Anda di halaman 1dari 20

Tinjauan Pustaka

Inkontinensia Urin dan Osteoartritis pada Geriatri



Jennifer
10.2012.023 / D6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: jennifer@civitas.ukrida.ac.id
Tutor : dr. Inggriani Kasim


Pendahuluan

Inkontinensia urin merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia.
Batasan inkontinensia adalah pengeluaran urin (atau feses) tanpa disadari, dalam jumlah dan
frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan atau social. Varisasi dari
inkontinensia urin meliputi kadang-kadang keluar hanya beberapa tetes urin saja sampai benar-
benar banyak. Kebanyakan penderita menganggap inkontinensia urin adalah akibat yang wajar
dari proses usia lanjut, dan tidak ada yang dapat dikerjakan kecuali dengan tindakan pembedahan
dan umumnya orang tidak menyukai tindakan ini.
1

Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urin seperti infeksi saluran kemih,
kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah marah, dan rasa
terisolasi. Secara tidak langsung masalah-masalah tersebut juga bisa menyebabkan dehidrasi
karena umumnya pasien akan mengurangi minum karena khawatir akan mengompol. Dekubitus,
infeksi saluran kemih berulang, jatuh, dan tidak kalah pentingnya adalah biaya perawatan yang
tinggi untuk pembelian popok. Selain itu dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai
osteoarthritis. Untuk itulah, makalah ini dibuat, agar pembaca dapat lebih mengerti dan
memahami penyebabnya, gejalanya, patosiologinya, penatalaksanaanya serta hal-hal lainnnya
yang berkaitan dengan inkontinensia urin.
Anamnesis
Pada anamnesis kita dapat langsung menanyakan pada pasien yang bersangkutan (auto-
anamnesis) maupun keluarga pasien (allo-anamnesis) jika pasien tidak dapat berkomunikasi
dengan baik akibat gangguan yang timbul pada usia lanjut (seperti sering lupa) atau dengan
tujuan memperlengkap data pasien.
Pada anamnesis yang dapat kita tanyakan adalah:
Riwayat penyakit pasien, misalnya memiliki riwayat penyakit diabetes,dll yang dapat
meningkatkan volume urin.
Menanyakan juga bagaimana volume dan frekuensi keluarnya urin.
Menanyakan juga apakah mengkonsumsi obat-obatan golongan tertentu yang dapat
meningkatkan volume urin.
Menanyakan juga apakah pasien merasa ada sisa-sisa urine yang menetes setelah buang
air kecil.
Menanyakan juga apakah disaat pasien melakukan kegiatan yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen seperti tertawa atau batuk tanpa sadar ia berkemih.
Menanyakan juga apakah ada kemungkinan pasien mengalami trauma tulang belakang
sehingga menimbulkan refleks kencing.
Apakah ada rasa nyeri saat berkemih?
Tetap perhatikan umur pasien. Penyakit ini sangat berhubungan dengan kelompok usia yang
sudah lanjut. Penderita usia muda kemungkinan mengalami ini karena trauma benturan. Selain
itu jangan lupakan kemungkinan komplikasi yang terjadi seperti adanya infeksi saluran kemih
dan ulkus dekubitus. Sedangkan pada wanita, inkontinensia dapat terjadi akibat melemahnya otot
dasar panggul karena sering melahirkan. Kemungkinan ini juga perlu dipikirkan saat melakukan
anamnesis.
2

Osteoarthritis
Pada anamnesis yang dapat dipertanyakan adalah:
3
Apa masalah sendi ? Apakah nyeri, kaku, bengkak, deformitas?
Bagian-bagian sendi mana yang terkena ?
Kapan gejala terasa paling berat ? Apakah saat berjalan, saat mengangkat barang berat?
Apa yang memperberat atau meringankan gejala?
Pernakah sendi terasa terkunci atau melonggar ?
Adakah gejala sistemik ? ( seperti ruam, demam, menggigil, atau penurunan berat badan)

Pemeriksaan Fisik
Pada kasus didapati seorang wanita 70 tahun datang dengan keluhan sering tidak dapat
menahan keinginan berkemih sehingga sering miksi di celana terutama saat tertawa hingga
kemudian miksi tanpa sadar. Pada pemeriksaan fisik didapat keadaan umum tampak sakit ringan
compos mentis dengan berat badan 60 kg dan tinggi badan 150 cm. Denyut nadi 85 kali per
menit dengan tekanan darah 130/80 mmHg serta suhu 37
o
C dan respiratory rate 25 kali per
menit.
Pemeriksaan fisik lebih ditekankan pada pemeriksaan abdomen, pelvis, rectum, dan
evaluasi persyaratan lumbosakral. Pada pemeriksaan abdomen bisa didapatkan distensi kandung
kemih, yang menunjukkan suatu inkontinensia luapan, dan dikonfirmasi dengan kateterisasi.
Inspekulo bisa tampak prolaps genital, sistokel dan rektokel. Adanya urine dalam vagina
terutama pasca histerektomi mungkin mengetahui adanya massa pelvis.
4
Pemeriksaan fisik yang mungkin dapat dilakukan ialah palpasi dan perkusi. Pada
kebanyakan pasien, kandung kemih yang terdistensi dapat dipalpasi. Perkusi untuk mendeteksi
kandung kemih yang terdistensi dapat membantu pada pasien yang kurus tetapi mempunyai
sedikit atau tidak mempunyai manfaat pada pasien yang gemuk. Pemeriksaan pelvis pada
perempuan juga penting untuk menemukan beberapa kelainan seperti prolaps, inflamasi,
keganasan. Penilaian khusus terhadap mobilitas pasien, status mental, kemampuan mengakses
toilet akan membantu penanganan pasien yang holistic. Pencatatan aktivitas berkemih baik untuk
pasien rawat jalan maupun rawat inap dapat membantu menentukan jenis dan beratnya
inkontinensia urin serta evaluasi respon terapi.
4,5

