Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya
obstruksi usus yang segera memerlukan pertolongan dokter. Di Indonesia ileus
obstruksi paling sering disebabkan oleh hernia inkarserata, sedangkan ileus
paralitik sering disebabkan oleh peritonitis. Keduanya membutuhkan tindakan
operatif.
Merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai 60-
0! dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan apendisitis akut. Ileus memiliki
mortalitas tinggi jika tidak segera didiagnosis dan ditangani dalam "# jam.
$etiap tahunnya % dari %000 penduduk dari segala usia di diagnosa ileus
&Da'idson, "006(. Di )merika diperkirakan sekitar *00.000-#00.000 menderita
ileus setiap tahunnya &+eekel, "00*(. Di Indonesia ter,atat ada .0-. kasus
ileusparalitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan .0"# pasien
rawat jalan pada tahun "00# &Departemen Kesehatan Indonesia(.
/bstruksi usus halus menempati sekitar "0! dari seluruh pembedahan
darurat,dan mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal
dan diagnosis yang tepat. 0erlekatan usus sebagai penyebab dari Ileus saat ini
menempati urutan pertama. Maingot melaporkan bahwa sekitar 0! penyebab
dari Ileus adalah perlekatan. $ur'ey Ileus /bstruksi di 1$2D D1. $oetomo pada
tahun "00% mendapatkan -0! dari penyebabnya adalah perlekatan usus,
kemudian diikuti 3ernia **,*!, keganasan %-!, 4ol'ulus %,!.
%
Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar.
Keduanya memiliki ,ara penanganan yang berbeda dengan tujuan yang berbeda
pula. /bstruksi usus halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan
'askularisasi usus dan memi,u iskemia, nekrosis, perforasi dan kematian,
sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan pada dekompresi dan
menghilangkan penyebab untuk men,egah kematian.
/bstruksi usus besar sering disebabkan oleh neoplasma atau kelainan
anatomi, seperti 'ol'ulus, hernia inkarserata, striktur atau obstipasi. 0enanganan
obstruksi kolon lebih kompleks karena masalahnya tidak bisa hilang dengan sekali
operasi saja. 5erkadang ,ukup sulit untuk menentukan jenis operasi kolon karena
diperlukan diagnosis yang tepat tentang penyebab dan letak anatominya. 0ada
kasus keganasan kolon, penanganan pasien tidak hanya berhenti setelah operasi
kolostomi, tetapi membutuhkan radiasi dan sitostatika lebih lanjut. 3al ini yang
menyebabkan manajemen obstruksi kolon begitu rumit dan kompleks daripada
obstruksi usus halus.
"
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ILEUS
Ileus merupakan suatu kondisi dimana terdapat gangguan pasase &jalannya
makanan( di usus yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus
terutama dibagi dua berdasarkan penyebabnya, yaitu ileus obstruktif dan ileus
paralitik &3amami, "00*(.
1. Ileus Paralitik
1.1 Definisi
Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal atau
tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya
&$jamsuhidajat, "00*(. Ileus paralitik ini bukan suatu penyakit primer usus
melainkan akibat dari berbagai penyakit primer, tindakan &operasi( yang
berhubungan dengan rongga perut, toksin dan obat-obatan yang dapat
mempengaruhi kontraksi otot polos usus. Ileus paralitik merupakan kondisi
dimana terjadi kegagalan neurogenik atau hilangnya peristalti, usus tanpa adanya
obstruksi mekanik. &6adash, "00-(
Ileus paralitik adalah hilangnya peristaltik usus sementara akibat suplai
saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak
mampu mendorong isi sepanjang usus, ,ontohnya amiloidosis, distrofi otot,
gangguan endokrin, seperti diabetes militus, atau gangguan neurologis seperti
penyakit 0arkinson &$jamsuhidajat, "00*(
1.2 Etiologi
Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada7 &%( proses intraabdominal
seperti pembedahan perut dan saluran ,erna atau iritasi dari peritoneal &peritonitis,
pankreatitis, perdarahan(8 &"( sakit berat seperti pneumonia, gangguan pernafasan
yang memerlukan intubasi, sepsis atau infeksi berat, uremia, dibetes ketoasidosis,
dan ketidakseimbangan elektrolit &hipokalemia, hiperkalsemia, hipomagnesemia,
hipofosfatemia(8 dan &*( obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus &opioid,
antikolinergik, fenotia9ine(. $etelah pembedahan, usus halus biasanya pertama
*
kali yang kembali normal &beberapa jam(, diikuti lambung &"#-#: jam( dan kolon
&#:-" jam(. &6adash, "00-(
Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pen,ernaan tanpa adanya
obstruksi usus mekanik. Diduga, otot dinding usus terganggu dan gagal untuk
mengangkut isi usus. Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi menyebabkan
akumulasi gas dan ,airan dalam usus.
