Anda di halaman 1dari 6

VOLUME 4 NO.

4, DESEMBER 2008

SINTESIS DAN UJI KEMAMPUAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI


NATA DE COCO SEBAGAI MEMBRAN ULTRAFILTRASI UNTUK
MENYISIHKAN ZAT WARNA PADA AIR LIMBAH ARTIFISIAL
Muhammad Lindu 1, Tita Puspitasari 2, Erna Ismi 3
1
Teknik Lingkungan, Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan, Universitas Trisakti,
Jl. Kyai Tapa No.1, Jakarta 11440
2
Badan Tenaga Nuklir, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, P.O.BOX 7010 JKSKL, Jakarta 12070

E-mail : Sentra_d5n13@yahoo.com, Titapus2000@yahoo.com, Erna_ismi@yahoo.com

Abstrak

Telah dilakukan percobaan skala laboratorium untuk mensintesis dan mengkaji kemampuan teknologi membran
ultafiltrasi dari nata de coco dalam menyisihkan zat warna air limbah artifisial. Telah diperoleh membran selulosa
asetat dari nata de coco dengan variasi konsentrasi perendam NaOH 2 % (CA-1), 4 % (CA-2). Selulosa asetat hasil
asetilasi memiliki kadar asetil sebesar 45,20 % (CA-1) dan 44,80% (CA-2). Analisis FTIR menunjukkan serapan khas
gugus C=O Karbonil pada bilangan gelombang 1755,2 cm-1 (CA-1) dan 1752,25 cm-1 (CA-2) serta gugus C-O Asetil
pada bilangan gelombang 1232 cm-1 sampai 1240 cm-1. Kinerja kedua jenis membran diuji pada tekanan 2 bar, 4 bar
dan 6 bar baik dengan air murni maupun air limbah artifisial. Dari hasil penelitian, nilai fluks air murni yang dihasilkan
oleh membran CA-1 yaitu 16,2420 L/m2.jam−32,2452 L/m2.jam dengan nilai koefisien permeabilitas adalah
5,915 L/m2.jam.bar dan nilai fluks membran CA-2 8,1210 L/m2.jam −24,1242 L/m2.jam nilai koefisien permeabilitas
adalah 3,945 L/m2.jam.bar. Air limbah artifisial mengandung zat warna cibacron red dengan konsentrasi 50 ppm, 75
ppm, 100 ppm. Kinerja membran CA-1 dengan nilai fluks yaitu 4,54 L/m2.jam−22,21 L/m2.jam dan nilai permeabilitas
2,7553 L/m2.jam.bar − 3,5657 L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi 39,88%−63,89%. Membran CA-2 dengan nilai fluks 2,39
L/m2.jam −21,50 L/m2.jam dan nilai permeabilitas 2,3118 L/m2.jam.bar−3,3269 L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi yaitu
54,32%−90,68 %

Abstract

A laboratory scale experiment to study the synthesizing and applicability of ultrafiltration membrane technology
from nata de coco to eliminate the color of artificially water waste. The membrane used was cellulose acetate based
membrane from nata de coco, composed by soaking of NaOH and acetic acid by concentration of 2% (CA-1) and 4%
(CA-2). The Acetate celluloses resulting from acetylation have content of acetyl as much as 45.20 % (CA-1) and
44.80% (CA-2). FTIR’s analysis shows typical group absorption of carbonyl C=O in the number of wave 1755.2 cm-1
(CA-1) and 1752.25 cm-1 (CA-2) and group of Acetyl C-O in number wave of 1232 cm-1 – 1240 cm-1. The performance
of Both type of membranes tested by pressure of 2 bar, 4 bar and 6 bar. The result shows, The fluks CA-1 with pure
water’s 16,2420 L/m2.jam−32,2452 L/m2.hour and the fluks CA-2 with was 8,1210 L/m2.jam−24,1242 L/m2.hour. The
cibacron red was used with artificially water waste concentration 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm. The Test Result with
artificially waste water, the fluks of the membrane CA-1 was 4,54 L/m2.jam−22,21 L/m2.jam and the permeability of
2,7553 L/m2.jam.bar−3,5657 L/m2.jam.bar with rejects 39,88%−63,89%. The fluks of the membrane CA-2 was 2,39
L/m2.jam −21,50 L/m2.jam and the permeability of 2,3118 L/m2.jam.bar−3,3269 L/m2.jam.bar with rejects
54,32%−90,68 %