Osteoarthritis
Pemeriksaan fisik pada pasien osteoarthritis dapat dilakukan dengan melihat apakah
pasien tampak kesakitan atau merasa tidak nyaman atau apakah ada postur abnormal dari
tubuhnya. Selain itu apabila terjadi peradangan/infeksi sistemik maka kita dapat melihat tanda-
tanda tersebut pada bagian tubuhnya. Selain itu kita juga dapat melakukan inspeksi pada sendi
melihat apakah pasien tampak kesakitan atau merasa tidak nyaman atau apakah ada postur
abnormal dari tubuhnya. Selain itu apabila terjadi peradangan/infeksi sistemik maka kita dapat
melihat tanda-tanda tersebut pada bagian tubuhnya. Selain itu kita juga dapat melakukan inspeksi
pada sendi yang terkena seperti apakah terdapat pembengkakka.n, eritema, deformitas, atau
pengecilan otot pada kulit di atasnya. Setelah itu kita melakukan palpasi dengan teliti. Apakah
terdapat nyeri tekan, hangat, efusi atau penebalan pada cairan synovial? Selain itu kita juga harus
melakukan pemeriksaan pembandingan dengan melihat pergerakkan terhadap sendi yang aktif
dan pasif, melihat apakah sendi-sendi tersebut masih dapat melakukan fungsinya dengan baik
(seperti caranya berjalan, menggenggam).
3

Pemeriksaan Penunjang
Urinalysis
Urinalysis dapat berguna untuk menghapuskan diagnosis banding seperti urinary tract
infection yang merupakan suatu reaksi inflamasi lokal yang dapat menyebabkan tidak
terhambatnya kontraksi kandung kemih akibat endotoksin yang diproduksi oleh bakteri yang
memiliki alpha-blocking effect pada sphincter uretra sehingga menurunkan tekanan intrauretra
yang kemudian berujung pada inkontinensia urin.
2


Pemeriksaan Cystometry
Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk mengevaluasi pengisian dan penyimpanan
urin pada kandung kemih. Cystometogram merupakan suatu hasil dari cystometry yang
merupakan kurva dari tekanan/volume intravesikal dengan cara pengisian kandung kemih
dengan air steril atau karbon dioksida pada laju infusi konstan sambil memonitor perubahan
tekanan intravesikal. Pasien harus menahan setiap rasa ingin berkemihnya selama pemeriksaan
berlangsung. Kontraksi muskulus detrusor yang melebihi 15 cmH
2
O dianggap kondisi abnormal.
Data yang didapat pada grafik terdiri dari lima fase yakni sensasi propriosepsi, sensasi merasa
kandung kemih penuh, sensasi ingin berkemih, munculnya kontraksi muskulus detrusor volunter
dan kemampuan untuk menghentikan kontraksi muskulus detrusor. Kondisi negatif dapat
merupakan salah satu indikasi adanya inkontinensia urine.
6



Pemeriksaan BNO-IVP
BNO-IVP adalah pembuatan foto polos abdomen tanpa kontras yang kemudian diikuti
dengan pembuatan foto abdomen setelah pemberian kontras urografik. Tujuan dari pelaksanaan
BNO-IVP adalah untuk mengetahui kelainan pada saluran kencing ginjal, ureter, kandung
kencing dan uretra. Pemeriksaan BNO-IVP diindikasikan untuk hematuria, nyeri pinggang yang
tidak dapat diterangkan sebabnya, kolik ginjal, infeksi saluran kencing yang berulang, dicurigai
terdapat tumor yang menggangu fungsi saluran kencing ginjal, ureter, kandung kencing dan
atau uretra. Pemeriksaan BNO-IVP ini tidak dapat dilakukan apabila kadar kreatinin > 1,5 dan
alergi terhadap kontras.
7
Prosedur tindakan BNO-IVP:
1. Buatlah foto polos abdomen. Cari adanya klasifikasi atau kelainan lain.
2. Lanjutkan dengan pemberian kontras urografi intravena 40-100 cc. Perhatikan
adanya tanda reaksi hipersensitivitas.
3. Buat foto segera setelah injeksi selesai (harus dilakukan dalam waktu 3 menit),
kemudian menit ke-10, ke-15, dan ke-25.
4. Setelah itu buat foto buli-buli. Ulangi foto buli-buli setelah penderita buang air
kecil bila ada keraguan mengenai ureter bagian bawah atau buli-buli.

