Anda di halaman 1dari 7

1

Laporan Modul 3, MG3017


Feeder, Classifier, dan Uji Pengendapan
Hafidha Dwi Putri Aristien (12111003) / Kelompok 2 / Senin, 10 Maret 2014
Asisten : Dita Arum Sitti Hajar (12510013)

Abstrak Praktikum Modul 3 Selama praktikum terdapat 3 jenis percobaan. Percobaan pertama adalah feeder. Percobaan ini
bertujuan untuk memahami mekanisme kerja feeder, mengetahui jenis-jenis feeder yang ada di laboratorium, dan untuk menghitung
laju pengumpanan sebuah feeder. Percobaan kedua adalah mengenai classifier, dimana dlakukan pengamatan untuk memahami
mekanisme kerja classifier. Karena banyaknya feed yang harus dimasukkan untuk melakukan uji coba pada classifier, tidak dilakukan
simulasi pada percobaan ini. Percobaan yang ketiga adalah uji pengendapan (settling test), bertujuan untuk memahami prosedur kerja
uji pengendapan, mengamati pengaruh bahan penggumpal (floculating reagent), menghitung luas thickener yang diperlukan untuk
mengendapkan material, serta untuk mengetahui karakteristik pengendapan dari suatu bijih.

A. Tinjauan Pustaka
Pengolahan bahan galian diawali dengan karakterisasi bijih,
untuk menentukan cara pengolahan bijih yang paling tepat.
Untuk memulai proses pengolahan, dilakukan kominusi, yaitu
pengecilan ukuran material, dimana terkadang dibutuhkan
feeder apabila proses pengumpanan yang diinginkan
membutuhkan aliran seragam dari bijih basah ataupun kering.
Feeder berfungsi sebagai regulator yang memiliki mekanisme
penyeragaman aliran material.
Pengumpanan pada dasarnya adalah operasi penyampaian
dalam jarak yang relatif pendek dan digunakan apabila aliran
umpan tidak merata. Tipe-tipe desain feeder antara lain adalah
apron, belt, chain, roller, rotary, revolving disc, dan vibrating
feeder.
Setelah kominusi, tahap pengolahan berikutnya adalah proses
sizing (pemisahan berdasarkan ukuran), yang dibagi menjadi
proses ayakan dan klasifikasi. Klasifikasi adalah proses
pemisahan partikel berdasarkan kecepatan pengendapannya
dalam suatu media (udara atau air). Dalam proses klasifikasi,
digunakan alat yang bernama classifier. Produk dari proses
klasifikasi ada 2, yaitu:
- Produk yang berukuran kecil/halus, mengalir di
bagian atas, disebut overflow
- Produk yang berukuran lebih besar/kasar mengalir di
bagian bawah (dasar), disebut underflow
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam 3 cara,
yaitu partition concept, tapping concept, dan rein concept. Hal
ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan
bermacam-macam ukuran jatuh bebas di dalam suatu media
atau fluida (udara atau air), maka setiap partikel akan menerima
gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan
gerak partikel menjadi rendah (tenang/laminer), ukuran partikel
yang besar-besar mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti
oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil, sedangkan yang terhalus
(antara lain slimes) tidak sempat mengendap. Classifier dapat
dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu hydraulic, mechanical
classifier, dan hydrocyclone.
Sedimentasi adalah salah satu operasi pemisahan campuran
padatan dan cairan (slurry) menjadi cairan bening dan sludge
(slurry yang lebih pekat konsentrasinya), dapat berlangsung
karena gaya gravitasi yang terjadi pada butiran tersebut.
Operasi desimentasi termasuk pada kelompok pemisahan liqud
constrained-particles free, karena walaupun fluidanya bergerak
kecepatan gerak butiran relatif lebih cepat dibandingkan
kecepatan gerak fluidanya. Proses sedimentasi ini dapat
digunakan apda pemisahan butir padatan dengan berbagai
ukuran, tapi dapat bekerja optimum pada konsentrasi padatan
yang relatif rendah.
Uji pengendapan bertujuan untuk mengetahui kecepatan
pengendapan suatu material di dalam suatu media cair sebagai
pelarut. Kecepatan pengendapan setiap material berbeda,
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti komposisi kimia
material. Suatu zat akan mengalami tiga kondisi ketika
dimasukkan ke dalam pelarut, yaitu belum jenuh, jenuh, atau
lewat jenuh. Pengendapan terjadi ketika zat dalam pelarut telah
mengalami kondisi lewat jenuh.
Pada praktikum uji pengendapan ini digunakan thickener, yaitu
pemisahan antara solid dengan air yang dilakukan atas dasar
perbedaan kecepatan pengendapan partikel. Thickener
melakukan pengontrolan jumlah underflow.

