Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG BANK SYARIAH




2.1. Pengertian Perbankan Syariah Secara Umum
Kata Bank berasal dari kata banque (Prancis) dan banco (Italia) yang berarti peti/lemari
atau bangku. Kata peti atau lemari menyiratkan fungsi sebagai tempat menyimpan benda-
benda berharga, seperti emas, peti berlian, peti uang, dan sebagianya. Bank Islam atau di
Indonesia disebut Bank Syariah merupakan lembaga keuangan yang berfungsi
memelancar mekanisme ekonomi di sektor riil melalui aktivitas kegiatan usaha (investasi,
jual beli, atau lainnya) berdasarkan prinsip syariah, yaitu aturan perjanjian berdasarkan
hukum islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpan dana dan atau pembiayaan
kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan nilai-nilai syariah
yang bersifat makro maupun mikro.
Pengertian Bank Syariah menurut para ahli yaitu sebagai berikut :
Triandaru (2006 ; 53) Bank Syariah yaitu Bank yang dalam aktvitasnya, baik
penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan
mengenakan imbalan atas dasar prisip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.
(Schaik; 2001) Bank Islam adalah sebuah bentuk dari bank modern yang didasarkan pada
hukum Islam yang sah, dikembangkan pada abad pertama Islam, menggunakan konsep
berbagi risiko sebagai metode utama, dan meniadakan keuangan berdasarkan kepastian
serta keuntungan yang ditentukan sebelumnya.
(Sudarsono; 2004) Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya
memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang
yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah.
Muhammad (2002) dalam Donna (2006) adalah lembaga keuangan yang beroperasi
dengan tidak mengandalkan pada bunga yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan
dan jasa-jasa lainnya dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang yang
pengoperasiannya sesuai dengan prinsip syariat Islam.

2.2. Dasar Hukum
Undang-undang no. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 7
tahun 1992 tentang perbankan pasal I ayat 3 huruf menetapkan bahwa salah satu bentuk
usaha bank adalah menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain
berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia memuat antara lain:
a) Kegiatan usaha dan produk-produk bank berdasarkan prinsip syariah;
b) pembentukan dan tugas Dewan Pengawas Syariah;
c) Persyaratan bagi pembukaan kantor cabang yang melakukan kegiatan usaha
secara konvensional untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
Pasal ini merupakan revisi terhadap masalah yang sama pada UU No.7 tahun 1992
tentang perbankan pasal 6 huruf m yang menetapkan bahwa salah satu bentuk usaha bank
umum adalah menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Perubahan tersebut
pada dasarnya menyangkut tiga hal, yaitu:
a) Istilah prinsip bagi hasil diganti prinsip syariah, meski esensinya tidak berbeda.
b) Ketentuan rinci semula ditetapkan dengan peraturan pemerintah kemudian
diganti dengan ketentuan Bank Indonesia.
c) UU yang lama hanya menyebutkan prinsip bagi hasil dalam hal penyediaan dana
saja sedangkan UU yang baru menyebutkan prinsip bagi hasil dalam hal
penyediaan dana dan juga dalam kegiatan lain. Kegiatan lain bisa diterjemahkan
dalam banyak hal yang mencakup penghimpunan dan penggunaan dana.
Secara umum dengan diundangkannya UU Nomor 10 tahun 1998 tersebut, posisi bank
bagi hasil ataupun bank atas dasar prinsip syariah secara tegas telah diakui oleh undang-
undang.
Bank umum yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dapat juga melakukan
kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah melalui:
a) Pendirian kantor cabang atau kantor dibawah kantor cabang baru; atau
b) Pengubahan kantor cabang atau kantor dibawah kantor cabang yang melakukan
kegiatan secara konvensional menjadi kantor yang melakukan kegiatan
berdasarkan prinsip syariah.
Bank umum yang sejak awal kegiatannya berdasarkan prinsip syariah tidak diperbolehkan
melakukan kegiatan secara konvensional. Bank Perkreditan Rakyat yang melaksanakan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah tidak diperkenankan melaksanakan
kegiatan secara konvensional. Demikian juga Bank Perkreditan Rakyat yang melakukan
kegiatan usaha secara konvensional tidak diperkenankan melakukan kegiatan berdasarkan
prinsip syariah.