Osteoarthritis
Radiografis Sendi yang Terkena
Pada sebagian besar kasus, radiografi pada sendi yang terkena osteoarthritis sudah cukup
memberikan gambaran diagnostic yang lebih canggih.
8
Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis OA adalah:
8
Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang
menanggung beban).
Peningkatan densitas (scelerosis) tulang subkondral.
Kista tulang
Osteofit pada pinggir sendi
Perubahan struktur anatomi sendi
Berdasarkan perubahan-perubahan radiografi di atas, secara radiografi OA dapat digradai
menjadi ringan sampai berat (kriteria Kellgren dan Lawrence). Harus diingat bahwa pada awal
penyakit, radiografi sendi seringkali masih normal.
8

Gejala Klinis
Proses menua baik pada laki-laki maupun perempuan telah diketahui mengakibatkan
perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis pada sistem urogenital bagian bawah. Perubahan-
perubahan tersebut berkaitan dengan menurunkan kadar estrogen pada perempuan dan hormone
androgen pada laki-laki. Pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan
kandungan kolagen sehingga mengakibatkan fungsi kontraktil tidak efektif lagi dan mudah
terbentuk trabekulasi sampai divertikel.
4
Atrofi mukosa, perubahan vascularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra
mengakibatkan menurunnya tekanan penutupan uretra dan tekanan out-flow. Pada laki-laki
terjadi pengecilan testis dan pembesaran kelenjar prostat sedangkan pada perempuan terjadi
penipisan dinding vagina dengan timbulnya eritema atau ptekie, pemendekan dan penyempitan
ruang vagina serta berkurangnya lubrikasi dengan akibat meningkatnya pH lingkungan vagina.
4
Telah diketahui dengan baik bahwa dasar panggul mempunyai peran penting dalam
dinamika miksi dan mempertahankan kondisi kontinen. Melemahnya fungsi dasar panggul
disebabkan oleh banyak factor baik fisiologis maupun patologis (trauma, operasi, denervasi
neurologic).
4
Secara keseluruhan perubahan akibat proses menua pada sistem urogenital bawah
mengakibatkan posisi kandung kemih prolaps sehingga melemahkan tekanan atau tekanan
akhiran kemih keluar serta perubahan struktur anatomi dan fisiologis merupakan factor
contributor terjadinya inkontinensia tipe stress, urgensi, dan luapan (overflow).
4

Osteoarthritis
Nyeri Sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien ke dokter. Nyeri
biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.
8


Hambatan Gerakan Sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri.
8

Kaku Pagi
Pada beberapa pasueb, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti
duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.
8

Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
8

Pembesaran Sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (biasanya di lutut atau tangan)
secara pelan-pelan membesar.
8

Perubahan Gaya Berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua pasien OA
pergelangan kaki, tumit, lutut, atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan
dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien
OA yang umumnya tua.
8

Differential Diagnosis
Inkontinensia Urgensi
Aktifitas otot detrusor yang berlebihan menyebabkan kontraksi yang tidak terkendali dari
kandung kemih dan berakibat keluarnya urin. Keadaan ini merupakan penyebab utama dari
inkontinensia urin pada lanjut usia, mencapai 2/3 nya.
1

Inkontinensia Overflow
Inkontinensia ini paling jarang dijumpai. Dapat idiopatik atau akibat gangguan
persyarafan sacrum (neurogenic bladder). Bila mengakibatkan inkontinensia, ditandai dengan
sering berkemih, malam hari lebih sering, dengan jumlah urin sedikit-sedikit / kecil. Sisa urin
residu setelah berkemih (biasanya sekitar 450 cc) yang membedakannya dari inkontinensia tipe
urgensi dan tipe stress.
1


Inkontinensia Stress
Penyebab utama nomor dua setelah aktifitas detrusor yang berlebihan, terutama pada
wanita lanjut usia. Inkontinensia ini ditandai dengan kebocoran urin pada saat aktifitas. Urin
dapat keluar saat tertawa, bersin, batuk, atau mengangkat benda berat. Keluarnya urin ini lebih
mencolok pada siang hari, kecuali terdapat bersama-sama inkontinensia urgensi yang sering ada
bersamaan.
1

Inkontinensia Fungsional
Ditandai dengan keluarnya urin secara dini, akibat ketidakmampuan mencapai tempat
berkemih karena gangguan fisik atau kogntif maupun macam-macam hambatan
situasi/lingkungan yang lain, sebelum siap untuk berkemih. Faktor-faktor psiokologi seperti
marah, depresi juga dapat menyebabkan inkontinensia tipe fungsional ini.
1

Working Diagnosis
Inkontinensi Urgensi dan Stress
Berdasarkan kasus yang ada dapat disimpulkan bahwa ibu tersebut menderita
inkontinensia campuran. Yaitu jenis inkontinensia gabungan antara inkontinensia urgensi dan
inkontinensia stress.
Inkontinensia urgensi disebabkan oleh aktivitas kandung kemih yang berlebihan.
Inkontinensia tipe urgensi ditandai dengan ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi
berkemih muncul. Manifestasinya dapat berupa urgensi, frekuensi dan nokturia. Kelainan ini
dibagi menjadi 2 subtipe yaitu motorik dan sensorik.
4
Subtipe motorik disebabkan oleh lesi pada sistem saraf pusat seperti yang terjadi pada
stroke, parkinsonism, tumor otak dan sklerosis multipel maupun adanya lesi pada medula
spinalis daerah suprasakral. Subtipe sensorik dapat disebabkan oleh hipersensitivas kandung
kemih akibat cystisis, uretritis dan diverkulitis.
4