Skema thickener (Ryenolds, 1982)
2

B. Data Percobaan
Feeder
Terdapat beberapa contoh feeder di laboratorium, yaitu sebagai
berikut.
a. Undergate feeder


b. Belt feeder


c. Volumetric feeder


Data yang didapatkan dari hasil percobaan adalah sebagai
berikut.
Metode (1)
Menghitung waktu keluarnya material sampai habis
Berat Waktu
10 kg 34.17 s

Metode (2)
Mengambil secara random material yang keluar dari
feeder dengan waktu tiap pengambilan 1 detik
Nomor pengambilan
sampel selama 1s
Berat
(gram)
1 170
2 150
3 175
Rata-rata 165
Classifier
Terdapat beberapa contoh classifier di laboratorium, yaitu
sebagai berikut.
a. Cyclosizer


b. Hydrocyclone


Uji Pengendapan
Dari percobaan uji pengendapan, data yang diperoleh adalah
sebagai berkut.
Massa jenis silika 2.67 g/cm3
Ukuran butir -150#
Asumsi - material homogen
- berat jenis sama
Tinggi total pada gelas ukur (y) 31.5 cm

Gelas Ukur I
(tanpa
flokulan)
Waktu
(menit)
Tinggi
Endapan
(cm)
Keterangan
1 1.5
2 2.1
3 2.5
4 3.5
5 3.8
6 4.2
7 4.1
8 3.7 x (tinggi akhir)

3

Gelas Ukur
II (dengan
flokulan)
Waktu
(detik)
Tinggi
Endapan
(cm)
Keterangan
3 1
6 1.8
9 2.5
12 3
15 3.5
18 3.6
21 4
24 4.1
27 4.5
30 4.8
33 5
36 5.4
39 5.6
42 5.8
45 6
48 6.1
51 6.2
54 6.3
57 6.3
60 6.4
63 6.4
66 5.5
69 5.6
72 5.8
75 5.9
78 6
81 5.9
84 6
87 5.9
90 5.9
93 5.9
96 5.9
99 5.9
102 5.9
105 5.9
108 5.9
111 5.9
114 5.6
117 5.5
120 5.5 x (tinggi akhir)

C. Pengolahan Data Percobaan
- Feeder
Dalam percobaan feeder, prosedur yang kami lakukan
adalah sebagai berikut.
1. Menimbang material pasir silika, dengan berat 10 kg
2. Menentukan laju pengumpanan berdasarkan berat dan
waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan material
tersebut dari alat
3. Memasukkan kembali material ke dalam feeder, dan
mengambil material yang keluar dari feeder untuk setiap
1 detik dengan beberapa kali pengambilan secara
random. Kemudian mengambil harga rata-ratanya.
4. Membandingkan hasil yang diperoleh pada langkah (2)
dan (3) serta membuat kesimpulan.

Laju pengumpanan
Metode (1)
=


=
10
34.17

= , /
Metode (2)
=
170 + 150 + 175 ()
3

= 165

=


=
165
1

= , /

- Classifier
Mekanisme kerja Classifier adalah sebagai berikut.

- Uji Pengendapan
Dalam percobaan uji pengendapan, prosedur yang kami
lakukan adalah sebagai berikut.
1. Menimbang gerusan SiO2 sebanyak 100 gram,
kemudian memasukkannya ke dalam gelas ukur
2. Menambahkan air ke dalam gelas ukur hinggal volume
tepat 1000 cc
3. Menghitung persen padatan dalam gelas ukur
% =

+
100%
4. Mengaduk kembali dengan baik dan membiarkannya
mengendap. Mencatat pada interval waktu tertentu (1
menit), tinggi interface cairan bersih dan pulp (interface
atas)
Ulangi langkah (1) s/d (4) untuk gelas ukur 2, dengan
menambahkan floculating reagent sebanyak dan
interval waktu pencatatan setiap 3 detik.

Perhitungan % padatan

% =


%


4

Dilusi
=





Perhitungan laju pengendapan berdasarkan percobaan



Gelas Ukur I (tanpa flokulan)
Waktu
(menit)
Tinggi
Pulp
(cm)
Volume
Cairan
Bersih
(ml)
% Solid
Pulp
Dillution
Kecepatan
Pengendap-
an (cm/s)
1 1.5 965.486 10.357 9.655 0.025
2 2.1 946.176 10.569 9.462 0.245
3 2.5 933.303 10.715 9.333 0.161
4 3.5 901.120 11.097 9.011 0.117
5 3.8 891.465 11.217 8.915 0.092
6 4.2 878.592 11.382 8.786 0.076
7 4.1 881.810 11.340 8.818 0.065
8 3.7 894.683 11.177 8.947 0.058
rata-rata 10.982 9.116 0.119

