Anda di halaman 1dari 11

1

Tinjauan pustaka
Pembelahan Sel Normal dan Abnormal dalam Tubuh Manusia
Welhan CHAU / 102013338 / A4
welhan.2013fk338@civitas.ukrida.ac.id
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021)5694-2061, fax : (021) 563-1731
Abstrak
Tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terlepas dari
proses pembelahan sel. Sel sendiri adalah unit kehidupan struktural dan fungsional terkecil
dari tubuh. Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan, pembelahan sel dibagi menjadi
dua, yaitu mitosis dan meiosis. Mitosis adalah proses pembelahan sel somatik (sel tubuh),
sementara meiosis adalah proses pembelahan sel gamet (sel kelamin). Pada mitosis terdapat
siklus sel yang terdiri dari empat fase. Tiga fase pertama merupakan interfase (G
1
, S, G
2

G
0
) dan fase yang keempat adalah fase mitosis (profase, metafase, anafase, dan telofase).
Sementara itu, fase-fase meiosis adalah sebagai berikut: interfase, meiosis I (profase I,
metafase I, anafase I, dan telofase I), interkinase, dan yang terakhir adalah meiosis II (profase
II, matafase II, anafase II, dan telofase II). sel juga membutuhkan Apoptosis yang berguna
sebagai pengontrol dari siklus pembelahan sel tersebut. jika sel mengalami hilangnya kontrol
membelah, maka sel tersebut akan membelah secara tadak terbatas yang dapat
menjadikannya sebagai kanker.
Kata kunci: mitosis, meiosis, kanker.
Abstract
The human body growth and development are inseparable from the process of cell
division. Cell itself is a structural and functional unit o life from the smallest body. According
to its nature and location of the divisin, cell division is divided into two, there are mitosis and
meiosis. Mitosis is the divisin f somatic cells (body cells), while meiosis is the process of cell
division of gametes (sex cells). In mitosis there is cell cycle that consist of four phases. The
first three phase are interphase (G1, S, G2 G0) and the gourth phase is the phase of mitosis
(prophase, metaphase, anaphase, and telophase). Meanwhile, the phases of meiosis are:
meiosis I (prophase I, metaphase I, anaphase I, and telophase I), intrkinase, and the last is
meiosis II (prophase II, metaphase II, anaphase II, and telophase II). cell also needs
apoptosis that used as controler from those splitting cell cycle. If the cell experiences losing
2

control of splitting, than the cell will splitting unlimitedly which that could make it becoming
a cacer
Keywords: mitosis, meiosis, cancer.

Pendahuluan
Dalam masa pertumbuhan setiap makhluk hidup sebagai individu bertambah besar dan bertambah
tinggi, beberapa bagian dari tubuh kita mengalami perubahan (misalnya rambut dan kuku
yang bertambah panjang), selain itu kita juga mengalami proses kematangan sel kelamin.
Hal-hal tersebut sering disebut dengan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada
tubuh manusia. Semua hal tersebut dapat terjadi karena adanya proses pembelahan sel.
Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan, pembelahan sel dibagi menjadi dua, yaitu
mitosis dan meiosis. Mitosis adalah proses pembelahan sel somatik (sel tubuh), sementara
meiosis adalah proses pembelahan sel gamet (sel kelamin). Baik fungsi, fase-fase, dan
perbedaan dari kedua jenis pembelahan sel akan dibahas secara lengkap pada pembahasan
dibawah ini. Diharapkan dengan adanya pembahasan ini, pembaca mampu mengetahui proses
pembelahan sel yang terjadi pada tubuh manusia secara normal maupun tidak normal, mampu
menjelaskan proses mitosis dan meiosis, serta dapat menjeaskan perbedaan proses mitosis
dan meiosis.
Pembelahan Sel
Sel adalah unit kehidupan strukural dan fungsional terkecil dari tubuh.
1
Pembelahan
sel adalah suatu proses yang membagi satu sel induk menjadi dua atau lebih sel anak.
Pembelahan sel biasanya merupakan bagian kecil dari suatu siklus sel yang lebih besar. Pada
manusia, seluruh sel membelah untuk memperbanyak jumlahnya, kecuali pada sel testis dan
ovarium.
2
Melaui proses pembelahan sel inilah, tubuh akan mengalami proses pertumbuhan
dan perkembangan. Misalnya saja, bertambah tinggi dan kuku bertambah panjang, mencapai
kematangan fungsi organisme, dsb. Bukan hanya itu, pembelahan sel juga memiliki peran
dalam memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak.
Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan, pembelahan sel dibagi menjadi dua,
yaitu mitosis dan meiosis. Mitsis adalah proses pembelahan sel somatik (sel tubuh),
sementara meiosis adalah proses pembelahan sel gamet (sel kelamin) yang berupa sperma
dan ovum.
3
Kedua macam pembelahan tersebut memiiki fase-fase pembelahan meliputi
profase, metafase, anafase, dan juga telofase.