Keywords: Fluks, Membran Selulosa Asetat, Nata de coco, Rejects, Permeability

107
108 VOLUME 4 NO. 4, DESEMBER 2008

1. Pendahuluan tahap asetilasi dilakukan selama 20 jam dan tahap


hidrolisis dilakukan selama 20 jam.
Perkembangan teknologi membran sebagai unit
pengolah limbah saat ini sangat pesat dan banyak Analisis Kadar Asetil. Untuk melihat kadar asetil
digunakan dalam proses pemisahan. Teknologi digunakan persamaan dibawah ini :
membran dipilih karena prosesnya yang sangat
sederhana, konsumsi energi yang digunakan rendah,
tidak merusak material, tidak menggunakan zat kimia ⎛F⎞
l(%) = [(D −C)Na+ ( A− B)Nb]×⎜ ⎟
Kadaraseti
(3.1)
tambahan dan tidak menghasilkan limbah baru ⎝W ⎠
sehingga tergolong sebagai clean technology.

Operasi membran dapat diartikan sebagai proses Dimana :


pemisahan dua atau lebih komponen dari aliran fluida
melalui suatu penghalang tipis yang sangat selektif A = ml NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi sampel
diantara dua fasa, hanya dapat melewatkan komponen B = ml NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi blanko
tertentu dan menehan komponen lain (Mulder, 1996).
Teknologi membran selulosa asetat dari nata de coco C = ml HCl yang dibutuhkan untuk titrasi sampel
ini belum banyak dimanfaatkan untuk proses D = ml HCl yang dibutuhkan untuk titrasi blanko
pemisahan terutama untuk pengelolaan air limbah.
Limbah industri terutama industri tekstil banyak Na = Normalitas HCl
mengandung zat warna. Zat warna merupakan partikel
Nb = Normalitas NaOH
yang mempunyai ukuran < 10 µm (Streese et al.,
2005), sehingga sulit diendapkan. Oleh karena itu F = 4,305 untuk kadar asetil dan 6,005 untuk kadar
membran selulosa asetat dari nata de coco akan dicoba asam asetat
diaplikasikan pada proses pemisahan antara air dengan W = Bobot sampel
zat warna dari suatu aliran fluida yang dilewatkan
melalui membran Analisis Gugus Fungsi. Analisis gugus fungsi
dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan membran Fourier Transform Infra Red (FTIR) pada bilangan
selulosa asetat melalui teknik inversi fasa dan untuk gelombang 450 cm-1−4000 cm-1.
mengetahui kemampuan membran selulosa asetat dari
nata de coco memfiltrasi zat warna maka digunakan air Morfologi Membran. Analisis morfologi membran
umpan yaitu air artifisial. Kandungan zat warna dalam dilakukan dengan menggunakan peralatan Scanning
air artifisial yaitu 50 ppm, 75 ppm dan 100 ppm dan Elactron Microscope (SEM) type JEOL jsm 35 °C.
tekanan operasi yang diberikan pada membran yaitu 2 Pada teknik SEM, berkas elektron dengan energi
bar, 4 bar, 6 bar. kinetik sebesar 1- 25 kV ditembakkan pada sampel.
Paada penelitian ini digunakan pembesaran 5000 kali.
2.Metode Penelitian
Penetuan Nilai Fluks dan Koefisien Permeabilitas.
Bahan. Air kelapa dan bakteri Acetobacter xylinum. Penentuan nilai-nilai fluks (J) dan koefisien
Air limbah artifisial berasal dari campuran air aquades permeabilitas (Lp) dilakukan dengan melewatkan air
dengan zat warna cibacron red. murni pada membran yang diuji. Dalam pengukuran
fluks terdapat proses kompaksi. Nilai fluks (J) untuk
Pembuatan Nata De Coc.o Air kelapa difermentasi masing-masing tekanan operasi diperoleh dengan
oleh bakteri Acetobacter xylinum menjadi nata de membagi gradien kurva aliran volume permeat (V)
coco. Waktu inkubasi selama enam hari. terhadap waktu (t) pada keadaan konstan dengan luas
permukaan membran (A), seperti terlihat pada rumus
Permurnian Selulosa Mikrobial. Proses ini dilakukan 3.2 [2] sebagai berikut :
dengan merendam selulosa nata de coco yang telah
direbus ke dalam larutan NaOH dan larutan asam asetat 1× v
dengan variasi konsentrasi larutan perendam NaOH J= (3.2)
dan asam asetat 2 % (CA-1) dan 4 % (CA-2) . A× t
Dengan persamaan dibawah ini didapatkan koefisien
Pembuatan Selulosa Asetat. Proses pembuatan permeabilitas :
selulosa asetat mencakup tiga tahap penting, yaitu J = L p × ∆P (3.3)
tahap swelling dilakukan selama 1 jam dan 45 menit,
VOLUME 4 NO. 4, DESEMBER 2008 109

