Anda di halaman 1dari 52

i

LAPORAN AKHIR

KAJIAN DATA LANJUT USIA
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TIM PENYUSUN

INTERDISCIPLINARY ISLAMIC STUDIES-KESEJAHTERAAN SOSIAL
PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA



DINAS SOSIAL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
2014



ii

KATA PENGANTAR

Kami memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
yang telah dilimpahkan sehingga kami dapat menyelesaikan studi data lansia Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY).
Studi data lansia perlu dilakukan untuk memberikan masukan kepada
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pembuatan kebijakan untuk lansia.
Masalah lansia merupakan masalah yang cukup krusial bagi Pemerintah DIY mengingat
DIY merupakan provinsi denga prosentase penduduk lansia paling tinggi se Indonesia.
Penduduk lansia dapat menjadi asset pembangunan bila disertai dengan program
perlindungan sosial dan pemberdayaan yang sesuai.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah DIY, terutama Bappeda,
BPS, dan Dinas Sosial serta pemangku kepetingan lain yang telah membantu kami
menyelesaikan studi ini. Kami mohon maaf bila masih ada ketidak sempurnaan dalam
studi ini.
Akhir kata, kami harap hasil studi ini dapat menjadi masukan yang berharga
bagi Pemerintah DIY dalam membuat kebijakan untuk menyelesaikan masalah-masalah
lansia di DIY.

Hormat Kami,

Tim Penyusun
iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jumlah penduduk DIY berdasarkan jenis kelamin
dan prosentase penduduk per Kabupaten/Kota ..................................................... 8

Tabel 2. Jumlah jumlah penduduk total, penduduk pralansia
dan penduduk lansia dan prosentase pralansia dan lansia
terhadap jumlah total pralansia dan lansia DIY .................................................... 10

Tabel 3. Jumlah dan prosentase jumlah penduduk lansia
dibandingkan jumlah penduduk total di tiap kabupaten/kota
berdasarkan jenis kelamin ..................................................................................... 11

Tabel 4. Jumlah dan prosentase lansia terlantar DIY
di tiap Kabupaten/Kota tahun 2011 dan 2012 ....................................................... 12

Tabel 5. Jumlah dan prosentase penduduk dan lansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin per Kabupaten/Kota di DIY ....................................... 14

Tabel 6. Data pralansia dan lansia sangat miskin, miskin
dan hampir miskin DIY ......................................................................................... 15

Tabel 7.Data pralansia (45-59 tahun) sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY ............................................................................. 16

Tabel 8. Data lansia muda (60-69 tahun) sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY ............................................................................. 16

Tabel 9. Data lansia menengah (70-79 tahun) sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY ............................................................................. 17
Tabel 10. Data lansia lanjut (80 tahun ke atas) sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY ............................................................................ 17

Tabel 11. Sebaran geografis prosentase tertinggi pralansia,
lansia muda, lansia menengah dan lansia lanjut sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY ............................................................................. 18

Tabel 12. Jumlah dan prosentase pralansia, lansia muda,
menengah dan lanjut sangat miskin, miskin dan hampir
miskin DIY yang masih aktif bekerja ................................................................... 19

iv

Tabel 13. Jumlah dan prosentase Pralansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY yang masih
aktif bekerja berdasarkan jenis usaha .................................................................... 22

Tabel 14. Jumlah dan prosentase Lansia Muda sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY yang masih
aktif bekerja berdasarkan jenis usaha .................................................................... 24

Tabel 15. Jumlah dan prosentase Lansia Menengah sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY yang masih
aktif bekerja berdasarkan jenis usaha .................................................................... 26

Tabel 16.Jumlah dan prosentase Lansia Lanjut sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY yang masih
aktif bekerja berdasarkan jenis usaha .................................................................... 28

Tabel 17. Jumlah dan prosentase Pralansia dan Lansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY dengan penyakit Kronis...................................... 32

Tabel 18. Jumlah dan prosentase Pralansia dan Lansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin DIY dengan disabilitas ............................................... 34


v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Piramida penduduk Indonesia tahun 1971 dan 2000 ......................... 1

Gambar 2. Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi ......................................... 3

Gambar 3. Piramida Penduduk Indonesia dan DIY tahun 2012 ......................... 4

Gambar 4. Prosentase pralansia, lansia muda, menengah
dan lanjut yang bekerja per Kabupaten/Kota di DIY .......................................... 20

Gambar 5. Prosentase Pralansia dan lansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin dengan penyakit Kronis
per Kabupaten/Kota di DIY ................................................................................ 32

Gambar 6. Prosentase Pralansia dan Lansia Miskin
dengan disabilitas per Kabupaten/Kota di DIY tahun 201.................................. 35
vi

DAFTAR SINGKATAN

DIY = Daerah Istimewa Yogyakarta
BPS = Badan Pusat Statistik


vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ v
DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................... vi
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Maksud dan Tujuan ................................................................................... 5
C. Data yang disajikan ................................................................................... 5

BAB II TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS
A. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 6
B. Teknik Analisis Data ................................................................................. 6

BAB III HASIL ANALISA DAN PENYAJIAN DATA
A. Analisa Data Penduduk Lansia ................................................................. 8
B. Analisa Data Lansia Terlantar ................................................................... 12
C. Analisa Data Lansia dari Data PPLS ........................................................ 13

BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 41

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Populasi lansia dunia terus tumbuh baik dalam jumlah absolut maupun
dalam prosentase dibandingkan populasi penduduk muda (Kinsella dkk,
2001). Pertumbuhan lansia ini paling cepat terjadi di negara berkembang,
termasuk Indonesia (UNDESA, 2014).
Berdasarkan data sensus penduduk dari tahun 1970 hingga 2000, BPS
menyimpulkan bahwa Indonesia mengalami perubahan struktur penduduk
dari negara berstruktur muda menjadi negara dengan struktur tua dimana
prosentase jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas terus meningkat
melebihi 7 %. Hal ini dapat dilihat bila kita membandingkan piramida
penduduk Indonesia tahun 1971 dengan tahun 2000 (BPS 2000).





Gambar 1. Piramida penduduk Indonesia
tahun 1971 dan 2000.
2

Piramida penduduk pada tahun 1971 melebar di bawah yang berarti
masih banyaknya penduduk usia muda (umur 0-14 tahun), sedangkan
piramida penduduk pada tahun 2000 menunjukkan perubahan semakin
cembung di tengah dan semakin sempit di bagian bawah yang berati jumlah
penduduk muda semakin turun, sedangkan jumlah penduduk dewasa semakin
meningkat. Di samping itu, bagian atas piramida sedikit melebar yang
menunjukkan semakin banyaknya penduduk lansia.
Sebuah negara yang makin maju akan mempunyai makin banyak
penduduk yang mencapai usia lanjut lebih dari 60 tahun atau yang dikenal
dengan sebutan lansia. Salah satu tanda tingkat kesehatan bangsa yang makin
baik adalah meningkatnya usia harapan hidup. Prosentase jumlah penduduk
lansia diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 11 % pada tahun 2020 dan
16 % pada tahun 2035.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia
di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 14.439.967 jiwa (7,18 %), selanjutnya
pada tahun 2010 meningkat menjadi 23.992.553 jiwa (9,77 %). Pada tahun
2020 diprediksikan jumlah lanjut usia mencapai 28.822.879 jiwa (11,34 %).
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah termasuk negara berstruktur tua
karena prosentase jumlah penduduk lansia lebih dari 7 %.
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan prosentase
penduduk lansia paling tinggi pada tahun 2012 yaitu 13,04%, diikuti oleh
Jawa Timur (10,40%) dan Jawa Tengah (10,34%). Hal ini berarti bahwa pada
3

tahun 2012, prosentase jumlah lansia di DIY sudah melebihi proyeksi
prosentase jumlah lansia nasional pada tahun 2020. Data ini dapat dilihat pada
Gambar 2 yang menyajikan data prosentase penduduk lansia di Indonesia
berdasarkan Propinsi.

