Anda di halaman 1dari 8

1

Tinjauan pustaka
Mekanisme Ginjal pada Gangguan Keseimbangan Cairan
Welhan CHAU / 102013338 / B1
welhan.2013fk338@civitas.ukrida.ac.id
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021)5694-2061, fax : (021) 563-1731
Pendahuluan
Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting dalam system ekskresi
dari tubuh kita khususnya dalam mempertahankan keseimbangan (homeostatis). Fungsi ginjal
begitu kompeks dan juga mempunyai kaitan dengan organ vital kita lainnya. Karena ginjal
kita sangat penting, maka gangguan yang berlanjut terhadap fungsi ginjal akan berakibat
besar pada seluruh tubuh. Dalam hal ini yang paling penting adalah kemampuan ginjal
mengatur volume dan osmolaritas lingkungan cairan internal dengan kontrol keseimbangan
air dan juga garam, selain itu kemampuan ginjal untuk membantu mengatur perubahan pH
dengan mengontrol asam dan basa yang akan dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena itu, jika
ada salah satu komponen ginjal mengalami kerusakan akan dapat menyebabkan terganggunya
proses homeostasis tubuh. Dalam kesempatan ini penulis akan lebih membahas tentang ren
atau ginjal secara makro maupun mikoronya, fungsi ginjal, mekanisme keseimbangan asam
basa, dan faktor penyebab dehidrasi yang terjadi didalam jantung manusia. Tujuan penulis
membuat tinjauan pustaka ini adalah agar pembaca dapat lebih memahami tentang proses
pencernaan ditubuh manusia terutama dilambung.
1. Struktur Makroskopik Ren
Ren terletak retroperitoneal di region abdominalis posterior yaitu diantara peritoneum
parietale dan fascia transversa abdominis, pada sebelah kanan dan kiri columna vertebralis.
Ren sinistra terletak setinggi costa XI atau vertebra lumbal 2-3, sedangkan ren dextra terletak
setinggi costa XII atau vertebral lumbal 3-4. Ren dextra terletak lebih rendah dibandingkan
ren sinistra karena posisinya terhadap hepar. Meskipun ren dextra dan sinistra serupa dalam
ukuran dan bentuk, ren sinistra lebih panjang dan lebih ramping dibandingkan ren dextra dan
lebih dekat dengan garis tengah tubuh.
1

Ren adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar
12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm (kurang lebih sebesar kepalan tangan). Setiap ren memiliki berat
antara 125 sampai 175 gram pada laki-laki dan 155 gram pada perempuan. Tiap-tiap ren
mempunyai sebuah kelenjar adrenalis di atasnya. Setiap ren diselubungi oleh tiga lapisan
jaringan ikat. Fasia renalis adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan ren pada
struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ. Lemak peritoneal (capsula adiposa)
adalah jaringan adiposa yang terbungkus fascia ren. Jaringan ini membantali ren dan
membantu organ tetap pada posisinya. Capsula fibrosa (ren) dalah membran halus transparan
yang langsung membungkus ren dan dapat dengan mudah dilepas.
2

Struktur internal ren
a. Hilus (hilum) adalah tingkat kecekungan tepi medial ren

2
b. Sinus ren dalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. Sinus ini membenuk
perlekatan untuk jalan masuk dan keluar ureter, vena dan arteri renalis, saraf, dan
limfatik.
c. Pelvis ren dalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini berlanjut menjadi dua
sampai tiga calyx major, yaitu rongga yang mencapai grandular, bagian penghasil urin
pada ren. Setiap calyx major bercabang menjadi beberapa calyx minor.
d. Parenkim ren adalah jaringan ren yang menyelubungi struktur sinus ren. Jaringan ini
terbagi menjadi medulla dalam dan korteks luar. Medulla terdiri dari massa-massa
triangular yang disebut piramida renalis. Ujung yang sempit dari setiap piramida
terdapat papilla yang masuk dalam calyx minor dan ditembus mulut duktus
pengumpul urin. Korterks tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang
merupakan unit fungsional dan strukturan ren. Korteks terletak di dalam diantara
piramida-piramida medulla yang bersebelahan untuk membentuk columna ren yang
terdiri dari tubulus-tubulus pengumpul yang mengalir ke dalam duktus pengumpul.
e. Ren terbagi-bagi lagi menjadi lobus ren. Setiap lobus terdiri dari satu piramida ren,
columna yang saling berdekatan, dan jaringan korteks yang melapisinya.
3



