Anda di halaman 1dari 184
171

Panduan

{Kota Hijau}

di Indonesia

Panduan {Kota Hijau} di Indonesia Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang ~ 2013 ~ 1
Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang ~ 2013 ~
Kementerian Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Penataan Ruang
~ 2013 ~

1

Sambutan

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Seraya memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami menyambut baik penerbitan Buku Panduan Kota Hijau di Indonesia guna memandu berbagai upaya untuk mewujudkan ruang kota/ kawasan perkotaan yang berkelanjutan melalui pembangunan kota hijau.

Kita memahami bahwa kondisi perkotaan di Indonesia pada saat ini dihadapkan pada tekanan urbanisasi yang berat. Di satu sisi urbanisasi memang penting untuk pertumbuhan ekonomi kota. Namun di sisi lain, urbanisasi memicu degradasi kualitas lingkungan permukiman yang diikuti dengan berbagai eksternalitas negatif, seperti banjir, kemacetan, kekumuhan dan krisis infrastruktur.

Tantangan ke depan bagi kota-kota di Indonesia pun akan semakin berat dengan hadirnya parameter perubahan iklim (climate change) dan semakin terbatasnya sumberdaya pendukung kehidupan (finite resources). Dampak perubahan iklim sudah mulai kita rasakan sejak beberapa waktu belakangan. Untuk itu, berbagai upaya mitigasi dan adaptasi perlu diprogramkan dengan baik dalam arus-utama pembangunan perkotaan. Sementara itu, pola produksi dan konsumsi sumberdaya perlu kita kembangkan dengan cara-cara yang lebih cerdas dan efisien, sehingga telapak ekologis wilayah yang positif senantiasa dapat kita pertahankan.

Namun, seberat apapun tantangan yang kita hadapi seyogyanya tidak membuat kita berkecil hati atau bersikap pesimis. Tetapi kita perlu menjawab tantangan tersebut dengan langkah-langkah nyata yang sistematis, antara lain melalui konsepsi dan pendekatan kota hijau. “Kota Hijau” dapat diartikan sebagai sebuah metafora dari pencapaian tujuan-tujuan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Singkatnya, kota yang ramah lingkungan yang dibangun berdasarkan keseimbangan antara dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan, serta dimensi tata kelolanya, termasuk kepemimpinan dan kelembagaan kota yang mantap.

M. Basuki Hadimuljono Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum

Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum Untuk itu, sejak tahun 2011 Kementerian Pekerjaan Umum

Untuk itu, sejak tahun 2011 Kementerian Pekerjaan Umum mendorong terwujudnya kota hijau, yang berlandaskan pada penerapan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan, sekaligus mampu merespon secara tepat melalui upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di perkotaan. Hal ini juga sejalan dengan harapan kita semua untuk mulai mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR).

Buku Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam upaya mewujudkan kota hijau yang berkelanjutan di Indonesia, agar tidak hanya menjadi utopia, namun dapat direalisasikan secara sistematis dan bertahap, melalui penguatan pengetahuan pihak-pihak yang terlibat dalam upaya perwujudan kota hijau yang tercermin dari perwujudan keseluruhan atributnya yaitu: (1) perencanaan dan perancangan kota yang ramah lingkungan; (2) ketersediaan ruang terbuka hijau; (3) konsumsi energi yang efisien; (4) pengelolaan air yang efektif; (5) pengelolaan limbah dengan prinsip 3R; (6) bangunan hemat energi atau bangunan hijau; (7) penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan; dan (8) peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau.

Akhir kata, semoga buku Panduan Kegiatan P2KH 2013 ini dapat bermanfaat sebagai panduan dalam perwujudan kota hijau berkelanjutan di kota/kabupaten peserta P2KH sehingga kegiatan yang dilaksanakan dapat lebih terpadu sesuai dengan prinsip pengembangan kawasan (entitas) yang tidak sektoral.

Wassallamuallaikum Wr. Wb.

Jakarta, Februari 2013

sektoral. Wassallamuallaikum Wr. Wb. Jakarta, Februari 2013 M. Basuki Hadimuljono Direktur Jenderal Penataan Ruang

M. Basuki Hadimuljono Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum

TIM PENYUSUN TIM PENGARAH : M. Basuki Hadimuljono Imam S. Ernawi, Dadang Rukmana Iman Soedrajat,

TIM

PENYUSUN

TIM PENGARAH :

M. Basuki Hadimuljono Imam S. Ernawi, Dadang Rukmana Iman Soedrajat, Joessair Lubis Bahal Edison N, Lina Marlia Rido Matari Ichwan

TIM PELAKSANA :

Endra S. Atmawidjaja Allien Dyah Lestari Hajar Ahmad Chusaini Caesar Adi Nugroho, Wulansih Ratu Veby Renita, Rocky Adam Agus Salam

TIM KONSULTAN :

Tito Budiarto, Jajan Rohjan Firmansyam Bastaman Hendi Syahmadi Putra Arta Samodro Meyliantri Maskan

TIM KREATIF :

Yoga Iman G yoga@ayokemon.com

Dicetak di Indonesia

Penerbit :

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dipersilahkan mengutip atau memperbanyak sebagian buku ini dengan seizin tertulis dari penulis dan/atau penerbit.

Indeks

ISBN 978-602-17471-1-7

Copyright © 2013

DAFTAR ISI

Sambutan Direktur Jenderal Penataan Ruang Tim Penyusun Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

ii

iv

v

viii

ix

Pendahuluan

1

Kenapa Harus Mengembangkan Kota Hijau ? Apa Itu Kota Hijau ? Apa Saja Yang Menjadi Atribut Kota Hijau ? Apa Saja Yang Menjadi Atribut Kota Hijau Di Indonesia ? Bagaimana Kedudukan Kota Hijau Dalam Penataan Ruang Di Indonesia ? Lingkup & Skala

1

3

4

6

9

10

8 Atribut Kota Hijau Di Indonesia

13

Green Planning & Design

15

Apa Itu Green Planning & Design ? Mengapa Kota Pelu Green Planning & Design ? Bagaimana Green Planning & Design Dalam Konteks Hirarki- Penataan Ruang ? Bagaimana Merumuskan Green Planning & Design ? Bentuk Atau Model Green Planning & Design Compact City Mixed Used Kawasan Pejalan Kaki Transit Oriented Development

15

16

17

19

25

25

26

27

27

Green Open Space

31

Apa Itu Green Open Space ?

31

Mengapa Kota Perlu Menyediakan Green Open Space ?

31

Bagaimana Mewujudkan Green Open Space ?

35

Tahapan Perwujudan Green Open Space ?

38

Bentuk Green Open Space Di Kawasan Perkotaan

39

Taman Lingkungan & Taman Kota

39

Hutan Kota

47

Tempat Pemakaman Umum

51

Jalur Hijau

52

Pertanian Perkotaan

54

Komponen Hijau (Soft Material)

60

Green Building

65

Apa Itu Green Building ?

65

Mengapa Kota Perlu Mengembangkan Green Building ?

67

Bagaimana Mewujudkan Green Building ?

68

Bagaimana Menerapkan Green Building ?

65

Apakah Itu Green Waste ?

81

Mengapa Green Waste Diperlukan ?

81

Bagaimana Mewujudkan Green Waste

84

Bentuk Penerapan Green Waste

85

Green Transportation

95

Apa Itu Green Transportation ?

95

Mengapa Green Transportation ?

96

Bagaimana Merumuskan Green Transportation ?

97

Bentuk atau Model Green Transportation ?

98

Jalur Pejalan Kaki

99

Jalur Sepeda

104

Bus Rapid Transit

110

Kereta Api Perkotaan

112

Angkutan Kota (Paratransit)

114

Taxi

117

High Occupancy Vehicle

117

Apa Itu Green Water ?

121

Mengapa Green Water diperlukan ?

121

Bagaimana Merumuskan Green Water ?

123

Bentuk Atau Model Green Water

124

Biopori

124

Pengelolaan Air Hujan

127

Pengelolaan Air Bersih Sistem Perpipaan

130

Pengelolaan Air Di Lingkungan Industri

132

Pengelolaan Air Untuk Pertanian

136

Green Energy

141

Apa Itu Green Energy ?

141

Mengapa Green Energy Diperlukan ?

142

Bagaimana Mewujudkan Green Energy?

144

Bentuk Atau Model Green Energy ?

145

Pembangkit Listrik Tenaga Angin

145

Pembangkit Listrik Tenaga Matahari

146

Pembangkit Listrik Tenaga Air

151

Energi Tumbuhan

154

Energi Sampah

154

Energi Panas Bumi

158

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

160

Green Community

165

Apa Itu Green Community ? Mengapa Perlu Green Community ? Bagaimana Membentuk Green Community ? Green Community Dapat Dibentuk Melalui Komunitas Warga

165

165

166

167

168

Daftar Pustaka

170

Daftar Tabel

Tabel.1

Green Planning and Design dalam konteks hirarki

penataan ruang di Indonesia

18

Tabel.2

Tabel Penilaian Skenario/Alternatif

23

Tabel.3

Struktur tata Ruang dan RTH

37

Tabel.4

Rata-rata konsentrasi Pb ( μg/g) pada kulit Batang & daun

53

Tabel.5

Matriks tahapan / strategi & Manfaat pembangunan

66

Tabel.6

Matriks tahapan / strategi pengerjaan Tapak

67

Tabel.7

Matriks Tahapan Pembangunan Struktur

69

Tabel.8

Matriks Strategi Tahap Pembangunan Sistem Bangunan

71

Tabel.9

Strategi Tahap Pembangunan Penyelesaian

73

Tabel.10

Strategi Tahap Pemanfaatan dan Pemeliharaan

74

Tabel.11

Kapasitas bank sampah untuk melayani jumlah

penduduk di perkotaan

86

Tabel 12.

Perbandingan Beberapa Moda

114

Tabel 13

Perbandingan Berbagai Penetapan Zona Eksklusi dan

Zona Penduduk Rendah Pada Berbagai PLTN

158

Daftar Gambar

Gambar. 1

The Sustainability Triangle Of The Three Conflicting Planning Goals

Gambar. 2

Delapan atribut kota hijau dan keterkaitan satu sama lainnya

Gambar. 3

Penyelenggaraan Penataan Ruang

Gambar. 4

Prinsip Pengembangan Green Planning & Design

Gambar. 5

Proses merumuskan konsep Green Planning and Design

Gambar. 6

Proses identifikasi dan analisis wilayah perencanaan

Gambar. 7

Proses perumusan visi, tujuan dan sasaran

Gambar. 8

ProsesAlternatif/Skenario Rencana Pencapaian

Gambar. 9

Skema jaringan TOD

Gambar. 10 Struktur RTH dalam wilayah kota Gambar. 11 Penyediaan Green Open spaces dalam setiap tingkatan rencana Gambar. 12 Bentuk dan Struktur RTH Publik Gambar. 13 RTH Publik dalam Tata Ruang Kota Gambar. 14 Tahapan utama dalam perwujudan RTH Gambar. 15 Pembagian kadar emisi CO2 menurut sektor Gambar. 16 Tahapan bagaimana mewujudkan Green Building Gambar. 17 Tahapan mewujudkan Green Building Gambar. 18 Unsur Pendukung Green Building Gambar. 19 Siklus Pengolahan Sampah Gambar. 20 Grafik Komposisi Sampah Di indonesia Gambar. 21 Tahapan Sosialisai Green Waste Gambar. 22 Skema Manajemen Pengelolaan Sampah Gambar. 23 Data Pendukung pentingnya Bank Sampah Gambar. 24 Tahapan Pembentukan Bank Sampah Gambar. 25 Pendekatan Fitoremediasi Gambar. 26 Prinsip Pengembangan Green Transportation Gambar. 27 Skema langkah penerapan green transportation Gambar. 28 Piramida Green Transportation Gambar. 29 Tipologi Angkutan Umum Gambar. 30 Tahapan Perumusan Green Water

Gambar. 31 Ilustrasi Resapan Biopori Gambar. 32 Ilustrasi Pembuatan Biopori Gambar. 33 Konsep Blue Water dan Green Water

Gambar. 34 Tahapan Mengembangkan Green Energy Gambar. 35 Cara Kerja Kincir Angin

Gambar. 36

Gambar. 37 Proses Produksi Energi Sampah Gambar. 38 Proses Produksi Energi Dari Sampah Gambar. 39 Proses Produksi Energi Panas Bumi Gambar. 40 Peta Potensi Geotermal di Indonesia Gambar. 41 Faktor-Faktor Luar yang Mempengaruhi Keberadaan PLTN

Cara Kerja Solar Cell

2

7

9

15

19

20

21

22

28

33

35

36

36

38

61

63

64

75

78

79

80

81

83

84

87

91

93

94

105

119

120

121

132

140

142

143

150

151

154

155

157

Pendahuluan

Taman Karang Jangkong Mataram

Kenapa Harus Mengembangkan

Kota Hijau ?