Gambar 2. Penduduk Lanjut Usia Menurut Provinsi
Sumber: Susenas Tahun 2012, Badan Pusat Statistik RI
Prosentase jumlah penduduk lansia di DIY lebih tinggi daripada
prosentase jumlah penduduk lansia nasional. Hal itu juga bisa dilihat pada
Gambar 3 yang membandingkan piramida penduduk Indonesia dengan
piramida penduduk DIY pada tahun 2012, dimana bagian atas piramida
penduduk Indonesia (yang menggambarkan jumlah penduduk lansia) lebih
sempit dibandingkan piramida penduduk DIY.
4



Peningkatan prosentase penduduk lansia meningkatkan angka
ketergantungan karena besar beban tanggungan kelompok usia produktif atas
penduduk usia non produktif meningkat. Pada tahun 1971, ada 21 penduduk
usia produktif di Indonesia yang menunjang 1 orang lansia, sedangkan pada
tahun 2010 ada 9 dan pada tahun 2035 diproyeksikan ada 6 penduduk usia
produktif yang menunjang 1 orang lansia. Hal ini berarti jumlah pembayar
pajak menurun, sementara jumlah penduduk yang membutuhkan asistensi
sosial meningkat (Jalal, 2013).
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta perlu membuat kebijakan
yang responsif terhadap perubahan struktur populasi dengan menjadikan
lansia sebagai fokus dan fondasi dari pembangunan. Kebijakan sebaiknya
dibuat berdasarkan hasil analisa data untuk memberi masukan dalam diskusi
pembuatan kebijakan.
5

B. Maksud dan Tujuan
Maksud dari studi ini adalah menganalisa data lansia Daerah Istimewa
Yogyakarta sebagai masukan kepada Pemerintah dalam membuat kebijakan
untuk lansia.
Tujuan dari studi ini adalah:
Menganalisa data penduduk pralansia dan lansia
Menganalisa data lansia terlantar
Menganalisa data pralansia dan lansia miskin berdasarkan data PPLS
2011
C. Data yang disajikan
Hasil analisa data penduduk lansia, lansia terlantar dan lansia miskin
disajikan dalam laporan ini.

6

BAB II
TEKNIK PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

A. Teknik Pengumpulan Data
Data pralansia dan lansia DIY yang dianalisa dan dibahas diperoleh
dari berbagai sumber seperti BPS, Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Data
sekunder ini dikumpulkan dari lembaga terkait atau diunduh dari internet.

B. Teknik Analisa Data
Data yang bisa dikumpulkan meliputi data penduduk pralansia dan
lansia, data lansia terlantar dan data pralansia dan lansia miskin dari PPLS
2011. Diantara ketiga data tersebut, data PPLS merupakan data yang paling
lengkap, sehingga analisa terhadap data pralansia dan lansia dengan status
kesejahteraan 1 (sangat miskin), 2 (miskin) dan 3 (hampir miskin) dapat
dilakukan dengan cukup detil meliputi status bekerja, jenis usaha, penyakit
kronis dan disabilitas.
Data umum pralansia dan lansia DIY yang dapat diperoleh meliputi
kelompok umur dan jenis kelamin di tiap Kabupaten/Kota, kecuali Kabupaten
Kulon Progo yang hanya menyampaikan struktur penduduk menurut
kelompok umur. Hal ini berarti data penduduk pralansia dan lansia hanya bisa
dianalisa berdasarkan sebaran geografis dan jenis kelamin.
7

Data lanjut usia terlantar yang diperoleh meliputi jumlah dan jenis
kelamin di tiap Kabupaten/Kota. Sebagaimana data penduduk pralansia dan
lansia, data lanjut usia terlantar juga hanya dianalisa berdasarkan sebaran
geografis dan jenis kelamin.
Data PPLS 2011 memberikan informasi yang lebih lengkap, sehingga
analisa dan pembahasan cukup mendalam bisa dilakukan, yaitu meliputi
sebaran geografis, jenis kelamin, status bekerja, jenis usaha, penyakit kronis
dan disabilitas. Analisa data dilakukan dalam perspektif provinsi, karena hasil
analisa data ini ditujukan untuk memberi masukan kepada Pemerintah DIY
dalam pembuatan kebijakan.

8

BAB III
HASIL ANALISA DAN PENYAJIAN DATA

A. Analisa Data Penduduk Lansia
Menurut data BPS yang dikutip oleh Bappenas, pada tahun 2011
jumlah penduduk DIY adalah 3.487.325 jiwa, dengan persebaran yang tidak
merata sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah penduduk DIY berdasarkan jenis kelamin dan prosentase
penduduk per Kabupaten/Kota.

Laki-Laki Perempuan Total %
Bantul 461.524 459.739 921.263 26,42 %
Gunungkidul 320.006 357.992 677.998 19,44 %
Kulonprogo 190.761 199.446 390.207 11,19 %
Sleman 534.644 572.66 1.107.304 31,75 %
Kota 189.375 201.178 390.553 11,20 %
DIY 1.696.310 1.791.015 3.487.325 100 %

Jumlah penduduk tertinggi ditemukan di Sleman yang mencapai
hampir sepertiga dari jumlah penduduk DIY, lalu diikuti Bantul dan
Gunungkidul. Jumlah penduduk Kota dan Kulonprogo hampir sama yaitu
sekitar 10 % dari penduduk DIY.
Penduduk pralansia (usia 45-59 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas)
juga tidak tersebar merata di kabupaten/kota di DIY sebagaimana dapat dilihat
pada Tabel 2. Tabel 2 menyajikan data jumlah dan prosentase jumlah
9

penduduk total, penduduk pralansia dan penduduk lansia pada tahun 2011
(BPS Bantul, 2012; BPS Gunungkidul, 2012;BPS Kota Yogya, 2012; BPS
Kulonprogo, 2012; BPS Sleman, 2012). Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah
penduduk pralansia tertinggi dijumpai di Sleman dan jumlah penduduk lansia
tertinggi dijumpai di Gunungkidul, sedangkan jumlah penduduk pralansia dan
lansia terendah ditemukan di kota Yogyakarta. Prosentase penduduk pralansia
dan lansia dibandingkan jumlah total pralansia dan lansia se-DIY yang
disajikan di Tabel 2 memperlihatkan bahwa prosentase pralansia tertinggi ada
di Kabupaten Sleman dan terendah di Kota Yogyakarta, sedangkan prosentase
lansia tertinggi ada di Kabupaten Gunungkidul dan terendah di Kota
Yogyakarta.
Hal yang menarik disimak adalah jumlah penduduk lansia di
Gunungkidul tertinggi di DIY, sementara jumlah penduduk total Gunungkidul
menempati peringkat ketiga. Hal ini mungkin menyiratkan urbanisasi dimana
banyak penduduk usia produktif dari Gunungkidul bermigrasi ke daerah lain.
Berdasarkan jenis kelamin, 51,36 % penduduk lansia DIY adalah perempuan
dan 48,64 % penduduk lansia DIY adalah laki-laki. Data jenis kelamin lansia
berdasarkan kelompok umur (lansia muda, lansia menengah, lansia lanjut)
tidak bisa diperoleh, sehingga analisa untuk mengetahui apakah prosentase
lansia perempuan meningkat seiring dengan bertambahnya usia tidak dapat
dilakukan.