Gambar 1. Struktur Internal Ren.
3
Satu ren mengadung 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urin.
Setiap nefron memiliki satu komponen vaskular dan satu komponen tubular.
Glomerulus adalah suatu kuntum kapiler berbentuk bola tempat filtrasi sebagian air
dan zat terlarut dari darah yang melewatinya. Cairan yang telah disaring ini, yang
komposisinya hampir identik dengan plasma, kemudian mengalir melewati komponen tubular
nefron, tempat berbagi proses transport mengubahnya menjadi urin. Ketika masuk ke ren,
arteri renalis bercabang-cabang hingga akhirnya membentuk banyak pembuluh halus yang
dikenal sebagai arteriol aferen ren. Arteriol aferen ren ini mengalirikan darah ke glomerulus
dan membentuk arteriol eferen ren yang di lalui oleh darah yang tidak terfiltrasi untuk
meninggalkan glomerulus menuju komponen tubular. Arteriol eferen ren adalah satu-satunya
arteriol yang mengalirkan darah dari kapiler. Arteriol eferen ren segera bercabang-cabang
menjadi set kapiler kedua, kapiler peritubulus yang memasok darah ke jaringan ren dan
penting dalam pertukaran antara sistem tubulus dan darah sewaktu perubahan cairan filtrasi

3
menjadi urin. Kapiler tubulus akan menyatu membentuk venula dan akhirnya mengalirkan
isinya ke vena renalis.
4
Komponen tubulus berawal dari kapsula bowman yang melingkupi glomerulus untuk
mengumpulkan cairan dari kapiler glomerulus untuk menangkap filtrate dan mengalirkan ke
dalam tubulus proksimal yang membentuk gulungan-gulungan rapat. Ansa henle membentuk
lengkung berbentuk U yang masuk ke dalam medulla ren. Pars desendens masuk dari korteks
ke dalam medulla, pars ascendens berjalan balik ke korteks. Sel-sel tubulus dan vaskular
mengalami spesialisasi untuk membentuk apparatus jukstaglomerulus, suatu struktur yang
terletak di samping glomerulus yang berperan penting dalam mengatur fungsi ren.
Selanjutnya tubulus kembali membentuk kumparan erat menjadi tubulus distal yang berada di
dalam korteks. Tubulus distal mengalirkan isinya ke dalam duktus koligentes dengan masing-
masing duktus menerima cairan dari hingga delapan nefron berbeda. Setiap duktus koligentes
berjalan ke dalam medulla untuk mengosongkan cairan isinya ke dalam pelvis ren.
4

Gambar 2. Unit Fungsional Ren.
3
Arteri renalis adalah percabangan aorta abdominalis yang mensuplai masing-masing
ren dan masuk ke hilus melalui cabang anterior dan posterior. Cabang anterior dan posterior
arteri renalis membentuk arteri-arteri interlobaris yang mengalir di antara piramida-piramida
ren. Arteri arkuata berasal dari arteri interlobaris pada area pertemuan antara korteks dan
medula. Arteri interlobularis merupakan percabangan arteri arkuata di sudut kanan dan
melewati korteks. Arteriol aferen ren berasal dari arteri interlobularis. Satu arteriol aferen ren
membentuk sekitar 50 kapiler yang membentuk glomerulus. Arteriol eferen ren
meninggalkan setiap glomerulus dan membentuk jaring-jaring kapiler lain, kapiler peritubular
yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk memberi nutrien pada tubulus tersebut
dan mengeluarkan zat-zat yang direabsorpsi. Arteriol aferen ren dari glomerulus nefron
korteks memasuki jaring-jaring kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus kontortus distal
dan proksimal pada nefron tersebut. Arteriol eferen ren dari glomerulus pada nefron
jukstaglomerular memiliki perpanjangan pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut vasa
recta yang berdesendens ke dalam piramida medula. Lekukan vasa recta membentuk
lengkungan jepit yang melewati ansa Henle. Lengkungan ini memungkinkan terjadinya

4
pertukaran zat antara ansa Henle dan kapiler serta memegang peranan dalam konsentrasi urin.
Kapiler peritubular mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian menyatu dan membentuk
vena interlobularis. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata
bermuara ke dalam vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara ke dalam vena renalis.
Vena ini meninggalkan ren untuk bersatu dengan vena cava inferior.
5