K ondisi perkotaan di Indonesia pada saat ini dihadapkan pada tekanan urbanisasi yang berat. Di satu sisi urbanisasi memang penting untuk pertumbuhan ekonomi kota. Namun di sisi

lain, urbanisasi memicu degradasi kualitas lingkungan permukiman yang diikuti dengan berbagai eksternalitas negatif, seperti banjir, kemacetan, kekumuhan dan krisis infrastruktur. Tantangan ke depan bagi kota-kota di Indonesia pun akan semakin berat dengan hadirnya parameter perubahan iklim (climate change) dan semakin terbatasnya sumberdaya pendukung kehidupan (finite resources). Untuk itu, berbagai upaya mitigasi dan adaptasi perlu diprogramkan dengan baik dalam arus-utama pembangunan perkotaan. Sementara itu, pola produksi dan konsumsi sumberdaya perlu dikembangkan dengan cara-cara yang lebih cerdas dan efisien, sehingga telapak ekologis wilayah yang positif senantiasa dapat dipertahankan.

Tantangan tersebut perlu dijawab dengan langkah-langkah nyata yang sistematis, antara lain melalui konsepsi dan pendekatan kota hijau. “Kota Hijau” merupakan sebuah metafora dari pencapaian tujuan-tujuan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Secara konseptual, pembangunan perkotaan berkelanjutan merupakan upaya untuk mengintegrasikan secara sinergis dari tiga kepentingan utama dalam pembangunan perkotaan yang meliputi keadilan sosial, mendorong pertumbuhan dan efisiensi ekonomi, dan perlindungan terhadap kelestarian lingkungan.

M M O O I I Y T C C N N I U O
M
M
O O
I I
Y
T
C
C
N N
I
U
O O
O
O
V
E
E
T
O
L
E
M
R
E
D
C C
O
P
P
P
C
T
THE PROPERTY
THE DEVELOPMENT
N
Q
N
CONFLICT
CONFLICT
E
A
E
N
E
P
T
P
E
E
D
L
N
R
R
P P
I
T
O
W
R
L
M
O
T
F
G
G
O
M
A
O
Y
H
N
A
E
THE RESOURCE
B
- -
CONFLICT
O
C
F
O
O
I
T
A
O
E
N
I
I
R
A
N
M
T
N
E E
C
R R
N
Gambar 1
THE SUSTAINABILITY TRIANGLE
OF THE THREE CONFLICTING PLANNING GOALS 1
R
D
A
O
N
E
T
E
C
C
I
T
T
N
B
I
E
M
I I
A
F
O
V
L
U
U
T
T
F
N
T
C
E
I
N
N
N
E
S
S
C
O
S
I
I I
L
E
U
R
U U
E
T
T
L
N
I
S
A
J J
V
Y
Y
C
R
Y
N
E
L L
V
E
O
A
A
I I
C
C
O
O
S S

Kota hijau adalah kota yang ramah lingkungan yang dibangun berdasarkan keseimbangan antara dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan, serta dimensi tata kelolanya, termasuk kepemimpinan dan kelembagaan kota yang mantap.

1 Campbell, S. (1996). Green Cities, Growing Cities, Just Cities?: Urban Planning and the Contradictionsof Sustainable Development, Journal of the American Planning Association, 62

Apa Itu

Kota Hijau ?

S eperti yang telah disinggung pada uraian sebelumnya, bahwa terminologi Kota Hijau merupakan metafora dari Kota

Berkelanjutan atau Kota Ekologis yang didefinisikan sebagai berikut:

2

3

4

5

Kota Hijau dapat dipahami sebagai kota yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumberdaya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, mensinergikan lingkungan alami dan buatan, berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. 2

Kota yang didesain dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, dihuni oleh orang-orang yang memiliki kesadaran untuk meminimalisir (penghematan) penggunaan energi, air dan makanan, serta meminimalisir buangan limbah, percemaran udara dan pencemaran air. 3

Kota yang mengutamakan keseimbangan ekosistem hayati, dengan lingkungan terbangun sehingga tercipta kenyamanan bagi penduduk kota yang tinggal didalamnya maupun bagi para pengunjung kota. 4

Kota yang dibangun dengan menjaga dan memupuk aset-aset kota-wilayah, seperti aset manusia dan warga yang terorganisasi, lingkungan terbangun, keunikan, dan kehidupan budaya, kreativitas dan intelektual, karunia sumber daya alam, serta lingkungan dan kualitas prasarana kota. 5

Diadaptasi dari www.unep.org/wed

Richard Register first coined the term “ecocity” in his 1987 book, Ecocity Berkeley: building cities for a healthy future.

M. Yunus, S.Si, MT: Sustainable Cities Suatu Tantangan Pembangunan

Nirwono Joga: Pembangunan Perkotaan dan Perubahan Iklim.

Apa saja yang menjadi atribut

Kota Hijau ?

B eberapa literatur yang dapat digunakan untuk menentukan atribut dari Kota Hijau, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Menurut Platt 6 ada 5 atribut dari Kota Hijau :

a.

Kepekaan dan kepedulian masyarakat

b.

Beradaptasi terhadap karakteritik bio-geofisik kawasan

c.

Lingkungan yang sehat, bebas dari pencemaran lingkungan yang membahayakan kehidupan

d.

Efisiensi dalam penggunaan sumberdaya dan ruang

e.

Memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan

2. Kurokawa 7 , menjelaskan 5 atribut terkait dengan Kota Hijau, yaitu :

1.

Menciptakan

suatu jejaring Ruang Terbuka Hijau (RTH)

kota/wilayah

2. Menghindari/mengendalikan urban sprawl (ekspansi penduduk kota beserta aktivitasnya ke kawasan pinggiran yang mengakibatkan peralihan fungsi lahan dari pertanian ke perkotaan)

3. Pengembangan usaha untuk mengurangi sampah dan limbah serta pengembangan proses daur ulang (reduce, reuse, recycle)

4.

Pengembangan sumber energi alternatif (misalnya: biomas, matahari, angin, ombak)

5. Pengembangan sistem transportasi berkelanjutan (misalnya: pembangunan fasilitas pedestrian dan jalur sepeda, dsb)

3. Atribut Kota hijau menurut United Nations Urban Environmental Accords (UNUEA) :

6 The Ecological City. The University Massachusetts Pr. Amherst

7 Kisho Kurokawa : architect and associate, selected and current works. Hong Kong : Image Publ Group,

2004

ATRIBUT KOTA HIJAU

a.

Energi

• Efisiensi Energi

Energi Terbarukan

Perubahan Iklim

b.

Pengurangan Limbah

Tanpa Limbah

Peningkatan Tanggung Jawab Produsen

Tanggung Jawab Konsumen

c.

Transportasi

Transportasi Umum

Mobil Bersih

Pengurangan Kemacetan

d.

Urban Desain

Green Building

Perencanaan Kota

Green Jobs

e.

Urban Nature

Ruang Terbuka Hijau

Restorasi Habitat

Konservasi Cagar Alam

f.

Kesehatan lingkungan

Pengurangan Bahan Beracun

Udara Bersih

g.

Air

Akses Air Bersih

Konservasi Sumber Air

Pengurangan Limbah

• Konservasi Sumber Air • Pengurangan Limbah GREEN GREEN GREEN GREEN GREEN GREEN GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

GREEN

OPEN SPACE

PLANING

COMMUNITY

WASTE

BUILDING

WATER

ENERGY

TRANSPORT

& DESIGN

Apa saja yang menjadi atribut

Kota Hijau

di Indonesia ?

A da 8 (delapan) atribut Kota Hijau yang dikembangkan khusus untuk Indonesia. Ke-delapan atribut Kota Hijau tersebut adalah sebagai berikut:

 

Green Planning

and design

Perencanaan dan perancangan yang

1.

beradaptasi pada biofisik kawasan

   

Peningkatan kuantitas dan kualitas

2.

Green Openspace

RTH sesuai karakteristik kota/kab dengan target 30%

   

Usaha untuk zero waste dengan melaksanakan prinsip 3R yaitu

3.

Green Waste

mengurangi sampah/limbah, mengembangkan proses daur ulang dan meningkatkan nilai tambah

   

Pengembangan sistem transportasi

4.

Green

Transportation

yang berkelanjutan, misal :

transportasi publik, jalur sepeda, dsb

5.

Green Water

Efisiensi pemanfaatan sumberdaya air

   

Pemanfaatan sumber energi yang

6.

Green Energy

efisien dan ramah lingkungan

7.

Green Building

Bangunan hemat energi

   

Kepekaan, kepedulian dan peran

8.

Green Community

serta aktif masyarakat dalam pengembangan atribut-atribut kota hijau

Green Building Green Open Space Green Water Green Energy Green Green Transportation Waste Green Planing
Green
Building
Green
Open Space
Green
Water
Green
Energy
Green
Green
Transportation
Waste
Green
Planing
& Design
Green
Community

Gambar 2 DELAPAN ATRIBUT KOTA HIJAU DAN KETERKAITAN SATU SAMA LAINNYA

PadaGambar2,menunjukkanketerkaitansatusamalaindarikedelapan

atribut kota hijau. Misalnya, air buangan yang dihasilkan sebagai limbah dari rumah tangga atau dari suatu bangunan/gedung dapat diolah kembali menjadi air bersih, sehingga terjadilah efisiensi pemanfaatan air. Demikian pula sampah yang dihasilkan dari suatu kota, dapat

dimanfaatkan sebagai bahan baku sumber energi baik itu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PTLS) maupun biogas untuk memenuhi kebutuhan energi suatu kawasan/kota maupun gedung.

Pengembangan ruang terbuka hijau pada suatu kawasan/kota, salah satunya akan memberikan dampak yang positif terhadap kondisi iklim mikro kawasan/kota tersebut. Artinya semakin banyak ruang terbuka hijau, maka kondisi iklim mikro kawasan/kota akan semakin sejuk. Dengan demikian penggunaan AC (air condition) pada bangunan gedung dapat diminimalkan yang tentunya akan menciptakan efisiensi energi. Juga kaitannya dengan pengembangan sistem transportasi hijau yang berprinsip pada efisiensi penggunaan bahan bakar, ramah lingkungan, dan beroientasi pada manusia (pengembangan jalur pejalan kaki, jalur sepeda, dan angkutan umum massal), memberikan dampak terhadap penghematan energi dan lingkungan udara yang bebas polusi.

penghematan energi dan lingkungan udara yang bebas polusi. Enam atribut tersebut ( green open space, green

Enam atribut tersebut (green open space, green transportation, green building, green energy, green water, dan green waste) merupakan komponen yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya dan merupakan bagian yang harus terintegrasi dalam perencanaan dan perancangan suatu kota (green planning and design). Cita-cita Kota Hijau ini akan terwujud jika adanya kepekaan dan kepedulian yang tinggi dari seluruh elemen masyarakat kota dalam mewujudkan Kota Hijau (green community).

Bagaimana Kedudukan Kota Hijau

dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang di Indonesia ?

Berdasarkan Undang-undang No. 26 tahun 2007, sebagaimana yang telah diuraikan diatas bahawa penyelenggaraan penatan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nusantara yang aman nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Pencapaian tujuan ini memerlukan langkah-langkah sistemis dalam penyelenggaraan penataan ruang yang mencakup pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan (TURBINLAKWAS).