Karakteristik Air Limbah Artifisial. Konsentrasi zat


55.8
warna cibacron red ini diidentifikasi dengan metode
spektrofotometrik. 50

45 2135.31

Penentuan Nilai Rejeksi. Selektivitas dari membran 40

dinyatakan melalui suatu nilai koefisien rejeksi (%R) 35

Koefisien rejeksi menyatakan kemampuan membran 30

%T 25 1637.18

untuk menahan atau melewatkan spesi tertentu. Nilai


20
rejeksi (R) dihitung dengan menggunakan persamaan
15
berikut [2] :
10 1234.52

1205.17
5

⎛ c ⎞
1281.40 1062.87
3284.56 2896.26
1428.08 559.61

R = ⎜1 - p ⎟ × 100%
0 1336.53 668.06
selulosa nata de coco
(3.4) -3.0

⎝ cf ⎠ 4000.0 3600 3200 2800 2400 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 450.0
cm-1

A) Selulosa Nata De Coco


Variabel cp dan cf , berturut-turut, adalah konsentrasi
air limbah dalam permeat dan umpan.
13.5
Laboratory Test Result
13

3. Hasil dan Pembahasan 12

11

Membran Selulosa Asetat. Pembuataan nata de coco 10

menghasilkan gel berwarna keputih-putihan ketebalan 9

8
berkisar 3-5 mm. Setelah proses perendaman dengan
7

NaOH dan asam asetat serta telah melalui proses %T

pengeringan dihasilkan selulosa mikrobial kering. 5


601.63

Dari proses asetilasi dan hidrolisis selulosa mikrobial 4

kering dihasilkan larutan coklat kental. Proses 3


3524.23

pemisahan larutan coklat kental menggunakan air es 2


1755.22
1234.31

menghasilkan padatan selulosa asetat (CA) putih 0.7


Nata de coco 2 %

4000.0 3600 3200 2800 2400 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 450.0
kekuningan. Hasil analisis kadar asetil, pada padatan cm-1