Gambar 3. Pembuluh Darah dan Pembuluh Balik Ren.
5

2. Struktur Mikroskopik Ren
Ren dibagi atas dua daerah yaitu daerah luar atau korteks dan daerah dalam atau
medulla. Korteks ren ditutupi oleh simpai jaringan ikat dan jaringan perineal, serta jaringan
lemak. Sedangkan medula dibentuk oleh sejumlah piramid renalis. Dasar setiap piramid
menghadap korteks dan apexnya kedalam. Apex piramid renalis membentuk papilla yang
terjulur kedalam calyx minor. Medula juga terdiri dari ansa henle dan duktus koligentes yang
akan bergabung di medulla membentuk duktus papilaris yang besar.
3
Papila biasanya ditutupi
epitel selapis silindris yang berlanjut ke ruang calyx menjadi epitel transisional. Dibawah
epitel, terdapat selapis tipis jaringan ikat dan otot polos yang kemudian menyatu menjadi
hilus renalis.
2
Didalam hilus renalis dan di antara piramid, terdapat cabang-cabang
arteri dan vena renalis, yaitu pembuluh interlobaris. Pembuluh ini memasuki ren kemudian
melengkung menyusuri dasar piramid diantara korteks dan medulla disebut arteri arkuata.
Pembuluh arkuata mencabangkan arteri dan vena interlobularis yang lebih kecil, dan arteri
arkuata berjalan secara radial menuju korteks ren dan mempercabangkan banyak arteri aferen
ren glomerulus.
2,5
Lapisan visceral kapsula glomerulus terdiri dari sel epitel yang
dimodifiksai disebut podosit. Di kutub vascular epitel visceral akan membalik membentuk
lapisan parietal kapsula glomerulus. Ruang diantara lapisan visceral dan parietal menjadi
lumen tubulus kontortus proksimal di polus urinarius. Tubulus
Kontortus Proksimal, banyak di korteks dengan lumen kecil, tidak rata, dan dibentuk oleh
selapis sel kuboid besar dengan sitoplasma eosinofilik dan bergranul, dan juga terdapat brush
border. Banyak zat yang direabsorbsi aktif dalam tubulus proksimal ini, seperti natrium,

5
kalium, kalsium, fosfat, glukosa, asam amino, dan air. Ansa Henle, berasal dari tubulus
proksimal lurus yang berubah jadi ansa henle segmen desendens tipis dengan sel epitel
gepeng dan sedikit mikrovili. Kemudian struktur berlanjut menjadi segmen asendens tipis
lalu jadi tebal, yang selnya sebagian besar kuboid.
2
Aparatus Juxtaglomerular, merupakan
strurkur yang terdiri dari tiga sel utama: macula densa yang merupakan sekelompok sel
tubulus, sel mesangial ekstraglomerulus, dan sel granular.
Tubulus Kontortus Distal, memiliki lumen lebih besar dari TKP yang dilapisi sel-sel
kuboid lebih kecil, kemudian sitoplasmanya bersifat basofil dan tidak ada brush border.
Tubulus kontortus distal akan berlanjut jadi tubulus koligentes dengan sel kuboid yang
memiliki batas-batas yang jelas.
6


Gambar 4. Struktur mikro unit fungsional ren.
3

3. Fungsi Ren
Ginjal melakukan fungsi-fungsi spesifik berikut, yang sebagian besar membantu
mempertahankan stabilitas lingkungan cairan interstisial.
4

1. Mempertahankan keseimbangan H
2
O di tubuh.
2. Mempertahankan osmolaritas cairan tubuh yang sesuai, terutama melalui regulasi
keseimbangan H
2
O. Fungsi ini pentung untuk mencegah fluks-fluks osmotik masuk
atau keluar sel, yang masing-masing dapat menyebabkan pembengkakan atau
penciutan sel yang merugikan.
3. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion cairan ekstraseluler, termasuk
natrium (Na
+
), klorida (Cl
-
), kalium (K
+
), kalsium (Ca
2+
), ion hidrogen (H
+
),
bikarbonat (HCO
3
-
), fosfat (PO
4
3-
), sulfat (SO
4
2-
), dan magnesium (Mg
2+
). Bahkan
fluktuasi kecil konsentrasi sebagian elektrolit ini dalam cairan ekstraseluler dapat
berpengaruh besar,
4. Mempertahankan volume plasma yang tepat, yang penting dalam pengaturan jangka
panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran regulatorik ginjal
dalam keseimbangan garam dan H
2
O.