TUR PENGATURAN LAK Perencanaan Pemanfaatan Tata Ruang Ruang Pengendalian Pemanfaatan BIN WAS Ruang PENGAWASAN
TUR
PENGATURAN
LAK
Perencanaan
Pemanfaatan
Tata Ruang
Ruang
Pengendalian
Pemanfaatan
BIN
WAS
Ruang
PENGAWASAN
PEMBINAAN

Gambar 3. Penyelenggaraan Penataan Ruang

Kedudukan Kota Hijau dalam kerangkan penyelenggaraan penataan ruang berada pada posisi pelaksanaan penataan ruang merupakan upaya pencapaian tujuan penataan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Lingkup & Skala

Lingkup dan skala kegiatan pengembangan Kota Hijau diarahkan untuk skala kawasan sampai dengan skala kota dengan tetap mengintegrasikan dan mensinergikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan program Kota Hijau dalam lingkup komunitas/lingkungan.

program Kota Hijau dalam lingkup komunitas/lingkungan. Gambar : DED Taman Kota Sonorejo - Kab. Sukoharjo Jawa

Gambar : DED Taman Kota Sonorejo - Kab. Sukoharjo Jawa Tangah

11
8 ATRIBUT KOTA HIJAU Green Green Planing Green Community & Design Open Space Green Building
8 ATRIBUT KOTA HIJAU Green Green Planing Green Community & Design Open Space Green Building

8

8 ATRIBUT KOTA HIJAU Green Green Planing Green Community & Design Open Space Green Building Green
8 ATRIBUT KOTA HIJAU Green Green Planing Green Community & Design Open Space Green Building Green
ATRIBUT
ATRIBUT
KOTA HIJAU
KOTA HIJAU
Green Green Planing Green Community & Design Open Space Green Building Green City Green Waste
Green
Green
Planing
Green
Community
& Design
Open Space
Green
Building
Green
City
Green
Waste
Green
Green
Transportation
Energy
Green
Water
Gambar : DED Taman Kota Sonorejo Kab. Sukoharjo Jawa Tangah 14

Gambar : DED Taman Kota Sonorejo Kab. Sukoharjo Jawa Tangah

Green

Planning & Design

Apa itu Green Planning and Design ?

Green Planning and Design dapat diartikan sebagai suatu perencanaan dan perancangan wilayah/kota/kawasan yang memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan, efisiensi dalam pengalokasian sumberdaya dan ruang, mengutamakan keseimbangan lingkungan alami dan terbangun dalam rangka mewujudkan kualitas ruang wilayah/ kota/kawasan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. 1

EKONOMI LINGKUNGAN SOSIAL & BUDAYA
EKONOMI
LINGKUNGAN
SOSIAL
&
BUDAYA
berkelanjutan. 1 EKONOMI LINGKUNGAN SOSIAL & BUDAYA GREEN PLANNING AND DESIGN Gambar 4. Prinsip Pengembangan
berkelanjutan. 1 EKONOMI LINGKUNGAN SOSIAL & BUDAYA GREEN PLANNING AND DESIGN Gambar 4. Prinsip Pengembangan
GREEN PLANNING AND DESIGN
GREEN PLANNING
AND DESIGN

Gambar 4. Prinsip Pengembangan Green Planning & Design

1 Diolah dari berbagai sumber

Mengapa Kota Perlu Green Planning and Design? Kota dapat diibaratkan sebagai sebuah organisme hidup. Secara

Mengapa Kota Perlu Green Planning and Design?

Kota dapat diibaratkan sebagai sebuah organisme hidup. Secara alamiah, kota akan tumbuh dan berkembang dikarenakan daya tarik berbagai faktor sosial-ekonomi, kelengkapan infrastruktur, dan lainnya. Pertumbuhan dan perkembangan kota yang terjadi secara alami saat ini yang rakus akan lahan, ternyata menimbulkan berbagai permasalahan seperti inefisiensi pemanfaatan sumberdaya dan ruang, penurunan kualitas lingkungan, dan penurunan kualitas hidup. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dibutuhkan suatu konsep perencanaan dan perancangan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem, baik itu yang alami maupun terbangun. Salah satu konsepnya adalah Green Planning and Design.

Green Planning and Design bertujuan untuk mengarahkan pengalokasian ruang agar tercapai keseimbangan antara ruang sosial, ekonomi, dan lingkungan (lingkungan alami dan terbangun) untuk mewujudkan ruang wilayah/kota/kawasan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Melalui Green Planning and Design akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut:

• Efisiensi pemanfaatan sumberdaya dan ruang;

• Mencegah pengembangan kota yang ekspansif-horizontal, dalam kaitannya dengan pengendalian urban sprawl;

• Mampu mengantisipasi dampak terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh perkembangan kota;

• Menyediaan ruang-ruang publik yang memiliki multi fungsi (lingkungan, ekonomi, dan sosial) lebih leluasa, terencana dan teroganisir; dan

• Pengembangan ecological corridor (jejaring ruang terbuka hijau kota-wilayah) dapat lebih terintegrasi;

Bagaimana Green Planning and Design dalam Konteks Hirarki Penataan Ruang? Green Planning and Design dalam

Bagaimana Green Planning and Design dalam Konteks Hirarki Penataan Ruang?

Green Planning and Design dalam konteks hirarki penataan ruang yang berlaku di Indonesia, pada dasarnya memberikan “nuasa/ warna” terhadap isi/konten yang ada dalam dokumen rencana tersebut, mulai dari rencana umum sampai dengan rencana rinci. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tingkatan Rencana

Muatan Green Planning and Design

RTRW
RTRW
Tingkatan Rencana Muatan Green Planning and Design RTRW RDTR Mengembangkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota yang
RDTR
RDTR
Rencana Muatan Green Planning and Design RTRW RDTR Mengembangkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota yang telah
Rencana Muatan Green Planning and Design RTRW RDTR Mengembangkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota yang telah

Mengembangkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota yang telah mengadopsi prinsip- prinsip kota hijau dan menjamin karakter kota:

a) Rencana Pola Ruang yang dirumuskan harusmengacu pada prinsip:

memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan, efisiensi dalam pengalokasian sumberdaya dan ruang, mengutamakan keseimbangan lingkungan alami dan terbangun dalam rangka mewujudkan kualitas ruang wilayah/kota/kawasan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan;

arahan pengembangan kawasan terbangun perkotaan menganut prinsip-prinsip compact city dengan maksud untuk memberikan keleluasaan dalam penyediaan ruang terbuka;

alokasi untuk ruang terbuka hijau minimal 30% dimana dalam arahan pola ruangnya dibentuk sedemikian ruang, sehingga menciptakan jejaring ruang

terbuka hijau (ecological corridor) yang terintegrasi.

b) Rencana Struktur Ruang yang secara bertahap mengarah pada pengembangan green infrastructure (infrastruktur hijau), diantaranya:

pengembangan sistem transportasi yang berprinsip pada pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan, efisiensi penggunaan bahan bakar, dan berorientasi pada manusia yang meliputi pengembangan jalur-jalur khusus pejalan kaki dan sepeda, pengembangan angkutan umum massal yang memanfaatkan energi alternatif terbarukan yang bebas polusi dan ramah lingkungan, serta mempromosikan gaya hidup sehat dalam bertransportasi;

Pengembangan energi untuk kebutuhan kota dengan pemanfaatan sumberenergi yang efisien dan ramah lingkungan;

Pengelolaan limbah/sampah perkotaan dengan prinsip mengurangi sampah/limbah, mengembangkan proses daur ulang dan meningkatkan nilai tambah (konsep 3R);

Pengelolaan sumberdaya air yang efisien.

Materi dalam RDTR dalam kaitannya dengan green planning and design minimal memuat:

a) Rencana Blok (Block Plan), dimana kawasan yang merupakan bagian dari wilayah kota/perkotaan dibagi kedalam sistem blok dan zona harus memperlihatkan dengan jelas alokasi ruang untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Blok/Zona mana, penerapan blok/zona kepadatan tinggi terutama untuk daerah kawasan pusat kota, penetapan blok/zona yang dapat dikembangkan sebagai penggunaan campuran (mixed used).

b) Penerapan Ketentuan KDH (Koefisien Dasar Hijau) untuk setiap zona yang tercantum dalam ketentuan zonasinya (amplop ruang/intensitas pemanfaatan ruang).

Guna mendukung RTRW dan RDTR kedalam bentuk rencana pengembangan/pembangunan yang lebih spesifik, maka perlu dibuatkan masterplan yang terkait dengan pengembangan/pembangunan komponen kota hijau, misalnya:

Masterplan
Masterplan

Penyusunan Masterplan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau.

Mengembangkan dokumen perancangan kota (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan/RTBL) yang mengarah pada penerapan kawasan berkepadatan tinggi, mixed used, transit oriented development, dan berorientasi pada manusia (penyediaan kawasan/jalur pejalan kaki, penyandang cacat, pengguna sepeda);

Untuk mengatasi persoalan keterbatasan lahan untuk RTH, maka perlu dikembangkan dan diterapkan rancangan menghijaukan bangunan (green roof/green wall).

RTBL
RTBL
menghijaukan bangunan ( green roof/green wall ). RTBL DED Didalam Detail Engineering Desain, beberapa prinsip
DED
DED

Didalam Detail Engineering Desain, beberapa prinsip hijau (green building) yang dianut adalah:

Menerapkan standar bangunan hemat energy dan air

Memanfaatkan material lokal ramah lingkungan

Menerapkan Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Dasar Hijau yang sesuai prinsip-prinsip lingkungan (menjamin resapan air, meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan)

Tabel 1. Green Planning and Design dalam konteks hirarki penataan ruang di Indonesia

Bagaimana Merumuskan Green Planning and Design?

Dalam merumuskan konsep Green Planning and Design harus dilakukan secara sistemik dan sistematis. Sistemik berarti kita menganggap suatu kota atau kawasan yang direncanakan merupakan sub sistem dari sistem yang lebih besar, yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Sistematis berarti mengikuti proses dan prosedur yang benar dalam proses perencanaan dan perancangannya. Tahapan dalam proses merumuskan konsep Green Planning and Design adalah sebagai berikut.

1 Membangun Pengertian Dan Kesepahaman Tentang Apa Itu Green Planning And Design Di Tingkat Lokal
1
Membangun Pengertian Dan Kesepahaman Tentang
Apa Itu Green Planning And Design Di Tingkat Lokal
2
Lakukan Identifikasi dan Analisis Kondisi Eksternal dan Internal
Terkait Dengan Kota atau Kawasan yang akan Direncanakan
3
Formulasikan Apa yang Menjadi Visi, Tujuan, Sasaran
dan Issu Kunci/Utama Terkait dengan Green Planning and Design
Rumuskan Wujud Renana dan Rancangan Ruang Kota
4
atau Kawasan Masa yang Akan Datang Beserta
Alternatif/Skenario Pencapaiannya
Lakukan Penilaian terhadap alternatif/Skenario Yang Sudah Dibuat 5 Dalam Perspektif Lingkungan, Sosial-Budaya, Ekonomi,
Lakukan Penilaian terhadap alternatif/Skenario Yang Sudah Dibuat
5
Dalam Perspektif Lingkungan, Sosial-Budaya,
Ekonomi, dan Keruangan
6
Pilih Alternatif/Skenario Yang Terbaik
7
Implementasi Alternatif/Skenario Yang Terpilih
8
Pengawasan dan Pengendalian

Gambar 5. Proses merumuskan konsep Green Planning and Design

Membangun Pengertian dan Kesepahaman Tentang Apa Itu Green Planning and Design di Tingkat Lokal Tahap

Membangun Pengertian dan Kesepahaman Tentang Apa Itu Green Planning and Design di Tingkat Lokal

Tahap ini merupakan tahap awal dan juga merupakan tahap kritis dalam rangka memformulasikan konsep Green Planning and Design. Pada tahap ini dikumpulkan seluruh pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang terkait. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah FGD (Focus Group Discussion).

Dalam FGD ini, masing-masing sektor mengungkapkan pemikiran/ persepsinya tentang apa itu green planning and design. Selanjutnya dibuat pemetaan persepsi tentang apa itu green planning and design berdasarkan masing-masing sektor. Berdasarkan pemetaan persepsi tersebut, tim perumus merumuskan pengertian green planning and design yang sesuai dengan karakteristik lokal. Namun demikian prinsip keserasian dan keseimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosail-budaya dalam konteks keruangan harus menjadi pertimbangan utama.