3

1. Mitosis
Pembelahan secara mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi melalui tahapan-
tahapan tertentu. Pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anakan. Setiap sel anakan
mengandung jumlah kromosom yang sama pada induknya. Pembelahan mitosis terjadi pada
sel eukariotik. Jika sel induk yang membelah mengandung kromosom (2n). Sel anakan yang
dihasilkan dari pembelahan mitosis adalah dua sel anakan yang juga diploid (2n). Dengan
kata lain, pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anakan identik. Siklus sel terdiri dari
empat fase., yaitu tiga fase pertama merupakan interfase (G
1
,S,G
2
) dan fase yang keempat
adalah mitosis (mitosis terdiri dari profase, metafase, anafase, telofase).
1.1 Interfase
Interfase terdiri dari fase G
1
, fase S, dan fase G
2.
Fase G
1
(gap 1) adalah tahap persiapan sel untuk melakukan replikasi DNA dengan
mensintesis protein baru dan mengaktifkan komponen sitoskeleton (mikrotubulus, filament
intermediet, dan mikrofilamen).
4
Secara metabolik dapat dikatakan bahwa sel sangat aktif
karena semua komponen sel disintesis dan sel tumbuh dengan cepat. Perlu diingat bahwa
pada tahap ini, di dalam nucleus setiap kromosom merupakan dobel heliks DNA tunggal
yang belum tereplikasi.
1
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa DNA yang ada masih
berjumlah 1 salinan (1c) dan diploid (2n).
Fase S (sintesis) merupakan tahap dimana sel mulai melakukan replikasi (duplikasi)
DNA. Dengan demikian, pada setiap kromosom akan berisi dua dobel heliks DNA identik
yang disebut kromatid, menyatu pada sentromer.
1
Dapat disimpulkan bahwa hasil dari
tahapan ini adalah terbentuknya 2 salinan DNA yang diploid (2c, 2n).
Fase G
2
(gap 2) merupakan periode yang dapat dikatakan sangat penting dalam
metabolisme dan pertumbuhan sel sebelum mengalami mitosis. Karena pada tahap ini, sel
memiliki kesempatan kedua untuk mengentikan tahap siklus sel apabila terjadi kesalahan
dalam replikasi DNA, dengan melakukan perbaikan atau pemberian rangsangan untuk
mengalami apoptosis (kematian sel terprogram).
4
Pada fase ini, dapat dilihat bahwa
kromosom belum mengalami penebalan dan masih dalam bentuk panjang, sementara sentriol
mulai membelah dan spindel yang dihasilkan dari mikrotubulus mulai terbentuk untuk
persiapan pembelahan.
1
Tahapan terakhir yang masih tergolong dari tahap interfase adalah
G
0.
Tahapan ini dapat disebut sebagai tahap istirahat. Apabila sel mendapat rangsangan untuk
melewati tahap G
0
, sel tersebut akan maju ke tahap lain, bila tidak demikian, maka sel akan
tetap berada pada tahap G
0
.
4
(Lihat gambar 1)
4


