, apakah
pekerjaannya bisa dikerjakan di rumah atau menuntut si ayah bekerja jauh dari rumah dalam
jangka waktu lama. Apakah si ibu bekerja di luar rumah, jika ya, siapa yang menjaga
anaknya? Tapi bila ia seorang ibu rumah tangga apakah pekerjaan si ibu sebelumnya? Bila ia
seorang perawat misalnya, tentunya ia memilki tingkat pengetahuan yang berbeda dan
membutuhkan informasi yang berbeda pula. Ada 3 faktor yang harus diteliti, karena
pengaruhnya yang langsung terhadap perkembangan anak:
2
Komposisi keluarga: apakah ayah dan ibu tinggal bersama? Jika ya, harmonis atau
tidak? Apakah keluarga tersebut hanya punya orang tua tunggal?
Kondisi keuangan: apakha keuangan keluarga sudah mandiri atau masih
mengandalkan bantuan pihak lain?
Tumbuh dan Kembang pada Anak
5

Perumahan: apakah mereka punya rumah sendiri? Jika ya, seperti apa wujudnya?
Apakah mereka tinggal degan kerabat atau di tempat sewaan? Perumahan yang bai
seharusnya ada pasokan air hangat dan sanitasi ruangan yang bagus, serta dalam satu
kamar tidak lebih dari 1,5 orang.
II. Pemeriksaan
II.A Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik pada anak dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan, tetapi mungkin
memerlukan permainan-permainan yang tidak ingin anda lakukan sehingga terkadang hal ini
dapat menimbulkan rasa frustasi yang hebat. Anak, bahkan bayi yang sangat kecil, akan
berusaha menduga maksud anda dengan melihat pada mata anda. Orang-orang dengan mata
yang ramah terkesan tidak memiliki maksud untuk menyakiti. Orang tua mungkin lebih
tegang terhadap apa yang akan anda lakukan daripada anak itu sendiri, sehingga penerangan
kepada mereka juga diperlukan. Orang tua perlu diyakinkan agar dapat menolong anda dalam
melakukan pemeriksaa dengan memegang atau mengalihkan perhatian anak, kecuali anak
tersebut telah mendekati usia pubertas yang kebebasannya perlu dihargai.
1
Anak-anak memang harus ditangani dengan perhatian dan kepekaan yang tinggi. Oleh karena
itu, kita sebaiknya melakukan observasi saat anak masih berpakaian dan belum merasa
terganggu. Palpasi dan auskultasi mudah dilakukan tanpa melepaskan pakaian. Anda dapat
meperoleh banyak informasi dari penanganan yang anda lakukan.
1

Walaupun pengumpulan informasi mungkin tidak runtun, pencatatan tidak boleh demikian.
Pada berbagai keadaan, pencatatan aspek-aspek ukuran tubuh anak merupakan hal yang
penting dilakukan. Berat dan tinggi atau panjang badan harus diukur secara tepat. Lingkar
kepala dan kadang-kadang tebal lipatan kulit mungkin juga perlu diukur pada keadaan
tertentu. Data-data tersebut dicatat pada buku dan pada grafik yang sesuai.
Kesadaran dan perilaku umum anak secara umum dicatat untuk evaluasi kemajuan seorang
anak.
1

Selanjutnya, anda harus melakukan observasi yang cermat. Dengan menggunakan istilah
umum, apakah penampilannya secara keseluruhan di luar kebiasaan? Jika demikian,
mengapa, dan lain-lain.
1

Kemudian perlu dilakukan penilaian spesifik terhadap ukuran tubuhnya secara keseluruhan,
proporsi tubuhnya, dan status gizinya. Sifat dan distribusi setiap ruam dan kelainan kulit yang
Tumbuh dan Kembang pada Anak
6

ada harus dicatat. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan pada sistem organ yang menjadi
sumber keluhannya.
1

Sebaiknya perkusi atau auskultasi tidak dilakukan sebelum anda selesai memeriksa frekuensi
napas, pergerakan diafragma dan dinding dada pada pernapasan normal, serta pengaruh usaha
napas yang lebih kuat yang ditunjukkan pada anak besar sesuai perintah atau pada anak kecil
yang sedang menangis. Pemeriksaan sistem kardiovaskuler dimulai dengan pencatatan
frekuensi, irama, kekuatan dan jenis nadi perifer. Palpasi dan perkusi dinding dada anterior
dilakukan untuk menentukan ukuran jantung, lokasi dan karakteristik denyut apeks dan untuk
mendeteksi adanya thrill.
1