I d e n t i f i k a s i

 
ISSU KUNCI/UTAMA
ISSU
KUNCI/UTAMA
 

dan

Analisis

K

o

n

d

i

s

i

E k s t e r n a l

ANALISIS WILAYAH PERENCANAAN
ANALISIS WILAYAH
PERENCANAAN

dan

 

Internal

Terkait

dengan

Kota

 

atau

ANALISIS KONDISI INTERNAL
ANALISIS KONDISI
INTERNAL
ANALISIS KONDISI EKSTERNAL
ANALISIS KONDISI
EKSTERNAL

Kawasan

Yang

Direncanakan

   

Pada

tahap

 

ini,

POTENSI
POTENSI
PERMASALAHAN
PERMASALAHAN
PELUANG
PELUANG
TANTANGAN
TANTANGAN

dilakukan identifikasi

 

Gambar 6. Proses identifikasi dan analisis wilayah perencanaan

dan analisis wilayah perencanaan secara komprehensif/ menyeluruh yang dilihat dari berbagai aspek, mulai dari aspek kebijakan terkait, kondisi fisik-lingkungan, sosial-budaya, dan ekonomi dalam konteks keruangan. Pada prinsipnya, pada tahap ini akan dihasilkan minimal mengenai:

Kedudukan wilayah perencanaan dalam konstelasi makro (wilayah yang lebih luas);

Potensi dan permasalahan internal wilayah perencanaan serta peluang dan tantangan dari luar wilayah perencanaan yang akan berpengaruh terhadap pengembangan wilayah perencanaan; dan

Issu kunci/utama terkait dengan pengembangan wilayah perencanaan dalam kaitannya dengan penerapan konsep green planning and design.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Formulasi Visi, Tujuan, Sasaran, Utama

dan Issu Kunci/

Sebelum kita membuat suatu EFEK DARI MASALAH UTAMA konsep rencana, tentunya harus AKIBAT didahului oleh
Sebelum
kita
membuat
suatu
EFEK DARI MASALAH UTAMA
konsep
rencana,
tentunya
harus
AKIBAT
didahului
oleh
p
e r u m u s a n
visi,
tujuan
dan
sasaran.
Perumusan tujuan
MASALAH UTAMA
perencanaan dan
p
e r a n c a n g a n
suatu
kota
atau
kawasan
harus
SEBAB
didasarkan
pada
PENYEBAB MASALAH UTAMA
kesepakatan
dan
k e s e p a h a m a n
Gambar 7. Proses perumusan visi, tujuan dan sasaran

seluruh pemangku kepentingan tentang apa yang akan dilakukan pada kota atau kawasan pada masa yang akan datang. Prinsip keserasian dan keseimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosial- budaya dalam konteks keruangan harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan tujuan perencanaan dan perancangan

kawasan.Selain itu, permasalahan atau issu kunci/utama berdasarkan hasil identifikasi dan analisis kondisi eksternal dan internal yang dilakukan pada tahap-2, juga menjadi pertimbangan.

Dalam proses memformulasikan issu kunci/utama, sebaiknya dilakukan secara terstruktur. Salah satu metodenya adalah membuat suatu pohon masalah. Pohon masalah menunjukkan masalah serta akar akibatnya, yang berarti menunjukkan keadaan sebenarnya atau situasi yang tidak diharapkan. Analisis pohon masalah membantu untuk menemukan solusi dengan memetakan sebab dan akibat disekitar masalah utama untuk membentuk pola pikir, tetapi dengan lebih terstruktur. Pendekatan yang dilakukan untuk perumusan issu kunci adalah melalui FGD yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari berbagai sektor terkait.

Perumusan Wujud Rencana dan Rancangan Kota Masa Yang Akan Datang Beserta Alternatif/ Skenario Rencana Pencapaiannya

Berdasarkan rumusan visi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang, jangka panjang misalnya 20 tahun ke depan, selanjutnya dibuat rumusan wujud rencana

dan rancangan kota masa yang akan datang beserta alternatif/ skenario pencapaiannya. Alternatif/skenario yang dibuat, juga memperhatikan permasalah atau issu utama beserta alternatif solusinya. Dari sisi kerangka

waktunya, alternatif/ skenario rencana dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

VISI, TUJUAN DAN SASARAN WUJUD KOTA HIJAU YANG DITUJU ALTERNATIF 1 ALTERNATIF 2 WAKTU SAAT
VISI, TUJUAN DAN SASARAN
WUJUD
KOTA HIJAU
YANG
DITUJU
ALTERNATIF 1
ALTERNATIF 2
WAKTU
SAAT
INI
JANGKA
JANGKA
JANGKA
PENDEK
MENENGAH
PANJANG

Gambar 8.

Proses Alternatif/

Skenario Rencana

Pencapaian

Penilaian Alternatif/Skenario

Setelah alternatif/skenario dibuat, selanjutnya dilakukan penilaian terhadap alternatif/skenario tersebut. Penilaian dimaksudkan untuk memilih alternatif mana yang paling baik/cocok. Kriteria penilaian didasarkan pada aspek lingkungan, sosial-budaya, ekonomi, dan keruangan. Berikut contoh Tabel Penilaian Skenario/Alternatif.

     

Alternatif-1

Alternatif-2

Kriteria Utama

Sub Kriteria

Bobot

Skore

Bobot X Skore

Skore

Bobot X Skore

 

Daya Dukung Lingkungan

         

Daya Tampung Lahan

         

Lingkungan

Efisiensi Pemanfaatan SD dan Ruang

         

Lainnya

         
 

Potensi Pengembangan

         

Usaha

Implementasi untuk Setiap Tahapan

         

Ekonomi

Kemampuan Pembiayaan

         

Pemda

 

Peluang Kerjasama

         

(Public-Private-

Community)

Lainnya

         
 

Keamanan

         

Kesetaraan

         

Sosial-Budaya

Kearifan Lokal

         

Lainnya

         
 

Keseimbangan Lingkungan Terbangun dan RTH

         

Kekompakan Bentuk Kota (Compact City)

         

Keruangan

Pola Penggunaan Campuran (Mixed Used)

         

Pengembangan Kawasan Berorientasi Pada Manusia (misal Kawasan pejalan kaki)

         

Lainnya

         

TOTAL

           

Tabel 2. Tabel Penilaian Skenario/Alternatif

Pemilihan Alternatif/Skenario

Berdasarkan hasil penilaian multi kriteria yang dilakukan pada Tahap-5, selanjutnya dapat dipilih alternatif/skenario yang terbaik atau paling cocok untuk diterapkan. Alternatif/skenario terpilih adalah yang memiliki nilai total (bobot x skore) yang paling tinggi.

Implementasi Alternatif/Skenario Terpilih

Setelah terpilih alternatif/skenario mana yang terbaik/cocok, selanjutnya dilakukan implementasi pembangunan. Dalam implementasi rencana tersebut, dilakukan berdasarkan tahap pembangunan yang sudah direncanakan, rencana investasi dan pembiayaan pembangunan, kelembagaan pengelola pembangunan, dan sharing pembiayaan pembangunan (pemerintah, daerah, swasta, dan masyarakat).

Pengawasan dan Pengendalian

Pengawasan dan pengendalian merupakan hal yang harus dilakukan agar implementasi dari rencana dan rancangan kota yang sudah dibuat dapat berjalan sesesuai dengan rencana.

kota yang sudah dibuat dapat berjalan sesesuai dengan rencana. Jalur Hijau & Taman Kota Jl. Udayana

Jalur Hijau & Taman Kota Jl. Udayana - Kota Mataram

Bentuk atau Model Green Planning and Design

COMPACT CITY

• menekankan pada usaha untuk mengurangi/mengendalikan perluasan area kota yang dari waktu ke waktu semakin luas yang diakibatkan oleh urban sprawl.

• adanya usaha untuk melakukan simbiosis antara alam dan populasi tinggi, misalnya dengan pengembangan/pembangunan bangunan- bangunan vertikal sehingga kebutuhan akan ruang terbuka hijau dapat terpenuhi.

Konsep ini telah berhasil diterapkan di beberapa kota di negara maju. Contohnya di Kota Tokyo dan Kobe di Jepang. Di kota-kota tersebut telah dibuktikan bahwa untuk satu node compact city dapat direduksi sekitar 30% dampak dari permasalahan urban sprawl. Konsep seperti ini seharusnya dapat diadopsi dalam proses perencanaan kota-kota di Indonesia.

diadopsi dalam proses perencanaan kota-kota di Indonesia. Kawasan perkotaan terpadu dengan gedung-gedung tinggi yang

Kawasan perkotaan terpadu dengan gedung-gedung tinggi yang dikelilingi oleh penghijauan.

Rasuna Epicentrum: dengan produknya yang dikembangkan adalah ; apartement, perkantoran, pusat hiburan dan hotel. MIXED

Rasuna Epicentrum: dengan produknya yang dikembangkan adalah ; apartement, perkantoran, pusat hiburan dan hotel.

MIXED USED

Mixed-Use Development adalah suatu pengembangan produk properti yang terdiri dari baik itu produk perkantoran, hotel, tempat tinggal, komersial yang di kembangkan menjadi satu kesatuan atau minimal dua produk properti yang dibangun dalam satu kesatuan. Konsep ini menjawab kebutuhan akan optimalisasi return pada suatu lahan untuk pengembangan produk properti. Dimana disinilah adanya konsep deferensiasi produk serta ada beberapa macam produk yang dapat ditawarkan. Konsep ini juga cukup menjawab permasalahan pengembangan properti pada suatu wilayah ataupun perkotaan. Isu-isu permasalahan perkotaan yang kerap muncul dalam hal pengembangan infrastruktur dan properti, yaitu :

• Keterbatasan Lahan & Nilai Lahan (Sistem Pertanahan & Harga Patokan)

• Keterbatasan Sumber Daya (Alam, Manusia, Buatan)

• Peraturan (Pertanahan, Zoning Regulation)

• Tata Nilai Perkotaan (Keteraturan dan Ketertiban)

• Urbanisasi

• Penyediaan Prasarana Dasar (Air, Listrik, rumah)

• Jumlah Penduduk Yang Besar

KAWASAN PEJALAN KAKI

Adalah suatu kawasan khusus bagi pejalan kaki, biasanya ditempatkan dikawasan tempat bermain anak, dipusat perbelanjaan yang sebelumnya dibuka untuk lalu lintas kendaraan yang ditutup untuk lalu lintas kendaraan, pada kasus-kasus tertentu ada kawasan pejalan kaki yang membolehkan bus atau trem untuk tetap bisa masuk. Kawasan pejalan kaki biasanya dilengkapi dengan kursi, patung atau taman. Akses ke kawasan pejalan kaki secara terbatas bisa diberikan untuk:

• kendaraan yang mengantar pasokan ke pertokoan, yang biasanya waktunya sangat dibatasi.

• Kendaraan darurat seperti pemadam kebakaran, ambulans

• Kendaraan patroli polisi

pemadam kebakaran, ambulans • Kendaraan patroli polisi Kawasan pejalan kaki di pusat kota Stockholm, Swedia TRANSIT

Kawasan pejalan kaki di pusat kota Stockholm, Swedia

TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT

Transit Oriented Development atau disingkat menjadi TOD merupakan salah satu pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal seperti Busway/BRT, Kereta api kota (MRT), Kereta api ringan (LRT), serta dilengkapi jaringan pejalan kaki/ sepeda. Dengan demikian perjalanan/trip akan didominasi dengan menggunakan angkutan umum yang terhubungkan langsung dengan tujuan perjalanan. Tempat perhentian angkutan umum mempunyai kepadatan yang relatif tinggi dan biasanya dilengkapi dengan fasilitas parkir, khususnya parkir sepeda.

Berdasarkan penerapan TOD di beberapa kota besar menunjukkan penurunan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, karena

Berdasarkan penerapan TOD di beberapa kota besar menunjukkan penurunan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, karena adanya pilihan yang cepat, murah dan mudah mencapai tujuan hanya dengan hanya berjalan kaki, berjalan kaki, menggunakan angkutan umum, masyarakat tidak perlu repot mencari tempat parkir, membayar biaya parkir yang tinggi, biaya operasi yang tinggi pula.

TOD harus ditempatkan:

• Pada jaringan utama angkutan massal

• Pada koridur jaringan bus/ BRT dengan frekuensi tinggi

• Pada jaringan penumpang bus yang waktu tempuhnya kurang dari 10 menit dari jaringan utama angkutan massal.

