Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN PRIMING BENIH






DISUSUN OLEH :
1. DWI SUGIANTI (10304241006)
2. SUSANTI (10304241007)
3. HARINI ASRI BAHARI (10304241008)
4. IKA FEBRIANA (10304241009)
5. ARIF BUDIMAN (10304241010)
Kelas:Pendidikan Biologi Subsidi 10


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011



HALAMAN PENGESAHAN
PERCOBAAN PRIMING BENIH


Oleh:
Kelompok II

Yogyakarta, 15 November 2011
Anggota Kelompok :

NAMA NIM TANDA TANGAN
Dwi Sugianti 10304241006
Susanti 10304241007
Harini Asri Bahari 10304241008
Ika Febriana 10304241009
Arif Budiman 10304241010


Diserahkan pada tanggal 5 November 2011 jam 9.00 WIB
Mengetahui:
Dosen Pembimbing / Asisten Praktikum



(.......................................................)


PERCOBAAN FISIOLOGI BIJI

A.TOPIK
-Percobaan Priming Benih

B.TUJUAN
-Mempelajari dan melakukan percobaan berbagai perlakuan priming pada benih

C.KAJIAN PUSTAKA
Perkecambahan menurut seorang ahli merupakan suatu perubahan morfologis seperti
penonjolan akar lembaga (radikula). Bagi seorang petani, perkecambahan adalah munculnya
semai. Secara teknis, perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan aktif yang
menghasilkan pecahan kulit biji dan munculnya semai (Dahlia, 2001: 101).
Menurut Goldsworthy dan Fisher (1992),perkecambahan merupakan suatu proses
yang menyebabkan suatu biji yang tidak aktif ,berkembang sedemikian rupa sehingga akan
munvul suatu semai.(Ekosari,R.2011)
Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik)
memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan pemunculan
radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, disebut sebagai proses
perkecambahan fisiologis. Secara fisiologis, proses perkecambahan berlangsung dalam
beberapa tahapan penting sebagai berikut:
1) Absorbsi air
2) Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
3) Transpor materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif
bertumbuh
4) Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru
5) Respirasi
6) Pertumbuhan



Gambar .1 Perkecambahan biji
Sumber :Botany visual resource Library@1998

Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang bersifat internal
maupun eksternal. Secara internal proses perkecambahan ditentukan oleh keseimbangan
antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutama asam giberelin (GA) dan asam
abskisat (ABA). Faktor eksternal dalam proses perkecambahan meliputi air, suhu,
kelembaban, cahaya, dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperan sebagai
inhibitor perkecambahan (Suyitno, 2010:51-52).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan ,antara lain :kemasakan benih dan
faktor lingkungan serta faktor tambahan.Apabila benih sudah masak secara fisiologis dan
mampu mengatasi faktor yang menyebabkan kedormanan,serta faktor lingkungan yang
mendukung ,maka benih tersebut dapat berkecambah(Finner,1992).Semakin rusak suatu benih
maka akan semakin tinggi cadangan makanan yang dikandungnya ,selanjutnya akan semakin
sempurna keadaan embrionya .Lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan benih
adalah:air ,udara,dan suhu.Faktor tumbuhan yang mempengaruhi perkecambahan antara
lain:tekanan osmotik,perendaman ,pH,kerusakan mekanis dan radiasi.( Ekosari R,2011)
Biji akan menjadi dewasa dalam buah. Setelah buah matang dan bijinya dikeluarkan,
biasanya biji dalam keadaan dorman untuk waktu lama atau pendek. Hal tersebut berarti
bahwa meskipun biji tersebut mendapat cukup air dan diberi kondisi yang baik untuk


melakukan perkecambahan, biji tersebut tidak akan berkecambah. Dormansi dapat
diakibatkan oleh terbentuknya senyawa-senyawa kimia penghambat pada permukaan biji,
kurangnya zat-zat perangsang yang penting atau disebabkan oleh kulit biji yang keras
sehingga air dan oksigen tidak dapat masuk. Dormansi ini dapat dihilangkan dengan berbagai
cara seperti dengan melakukan pembekuan, memperpanjang periode pendinginan,
memperpanjang pendedahan pada keadaan dingin, memberikan kelembaban yang tinggi
dengan adanya oksigen, melakukan pemanasan secara intensif (dibakar), melalui usus burung
atau mamalia, dilakukan secara mekanik (ampelas, dipecah), atau dibiarkan ditumbuhi jamur
(Dradjat Sasmitamihardja, 1996: 366).