Sedangkan inkontinensia stress disebabkan pengaruh melemahnya otot dasar panggul.
Hal ini dapat terjadi pada lansia karena pengaruh umur yang menyebabkan semakin lemahnya
fungsi otot-otot panggul. Faktor resiko sebagai wanita juga meningkatkan kemungkinan
terjadinya inkontinensia stress. Wanita yang sering hamil dan melahirkan akan membutuhkan
kerja otot panggul yang lebih sering untuk menahan janin selama usia kehamilan dan untuk
membantu kontraksi pada proses partus/melahirkan. Peningkatan resiko pada wanita lansia juga
dapat disebabkan karena penurunan kerja hormon estrogen pasca menopause.
1,4

Osteoarthritis
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degenerative yang berkaitan dengan
kerusakan kartilago sendi. Vertebra, panggul, lutut dan pergelangan kaki paling sering terkena
OA. Prevalensi OA lutut radiologis paling besar dialami oleh pria ketimbang oleh wanita. Pasien
OA biasanya mengelih nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada
sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga
sangat menggangu mobilitas pasien.
8

Etiologi
Pengetahuannya yang tepat akan penyebab inkontinensia sangat diperlukan agar dapat
memberikan penatalaksanaan yang tepat pula. Secara umum ada 4 penyebab pokok, yaitu:
gangguan urologic, gangguan neurologic, gangguan fungsional,gangguan lingkungan.
Inkontinensia yang terjadi akibat gangguan diatas dapat dibagi atas. Inkontinensia urin akut,
biasanya bersifat reversibel. Inkontinensia ini terjadi secara mendadak dan berkaitan dengan
kondisi sakit akut maupun masalah pengobatan yang diberikan yang akan menghilang bila
kondisi akut ini teratasi ataupun obat diberhentikan penggunaannya.
4
Untuk mengingat dengan lebih mudah, maka para ahli memakai akronim DRIP yang
dapat dilihat pada tabel 2 atau akronim yang lebih lengkap lagi DIAPPERS yang dapat dilihat
pada tabel 3 sebagai penyebab inkontinensia akut.
4
Delirium merupakan gangguan kognitif akut dengan latar belakang yang beragam seperti
dehidrasi, infeksi paru, gangguan metabolisme, dan elektrolit. Delirium menyebabkan proses
hambatan refleks miksi berkurang sehingga menimbulkan inkontinensia yang bersifat sementara.
Usia lanjut dengan kecenderungan mengalami frekuensi, urgensi, dan nokturia akibat proses
menua akan mengalami inkontinensia kalau terjadi gangguan mobilitas oleh karena berbagai
sebab seperti gangguan musculoskeletal, tirah baring, dan perawatan di rumah sakit. Inflamasi
dan infeksi pada saluran kemih bawah juga akan meningkatkan kejadian frekuensi, urgensi, dan
dapat mengakibatkan inkontinensia. Kondisi-kondisi yang mengakibatkan polyuria seperti
hiperglikemia, hiperkalsemia, pemakaian diuretika dan minum banyak dapat mencetuskan
inkontinensia akut. Kondisi kelebihan cairan seperti gagal jantung kongestif, insufisiensi vena
tungkai bawah akan mengakibatkan nokturia dan inkontinensia akut malam hari.
4


D Delirium
R Restricted Mobility, retension
I Infection, Inflammation, Impaction
P Polyuria, pharmaceuticals
Tabel 1. Akronim untuk Penyebab Reversibel Inkontinensia Urin Akut.
4

D Delirium or acute confusional state
I Infection, Urinary
A Athropic vaginitis
P Pharmaceutical
P Psychologic disorders : depression
E Endocrine disorders
R Restricted mobility
S Stoolilmpaction
Tabel 2. Penyebab Inkontinensia Akut.
4