Kalau persyaratan diatas tidak dipenuhi oleh suatu kawasan maka perlu diambil langkah untuk menghubungkan dengan angkutan massal, disamping itu yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah frekuensi angkutan umum yang tinggi.

Ada beberapa ciri tata ruang campuran yang bisa dicapai dengan mudah cukup

yang tinggi. Ada beberapa ciri tata ruang campuran yang bisa dicapai dengan mudah cukup Gambar 9.

Gambar 9. Skema jaringan TOD

berjalan kaki atau bersepeda. Beberapa ciri penting yang akan terjadi dalam pengembangan TOD, yaitu:

• Penggunaan ruang campuran yang terdiri dari pemukiman, perkantoran, serta fasilitas pendukung.

• Kepadatan penduduk yang tinggi yang ditandai dengan bangunan apartemen, condominium.

• Tersedia fasilitas perbelanjaan, kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan.

kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan. Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta 29
kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan. Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta 29
kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan. Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta 29
kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan. Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta 29
kesehatan, pendidikan hiburan, olahraga, perbankan. Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta 29

Kawasan Bisnis dan Hunian Terpadu - SCBD Sudirman, Jakarta

30 30

Panorama Kota Bau-Bau diambil dari pesawat

Green Open Space

Apa itu Green Open Space ?

Green open space, diartikan sebagai Ruang Terbuka Hijau, merupakan area memanjang/ jalur dan atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Green open space, adalah bagian dari ruang-ruang terbuka suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut (yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan.

Mengapa kota perlu menyediakan Green Open Space ?

Perkotaan menghadapi permasalahan yang semakin rumit di atasi. Tingkat polusi yang tinggi, meningkatnya suhu udara (urban heat island), kemiskinan serta berkembangnya sifat individualistis masyarakat, hal ini terjadi dan semakin menghawatirkan diperkotaan. Green open space merupakan sarana untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Ada beberapa peranan Green Open space, yang sangat menonjol antara lain adalah fungsi ekologis, fungsi sosial budaya, fungsi planologis, fungsi ekonomi dan fungsi estetika.

Fungsi ekologis/lingkungan ;

Meliputi berbagai fungsi antara lain alomerasi iklim, perlindungan hidro orologis, pereduksi polutan serta habitat satwa liar.

1. Bernatzky (1978), setiap 1 ha RTH yang ditanami pepohonan, perdu, semak dan penutup tanah, dengan jumlah luas permukaan daun seluas 5 ha, mampu mengisap 900 kg CO2 dari udara dan melepaskan 600 kg O2 dalam waktu 12 jam. 2. Purnomohadi (1995), suhu di sekitar kawasan RTH (dibawah pohon teduh) di Jakarta, menurun 2- 4 derajat celcius. 3. Austin et.al (1985), iklim mikro dan suhu lokal yang terbentuk oleh deretan pepohonan, menunjukan aliran udara yang masuk ke bagian bawah diantara batang-bantang pohon tersebut, turun sebanyak 10 – 20 %. 4. Carpenter (1975), RTH kota dengan ukuran ideal (0,4 ha), mampu meredam 25 – 80% kebisingan. 5. Vegetasi selain produsen pertama dalam ekosistem, juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat) bagi makhluk hidup lainnya (Zoer’aini Djamal. 1997).

Fungsi sosial budaya ;

Semua tingkatan usia manusia akan selalu membutuhkan green open space. Bayi membutuhkan tempat terbuka untuk berjemur, anak–anak membutuhkannya untuk menyalurkan energinya yang berlimpah berlari dan bermain sekaligus untuk mempelajari dunia di ruang terbuka. Remaja membutuhkan green open space untuk mengekpresikan dirinya melalui pengembangan kratifitas dan interaksi sesamanya. Dewasa membutuhkan sarana berolahraga untuk menjaga kebugaran, serta sarana interaksi sosial sesama anggota masyarakat.

Fungsi Planologis :

Perkembangan kota harus di kendalikan. Green open space merupakan pembatas perkembangan kota secara horizontal. Pertumbuhan kota yang melebar secara horizontal akan merusak keseimbangan ekologis, sosial dan ekonomi. Kota semacam ini akan memiliki masalah dalam pelayanan air bersih, listrik, pelayanan transportasi dan mengganggu penyediaan sumberdaya bagi kebutuhan masyarakat kota. Penyebaran RTH di perkotaan harus sejalan dengan penyebaran struktur kota. Penyebaran struktur kota dengan jalur-jalur

penghubung yang dilengkapi RTH, akan mewujudkan konektifitas RTH melalui jalur, bercak dan matrik, yang akan mempertahankan keanekaragaman hayati, sebagai modal stabilitas dan sustainabilitas lingkungan perkotaan. Gambar berikut ini menggambarkan struktur RTH dalam wilayah kota. (Budyono,2006).

Koridor Sungai Jalur Hijau Jalan Taman Regional Taman Perumahan Sabuk Hijau
Koridor Sungai
Jalur Hijau Jalan
Taman
Regional
Taman
Perumahan
Sabuk Hijau

Gambar 10. Struktur rth dalam wilayah kota

Fungsi Ekonomi :

Green open space seperti jalur hijau sungai, hutan kota, jalur hijau KA, jalur hijau listrik tegangan tinggi, bisa menjadi sumber daya bagi masyarakat untuk memberikan kontribusi berbagai kebutuhan seperti tanaman obat, sayuran dan buah-buahan. Potensi ini bisa membentuk kota yang kreatif melalui kegiatan urban farming.

Taman kota telah menjelma menjadi sumber pendapatan masyarakat bahkan sumber pendapatan kota. Dari mulai yang kecil pedagang rokok asongan di taman-taman kota, PKL, pedagang musiman di hari minggu pagi, sampai pertunjukan musik yang bernilai ratusan juta rupiah. Taman kota menjadi potensi bagi membangkitkan perekonomian masyarakat, kecenderungan munculnya pedagang di hari minggu pagi, saat orang berkumpul di taman kota, menjadi indikasi fungsi ekonomi green open space, telah berkembang di perkotaan.

Fungsi estetis :

Fungsi estetis dipengaruhi oleh kualitas visual. Kualitas visual ialah persepsi seseorang terhadap rangsangan yang dilihatnya berdasarkan interaksi mata dan emosi serta intelegensi dan skemata yang dimilikinya, sehingga dapat menetapkan baik dan buruknya sesuatu.

Green Open space adalah elemen estetis kota, tanaman dengan bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan arsitektur sarana fisik untuk mendapatkan komposisi dengan baik. Nuansa hijau yang dipancarkan berbagai jenis tumbuhan disatukan oleh hamparan rumput dengan aksen warna-warni tanaman hias serta dinamika burung berloncatan dari dahan ke dahan, merupakan keindahan yang dipancarkan sebuah RTH. Tidak hanya taman yang dapat memancarkan keindahan semacam ini. Jalur hijau jalan, sungai, jaringan utilitas dapat memancarkan keindahan tersendiri dari tegakan pohon berbagai bentuk tajuk serta keteduhan dan ketenangan yang dipancarkannya. Hal ini sangat terasa pada RTH yang dikatagorikan sebagai hutan kota.

Hutan kota yang tidak banyak kita miliki di perkotaan ini, disamping memiliki fungsi ekologis yang sangat menonjol, juga memiliki fungsi estetis yang tidak kalah kuatnya. Coba rasakan saat anda duduk dibawah tegakan, ada rasa yang sulit digambarkan dipancarkan oleh kerimbunan pohon disekeliling kita. Hutan Kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya, yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman dan estetis (Zoeráini Djamal,

1997).

Bagaimana Mewujudkan Green Open Space?

Tahapan penyediaan RTH (Green open space) harus merupakan bagian integral dari rencana tata ruang wilayah, sesuai dengan tingkatan dan skala perencanaan (RTRWN, RTRWP, RTRW, RDTR).

tingkatan dan skala perencanaan (RTRWN, RTRWP, RTRW, RDTR). Gambar 11. Penyediaan Green Open spaces dalam setiap

Gambar 11. Penyediaan Green Open spaces dalam setiap tingkatan rencana

Agar keberadaan Green open space di perkotaan dapat berfungsi secara efektif baik secara ekologis maupun secara planologis, pengembangan Green Open space tersebut sebaiknya dilakukan secara hirarkhis dan terpadu dengan sistem struktur ruang yang ada di perkotaan. Dengan demikian keberadaan Green open space bukan sekedar menjadi elemen pelengkap dalam perencanaan suatu kota semata, melainkan lebih merupakan (sebagai) pembentuk struktur ruang kota. Sehingga kita dapat mengidentifikasi hierarki struktur ruang kota melalui keberadaan komponen pembentuk Green Open Space yang ada. Bentuk dan struktur RTH disesuaikan dengan hierarki wilayah yang dilayaninya

HIRARKI

RTH LINTAS

WILAYAH

RTH WILAYAH

WILAYAH

RTH SUB

WILAYAH

RTH KOTA

RTH

PEMUKIMAN

RTH

PERUMAHAN

FUNGSI PEDOMAN

GANDA

GANDA EKOLOGIS WILAYAH EKOLOGIS GANDA

EKOLOGIS

WILAYAH

GANDA EKOLOGIS WILAYAH EKOLOGIS GANDA

EKOLOGIS

GANDA

SOSIAL EKONOMI

WILAYAH

SOSIAL

Gambar 12. Bentuk dan Struktur RTH Publik

BENTUK FISIK

EKONOMI WILAYAH SOSIAL Gambar 12. Bentuk dan Struktur RTH Publik BENTUK FISIK KAWASAN/ JALUR/ AREA KORIDOR
EKONOMI WILAYAH SOSIAL Gambar 12. Bentuk dan Struktur RTH Publik BENTUK FISIK KAWASAN/ JALUR/ AREA KORIDOR
EKONOMI WILAYAH SOSIAL Gambar 12. Bentuk dan Struktur RTH Publik BENTUK FISIK KAWASAN/ JALUR/ AREA KORIDOR
EKONOMI WILAYAH SOSIAL Gambar 12. Bentuk dan Struktur RTH Publik BENTUK FISIK KAWASAN/ JALUR/ AREA KORIDOR
KAWASAN/ JALUR/ AREA KORIDOR
KAWASAN/
JALUR/
AREA
KORIDOR

Secara hirarkhis dari mulai unit perumahan terkecil (RT/RW), kelurahan, kecamatan, wilayah kota, hingga ke tingkat kota/ kota besar, dikembangkan elemen-elemen RTH yang sesuai dengan tingkat pelayanannya sebagaimana tertera pada Gambar dan Tabel berikut.

Gambar 13. RTH Publik dalam Tata Ruang Kotaç

T O A K / S A A T T N O E A K
T
O
A
K
/
S
A
A
T
T
N
O
E
A
K
L
T
I
I
T
K
E
L
C
O
A
P
M
O
A
R
T
T
E
A
M
N
/
R
A
S
RW
E
TAMAN KECAMATAN
RUMAH
B
TAMAN
KELURAHAN
A
T
O
K
TAMAN KOTA
TAMAN METROPILITAN

KELURAHAN

 

Hirarki

 

Fasilitas Umum dan sosial

 

Kawasan

Fungsi Pelayanan

Ruang Terbuka Hijau

Pusat Kota

• Melayani fungsi- fungsi regional kawasan

• Pusat perdagangan dan bisnis

• Taman kota, green- belt, hutan kota,

• Perkantoran

taman botani dll.

• Pemenuhan kebutuhan insidentil seperti RS besar, pe3ndidikan tinggi, jasa perbankan dan koneksi terhadap jaringan transportasi regioanal/ antar kota

• Perdagangan dan jasa skala besar

• Fasilitas olahraga:

stadion sepakbola

• Rumah sakit pusat, saran pendidikan lanjutan

skala regional/ nasional.

• Jalur-jalur hijau

• Sarana hiburan dan rekreasi kota

pada koridor jalan utama

• Danau dan area retensi pengendali banjir

Sub Pusat

• Melayani kegiatan

• SMA, Sekolah

• Taman kecapmatan, jogging track.