Apabila kondisi yang diperlukan untuk menghilangkan dormansi ini berjalan, embrio
akan mulai membuat giberelin dan sitokinin, yang diperlukan untuk mengungguli efek kerja
penghambat pertumbuhan (growth inhibitor) sehingga pertumbuhan dapat dimulai. Jika pada
saat tersebut, biji diberi air maka akan berkecambah (Dradjat Sasmitamihardja, 1996: 367).
Fitohormon merupakan awal dan perantara proses perkecambahan yang penting untuk
beberapa aktivitas hormon pertumbuhan.
Fitohormon tersebut meliputi:
1. Giberelin yang berfungsi untuk menggiatkan enzim hidrolitik dalam pencernaan.
2. Sitokinin berfungsi untuk merangsang pembelahan sel sehingga muncul akar
lembaga dan pucuk lembaga. Perluasan di koleoriza (ujung akar) muncul
disebabkan oleh pembesaran sel.
3. Auksin berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan karena pembesaran
koleoriza, akar lembaga, dan pucuk lembaga serta aktivitas genotip (orientasi
pada pertumbuhan akar dan pucuk secara benar terlepas dari orientasi biji).(
Dahlia,2001: 101-102)





Gambar.2 perkecambahan
Sumber: : http//perkecambahan.wikipedia.wiki.id



Air merupakan faktor terpenting dalam proses perkecambahan biji, karena sebelum
terjadi proses perkecambahan biji berada dalam keadaan terdehidrasi. Secara normal biji
mengandung sekitar 5-20% dari berat totalnya, sehingga sebelum proses perkecambahan
dimulai biji harus menyerap air. Tahap awal perkecambahan adalah pengambilan air dengan
cepat, disebut imbibisi. Ada indikasi bahwa sampai batas kadar air kritis tertentu,
pertumbuhan biji tidak akan terjadi. Apabila air dikeluarkan sebelum mencapai titik kritis
tersebut, maka biji tidak akan rusak. Namun, apabila batas kritis tersebut telah dilewati dan
metabolisme telah dimulai, maka biji yang sedang berkecambah itu akan mangalami kematian
bila dikeringkan kembali (Dradjat Sasmitamihardja, 1996: 367).
Puncak imbibisi pada biji selada terjadi selama 2 jam, sedangkan respirasinya terjadi
setelah jam ke-2 dan mencapai puncak pertama setelah jam ke-8. respirasi kedua dimulai pada
jam ke-16 dan mencapai maksimum setelah 24 jam. Dua puncak ini dianggap berhubungan
dengan hidrolisis kimia dan sintesis. Mitosis terlihat jelas pada jam ke-12 dan mencapai
puncaknya pada jam ke-16. Ontogeni perkecambahan mengikuti dua fase metabolik yang
berbeda, yaitu hidrolisis secara enzimatis pada cadangan makanan yang disimpan, dan sintesis
jaringan baru dari senyawa yang dihidrolisis seperti gula, asam amino, asam lemak, dan
mineral yang dibebaskan (Dahlia, 2001: 101).
Selain air, oksigen juga merupakan faktor pentng dalam proses perkecambahan.
Metabolisme tingkat awal perkecambahan dilakukan secara anaerob, tetapi setelah kulit biji
pecah dan oksigen dapat berdifusi ke dalam perkecambahan dilanjutkan secara aerob. Selain
itu, suhu yang tepat juga diperlukan dalam proses perkecambahan. Biji biasanya tidak akan
berkecambah di bawah suhu tertentu yang spesifik untuk suatu spesies (Dradjat
Sasmitamihardja, 1996: 367-368).
Cahaya juga penting untuk proses perkecambahan beberapa biji. Biji-biji kecil yang
hanya memiliki cadangan makanan yang sangat sedikit untuk menunjang pertumbuhan awal
embrio memerluakan perubahanuntuk bersifat autotrof. Apabila biji tersebut ditanam terlalu
dalam di tanah, maka akan kehabisan cadangan makanan sebelum mencapai permukaan tana,
dan kecambah tersebut kemungkinan akan mati karena tidak sempat berfotosintesis. Untuk
biji-biji kelompok seperti ini, cahaya sangat penting sehingga perkecambahannya harus terjadi
di permukaan atau dekat permukaan. Selain itu, ditokrom yang merupakna pigmen yang
sensitive terhadap cahaya memegang peran penting dalam perkecambahan biji spesies tertentu
(Dradjat Sasmitamihardja, 1996: 367).