CA-1 menghasilkan 45,79 % sedangkan padatan CA-2 B) Membran CA-1


menghasilkan 44,21 %. Menurut Kirk dan Othmer
Gambar 1. Spektrum FTIR
(1993) Kedua selulosa asetat tersebut didominansi oleh
jenis selulosa triasetat, karena jenis selulosa triasetat
Morfologi Membran. Hasil dari SEM (Scanning
memiliki kadar asetil 43,5 – 44,8 %. Pencampuran
antar padatan selulosa asetat dengan larutan Elektron Miscroscopy) yang terdapat pada gambar 2.
diklorometan menghasilkan larutan dope yang Membran CA-1 (Gambar 1a) mempunyai ukuran pori
homogenitas. Pencetakan larutan dope menghasilkan yang dapat teridentifikasi adalah antara 0,009 µm
membran selulosa asetat tipis dengan ketebalan sampai 0,06 µm sedangkan membran CA-2 (Gambar
0,015 mm. 1b) mempunyai ukuran pori yang dapat teridentifikasi
adalah antara 0,008 µm sampai 0,04 µm. Karakteristik
Analisis Gugus Fungsi. Pada Gambar 1.a terlihat struktur membran ultrafiltrasi adalah memiliki ukuran
bahwa puncak serapan karakteristik dari selulosa nata pori antara 0,001µm – 2 µm (Mulder,1996).
de coco adalah gugus OH terjadi pada bilangan
gelombang 3284,56 cm-1 dan gugus C-O pada bilangan Struktur pori-pori membran CA-2 lebih rapat dari pada
gelombang 1062,87 cm-1. Pada Gambar 1b terdapat struktur pori-pori membran CA-1. Hal ini disebabkan
dua puncak serapan baru yaitu serapan gugus karbonil struktur selulosa asetat yang semakin rapat dengan
dan C-O asetil. bahwa proses asitilasi selulosa nata de meningkatnya konsentrasi perendam NaOH, semakin
coco menjadi selulosa asetat telah berhasil dilakukan. rapat struktur selulosa asetat membuat molekul-
molekul pelarut susah untuk difusi sehingga
menghasilkan ukuran pori yang semakin kecil.
Puncak serapan karakteristik dari CA-1 adalah gugus Menurut Yuliani (2005) bahwa semakin lambat
karbonil terjadi pada bilangan gelombang 1755,22 cm- kecepatan difusi molekul-molekul pelarut kedalam bak
1
, sedangkan dari CA-2 terjadi pada bilangan koagulasi menghasilkan ukuran pori yang semakin
gelombang 1752,52 cm-1. Hasil analisis selulosa asetat, kecil.
tidak ada perbedaan yang signifikan antara CA-1
dengan CA-2 pada semua gugus fungsi. Gambar
spektrum CA-2 tidak ditampilkan pada jurnal ini.
110 VOLUME 4 NO. 4, DESEMBER 2008

B) Membran CA-2
A) Membran CA-1
Gambar 2. Foto SEM penampang lintang

Fluks Membran. Dari penelitian ini, membran CA-1


menghasilkan nilai fluks yaitu 16,2420 L/m2.jam pada
tekanan 2 bar , 26,0350 L/m2.jam pada tekanan 4 bar
dan pada tekanan 6 bar adalah 32,2452 L/m2.jam.
Membran CA-2 menghasilkan nilai fluks yaitu 8,1210
L/m2.jam pada tekanan 2 bar, 14,0924 L/m2.jam pada
tekanan 4 bar dan 24,1242 L/m2.jam pada tekanan 6
bar.

B) Membran CA-2 Permeabilitas membran adalah gradien kemiringan


kurva hubungan fluks air (J) terhadap tekanan operasi.
Gambar 2. Foto SEM permukaan atas Dari penelitian ini, membran CA-1 mempunyai nilai
koefisien permeabilitas (Lp) 5,915 L/m2.jam.bar
Hasil dari foto SEM penampang melintang membran sedangkan membran CA-2 mempunyai nilai Lp yaitu
CA-1 maupun CA-2 menunjukkan bahwa membran 3,945 L/m2.jam.bar.
tersebut diidentifikasi memiliki struktur membran
asimetrik. Dimana membran asimetrik merupakan Berdasarkan hasil percobaan penentuan koefisien
membran yang tersusun oleh beberapa lapisan. Struktur permeabilitas (Gambar 3) terlihat bahwa bahwa nilai
membran asimetrik terdiri atas lapisan yang sangat koefisien permeabilitas membran CA-1 lebih besar dari
padat dan lapisan berpori sebagai penyangga (spinger). pada membran CA-2. Hal ini dikarenakan membran
Pada membran asimetrik permeasi terjadi pada lapisan CA-1 memiliki struktur pori-pori lebih terbuka pada
padat yang memiliki tahanan perpindahan massa yang lapisan penyangga dan lapisan atas atau lapisan aktif
besar. Lapisan pendukung dibuat berpori sehingga sehingga air yang melewati membran lebih mudah dari
tidak mempunyai tahanan perpindahan massa yang pada membran CA-2.
besar. Hal tersebut disebabkan proses pembuatan
membran cara inversi fasa dengan teknik presipitasi
imersi. 40
y = 5,915x
35 2
R = 0,9434
30
fluks (l/m2.jam)