(

Kecama-

ekonomi –sosial di tingkat kecamatan

Tinggi, perustakaan wilayah,.

tan)

• Fasilitas olahraga,

• Pemenuhan kebutuhan bulanan (Pusat perbelanjaan, pasar tradisional dan jasa perbankan)

• Pasar Kecamatan

stadion mini kolam

• Fasilitas perbankan. Pos dan giro

renang.

• Sempadan sungai,

• Saran rekreasi (bioskop arena hiburan dan lain- lain)

situ, dan kolam- kolam retensi

 

Urban farming, kebon bibit, taman bunga dll.

Lokal

• Pusat kegiatan lokal

• Pendidikan menen-

• Taman Kelurahan, taman bunga.

(

Kelurahan)

• Pemenuhan kebutu- han mingguan (belanja, bank, rekreasi)

gah SMP, Sekolah kejuruan, kursus keterampilan

 

• Sarana olahraga lapangan bola,

• Sarana ibadah :

lapangan basket dll

 

Mesjid besar,

• TPU

Gereja.

Sub Lokal

• Kawasan hunian

• Taman kanak-kanak,

• Taman bermain (play ground)

(

RT / RW )

(domitory area)

sekolah dasar

 

• Pemenuhan kebutuhan sehari- hari (Pendidikan dasar, ibadah, interaksi sosial, belanja harian dll.)

• Sarana Ibadah

• Lapangan olahraga

• Pertokoan kecil, warung serba ada

(volley tennis, badminton dll)

• Sarana transportasi ojek, Becak dll)

• Taman taman privat, roof garden dll.

Tabel 3. Struktur Tata Ruang dan RTH

Tahapan Perwujudan Green Open Space

Terdapat 3 (tiga) tahapan utama dalam perwujudan RTH seperti terlihat pada Gambar di bawah ini :

Penyusunan Master Plan RTH

Penyusunan Master Plan RTH • Identifikasi penyebaran struktur kota serta peruntukan lahannya, sesuai rencana tata ruang

• Identifikasi penyebaran struktur kota serta peruntukan lahannya, sesuai rencana tata ruang yang berlaku.

• Identifikasi arahan RTH yang telah di tentukan dalam rencana tata ruang, meliputi Kawasan perlindungan di bawahnya, Kawasan Perlindungan setempat, Kawasan rawan bencana, kawasan Budidaya.

setempat, Kawasan rawan bencana, kawasan Budidaya. Identifikasi kebutuhan RTH melalui pendekatan jumlah

Identifikasi kebutuhan RTH melalui pendekatan jumlah penduduk, fungsi khusus serta peraturan, ketentuan terkait.

penduduk, fungsi khusus serta peraturan, ketentuan terkait. Alokasi dan penyebaran RTH mengacu pada penyebaran struktur
penduduk, fungsi khusus serta peraturan, ketentuan terkait. Alokasi dan penyebaran RTH mengacu pada penyebaran struktur

Alokasi dan penyebaran RTH mengacu pada penyebaran struktur kota, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

Penyusunan DED RTH

aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Penyusunan DED RTH Pembangunan RTH Pengendalian & Pemanfaatan Kepastian

Pembangunan RTH

ekonomi dan lingkungan. Penyusunan DED RTH Pembangunan RTH Pengendalian & Pemanfaatan Kepastian dan keputusan

Pengendalian

& Pemanfaatan

Kepastian dan keputusan status lahanDED RTH Pembangunan RTH Pengendalian & Pemanfaatan • • Pembuatan Gambar Kerja, RAB, RKS Taman

Pembuatan Gambar Kerja, RAB, RKS

Taman Lingkungan, Taman Kota, Hutan Kota, TPU status lahan • • Pembuatan Gambar Kerja, RAB, RKS • • Jalur hijau sungai/listrik/Jalan / Jalur

Jalur hijau sungai/listrik/Jalan / Jalur KA

Green belt, Urban farm.

sungai/listrik/Jalan / Jalur KA • Green belt, Urban farm. Optimasi pemanfaatan RTH • • • Pemeliharaan

Optimasi pemanfaatan RTH

Pemeliharaan

Pencegahan perubahan peruntukan/ Jalur KA • Green belt, Urban farm. Optimasi pemanfaatan RTH • • • Pemeliharaan

Gambar 14. Tahapan utama dalam perwujudan RTH

Taman Kota Jam Gadang - Kota Bukittinggi

Bentuk Green Open Space di Kawasan Perkotaan

TAMAN LINGKUNGAN DAN TAMAN KOTA

Apakah Taman Lingkungan dan Taman Kota?

Taman Lingkungan dan Taman Kota disediakan secara berjenjang, melayani jumlah penduduk tertentu. Taman Lingkungan berada disekitar rumah atau lingkungan tempat tinggal kita. Taman ini disamping menjadi tempat tumbuh berbagai tanaman, juga berfungsi sebagai area bermain anak, remaja bahkan sebagai tempat untuk seluruh warga melakukan interaksi sosial, seperti bersilaturahmi, ngobrol atau sekedar bersantai. Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa taman lingkungan memiliki fungsi yang khas yaitu memiliki fungsi sosial, ini yang membedakan antara taman lingkungan dengan pulau jalan. Ukuran taman lingkungan bervariasi idealnya yang terkecil berukuran 250 m 2 .

Taman Kota, berada di pusat kota atau bagian wilayah kota. Taman ini untuk melayani seluruh atau sebagian masyarakat kota, berolahraga, pameran pembangunan atau kegiatan lainnya yang memiliki skala kota.

Taman P2KH Kabupaten Bandung

Taman P2KH Kabupaten Kuningan

Taman P2KH Kabupaten Tasikmalaya

Taman P2KH Kabupaten Bekasi

Taman P2KH

Kabupaten Kendal

Taman P2KH Kabupaten Kendal Taman P2KH Kabupaten Pekalongan

Taman P2KH

Kabupaten Pekalongan

Taman P2KH Kota Semarang

Taman P2KH Kab Sukoharjo Taman P2KH Kota Salatiga Taman P2KH Kab Sukoharjo Taman P2KH Kota
Taman P2KH Kab Sukoharjo
Taman P2KH Kota Salatiga
Taman P2KH Kab Sukoharjo
Taman P2KH Kota Solo

Taman Lingkungan Melayani setiap 250 Penduduk.

Untuk perkotaan di P Jawa, taman ini melayani penduduk dalam satu rukun tetangga (RT), untuk melayani kegiatan bermain anak usia balita, kegiatan sosial para ibu rumah tangga serta para manula. Luas taman ini adalah minimal 1 m 2 per penduduk, dengan luas minimal 250 m 2 . Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.

Fasilitas yang harus disediakan adalah setidaknya tersedia bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 40% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman, juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

Taman Kota Lestari Kabupaten Bogor
Taman Kota Lestari Kabupaten Bogor

Taman Lingkungan Melayani setiap 2500 Penduduk.

Taman yang ditujukan untuk melayani penduduk khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan lainnya. Luas taman ini minimal 0,5 m 2 per penduduk, dengan luas minimal 1.250 m 2 . Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 meter dari rumah- rumah penduduk yang dilayaninya.

Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% dari luas taman sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan, juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

Taman Kota - Kota Padang

Taman Kota - Kota Padang Taman Kota Melayani setiap 30.000 penduduk Luas taman ini minimal 0,30

Taman Kota Melayani setiap 30.000 penduduk

Luas taman ini minimal 0,30 m 2 per penduduk kelurahan, dengan luas minimal taman 9.000 m 2 .

Taman ini dapat berupa taman aktif , dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif, dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan. Lebih dari 60 % taman ini berupa ruang hijau yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman (Pohon, Perdu dan semak).

Taman Kota Melayani setiap 120 000 penduduk.

Taman ini ditujukan untuk melayani setiap 120.000 penduduk. Luas taman ini minimal 0,2 m 2 per penduduk, dengan luas taman minimal 24.000 m 2 . Lokasi taman berada di pusat kota atau bagian wilayah kota.

Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga (lapangan serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif dimana aktifitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan.

Taman Kota Melayani 480.000 penduduk

Taman ini ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000 penduduk dengan standar minimal 0,3 m 2 per penduduk kota, dengan luas taman minimal 144.000 m 2 . Taman ini dapat berbentuk lapangan hijau. Taman ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olahraga dengan ruang hijau 30%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.

Setiap 1 ha RTH yang ditanami pepohonan, perdu, semak dan penutup tanah, dengan jumlah luas permukaan daun seluas 5 ha, mampu mengisap 900 kg CO 2 dari udara dan melepaskan 600 kg O 2 dalam waktu 12 jam. (Zoer’aini Djamal. 1997).

Suhu di sekitar kawasan RTH dibawah pohon teduh di Jakarta, menurun 2- 4 derajat celcius. (Purnomohadi, 1994).

dibawah pohon teduh di Jakarta, menurun 2- 4 derajat celcius. (Purnomohadi, 1994). Taman Putroe Phang -

Taman Putroe Phang - Kota Banda Aceh

Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45
Contoh Taman Kota di Nusantara 45

Contoh Taman Kota di Nusantara

Contoh Taman Kota di Nusantara 45

vv

Hutan Kota

Komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya, berbentuk jalur jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk). Struktur menyerupai hutan alami, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa liar dan menimbulkan lingkungan sehat, suasana nyaman sejuk dan estetis (Zoer’aini Djamal. 1997).

Hutan kota berperan dalam :

a)

memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika;

b)

meresapkan air;

c)

menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota; dan

d)

mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

Luas Hutan Kota sedikitnya 10% dari luas kota atau di sesuaikan dengan kondisi fisik kota tersebut.

Fungsi Hutan Kota sangat tergantung pada komposisi dan jenis dari komunitas yang menyusunnya dan tujuan perancangannya. Fungsi Huta Kota dapat dikelompokan menjadi 3 fungsi (Zoer’aini Djamal. 1997) :

Fungsi lansekap :

a. Fungsi fisik, vegetasi sebagai unsur struktural berfungsi melindungi kondisi fisik disekitarnya terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang buruk dan bau. Peran Arsitektural hutan kota melalui vegetasinya meliputi menghubungkan bangunan dengan tapak di sekitarnya, menyatukan dan menyelaraskan lingkungan yang bekesan tidak beraturan, memperkuat lokasi tertentu di sekitarnya.

b. Fungsi sosial, merupakan tempat interaksi sosial masyarakat perkotaan, memberikan nilai-nilai ilmiah sehingga dapat menjadi laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Hutan kota dapat menjadi sumber pendapatan penduduk melalui buah-buahan, obat-obatan, warung hidup dan apotek hidup.

Fungsi Pelestarian Lingkungan ( ekologi ) :

a. Menyegarkan udara atau sebagai “paru - paru kota”, dengan mengisap CO 2 dan melepaskan O 2 segar ke udara.

b. Menurunkan suhu kota dan meningkatkan kelembaban udara. Proses respirasi akan menghasilkan uap air yang akan menurunkan suhu kota dan meningkatkan persentase kelembaban udara.

c. Sebagai ruang hidup Satwa, seperti populasi burung, serangga yang sangat berperan dalam penyerbukan dan pemencaran biji.

d. Pencegah dan perlindungan permukaan tanah dari erosi. Tajuk pohon, perdu, semak dan penutup tanah serta seresah akan melindungi permukaan tanah dari benturan air hujan dan angin, meningkatkan resapan air dan menghambat erosi.

e. Mengendalikan dan mengurangi polusi udara dan limbah. Fungsi ini meliputi mengurangi polusi udara dan limbah, menyaring debu. Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur seperti garam sulfat, sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi, silika, jelaga dan unsur kimia lainnya. Pencemaran debu secara langsung dapat mnyebabkan kerusakan pada organ pernafasan dan kulit.

f. Peredam kebisingan. Gelombang suara diarbsorpsi oleh daun, cabang, ranting dari pohon dan semak.

diarbsorpsi oleh daun, cabang, ranting dari pohon dan semak. Hutan Kota dapat menurunkan kadar debu sebesar

Hutan Kota dapat menurunkan kadar debu sebesar 46,13% di siang hari pada permulaan musim hujan. Hutan kota berstrata banyak lebih efektif menurunkan kadar debu sebesar 53,56% dibandingkan dengan hutan kota yang berstrata dua yang menurunkan kadar debu sebesar 42,89%. ( Zoer’aini Djamal. 1997)

Telah dipostulasikan bahwa bagian tanaman yang paling efektif untuk absorpsi suara adalah bagian yang memiliki daun tebal, berdaging dengan banyak petiole. Kombinasi ini memberikan tingkat fleksibilitas dan vibrasi tertinggi ( Robinette, 1972 dalam Djamal Irwan. 1994.)