Piming adalah suatu teknik yang dikembangkan oleh Heydecker dkk.Sekitar tahun
1975,yang secara fisiologis bersifat kompleks,merupakan perlakuan dimana benih
disetimbangkan dengan potensial air yang memungkinkan proses penyerapan air secara
lambat atau terkendali ,tetapi tetap menahan permunculan radikel,atau memperlakukan benih
dalam suatu larutan osmotikum untuk meningkatkan laju perkecambahan dan keserempakan
tumbuh.
Keberhasilan pengaruh priming tergantung antara lain :
a. Jenis benih baik umur maupun spesiesnya(Heydecker et al,1975,cit.Goldsworthy&
Fisher,1992)
b. Jenis osmotikum
c. Temperatur imbibisi
d. Kadar atau potensial osmotiknya
e. Lamanya priming (Heydecker&Gibbins,1978 cit.Perkins&Cantliffe,1984;fu et
al,1998)
f. Adanya O
2
(Liming et al,1992)

Cara mengukur kadar air (KA) menggunakan metode oven (70 C; 2hari),dengan rumus
(Titik-Soedarti ,1997)

Cara mengukur daya kecambah dengan rumus,


kecepatan berkecambah :


Keterangan; Ni = jumlah benih yang berkecamabah pada Ti
Ti= waktu pengamatan
(Ekosari,2011)

D.METODE PRAKTIKUM
A.Tempat dan Waktu Praktikum
Tempat :Laboratorium Dasar Fisiologi Tumbuhan FMIPA UNY
Waktu :Oktober 2011

Kadar air=
()

100%
daya kecambah (%) =


100%
kecepatan perkecambahan =
1

+
2
2
+.....+






B.Alat dan Bahan
Alat : 1. Petridish 8.Alat tulis(pensil,kertas)
2. Kertas saring 9.saringan
3. Timbangan analitik
4. Oven
5. Objek Glass dan cover
6. Conductivity meter
7. Bak plastik (pengecambah)

Bahan : 1. Benih Kacang tanah (Arachis hypogea)
2. PEG 6000
3. NaCl atau garam dapur
4. Aquadest
5.Abu,serbuk gergaji,hancuran bata dan pasir berdebu

C.Prosedur Kerja


















Mengukur kadar air (KA) dengan menggunakan metode oven (70 C; 2hari) dengan
rumus:
Kadar air=
()

100%
Mempersiapkan osmotik priming dengan urutan:
a.membuat larutan PEG 6000 dan NaCl dengan konsentrasi 325 g/l dengan aquades
b.mengalasi petridish dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan larutan PEG-6000
c.menaburkan benih secara merata di atas kertas saring
d.menutup petridish untuk meminimalkan evaporasi
e.menginkubasi selama 4 hari




































Mempersiapkan matrik priming:
a.menyaring abu sekam atau remukan batu bata .
b.membuat campuran benih ,abu,air dengan rasio 5:4:4
c.menginkubasi selama 2 hari

Membersihkan benih yang sudah dipriming dengan air destilasi ,mengeringkan dengan
diangin-anginkan

Menguji kadar air benihnya
Melihat struktur benihnya dan sebagian diuji perkecambahannya.
a.Mengatur benih dan menaburkannya di atas permukaan pasir yang sudah dibasahi untuk
uji perkecambahannya
b.mengamati perkecambahannya yang dilakukan selama 1 minggu,batasan benih telah
berkecambah adalah apabila akar mencapai panjang minimal 3 mm.
c.mencari jenis perkecambahannya
d.menghitung daya kecambah dengan rumus :
daya kecambah (%) =


100%
e.kecepatan berkecambah :
kecepatan perkecambahan =
1

+
2
2
+.....+


Keteranangan;Ni = jumlah benih yang berkecamabah pada Ti
Ti= waktu pengamatan
Membandingkan data hasil dengan kontrol (benih yang tidak dipriming)