Meskipun ileus disebabkan banyak faktor, keadaan pas,aoperasi adalah
keadaan yang paling umum untuk terjadinya ileus. Memang, ileus merupakan
konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut. ;isiologisnya ileus kembali
normal spontan dalam "-* hari, setelah motilitas sigmoid kembali normal. Ileus
yang berlangsung selama lebih dari * hari setelah operasi dapat disebut ileus
adynami, atau ileus paralitik pas,aoperasi. $ering, ileus terjadi setelah operasi
intraperitoneal, tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan retroperitoneal
dan e<tra-abdominal. Durasi terpanjang dari ileus ter,atat terjadi setelah
pembedahan kolon. =aparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang
lebih singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka.
Konsekuensi klinis ileus pas,a operasi dapat mendalam. 0asien dengan
ileus merasa tidak nyaman dan sakit, dan akan meningkatkan risiko komplikasi
paru. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gi9i buruk. $e,ara keseluruhan,
ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena memperpanjang rawat inap di
rumah sakit &6adash, "00-(.
6eberapa penyebab terjadinya ileus7
5rauma abdomen
0embedahan perut &laparatomy(
$erum elektrolit abnormalitas
3ipokalemia
3iponatremia
3ipomagnesemia
Infeksi, inflamasi atau iritasi &empedu, darah(
%. Intrathorak
%. 0neumonia
". =ower lobus tulang rusuk patah
*. Infark miokard
". Intrapel'i, &misalnya penyakit radang panggul(
#
*. 1ongga perut
%. 1adang usus buntu
". Di'ertikulitis
*. >efrolisiasis
#. Kolesistitis
-. 0ankreatitis
6. 0erforasi ulkus duodenum
Iskemia usus
%. Mesenterika emboli, trombosis iskemia
?edera tulang
%. 0atah tulang rusuk
". 4ertebral 1etak &misalnya kompresi lumbalis 1etak (
0engobatan
%. >arkotika
". ;enotia9in
*. Diltia9em atau 'erapamil
#. ?lo9apine
-. /bat )nti,holinergi,
1. Patofisiologi
0atofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya
sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat akti'itas dalam traktus
gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang
ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. $istem simpatis menghasilkan pengaruhnya
melalui dua ,ara7 &%( pada tahap yang ke,il melalui pengaruh langsung
norepineprin pada otot polos &ke,uali muskularis mukosa, dimana ia
merangsangnya(, dan &"( pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari
noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. +adi, perangsangan yang
kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus
gastrointestinal &6adash, "00-(.
3ambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik
akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus
gastrointestinal, namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat
saraf parasimpatis bersifat eksitatorik, beberapa neuron bersifat inhibitorik, ujung
-
seratnya mensekresikan suatu transmitter inhibitor, kemungkinan peptide
intestinal 'asoaktif dan beberapa peptide lainnya.
Menurut beberapa hipotesis, ileus pas,a operasi dimediasi melalui akti'asi
hambat busur refleks tulang belakang. $e,ara anatomis, * refleks berbeda yang
terlibat7 ultrashort refleks terbatas pada dinding usus, refleks pendek yang
melibatkan ganglia pre'ertebral, dan refleks panjang melibatkan sumsum tulang
belakang. &>obie, "00*(
.
1espon stres bedah mengarah ke generasi sistemik
endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus.
0enyakit atau keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan
seperti yang ter,antum dibawah ini7
Neurogenik
- 1efleks inhibisi dari saraf afferent7 in,isi pada kulit dan usus pada
operasi abdominal.
- 1efleks inhibisi dari saraf efferent7 menghambat pelepasan
neurotransmitter asetilkolin.
Hor!onal
Kolesistokinin, disekresi oleh sel I dalam mukosa duodenum dan
jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya peme,ahan produk
lemak, asam lemak dan monogliserida di dalam usus. Kolesistokinin
mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan kontraktilitas kandung
empedu, jadi mengeluarkan empedu kedalam usus halus dimana empedu
kemudian memainkan peranan penting dalam mengemulsikan substansi
lemak sehingga mudah di,erna dan diabsorpsi. Kolesistokinin juga
menghambat motilitas lambung se,ara sedang. /leh karena itu disaat
bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan kandung
empedu, hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari
lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pen,ernaan
lemak di traktus gastrointestinal bagian atas.
3ormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung
juga memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin
berperan sebagai respons dari getah asam lambung dan petida penghambat
asam lambung sebagai respons terhadap asam lemak dan asam amino.
Infla!asi
- Makrofag7 melepaskan proinflammatory ,ytokines &>/(.
- prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus.
6
"ar!akologi
/pioid menurunkan akti'itas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari
pleksus mienterikus. $elain itu, opioid juga meningkatkan tonus otot polos
usus dan menghambat gerak peristaltik terkoordianasi yang diperlukan
untuk gerakan propulsi.
- /pioid7 efek inhibitor, blo,kade e<,itatory neurons yang
mempersarafi otot polos usus.
1.# $anifestasi Klinik
Ileus adinamik &ileus inhibisi( ditandai oleh tidak adanya gerakan usus
yang disebabkan oleh penghambatan neuromus,ular dengan aktifitas simpatik
yang berlebihan. $angat umum, terjadi setelah semua prosedur abdomen, gerakan
usus akan kembali normal pada7 usus ke,il "# jam, lambung #: jam, kolon *--
hari.
0asien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung &abdominal
distention(, anoreksia, mual dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula
tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan
keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. 0asien ileus paralitik mempunyai
keluhan perut kembung, tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal.
0ada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi
timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar
sama sekali. 0ada palpasi, pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada
perutnya. 5idak ditemukan adanya reaksi peritoneal &nyeri tekan dan nyeri lepas
negatif(. )pabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis yang
ditemukan adalah gambaran peritonitis.
1.% Diagnosa
0ada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa
silentabdomen yaitu bising usus menghilang. 0ada gambaran foto polos abdomen
didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar.
Ana!nesa
0ada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus,
rasa mual dan dapat disertai muntah. 0asien kadang juga mengeluhkan tidak bisa
6)6 ataupun flatus, rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri.

Pe!eriksaan fisik
- Ins&eksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang men,akup
kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. 0ada abdomen harus
dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. 0ada
pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik.
- Pal&asi
0ada palpasi bertujuan men,ari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau
nyeri tekan, yang men,akup @defen,e mus,ularA in'olunter atau rebound dan
pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui penyebab ileus.
- Perkusi
3ipertimpani
- Auskultasi
6ising usus lemah atau tidak ada sama sekali &silent abdomen( dan borborigmi
Pe!eriksaan &enun'ang
0emeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu men,ari kausa
penyakit. 0emeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leukosit darah,
kadar elektrolit, ureum, glukosa darah dan amylase. ;oto polos abdomen sangat
membantu untuk menegakkan diagnosis. 0ada ileus paralitik akan ditemukan
distensi lambung, usus halus dan usus besar. )ir fluid le'el ditemukan berupa
suatu gambaran line up &segaris(. 3al ini berbeda dengan air fluid le'el pada ileus
obstruktif yang memberikan gambaran stepladder &seperti anak tangga(. )pabila
dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan, dapat dilakukan foto
abdomen dengan mempergunakan kontras.
1.( Penatalaksanaan
0engelolaan ileus paralitik bersifat konser'atif dan suportif. 5indakannya
berupa dekompresi, menjaga keseimbangan ,airan dan elektrolit, mengobati kausa
dan penyakit primer dan pemberiaan nutrisi yang adekuat&$jamsuhidajat, "00*(
0rognosis biasanya baik, keberhasilan dekompresi kolon dari ileus telah di,apai
oleh kolonoskopi berulang &=e'ine, %.."(. 6eberapa obat-obatan jenis penyekat
simpatik &simpatolitik( atau parasimpatomimetik pernah di,oba, ternyata hasilnya
tidak konsisten. 2ntuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik &bila
perlu dipasang juga re,tal tube(. 0emberian ,airan, koreksi gangguan elektrolit
dan nutrisi parenteral hendaknya diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip-
:
prinsip pemberian nutrisi parenteral. 6eberapa obat yang dapat di,oba yaitu
metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis, sisaprid bermanfaat untuk ileus
paralitik pas,aoperasi, dan klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus
paralitik karena obat-obatan.&$jamsuhidajat, "00*(
1. Konser)atif
0enderita dirawat di rumah sakit.
0enderita dipuasakan
Kontrol status airway, breathing and circulation.
Dekompresi dengan nasogastrictube.