2.3 Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional
Bank syariah adlah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah atau prinsip agama
Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan,
maka bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar
kesetaraan dan keadilan. Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dan bank
konvensional antara lain:
Perbedaan Falsafah
Perbedaan falsafah antara bank syariah dan bank konvensional terletak pada landasan
falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh
aktivitasnya. Sedangkan bank konvensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadikan
perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank
syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah
jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil.
Konsep Pengelolaan Dana Nasabah
Dalam sistem bank syariah, dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi.
Cara titipan dan investasi berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito
merupakan upaya membungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja nasabah
membutuhkan, bank syariah ahrus dapat memenuhinya. Akibatnya dana titipan menjadi
sangat likuid. Dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau investasi tadi kemudian
dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam transaksi perniagaan yang diperbolehkan dalam
sistem syariah dan kemudian keuntungna dari pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke
dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada nasabah.
Kewajiban Mengelola Zakat
Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalamarti wajib membayar zakat,
menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi
dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat, infak,
sedekah).
Struktur organisasi
Di dalam suatu struktur organisasi bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah
(DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktivitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-
prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Secara ringkas
perbedaan bank syariah dan konvensional dapat dilihat pada tabel berikut :
Bank Syariah Bank Konvensional
1. Berinvestasi pada usaha yang halal Bebas Nilai
2. Atas dasar bagi hasil, margin keuntungan
dan fee
Sistem bunga
3. Besaran bagi hasil berubah-ubah
tergantung kinerja usaha
Besarannya tetap
4. Profit dan falah orientied Profit Orientied
5. Pola hubungan kemitraan Hubungan debitur - kreditur
6. Ada Dewan Pengawasan Syariah Tidak ada lembaga sejenis
dibandingkan dengan sistem bungan dalam perbankan konvensional. Untuk menjelaskan
keduanya, tabel berikut membandingkan sistem bagi hasi dan sistem bunga :
Sistem Bunga Sistem Bagi Hasil
1. Penentuan suku bunga dibuat pada
waktu akad dengan pedoman harus
Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat
pada waktu akad dengan berpedoman pada
selalu untung untuk pihak bank kemungkinan untung dan rugi
2. Besarnya presentase berdasarkan pada
jumlah uang (modal) yang
dipinjamkan
Besarnya rasio (nisbah) bagi hasil
berdasarkan pada jumlah keuntungan yang
diperoleh
3. Tidak tergantung pada kinerja usaha.
Jumlah embayaran bunga tidak
meningkat meskipun jumlah
keuntungan berlipat ganda saat
keadaan ekonmoni sedang baik.
Tergantung pada kinerja usaha. Jumlah
pembagian bagi hasil meningkat sesuai
dengan peningkatan jumlah pendapatan.
4. Eksitensi bunga diragukan
kehalalannya oleh semua agama
termasuk agama islam
Tidak ada agama yang meragukan keabsahan
bagi hasil
5. Pembayaran bunga tetap seperti yang
dijanjikan tanpa pertimbangan proyek
yang dijalankan pihak nasabah untung
atau rugi
Bagi hasil tergantung kedapa keuntungan
proyek yang dijalankan. Jika royek itu
tidakmendapatkan keuntungan maka
kerugian akan ditanggung bersama oleh
kedua belah pihak.

Berikut adalah tabel berbedaan bank syariah dan bank konvensional secara keseluruhan :
No Perbedaan Bank Konvensional Bank Syariah
1 Bunga Berbasis bunga
Berbasis revenue/profit loss
sharing
2 Resiko Anti risk Risk sharing
3 Operasional
Beroperasi dengan
pendekatan sektor keuangan,
tidak langsung terkait
dengan sektor riil
Beroperasi dengan pendekatan
sektor riil
4 Produk Produk tunggal (kredit)
Multi produk (jual beli, bagi hasil,
jasa)
5 Pendapatan
Pendapatan yang diterima
deposan tidak terkait dengan
Pendapatan yang diterima deposan
terkait langsung dengan
pendapatan yang diperoleh
bank dari kredit
pendapatan yang diperolah bank
dari pembiayaan
6

Mengenal negative spread Tidak mengenal negative spread
7 Dasar Hukum
Bank Indonesia dan
Pemerintah
Al Quran. Sunnah, fatwa ulama,
Bank Indonesia, dan Pemerintah
8 Falsafah
Berdasarkan atas bunga
(riba)
Tidak berdasarkan bunga(riba),
spekulasi (maisir), dan
ketidakjelasan(gharar)
9 Operasional
- Dana Masyarakat (Dana
Pihak Ketiga/DPK) berupa
titipan simpanan yang harus
dibayar bunganya pada saat
jatuh tempo
- Penyaluran dan pada
sektor yang menguntungkan,
aspek halal tidak menjadi
pertimbangan agama
- Dana Masyarakat (Dana Pihak
Ketiga/DPK) berupa titipan (
wadiah) dan
investasi(mudharabah) yang baru
akan mendapat hasil jika
diusahakan terlebih dahulu
- Penyaluran dana (financing)
pada usaha yang halal dan
menguntungkan
10 Aspek sosial Tidak diketahui secara tegas
Dinyatakan secara eksplisit dan
tegas yang tertuang dalam visi dan
misi
11 Organisasi
Tidak memiliki Dewan
Pengawas Syariah(DPS)
Harus memiliki Dewan Pengawas
Syariah(DPS)
12 Uang
Uang adalah komoditi selain
sebagai alat pembayaran
Uang bukan komoditi, tetapi
hanyalah alat pembayaran

2.4 Prinsip Dasar Perbankan Syariah dan Produk yang ditawarkan
Batasan-batasan bank syariah yang harus menjalankan kegiatannya berdasar pada syariat
Islam, menyebabkan bank syariah harus menerapkan prinsip-prinsip yang sejalan dan
tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun prinsip-prinsip bank syariah adalah
sebagai berikut :
1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-Wadiah)
Al-Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik
individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja ketika
si penitip menghendaki (SyafiI Antonio, 2001).
Secara umum terdapat dua jenis al-wadiah, yaitu:
a. Wadiah Yad Al-Amanah (Trustee Depository) adalah akad penitipan barang/uang
dimana pihak penerima titipan tidak diperkenankan menggunakan barang/uang
yang dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan
barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan.
Adapun aplikasinya dalam perbankan syariah berupa produk safe deposit box.
b. Wadiah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository) adalah akad penitipan
barang/uang dimana pihak penerima titipan dengan atau tanpa izin pemilik
barang/uang dapat memanfaatkan barang/uang titipan dan harus bertanggung
jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan. Semua manfaat dan
keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan barang/uang titipan menjadi hak
penerima titipan. Prinsip ini diaplikasikan dalam produk giro dan tabungan