Gambar 1. Siklus Sel
1
1.2 Profase
Pada tahap awal profase, kromsom yang sebelumnya telah bereplikasi akan
berkondensasi (menjadi lebih pendek dan lebih tebal dengan cara penggulungan serat DNA)
menjadi dua kromatid yang bergabung pada sentromer.
2
Dengan menebalnya kromosom,
maka kromosom menjadi pilinan yang kuat dan besar serta menjadi mudah terlihat di
mikroskop. Kemudian, pasangan sentriol akan berpisah dan mulai bergerk ke sisi nukleus
yang berlawanan, dan apabila telah sampai di sisi nukleus, sentriol akan membentuk benang-
benang spindel.
1
(Lihat gambar 2).

Gambar 2. Tahap Awal Profase
1

Selanjutnya adalah tahap akhir profase, dimana nukleolus melebur dan membran
nukleus menghilang, sehingga memungkinkan benang-benang spindel memasuki nukleus.

Mikrotubulus yang muncul dari kinektokor (bagian kromosom yang merupakan tempat
pelekatan benang-benang spindel selama pembelahan inti struktur pada sentromer), dapat
berinteraksi dengan benang spindel.
1
(Lihat gambar 3)
5


Gambar 3. Tahap Akhir Profase
1


1.3 Metafase
Metafase adalah tahap dimana kromosom yang secara jelas tampak menjadi dua set
pasangan berada di tengah-tengah sel (bidang ekuator).
4
Sentromer pada semua kromosom
akan saling berikatan dengan benang spindel untuk kemudian ditarik ke masing-masing
kutub. Kinektokor memisah dan kromatid mulai bergerak menjauh.
1
(Lihat gambar 4)

Gambar 4. Metafase
1


1.4 Anafase
Anafase adalah tahap dimana mikrotubulus mulai menarik pasangan kromosom agar
terpisah.
4
Pergerakan ini dapat terjadi karena pemendekan dan pemanjangan mikrotubulus
yang membentuk spindel.
2
Akhir anafase ditandai dengan adanya dua set kromosom lengkap
yang berkumpul pada kedua kutub sel.
1
(Lihat gambar 5)

Gambar 5. Anafase
1



6

1.5 Telofase
Pada tahap telofase, pada ujung-unjung sel terdapat masing-masing satu set
kromosom lengkap.
2
Kromosom mulai merenggang dan kembali menjadi masa kromatin.
Dengan demikian, dua nukleus kembali terbentuk, diikuti dengan melebur dan terurainya
kromosom serta terbentuknya membran nukleus dan terbentuknya kembali nukleolus. Pada
akhirnya, sel akan mengalami sitokinesis yaitu pembelahan sitoplasma. Pembelahan
sitoplasma berada tepat di pertengah masa kromosom, lalu berlanjut di sekitar sel hingga
akhirnya membelah sel tersebut menjadi dua sel terpisah. (Lihat gambar 6)

Gambar 6. Telofase
2


2.5 Meiosis
Meiosis adalah pembelahan sel yang terjadi dalam pembentukan sel-sel kelamin (sel
telur dan sperma).
1
Berbeda dengan mitosis, jumlah kromosom sel hasil pembelahan adalah
setengah dari sel induknya (n = haploid). Pembelahan meiosis ini memiliki tujuan untuk
menghasilkan sel telur maupun sel sperma yang matang.
Meiosis melibatkan replikasi DNA dalam sel serta diikuti dua kali pembelahan sel
(meiosis I dan meiosis II). Nantinya, akan terbentuk empat sel anakan yang masing-masing
memiliki 23 kromosom. Pada pria, keempat sel anak aan hidup dan berdiferensiasi menjadi
sperma matang. Sementara pada wanita, hanya akan ada satu sel anakan yang hidup dan
menjadi sel telur yang matang. Apabila sel sperma dan sel telur bertemu, maka akan
dihasilkan embrio dengan kromosom total 46 (23 pasang kromosom).
4