6
5. Membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh yang tepat dengan
menyesuaikan pengeluaran H
+
dan HCO
3
-
di urin.
6. Mengeluarkan produk-produk akhir metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, dan
kreatinin. Jika dibiarkan menumpuk maka bahan-bahan sisa ini menjadi racunm
terutama bagi otak.
7. Mengeluarkan banyak senyawa asing, misalnya obat aditif makanan, pestisida, dan
bahan eksogen non-nutritif lain yang masuk ke tubuh.
8. Menghasilkan eritropoetrinm suatu hormon yang merangsang produksi sel darah
merah.
9. Menghasilkan renin, suatu hormon enzim yang memicu suatu reaksi berantai yang
penting dalam penghematan garam oleh ginjal.
10. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.
4. Mekanisme Kerja Ren
Ren melakukan berbagai fungsi yang ditujukkan untuk mempertahankan homeostatis.
Sel-sel pada organisme multisel kompleks mampu berfungsi dan bertahan hidup hanya dalam
suatu lingkungan cairan. Lingkungan cairan internal adalah cairan ekstrasel (CES) yang
membasuh semua sel di dalam tubuh dan harus dipertahankan secara homeostatis. Pada
tubuh, pertukaran antara sel dan CES dapat mengubah komposisi lingkungan cairan internal
yang kecil dan pribadi ini apabila tidak terdapat mekanisme untuk mempertahankan
stabilitasnya. Secara garis besar, makhluk hidup di darat dapat bertahan hidup karena adanya
ren, organ yang bersama dengan masukan hormonal dan saraf yang mengatur fungsinya,
terutama berperan dalam mempertahankan stabilitas volume dan komposisi elektrolit CES.
Dengan menyesuaikan jumlah air dan berbagai konstituen plasma yang akan disimpan di
dalam tubuh atau dikeluarkan melalui urin, ren mampu mempertahankan keseimbangan air
dan elektrolit di dalam rentang yang sangat sempit yang cocok bagi kehidupan, walaupun
pemasukan dan pengeluaran konstituen-konstituen tersebut melalui jalan lain sangat
bervariasi.
Jika terdapat kelebihan air atau elektrolit tertentu di CES, misalnya garam NaCl, ren
dapat mengeleminasi kelebihan tersebut dalam urin. Jika terjadi kekurangan ren sebenarnya
tidak dapat memberi tambahan konstituen yang kurang tersebut, tetapi dapat membatasi
kehilangan zat tersebut melalui urin, sehingga dapat menyimpan sampai lebih banyak zat
tersebut di dapat dari makanan. Dengan demikian, ren dapat lebih efisien melakukan
kompensasi untuk kelebihan daripada kekurangan, kenyataannya pada beberapa keadaan ren
tidak dapat secara total menghentikan pengeluaran suatu bahan penting melalui urin,
walaupun tubuh sedang kekurangan bahan tersebut.
Selain berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, ren juga
merupakan jalan penting untuk mengeluarkan berbagai zat sisa metabolik yang toksik dan
senyawa-senyawa asing dari tubuh. Zat-zat sisa ini tidak dapat dikeluarkan dalam bentuk
padat, mereka harus dieksresikan dalam bentuk larutan, sehingga ren harus menghasilkan
minimal 500 ml urin berisi zat sisa per harinya. Karena H
2
O yang dikeluarkan di urin berasal
dari plasma darah, seseorang yang tidak mendapat H
2
O sedikitpun tetap diharuskan
menghasilkan urin sampai meninggal akibat deplesi volume plasma ke tingkat fatal, karena
H
2
O akan turut dibuang menyertai pengeluaran zat-zat sisa.