10

Tabel 2. Jumlah jumlah penduduk total, penduduk pralansia dan penduduk lansia dan prosentase pralansia dan lansia
terhadap jumlah total pralansia dan lansia DIY.
S





Selanjutnya analisa dilakukan untuk mendapatkan prosentase penduduk lansia total dan berdasarkan jenis
kelamin, dibandingkan jumlah penduduk total dan berdasarkan jenis kelamin di tiap Kabupaten/Kota. Hasilnya dapat
dilihat di Tabel 3.




Penduduk Total % penduduk total Pralansia % pralansia Lansia % lansia
Bantul 921,263 26.42 164,564 26.83 110,900 24.06
Gunungkidul 677,998 19.44 136,055 22.18 132,553 28.75
Kulonprogo 390,207 11.19 74,026 12.07 63,700 13.82
Sleman 1,107,304 31.75 172,944 28.20 116,790 25.33
Kota Yogyakarta 390,553 11.20 65,709 10.71 37,076 8.04
Total 3,487,325 100.00 613,298 100.00 461,019 100.00
11


Tabel 3. Jumlah dan prosentase jumlah penduduk lansia dibandingkan jumlah penduduk total di tiap kabupaten/kota
berdasarkan jenis kelamin.

Lansia
Laki-laki
Lansia
Perempuan
Total
Lansia
Total
Laki-laki
Total
Perempuan
Total
penduduk
% Laki-laki % Perempuan % Total
penduduk
Bantul 49,079 61,821 110,900 464,049 466,227 930,276 10.58 13.26 11.92
Gunungkidul 57,452 75,091 132,543 327,841 350,157 677,998 17.52 21.44 19.55
Kulonprogo 63,700 390,207 16.32
Sleman 52,917 63,873 116,790 554,636 552,668 1,107,304 9.54 11.56 10.55
Kota
Yogyakarta
15,544 21,512 37,056 190,075 200,479 390,554 8.18 10.73 9.49

Tabel 3 menunjukkan bahwa prosentase tertinggi penduduk lansia terdapat di Gunungkidul dan terendah di Kota
Yogyakarta. Hal yang perlu dicatat adalah di 4 Kabupaten yang ada di DIY, prosentase penduduk lansia lebih tinggi
daripada prosentase penduduk lansia nasional yaitu 9,77 %. Di semua Kabupaten/Kota yang termasuk dalam wilayah
DIY, jumlah lansia perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki: tertinggi di Gunungkidul (21,44 % perempuan
dan 17,52 % laki-laki) dan terendah di Kota Yogyakarta (10,73 % perempuan dan 8,18 % laki-laki). Prosentase jumlah
12

perempuan lansia di semua Kabupaten/Kota lebih tinggi daripada prosentase lansia Indonesia yang dilaporkan oleh BPS
RI pada tahun 2011 yaitu 8,13 % perempuan dan 7.03 % laki-laki.
13

B. Analisa Data Lansia Terlantar
Berdasarkan data pemutakhiran PMKS dan PSKS Dinas Sosial DIY
tahun 2012 jumlah lansia terlantar di DIY terus meningkat. Pada tahun 2011
jumlah lansia terlantar mencapai 30.953 jiwa dan tahun 2012 mencapai
37.199 jiwa, jadi terdapat peningkatan 6.246 jiwa (16,79 %). Data ini tersaji
pada Tabel 4 yang menunjukkan bahwa lansia terlantar tertinggi pada tahun
2011 dan 2012 terdapat di Kabupaten Gunungkidul dan terendah di Kota
Yogyakarta.
Tabel 4. Jumlah dan prosentase lansia terlantar DIY di tiap Kabupaten/Kota
tahun 2011 dan 2012.

2011 % 2012 %
Bantul 6.083 20% 8.025 22%
Gunungkidul 12.564 41% 15.422 41%
Kulonprogo 4.918 16% 5.432 15%
Sleman 5.536 18% 6.017 16%
Kota Yogyakarta 1.852 6% 2.303 6%
Total 30.953

37.199

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah lansia terlantar perempuan lebih
banyak daripada lansia laki-laki, yakni lansia perempuan sebanyak 22.508
jiwa (72,72 %) dan lansia laki-laki sebanyak 8.445 jiwa (27,78 %) pada
tahun 2011. Pada tahun 2012 lansia perempuan sebanyak 26.436 jiwa (71,07
%) dan lansia laki-laki sebanyak 10.763 jiwa (28,93 %). Jumlah penduduk
14

lansia perempuan DIY pada tahun 2011 adalah 51,36 % dari jumlah penduduk
total, sedangkan prosentase penduduk lansia terlantar perempuan pada tahun
2011 mencapai 72,72 %. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan
gender dimana lansia perempuan lebih rentan menjadi terlantar dibandingkan
lansia laki-laki.
C. Analisa Data Lansia dari Data PPLS
Berdasarkan data BPS, jumlah dan prosentase penduduk miskin di
DIY dari tahun 2006-2011 terus menurun (BPS, 2012). Pada tahun 2006
angka kemiskinan DIY adalah 19,15 % sedangkan pada tahun 2011 angka
kemiskinan DIY adalah 16,14 %. Walaupun begitu, tingkat kemiskinan DIY
masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kemiskinan nasional pada
tahun 2011 yaitu 11,86 %.
Pada tahun 2011 jumlah penduduk DIY adalah DIY 3.487.325.
Survey PPLS melaporkan bahwa jumlah penduduk dengan:
status kesejahteraan 1 (sangat miskin) adalah 561.333 (16 %)
status kesejahteraan 2 (miskin) adalah 396.208 (11 %)
status kesejahteraan 3 (hampir miskin) adalah 359.372 (10 %)
Penduduk miskin ini tersebar tidak merata di Kabupaten/Kota yang
ada di DIY dan sebaran geografis ini dapat dilihat di Tabel 5.