Fase-fase meiosis adalah sebagai berikut: interfase, meiosis I (profase I, metafase I,
anafase I, dan telofase I), interkinase, dan yang terakhir adalah meiosi II (profase II, matafase
II, anafase II, dan telofase II). Fase-fase tersebut sedikit berbeda dari fase-fase pada
pembelahan mitosis.
2.1 Interfase
Pada interfase, sel berada pada tahap persiapan untuk melakuan pembelahan. Sama
seperti pada interfase mitosis, persiapan yng dimaksud adalah proses sintesis protein dan
replikasi DNA. DNA akan direplikasi dari satu salinan menjadi dua salinan. Sel yang akan
7

membelah mereplikasi DNA di setiap kromosomnya sehingga terbentuk dua kromatid yang
bergabung pada sentromer (kromosom homolog).
1,2

2.2 Meiosis I
Meiosis I terdiri dari profase I, metafase I, anafase I, dan telofase I.Profase I :
Tahap Profase I ini merupakan tahap yang paling menentukkan dalam proses meiosis
karena dalam tahap ini terjadi beberapa perubahan mendasar antaranya adalah pembentukkan
pasangan kromosom homolog, pertukaran bahan-bahan genetik, dsb.
6
Oleh karena itu, tahap
ini memakan waktu yang paling lama dan juga merupakan tahap yang paling kompleks
berbeda dengan tahap profase dalam tahap mitosis. Tahap profase I ini dibedakan menjadi 5
bagian, yaitu : Leptonema, zigonema, pakhinema, diplonema, dan diakinesis.
5,6

a. Leptonema : Kromosom diploid yang jumlahnya 4 tampak sebagai benang
panjang, tunggal dan tipis.
5

b. Zigonema : Ke empat kromosom itu saling berdekatan dan membentuk pasangan
yang disebut sinapsis.
5

c. Pakhinema : Kromosom menjaadi pendek dan tebal.
5

d. Diplonema : Masing-masing kromosom membelah memanjang sehingga
membentuk kromatid. Empat kromatid itu dinamakan tetrad.
5

e. Diakinesis : Kromatid-kromatid yang tidak serupa (dari sentromer yang lain)
dapat bersilang. Tempat persilangan ini disebut khiasma (jamak:khiasmata). Di
tempat khiasmata itu kromatid akan putus dan segmen dari satu kromatid akan
bersambung dengan potongan segmen kromatid yang lain.peristiwa penukaran
segmen dari kromatid yang tak seruapa (nonsister chromatids) dalam kromosom
homolog itu dinamakan pindah silang (crossing over). Dengan adanya pindah
silang, maka terjadilah penukaran gen-gen, sehingga terbentuk kombinasi baru.
5

Tahap Metafase I ini kromosom-kromosom yang masih berpasangan menempatkan
diri di bidang ekuatorial dari sel. Dinding inti menghilang. Kromosom-kromosom masih
dalam keadaan diploid.
5

Tahap Anafase I, setiap kromosom yang homolog masing-masing mulai ditarik oleh
benang spindel menuju ke kutub yang berlawanan arah. Dengan demikian, didapati bahwa
satu kelompok kromosom haploid (n) telah tersusun disetiap kutub. Hal tersebut sesuai
dengan tujuan dari anafase yaitu untuk membagi isi kromosom diplod menjadi haploid.
Pada tahap Telofase I, Terbentuklah dua sel anakan, masing-masing memiliki separuh
dari jumlah kromosom sel asalnya. Terjadilah pembelahan reduksi karena setiap sel anakan
8

