Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

MENARIK DIRI

LATAR BELAKANG
Berdasarkan Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 23 tahun 1992 dinyatakan
bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi.
Salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi di masyarakat indonesia adalah
Schizofrenia. Schizofrenia merupakan sekelompok gangguan psikologis fungsional
dengan gejala terpecahnya unsur-unsur kepribadian distarsichas pada proses pikir,
afek/emosi kemauan atau psikomotor yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya
dan autisme (Mansjoer, Arief, 2001).
Salah satu dampak schizofrenia adalah timbul gangguan interaksi sosial suatu
gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptif,
mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial. Selanjutnya muncul halusinasi
yang itmbul tanpa penutupan kesadaran dan hal itu merupakan gejala yang sering di
jumpai pada keadaan ini. (Maramis, 1994).
Dalam hal ini, perawata psikiatri perlu memperhatikan masalah keperawatan pada
gangguan mental dan ditujukan pada bentuk terapeutik secara komprehensif yang bersifat
umum berdasarkan aspek bio, psiko, sosial, kultural, spiritual yang positif akan
meningkatkan rasa memiliki, kerjasama, hubungan timbal balik yang sinkron. (Stuart &
Sundeen, 1995).
Berdasarkan hal tersebut, maka kami Mahasiswa Poltekes Malang Program studi
keperawatan malang yang mendapatkan kesempatan melalui praktek keperawatan mental
psikiatri di RSJ Radjiman Wedyodiningrat Lawang merasa tertarik untuk melakukan
asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan pada klien dengan menarik
diri pada diagnosa medis Schizofrenia.

I. Kasus (Masalah Utama)
Kerusakan iteraksi sosial : Menarik Diri

II. Proses Terjadinya Masalah (Tinjauan Teori)
A. Definisi Menarik Diri
Prilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang
lain. Menghindari hubungan dengan orang lain (Rowlins, 1993)
Perilaku yang di munculkan oleh individu yang teramati lewat prilaku yang
maladaptif yang merupakan suatu upaya individu tersebut untuk mengatasi
kecemasannya, berhubungan dengan rasa takut, kesepian, kemarahan, rasa malu, rasa
bersalah, dan rasa tidak aman. (Stuart & Sunden, 1995)

B. Tanda dan Gejala
- Kurang spontan
- Apatis (acuh terhadap lingkungan)
- Ekspresi wajah kurang berseri
- Afek Tumpul
- Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
- Komunikasi verbal menurun atau tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan
klien lain / perawat
- Mengisolasi diri (menyendiri)
- Klien tampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan
- Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya
- Pemasukan makanan dan minuman terganggu
- Retensi urine dan feces
- Aktivitas menurun
- Kurang energi (tenaga)
- Harga diri rendah
- Menolak berhubungan dengan orang lain
- Klien memutuskan percakapan atau pergi bila diajak bercakap-cakap.


C. Mekanisme Koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha untuk mengatasi kecemasan yang
merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme koping yang
sering digunakan pada klien menarik diri adalah regresi, represi, dan isolasi.

D. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
a) Faktor Perkembangan.
Setiap tahap tumbuh kembang mempunyai tugas yang harus dilalui dengan
sukses. Karena apabila tugas perkembangan tersebut tidak di penuhi maka
akan mengganggu atau menghambat perkembangan selanjutnya. (Keliat,BA.
2002)
b) Faktor Biologis
faktor genetik dapat menunjang terhadap kerusakan interaksi sosial menarik
diri. Adanya kelainan-kelainan seperti retardasi mental dianggap membatasi
kapasitas adaptif seorang individu secara umum. (Townsend, 1998).
c) Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan yang
diakibatkan oleh karena norma yang tidak mendukung. Pendekatan terhadap
orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif
seperti lansia, orang cacat, dan orang yang berpenyakit kronis. Isolasi sosial
dapat terjadi karena mengadopsi norma, prilaku dan sistem nilai yang berbeda
dari kelompok mayoritas. Harapan yang tidak realistik terhadap hubungan
juga termasuk faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini (Stuart &
Sunden, 1998 )
2. Faktor presipitasi
a. Stressor sosial budaya
Stresor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam
berhubungan, misalnya keluarga yang labil, dirawat di RS.
b. Stresor psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya kemampuan
individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intensitas kecemasan yang
ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk
mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan berbagai masalah gangguan
berhubungan (menarik diri)






