Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu penyebab tertinggi kematian ibu adalah penyakit hipertensi dalam kehamilan
(preeklampsia/eklampsia) selain perdarahan dan infeksi. Menurut National High Blood Pressure
Education Program (NHBPEP) Working Group Report on High Blood Pressure in Pregnancy
(2000), hipertensi dalam kehamilan dibagi menjadi empat, yaitu (1) hipertensi kronik, (2)
preeclampsia- eklampsia, (3) hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia, dan (4)
hipertensi gestasional.
Penyakit hipertensi adalah komplikasi paling umum dari kehamilan yang mempengaruhi 6-8%
kehamilan di USA. Penyakit hipertensi dalam kehamilan juga merupakan penyebab utama
mortalitas serta morbiditas maternal dan perinatal di Kanada. Prevalensi hipertensi dalam
kehamilan di Los Angeles meningkat dari 40,5 kasus per 1.000 pada tahun 1991 menjadi 54,4
kasus per 1.000 pada tahun 2003 (Baraban, 2008).
Preeklampsia-eklampsia sebagai salah satu penyakit hipertensi dalam kehamilan, adalah
penyebab mortalitas dan morbiditas tertinggi pada ibu hamil. Angka kejadian preeklampsia
berkisar antara 5-15% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia. Di United Kingdom (UK),
preeklampsia/eklampsia terhitung sebanyak 10-15% dari kematian obstetrik langsung. Di
Indonesia angka kejadian preeklampsia cukup tinggi, seperti di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo ditemukan 400 -500 kasus/4000-5000 persalinan per tahun (Dharma, 2005).
Wanita dengan hipertensi dalam kehamilan berisiko untuk melahirkan bayi dengan berat badan
lahir rendah. Pada preeklampsia berat, perfusi uteroplasenta berkurang sehingga menyebabkan
peningkatan insiden Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), hipoksia janin dan kematian
perinatal (Gezginc, 2008). Oleh sebab itu, pengenalan awal faktor risiko hipertensi dalam
kehamilan sangat penting untuk menghindari dampak buruk pada ibu dan janin. Insiden
hipertensi dalam kehamilan pada nullipara 4-5 kali lebih besar daripada multipara.
Sekitar 30-50% wanita yang memiliki hipertensi dalam kehamilan pada kehamilan pertama
berisiko untuk mengalami hipertensi dalam kehamilan pada kehamilan selanjutnya. Preeklampsia
(penyakit hipertensi dalam kehamilan dengan mortalitas tertinggi) adalah penyakit utama pada
primigravida. Preeklampsia dan eklampsia dapat terjadi pada 6-8% wanita hamil, di antaranya 3-
7% pada nullipara dan 0,8-5% pada multipara (Roeshadi, 2006). Selain itu, faktor risiko
preeklampsia lainnya adalah mola hidatidosa, adanya riwayat preeklampsia sebelumnya, dan
kehamilan multifetus (Wagner, 2004).