Intravenousfluidsandelectrolyte
Dipasang kateter urin untuk menghitung balance ,airan.
2. "ar!akologis
)ntibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.
)nalgesik apabila nyeri.
0rokinetik7 Metaklopromide, ,isapride
0arasimpatis stimulasi7 bethane,ol, neostigmin
$impatis blokade7 alpha " adrenergik antagonis
. *&eratif
Ileus paralitik tidak dilakukan inter'ensi bedah ke,uali disertai dengan
peritonitis./perasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastri, untuk
men,egah sepsis sekunder atau rupture usus./perasi diawali dengan laparotomi
kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil e<plorasi
melalui laparotomi.
0intas usus 7 ileostomi, kolostomi.
.
1eseksi usus dengan anastomosis
Di'ersi stoma dengan atau tanpa reseksi.
1.+ Diagnosis Ban,ing
$asala- lain .ang &erlu ,i&erti!/angkan
Masalah umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi, juga disebut sebagai
sindrom /gil'ie, dan obstruksi usus mekanik.
Pseu,o0o/stru1tion&Pseu,o0o/struksi2
0seudo-obstruksi didefinisikan sebagai penyakit akut, ditanda dengan
distensii dari usus besar. $eperti ileus, itu terjadi didefinisikan karena tidak adanya
gangguan mekanik. 6eberapa teks dan artikel ,enderung menggunakan ileus
sinonim dengan pseudo-obstruksi. >amun, kedua kondisi itu adalah hal yang
berbeda. 0seudo-obstruksi ini jelas terbatas pada usus besar saja, sedangkan ileus
melibatkan baik usus ke,il dan usus besar. 2sus besar kanan terlibat dalam klasik
pseudo-obstruksi, yang biasanya terjadi pada pasien yang terbaring lama di tempat
tidur dengan gambaran penyakit ekstraintestinal serius atau pada pasien trauma.
)gen farmakologis, aerophagia, sepsis, dan perbedaan elektrolit juga dapat
berkontribusi untuk kondisi ini.Kondisi kronis pada pseudo-obstruksi usus juga
diamati pada pasien dengan penyakit kolagen-'askular, miopati 'iseral, atau
neuropati. 6entuk kronis dari pseudo-obstruksi melibatkan dismotilitas baik dari
usus besar dan ke,il. Dismotilitas ini disebabkan hilangnya kompleks motorik
yang berpindah dan bakteri berlebih. semua hal ini bermanifestai klinik sebagai
obstruksi usus ke,il.
0emeriksaan fisik biasanya menunjukkan tanda perut kembung tanpa rasa
sakit, namun pasien bisa juga mempunyai gejala mirip obstruksi. 1adiografi dari
foto polos abdomen mengungkapkan adanya keadaan yang terisolasi, dilatasi usus
proksimal yang membesar, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah, dan
pen,itraan kontras membedakan ini dari obstruksi mekanik.
Distensi kolon dapat mengakibatkan perforasi ,ae,um, terutama jika
diameter ,ae,um melebihi %" ,m. 5ingkat kematian untuk pseudo-obstruksi
adalah -0! jika pasien berkembang menjadi nekrosis iskemik dan perforasi.
0erawatan awal meliputi hidrasi, pemasangan >B5 dan re,tal tube,
koreksi ketidakseimbangan elektrolit, dan penghentian obat yang menghambat
%0
motilitas usus. Dekompresi melalui kolonoskopi ,ukup efektif dalam mengurangi
pseudo-obstruksi. >eostigmine intra'ena mungkin juga efektif, menghasilkan
perbaikan pseudo-obstruksi dalam waktu %0-*0 menit. Dosis ",- mg dari
neostigmine diinfuskan perlahan-lahan selama * menit dengan pengawasan
jantung untuk mengamati efek bradikardi. +ika terjadi bradikardia, atropin harus
diberikan. =aparotomi dan reseksi usus untuk peritonitis dan iskemia merupakan
jalan terakhir.
*/struksi $ekanik
/bstruksi mekanik usus dapat disebabkan oleh adhesi, 'ol'ulus , hernia,
intususepsi , benda asing, atau neoplasma. 0asien datang dengan nyeri kram perut
berat yang paroksismal. 0emeriksaan fisik ditemukan borborygmi bertepatan
dengan kram perut. 0ada pasien yang kurus, gelombang peristaltik dapat
di'isualisasikan. Dengan auskultasi dapat terdengar suara bernada tinggi, denting
suara bersamaan dengan aliran peristalti,. +ika obstruksi total, pasien
mengeluhkan tidak bisa 6)6. Muntah mungkin terjadi tapi bisa juga tidak jika
katup ileo,e,al kompeten dalam men,egah refluks. 5anda peritoneal terlihat nyata
jika pasien mengalami strangulasi dan perforasi.