Hal lain yang jangan dilupakan ialah bahwa inkontinensia pada pria sering berkaitan
dengan retensi urin akibat hipertrofi prostat. Hal ini menyebabkan obstruksi mekanik pada
bagian distal kandung kemih yang akan menyebabkan urine tertahan dan menstimulasi kontraksi
otot detrusor involunter.
4
Penggunaan obat seperti diuretika, anti kolinergik, psikotropik, analgesik-narkotik,
penghambat adrenergik alfa, agonis adrenergik alfa serta calcium channel blocker perlu
diperhatikan karena memiliki efek terhadap saluran kemih dan dapat menyebabkan tercetusnya
inkontinensia akut.
4
Inkontinensia urin kronik/persisten, ada dua hal yang melatarbelakangi inkontinensia
kronik, yaitu 1). Kegagalan penyimpanan urin pada kandung kemih akibat hiperaktif atau
menurunnya kapasitas kandung kemih atau lemahnya tahanan saluran keluar, dan 2). Kegagalan
pengosongan kandung kemih akibat lemahnya otot detrusor atau meningkatnya tahanan aliran
keluar.
Inkontinensia yang menetap dibagi menjadi 4 tipe, yaitu:
1. Inkontinensia urgensi
Tipe ini ditandai dengan ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi
berkemih muncul. Menifestasinya berupa urgensi, frekuensi, dan nokturia. Kelainan
ini dibagi atas dua subtipe yaitu subtipe motorik dan sensorik. Subtipe motorik
dapat disebabkan oleh lesi pada sistem saraf pusat seperti pada penderita parkinson
dan stroke, maupun adanya lesi pada medulla spinalis suprasakral. Subtipe sensorik
disebabkan oleh hipersensitivitas kandung kemih akibat sistisis, uretritis dan
diverkulitis.
4
2. Inkontinensia stress
Terjadi akibat peningkatan tekanan intraabdominal seperti batuk, bersin, mengejan
maupun tertawa yang kerapkali terjadi pada wanita yang sudah tua yang mengalami
hipermobilitas uretra dan melemahnya otot dasar panggul akibatnya kurangnya
kadar estrogen dan sering melahirkan.
4
3. Inkontinensia fungsional
Penyebabnya adalah penurunan berat fungsi fisik dan kognitif sehingga pasien tidak
dapat mencapai toilet pada saat yang tepat. Ini mungkin terjadi pada penderita
demensia berat, gangguan mobilitas, neurologik dan psikologik.
4
4. Inkontinensia luber (overflow)
Inkontinensia ini paling jarang dijumpai. Pada inkontinensia ini terjadi penurunan
aktivitas m. detrusor akibat gangguan pada persarafan sacrum yang merupakan
persarafan bagi vesika urinaria.
4
Dalam kenyataannya, keempat tipe ini saring saling bercampur pada pasien
inkontinensia urin. Tipe campuran yang jamak dijumpai adalah campuran antara
inkontinensia urgensi dan stress.
4


Osteoarthritis
Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari suatu proses ketuaan yang tidak
dapat dihindari. Para pakar yang meneliti penyakit ini sekarang berpendapat bahwa OA ternyata
merupakan penyakit gangguan homeostatis dari metabolisme kartilago yang penyebabnya belum
jelas diketahui.
8

Patogenesis
Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan rangkaian
koordinasi proses fisiologik yakni fase penyimpanan dan fase pengosongan. Ketika pengisian
kandung kemih terjadi, otot dalam kandung kemih yang dinamakan muskulus detrusor
berelaksasi, sebaliknya saat pengosongan. Kontraksi kandung kemih disebabkan karena aktivitas
parasimpatis yang dipicu oleh asetilkolin pada reseptor muskarinik. Sphincter uretra internal
akan tertutup karena akvitas saraf simpatis yang dipicu oleh nor-adrenalin.
4

Invervasi sphincter uretra interna dan eksterna terjadi oleh persarafan nervus pudendal
somatik setinggi sakral 4. Pada inkontinensia urin, inervasi tidak terjadi dengan baik
menyebabkan uretra tidak dapat menutup dengan baik sehingga urin dapat keluar, yang dapat
menyebkan inkontinensia urin tipe urgensi akibat tidak dapat menahan keinginan berkemih dan
dengan melemasnya sphincter uretra eksterna (dipersarafi oleh saraf motorik). Sebaliknya,
dengan pemberian adrenergik-alfa dapat menyebabkan sfingter uretra berkontraksi. Atau apabila
adanya tekanan intra abdomen dan kandung kemih yang penuh serta dengan otot serat dasar
pelvis yang tidak suportif lagi menyebabkan urin dapat keluar menyebabkan inkontinensia stress
(akibat adanya tekanan intra abdominal yang naik).
4


Osteoarthritis
Berdasarkan patogenesinya OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA
sekunder. Osteoartritis primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketaui
dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan local pada
sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi,
metabolic, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama.
OA primer lebih sering ditemukan dibanding OA sekunder. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar berikut.
8