25
Membran CA-1
20 y = 3,945x
2 Membran CA-2
15 R = 0,9945

10
5
0
0 2 4 6 8
Tekanan operasi

Gambar 3. Kurva aluran fluks air murni terhadap


A) Membran CA-1 tekanan operasi

Karakteristik Air Limbah Artifisial. Dari


spektrofotometer dapat diketahui panjang gelombang
untuk zat warna cibacron red adalah 544 nm. Kurva
VOLUME 4 NO. 4, DESEMBER 2008 111

kalibrasi hasil pengukuran larutan standar zat warna nilai fluks pada berbagai konsentrasi air
cibacron red dengan UV-vis Spektrofotometer pada umpan
panjang gelombang 544 nm ditunjukkan seperti
gambar 4.9. Dari Gambar 4.9 didapat persamaan A = Dari Gambar 5 terlihat bahwa pada tiap konsentrasi air
0,0162 k, A merupakan absorbansi sedangkan k umpan yang sama, semakin besar tekanan yang
merupakan konsentrasi. Dari pengukuran diberikan memberikan fluks yang besar. Hal ini sesuai
spektrofotometer hanya dapat diketahui absorbansi air dengan gaya dorong utama (driving force) dari operasi
limbah yang telah melewati membran, oleh karena itu membran. Nilai koefisien permeabilitas tertinggi yang
persamaan diatas digunakan untuk mengetahui dihasilkan oleh membran CA-1 yaitu 3,5657
konsentrasi air limbah yang telah melewati membran. L/m2.jam.bar terdapat pada konsentrasi air umpan 50
ppm, sedangkan nilai terendah yang dihasilkan oleh
Pengaruh Perbedaan Tekanan dan Konsentrasi membran CA-1 yaitu 2,7553 L/m2.jam.bar terletak
Pada Permeabilitas Air Limbah Artifisial. Nilai pada konsentrasi 100 ppm. Nilai koefisien
fluks tertinggi yang dihasilkan oleh membran CA-1 permeabilitas tertinggi yang dihasilkan oleh membran
yaitu 22,21 L/m2.jam terdapat pada tekanan 6 bar CA-2 yaitu 3,3269 L/m2.jam.bar terdapat pada
dengan konsentrasi air baku 50 ppm. Sedangkan nilai konsentrasi 50 ppm, sedangkan nilai terendah yang
terendah yang dihasilkan oleh membran CA-1 yaitu dihasilkan oleh membran CA-2 yaitu 2,3118
4,54 L/m2.jam terletak pada tekanan 2 bar dan L/m2.jam.bar terletak pada konsentrasi 100 ppm.
konsentrasi air baku 100 ppm. Nilai tertinggi yang
dihasilkan oleh membran CA-2 yaitu 21,50 L/m2.jam Berdasarkan Gambar tersebut dapat terlihat bahwa
terdapat pada tekanan 6 bar dengan konsentrasi air semakin tinggi konsentrasi air limbah yang melewati
baku 50 ppm. Sedangkan nilai terendah yang membran dengan tekanan operasi yang diberikan tetap,
dihasilkan oleh membran CA-2 yaitu 2,39 L/m2.jam fluks yang dihasilkan semakin menurun baik pada
terletak pada tekanan 2 bar dan konsentrasi air baku membran CA-1 maupun CA-2. Hal ini dikarenakan
100 ppm terjadinya polarisasi konsentrasi. Polarisasi konsentrasi
pada membran menyebabkan penurunan fluks secara
terus menerus.
25

20
y = 3,5657x
y = 3,1136x
Pada Gambar 6 terlihat bahwa bertambahnya tekanan
operasi pada konsentrasi air umpan yang sama
fluks (L/m2.jam)

15
menghasilkan nilai rejeksi yang semakin meningkat.
y = 2,7553x 50 ppm
10 Hal ini disebabkan oleh adanya deformasi pada
75 ppm
5
membran akibat tekanan yang menyebabkan ukuran
100 ppm pori-pori membran melebar.
0
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5
-5
Tekanan (Bar)
70
A) Membran CA-1 65

60
% Rejeksi

25 50 ppm
55
20 y = 3,3269x 75 ppm
y = 2,7724x 50
100 ppm
F lu k s (L /m 2 .ja m )

15
45
50 ppm
10
75 ppm 40
5 y = 2,3118x
100 ppm 35
0 0 2 4 6 8
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5
-5 Tekanan (bar)
-10
Tekanan (Bar) A) Membran CA-1

B) Membran CA-2

Gambar 5. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap


112 VOLUME 4 NO. 4, DESEMBER 2008

L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi 39,88%−63,89%.