Hutan Kuta - Kota Kupang Fungsi estetika. Kualitas visual vegetasi berupa ukuran, bentuk, warna dan

Hutan Kuta - Kota Kupang

Fungsi estetika.

Kualitas visual vegetasi berupa ukuran, bentuk, warna dan tekstur tanaman serta unsur komposisi dan hubungannya dengan lingkungan perkotaan disekitarnya, merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas estetika. Penilaian estetika terhadap dua jenis pohon dominan yang tumbuh dalam masing-masing hutan kota, digabungkan dengan penilaian asosiasi vegetasi hutan kota yang berstrata banyak mempunyai nilai estetika lebih tinggi daripada hutan kota berstrata dua.

Hutan kota dapat berbentuk:

a) Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal, dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan.

b) Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu dengan Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil.

c) Berbentuk jalur: komunitas vegetasi yang tumbuh pada lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya.

Struktur hutan kota dapat terdiri dari:

a) Hutan kota berstrata dua, yaitu hanya memiliki komunitas tumbuh-tumbuhan pepohonan dan rumput.

b) Hutan kota berstrata banyak, yaitu memiliki komunitas tumbuh- tumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput, juga terdapat semak, terna, liana, epifit dengan banyak anakan dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan.

Struktur vegetasi berstrata banyak ternyata paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota ( suhu udara, kebisingan debu dan kelembaban udara ). Hasil analisis secara multidimernsi dari lima jenis hutan kota, ternyata hutan kota yang berbentuk menyebar strata banyak paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota di sekitarnya. (Zoer’aini Djamal. 1997).

menyebar strata banyak paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota di sekitarnya. (Zoer’aini Djamal. 1997). 49

Tempat

Pemakaman

Umum

Tempat Pemakaman Umum ( TPU )

Tempat pemakaman umum (TPU), merupakan fasilitas sosial yang disediakan pemerintah untuk melayani masyarakat dalam hal penguburan serta aktifitas ritual lainnya. Dilihat dari sisi fungsi sosial maka pemakaman adalah ruang terbuka untuk umum, sehingga sangat memungkinkan memiliki fungsi ganda sebagai RTH, khususnya berperan seperti halnya taman pasif. Pemakaman adalah ruang terbuka yang difungsikan fungsi untuk kelembagaan lain (Rapuarno and Wigjuniton, 1964). Fungsi utama TPU sebagai RTH seyogianya harus tetap di pertahankan.

Standar kebutuhan TPU adalah 1,2 m 2 /penduduk (Permenpu 5/PRT/ m2008), atau menyesuaikan dengan RDTRW setempat. Kesulitan penyediaan pemakaman yang terjadi di banyak kota besar di Indonesia, harus diatasi dengan merubah disain makam pada bentuk makam yang memperkuat fungsi RTH tetapi daya tampung makam menjadi lebih banyak .

Untuk mengembalikan TPU sebagai RTH kota, maka makam dengan bangunan beton harus dirubah, dengan makam tanpa beton. Model makam tanpa gundukan tanah meningkatkan fungsi RTH TPU, serta meningkatkan daya tampung makam.

Kepadatan makam makam beton di TPU Muslim di Kota Bandung 50 – 70/100 m 2 dengan BCR antara 33 – 79,25%. Penerapan makam tanpa gundukan tanah mampu meningkatkan daya tampung makam potensial di TPU Muslimin di Kota Bandung sebanyak 41,87%, serta menurunkan BCR menjadi 24%. ( Firmansam. 2012 ).

makam potensial di TPU Muslimin di Kota Bandung sebanyak 41,87%, serta menurunkan BCR menjadi 24%. (
makam potensial di TPU Muslimin di Kota Bandung sebanyak 41,87%, serta menurunkan BCR menjadi 24%. (
makam potensial di TPU Muslimin di Kota Bandung sebanyak 41,87%, serta menurunkan BCR menjadi 24%. (
makam potensial di TPU Muslimin di Kota Bandung sebanyak 41,87%, serta menurunkan BCR menjadi 24%. (

51

Jalur Hijau

Manfaat penyediaan Jalur Hiaju

Jalur hijau merupakan RTH berbentuk memanjang mengikuti jalan, sungai atau jaringan utilitas lainnya dan fungsi tertentu di perkotaan.

Secara struktural jalur hijau berfungsi untuk membatasi jalan, sungai dan jaringan utilitas lainnya dari gangguan berbagai aktifitas perkotaan atau meningkatkan keamanan bagi masyarakat terhadap dampak negatif dari jaringan yang dibatasinya.

Secara fungsional jalur hijau merupakan tempat tumbuh berbagai jenis tumbuhan yang berperan sebagai pembatas perkembangan kota, serta menjadi jalur penghubung antara RTH di perkotaan sehingga membentuk konektifitas antara satu RTH dengan RTH lainnya baik di dalam maupun di tepian kota.

Jenis jalur Hijau di Perkotaan

Berbagai jenis jalur hijau yang bisa di kembangkan di perkotaan menginguti jalur penghubung antara struktur di kota tersebut antara lain :

• Jalur Hijau Jalan

• Jalur Hijau jalan bebas hambatan (TOL)

• Jalur Hijau jalan Kereta Api

• Jalur Hijau sempadan sungai / badan air

• Jalur hijau sempadan Jaringan Listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET).

• Jalur hijau batas kota

• Jalur hijau fungsi khusus, misalnya pembatas industri, pertambangan, sumber air.

Jalur Hijau Jalan Kota Kupang

Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta

Bentuk Jalur Hijau

Jalur hijau dapat berbentuk hutan kota berstrata dua atau berstrata banyak, yaitu dipenuhi dengan berbagai jenis pohon tahunan dibagian bawah berupa ground cover yang memungkinkan orang untuk melakukan aktifitas, atau dipenuhi dengan perdu dan semak sehingga menyerupai hutan alami. Jalur hijau dapat pula berupa taman yang di tata secara estetis, sehingga menjadi tempat yang rekreasi dan atifitas masyarakat.

Pada prisnsipnya kedua jenis bentuk jalur hijau tersebut cukup di dominasi dengan pohon, sehingga memiliki peran ekologis yang kuat sebagai pencipta iklim mikro, wildlife habitat, peningkatan keragaman hayati serta melindungi elemen utamanya dari perkembangan perkotaan.

Booth (1979), Jalur Hijau dengan lebar 183 meter, dapat mengurangi pencemaran udara sampai 75%. Wargasasmita et al (1991). Tumbuhan dapat mengakumulasi Pb pada daun dan kulit batangnya. Kandungan Pb lebih banyak pada tanaman tepi jalan dibandingkan dengan kandungan Pb pada tanaman sejenis di lokasi yang jauh dari pinggir jalan.

pada tanaman sejenis di lokasi yang jauh dari pinggir jalan. No Jenis Tumbuhan Rata-rata Kontrol Daun

No

Jenis Tumbuhan

Rata-rata

Kontrol

Daun

Batang

Daun

Batang

1

Akasia

76,1

342,4

3,0

10,2

2

Angsana

321,7

843,5

1,1

0,2

3

Asam jawa

28,8

27,4

16,2

7,0

4

Asam Landi

94,2

121,6

8.6

2,2

5

Bungur

99,0

521,4

7,6

5,4

6

Cemara

221,6

694,2

-

-

7

Flamboyan

56,2

347,7

10,6

5,4

8

Glodogan

72,2

526,4

-

-

9

Mahoni

249,1

213,7

-

-

10

Kiara payung

77,9

87,7

-

-

Sumber : Wargasasmita 1991 dan Zoer’aini Djamal. 1997

Tabel 4. Rata-rata konsentrasi Pb ( μg/g) pada kulit Batang dan daun dari 10 jenis tumbuhan tepi jalan

Jalur Hijau Sempadan Sungai - Padang

Jalur Hijau Sumber Air - Kota Lombok

Pertanian Perkotaan

Manfaatkan ruang di lingkungan anda untuk area kebun

Manfaatkan sudut-sudut, tepi sungai di lingkungan/ di kota sebagai area berkebun, jangan pedulikan dengan luas lahannya. Berkebun di sekitar tempat tinggal adalah sesuatu yang menyenangkan. Tukar menukar benih, tukar menukar gagasan tentang jenis tanaman yang akan dikembangkan, tukar menukar hasil panen akan membangkitkan interaksi dan kekeluargaan sesama warga.

Jadikan lahan di kota untuk pertanian

Kota dapat mendorong dan mengajak warganya untuk memanfaatkan lahan kosong untuk dijadikan kebun perkotaan. Pemerintah atau komunitas dapat mensponsori acara bercocok tanaman bagi seluruh warga. Kebun perkotaan tidak hanya menyediakan makanan sehat bagi warga, tetapi juga membuat masyarakat aktif dan terlibat dalam kegiatan di luar ruangan yang sehat. Selain itu tetapi membantu penyangga limpasan air dan memperindah lahan terlantar/ belum terbangun di lingkungan masing-masing. Jika masyarakat telah merasakan manfaat kebun perkotaan sementara lahan tersebut akan dibangun, seyogianya kota dapat memfasilitasi lahan lainnya untuk taman atau kebun. Lahan di pinggir kota, kawasan industri, memberikan peluang lahan lebih besar sehingga memungkinkan mengembangkan pasar hasil panen.

besar sehingga memungkinkan mengembangkan pasar hasil panen. Pertanian Perkotaan - Prakarsa Kota Lestari Padasuka -
besar sehingga memungkinkan mengembangkan pasar hasil panen. Pertanian Perkotaan - Prakarsa Kota Lestari Padasuka -

Pertanian Perkotaan - Prakarsa Kota Lestari Padasuka - Kabupaten Bandung

memungkinkan mengembangkan pasar hasil panen. Pertanian Perkotaan - Prakarsa Kota Lestari Padasuka - Kabupaten Bandung 54

Pertanian Perkotaan Jakarta Timur

Pertanian Perkotaan Jakarta Timur Tanamlah tanaman produktif untuk dinikmati langsung Libatkan warga terdekat dalam desain
Pertanian Perkotaan Jakarta Timur Tanamlah tanaman produktif untuk dinikmati langsung Libatkan warga terdekat dalam desain
Pertanian Perkotaan Jakarta Timur Tanamlah tanaman produktif untuk dinikmati langsung Libatkan warga terdekat dalam desain
Pertanian Perkotaan Jakarta Timur Tanamlah tanaman produktif untuk dinikmati langsung Libatkan warga terdekat dalam desain

Tanamlah tanaman produktif untuk dinikmati langsung

Libatkan warga terdekat dalam desain dan pemeliharaan ruang hijau publik dan ijinkan mereka untuk berbagi dalam panen buah-buahan, sayuran dan herbal. Seyogianya berupa hamparan tanaman yang dapat dikonsumsi akan menjadikan jika warga sekitar lebih antusias. Disain kebun harus fleksibel sehingga perubahan kebun dapat dilakukan sesuai kebutuhan

Pertanian Perkotaan - Prakarsa Kota Lestari Padasuka - Kabupaten Bandung

Ajak partisipasi masyarakat secara langsung

Kebun perkotaan merupakan atraksi untuk anak-anak, program kegiatan untuk kaum tuna wisma, produksi bahan makanan untuk seluruh warga manfaat berkebun di perkotaan. Warga akan sangat senang, merasa aman dan akan memberikan apresiasi atas hasil panen yang didapatkan dari kebun di sekitar tempat tinggal, yang terlihat proses produksinya.

Manfaat dari perkebunan perkotaan

• Tempat produksi makanan segar yang aman dengan disekitar kita

• Anak-anak dan orang dewasa dapat belajar proses dan dari mana makanan berasal

• Peluang untuk proyek-proyek sosial yang menangani masyarakat marginal/terpinggirkan atau dikesampingkan secara sosial

• Elemen sosial yang membawa warga dari berbagai latar belakang dan

• budaya kebersamaan

Studi kasus :

Warga Havana mampu membuatnya pertanian perkotaan pada tahun 1989 dengan mengolah makanan mereka sendiri dan obat pada ‘Huertos’ (tanah yang tidak digunakan dimana tanaman tumbuh). Akhirnya pemerintah menetapkan pasar organik besar (organoponicos) di mana penduduk setempat dipekerjakan untuk mengolah tanah dan makanan dijual secara lokal. Pada tahun 2002, Havana menumbuhkan 90% dari produk segar dari dalam kota.