5abel berikut menyajikan perbedaan antara ileus, pseudo-obstruksi, dan obstruksi
mekanis.
Ileus Pseu,o0o/struksi
$ekanikal
*/struksi
3e'ala $akit perut,
kembung, mual,
>yeri kram perut,
konstipasi,
>yeri kram perut,
konstipasi,
%%
muntah, konstipasi obstipasi, mual,
muntah, anoreksia
obstipasi, mual,
muntah, anoreksia
Te!uan
Pe!eriksaan "isik
$ilent abdomen,
kembung, timpani
6orborygmi,
timpani, gelombang
peristaltik, bising
usus hiperaktif atau
hipoaktif, distensi,
nyeri terlokalisasi
6orborygmi,
timpani, gelombang
peristaltik, bising
usus hiperaktif ayau
hipoaktif, distensi,
nyeri terlokalisasi
3a!/aran
4a,iografi
dilatasi usus ke,il
dan besar,
diafragma meninggi
dilatasi usus besar
yang terlokalisir,
diafragma meninggi
6ow-shaped loops
in ladder pattern,
berkurangnya gas
kolon di distal,
diafragma agak
tinggi, air fluid
le'el.
5abel. Karakteristik ileus, 0seudo-obstruksi, dan Mekanik $umbatan. &;iedberg,
"00#(
Ta/el. 0erbandingan Klinis berma,am-ma,am ileus.
$a1a!
ileus
N.eri Usus Distensi $unta-
/or/orig!i
Bising usus Ketegangan
a/,o!en
/bstruksi
simple
tinggi
CC
&kolik(
C CCC Meningkat -
/bstruksi
simple
CCC
&Kolik(
CCC C
=ambat, fekal
Meningkat -
%"
rendah
/bstruksi
strangulasi
CCCC
&terus-
menerus,
terlokalisir(
CC CCC 5ak tentu
biasanya
meningkat
C
0aralitik C CCCC C Menurun -
/klusi
'askuler
CCCCC CCC CCC Menurun C
1.5 Prognosis
0rognosis dari ileus ber'ariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri.
6ila ileus hasil dari operasi perut, kondisi ini biasanya bersifat sementara dan
berlangsung sekitar "#-" jam. 0rognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu
dimana kematian jaringan usus terjadi8 operasi menjadi perlu untuk membuang
jaringan nekrotik. 6ila penyebab primer dari ileus ,epat tertangani maka
prognosis menjadi lebih baik.
2. Ileus $ekanik6Ileus */struktif2
2.1 Definisi
Ileus adalah hambatan pasase usus yang dapat disebabkan oleh obstruksi
lumen usus atau gangguan peristalsis usus. $e,ara garis besar dibagi menjadi dua
yaitu Ileus /bstruktif dan Ileus 0aralitik. Ileus yang disebabkan oleh obstruksi
disebut juga ileus mekanik, dan memiliki angka kejadian tersering.
2.2Klasifikasi
Lokasi */struksi
=etak 5inggi 7 Duodenum-+ejunum
=etak 5engah 7 Ileum 5erminal
=etak 1endah 7 ?olon-$igmoid-re,tum
%*
Sta,iu!
0arsial 7 menyumbat lumen sebagian
$impleDKomplit7 menyumbat lumen total
$trangulasi7 $imple dengan jepitan 'asa
2.Etiologi
i. 0enyempitan lumen usus
Isi =umen 7 6enda asing, skibala, as,ariasis.
Dinding 2sus 7 stenosis &radang kronik(, keganasan.
Ekstra lumen 7 5umor intraabdomen.
ii. )dhesi
iii. In'aginasi
i'. 4ol'ulus
'. Malformasi 2sus
Bambar ".* 6erma,am penyebab ileus obstruktif. &3amami,"00*(
%#
). 3ernia inkarserata
6. In'aginasi
?. )desi
D. 4ol'ulus
E. 5umor usus
;. )skaris
2.#Patofisiologi
0ada ileus obstruksi, hambatan pasase mun,ul tanpa disertai gangguan
'askuler dan neurologik. Makanan dan ,airan yang ditelan, sekresi usus, dan
udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. 6agian
usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. ;ungsi sekresi dan absorpsi
membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi udema dan kongesti.
Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya se,ara terus menerus dan
progresif akan menga,aukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan
meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan
kematian. &0urnawan, "00.(
0ada obstruksi strangulata, kematian jaringan usus umumnya dihubungkan
dengan hernia inkarserata, 'ol'ulus, intussusepsi, dan oklusi 'askuler. $trangulasi
biasanya berawal dari obstruksi 'ena, yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri,
%-
menyebabkan iskemia yang ,epat pada dinding usus. 2sus menjadi udema dan
nekrosis, mema,u usus menjadi gangrene dan perforasi.
2.%Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan7
1. Ana!nesis.
>yeri &Kolik(
/bstruksi usus halus 7 nyeri dirasakan disekitar umbilikus
/bstruksi kolon 7 nyeri dirasakan disekitar suprapubik.
Muntah
$tenosis 0ilorus 7 En,er dan asam
/bstruksi usus halus 7 6erwarna kehijauan
/bstruksi kolon 7 onset muntah lama.
0erut Kembung &distensi(
Konstipasi
5idak ada defekasi
5idak ada flatus
)danya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali
menandakan adanya hernia inkarserata. $elain itu, in'aginasi dapat didahului oleh
riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. 1iwayat operasi sebelumnya
dapat menjurus pada adanya adhesi usus serta onset keluhan yang berlangsung
,epat dapat di,urigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat
menjurus kepada ileus letak rendah.
2. Pa,a &e!eriksaan fisik ,a&at &ula ,ite!ukan 7
)danya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti 7
5akikardia, pireksia &demam(, Rebound tenderness, nyeri lokal, hilangnya
suara usus lo,al. 2ntuk mengetahui se,ara pasti hanya dengan laparotomi.
)danya obstruksi ditandai dengan 7
Ins&eksi
0erut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. 6enjolan pada regio inguinal,
femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. 0ada Intussusepsi
dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. )danya adhesi dapat di,urigai bila
ada bekas luka operasi sebelumnya.
%6
Auskultasi
3iperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. 0ada fase lanjut bising
usus dan peristaltik melemah sampai hilang.
Perkusi
3ipertimpani
Pal&asi
Kadang teraba massa seperti pada tumor, in'aginasi, hernia.
Rectal Toucher
- Isi rektum menyemprot 7 Hirschprung disease
- )danya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- ;eses yang mengeras 7 skibala
- ;eses negatif 7 obstruksi usus letak tinggi
- )mpula rekti kolaps 7 ,uriga obstruksi
- >yeri tekan 7 lokal atau general peritonitis
. Pe!eriksaan &enun'ang
La/oratoriu!
5es laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis,
tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu
dalam resusitasi. 0ada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal.
$elanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit
yang abnormal. 0eningkatan serum amilase sering didapatkan.%0 =eukositosis
menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada *:! -
-0! obstruksi strangulasi dibandingkan "! - ##! pada obstruksi non
strangulata. 3ematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. $elain itu
dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. )nalisa gas darah mungkin
terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan metabolik asidosis
bila ada tanda F tanda sho,k, dehidrasi dan ketosis.
4a,iologik
%
)danya dilatasi dari usus disertai gambaran Gstep ladderH dan Gair fluid
le'elH pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi.
;oto polos abdomen mempunyai tingkat sensiti'itas 66! pada obstruksi usus
halus, sedangkan sensiti'itas :#! pada obstruksi kolon.
"oto Polos A/,o!en
Dapat ditemukan gambaran Hstep ladder dan air fluid le'elH terutama pada
obstruksi bagian distal. 0ada kolon bisa saja tidak tampak gas. +ika terjadi
stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat gambaran berupa hilangnya mu,osa
yang reguler dan adanya gas dalam dinding usus.0elebaran udara usus halus atau
usus besar dengan gambaran anak tangga dan air-fluid level. 0enggunaan kontras
dikontraindikasikan jika adanya perforasi-peritonitis. 6arium enema diindikasikan
untuk in'aginasi, dan endoskopi disarankan pada ke,urigaan 'ol'ulus.
Bambar ".# 1adiolagi dari Ileus obstruktif &)meri,an Bastroenterologi,al
)sso,iation, "00*(
2.( Diagnosis /an,ing
Ileus obstruksi harus dibedakan dengan7
%. ?ar,inoid gastrointestinal.
". 0enyakit ?rohn.
*. Intussus,epsi pada anak.
#. Di'ertikulum Me,kel.
-. Ileus me,onium.