E. Rentang Respon Menarik Diri


Respon Adaptif Respon Maladaptif


- Menyendiri - Merasa sendiri - Manipulasi
- Otonomi (Loneliness) - Impulsif
- Bekerjasama - Menarik diri - Noreissism
- Saling tergantung - Tergantung

III. A. Pohon Masalah
Resiko tinggi perilaku kekerasan Akibat

Ketegangan peran Perubahan sensori - Defisit perawatan diri
Pemberi perawatan persepsi : pendengaran


Intoleransi Aktivitas


Harga Diri Rendah kronis Penyebab

Koping Keluarga Inefektif :
Ketidakmampuan Keluarga
merawat klien dirumah




Kerusakan Interaksi Sosial :
Menarik Diri (Masalah Utama)


B. Data yang perlu di kaji
1. Resiko perubahan sesnsori persepsi : Halusinasi....
DS : -
DO : - Klien berbicara sendiri
- Klien diam dan duduk menyendiri saat teman-teman yang lain sedang
berkumpul
2. Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri
DS : - Klien mengatakan tidak suka bergaul dengan orang lain
- Klien mengatakan malas berbicara dengan teman-temannya dan lebih enak
menyendiri
DO: - Klien duduk menyendiri
- Klien tidak kenal dengan nama teman satu ruangan
- Klien bicara dengan nada pelan dan lambat, wajah klien menunduk saat
berbicara dan kontak mata kurang / tidak ada
3. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
DS : - Klien mengatakan dirinya sudah tidak berguna lagi
DO : - Ekspresi wajah klien kelihatan murung
- Klien jarang berbicara / berinteraksi dengan teman / perawat ruangan
- Klien tampak malas untuk mengerjakan sesuatu

IV. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perubahan sensori persepsi : Halusinasi... berhubungan dengan menarik diri
2. Gangguan interaksi sosial : Menarik diri berhubungan dengan Harga diri rendah

V. Rencana Tindakan Keperawatan
Dx 1 : Resiko perubahan sensori persepsi : Halusinasi.... b/d Menarik diri
Tujuan Umum
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi



Tujuan Khusus
TUK 1
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Jelaskan tujuan pertemuan
d. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang di sukai klien
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
TUK 2
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Intervensi
a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab
menarik diri / tidak mau bergaul
c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul
d. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
TUK 3
Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
Intervensi
a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dan kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain
b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain
c. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
d. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain
TUK 4
Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
Intervensi
a. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
b. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
- klien perawat
- klien perawat perawat lain
- klien perawat perawat lain klien lain
- klien keluarga kelompok / masyarakat
c. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain
e. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu
f. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
g. Beri reinforecment positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
TUK 5
Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
Intervensi
a. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang
lain
b. Dorong dan bantu klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
dengan orang lain
c. Beri reinforecement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan orang lain
TUK 6
Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Intervensi
a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
- perilaku menarik diri
- penyebab perilaku menarik diri
- akibat yang akan terjadi bila perilaku menarik diri tidak di tanggapi
- cara keluarga menghadapi klien menarik diri
c. Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain
d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien
minimal 1 minggu sekali
e. Beri reinforecement positif atas hal-hal yang telah di capai oleh keluarga


DAFTAR PUSTAKA

Maramis, WF. 1998. Catatan Ilmu Kedoteran Jiwa. Surabaya : Airlangga

Stuar, G. W dan Sundeen, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Tim Jiwa Lawang. 2002. Pelatihan Nasional asuhan Keperawatan Profesional Jiwa dan
Komunikasi Terapuetik Keperawatan. Malang : Unibraw

Townsend, MC. 1998. Diagnosa Keperawatan. Psikiatri Pedoman untuk Pembuatan
Rencana Keperawatan. Jakarta: EGC.