Gambar 1. Patogenesis Osteoarthritis.
8

Epidemiologi

Kasus inkontinensia urin cenderung tidak dilaporkan, karena penderita merasa malu dan
menganggap tidak ada yang dapat dilakukan untuk menolongnya. Penderita juga mendapat
benturan sosial yaitu kondisi masyarakat sekitar yang akan menjauhinya bila ia diketahui
menderita penyakit ini. Penelitian epidemiologi terhadap penyakit ini pun sulit untuk dilakukan
karena beragamnya subjek penelitian, metode kuisioner dan definisi inkontinensia yang
digunakan. Namun secara umum prevalensinya meningkat sesuai dengan pertambahan umur.
Sekitar 50% lansia di instalasi perawatan kronis dan 11-30% di masyarakat mengalami
inkontinensia urin. Sedangkan berdasarkan gender, penyakit ini cenderung lebih sering dialami
oleh wanita dengan perbandingan 1,5 : 1 terhadap pria.
4
Berdasarkan survei oleh Divisi Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM tahun 2002
pada 208 orang usia lanjut di lingkungan Pusat Santunan Keluarga di Jakarta, didapati bahwa
angka inkontinensia stress mencapai 32,2%. Sedangkan survei yang dilakukan oleh Poliklinik
Geriatri RSCM pada tahun 2003 terhadap 179 pasien didapati angka kejadian inkontinensia urin
stress pada laki-laki sebesar 20,5% dan pada perempuan sebesar 32,5%.
4
Pada penelitian yang dilakukan di Australia, didapatkan 7% pria dan 12% wanita diatas
usia 70 tahun mengalami inkontinensia. Sedangkan mereka yang dirawat, terutama di unit psiko-
geriatri, 15-50% diantaranya menderita inkontinensia. Sedangkan melalui penelitiannya, seorang
ahli bernama Fonda mendapatkan 10% pria dan 15% wanita diatas 65 tahun di Australia
menderita inkontinensia.
1
Pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh National Overactive Bladder
Evaluation (NOBLE) dengan 5204 orang sebagainya sampelnya, menyimpulkan suatu perkiraan
bahwa 14,8 juta perempuan dewasa di Amerika Serikat menderita inkontinensia urin dengan
sepertiganya (34,4%) merupakan inkontinensia urin tipe campuran.
4
Seorang ahli bernama Dioko serta timnya melakukan penelitian pada 1150 orang secara
acak dan mendapati 434 orang diantaranya menderita inkontinensia urin. Dari mereka yang
mengalami inkontinensia urin, didapati bahwa 55,5% diantaranya merupakan tipe campuran,
26,7% merupakan tipe stress saja, 9% tipe urgensi saja dan 8,8% memiliki komplikasi lain.
4
Seringkali penderita inkontinensia berpikir dengan mengurangi asupan cairan berupa minuman
akan mengurangi frekuensi miksi. Namun hal ini akan berbahaya karena menganggu
keseimbangan cairan dan elektrolit. Kapasitas kandung kemih pun semakin lama akan semakin
menurun yang justru akan memperberat keluhan inkontinensianya. Sebenarnya bila penyakit ini
diobati secara tepat maka inkontinensianya dapat diupayakan menjadi lebih ringan sehingga
penderita menjadi lebih nyaman dan memudahkan juga bagi yang merawat serta mengurangi
kemungkinan komplikasi serta biaya perawatan.
1,4

Osteoarthritis
Dari data epidemiologic, ternyata OA menduduki ururtan pertama dari golongan
reumatik sebagai penyebab kecacatan. Prevalensinya meningkat dengan meningkatnya usia,
jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.
Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi.
1

Penatalaksanaan
Telah dikenal beberapa modalitas terapi dalam penatalaksanaan dengan inkontinensia
urin. Baik penatalaksanaan farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-medika-mentosa
yang biasanya dikerjakan adalah terapi suportif nonspesifiks eperti edukasi, manipulasi
lingkungan, serta pads. Juga dapat diberikan intervensi tingkah laku seperti latihan otot dasar
panggul, latihan kandung kemih, penjadwalan berkemih dan lainnya.
4
Bladder training merupakan salah satu terapi yang efektif dengan tujuan memperpanjang
interval berkemih yang normal dengan teknik distraksi sehingga frekuensi berkemih hanya 6-7
kali per satu hari atau berkemih sekitar 3-4 jam sekali. Latihan otot dasar panggul merupakan
terapi efektif untuk inkontinensia urin tipe stress atau mixed dengan urgensi. Latihan dilakukan
tiga hingga lima kali sehari dengan 15 kontraksi dan menahan hingga 10 detik. Perbaikan dapat
timbul kira-kira setelah sepuluh tahun. Selama latihan dianjurkan menggunakan pads.
4

Habit training memerlukan penjadwalan berkemih sesuai dengan jadwal berkemih pasien
sendiri. Biofeedback therapy merupakan terapi yang bertujuan agar pasien mampu mengontrol
kontraksi involunter otot detrusor kandung kemihnya.
4
Stimulasi elektrik juga dapat dilakukan dengan dasar terapi kejutan kontraksi otot pelvis
dengan alat bantu pada vagina atau rektum, pasien harus menggunakan alat ini selama
hidupnya.
4
Neuromodulasi merupakan terapi dengan stimulasi saraf sakral. Dengan kegiatan
interneuron medulla spinalis atau neuron adrenergik beta yang menghambat kegiatan kandung
kemih. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meuromodulasi merupakan salah satu cara
penatalaksanaan inkontinensia yang cukup berhasil.
4

Tindakan operasi dilakukan pada wanita dengan inkontinensia tipe stress yang tidak
membaik dengan penanganan konservatif harus dilakukan upaya operatif. Tindakan pembedahan
yang paling sering dilakukan adalah ileosistoplasti dan miektomi detrusor. Teknik pembedahan
yang dilakukan untuk inkontinensia tipe stres adalah injectable intraurethral bulking agents,
suspensi leher kandung kemih, urethral slings dan artificial urinary sphincters. Sedangkan untuk
tipe urgensi adalah augmentation cystoplasy dan juga stimulasi elektrik.
4