15


Tabel 5. Jumlah dan prosentase penduduk dan lansia sangat miskin, miskin dan
hampir miskin per Kabupaten/Kota di DIY
Sangat
miskin
(1)
% Miskin
(2)
% Hampir
miskin
(3)
%
Bantul 148.109 26% 131.001 33% 120.455 34%
Gunungkidul 174.226 31% 105.731 27% 92.971 26%
Kulonprogo 95.010 17% 53.098 13% 46.371 13%
Sleman 112.085 20% 82.893 21% 77.574 22%
Kota Yogyakarta 31.903 6% 23.485 6% 22.001 6%
DIY 561.333 100% 396.208 100% 359.372 100%
Lansia 96,542 17% 82,042 21% 73,978 21%

Data yang disajikan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa penduduk
sangat miskin, miskin dan hampir miskin paling tinggi dijumpai di Kabupaten
Gunungkidul dan Bantul, sementara terendah di Kota Yogyakarta
1. Jumlah dan Prosentase Pralansia dan Lansia Miskin
Hasil survey PPLS DIY menunjukkan:
Jumlah lansia sangat miskin adalah 96.542 jiwa atau 17 % dari jumlah
penduduk sangat miskin
Jumlah lansia miskin adalah 73.978 jiwa atau 21 % dari jumlah
penduduk miskin
Jumlah lansia hampir miskin adalah 82.042 jiwa atau 21 % dari jumlah
penduduk hampir miskin
16

Mengingat bahwa prosentase jumlah penduduk lansia DIY adalah
13,04 %, hal ini berarti tingkat kemiskinan pada kelompok umur lansia lebih
tinggi daripada tingkat kemiskinan penduduk secara keseluruhan. Lansia
merupakan kelompok penduduk yang lebih rentan menjadi miskin
dibandingkan penduduk dari kelompok umur lainnya. Banyak keluarga sangat
miskin, miskin dan hampir miskin mempunyai anggota keluarga pralansia dan
lansia.
Hasil analisa data PPLS berdasarkan kelompok umur dengan fokus
pada pralansia dan lansia disajikan pada tabel 6. Analisa lebih lanjut data
PPLS per Kabupaten/Kota untuk kelompok umur pralansia (45-59 tahun)
dapat dilihat di Tabel 7, lansia muda (60-69 tahun) di Tabel 8, lansia
menengah (70-79 tahun) di Tabel 9 dan lansia lanjut (80 tahun ke atas) di
Tabel 10.
Tabel 6. Data pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin
DIY
Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin
Pralansia 92,025 80,179 80,309
Lansia Muda 38,176 34,458 33,995
Lansia Menengah 40,487 20,363 26,367
Lansia Lanjut 17,879 15,333 13,616



17


Tabel 7. Data pralansia (45-59 tahun) sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
Sangat
Miskin
Miskin Hampir
Miskin
% Sangat
Miskin
%
Miskin
% Hampir
Miskin
Bantul 24,766 26,396 26,844 27% 33% 33%
Gunungkidul 28,817 20,824 20,606 31% 26% 26%
Kulonprogo 14,756 11,437 11,348 16% 14% 14%
Sleman 18,114 16,656 16,698 20% 21% 21%
Kota Yogyakarta 5,572 4,866 4,813 6% 6% 6%
Total 92,025 80,179 80,309 100% 100% 100%

Tabel 8. Data lansia muda (60-69 tahun) sangat miskin, miskin dan hampir miskin
DIY
Sangat
Miskin
Miskin Hampir
Miskin
% Sangat
Miskin
%
Miskin
% Hampir
Miskin
Bantul 10,285 10,158 9,219 27% 29% 27%
Gunungkidul 13,215 10,988 11,267 35% 32% 33%
Kulonprogo 5,769 4,694 5,428 15% 14% 16%
Sleman 7,575 7,199 6,566 20% 21% 19%
Kota Yogyakarta 1,332 1,419 1,515 3% 4% 4%
Total 38,176 34,458 33,995 100% 100% 100%






18



Tabel 9. Data lansia menengah (70-79 tahun) sangat miskin, miskin dan hampir
miskin DIY
Sangat
Miskin
Miskin Hampir
Miskin
% Sangat
Miskin
%
Miskin
% Hampir
Miskin
Bantul 9,725 9,544 8,178 24% 30% 31%
Gunungkidul 14,199 10,645 8,303 35% 33% 31%
Kulonprogo 8,283 4,404 3,426 20% 14% 13%
Sleman 7,508 6,592 5,333 19% 20% 20%
Kota Yogyakarta 772 1,066 1,127 2% 3% 4%
Total 40,487 32,251 26,367 100% 100% 100%

Tabel 10. Data lansia lanjut (80 tahun ke atas) sangat miskin, miskin dan hampir
miskin DIY
Sangat
Miskin
Miskin Hampir
Miskin
% Sangat
Miskin
%
Miskin
% Hampir
Miskin
Bantul 3,863 4,495 4,543 22% 29% 33%
Gunungkidul 6,910 4,988 3,935 39% 33% 29%
Kulonprogo 3,107 1,963 1,598 17% 13% 12%
Sleman 3,617 3,394 2,933 20% 22% 22%
Kota Yogyakarta 382 493 607 2% 3% 4%
Total 17,879 15,333 13,616 100% 100% 100%

Rekapitulasi sebaran geografis prosentase tertinggi pralansia, lansia
muda, lansia menengah dan lansia lanjut sangat miskin, miskin dan hampir
miskin tertinggi dapat dilihat di Tabel 11.
19



Tabel 11. Sebaran geografis prosentase tertinggi pralansia, lansia muda, lansia
menengah dan lansia lanjut sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin
Pralansia Gunungkidul,
Bantul
Bantul,
Gunungkidul
Bantul,
Gunungkidul
Lansia Muda Gunungkidul,
Bantul
Gunungkidul,
Bantul
Gunungkidul,
Bantul
Lansia Menengah Gunungkidul,
Bantul
Gunungkidul,
Bantul
Gunungkidul,
Bantul
Lansia Lanjut Gunungkidul,
Bantul
Gunungkidul,
Bantul
Bantul,
Gunungkidul

Dari Tabel 11, dapat dilihat bahwa prosentase pralansia, lansia muda,
lansia menengah dan lansia lanjut sangat miskin, miskin atau hampir miskin
ditemukan tertinggi di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul. Prosentase
terendah untuk pralansia, lansia muda, lansia menengah dan lansia lanjut
sangat miskin, miskin dan hampir miskin semuanya ditemukan di Kota
Yogyakarta.
2. Pralansia dan Lansia Miskin Bekerja
Survey PPLS juga mengumpulkan data pralansia dan lansia miskin
yang masih aktif bekerja. Jumlah lansia (60 tahun ke atas) DIY dengan status
kesejahteraan 1-3 adalah 252.262, dan 164.913 (65,30 %) diantaranya masih
20

bekerja. Survey Tenaga Kerja Nasional yang diadakan oleh BPS pada tahun
2011 melaporkan bahwa 45,41 % lansia indonesia masih bekerja, berarti
prosentase lansia miskin yang masih bekerja di DIY lebih tinggi daripada
prosentase penduduk lansia Indonesia. Kemungkinan hal ini menunjukkan
bahwa lansia miskin terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hasil analisa data pralansia dan lansia dengan status kesejahteraan 1-3
yang masih bekerja dapat dilihat di Tabel 12 dan Gambar 4.
Tabel 12. Jumlah dan prosentase pralansia, lansia muda, menengah dan lanjut
sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY yang masih aktif bekerja