6. 4ol'ulus.
%:
. Infark Myo,ardial )kut.
:. Malignansi, 5umor /'arium.
.. 56? 2sus.
2.+ Penatalaksanaan
/bstruksi mekanis di usus dan jepitan atau lilitan harus dihilangkan segera
setelah keadaan umum diperbaiki. 5indakan umum sebelum dan sewaktu
pembedahan meliputi tatalaksana dehidrasi, perbaikan keseimbangan elektrolit
dan dekompresi pipa lambung. 5indakan bedah dilakukan apabila terdapat
strangulasi, obstruksi lengkap, hernia inkarserata dan tidak ada perbaikan pada
pengobatan konser'atif. &0urnawan,"00.(
%. 0ersiapan penderita
0ersiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosa
obstruksi ileus se,ara lengkap dan tepat. $ering dengan persiapan penderita yang
baik, obstruksinya berkurang atau hilang sama sekali. 0ersiapan penderita
meliputi 7
6alan,e 0enderita dirawat di rumah sakit.
0enderita dipuasakan
Kontrol status airway, breathing and ,ir,ulation.
Dekompresi dengan nasogastri,tube.
Intra'enousfluidsandele,trolyte
Dipasang kateter urin untuk menghitung ,airan.
". /peratif
6ila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada * hal yang perlu 7
6erapa lama obstruksinya sudah berlangsung.
6agaimana keadaanDfungsi organ 'ital lainnya, baik sebagai akibat
obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit.
)pakah ada risiko strangulasi.
Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. 0ada obstruksi ileus
yang ditolong dengan ,ara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya
adalah %! pada "# jam pertama, sedangkan pada strangulasi angka kematian
tersebut *%!.
0ada umumnya dikenal # ma,am &,ara( tindakan bedah yang dikerjakan pada
obstruksi ileus 7
%.
a( Koreksi sederhana &simple ,orre,tion(. 3al ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia
in,ar,erata non-strangulasi, jepitan oleh strengDadhesi atau pada 'ol'ulus
ringan.
b( 5indakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang ImelewatiI
bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, ?rohn disease,
dan sebagainya.
,( Membuat fistula entero-,utaneus pada bagian pro<imal dari tempat obstruksi,
misalnya pada ?a stadium lanjut.
d( Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-
ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
,ar,inoma,olon, in'aginasi strangulate dan sebagainya.
0ada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif
bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan
penderitanya, misalnya pada ?a sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan
kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.
*. 0as,a /perasi
$uatu problematik yang sulit pada keadaan pas,a bedah adalah distensi
usus yang masih ada. 0ada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan ,airan
yang terkumpul dalam lumen usus tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh
karena ,atatan tersebut mengandung banyak bahan-bahan digestif yang sangat
diperlukan. 0as,a bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus kembali normal,
walaupun terdengar bising usus. 3al tersebut bukan berarti peristaltik usus telah
berfungsi dengan efisien, sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali
belum baik.
$ering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare
pas,a bedah. 5indakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta
menjaga keseimbangan asam basa darah dalam batas normal tetap dilaksanakan
pada pas,a bedahnya. 0ada obstruksi yang lanjut, apalagi bila telah terjadi
strangulasi, monitoring pas,a bedah yang teliti diperlukan sampai selama 6 -
hari pas,a bedah. 6ahaya lain pada masa pas,a bedah adalah toksinemia dan
sepsis. Bambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke #-- pas,a bedah.
"0
0emberian antibiotika dengan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur
kuman sangatlah penting. &0urnawan, "00.(
2.5 Ko!&likasi
>ekrosis usus
0erforasi usus
$epsis
$yok-dehidrasi
)bses
$indrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
0neumonia aspirasi dari proses muntah
Bangguan elektrolit
2.8 Prognosis
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah -! sampai :! asalkan
operasi dapat segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan
atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas
sampai sekitar *-! atau #0!.* 0rognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan
dilakukan dengan ,epat
. Ileus 9askuler
Etiologi
5erjadi akibat adanya sumbatan pada ,abang-,abang arteri 'ena mesentrika
superior, arteri 'ena mesentrika inferior oleh thrombus dan embolus sehingga
terjadi 7 gangren hekrose nekroseis perforasi ,epat terjadi toksemia.
5erjadinya ileus 'askuler juga dihubungkan dengan penderita infark miokard dan
atrium fibrilasi.