Lakukan observasi abdomen sebelum anda melakukan palpasi pada abdomen. Carilah adanya
pembengkakan atau gerakan. Lalu anda dapat menyakan apakah ada nyeri tekan. Setelah
palpasi pada keempat kuadran abdomen, tentukanlah secara sitematis letak dan ukuran hati,
limpa, ginjal, dan kandung kemih.
1

Pemeriksaan lokomotorik dan sistem saraf lebih bersifat observasi daripada manipulasi.
Lakukanlah palpasi fontanel anterior pada bayi. Fontanel biasanya menutup pada pertengahan
tahun kedua. Perhatkan apakah fontanel berdenyut seperti biasanya. Anda dapat menghitung
frekuensi denyut jantung berdasarkan frekuensi denyut fontanel.
1

Terakhir yaitu melakukan pemeriksaan dengan cahaya. Periksalah mata, kemudian gendang
telinga dan terakhir tenggorokan. Jangan memaksakan sesuatu pada anak. Sebelum selesai,
anda perlu memeriksa tekanan darah jika anda menduga adanya penyakit ginjal atau jantung.
1

Pemeriksaan fisik umum telah selesai. Selama itu, anda mungkin telah melakukan observasi
atau pemeriksaan spesifik, misalnya memeriksa testis di skrotum, adanya denyut femoralis,
pergerakan sendi panggul, sifat benjolan yang tidak lazim, adanya tanda pubertas dan lain-
lain.
1

II.B Pemeriksaan Antropometri
Pengukuran antropometri adalah pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui ukuran-
ukuran fisik seorang anak dengan menggunakan alat ukur tertentu, seperti timbangan dan pita
pengukur (meteran).
3,4


Tumbuh dan Kembang pada Anak
7

Ukuran antropometri dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
3,4

1. Tergantung umur, yaitu hasil pengukuran dibanding dengan umur. Misalnya, BB
terhadap usia atau TB terhadap usia. Dengan demikian, dapat diketahui apakah
ukuran yang dimaksud tersebut tergolong normal untuk anak seusianya.
2. Tidak tergantung umur, yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan pengukuran
lainnya tanpa memperhatikan berapa umur anak yang diukur.
Dari beberapa ukuran antropometri, yang paling sering digunakan untuk menentukkan
keadaan pertumbuhan pada masa balita adalah berat badan, tinggi badan, lingkar kepala,
lingkar lengan atas, dan lingkar dada.

II.B.1 Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang terpenting karena dipakai untuk
memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur.
3,4
Pada usia beberapa hari, berat badan akan mengalami penurunan yang sifatnya normal, yaitu
sekitar 10% dari berat badan lahir. Hal ini disebabkan karena keluarnya mekonium dan air
seni yang belum diimbangi asupan yang mencukupi misalnya produksi ASI yang belum
lancar. Umumnya berat badan akan kembali mencapai berat badan lahir pada hari
kesepuluh.
3,4

Pada bayi sehat, kenaikkan berat badan normal pada triwulan I adalah sekitar 700 1000
gram/bulan, pada triwulan II sekitar 500 600 gram/bulan, pada triwulan III sekitar 350
450 gram/bulan dan pada triwulan IV sekitar 250 350 gram/bulan.
3,4

Dari perkiraan tersebut, dapat diketahui bahwa pada usia 6 bulan pertama berat badan akan
bertambah sekitar 1 kg/bulan, sementara pada 6 bulan berikutnya hanya + 0,5 kg/bulan. Pada
tahun kedua, kenaikannya adalah + 0,25 kg/bulan. Setelah 2 tahun, kenaikkan berat badan
tidak tentu, yaitu sekitar 2,3 kg/tahun. Pada tahap adolesensia (remaja) akan terjadi
pertambahan berat badan secara cepat ( growth spurt).
3,4