E.DATA DAN PEMBAHASAN

DATA
P.Bio Sub :
Keadaan benih
awal
Keadaan bening setelah
dipriming
Keaadaan biji setelah dikecambahkan
Jumlah
biji
Berat
(gr)
Jumla
h biji
Berat
(gr)
Jumla
h biji
Berat
(gr)
Sebelum
dioven
Setelah
dioven
Sebelu
m
dioven
Setelah
dioven
150 54,329
(basah)
48,433
(kering)
50 20,285 17,44 100 43,14 41,74

Perkecambahan
Jumlah biji 100 biji Hari Jumlah yang Berkecambah
Ke-1 1
Ke -2 2
Ke-3 5
Ke-4 4
Ke-5 3

Bio Swa :
Keadaan benih
awal
Keadaan bening setelah
dipriming
Keaadaan biji setelah dikecambahkan
Jumlah
biji
Berat
(gr)
Juml
ah
biji
Berat
(gr)
Jumlah
biji
Berat
(gr)
Sebelum
dioven
Setelah
dioven
Sebelu
m
dioven
Setelah
dioven
100 38,81
(basah)
36,72
(kering)
100 20,55 17,85 150 58,48 55,33





Perkecambahan
Jumlah biji 100 biji Hari Jumlah yang berkecambah
Ke-1 0
Ke -2 0
Ke-3 0
Ke-4 0
Ke-5 0


PEMBAHASAN:
Pada pecobaan kali ini Praktikan mempunyai tujuan untuk Mempelajari dan
melakukan percobaan berbagai perlakuan priming pada benih.Benih yang Praktikan gunakan
pada praktikum kali ini nadalah dengan benih kacang tanah (Arachis hypogea) . Sebelumnya
priming adalah suatu teknik yang dikembangkan oleh Heydecker dkk.Sekitar tahun 1975,yang
secara fisiologis bersifat kompleks,merupakan perlakuan dimana benih disetimbangkan
dengan potensial air yang memungkinkan proses penyerapan air secara lambat atau terkendali
,tetapi tetap menahan permunculan radikel,atau memperlakukan benih dalam suatu larutan
osmotikum untuk meningkatkan laju perkecambahan dan keserempakan tumbuh.Ada faktor-
faktor yang perlu Praktikan perhatikan dalam melakukan percobaan primng agar mendapat
hasil yang maksimal,antara lain:
a. Jenis benih baik umur maupun spesiesnya
b. Jenis osmotikum
c. Temperatur imbibisi
d. Kadar atau potensial osmotiknya
e. Lamanya priming
f. Adanya O
2


Pada percobvaan priming kali ini Praktikan membandingkan data yang diperoleh dari
Kelompok sendiri dengan kelompok kelas lain,yaitu kelas Bio swa.Pada data dari kelas
Praktikan tentang kacang tanah didapatkan data benih awal (150 benih) yang tidak melalui
perlakuan priming,berat basahnya 54,329 gram dan berat kering setelah dioven adalah 48,33
gram.Jadi jika dicari berat kadar airnya dengan rumus :
Kadar air=
()

100%,adalah Kadar air=
5
5432
100%=11,04%


Lalu data untuk kelas Bio swa ,Dengan jumlah biji 100 biji ,berat awal(basah)nya adalah
38,81 gram selanjutnya berat kering setelah dioven adalah 36,72 gram.Jadi dengan rumus
yang sama untuk mencari kadar air,diperoleh kadar air 5,39 %.
Untuk data biji yang sudah di priming pada data kelas P.Bio sub,dengan jumlah biji 50
biji diperoleh berat basahnya adalah 20,285 gram dan berat kering setelah dioven adalah
17,44 gram,untuk mencari kadar air dengan rumus yang sama dengan rumus di atas
didapatkan kadar air 14,025 %.Untuk data kelas Bio swa diperoleh data untuk 100 biji yang
dipriming ,berat awal adalah 20,55 gram dan berat biji yang sudah dioven (kering) adalah
17,85 gram.Untuk penghitungan kadar airnya diperoleh hasil 13,14%.
Selanjutnya data biji setelah dikecambahkan untuk data dari kelas P.Bio sub dengan
jumlah biji 100 biji, diperoleh berat basahnya adalah 43,14gram dan berat kering setelah
dioven adalah 41,74gram,untuk mencari kadar air dengan rumus yang sama dengan rumus di
atas didapatkan kadar air 3,25% Untuk data kelas Bio swa diperoleh data untuk 100 biji yang
dipriming ,berat awal adalah 20,55 gram dan berat biji yang sudah dioven (kering) adalah
17,85 gram.Untuk penghitungan kadar airnya diperoleh hasil 13,13%.
Unntuk daya perkecambahan dapat dihitung dengan rumus:
Daya kecambah =