akan memiliki satu kromosom dari tiap pasangan kromosom homolog. Dinding inti sel timbul
kembali.
5
2.3 Interkinesis
Interkinesis adalah tahap di antara dua pembelahan meiosis. Pada tahap ini tetap
terjadi sintesis protein namun tidak terjadi replikasi DNA. Perlu diingat kembali bahwa hasil
dari pembelahan meiosis I menghasilkan dua sel anakan yang haploid (n) namun masih berisi
sepasang kromatid yang mengartikan bahwa kandungan DNAnya masih rangkat (2c). oleh
karena itu, akan dilakukan pembelahan meiosis II yang bertujuan unuk membagi kedua
salinan tersebut pada sel anakan yang baru.
7
2.4 Meiosis II
Pada meiosis II, terdapat empat tahap yang sama dengan meiosis I. Tahap yang
pertama adalah profase I. Pada tahap ini peristiwa yang terjadi sama dengan peristiwa pada
profase mitosis. Sentriol akan memisah dan bergerak ke kutub yang berlawanan, dan
mikrotubulus dari setiap sentromer melekat pada benang dari sentriol di kutub berlawanan.
Tahap yang kedua adalah metafase II. pada tahap ini, kromatid berbaris ada bidang
ekuator sel. Kromatid yang ada tersusun berpasangan namun tidak lagi dalam bentuk tetrad
melainkan disebut dengan dyad. Tahap berikutnya adalah anafase II, pada tahap ini sentromer
membelah dan kromatid terpisah menjadi kromosom. Berbeda dengan pembelahan mitsis,
kromatid yang terpisah tidak identik secara genetic akibat persilangan atau kombinasi ulang.
Pada akhirnya, sel akan memasuki tahapan akhir yang disebut telofase II. Di telofase II,
membrane nukleus terbentuk kembali, kromosom melebur, dan terjadi sitokinesis. Sel yang
dihasilkan akan bersifat haploid.

Komunikasi Sel
Berhasilnya sel-sel itu membelah tidak terhindar dari terjadinya komunikasi sel satu
dengan sel yang lainnya. Komunikasi sel adalah hubungan / interaksi antara satu sel dgn sel
yg lain ataupun antara sel dgn lingkungannya. Tujuannya adalah agar setiap organ ditubuh
kita dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga dapat menjaga kelangsungan hidup
seseorang. Sinya-sinyal antar sel jauh lebih sederhana daripada bentuk-bentuk pesan yang biasanya
dirubah oleh manusia. Pada komunikasi khas antar sel, sel pemberi sinyal menghasilkan tipe
khusus dari molekul sinyal yang dapat dideteksi oleh sel target. Sel target memiliki protein
reseptor yang mampu mengenali dan berespon secara spesifik terhadap molekul sinyal.
Transduksi sinyal dimulai ketika protein reseptor pada sel target menerima sinyal
ekstraselular yang baru masuk dan merubahnya menjadi sinyal intraselular yang memerintah
9

perilaku sel. Terdapat empat bentuk pensinyalan sel, yaitu sinyal parakrin, sinyal autokrin,
sinyal endokrin, sinyal sinaptik.
Sinyal Parakrin merupakan tipe komunikasi sel jarak dekat, dan molekul pesan
disekitarnya disampaikan melalui proses difusi. Tipe lain dari pensinyalan jarak dekat yang
lebih terspesialisasi terjadi pada sistem saraf. Selain parakrin ada juga autokrin yaitu
komunikasi sel dengan dirinya sendiri yang berarti reseptor pada sel yang sama.
Sinyal Autokrin adalah variasi sinyal parakrin, namun molekul sinyal yang dihasilkan
dipakai oleh sel itu sendiri karena mempunyai reseptor untuk sinyal yang dihasilkannya.
Mekanisme ini digunakan oelh sekelompok sel untuk menjalankan fungsinya secara
bersamaan.
8

Sinyal Endokrin, molekul sinyalnya disebut hormon. Hormon dilepaskan kedalam
aliran darah, dalam kadar yang rendah akan beraksi pada sel target yang tersebar diseluruh
tubuh. Sel target memiliki reseptor dengan daya ikat tinggi sehingga dapat menarik hormon
dari aliran rendah. Sinyal hormon umumnya bersifat menahun, dalam artian akan bekerja
dalam jangka waktu yang lama.
8