Pralansia 45-59 Lansia 60-69 Lansia 70-79 Lansia 80+
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Bantul 66,139 85 22,182 75 14,877 54 3,807 30
Gunungkidul 66,168 94 31,979 90 24,971 75 7,227 46
Kulonprogo 1,581 84 453 67 344 42 77 22
Sleman 42,001 82 15,979 75 11,152 57 3,232 33
Kota Yogyakarta 11,869 78 2,779 65 1,291 44 376 25
DIY 220,301 87 85,926 81 62,177 63 16,810 36






21



Gambar 4. Prosentase pralansia, lansia muda, menengah dan lanjut yang bekerja per
Kabupaten/Kota di DIY

Dari riset tahun 2009, Adioetomo melaporkan bahwa 52 % lansia
muda, 33 % lansia menengah dan 17 % lansia lanjut masih aktif bekerja
(Adioetomo, 2009). Prosentase lansia muda, lansia menengah dan lansia
lanjut dengan status kesejahteraan 1-3 DIY yang masih aktif bekerja di semua
Kabupaten/Kota ternyata lebih tinggi daripada hasil riset Adioetomo.
Prosentase pralansia dan lansia muda, menengah dan lanjut dengan status
kesejahteraan 1-3 yang masih aktif bekerja paling tinggi ditemukan di
Gunungkidul. Tingginya partisipasi ekonomi lansia miskin mungkin
menunjukkan bahwa lansia miskin terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
Pralansia Lansia 60-70 Lansia 70-80 Lansia 80+
Bantul
Gunungkidul
Kulonprogo
Sleman
Kota
22

sehari-hari, di samping untuk mengisi waktu luang, menjaga kesehatan badan,
dan lain-lain. Lansia yang masih aktif bekerja bisa punya dampak positif
untuk kesehatan mereka, tetapi harus hati-hati akan kemungkinan terjadinya
eksploitasi lansia oleh keluarga dan perhatikan jumlah jam kerja supaya tidak
sampai mengganggu kesehatannya.
Data pralansia dan lansia miskin yang masih aktif bekerja dianalisa
lebih lanjut berdasarkan jenis usaha. Hasil analisa disajikan di Tabel 13, 14,
15 dan 16.

23

Tabel 13. Jumlah dan prosentase Pralansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY yang masih aktif bekerja
berdasarkan jenis usaha
Jenis Usaha Bantul GK KP Sleman Kota
Pertanian Tanaman padi dan Palawija 19,377 29.30% 3,020 89.77% 1,184 74.89% 12,954 30.84% 13 0.11%
Holtikultura 426 0.64% 2 0.06% 10 0.63% 1,298 3.09% 8 0.07%
Perkebunan 827 1.25% 11 0.33% 5 0.32% 416 0.99% 7 0.06%
Perikanan tangkap 95 0.14% 7 0.21% 7 0.44% 48 0.11% 8 0.07%
Perikanan budidaya 77 0.12% 0 0.00% 0 0.00% 57 0.14% 4 0.03%
Peternakan 2,974 4.50% 66 1.96% 35 2.21% 1,701 4.05% 30 0.25%
Kehutanan/pertanian lainnya 356 0.54% 19 0.56% 2 0.13% 292 0.70% 10 0.08%
Pertambangan/penggalian 770 1.16% 2 0.06% 2 0.13% 794 1.89% 12 0.10%
Industri pengolahan 9,524 14.40% 17 0.51% 30 1.90% 3,863 9.20% 901 7.62%
Listrik dan gas 84 0.13% 1 0.03% 1 0.06% 70 0.17% 32 0.27%
Bangunan/konstruksi 9,943 15.03% 1,18 3.51% 115 7.27% 6,553 15.60% 752 6.36%
Perdagangan 10,949 16.55% 69 2.05% 103 6.51% 5,979 14.24% 3,712 31.41%
Hotel dan rumah makan 740 1.12% 1 0.03% 0 0.00% 634 1.51% 722 6.11%
Transportasi dan pergudangan 2,233 3.38% 6 0.18% 4 0.25% 871 2.07% 775 6.56%
Informasi dan komunikasi 55 0.08% 0 0.00% 0 0.00% 38 0.09% 42 0.36%
Keuangan dan asuransi 33 0.05% 0 0.00% 0 0.00% 37 0.09% 23 0.19%
24

Jasa pendidikan, kesehatan,
kemasyarakatan, pemerintahan dan
perorangan
6,399 9.68% 18 0.54% 61 3.86% 5,299 12.62% 4,199 35.53%
Lainnya 1,277 1.93% 7 0.21% 22 1.39% 1,097 2.61% 569 4.81%
Total 66,139 3,364 1,581 42,001 11,819
* KP: Kulon Progo, GK: Gunung Kidul











25

Tabel 14. Jumlah dan prosentase Lansia Muda sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY yang masih aktif bekerja
berdasarkan jenis usaha
Jenis Usaha Bantul GK KP Sleman Kota
Pertanian Tanaman padi dan Palawija 10,749 48.03% 1,685 94.98% 358 79.03% 8,040 50.32% 21 0.76%
Holtikultura 198 0.88% 1 0.06% 3 0.66% 572 3.58% 3 0.11%
Perkebunan 352 1.57% 0 0.00% 4 0.88% 167 1.05% 3 0.11%
Perikanan tangkap 23 0.10% 1 0.06% 0 0.00% 15 0.09% 1 0.04%
Perikanan budidaya 14 0.06% 2 0.11% 0 0.00% 15 0.09% 0 0.00%
Peternakan 1,600 7.15% 35 1.97% 15 3.31% 856 5.36% 4 0.14%
Kehutanan/pertanian lainnya 186 0.83% 7 0.39% 1 0.22% 160 1.00% 4 0.14%
Pertambangan/penggalian 115 0.51% 0 0.00% 0 0.00% 157 0.98% 0 0.00%
Industri pengolahan 2,324 10.38% 7 0.39% 12 2.65% 1,315 8.23% 184 6.62%
Listrik dan gas 6 0.03% 0 0.00% 0 0.00% 10 0.06% 5 0.18%
Bangunan/konstruksi 1,399 6.25% 11 0.62% 16 3.53% 1,214 7.60% 132 4.75%
Perdagangan 3,184 14.23% 15 0.85% 30 6.62% 1,883 11.78% 983 35.37%
Hotel dan rumah makan 151 0.67% 0 0.00% 0 0.00% 129 0.81% 148 5.33%
Transportasi dan pergudangan 419 1.87% 0 0.00% 0 0.00% 124 0.78% 228 8.20%
Informasi dan komunikasi 5 0.02% 0 0.00% 0 0.00% 3 0.02% 5 0.18%
Keuangan dan asuransi 5 0.02% 0 0.00% 0 0.00% 8 0.05% 3 0.11%
26

Jasa pendidikan, kesehatan,
kemasyarakatan, pemerintahan dan
perorangan
1,312 5.86% 7 0.39% 10 2.21% 1,045 6.54% 901 32.42%
Lainnya 340 1.52% 3 0.17% 4 0.88% 266 1.66% 154 5.54%
Total 22,382 1774 453 15,979 2,779
* KP: Kulon Progo, GK: Gunung Kidul