Terapi yang menggunakan obat (farmakologis) merupakan terapi yang terbukti efektif
terhadap inkontinensia urin tipe stress dan urgensi. Terapi ini dapat dilaksanakan bila upaya
terapi non-farmakologis telah dilakukan namun tidak dapat mengatasi masalah inikontinensia
tersebut. Obat-obat yang dipergunakan dapat digolongkan menjadi : antikolinergik-
antispasmodik, agonis adrenergic , estrogen topical, dan antagonis adrenergic . Berikut adalah
obat-obat yang dapat digunakan pada pasien dengan inkontinensia urin:
4



Obat Dosis Tipe Inkontinensia Efek Samping
Hyoscamin 3 x 0,125 mg Urgensi atau campuran Mulut kering, mata kabur, glaukoma,
derilium, konstipasi
Tolterodin 2 x 4 mg Urgensi atau OAB Mulut kering, konstipasi
Imipramin 3 x 25-50 mg Urgensi Derilium, hipotensi ortostatik
Pseudoephedrin 3 x 30-60 mg Stress Sakit kepala, takikardi, hipertensi
Topikal estrogen Urgensi dan Stress Iritasi lokal
Doxazosin 4 x 1-4 mg BPH dengan Urgensi Hipotensi postural
Tamsulosin 1 x 0,4-0,8 mg
Terazosin 4 x 1-5 mg
Tabel 3. Obat yang Digunakan untuk Inkontinensia Urin.
4

Penggunaan fenilpropanolamin sabagai obat inkontenensia urin tipe stress sekarang telah
dihentikan karena hasil uji klinik yang menunjukkan adanya resiko stroke pasca penggunaan
obat ini. Sebagai gantinya digunakan pseudoefedrin karena dapat meningkatkan tekanan sfingter
uretra, sehingga dapat menghambat pengeluaran urin. Namun penggunaan pseudoefedrin pun
jarang ditemukan pada usia lanjut karena adanya masalah hipertensi, aritmia jantung dan angina.
4
Pembedahan merupakan langkah terakhir yang dilakukan untuk masalah inkontinensia
bila terapi secara farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil dilakukan. Pembedahan
yang sering dilakukan ialah berupa pemasangan kateterisasi yang menetap. Namun penggunaan
kateterisasi ini harus benar-benar dibatasi pada indikasi yang tepat. Misalnya adanya ulkus
dekubitis yang terganggu penyembuhannya karena adanya inkontinensia urin ini. Komplikasi
yang dapat timbul sebagai efek dari penggunaan kateter ialah timbulnya batu saluran kemih,
abses ginjal bahkan proses keganasan pada saluran kemih.
4

Osteoarthritis
Terapi Non-Farmakologis
Penerangan
Maksud dari penerangan adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk-beluk tentang
penyakitnya, bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta
persendiannya tetap dapat dipakai.
8

Terapi Fisik dan Rehabilitasi
Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih
pasien untuk melindungi sendi yang sakit.
8

Penurunan Berat Badan
Berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit
OA. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat badan
berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat badan
ideal.
8

Terapi Farmakologis
Analgesik Oral Non Oplat dan Topikal
Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama
dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Banyak sekali obat-obatan yang dijual
bebas yang mampu mengurangi rasa sakit.
8

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
Apabila dengan cara di atas tidak berhasil pada umumnya pasien mulai datang ke dokter.
Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS, oleh karena obat golongan ini di
samping mempunyai efek analgetik juga mempunyai efek anti inflamasi. Oleh karena pasien OA
kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obat jenis ini harus hati-hati. Jadi pilihlah obat dengan
efek samping minimal dengan cara pemakaian yang sederhana.
8

Chondroprotective Agent
Chondroprotective Agent adalah obat-obatan yang dapat menjaga atau merangsang
perbaikan tulang rawan sendi pada pasien OA. Sampai saat ini yang termasuk dalam kelompok
obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-C,
superoxide dismutase dan sebagainya.
8



Terapi Bedah
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa
sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu
aktivitas sehari-hari.
8

Komplikasi
Komplikasi yang dapat menyertai Inkontinensia Urin adalah infeksi saluran kemih,
kelainan kulit, gangguan tidur, depresi, mudah marah dan rasa terisolasi dan juga dehidrasi
akibat kurang asupan air dan decubitus.
4

Osteoarthritis
Komplikasi yang dapat menyertai OA adalah obesitas, trauma yang berulang-ulang, rasa
nyeri pada tulang, diabetes mellitus dan kelainan hormonal.
8

Preventif
Tidak mengangkat barang yang berat sewaktu muda serta menjalani tindakan-tindakan
operasi yang melemahkan dasar panggul dapat menjadi tindakan pencegahan Inkontinensia Urin.
Mengurangi kejadian obesitas juga dapat mengurangi prevalensi Inkontinensia, sejalan dengan
tidak merokok dapat mengurangi prevalensi Inkontinensia.
9

Osteoarthritis
Untuk mencegah serangan OA sebaiknya tidak mengangkat, mendorong, menarik sesuatu
yanag berat, membungkuk atau sering berjongkok. Hindari juga pemakaian sepatu bertumit
tinggi. Duduk dan berdiri dengan sikap yang benar. Hindari juga naik turun tangga, berjalan di
jalan yang tidak rata, berjalan yang terlalu cepat, berlari maupun meloncat. Hindari duduk di
tempat rendah, berlutut, bersila, berdiri terlalu lama dan mengepel sambil berlutut.
10
Beberapa suplemen yang umum digunakan antara lain adalah glukosamin dan kondroitin.
Glukosamin
Glukosamin adalah molekul gula amino yang biasa terdapat pada kulit krustasea (udang-
udangan), artropoda, dan dinding selcendawan. Di Indonesia, glukosamin dapat diperoleh dari
langsung dari suplemen makanan komersial atau minuman susu tersuplementasi.
8
Kondroitin