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN GREEN OPENS

Dengarkan Keinginan Masyarakat

Libatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, agar keinginan dan kebutuhan mereka terakomodasi. Hal ini penting mengingat masyarakat adalah yang benar-benar akan menggunakan serta merasakan baik dan buruknya fasilitas yang disediakan.

Ciptakan rasa hormat terhadap ruang hijau publik

Dengan melibatkan sebagai bagian pengambil keputusan dalam desain, konstruksi dan pemeliharaan, mereka akan menghormati RTH dan merawatnya sebagai milik mereka sendiri, diharapkan akan muncul inisiatif masyarakat untuk mengatasi permasalahan RTH yang ada, tanpa harus menunggu menunggu pemerintah untuk memperbaikinya. Orang lebih cenderung untuk mengambil sampah di “jalan sendiri” dari pada “jalan umum”, serta meminta orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Adopsi area hijau mulai dari luar pintu rumah kita

Bawa warga bersama-sama untuk menciptakan antusiasme dan melibatkan mereka dalam proses penciptaan ruang hijau yang ada di lingkungan terdekat mereka. Gunakan publisitas untuk menyebarkan semangat ke lingkungan lain. Atur kegiatan seperti acara-acara penanaman pohon misalnya “ Program Sejuta Pohon “.

Jadikan ruang yang tidak terpakai di kota menjadi area hijau

Berikan kesempatan untuk masyarakat melaksanakan kegiatan berkebun sementara di tanah kosong di disekitar lingkungan mereka sendiri. Lingkungan menjadi lebih hijau, tukang kebun senang, penduduk sekitar dan orang yang lewat terinspirasi untuk melaksanakan kegiatan yang sama di lingkungan mereka. Biarkan masyarakat memilih jenis tanaman yang paling diminati, sehingga mereka bisa merasakan manfaat dan kesenangan atas hasil berkebun yang telah mereka laksanakan.

Manfaat partisipasi

• Meningkatkan kelayakan hunian serta lingkungan disekitarnya

• Menurunkan tingkat kriminal dan anti-sosial, serta meningkatkan keamanan

• Kontrol dan kesetiakawanan sosial menjadi lebih baik

• Masyarakat lebih mengenal lingkungan dan area hijau mereka

…Selama bertahun tahun kita telah melihat perbedaan nyata dalam sikap terhadap pohon pohon di kota kota di Inggris. Pohon pohon tersebut lebih dihargai sebagai sebuah aset masyarakat yang memberikan banyak manfaat budaya. Studi yang disusun oleh mitra kami di Universitas Nottingham Trent memberikan indikasi yang jelas bahwa di sebuah kota yang sehat dan aman warganya cenderung untuk keluar ke jalan-jalan dan masuk ke ruang hijau. Dengan terlibat dalam pengambilan keputusan tentang jalan-jalan dan ruang hijau, dan membuatkan mereka tempat tinggal yang lebih baik, warga merasa memiliki tempat-tempat ini - mereka menggunakannya dan membantu mempertahankannya, yang pada akhirnya menjamin kualitas dan keberlanjutan jangka panjang dari ruang-ruang hijau tersebut…

Sharon Johnson, Kepala Eksekutif, Pohon untuk Kota

Sertakan warga dalam pengambilan keputusan mulai dari desain pembangunan dan pemeliharaan RTH di lingkungan mereka sendiri

Sejumlah orang menikmati sinar matahari musim gugur di Taman Victoria Tower di London, Inggris Pengembangan

Sejumlah orang menikmati sinar matahari musim gugur di Taman Victoria Tower di London, Inggris

Pengembangan baru :

Mengikutsertakan warga untuk menjadi bagian dari perencanaan dan desain proses ruang hijau publik.

Pengembangan pertisipasi yang sudah berjalan :

Ijinkan penduduk untuk mengadopsi ruang hijau di dekatnya dan berpartisipasi dalam pembangunan dan pemeliharaan RTH tersebut.

Komponen Hijau ( Soft Material )

Tanaman / tumbuhan di dalam green open space merupakan elemen utama yang amat penting peranannya. Didalam green open space tanaman memiliki fungsi ganda meliputi fungsi arsitektural, fungsi lingkungan dan fungsi estetis. ( Booth Norman, 1993). Di beberapa tempat Indonesia, tamanan memiliki fungsi sosial yang sangat kuat misalnya sebagai sarana ritual kegamaan, identitas kedaerahan, landmark serta menjadi satu alat untuk menentukan status sosial seseorang.

Tanaman dilihat dari karakteristiknya dikelompokan sebagai berikut :

• Pohon :

• Memiliki Satu Batang Pokok

• Berkayu Keras Hidup Tahunan

• Perdu :

• Berkayu Keras Hidup Tahunan

• Memiliki Batang Pokok Lebih Dari Satu Batang

• Semak :

• Tidak Berkayu Keras

• Ada yang berumur tahunan dan ada yang musiman (annual).

• Ada yang berumur tahunan dan ada yang musiman (annual). Fungsi Arsitektural/struktural meliputi : • Penghubung
• Ada yang berumur tahunan dan ada yang musiman (annual). Fungsi Arsitektural/struktural meliputi : • Penghubung

Fungsi Arsitektural/struktural meliputi :

• Penghubung antar bangunan

• Pembentuk Ruang / Pelingkup ruang

antar bangunan • Pembentuk Ruang / Pelingkup ruang Fungsi Lingkungan meliputi : • Menurunkan Suhu •

Fungsi Lingkungan meliputi :

• Menurunkan Suhu

• Memperbaiki Kualitas Udara

• Mengurangi Terik Matahari Dan Mengurangi Silau

• Mengendalikan Angin

• Mengendalikan Bunyi Dan Debu

• Mencegah Erosi

Fungsi Estetis meliputi :

• Pelengkap

• Pemersatu

• Penegas / Pengarah

• Pengenal

• Pelembut

• Pembingkai Pemandangan

Pemilihan tanaman untuk di perkotaan harus berdasarkan pada ketersediaan lahan untuk perkembangan tajuk dan akar, kesesuaian habitat serta fungsi arsitektural, lingkungan dan fungsi estetika yang ingin di dapatkan. Berikut ini beberapa contoh tanaman yang dapat digunakan untuk perkotaan, sehubungan masalah polusi, kelangkaan burung serta banjir.

Pohon Pengundang Burung

No Nama Tanaman Nama Latin Jenis burung / Potensi 1 Kiara Ficus spp 2 Beringin
No
Nama Tanaman
Nama Latin
Jenis burung / Potensi
1
Kiara
Ficus spp
2 Beringin
Ficus benyamina
Punai ( Treron sp )
3 Loa
Ficus glaberrima
4 Dadap
Erythrina varigata
5 Dangdeur
Gosampinus
heptaphylla
6 Aren
Arenga pinatta
7 Buni
Antidesma bunius
Betet ( (Psittacula alexandri),
Srindit ( Loriculus pusillus )
Jalak ( ( sturnidae ) dan
beberapa jenis burung madu
Burung ukut-­‐ukut
Srigunting
( Bahan pembuat sarang )
Buah dapat dimakan
8 Buni hutan
Antidesma montanum
9 Kembang merak
Caesalpinia
Pengundang serangga
pulcherrima
Syzygium
Katagori pohon langka
paucipuncatum
Serut
Streblus asper
Jamblang
Syzygium cumini
Salam
Syzygium polyanntum
Tahan pangkas
Buah dapat dimakan
Bumbu dapur

Sumber : EN Dahlan.2004

Tanaman Perduksi Polusi Udara No Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan I Perdu /

Tanaman Perduksi Polusi Udara

No

Jenis dan Nama Tanaman

Nama Latin

Keterangan

I

Perdu / Semak

   

1

Lolipop merah

Jacobina carnea *) o )

Berbunga Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Berbunga Bentuk tanjuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga

2

Akalipa merah

Acalypha wilkesiana *) o )

3

Nusa Indah merah

Musaenda erytthrophylla *) oo )

4

Daun Mangkokan

Notophanax scutelarium *)

5

Bogenvil merah

Bougenvillea glabra *)

6

Azalea

Rhododendron indicum *) oo )

7

Soka daun besar

Ixora javonica **)

8

Bakung

Crinum asiaticum **)

9

Oleander

Nerium oleander **) oo )

10

Palem Kuning

Chrysalidocaus lutescens **)

11

Heliconia merah

Heliconia psittacorum **)

12

Sikas

Cycas revolata **)

13

Alamanda

Aalamanda cartatica **)

14

Puring

Codiaeum varigatum o )

15

Kembang Merak

Caesalphinia pulcherima o )

II

Pohon

 

1

Palem Putri

Veitchia merillii **)

Bentuk Tajuk eksotis Bentuk Tajuk eksotis Berbunga Daun berwarn Berbunga Bentuk tajuk menarik Tekstur daun menarik Berbuah

2

Palem Ekor Ikan

Caryota mitis **)

3

Galinggem Kayu Manis merah Dadap Merah Cemara kipas Karet Munding Melinjo

Bixa orellana *) o ) Cinnamomom burmanii **) Erythrina cristagalli Thuja orietalis ***) Ficus elastica ***) Gnetum gnemon *)

Ground Cover Rumput Manila Adam dan Hawa Rumput kawat

Tekstur halus

Zoysia matrella **) Rhoeo discolor **) Cynodon dactylon ***)

Daun berwana

Tekstur sedang

Sumber : Modifikasi dari Nizar Nasrullah dkk.

*) Serapan NO2 tinggi

o ) Serapan SO2 tinggi

**) Serapan NO2 sedang oo ) Serapan SO2 sedang

Tanaman Tahan Genagan air

Lama genangan Jenis tanaman (hari) Nama Lokal Nama Latin 0 – 10 Sungkai, Jati Seberang
Lama genangan
Jenis tanaman
(hari)
Nama Lokal
Nama Latin
0
– 10
Sungkai, Jati Seberang
Jati
Dahat
Peronema canescens
Tectona grandis
Tectona hamiltoniana
10
– 20
Salam
Lantana Merah, Tembelekan
Balsa
Cendana India
Suren
Gopasa
Eugeniu polyantha
Lantana camara
Orchoma lagopus
Santaum album
Toona sureni
Vitex gopassus
20
– 30
Kesumba Keling, Pacar Keling
Kemlandingan
Bixa orellana
Leucaena glauca
30
– 40
Kayu Palele
Castanopsis javanica
Trengguli, Golden Shower Cassia fistula
Dalingsem, Kayu Batu, Kayu Kerbau, Homalium tomentosum
Gia
40
– 50
Kedondong Bulan
Canarium littoralle
Johar
Cassia siamea
Keladan
Dipterocarpus gracillis
Ampupu
Eucalyptus alba
Pinus Benquet
Pinus insularis
Tusam
Pinus mercusii
Wedang
Pterocarpus javanicus
Angsana
Pterocarpus indicus
Laban
Vitex pubescens
50
– 60
Weru, Kihiyang
Sonoleking
Sengon, Sengon Laut, Jeungjing
Kosambi
Albizzia procera
Dalbergia sisso
Paraserianthes falcataria
Schleichera oleosa
60
– 70
Tekik
Albizzia lebbeck
Kopi Coffea spp Meranti tembaga Shorea leprosula
Kopi
Coffea spp
Meranti tembaga
Shorea leprosula

70

– 80

Sonokeling

Dalbergia latifolia

Meranti merah Shorea ovalis Keluarga Mahoni Swietenia spp.
Meranti merah
Shorea ovalis
Keluarga Mahoni
Swietenia spp.

90 -­‐ 100

Cemara laut

Casuarina equisetifolia

100 – 200

 

Intsia bijuga

Semar, Pendusta utan Kihujan

Samanea saman
Samanea saman

300

Rengas

Gluta renghas

Sumber ; Soerianagara dan Indrawan (1988 )