27

Tabel 15. Jumlah dan prosentase Lansia Menengah sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY yang masih aktif bekerja
berdasarkan jenis usaha
Jenis Usaha Bantul GK KP Sleman Kota
Pertanian Tanaman padi dan Palawija 8,010 53.84% 961 94.31% 280 81.40% 6,413 57.51% 31 2.40%
Holtikultura 117 0.79% 0 0.00% 3 0.87% 430 3.86% 2 0.15%
Perkebunan 199 1.34% 0 0.00% 5 1.45% 127 1.14% 0 0.00%
Perikanan tangkap 11 0.07% 0 0.00% 0 0.00% 0 0.00% 0 0.00%
Perikanan budidaya 6 0.04% 0 0.00% 0 0.00% 12 0.11% 0 0.00%
Peternakan 1,467 9.86% 36 3.53% 17 4.94% 706 6.33% 6 0.46%
Kehutanan/pertanian lainnya 146 0.98% 3 0.29% 1 0.29% 125 1.12% 3 0.23%
Pertambangan/penggalian 61 0.41% 2 0.20% 0 0.00% 74 0.66% 0 0.00%
Industri pengolahan 1,563 10.51% 1 0.10% 2 0.58% 969 8.69% 81 6.27%
Listrik dan gas 7 0.05% 0 0.00% 0 0.00% 5 0.04% 1 0.08%
Bangunan/konstruksi 317 2.13% 0 0.00% 7 2.03% 314 2.82% 31 2.40%
Perdagangan 1,825 12.27% 7 0.69% 21 6.10% 1,133 10.16% 523 40.51%
Hotel dan rumah makan 64 0.43% 0 0.00% 0 0.00% 46 0.41% 59 4.57%
Transportasi dan pergudangan 116 0.78% 0 0.00% 0 0.00% 29 0.26% 77 5.96%
Informasi dan komunikasi 1 0.01% 0 0.00% 0 0.00% 1 0.01% 4 0.31%
Keuangan dan asuransi 2 0.01% 0 0.00% 0 0.00% 2 0.02% 0 0.00%
28

Jasa pendidikan, kesehatan,
kemasyarakatan, pemerintahan dan
perorangan
680 4.57% 8 0.79% 4 1.16% 555 4.98% 381 29.51%
Lainnya 285 1.92% 1 0.10% 4 1.16% 211 1.89% 92 7.13%
Total 14,877 1019 344 11,152 1,291
* KP: Kulon Progo, GK: Gunung Kidul











29

Tabel 16.Jumlah dan prosentase Lansia Lanjut sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY yang masih aktif bekerja
berdasarkan jenis usaha
Jenis Usaha Bantul GK KP Sleman Kota
Pertanian Tanaman padi dan Palawija 1,902 49.96% 226 94.56% 66 85.71% 1,805 55.85% 8 2.13%
Holtikultura 40 1.05% 0 0.00% 0 0.00% 144 4.46% 0 0.00%
Perkebunan 64 1.68% 0 0.00% 2 2.60% 39 1.21% 1 0.27%
Perikanan tangkap 2 0.05% 0 0.00% 0 0.00% 4 0.12% 0 0.00%
Perikanan budidaya 4 0.11% 0 0.00% 0 0.00% 4 0.12% 2 0.53%
Peternakan 509 13.37% 8 3.35% 1 1.30% 233 7.21% 2 0.53%
Kehutanan/pertanian lainnya 34 0.89% 1 0.42% 0 0.00% 33 1.02% 1 0.27%
Pertambangan/penggalian 9 0.24% 0 0.00% 0 0.00% 12 0.37% 1 0.27%
Industri pengolahan 388 10.19% 0 0.00% 2 2.60% 345 10.67% 17 4.52%
Listrik dan gas 3 0.08% 0 0.00% 0 0.00% 1 0.03% 0 0.00%
Bangunan/konstruksi 43 1.13% 1 0.42% 0 0.00% 46 1.42% 4 1.06%
Perdagangan 481 12.63% 3 1.26% 4 5.19% 311 9.62% 167 44.41%
Hotel dan rumah makan 11 0.29% 0 0.00% 0 0.00% 14 0.43% 12 3.19%
Transportasi dan pergudangan 20 0.53% 0 0.00% 0 0.00% 7 0.22% 15 3.99%
Informasi dan komunikasi 0 0.00% 0 0.00% 0 0.00% 1 0.03% 0 0.00%
Keuangan dan asuransi 5 0.13% 0 0.00% 0 0.00% 1 0.03% 0 0.00%
30

Jasa pendidikan, kesehatan,
kemasyarakatan, pemerintahan dan
perorangan
205 5.38% 0 0.00% 1 1.30% 154 4.76% 122 32.45%
Lainnya 87 2.29% 0 0.00% 1 1.30% 78 2.41% 24 6.38%
Total 3,807 239 77 3,232 376
* GK: Gunung Kidul, KP: Kulon Progo
Dari Tabel 13, 14, 15 dan 16 terlihat adanya perbedaan jenis usaha berdasarkan sebaran geografis, yaitu:
Bantul: sekitar 50 % lansia bekerja di bidang pertanian tanaman padi dan palawija, sebagian kecil bekerja di
bidang industri pengolahan dan perdagangan
Gunungkidul: sekitar 90 % bekerja di bidang pertanian tanaman padi dan palawija, sebagian kecil bekerja di
bidang peternakan dan bangunan/konstruksi
Kulonprogo: sekitar 80 % bekerja di bidang pertanian tanaman padi dan palawija, sebagian kecil bekerja di
bidang peternakan dan perdagangan
Sleman: sekitar 50 % lansia bekerja di bidang pertanian tanaman padi dan palawija, sebagian kecil bekerja
di bidang industri pengolahan dan perdagangan
31

Kota Yogyakarta: sekitar 40 % bekerja di bidang perdagangan, 30 % di bidang jasa, dan sebagian kecil
bekerja di bidang industri pengolahan

















32

Ada kesamaan jenis usaha dari pralansia dan lansia sangat miskin,
miskin dan hampir miskin di Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo yaitu
sebagian besar bekerja di bidang bidang pertanian tanaman padi dan palawija,
sebagian kecil bekerja di bidang peternakan. Sementara kesamaan jenis usaha
juga dijumpai pada pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin di Kabupaten Bantul dan Sleman yaitu sekitar 50 % lansia bekerja di
bidang pertanian tanaman padi dan palawija, sebagian kecil bekerja di bidang
industri pengolahan dan perdagangan.
Pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin di
Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo masih mengandalkan pemasukan
mereka dari sektor pertanian yang mencerminkan kondisi rural, sementara
mereka yang tinggal di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo mempunyai jenis
usaha yang lebih bervariasi. Pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan
hampir miskin yang tinggal di Kota Yogyakarta mengandalkan pemasukan
mereka dari bidang perdagangan dan jasa yang lebih mencerminkan kondisi
urban.
3. Pralansia dan Lansia miskin dengan Penyakit Kronis
Data pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin
dengan penyakit kronis per Kabupaten/Kota di DIY dari survey PPLS dan
hasil survey BPS tahun 2011 disajikan pada Tabel 17 dan Gambar 6.