Tumbuh dan Kembang pada Anak
8

Selain perkiraan tersebut, berat badan juga dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus
atau pedoman dari Behrman (1992), yaitu :
3,4
1. Berat badan lahir rata-rata : 3,25 kg
2. Berat badan usia 3 12 bulan, menggunakan rumus :
Umur (bulan) + 9 = n + 9
3. Berat badan usia 1 6 tahun, menggunakan rumus :
( Umur(tahun) X 2) + 8 = 2n + 8
Keterangan : n adalah usia anak
4. Berat badan usia 6 12 tahun , menggunakan rumus :
Umur (tahun) X 7 5
Cara pengukuran berat badan anak adalah :
3,4
1. Lepas pakaian yang tebal pada bayi dan anak saat pengukuran. Apabila perlu, cukup
pakaian dalam saja.
2. Tidurkan bayi pada meja timbangan. Apabila menggunakan timbangan dacin,
masukkan anak dalam gendongan, lalu kaitkan gendongan ke timbangan. Sedangkan
apabila dengan berdiri, ajak anak untuk berdiri diatas timbangan injak tanpa
dipegangi.
3. Ketika minmbang berat badan bayi, tempatkan tangan petugas diatas tubuh bayi (tidak
menempel) untuk mencegah bayi jatuh saat ditimbang.
4. Apabila anak tidak mau ditimbang, ibu disarankan untuk menimbang berat badannya
lebih dulu, kemudian anak digendong oleh ibu dan ditimbang. Selisih antara berat
badan ibu bersama anak dan berat badan ibu sendiri menjadi berat badan anak. Untuk
lebih jelasnya, dapat dilihat rumus berikut :
BB anak = (Berat badan ibu dan anak) BB ibu
5. Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan.
6. Selanjutnya, tentukan posisi berat badan anak sesuai dengan standar yang berlaku,
yaitu apakah status gizi anak normal, kurang atau buruk. Untuk menentukan berat
badan ini juga dapat dilakukan dengan melihat pada kurva KMS, apakah berada berat
badan anak berada pada kurva berwarna hijau, kuning atau merah.


Tumbuh dan Kembang pada Anak
9

II.B.2 Tinggi Badan
Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun sering disebut dengan panjang badan. Pada bayi
baru lahir, panjang badan rata-rata adalah sebesar + 50 cm. Pada tahun pertama,
pertambahannya adalah 1,25 cm/bulan ( 1,5 X panjang badan lahir). Penambahan tersebut
akan berangsur-angsur berkurang sampai usia 9 tahun, yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru
pada masa pubertas ada peningkatan pertumbuhan tinggi badan yang cukup pesat, yaitu 5
25 cm/tahun pada wanita, sedangkan pada laki-laki peningkatannya sekitar 10 30 cm/tahun.
Pertambahan tinggi badan akan berhenti pada usia 18 20 tahun.
3,4
Seperti halnya berat badan, tinggi badan juga dapat diperkirakan berdasarkan rumus dari
Behram (1992), yaitu :
3,4
a. Perkiraan panjang lahir : 50 cm
b. Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 Panjang Badan Lahir
c. Perkiraan panjang badan usia 4 tahun = 2 x panjang badan lahir
d. Perkiraan panjang badan usia 6 tahun = 1,5 x panjang badan usia 1 tahun
e. Usia 13 tahun = 3 x panjang badan lahir
f. Dewasa = 3,5 x panjang badan lahir atau 2 x panjang badan 2 tahun
Atau dapat digunakan rumus Behrman (1992):
3,4
a. Lahir : 50 cm
b. Umur 1 tahun : 75 cm
c. 2 12 tahun ; umur (tahun) x 6 + 77
Cara pengukuran tinggi badan anak adalah :
3,4
a. Usia kurang dari 2 tahun :
1. Siapkan papan atau meja pengukur. Apabila tidak ada, dapat digunakan pita
pengukur (meteran)
2. Baringkan anak telentang tanpa bantal (supinasi), luruskan lutut sampai
menempel pada meja (posisi ekstensi)
3. Luruskan bagian puncak kepala dan bagian bawah kaki (telapak kaki tegak
lurus dengan meja pengukur) lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.
4. Apabila tidak ada papan pengukur, hal ini dapat dilakukan dengan cara
memberi tanda pada tempat tidur (tempat tidur harus rata/datar) berupa garis
Tumbuh dan Kembang pada Anak
10