Gelas Ukur II (dengan flokulan)
Waktu
(menit)
Tinggi
Pulp
(cm)
Volume
Cairan
Bersih
(ml)
% Solid
Pulp
Dillution
Kecepatan
Pengendap-
an (cm/s)
3 1 981.577 10.188 9.816 10.167
6 1.8 955.831 10.462 9.558 4.950
9 2.5 933.303 10.715 9.333 3.222
12 3 917.211 10.903 9.172 2.375
15 3.5 901.120 11.097 9.011 1.867
18 3.6 897.902 11.137 8.979 1.550
21 4 885.029 11.299 8.850 1.310
24 4.1 881.810 11.340 8.818 1.142
27 4.5 868.937 11.508 8.689 1.000
30 4.8 859.282 11.638 8.593 0.890
33 5 852.846 11.725 8.528 0.803
36 5.4 839.973 11.905 8.400 0.725
39 5.6 833.536 11.997 8.335 0.664
42 5.8 827.099 12.090 8.271 0.612
45 6 820.663 12.185 8.207 0.567
48 6.1 817.445 12.233 8.174 0.529
51 6.2 814.226 12.282 8.142 0.496
54 6.3 811.008 12.330 8.110 0.467
57 6.3 811.008 12.330 8.110 0.442
60 6.4 807.790 12.379 8.078 0.418
63 6.4 807.790 12.379 8.078 0.398
66 5.5 836.754 11.951 8.368 0.394
69 5.6 833.536 11.997 8.335 0.375
72 5.8 827.099 12.090 8.271 0.357
75 5.9 823.881 12.138 8.239 0.341
78 6 820.663 12.185 8.207 0.327
81 5.9 823.881 12.138 8.239 0.316
84 6 820.663 12.185 8.207 0.304
87 5.9 823.881 12.138 8.239 0.294
90 5.9 823.881 12.138 8.239 0.284
93 5.9 823.881 12.138 8.239 0.275
96 5.9 823.881 12.138 8.239 0.267
99 5.9 823.881 12.138 8.239 0.259
102 5.9 823.881 12.138 8.239 0.251
105 5.9 823.881 12.138 8.239 0.244
108 5.9 823.881 12.138 8.239 0.237
111 5.9 823.881 12.138 8.239 0.231
114 5.6 833.536 11.997 8.335 0.227
117 5.5 836.754 11.951 8.368 0.222
120 5.5 836.754 11.951 8.368 0.217
rata-rata 11.849 8.458 1.063


Perhitungan kecepatan dengan Hk. Stokes
Asumsi yang digunakan:
- Pengendapan seragam
- Distribusi ukuran uniform
- Bentuk material sphere (bulat)
- Tidak terjadi aliran turbulen (terjadi aliran laminer
berdasarkan gravitasi)
=

)


dengan d = ukuran material (#150)
s = massa jenis material padatan
f = massa jenis fluida
= viskositas

=
()
2

2
.
980

2
. (2.67 1.00)/
3
18. (0.113. 10
3
).
1

1

=
(0,0105)
2

2
.
980

2
. (2.67 1.00)/
3
18. (0.113. 10
3
).
1

1

= , /




5

Grafik Hasil Uji Pengendapan





D. Analisis Hasil Percobaan
Feeder
Pada percobaan feeder, dapat diketahui bahwa metode (1) yaitu
memasukkan seluruh material ke dalam feder dan menghitung
waktu keluarnya sampai material habis tidak dapat digunakan
dalam skala industri. Hal tersebut dikarenakan pada skala
industri, material yang digunakan sangat banyak, dan jika
menunggu material mengalir melalui feeder sampai habis,
waktu yang dibutuhkan sangat lama hanya untuk memperoleh
laju pengumpanan pada suatu feeder. Oleh karena itu, pada
skala industri lebih baik digunakan metode (2) dalam mengukur
laju pengumpanan suatu alat feeder.

Uji Pengendapan
Pada uji pengendapan, hasil yang diperoleh pada gelas ukur 1
(tanpa flokulan) dan pada gelas ukur 2 (dengan flokulan) cukup
berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan flokulan
(floculating reagent) dapat meningkatkan laju pengendapan
suatu material dalam cairan.
Penghitungan laju pengendapan hasil percobaan berbeda
dengan penghitungan secara teoretik (berdasarkan hukum
Stokes). Hal ini dapat diakibatkan karena aliran yang terjadi
dalam air sebenarnya tidak hanya aliran laminar, namun terjadi
juga aliran turbulen, sedangkan hukum Stokes menggunakan
asumsi aliran turbulen tidak terjadi. Selain itu, ukuran material
tidak sepenuhnya seragam dan berbentuk bulat, sehingga tidak
sepenuhnya memenuhi asumsi yang digunakan pada hukum
Stokes. Perbedaan juga dapat diakibatkan oleh kesalahan
pengukuran tinggi interface saat pengamatan. Hukum Stokes
menyatakan kecepatan maksimum yang mungkin terjadi dalam
proses pengendapan suatu material, dengan asumsi hanya
terjadi aliran laminar, ukuran partikel seragam, bentuk partikel
bulat, dan terjadi pengendapan seragam.