33

Tabel 17. Jumlah dan prosentase Pralansia dan Lansia sangat miskin, miskin dan
hampir miskin DIY dengan penyakit Kronis
Pralansia
miskin
Lansia
muda
Lansia
menengah
Lansia
lanjut
%
Pralansia
miskin
%
Lansia
muda
% Lansia
menengah
%
Lansia
lanjut
Bantul 4183 2813 3688 2044 5,36 9,48 13,44 15,84
Gunungkidul 2605 2544 3791 2469 3,71 7,17 11,44 15,59
Kulonprogo 1233 1085 1638 784 3,28 6,83 10,17 11,76
Sleman 1949 1567 1978 1172 3,79 7,34 10,18 11,79
Kota 1092 606 508 278 7,16 14,21 17,13 18,76
DIY 11062 8615 11603 6747 4,72 8,08 11,71 14,41
BPS 2011

17,64 28,53 38,26 44,27

Gambar 5. Prosentase Pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin
dengan penyakit Kronis per Kabupaten/Kota di DIY

0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
35%
40%
45%
Pralansia
miskin total
Lansia muda Lansia
menengah
Lansia lanjut
Bantul
Gunungkidul
Kulonprogo
Sleman
Kota
DIY
Nasional
34

Dari Tabel 17, bisa dilihat bahwa prosentase individu dengan penyakit
kronis meningkat dengan bertambahnya usia. Prosentase pralansia dan lansia
miskin DIY dengan penyakit kronis lebih rendah daripada prosentase nasional
yang dilaporkan oleh BPS 2011. Ada kemungkinan prosentase pralansia dan
lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY dengan penyakit kronis
rendah daripada prosentase nasional. Akan tetapi ada juga kemungkinan
bahwa pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
kurang mengerti tentang resiko penyakit kronis, tidak memeriksakan diri ke
pelayanan kesehatan sehingga tidak tahu menderita penyakit kronis, dan lain-
lain.
Prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin dengan penyakit kronis di Kota Yogyakarta lebih tinggi daripada
prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin
dengan penyakit kronis yang ditemukan di 4 Kabupaten di DIY. Hal ini
mungkin disebabkan pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin kota Yogyakarta mempunyai pengetahuan lebih banyak tentang
penyakit kronis dan kesadaran lebih tinggi untuk cek kesehatan, sehingga
mereka memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan dan mengetahui bahwa
mereka menderita penyakit kronis. Namun ada juga kemungkinan bahwa
tekanan hidup penduduk kota lebih tinggi sehingga prosentase pralansia dan
lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin dengan penyakit kronis paling
tinggi dijumpai di kota Yogyakarta.
35

4. Pralansia dan Lansia miskin dengan Disabilitas
Prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin dengan disabilitas di DIY berkisar antara 2,53 % sampai 5,31 %
seperti tampak pada Tabel 18 dan Gambar 6.
Tabel 18. Jumlah dan prosentase Pralansia dan Lansia sangat miskin, miskin
dan hampir miskin DIY dengan disabilitas

Pralansia 45-59 Lansia 60-69 Lansia 70-79 Lansia 80+
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Bantul 865 2.92 1,101 4.01 855 6.63 2,821 4.03
Gunungkidul 847 2.39 1,042 3.14 875 5.53 2,764 3.27
Kota 81 1.9 85 2.87 72 4.86 238 2.73
Kulonprogo 430 2.71 481 2.99 279 4.18 1,190 3.08
Sleman 476 2.23 564 2.9 405 4.07 1,445 2.85
DIY 2,699 2.53 3,273 3.3 2,486 5.31 8,458 3.35

36

Gambar 6. Prosentase Pralansia dan Lansia Miskin dengan disabilitas per
Kabupaten/Kota di DIY tahun 2011

Dari Gambar 6 bisa dilihat bahwa disabilitas meningkat seiring dengan
bertambahnya usia, kecuali pada kelompok lansia lanjut prosentase disabilitas
lebih rendah dibandingkan kelompok lansia menengah. Penjelasan yang
mungkin diberikan untuk fenomena ini adalah lansia yang bisa mencapai usia
di atas 80 tahun adalah lansia dengan tingkat kesehatan yang lebih baik,
sehingga prosentase disabilitas pada kelompok lansia lanjut lebih rendah
daripada kelompok lansia menengah.
National Institute of Health Amerika melaporkan bahwa prevalensi
disabilitas pada lansia berusia 65 tahun ke atas pada tahun 1999 adalah 20 %
Jadi prosentase pralansia dan lansia miskin dengan disabilitas yang ditemukan
di DIY pada tahun 2011 ini amat rendah dibandingkan yang dijumpai di
0
1
2
3
4
5
6
7
Pralansia 45-60
Lansia 60-70
Lansia 70-80
Lansia 80+
37

Amerika. Mengingat bahwa disabilitas dan kemiskinan berkorelasi positif
yang berarti bila angka kemiskinan lebih tinggi maka angka disabilitas juga
lebih tinggi. Kemungkinan penyebab rendahnya prosentase pralansia dan
lansia miskin dengan disabilitas di DIY adalah kriteria disabilitas yang
digunakan dan anggapan bahwa keterbatasan fungsi yang sering dijumpai
pada lansia tidak dianggap sebagai disabilitas tetapi sebagai bagian dari
perubahan normal yang terjadi pada lansia. Penggunaan Washington Group
Short Measure on Disability dalam survey yang akan datang mungkin dapat
mengklarifikasi perbedaan ini.

38

BAB IV
PENUTUP

Pada tahun 2012 Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai prosentase jumlah
lansia tertinggi di Indonesia yaitu 13.04 % Angka harapan hidup DIY juga pasling
tinggi di Indonesia. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah lansia perempuan lebih tinggi
dibandingkan jumlah lansia laki-laki di semua Kabupaten/Kota di DIY.
Angka kemiskinan DIY (16,14 %) lebih tinggi daripada angka kemiskinan
nasional (11,86 %). Berdasarkan data PPLS tahun 2011, prosentase lansia sangat
miskin, miskin dan hampir miskin (status kesejateraan 1-3) DIY dibandingkan jumlah
penduduk sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY adalah 17 %, 21 % dan 21
%. Ketiga angka inii lebih tinggi daripada prosentase jumlah lansia di DIY (13,94 %),
berarti lansia DIY mempunyai tingkat kerentanan terhadap kemiskinan yang lebih
tinggi dibandingkan rata-rata penduduk DIY. Hal ini berarti keberadaan lansia dalam
keluarga miskin dapat dimasukkan sebagai salah satu syarat dalam program
perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan.
Persebaran geografis pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin (status kesejahteraan 1-3) tidak merata di kabupaten/ kota. Hal ini berarti
program pemberdayaan dan perlindungan sosial untuk lansia harus dibuat
proporsional sesuai sebaran geografis masalah lansia yang ada di DIY. Prosentase
tertinggi ditemukan di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, sedangkan prosentase
terendah ditemukan di Kota Yogyakarta. Data jumlah dan sebaran geografis ini bisa
39