atau titik pada bagian puncak kepala dan bagian tumit kaki bayi. Lalu ukur
jarak antara kedua tanda tersebut dengan pita pengukur.
b. Usia 2 tahun atau lebih :
1. Tinggi badan diukur dengan posisi berdiri tegak, sehingga tumit rapat,
sedangkan bokong, punggung dan bagian belakang kepala berada dalam satu
garis vertikal dan menempel pada alat pengukur.
2. Tentukan bagian atas kepala dan bagian kaki menggunakan sebilah papan
dengan posisi horizontal dengan bagian kaki, lalu ukur sesuai dengan skala
yang tertera
II.B.3 Lingkar kepala
Lingkaran kepala mencerminkan volume intrakranial. Dipakai untuk menaksir pertumbuhan
otak. Laju tumbuh pesat pada enam bulan pertama bayi, dari 35 cm saat lahir menjadi 43 cm
pada 6 bulan. Laju tumbuh kemudian berkurang, hanya 46,5 cm pada usia 1 tahun dan 49 cm
pada usia 2 tahun. Selanjutnya berkurang menjadi drastis hanya bertambah 1 cm sampai usia
3 tahun dan bertambah lagi kira-kira 5 cm sampai usia remaja/dewasa. Oleh karena itu
manfaat pengukuran lingkaran kepala hanya terbatas sampai usia 3 tahun, kecuali bila
diperlukan seperti pada kasus hydrocephalus.
5
Adapun cara pengukuran lingkar kepala adalah :
3,4
a. Siapkan pita pengukur (meteran)
b. Lingkarkan pita pengukur pada daerah glabella (frontalis) atau supra orbita bagian
anterior menuju oksiput pada bagian posterior. Kemudian tentukan hasilnya
c. Cantumkan hasil pengukuran pada kurva lingkar kepala
II.B.4 Lingkar Lengan Atas
Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir, lingkar lengan atas sekitar 11
cm dan pada tahun pertama, lingkar lengan atas menjadi 16 cm. Selanjutnya ukuran tersebut
tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.
3,4
Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan otot yang tidak
berpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk menilai keadaan gizi dan
pertumbuhan anak prasekolah.
3,4

Tumbuh dan Kembang pada Anak
11

Cara pengukuran lingkar lengan atas sebagai berikut :
3,4
a. Tentukan lokasi lengan yang diukur. Pengukuran dilakukan pada lengan bagian kiri,
yaitu pertengahan pangkal lengan dan siku. Pemilihan lengan kiri tersebut dengan
pertimbangan bahwa aktivitas lengan kiri lebih pasif dibandingkan dengan lengan
kanan sehingga ukurannya lebih stabil.
b. Lingkarkan alar pengukur pada lengan bagian atas seperti pada gambar ( dapat
digunakan pita pengukur). Hindari penekanan pada lengan yang diukur saat
pengukuran.
c. Tentukan besar lingkar lengan sesuai dengan angka yang tertera pada pita pengukur
d. Catat hasil pada KMS
II.B.5 Lingkar Dada
Sebagaimana lingkar lengan atas, pengukuran lingkar dada jarang dilakukan. Pengukurannya
dilakukan pada saat bernapas biasa (mid respirasi) pada tulang Xifoidius (insicura
substernalis). Pengukuran lingkar dada ini dilakukan dengan posisi berdiri pada anak yang
lebih besar, sedangkan pada bayi dengan posisi berbaring.
3,4

Cara pengukuran lingkar dada adalah :
3,4
a. Siapkan pita pengukur
b. Lingkarkan pita pengukur pada daerah dada
c. Catat hasil pengukuran pada KMS
II.C Pemeriksaan Denver
Uji skrining yang paling sering digunakan adalah development denver screening test (DDST).
DDST memberikan penilaian empat domain perkembangan pribadi-sosial, penyesuaian
motorik halus, bahasa dan motorik kasar sejak lahir sampai umur 6 tahun. Uji ini dilakukan
dalam waktu 20-30 menit tanpa pelatihan yang luas dan peralatan yang mahal.
4,6