2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)
Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara
penyedia dana dengan pengelola dana. Bentuk produk yang berdasarkan prinsip ini
adalah:
a. Al-Mudharabah
Al-Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak
pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak
lainnya menjadi pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah
dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila
rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si
pengelola. Seandainya kerugian ini diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si
pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Akad
mudharabah secara umum terbagi menjadi dua jenis:
1. Mudharabah Muthlaqah
Adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya
sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah
bisnis.

2. Mudharabah Muqayyadah
Adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib dimana mudharib
memberikan batasan kepada shahibul maal mengenai tempat, cara, dan obyek
investasi.
b. Al-Musyarakah
Al-musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan
kesepakatan.Dua jenis al-musyarakah:
1. Musyarakah pemilikan, tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya
yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih.
2. Musyarakah akad, tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau
lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah.
3. Prinsip Jual Beli (Al-Tijarah)
Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank
akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah
sebagai agen bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank
menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah
Keuntungan (margin). Implikasinya berupa :
a. Al-Murabahah
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan
keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.
b. Salam
Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh
penjual dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan
tersebut diterima sesuai syarat-syarat tertentu.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam.
Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk
menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam
paralel.
c. Istishna
Istishna adalah akad jual beli antara pembeli dan produsen yang juga bertindak
sebagai penjual. Cara pembayarannya dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan,
atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu. Barang pesanan harus diketahui
karakteristiknya secara umum yang meliputi: jenis, spesifikasi teknis, kualitas, dan
kuantitasnya.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual. Jika bank bertindak sebagai
penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan
dengan cara istishna maka hal ini disebut istishna paralel.
4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah)
Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui
pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas
barang itu sendiri. Al-ijarah terbagi kepada dua jenis: (1) Ijarah, sewa murni. (2)
ijarah al muntahiya bit tamlik merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si
penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa.
5. Prinsip Jasa (Fee-Based Service)
Prinsip ini meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank. Bentuk
produk yang berdasarkan prinsip ini antara lain:
a. Al-Wakalah
Nasabah memberi kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan
jasa tertentu, seperti transfer.
b. Al-Kafalah
Jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi
kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung.
c. Al-Hawalah
Adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib
menanggungnya. Kontrak hawalah dalam perbankan biasanya diterapkan pada
Factoring (anjak piutang), Post-dated check, dimana bank bertindak sebagai juru
tagih tanpa membayarkan dulu piutang tersebut.
d. Ar-Rahn
Adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman
yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan
demikian, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil
kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan
bahwa rahn adalah semacam jaminan utang atau gadai.
e. Al-Qardh
Al-qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta
kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Produk
ini digunakan untuk membantu usaha kecil dan keperluan sosial. Dana ini
diperoleh dari dana zakat, infaq dan shadaqah.
f. Pelayanan Jasa
1. Letter of credit (L/C) impor Syariah
Bank Syariah Basis Bank Modern L/C adalah surat pernyataan akan
membayar eksportir yang diterbitkan oleh bank atas permintaan imprtir dengan
pemenuhan prasyaratan tertentu.
2. Bank Garansi Syariah
Jaminan yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga penerima jaminan atas
pemenuhan kewajiban tertentu nasabah bank selaku pihak yang di jamin kepada
pihak ketiga dimaksud.
3. Penukaran Valuta Asing (sharf)
Transaksi penukaran mata uang yang berlainan jenis, baik membeli atau
menjual kepada nasabah.

2.6 DEWAN PENGAWAS, DEWAN KOMISARIS, DAN DIREKSI
Berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun
1992, dan SK Dir BI No. 32/34/KEP/DIR/ 12 Mei 1999 tentang Bank Berdasarkan Prinsip
Syariah, kepengurusan Bank Syariah terdiri dari dewan Komisaris dan Direksi, di samping itu
bank wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah yang berkedudukan di kantor pusat bank.
Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang bersifat independen, yang dibentuk oleh
Dewan Syariah Nasional dan ditempatkan pada Bank yang melakukan Kegiatan Usaha
Berdasarkan Prinsip Syariah, dengan tugas yang diatur oleh Dewan Syariah Nasional.
Persyaratan anggota Dewan Pengawas Syariah diatur dan ditetapkan oleh Dewan Syariah
Nasional. Dewan Pengawas Syariah berfungsi mengawasi kegiatan usaha Bank agar sesuai
dengan prinsip syariah. Dalam melaksanakan fungsinya, Dewan Pengawas Syariah wajib
mengikuti fatwa Dewan Syariah Nasional.
Anggota dewan Komisaris dan direksi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Tidak termasuk dalam daftar orang tercela di bidang perbankan sesuai dengan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
b) Memiliki kemampuan dalam menjalankan tugasnya
c) Menurut penilaian Bank Indonesia yang bersangkutan memiliki integritas yang
baik. Integritas yang baik diartikan sebagai:
Memiliki akhlak dan moral yang baik
Mematuhi perundang-undangan yang berlaku
Memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan operasional bank
yang sehat
Dinilai layak dan wajar untuk menjadi anggota dewan Komisaris dan Direksi
Bank

Bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pihak asing dapat menempatkan warga negara
asing sebagai anggota dewan Komisaris dan Direksi. Di antara anggota dewan Komisaris dan
Direksi Bank, sekurang-kurangnya terdapat 1 (satu) orang anggota dewan Komisaris dan 1
(satu) orang anggota direksi berkewarganegaraan Indonesia.
Jumlah anggota dewan Komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) orang. Anggota dewan
Komisaris memiliki pengetahuan dan/atau pengalaman di bidang perbankan. Anggota dewan
Komisaris hanya dapat merangkap jabatan:
Sebagai anggota dewan Komisaris sebanyak-banyaknya pada 1 (satu) bank
lain atau Bank Perkreditan Rakyat, atau
Sebagai anggota dewan Komisaris, Direksi, atau Pejabat Eksekutif yang
memerlukan tanggung jawab penuh sebanyak-banyaknya pada 2 (dua)
perusahaan lain bukan bank atau bukan Bank Perkreditan Rakyat. Pejabat
Eksekutif adalah pejabat yang mempunyai pengaruh terhadap kebijakan
perusahaan dan bertanggung jawab langsung kepada Direksi.

Mayoritas anggota dewan Komisaris dilarang memiliki hubungan keluarga sampai dengan
derajat kedua termasuk suami/istri, menantu, dan par dengan anggota dewan Komisaris lain.
Direksi Bank sekurang-kurangnya berjumlah 3 (tiga) orang. Mayoritas dari anggota direksi
wajib berpengalaman dalam operasional bank sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sebagai
Pejabat Eksekutif pada bank. Anggota Direksi yang belum berpengalaman wajib mengikuti
pelatihan perbankan syariah. Mayoritas anggota Direksi dilarang memiliki hubungan
keluarga sampai derajat kedua termasuk suami/istri, keponakan, menantu, ipar, dan besan
dengan anggota Direksi lain. Anggota Direksi dilarang merangkap jabatan sebagai anggota
dewan Komisaris, Direksi, atau Pejabat Eksekutif pada lembaga perankan, perusahaan atau
lembaga lain. Di antara anggota-anggota Direksi dilarang secara sendiri-sendiri atau bersama-
sama memiliki saham melebihi 25% (dua puluh lima per seratus) dari modal disetor pada
suatu perusahaan lain. Di samping itu Direksi Bank juga dilarang memberikan kuasa kepada
pihak lain yang mengakibatkan pengalihan tugas dan wewenang tanpa batas.

Calon anggota dewan Komisaris atau Direksi wajib memperoleh persetujuan dari Bank
Indonesia sebelum diangkat dan menduduki jabatannya. Permohonan untuk mendapatkan
persetujuan wajib disampaikan kepada direksi Bank terhadap Direksi Bank Indonesia
sebelum rapat umum pemegang saham atau rapat anggota yang mengesahkan pengengkatan
dimaksud, disertai dokumen yang diperlukan sesuai ketentuan. Persetujuan tau penolakan
atas permohonan pengangkatan anggota Dewan Komisaris atau Direksi diberikan selambat-
lambatnya 15 (lima belas) hari sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap. Dalam
rangka memberikan persetujuan atau penolakan, Bank Indonesia melakuakan:
Penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen
Wawancara terhadap calon anggota dewan Komisaris atau Direksi

Laporan pengangkatan anggotaa dewan Komisaris atau Direksi wajib disampaikan oleh
Direksi Bank kepada Bank Indonesia selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah
pengangkatan dimaksud. Disahkan oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota
sesuai dengan format yang telah ditentukan, disertai dengan notulen rapat umum pemegang
saham atau notulen rapat anggota.

2.7 Produk Perbankan Syariah
a. Penghimpun Dana
1 Giro Syariah
Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan
menggunakan cek/ bilyet giro, atau dengan cara pemindahbukuan.
2 Tabungan Syariah
Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
syarat tertentu yang telah disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan
cek/bilyet giro.
3 Deposito Syariah
Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada
waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah dengan bank.

b. Penyaluran Dana
A. Akad Mudharabah (bagi hasil)
Penanaman dana dari pemilik modal dengan pengelola untuk melakukan usaha
tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil antara kedua belah pihak
berdasarkan perjanjian yang telah disepakati.

Secara teknis, mudharabah didefinisikan sebagai akad kerja sama antara dua pihak
dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan 100% modal sedangkan pihak
lainnya menjadi pengelola (mudharib). Apabila dalam usahanya diperoleh
keuntungan (profit) maka keuntungan tadi kemudian dibagi antara shahibul maal
dan mudharib dengan prosentase nisbah atau rasio yang telah disepakati sejak awal
perjanjian/kontrak. Sedangkan apabila usaha tersebut merugi maka kerugian
tersebut akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak shahibul maal sepanjang hal itu
disebabkan oleh risiko bisnis (bussiness risk) dan bukan karena kelalaian mudharib
(character risk).