7
Ren juga dapat melakukan penyesuaian dalam melakukan pengeluaran konstituen-
konstituen CES ini melalui urin untuk mengkompensasi pengeluaran abnormal, misalnya
melalui keringat berlebihan, muntah, diare, atau pendarahan. Dengan demikian, komposisi
urin sangat bervariasi karena ren melakukan penyesuaian terhadap perubahan pemasukan
atau pengeluaran berbagai bahan batas sempit yang cocok untuk kehidupan.
4

5. Keseimbangan Asam Basa
Ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan mengekresikan urin yang asam atau
basa. Pengeluaran urin asam akan mengurangi jumlah asam dalam cairan ekstra sel atau CES,
sedangkan urin basa berarti menghilangkan basa dari CES. Keseluruhan mekanisme eksresi
urin asam atau basa oleh ginjal adalah sebagai berikut; sejumlah besar HCO
3-
difiltrasi secara
terus menerus ke dalam tubulus, dan bila HCO
3-
ini dieksresikan kedalam urin, keadaan ini
menghilangkan basa dari dalam darah. Sejumlah besar H
+
juga disekresikan kedalam lumen
tubulus oleh sel epitel tubulus sehingga menghilangkan asam dari darah. Bila lebih banyak
H
+
daripada HCO
3-
yang difiltrasi, akan terjadi kehilangan asam dari cairan ekstrasel,
sebaliknya akan terjadi kehilanan basa.
Bila terdapat pengurangan konstentrasi H
+
cairan ekstrasel (alkalosis), ginjal gagal
dalam mereabsoprsi semua bikarbonat yang difiltrasi, sehingga meningkatkan eksresi
bikarbonat. Karena HCO
3-
normalnya mendapat hydrogen dari cairan ekstrasel, kehilangan
bikarbonar ini sama saja dengan penambahan satu ion hydrogen ke dalam CES. Oleh karena
itu pada alkalosis, pengeluaran HCO
3-
akan meningkatkan konsentrasi H
+
dan cairan ekstrasel
kembali menjadi normal.
Pada asidosis, ginjal tidak mengeksresikan bikarbonat ke dalam urin tetapi
mereabsopsi semua bikarbonat yang difltrasi dan menghasilkan bikarbonat baru, yang
ditambahkan kembali ke dalam cairan ekstrasel. Hal ini mengurangi konsentrasi H
+
dan
cairan ekstrasel menjadi normal. Jadi, ginjal mengatur konsentrasi H
+
cairan ekstrasel melalui
sekresi ion hydrogen, reabsorpsi bikarbonat yang difiltrasi, dan produksi bikarbonat yang
baru, dan semua proses tersebut dicapai melalui mekanisme yang sama.
6. Faktor Penyebab Dehidrasi
Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini
terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum).
Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit
tubuh. Penyebab dehidrasi antara lain kekurangan zat Na, H
2
O, muntah, diare, obat diuretic,
serta kurangnya asupan cairan. Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan
berat badan, yaitu dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan),
dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan), dan
dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan). Ciri-ciri
dehidrasi ringan-sedang adalah mulut kering dan lengket, mengantuk/lelah, haus, urin sedikit,
airmata kurang/kering dan otot lemah, dan sakit kepala/pusing/silau melihat sinar. Sedangkan
ciri-ciri dehidrasi berat adalah haus berat, sangat mengantuk dan kebingungan, tidak
berkeringat, urin sedikit berwarna kuning gelap/tidak ada urin, mata cekung, menggigil, kulit
kering dan elastisitas hilang, tekanan darah rendah, nadi cepat, panas serta kesadaran
menurun.
7



8
Kesimpulan
Ginjal merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostasis tubuh.
Ginjal merupakan bagian dari sistem urinaria. Ginjal memiliki nefron yang merupakan unit
fungisional ginjal yang terdiri dari, glomerulus, kapsula bowman, dan tubulus-tubulus.
Keseimbangan asam basa sangat mempengaruhi dalam hasil kerja ginjal didalam tubuh
manusia.
Daftar Pustaka
1. Drake R, Vogl A, Mitchell A. Grays dasar-dasar anatomi. Singapura: Elseiver; 2014.
h. 190-3.
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;
2006. h. 250-4.
3. Sloane E. Anatomi dan fisiologi pemula. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2004.h. 318-21.
4. Sherwood L.Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2013. h.
553-80.
5. Watson R. Anatomi dan fisiologi. Edisi ke-10. Jakarta: EGC; 2002. h. 390.
6. Eroschenko VP. Atlas histologi di Fiore. Edisi ke-9. Jakarta: EGC; 2003. h. 248-54.
7. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC; 2009. h. 459-61.

Anda mungkin juga menyukai