100%
Berdasarkan data di atas maka dapat diketahui daya perkecambahannya. Pada kelas p.bio sub
banyaknya benih yang berkecambah ada 15 selama lima hari. Hari pertama 1 berkecambah,
hari kedua ada 2 yang berkecambah, hari ketiga ada 5 yang berkecambah, pada hari keempat
ada 4 yang berkecambah , dan hari kelima ada 3 yang berkecambah. Maka dari itu daya
perkecambahannya adalah:

12543
1
100% = 0,15 %
Selain daya perkecambahan , dapat pula diketahui dari data di atas bahwa
perkecambahan maksimum pada hari ke 3. Setelah hari ketiga tingkat perkecambahan
menurun lagi dan akhirnya mengalami pembusukan . Pembusukan terjadi karena keadaan
lingkungan yang terlalu lembab.
Sedangkan untuk daya perkecambahan dari data kelas biologi swadana, banyaknya benih
yang berkecambah selama 5 hari pengamatan adalah nol(0). Artinya , benih kacang tanah
tidak ada yang berkecambah selama lima hari pengamatan tersebut. Bila dihitung daya
perkecambahannya, hasilnya adalah:
Daya kecambah :

1
100% = 0%


Sedangkan untuk mengetahui pada hari keberapa benih kacang btanah optimum
mengalami perkecambahan pada data ini tidak bisa dilakukan . Hal ini karena datanya kosong,
benih padi tidak ada yanng berkecambah satu pun.
Berdasarkan dua data ini dapat dibandingakan bahwa pada data p.bio sub dapat mengalami
perkecambahan setelah biji dipriming menggunakan larutan NaCl, sedangkan pada data bio
swa tidak dapat mengalami perkecambahan. Pada percobaan p.bio sub terjadi demikian
karena kondisinya yang diperlukan untuk menghilangkan dormansi ini berjalan, embrio akan
mulai membuat giberelin dan sitokinin, yang diperlukan untuk mengungguli efek kerja
penghambat pertumbuhan (growth inhibitor) sehingga pertumbuhan dapat dimulai. Jika pada
saat tersebut, biji diberi air maka akan berkecambah. Lain halnya dengan percobaan pada
kelas bio swa, kondisi yang diperlukan untuk menghilangkan dormansi biji tidak berjalan,
embrio belum mulai membuat giberrelinn dan sitokinin sehingga pertumbuhan belum bisa
dimulai.


F. KESIMPULAN
>Apabila kondisi yang diperlukan untuk menghilangkan dormansi ini berjalan, embrio akan
mulai membuat giberelin dan sitokinin, yang diperlukan untuk mengungguli efek kerja
penghambat pertumbuhan (growth inhibitor) sehingga pertumbuhan dapat dimulai. Jika pada
saat tersebut, biji diberi air maka akan berkecambah. Sebaliknya, jika kondisi yang diperlukan
untuk menghilangkan dormansi tidak berjalan , embrio tidak/ belum memulai membuat
giberelinn dan sitokinin maka perrtumbuhan belum bisa dimulai.
>Jadi priming merupakan perlakuan dimana benih disetimbangkan dengan potensial air yang
memungkinkan proses penyerapan air secara lambat atau terkendali ,tetapi tetap menahan
permunculan radikel,atau memperlakukan benih dalam suatu larutan osmotikum untuk
meningkatkan laju perkecambahan dan keserempakan tumbuh.
G.SARAN
>Untuk penyediaan biji kacang tanah sebaiknya dipilih yang mempunyai kualitas yang baik
semua.
>Pada saat penimbangan harus diperhatikan secara cermat besaran pada timbangan agar
mendapatkan hasil yang akurat.
>Pada saat penutupan setelah perlakuan dengan larutan NaCl,harus ditutup dengan rapat agar
tidak terkontaminasi zat-zat lain


H.DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece & Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima- Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia
Kimball, B. A.. l983.Biology.Jakarta :Erlangga
Salisbury, B. Frank & Ross, W. Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.
Sasmitamihardja, Dpardjat. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: P2TA Dikjend Tinggi
Depdikbud.
Suyitno. 2011. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan .Jogjakarta: FMIPA UNY