B. Akad Musyarakah (penyertaan modal)
Transaksi penanaman dana dari dua atau lebih pemilik dana atau barang untuk
menjalankan usaha tertentu sesuai syariah dnegan pembagian hasil antara kedua
belah pihak berdasarkan perjanjian yang telah disepakati, jika pembagian kerugian
berdasarkan proporsi modal masing-masing.

C. Akad Murabahah (jual beli)
Transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah margin
yang disepakati oleh para pihak, dimana pihak penjual menginformasikan harga
perolehan terlebih dahulu kepada pembeli atau konsumen.

D. Akad Salam
Transaksi jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat tertentu
dan pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh.

E. Akad Istishna
Transaksi jual beli dengan cara pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan
kesepakatan.

F. Akad Ijarah (sewa)
Transaksi sewa menyewa atas suatu barang atau jasa, antara pemilik dan
pemakaian sewa dengan hak pakai untuk mendapatkan imbalan atas obyek yang
disewakan. Transaksi terhadap suatu manfaat tertentu, bersifat mubah dan dapat
dimanfaatkan dengan imbalan tertentu . Ijarah ditunjukkan untuk manfaat atau
jasa bukan materi/benda, dapat berupa manfaat/nilai Ijarah Jasa (Ijarah ala al
amal) bukan merupakan kewajiban (fardhu ain) seperti shalat, puasa.

c. Pelayanan Jasa
A. Letter of credit (L/C) impor syariah
L/C adalah surat pernyataan akan membayar eksportir yang diterbitkan oleh
bank atas permintaan importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu.

B. Bank Garansi Syariah
Jaminan yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga penerima jaminan atas
pemenuhan kewajiban tertentu nasabah bank selaku pihak yang dijamin
kepada pihak ketiga dimaksud.
C. Penukaran Valuta Asing (sharf)
Transaksi penukaran mata uang yang berlain jenis, baik membeli atau mejual
kepada nasabah.


2.8 BADAN HUKUM DAN PENDIRIAN
1 Bentuk Hukum
Bentuk hukum suatu Bank Berdasarkan Prinsip Syariah dapat berupa:
a) Perseroan Terbatas
b) Koperasi
c) Perusahaan Daerah

2 Modal
Modal disetor untuk mendirikan Bank Berdasrkan Prinsip Syariah ditetapkan sekurang-
kurangnya sebesar tiga triliun rupiah. Modal disetor bagi Bank yang berbentuk hukum
koperasi adalah simpanan pokok, simpanan wajib, dan hibah sebagaimana diatur dalam
Undang-undang tentang Perkoperasian. Modal disetor yang berasal dari warga negara asing
dan/atau badan hukum asing setinggi-tingginya sebesar 99% dari modal disetor bank.

3 Pendirian
Bank Berdasarkan Prinsip Syariah hanya dapat didirikan dan melakukan kegiatan usaha
berdasarkan Prinsip Syariah dangan izin Direksi Bank Indonesia. Bank tersebut hanya dapat
didirikan oleh:
a. Warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia
b. Warga negara indonesia dan/atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing
dan/atau badan hukum asing secara kemitraan.
Pemberian izin kegiatan usaha dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah persetujuan
prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian Bank. Permohonan untuk
mendapatkan persetujuan prinsip diajukan sekurang-kurangnya oleh seorang calon pemilik
kepada Direksi Bank Indonesia sesuai dengan format yang telah ditentukan dan wajib
dilampiri dengan:
a. Rancangan akta pendirian badan hukum, termasuk rancangan anggaran dasar yang
sekurang-kurangnya memuat:
Nama dan tempat kedudukan
Kegiatan usaha sebagai Bank Berdasarkan Prinsip Syariah
Permodalan
Kepemilikan
Wewenang tanggung jawab dan masa jabatan dewan Komisaris serta Direksi
Penempatan dan tugas-tugas Dewan Pengawas Syariah