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, DDST secara efektif dapat
menidentifikasikan antara 85-100 % bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami
keterlambatan perkembangan dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari kelompok
DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.
4,6
DDST telah dikritik karena kurang mengidentifikasi anak dengan ketidakmampuan
perkembangan anak khususnya masalah bahasa. Uji ini bukan untuk meramalkan akan tetapi
Tumbuh dan Kembang pada Anak
12

untuk mendeteksi kemampuan anak di bawah normal dengan umur sebayanya. Selain itu
DDST bukan pula tes diagnostik atau tes IQ.2 Uji ini kemudian diterbitkan kembali sebagai
DDST-II dengan seksi bahasa yang sangat dipetluas. DDST-II dilaporkan mempunyai
sensitivitas yang lebih besar terutama untuk keterlambatan bahasa.
4,6
Tes Denver II dapat dipakai untuk berbagai tujuan sebagai berikut.
7
1. Menilai tingkat perkembangan anak sesuai usianya;
2. Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat;
3. Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan gejala, kemungkinan
adanya kelainan perkembangan;
4. Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan;
5. Memantau anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.

Tes Denver II terdiri atas 125 item tugas perkembangan yang sesuai dengan usia anak, mulai
dari usia 0-6 tahun. Item-item tersebut tersusun dalam formulir khusus dan terbagi menjadi 4
sektor sebagai berikut.
7,8
1. Personal Social, yaitu penyesuaian diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi;
2. Fine Motor Adaptive, yaitu koordinasi mata-tangan, kemampuan memainkan dan
menggunakan benda-benda kecil, serta pemecehan masalah;
3. Language, yaitu mendengar, mengerti, dan menggunakan bahasa;
4. Gross motor, yaitu duduk, berjalan, dan melakukan gerakan umum otot besar lainnya.

Setelah menyelesaikan Tes Denver II kita perlu melakukan tes perilaku untuk membantu
pemeriksa menilai seluruh perilaku anak secara subjektif, dan memperoleh taksiran kasar
bagaimana seorang anak menggunakan kemampuannya. Ada pun alat-alat pokok yang
digunakan dalam Tes Denver II adalah sebagai berikut.
7
Alat peraga: benang wol merah, icik-icik dengan gagang kecil, boneka kecil dengan
botol susu, cangkir kecil dengan pegangan, kismis (sekarang diganti manik-manik),
botol kecil berwarna kuning dengan tutup berdiameter 8 cm, kubus warna merah-
kuning-hijau-biru (rusuk 2,5 cm dan masing-masing 2 buah), lonceng kecil, bola
tenis.
Lembar formulir DDST II yang dapat dilihat pada gambar 1.
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara
penilaiannya.
Tumbuh dan Kembang pada Anak
13


Gambar 1. Formulir Tes Denver.
9
Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: normal, abnormal, meragukan dan
tidak dapat dites. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
7
1. Abnormal
a. Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
b. Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1
sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut
tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .
2. Meragukan
a. Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
Tumbuh dan Kembang pada Anak
14

b. Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang
sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal
usia.
3. Tidak dapat dites
a. Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau
meragukan.
4. Normal
a. Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.

Pada setiap item, kita perlu mencantumkan skor di area kotak berwarna putih (dekat tanda
50%), dengan ketentuan sebagai berikut.
7
1. L = Lulus / Lewat (P = Pass). Anak dapat melakukan item dengan baik atau orang tua
/ pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak dapat menyelesaikan item
tersebut (item yang bertanda L);
2. G = Gagal (F = Fail). Anak tidak dapat melakukan item dengan baik atau orang tua /
pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak tidak dapat melakukan item
tersebut (item yang bertanda L);
3. M = Menolak (R = Refusal). Anak menolak untuk melakukan tes untuk item tersebut.
Penolakan dapat dikurangi dengan mengatakan kepada anak apa yang harus
dilakukannya (khusus item tanpa tanda L);
4. Tak = Tak ada kesempatan (No = No Opportunity). Anak tidak mempunyai
kesempata n untuk melakukan item karena ada hambatan (khusus item yang bertanda
L).

Sebelum melakukan tes ini, kita harus mengetahui usia anak terlebih dahulu. Untuk usia
anak, kita dapat mengikuti langkah-langkah berikut.
8
1. Tulis tanggal, bulan, dan tahun diadakannya tes;
2. Kurangi tanggal pemeriksaan dengan tanggal lahir anak dengan cara bersusun;
3. Jika jumlah hari yang dikurangi lebih besar, ambil jumlah hari yang sesuai dari angka
bulan di depannya;
4. Hasilnya adalah usia anak dalam tahun, bulan, dan hari;
5. Ubah usia anak ke dalam satuan bila perlu
Tumbuh dan Kembang pada Anak
15

6. Jika pada saat pemeriksaan usia anak lahir prematur di bawah 2 tahun, anak lahir 2
minggu atau lebih cepat, lakukan penyesuaian prematuritas dengan cara mengurangi
umur anak dengan jumlah minggu tersebut.