95 Membran CA-2 dengan nilai fluks 2,39 L/m2.jam
90
−21,50 L/m2.jam dan nilai permeabilitas 2,3118
85
L/m2.jam.bar−3,3269 L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi
80
yaitu 54,32%−90,68 %
% Rejeksi

75 50 ppm
70 75 ppm
65 100 ppm UCAPAN TERIMAKASIH
60 Sebagian dari penelitian ini menggunakan sarana dan
55 prasaranan dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan
50 Radiasi untuk itu penulis mengucapkan terimakasih
45 kepada Badan Tenaga Nuklir (BATAN).
0 2 4 6 8
Tekanan (bar) DAFTAR ACUAN
B) Membran CA-2 [1] Baker, W. et al, Overview Of Membrane
Science And Technology, Journal membrane
Gambar 6. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap
nilai rejeksi pada berbagai konsentrasi air technology and Applications,
umpan http://media.wiley.com/product_data/excerpt/56
/04708544/0470854456.pdf., 2004.
[2] Bhongsuwan, D. et al, Membrane Test Cell And
4. Kesimpulan Perfoemence Test With Laboratory-Made And
Commercial Membrane, Journal Science and
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik beberapa Technology, Vol 24,
kesimpulan yaitu kadar asetil CA-1 yaitu 45,20 % dan http://www2.psu.ac.th/PresidentOffice/EduServi
membran CA-2 yaitu 44,80 %, kedua selulosa asetat ce/Journal/24Membrane2002-pdf/26reverse-
didominansi oleh triasetat dan pelarut yang tepat untuk osmosis.pdf, 2002
dibuat membran selulosa asetat adalah diklorometan. [3] Manurung, Renita dan Hasibuan, Rosdanelli.
Adanya perubahan struktur kimia diperjelas dengan Perombakan ZAt Warna Azo Reaktif Secara
adanya puncak baru pada spektrum FTIR pada Anaerob- Aerob, e-USU Repository, Sumatera
bilangan gelombang 1752,25 cm-1 – 1755,22 cm-1. Utara, 2004.
Nilai fluks air murni yang dihasilkan oleh membran [4] Mulder, M. Basic Principles of Membrane
CA-1 yaitu 16,2420 L/m2.jam−32,2452 L/m2.jam Technology, 2nd Edition, Kluwer Acedemic
dengan nilai koefisien permeabilitas adalah Publishers, 1996.
5,915 L/m2.jam.bar dan nilai fluks membran CA-2 [5] Streese, J., Integrated Concept For
8,1210 L/m2.jam −24,1242 L/m2.jam nilai koefisien Decentralised Waste Water And Biowaste
permeabilitas adalah 3,945 L/m2.jam.bar. Kedua jenis Treatment, Proseding Sardinia 2005, Teth
membran ini dikatergorikan antar membran ultrafiltrasi International Waste Manegement And Landfill,
dengan membran nanofiltrasi. Perendaman NaOH http://media.wiley.com/product_data/excerpt/56
mempengaruhi struktur pori-pori membran. semakin /04708544/0470854456.pdf., 2005
tinggi konsentrasi perendam NaOH semakin rapat pori- [6] Yuliani, Galuh, Pembuatan Membran Selulosa
pori pada membran. Kinerja kedua membran Asetat Dari Nata de Coco, Tesis Magister,
memberikan hasil yang cukup bagus dengan nilai fluks Program Pasca Sarjana, Institut Teknologi
membran CA-1 yaitu 4,54 L/m2.jam−22,21 L/m2.jam Bandung, Bandung, 2005.
dan nilai permeabilitas 2,7553 L/m2.jam.bar − 3,5657
[7]