Kondrotin sendiri adalah suplemen makanan yang biasa digunakan bersama glukosamin. Ia
merupakan senyawa rantai gula bercabang yang menyususun tulang rawan. Di
Indonesia, kondroitin dapat diperoleh dari langsung dari suplemen makanan.
8

Prognosis
Baik dengan perawatan yang baik pula dari tim medis. Pada Inkontinensi tipe stress
dengan terapi alpha-agonist keadaan dapat membaik sekitar 19-74%, dengan terapi dan operasi
dapat membaik sekitar 88%. Sedangkan pada Inkontinensi tipe urgensi, keadaan dapat membaik
sekitar 75% dengan pelatihan kandung kemih dan 44% dengan obat golongan antikolinergik.
Tindakan pembedahan memiliki angka morbiditas yang tinggi pada Inkontinensia tipe Urgensi.
9

Pada Inkontinensia mixed stress dan urgensi, pelatihan kandung kemih dan lantai pelvis
dinilai lebih meningkatkan angka keadaan baik daripada penggunaan obat-obatan antikolinergik.
Tanpa pengobatan, inkontinensia dapat berujung pada dehidrasi dan hal lainnya yang tidak
diinginkan. Morbiditas yang dapat ditemukan pada inkontinensia adalah infeksi bakteri candida
sp. pada perineum, selulitis, iritasi kulit, sepsis, jatuh karena terpeleset urinnya sendiri, dan
kurang tidur akibat nokturia.
9

Osteoarthritis
Setiap orang dengan OA berbeda. Nyeri dan kekakuan dapat mencegah seseorang dari
melakukan kegiatan sehari-hari yang sederhana, sementara yang lain mampu mempertahankan
gaya hidup aktif yang mencakup olahraga dan kegiatan lainnya.
8

Gerakan Anda mungkin menjadi sangat terbatas dari waktu ke waktu. Melakukan
kegiatan sehari-hari, seperti kebersihan pribadi, pekerjaan rumah tangga, atau memasak bisa
menjadi sebuah tantangan. Pengobatan biasanya meningkatkan dapat meningkatkan fungsi.
8

Kesimpulan
Pada kasus yang diberikan, wanita 70 tahun tersebut dalam keadaan status mental yang
baik. Pada pemeriksaan tanda vital juga didapatkan hasil yang normal. Wanita tersebut telah
diduga menderita inkontinensia urin tipe campuran karena ketidakmampuannya untuk menahan
diri dari berkemih sebelum sampai ke WC dan sering terkencing-kencing tanpa sadar saat ketawa
dengan bersemangat .
Pada kasus yang diberikan, wanita 70 tahun tersebut juga mengalami osteoarthritis
merupakan salah satu radang tulang sendi dimana terjadi kerusakan pada kartilago sendi dimana
Osteoarthritis lebih banyak menyerang perempuan ketimbang laki-laki dan biasanya menyerang
pada usia di atas 60 tahun Apabila terlalu sakit dapat diobati dengan obat-obat golongan
analgetik dan apabila pengobatan sudah tidak dapat dilakukan dapat dilakukan pembedahan
sehingga dapat menghilangkan rasa sakit sehingga pasien tersebut dapat kembali menjalankan
aktivitasnya sehari-hari.

Daftar Pustaka
1. Martono HH, Pranaka K. Geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut). Edisi ke-4 . Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.h. 226-41.
2. Baradero M, Dayrit MW, Siswadi Y. Klien gangguan ginjal. Jakarta: EGC; 2008.h100-8.
3. Gleadle J. At a glance anamnesis. Jakarta: Erlangga; 2005.h. 93.
4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi L, Simadribata M, Setiati S, penyunting. Inkontinensia
urin dan kandung kemih hiperaktif. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simandibrata M, Setiadi S, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5. Jakarta:
Interna Publishing; 2009.h.865-74.
5. Morgan G, Hamilton C. Obstetric dan ginekologi : panduan praktik. Edisi ke-2. Jakarta :
EGC, 2009.h.292-5.
6. Macfarlane MT. Urology. 4th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;
2006.h.137.
7. Aziz F, Witjaksono J, Rasjidi H I. Panduan pelayanan medic: model interdisiplin
penatalaksanaan kanker serviks dengan gangguan ginjal. Jakarta: EGC, 2008. h. 62-3.
8. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi L, Simadribata M, Setiati S, penyunting. Osteoartritis.
Dalam: Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2542-3.
9. Vasavada SP, Kim ED [editor]. Urinary Incontinence. Diunduh dari Medscape for iPad.
14 Desember 2013.
10. Anies. Seri kesehatan umum pencegahan dini gangguan kesehatan. Jakarta: PT. Elex
Media Komputindo; 2005.h. 93-4.