Ada pun interpretasi dari nilai Denver II sebagai berikut.
2
Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada
kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)
OK
Lulus, Gagal, atau menolak item yang dipotong garis usia antara persentil ke-25 dan
ke-75, karena item di sebelah kanan garis usia adalah tugas untuk anak yang lebih tua.
Caution
Gagal atau menolak item yang dipotong garis usia kronologis di atas atau diantara
persentil ke-75 dan ke-90.
Delay
Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis;
penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan
untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu.

Berikut adalah penilaian keseluruhan tes.
2
Normal : tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
Suspect : satu atau lebih D dan/atau dua atau lebih banyak C atau D
Untestable : interpretasi ini diberikan jika terdapat 1 atau lebih skor Terlambat (1
D) dan/atau 2 atau lebih Peringatan (2 C). Dalam hal ini T atau P harus disebabkan
oleh penolakan (R) dan bukan Gagal (G)

Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable: skrining ulang dilakukan 1 sampai 2
minggu untuk mengesampingkan faktor temporer.






Tumbuh dan Kembang pada Anak
16

III. Diagnosis
Sesuai skenario, bayi perempuan tersebut belum bisa tengkurap padahal usianya sudah 8
bulan, dan itu berarti pada tes Denver dia Gagal (F). Interpretasi untuk item ini adalah Delay
(D). Namun untuk menentukan interpretasi akhir tes harus dilakukan uji item-item lainnya
yang berdekatan dengan garis usia pada aspek Motorik Kasar. Jadi diagnosisnya adalah
perkembangan motorik kasar yang lambat pada bayi.
IV. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan dibagi menjadi dua yaitu medika mentosa lebih mengarah
kepada pemberian obat-obatan, seperti antibiotik, anti piretik, multivitamin, dan lain-lain.
Sedangkan non medika mentosa lebih berhubungan dengan pemberian edukasi atau informasi
lebih lanjut apa yang akan atau harus dilakukan oleh pasien maupun keluarganya selanjutnya,
baik itu pemberian nutrisi yang adekuat ataupun pemberian latihan yang baik pada anak.
V. Prognosis
Prognosis pada skenario ini adalah baik, dimana keterlambatan perkembangan motorik kasar
pada bayi tersebut dapat diatasi dengan pemberian nutrisi yang baik ataupun pelatihan yang
terus diberikan oleh orangtuanya.
Penutup
Bayi berumur 8 bulan yang belum bisa duduk sendiri mengalami perkembangan motorik
kasar yang lambat. Hal ini diketahui dengan tes denver, dimana seharusnya anak berumur 5-7
bulan sudah bisa duduk sendiri. Keterlambatan pada perkembangan motorik kasar ini dapat
diatasi dengan pemberian nutrisi yang adekuat dan latihan pada bayi tersebut. Karena itu
dokter harus memberikan edukasi terhadap orangtua bayi tersebut.
Daftar Pustaka
1. Hull D, Johnston DI. Dasar-dasar pediatri. Jakarta: EGC; 2008. h 1-7.
2. Meadow SR, Newell SJ. Lecture Notes on Pediatrics. 7th ed. Jakarta: Erlangga; 2009
3. Nursalam. Asuhan keperawatan bayi dan anak. Ed 1. Jakarta: Salemba Medika; 2005,
4. Soetjiningsih. Tumbuh kembang pada anak. Jakarta : EGC; 2005
Tumbuh dan Kembang pada Anak
17

5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi ke-1. Jakarta:
Sagung Seto; 2008
6. Stephen SA. Ilmu kesehatan anak Nelson. Dalam: Samik W, penyunting. Pertumbuhan dan
perkembangan. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2013. p.45-85
7. Nugroho HSW. Petunjuk praktis Denver Developmental Screenning Test. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2008. p. 4-8, 16-20
8. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak Nelson. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2004. p. 84.
9. Tecklin JS. Pediatric physical therapy. 4
th
ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2008. p. 74