b. Data kepemilikan berupa
Daftar calom pemegang saham berikut rincian besarnya masing-masing
kepemilikan saham bagi Bank yang berbentuk hukum Perseoan
Terbatas/Perusahaan Daerah.
Daftar calon anggota berikut rincian jumlah simpanan pokok dan simpanan
wajib, serta daftar hibah bagi Bank yang berbentuk hukum koperasi.
c. Daftar calon anggota dewan komisaris dan anggota Direksi, disertai dengan:
Fotokopi tanda pengenal dan riwayat hidup
Surat pernyataan pribadi (personal statement) yang menyatakan tidak pernah
melakukan tindakan tercela di bidang perbankan, keuangangan, dan usaha
lainnya dan/atau tidak pernah dihukum karenna terbukti melakukan tindak
pidana kejahatan.
Surat keterangan atau bukti tertulis dari bank tempat bekerja sebelumnya
mengenai pengalaman operasional di bidang pperbankan syariah bagi calon
Direksi yangg telah berpengalaman.
Surat keterangan dari lembaga pelatihan mengenai pelatihan perbankan
syariah yang pernah diikuti bagi calon Direksi yang belum berpengalaman.
Surat keterangan dari lembaga pendidikan mengenai pendidikan perbankan
yang pernah diikuti dan/atau bukti tertulis dari Bank tempat bekerja
sebelumnya mengenai pengalaman di bidang perbankan bagi calon anggota
dewan Komisaris
Surat rekomendasi dari Deawan Syariah Nasional untuk calon anggota Dewan
Pengawas Syariah.
d. Rencana susunan organisasi.
e. Rencana kerja untuk tahun pertama yang sekurang-kurangnya memuat:
Hasil penelaahan menganai peluang pasar dan potensi ekonomi
Rencana kegiatan usaha yang mencakup penghimpunan dan dan penyaluran
dana serta langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan dlam mewujudkan
rencana dimaksud
Rencana kebutuhan pegawai
Proyeksi arus kas bulanan selama dua belas bulan.
f. Bukti setoran modal sekurang-kurangnya 30% dari modal disetor minimum dalam
bentuk fotokopi bilyet deposito pada kantor bank yang melakukan Kegiatan Usaha
Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia atas nama Direksi Bank Indonesia cq.
Salah seorang calon pemilik untuk pendirian Bank yang bersangkutan, dengan
mencantumkan keterangan bahwa pencairannya hanya dapat dilakukan setelah
mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Bank Indonesia.
g. Surat pernyataan dari calon pemegang saham bagi Bank untuk hukum Perseroan
Terbatas/Perusahaan Daerah atau dari calon anggota bagi Bank yang berbentuk
hukum Koperasi bahwa setoran modal tidak berasal dari:
Pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank dan/atau
pihak lain di Indonesia.
Sumber dana yang diharamkan menurut Prinsip Syariah.
h. Daftar calon pemegang saham atau daftar calon anggota:
Dalam hal perorangan wajib dilampiri dokumen:
Fotokopi tanda pengenal dan riwayat hidup
Surat pernyataan pribadi (personal statement) yang menyatakan tidak pernah
melakukan tindakan tercela di bidang perbankan, keuangangan, dan usaha
lainnya dan/atau tidak pernah dihukum karenna terbukti melakukan tindak
pidana kejahatan.
Dalam hal badan hukum wajib dilampiri:
Akta pendirian badan hukum
Dokumen dari seluruh dewan Komisaris dan Direksi badan hukum yang
bersangkutan.
Rekomendasi dari instansi berwenang di negara asal bagi badan hukum asing.
Daftar pemegang saham berikut rician kepemilikan saham bagi badan hukum
Perseroan Terbatas/Perusahaan Daerah, atau daftar anggota berikut rincian
jumlah simpanan poko dan simpanan wajib, serta hibah bagi badan hukum
Koperasi
Laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan posisi paling
lama enam bulan sebelum tanggal pengajuan permohonan persetujuan prinsip
Persetujuan atau penolakan atas permohonan persetujuan prinsip diberikan selambat-
lambatnya enam puluh hari setelah dokumen permohonan diterima secara lengkap.
Persetujuan prinsip berlaku untuk jangka waktu 360 (tiga ratus enam puluh) hari terhitung
sejak tanggal persetujuan prinsip dikeluarkan dan pihak yang mendapat persetujuan prinsip
dilarang melakukan kegiatan usaha sebelum mendapat izin usaha
Tahap kedua adalah izin usaha, yaitu izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan
usaha Bank setelah persiapan dilakukan. Permohonan untuk mendapat izin usaha Direksi
Bank Berdasarkan Prinsip Syariah kepada Direksi Bank Indonesia sesuai dengan format yang
telah ditentukan dan wajib dilampiri dengan:
Akta pendirian badan hukum
Daftar kepemilikan berupa daftar pemegang saham bagi Perseroan
Terbatas/Perusahaan Daerah dan daftar anggota bagi Koperasi
Daftar susunan dewan Komisaris dan Direksi
Susunan organisai serta sistem dan prosedur kerja
Bukti pelunasan modal disetor minimum dalam bentuk fotokpoi bilyet
deposito
Surat pernyataan bagi pemegang saham bahwa modal disetor tidak berasal dari
pinjaman dan sesuai dengan Prinsip Syariah.
Surat pernyataan tidak merangkap jabatan melebihi ketentuan bagi angoota
Dewan Komisaris dan Direksi.
Surat pernyataan dari anggota direksi bahwa yang bersangkutan tidak
mempunyai hubungan keluarga sesuai ketentuan.
Surat pernyataan dari anggota direksi bahwa yang bersangkutan baik secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak memiliki saham melebii 25% dari
modal disetor pada suatu perusahaan lain.
Bank berdasarkan Prinsip Syariah yang telah mendapat izin usaha dari Direksi Bank
Indonesia wajib melakukan kegiatan usaha selambat-lambatnya 60 hari setelah tanggal
izin usaha dikeluarkan, Laporan pelaksanaan disampaikan kepada Bank Indonesia
selambat-lambatnya 10 hari setelah tanggal dimulainya kegiatan operasional. Bank yan
telah mendapat izin usaha wajib mencantumkan kata Syariah sesudah kata Bank
pada penulisan namanya.











BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Perkembangan Bank Syariah
3.1.1 Awal Kelahiran Bank Syariah.
Bank syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam modern yaitu
neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian Bank ini adalah sebagai upaya kaum
muslimin mendasari segala aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al Quran dan As-
sunnah. Upaya awal penerapan sistem profit and loss sharing tercatat pertama kali di Pakistan
dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya pengelolaan dana jamaah haji
secara nonkenvensional. Rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit
Ghamir pada tahun 1963 di Kairo, Mesir. Berikut perkembangan Bank syariah di dunia
Internasional :
1. Mit Ghamir
Rintisan Bank syariah mulai mewujud di Mesir pada dekade 1960-an dan beroperasi
sebagai rural-social bank (semacam lembaga keuangan unit desa di Indonesia) di sepanjang
delta sungai Nil. Lembaga dengan nama Mit Ghamir Bank binaan Prof. Dr. Ahmad Najjar ini
hanya beroperasi dengan skala kecil, namun mampu menjadi pemicu yang sangat berarti bagi
perkembangan sistem finansial dan ekonomi Islam.
2. Islamic Development Bank
Mesir mengajukan Proposal untuk mendirikan Bank syariah pada Sidang Menteri Luar
Negeri Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi, Pakistan, Desember 1970.
Proposal di terima. Sidang Menyetujui rencan mendirikan Bank islam Internasional dan
Federasi Bank Islam. Sidang Menteri Keuangan OKI di Jeddah 1975, menyetujui rancangan
Pendirian Bank Pembangunan Islam atau IDB dengan modal awal 2 milliar dinar Islam atau
ekuivalen 2milliar SDR (Special Drawing Right). Semua anggota OKI menjadi anggota IDB.
Pada tahun-tahun awal beroperasinya, IDB mengalami banyak hambatan karena masalah
politik. Namun jumlah anggotanya makin bertambah dari 22 menjadi 43 negara.

3. Islamic research and Training Institut
IDB membantu mendirikan Bank-bank Islam di berbagai negara. IDB membangun sebuah
Institut riset dan pelatihan untuk pengembangan penelitian dan pelatihan ekonomi Islam, baik
dalam bidang perbankan maupun keuangan secara umum lembaga ini disingkat dengan IRTI
(islamic Research and Training Istitut).

3.2. PEMBENTUKAN BANK-BANK SYARIAH.
IDB telah memotivasi banyak negara Islam untuk mendirikan lembaga keuangan syariah.
Untuk itu, komite ahli IDB menyiapkan panduan tentang pendirian, peraturan, dan
pengawasan Bank syariah. Pada akhir 1980-an , Bank- bank syariah bermunculan di Mesir,
Sudan, Negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, serta Turki.
3.3. PERKEMBANGAN BANK-BANK SYARIAH DI BERBAGAI NEGARA.
1. Pakistan
Pakistan merupakan pelopor di bidang perbankan sayriah. Awal Juli 1979, sistem
bunga di hapuskan dari tiga institusi : National Investment, House Building Finance
Corporation dan Mutual Funds of The Investment Corporation. Pada 1979-1980,
pemerintah menyosialisasikan skema pinjamam tanpa bunga kepada petani dan
nelayan. Pada awal 1985, seluruh sitem perbankan Pakistan dikonversi dengan sistem
perbankan Syariah.
2. Mesir
Bank syariah yang pertama kali berdiri di Mesir adalah Faisal Islamic Bank. Bank ini
mulai beroperasi pada Maret 1978. Selain FIB, terdapat Bank lain yaitu Islamic
International Bank for Investment and Development. Bank ini beroperasi, baik
sebagai bank investasi, bank perdagangan maupun bank komersial.
3. Siprus
Faisal Islamic Bank of Kirbs (siprus) mulai beroperasi pada Maret 1983 dan
mendirikan Faisal Islamic Investment Corporation yang mempunyai cabang di Siprus
dan 1 di Istanbul.
4. Kuwait
Kuwait Finance House didirikan pada tahun 1977 dan sejak awal beroperasinya tidak
dengan sistem bunga.
5. Bahrain
Bahrain merupakan off-shore banking heaven terbesar di Timur Tengah. Di negeri
yang hanya berpenduduk tidak lebih dari 660.000 jiwa (per-Desember 1999) tumbuh
sekitar 220 local dan off-shore banks. Tidak kurang dari 22 diantaranya beroperasi
berdasarkan syariah diantaranya adalah Citi Islamic Bank of Bahrain, Faysal Islamic
Bank of Bahrain dan Al-Barakah Bank.
6. Uni Emirat Arab
Dubai Islamic Bank merupakan salah satu pelopor perkembangan Bank syariah.
Didirikan pada 1975. Investasinya meliputi bidang perumahan, proyek-proyek
industri, dan aktivitas komersial.
7. Malaysia
Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) merupakan Bank syariah pertama di Asia
tenggara. Didirikan pada 1983, dengan 30 persen modal merupakan milik pemerintah
federal. Hingga akhir 1999, BIMB telah memiliki lebih dari tujuh puluh cabang yang
tersebar di setiap negara bagian dan kota-kota di Malaysia.
8. Iran
Ide pengembangan perbankan syariah di Iran bermula sesaaat setelah revolusi Islam
Airan yang dipimpin Yatullah Khomeini pada 1979, sedangkan dalam arti riil baru
dimulai sejak Januari 1984. Sejak dikelurkannya Undang-undang Perbankan Islam
(1983) Seluruh sistem perbankan menjadi sistem syariah di bawah kontrol penuh
pemerintah.
9. Turki
Pada tahun 1984, Pemerintah Turki mengijinkan Daar al-islami (DMI) untuk
mendirikan bank yang beroperasi dengan prinsip bagi hasil. Setelah DMI berdiri,
pada Desember 1984 didirikan Pula Faisal finance Institution dan mulai beroperasi
pada April 1985.