Sinyal Sinaptik, merupakan kombinasi sinyal parakrin dan endokrin. Neurotransmiter
dilepaskan kedalam celah sinaps yang berjarak hanya beberapa nanometer dari membran sel
pascasinaps. Namun ada juga yang membentuk sinyal jarak jauh karena akson yang
menghubungkan sel sebelum dan pascasinaps berjarak beberapa sentimeter. Pada umumnya
reseptor neurotransmiter mempunyai daya ikat yang rendah dibandingkan dengan reseptor
untuk hormon. Dicelah sinaps, konsentrasi neurotransmiter harus sangat tinggi, dan sinyalnya
beraksi dalam waktu singkat karena segera diakhiri dengan cepat oleh hidrolisis atau
ditangkap kembali oleh prasinaps.
8


Pembelahan Sel Abnormal
Kadang-kadang dalam keadaan tertentu, sel kehilangan kemampuan untuk
menanggapi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Seperti sebuah sel yang akan
terus membelah secara tidak terkendali. Pembelahan sel secara tidak terkendali ini dikenal
dengan nama pembelahan sel abnormal.sel yang diciptakan oleh pembelahan sel yang
abnormal juga mengalami pembelahan yang tidak teratur. Akhirnya masa padat dari sel-sel
abnormal atau tumor terbentuk. Tumor tidak selalu mengancam nyawa. Beberapa tumor yang
disebut tumor jinak, cukup sering terjadi. Salah satu contoh dari tumor jinak adalah kutil.
Meskipun kutil sangat mengganggu, mereka tidak berbahaya. Tumor jinak biasanya tidak
10

mengancam tuan rumahnya. Sel-sel tumor tumbuh disau bagian tubuh, dan tidak menyerang
jaringan lain.
8


Kanker
Kanker adalah suatu keadaan dimana sel-sel yang ganas menyerang dan
menghancurkan jaringan tubuh. . Kanker dipicu oleh bahan-bahan penyebab kanker atau
bersifat karsinogenik. Tiga kelompok utama karsinogen yang menyerang DNA adalah
pemaparan yang berlebihan pada radiasi ultaviolet, virus-virus dan bahan-bahan kimia. Sel-
sel kanker menyerap nutrisi pada laju yang lebih cepat daripada sel-sel normal dimana sel-sel
tersebut diturunkan, dan sel-sel ini mengeluarkan zat yang mendorong pertumbuhan
pembuluh darah disekitarnya. Yang membedakan sel kanker dari sel normal diantaranya sel
kanker memiliki bentuk dan ukuran yang tidak beraturan, jumlah nukleus yang tidak
biasanya, dan struktur mitosis yang abnormal. Sel-sel kanker membagi sebelum mereka
dewasa dan cenderung tumbuh dimana-mana satu sama lain.
2


Kesimpulan
Sel adalah unit terkecil yang menyusun tubuh kita, dengan cara membelah terus
menerus. Sel melakukan pembelahan dengan dua cara yaitu mitosis dan meiosis. Pembelahan sel yang
normal akan menghasilkan sel anakan yang normal juga. Tetapi apabila pembelahan selnya abnormal, maka
akan menjadikan sel tersebut berbahaya bagi tubuh manusia, contohnya adalah kanker. Komunikasi sel juga
sangat erat kaitannya dengan pembelahan sel, karena melalui komunikasi sel sinyal-sinyal dari satu sel dapat
diterima oleh sel-sel lainnya dan mencegah terjadinya pembelahan sel yang abnormal.

Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.h.34-52.
2. James J, Baker C, Swain H. Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2011.h.88-90.
3. Kliegman B, Nelson A. Ilmu kesehatan anak Nelson. Edisi 15 (1). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2000.h.391.
4. Corwin JE. Buku saku patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2009.h.43-6.
5. Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008.h.57, 60-3.
11

6. Juwono, Juniarto AZ. Biologi Sel. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000.h.80-
1,8,9.
7. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. Biologi SMA dan MA untuk kelas XII.
Jakarta: Penerbit Erlangga;2009.h.111-2.
8. Priastini R, Hartono B. Buku ajar biologi kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana; 2010.h.151-2,134-5.