menjadi masukan untuk menentukan sasaran program pemberdayaan dan
perlindungan sosial.
Program perlindungan sosial diutamakan bagi lansia lanjut sangat miskin,
sementara pemberdayaan ditujukan bagi pralansia dan lansia muda/menengah dari
keluarga sangat miskin, miskin dan hampir miskin. Program pemberdayaan ekonomi
bisa ditujukan kepada lansia atau keluarga untuk meningkatkan kemampuan keluarga
dalam merawat anggota keluarga yang lansia.
Prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin yang
masih aktif bekerja di DIY lebih tinggi daripada angka lansia bekerja secara nasional.
Hal ini mungkin menunjukkan bahwa pralansia dan lansia sangat miskin, miiskin dan
hampir miskin terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Data
yang menunjukkan bahwa 46 % lansia lanjut di Gunungkidul masih bekerja bisa
menjadi masukan untuk perubahan cara pandang tentang batasan usia lansia potensial
yang bisa mendapat bantuan Usaha Ekonomi Produktif.
Program pemberdayaan ekonomi ini sebaiknya disesuaikan dengan jenis
usaha lansia atau keluarga. Analisa data pralansia dan lansia dengan status
kesejahteraan 1-3 menunjukkan persebaran geografis yang berbeda. Di Kabupaten
Gunungkidul dan Kulonprogo prolansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin bekerja di sektor pertanian (sekitar 90 %). Di Kabupaten Sleman dan Bantul,
jenis usahanya lebih bervariasi: sekitar 50 % bekerja di bidang pertanian, dan ada
yang bekerja di sektor bidang industri pengolahan dan perdagangan. Di kota
Yogyakarta, mereka bekerja di sektor perdagangan dan jasa.
40

Prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
dengan penyakit kronis lebih rendah dari angka nasional yang dilaporakan BPS 2011.
Mungkin hal ini karena ketidak tahuan tentang penyakit kronis atau tidak tahu bahwa
dirinya menderita penyakit kronis, atau pralansia dan lansia sangat miskin, miskin
dan hampir miskin pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
memang lebih sehat karena lebih ayem.
Persebaran prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir
miskin dengan penyakit kronis tidak merata di kabupaten/ kota, dimana prosentase
pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin di kota yang menderita
penyakit kronis lebih tinggi daripada di 4 Kabupaten. Hal ini mungkin dikarenakan
pengetahuan dan kesadaran yang lebih tinggi tentang penyakit kronis atau karena
stress yang lebih tinggi di kota.
Prosentase pralansia dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin DIY
dengan disabilitas relatif rendah daripada angka yang dilaporkan oleh negara maju.
Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kriteria yang dipakai. Prosentase lansia
miskin DIY dengan disabilitas meningkat dengan bertambahnya usia, kecuali pada
lansia lanjut. Hal ini mungkin disebabkan lansia lanjut merupakan lansia yang sehat
karena sebagian besar lansia yang kurang sehat meninggal di usia antara 70-79 tahun.
Data PPLS lebih lengkap dibandingkan data umum dan data lansia terlantar, sehingga
analisa cukup detil bisa dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi pralansia
dan lansia sangat miskin, miskin dan hampir miskin. Mengingat bahwa negara harus
mengayomi dan menyejahterakan seluruh penduduk, tidak hanya penduduk yang
41

strata ekonominya di bawah, kami menyarankan pengumpulan data yang lengkap
untuk semua pralansia dan lansia, sehingga gambaran semua pralansia dan lansia
pada umumnya dapat diperoleh.


42


DAFTAR PUSTAKA

Adioetomo, Sri Moertiningsih (2009), Indonesia country profile based on 2008
SUSENAS Data. Paper presented at the Workshop on Ageing Readiness, ESCAP and
Demographic Institute, Jakarta, Hotel Athlete, 7-8 October 2009, Jakarta.
BPS Indonesia, 2000, Piramida penduduk. Dapat diunduh dari
http://www.datastatistik-
indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=213&Itemid=2
13&limit=1&limitstart=4)
BPS, 2011. Profil Pembangungan D.I. Yogyakarta. Dapat diunduh dari
http://simreg.bappenas.go.id/document/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%
203400DIY%202013.pdf
BPS, 2012. Kondisi Kemiskinan. Dapat diunduh dari
http://simreg.bappenas.go.id/document/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%
203400DIY%202013.pdf
BPS, 2011. Survey Tenaga Kerja Nasional. Dapat diunduh dari
http://www.bps.go.id/hasil_publikasi/stat_lansia_2011/files/search/searchtext.xml
BPS Bantul, 2012. Banyaknya penduduk Kabupaten Bantul menurut kelompok umur
dan jenis kelamin. Dapat diunduh dari http://bantulkab.bps.go.id/index.php/en/sosial-
dan-kependudukan-2/penduduk/45-banyaknya-penduduk-kabupaten-bantul-menurut-
kelompok-umur-dan-jenis-kelamin-2012
43

BPS Gunungkidul, 2012. Gunungkidul Dalam Angka 2012. Dapat diunduh dari
http://www.gunungkidulkab.go.id/pustaka/Gunungkidul%20Dalam%20Angka%2020
12.pdf
BPS Kota Yogyakarta, 2012. Yogyakarta Dalam Angka 2012. Dapat diunduh dari
http://jogjakota.bps.go.id/?hal=publikasi_detil&id=1
BPS Kulonprogo, 2012. Kulonprogo Dalam Angka 2012. Dapat diunduh dari
http://kulonprogokab.bps.go.id/?hal=publikasi_detil&id=2
BPS Sleman, 2012. Sleman Dalam Angka 2012. Dapat diunduh dari
http://slemankab.bps.go.id/flipbook/kca/sleman2012/
Jalal F, 2013. Indonesia Needs to Prepare for Population Aging. Dapat diunduh dari
http://indonesia.unfpa.org/news/2013/08/indonesia-needs-to-prepare-for-population-
ageing
Dinas Sosial DIY, 2011. Data PMKS dan PSKS 2011.
Dinas Sosial DIY, 2012. Data PMKS dan PSKS 2012. Dapat diunduh dari
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/02/23/mioild-lansia-terlantar-di-
diy-meningkat-1679-persen
Kaneda Toshiko, 2006. A Critical Window for Policymaking on Population Aging in
Developing Countries. Dapat diunduh dari
http://www.prb.org/Publications/Articles/2006/ACriticalWindowforPolicymakingonP
opulationAginginDevelopingCountries.aspx
Kinsella, K., Velkoff, V.A., 2001. An Aging World: 2001. Dapat diunduh dari
http://www.census.gov/prod/2001pubs/p95-01-1.pdf
44

Komnas Lansia, 2009. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Dapat diunduh dari
http://www.komnaslansia.go.id/d0wnloads/profil/Profil_Penduduk_Lanjut_Usia_200
9.pdf
National Institute of Health National Institute of Health, 2010. Disability in Older
Adults. Dapat diunduh dari
http://report.nih.gov/nihfactsheets/ViewFactSheet.aspx?csid=37
United Nations Department of Economic and Sosial Affairs, Population Division.
World Population Prospects: Revision 2012. Dapat diunduh dari
http://www.un.org/en/development/desa/population/publications/pdf/trends/WPP201
2_Wallchart.pdf