Rangkaian Feeder, Kominusi, Classifier, dan Pengendapan




6

E. Pertanyaan dan Jawaban
Feeder
1. Untuk apa gunanya feeder?
Jawab:
Untuk memberikan laju aliran pengumpanan yang seragam
dalam waktu tertentu.
2. Ada berapa macam feeder yang ada di laboratorium yang
saudara ketahui?
Jawab:
Ada 3. Undergate feeder, belt feeder, dan volumetric feeder.
3. Untuk umpan yang bagaimana diaphragma feeder diapakai?
Jawab:
Umpan yang mengandung air sangat banyak.
4. Apa keburukannya apabila belt feeder dipakai untuk feeder
yang kasar?
Jawab:
Feed yang kasar akan menyebabkan gaya gesekan dan
tumbukan semakin besar pada belt, sehingga belt akan cepat
rusak.
5. Alat pengontrol apa saja untuk mengatur rate of delivery
laju pengumpan pada disc feeder?
Jawab:
Pengatur daya atau energi motor penggerak.

Classifier
1. Classifier yang ada di laboratorium termasuk golongan
classifier yang mana? Apa ciri-cirinya?
Jawab:
Hydrocyclone, ciri-cirinya adalah memanfaatkan gaya
sentrifugal.
2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kapasitas dari
classifier?
Jawab:
Kemiringan tangki, laju pengumpanan, dilusi, tinggi bibir
overflow, dan pengadukan.
3. Umpan yang bagaimanakah yang baik dikerjakan oleh alat
ini?
Jawab:
Umpan dengan ukuran butir relatif kasar dan persen solid
sekitar 60%, dan overflow yang dihasilkan diharapkan
memiliki dilusi 9:1.
4. Berikan gambaran tentang zone-zone pengendapan pada
classifier ini!
Jawab:

5. Jelaskan prinsip pemisahan yang terjadi pada classifier?
Jawab:
Menggunakan gaya gravitasi atau gaya sentrifugal. Material
memiliki perbedaan ukuran dan berat jenis, sehingga akan
terjadi pemisahan karena perbedaan kecepatan
perpindahannya.
6. Mekanisme apa saja yang menyebabkan adanya hindered
settling dan free settling pada alat ini?
Jawab:
Free settling terjadi saat persen air dalam amterial lebih
banyak daripada padatan dan jumlahnya mendekati jumlah
pulp. Pada bijih yang terpisah sempurna, persen solidnya
kurang dari 15%.
Hindered settling terjadi apabila persen solid bijih lebih dari
15%.
7. Berikan gambaran gaya-gaya yang bekerja pada partikel-
partikel sehingga terjadi pemisahan!
Jawab:
Gerakan spiral, adanya gaya sentrifugal dan arus tambahan
berupa arus Eddy dan arus short circuit.

F. Kesimpulan
Feeder bekerja untuk memberikan umpan dengan laju yang
seragam pada alat pengolahan bahan galian. Feeder yang
terdapat di laboratorium memiliki laju pengumpanan sebesar
A. Material tidak
terklasifikasikan,
ukuran seperti
umpan
B. Material kasar
C. Material halus
D. Material
berukuran di
antara halus dan
kasar
7

0,293 kg/s berdasarkan metode (1), dan 0,165 kg/s berdasarkan
metode (2).
Classifier bekerja untuk memisahkan amterial berdasarkan
berat jenis dan ukurannya dengan media air.
Uji pengendapan dilakukan dengan cara memperhitungkan
persen padatan dari material yang akan diolah, kemudian
dilakukan pengamatan terhadap tinggi interface setiap interval
waktu tertentu untuk memperoleh laju pengendapan material.
Laju pengendapan yang didapatkan sebesar berdasarkan
hasil percobaan, dan sebesar secara teoretik. Luas thickener
yang dibutuhkan untuk proses pengendapan tersebut adalah

G. Daftar Pustaka
Barry A. Wills. Tim Napier-Munn 2006. Mineral Processing
Technology: An Introduction to the Practical Aspects of
Ore Treatment and Mineral Recovery. Elsevier Science &
Technology Books: Australia.
Kelly, G., W. 1982. Introduction to Mineral Processing. John
Wiley & Son, New York.
Materi Perkuliahan Pengolahan Bahan Galian (Bab IV).

H. Lampiran