SKENARIO
HAMIL, TAPI KOK MENDADAK PERUT SAYA NYERI?
Seorang G5P4A0, 41 tahun, hamil 35 minggu, datang ke Klinik Bersalin dengan keluhan
mengeluarkan lender darah pervaginam warna hitam disertai nyeri perut hebat sejak 2 jam yang
lalu. Wanita tersebut jarang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas ataupun bidan. Pasien
memiliki riwayat hipertensi sejak umur kehamilan 6 bulan.
Dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam oleh dokter didapatkan keadaan umum baik,
tekanan darah 180/90 mmHg, denyut nadi 80 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, suhu
tubuh 36,50C. Terdapat edema pada tungkai bawah. Pada pemeriksaan abdomen tampak
distended, teraba janin tunggal, intra uterin, preskep, denyut jantung janin 11-12-12, tinggi
fundus uteri : 25 cm, his 3 kali/10 menit/kuat. Pada pemeriksaan laboratorium, didapatkan
protein urin (+++).
Kemudian dilakukan pemeriksaan ostetrik, didapatkan pembukaan serviks uteri 6 cm dengan
darah warna hitam, kepala sudah turun di Hodge III. Hasil pemeriksaan tersebut ditulis dalam
lembar partograf. Kemudian dokter mempersiapkan peralatan persalinan, termasuk alat
pelindung diri. Klinik bersalin ini belum memiliki mesin sterilisator, sehingga alat persalinan
dipanaskan dalam air mendidih. Setelah 2 jam, persalinan masuk kala II, setengah jam dipimpin
mengejan, bayi lahir dengan APGAR Score 8.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana hubungan hipertensi ibu dengan kehamilan?
2. Bagaimana mekanisme edema tungkai bawah pada ibu hamil?
3. Mengapa timbul nyeri perut, dan keluarnya lendir darah pervaginam? Kenapa berwarna
hitam ?
4. Bagaimana hasil interpretasi pemeriksaan fisik?
5. Bagaimana fisiologi persalinan normal? Beserta tahapnya!
6. Infeksi-infeksi apa saja yang mungkin terjadi?
7. Bagaimana hasil interpretasi Pemeriksaan fisik, lab, dan obstetri?
8. Adakah pengaruh interval kehamilan terhadap proses persalinan?
9. Bagaimana hubungan usia ibu dengan proses persalinan?
10. Adakah penyakit yang dapat mempengaruhi/terpengaruhi selama persalinan?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui hubungan hipertensi ibu dengan kehamilan?
2. Mengetahui mekanisme edema tungkai bawah pada ibu hamil?
3. Mengidentifikasi timbulnya nyeri perut, dan keluarnya lendir darah pervaginam? Kenapa
berwarna hitam ?
4. Mengetahui hasil interpretasi pemeriksaan fisik?
5. Mengetahui fisiologi persalinan normal? Beserta tahapnya!
6. Mengetahui infeksi-infeksi apa saja yang mungkin terjadi?
7. Mengetahui hasil interpretasi Pemeriksaan fisik, lab, dan obstetri?
8. Mengidentifikasi pengaruh interval kehamilan terhadap proses persalinan?
9. Mengetahui hubungan usia ibu dengan proses persalinan?
10. Mengidentifikasi penyakit yang dapat mempengaruhi/terpengaruhi selama persalinan?

D. MANFAAT PENULISAN
1. Mampu Mengetahui hubungan hipertensi ibu dengan kehamilan?
2. Mampu Mengetahui mekanisme edema tungkai bawah pada ibu hamil?
3. Mampu Mengidentifikasi timbulnya nyeri perut, dan keluarnya lendir darah pervaginam?
Kenapa berwarna hitam ?
4. Mampu Mengetahui hasil interpretasi pemeriksaan fisik?
5. Mampu Mengetahui fisiologi persalinan normal? Beserta tahapnya!
6. Mampu Mengetahui infeksi-infeksi apa saja yang mungkin terjadi?
7. Mampu Mengetahui hasil interpretasi Pemeriksaan fisik, lab, dan obstetri?
8. Mampu Mengidentifikasi pengaruh interval kehamilan terhadap proses persalinan?
9. Mampu Mengetahui hubungan usia ibu dengan proses persalinan?
10. Mampu Mengidentifikasi penyakit yang dapat mempengaruhi/terpengaruhi selama
persalinan?


Dapus
Baraban E., McCoy L., and Simon P., 2008. Increasing Prevalence of Gestational
Diabetes and Pregnancy-related Hypertension in Los Angeles County, California, 1991
2003. Prev Chronic Dis, 5 (3): 1-9.
Dharma, R, Wibowo, N, dan Raranta, H.P., 2005. Disfungsi Endotel pada Preeklampsia.
Makara Kesehatan 9 (2): 63-69.
Gezgin, K., Acar, A., Peru, H., Karatayli, R., elik, ., and apar, M., 2008. How to
Manage Intrauterine Growth Restriction Associated with Severe Preeclampsia at 28-34
Weeks of Gestation?. Eur J Gen Med 5 (4): 212-215.
Roeshadi, H.R., 2006. Upaya Menurunkan Angka Kesakitan dan Angka Kematian Ibu
pada Penderita Preeklampsia dan Eklampsia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
Tetap. Universitas Sumatera Utara.
Wagner, L.K., 2004. Diagnosis and Management of Preeclampsia. Am Fam Physician,
70(12): 2317 2324