Ko!&likasi
1. 5rombus yang hebat 'asa yang tersumbat pe,ah &er,ara-an
2. Keluarnya lendir, darah per anus
Penanganan
%. 5idak ada tindakan konser'atif &karena terjadinya lambat maka diagnose
ditegakkan setelah mun,ul gejala hebat(
"%
". 5indakan operatif 7 Dilakukan laparotomi, bila ada perdarahan diatasi
dengan reseksi segmen usus dengan mesentriumnya lalu dilakukan end to
end anastomose.
BAB III
PENUTUP
.1 Kesi!&ulan
Ileus dibedakan menjadi beberapa ma,am, ileus obstruktif, ileus paralitik
dan ileus 'askuler, Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada
usus besar.0enyebab terbanyak dari Ileus adalah perlekatan atau adhesi,
kemudian diikuti 3ernia, keganasan, dan 4ol'ulus.
0enegakan diagnosis pada illeus meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang, terdapat # gejala ,ardinal yang sering dijumpai yaitu
nyeri abdomen &kolik abdomen(, muntah, distensi dan konstipasi. 0ada
pemeriksaan fisik akan ditemukan takikardia, demam, nyeri tekan abdomen, nyeri
lokal pada perut, dan distensi perut.$alah satu pemeriksaan penunjang pada illeus
adalah pemeriksaan radiologi, gambaran radiologi berupa pengumpulan gas dalam
lumen usus yang melebar &dilatasi(dinding usus menebal membentuk gambaran
heering bone appearan,e dan terdapat gambaran )ir fluid le'el.
0rognosis dari ileus ber'ariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri,
bila penyebab primer dari ileus ,epat tertangani maka prognosis menjadi lebih
baik.0rognosis ileus baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan ,epat.
""
DA"TA4 PUSTAKA
)meri,an Bastroenterologi,al )sso,iation. "00*. 1e'iews 7 0ostoperati'es Ileus 7
Etiologies and Inter'entions. 2ni'ersity of ?alifornia $an ;ransis,o 7
?alifornia.
6adash, Mi,helle. Paralytic Ileus (Adynamic Ileus, on-mechanical !owel
"bstruction#. E6$?/ 0ublishing, "00-.
6asson, M.D.7 ?oloni, /bstru,tion. Editor7 /,hoa, +.6., 5ala'era, ;., Me,haber,
).+., and Kat9, +. http$%%www.emedicine.com. =ast 2pdated, +une %#, "00#.
Da'idson, Intestinal /bstru,tion. "006. )'ailable at7 httpDDwww.mayo,lini,.,om.
),,essed july ., "0%".
;iedberg, 6. and )ntillon, M.7 $mall-6owel /bstru,tion. Editor7 4argas, +.,
Jindle, J.=., =i, 6.2.K., $,hwar9, $., and )lts,huler, $.
http$%%www.emedicine.com. =ast 2pdated, +une "., "00#.
=e'ine, 6.)., and )ust, +.6. Kelainan 6edah 2sus 3alus. Dalam !u&u A'ar
!edah (abiston)s essentials surgery. Editor7 $abiston, D.?. )lih bahasa7
)ndrianto, 0., dan I.$., 5iman. Editor bahasa7 /swari, +. +akarta7 EB?, %..".
Manaf M, >iko dan Kartadinata, 3. /bstruksi Ileus. "00*. )'ailable
at7DDwww.kalbe.,o.idDfilesD,dkDfilesD06K/bstruksiIleus.pdfD06K/bstruksiIleus.h
tml. ),,essed juli "0, "0%"
>obie 6). /bstru,tion, small bowel. "00. )'ailable at7
httpDDwww.emedi,ine.,om. ),,essed juni "0, "0%".
0urnawan, Iwan. "00.. Ileus. 2ni'ersitas +enderal $oedirman 0urwokerto.
0ri,e, $.). Patofisiologi$ *onsep &linis proses-proses penya&it. Editor7 0ri,e,
$.)., M,?arty, =., Jilson. Editor terjemahan7 Jijaya, ?aroline. +akarta7 EB?,
%..#.
"*
$jamsuhidajat, 1.8 Dahlan, Murni9at8 +usi, Djang. Bawat )bdomen. Dalam !u&u
A'ar Ilmu !edah. Edisi ". Editor7 $jamsuhidajat, 1. dan De +ong, Jim.
+akarta7 EB?, "00*. 3al7 %:%-%.".
5ranslight Medi,al Media, "00: http7DDgasdete,tions.,omDanatomy-
gastrointestinal-system.htmlLmore-#"-),,essed july "0, "0%".
"#