3.4 Perkembangan Bank Syariah Di Indonesia
3.4.1. Lata Belakang Bank Syariah
Berkembangnya bank-bank sayriah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia.
Diskusi mengenail bank syariah sebagai pilar ekonomi mulai dilakukan pada awal 1980-an.
Tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut diantaranya A. perwaatmajda, M. dawan Rahardjo,
A.M. Saefuddin, M. Amin Aziz dan lain-lain. Beberapa ujicoba pada skala yang relatif
terbatas telah diwujudkan. Diantarnya adalah Baitul Tamwil-salman, Bandung. Di Jakarta
juga dibentuk lembaga serupa dalam bentuk koperasi, yakni koperasi Ridho Gusti.
Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan Bank Islam pada tahun 1990. Majelis
Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 menyelenggarakan Lokakarya
Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas
lebih dalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di hotel Sahid Jaya
Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja
untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja ini disebut Tim Perbankan MUI,
bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua puhak terkait.
2. PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI)
Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI. Akte pendirian PT
Bank Muamalat Indonesia ditandatangani pada tanggal 1 November 1991. Pada saat
penandatanganan akte pendirian terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp 84
Miliar. Bank Muamalat mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1992. Landasan hukum operasi
bank yang menggunakan sistem syariah ini dikategorikan sebagai bank dengan sistem bagi
hasil, tidak terdapat rincian landasan hukum syariah serta jenis-jenis usaha yang
diperbolehkan. Hal ini sangat jelas tercermin dari UU No. 7 tahun 1992, dimana pembahasan
perbankan dengan sistem bagi hasil diuraikan hanya sepintas lalu dan merupakan sisipan
belaka.
3 Era Reformasi dan Perbankan Syariah
Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang-
undang No. tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut diaru dengan rinci landasan hukum
serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank syariah.
Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk
membuka cabang bank syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi Bank
Syariah.
Sejumlah bank mulai memberikan pelatihan dalam perbankan syariah bagi para stafnya.
Bank Indonesia mengadakan Pelatihan Perbankan Syariah bagi para pejabat Bank Indonesia
dari segenap bagian, terutama yang bekaitan langsung seperti DPNP (Direktorat Penelitian
dan Pengaturan Perbankan), kredit, pengawasan, akuntansi, riset dan moneter.

3.5 PERMASALAHAN BANK SYARIAH
Bank syariah secara resmi telah diperkenalkan pada tahun 1992, yaitu dengan
diberlakukannya UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Undang-undang ini yang
selanjutnya diinterpretasikan dalam berbagai ketentuan pemerintah, telah memberikan
peluang seluas-luasnya untuk pembukaan bank-bank yang beroperasi dengan prinsip bagi
hasil/ syariah.
Banyak tantanngan dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perbankan
syariah, terutama berkaitan dengan penerapan sistem yang baru, suatu sistem yang
mempunyai sejumlah perbedaan prinsip dengan sisitem yang dominan dan telah berkembang
pesat di Indonesia. Berikut dikemukakan beberapa kendala yang muncul.
a. Pemahama riba serta masyarakat yang belum tepat terhadap kegiatan operasional bank
syariah.
Karena masih awal pengembangan, pemahaman masyarakat masi kurang mengenai sistem
bank syariah. Pada dasar nya, sistem ekonomi islam telah jelas. Yaitu melarang
mempraktikkan riba serta akumulasi kekayaan hanya pada satu pihak tertentu secara tidak
adil. Adanya perbedaan karkteristik produk bank konvensional dengan bank syariah telah
menimbulkan adanya keengganan bagi pengguna jasa perbankan.

b. Peraturan perbankan yang berlaku belum sepenuhnya mengakomodasi operasional bank
syariah.
Karena ada nya perbedaan dalam pelaksanaan operasional, ketentuan perbankan perlu
disesuaikan agar memenuhi ketentuan syariah sehingga bank syariah dapapt beroperasi
secara efektif dan efisien. Ketentuan tersebut antara lain :
Instrumen yang diperlukan untuk mengatasi masalah likuiditas
Instrumen moneter yang sesuai dengan prinsip syariah untuk keperluan
pelaksanaan tugas bank sentral
Standar akuntansi, audit, dan pelaporan.
Ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai prinsip kehati0hatian dsb.

c. Jaringan Kantor Bank Syariah yang Belum Jelas
Pegembangan jaringan kantor bank syariah diperlukan dalam rangka perluasan jangkauan
pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu, kurangnya jumlah bank syariah yang ada juga
menghambat perkembangan kerjasama bank syariah.

d. Sumber daya Manusia yang Memiliki Keahlian dalam Bank Syariah masih sedikit.
Kendala di bidang sumber daya manusia dalam pengembangan perbankan syariah
disebabkan karena sistem ini masih belum lama dikembangkan. Disamping itu, lembaga-
lembaga akademik dan pelatihan di bidang ini sangat terbatas sehingga tenaga terdidik dan
berpengalaman di bidang perbankan syariah, baik dari sisi bank pelaksana maupun dari bank
sentral (pengawas dan peneliti bank), masih sangat sedikit.