Anda di halaman 1dari 12

trend dan isu dalam keperawatan

Trend Dan Issue Dalam Keperawatan



1 Definisi Trend
Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang saat ini dan
kejadiannya berdasarkan fakta.
Setelah tahun 2000, dunia khususnya bangsa Indonesia memasuki era globalisasi, pada tahun
2003 era dimulainya pasar bebas ASEAN dimana banyak tenaga professional keluar dan
masuk ke dalam negeri. Pada masa itu mulai terjadi suatu masa transisi/pergeseran pola
kehidupan masyarakat dimana pola kehidupan masyarakat tradisional berubah menjadi
masyarakat yang maju. Keadaan itu menyebabkan berbagai macam dampak pada aspek
kehidupan masyarakat khususnya aspek kesehatan baik yang berupa masalah urbanisaasi,
pencemaran, kecelakaan, disamping meningkatnya angka kejadian penyakit klasik yang
berhubungan dengan infeksi, kurang gizi, dan kurangnya pemukiman sehat bagi penduduk.
Pergeseran pola nilai dalam keluarga dan umur harapan hidup yang meningkat juga
menimbulkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelompok lanjut usia serta penyakit
degeneratif.
Pada masyarakat yang menuju ke arah moderen, terjadi peningkatan kesempatan untuk
meningkatkan pendidikan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan dan meningkatnya
kesadaran masyarakat terhadap hukum dan menjadikan masyarakat lebih kritis. Kondisi itu
berpengaruh kepada pelayanan kesehatan dimana masyarakat yang kritis menghendaki
pelayanan yang bermutu dan diberikan oleh tenaga yang profesional. Keadaan ini
memberikan implikasi bahwa tenaga kesehatan khususnya keperawatan dapat memenuhi
standart global internasional dalam memberikan pelayanan kesehatan/keperawatan, memiliki
kemampuan professional, kemampuan intelektual dan teknik serta peka terhadap aspek social
budaya, memiliki wawasan yang luas dan menguasi perkembangan Iptek.
Namun demikian upaya untuk mewujudkan perawat yang professional di Indonesia masih
belum menggembirakan, banyak factor yang dapat menyebabkan masih rendahnya peran
perawat professional, diantaranya :
1. Keterlambatan pengakuan body of knowledge profesi keperawatan. Tahun 1985
pendidikan S1 keperawatan pertama kali dibuka di UI, sedangkan di negara barat pada tahun
1869.
2. Keterlambatan pengembangan pendidikan perawat professional.
3. Keterlambatan system pelayanan keperawatan.( standart, bentuk praktik keperawatan,
lisensi )


Menyadari peran profesi keperawatan yang masih rendah dalam dunia kesehatan akan
berdampak negatif terhadap mutu pelayanan kesehatan bagi tercapainya tujuan kesehatan
sehat untuk semua pada tahun 2010 , maka solusi yang harus ditempuh adalah :
1. Pengembangan pendidikan keperawatan.
Sistem pendidikan tinggi keperawatan sangat penting dalam pengembangan perawatan
professional, pengembangan teknologi keperawatan, pembinaan profesi dan pendidikan
keperawatan berkelanjutan. Akademi Keperawatan merupakan pendidikan keperawatan yang
menghasilkan tenaga perawatan professional dibidang keperawatan. Sampai saat ini jenjang
ini masih terus ditata dalam hal SDM pengajar, lahan praktik dan sarana serta prasarana
penunjang pendidikan.
2. Memantapkan system pelayanan perawatan professional
Depertemen Kesehatan RI sampai saat ini sedang menyusun registrasi, lisensi dan sertifikasi
praktik keperawatan. Selain itu semua penerapan model praktik keperawatan professional
dalam memberikan asuhan keperawatan harus segera di lakukan untuk menjamin kepuasan
konsumen/klien.
3. Penyempurnaan organisasi keperawatan
Organisasi profesi keperawatan memerlukan suatu perubahan cepat dan dinamis serta
kemampuan mengakomodasi setiap kepentingan individu menjadi kepentingan organisasi dan
mengintegrasikannya menjadi serangkaian kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya.
Restrukturisasi organisasi keperawatan merupakan pilihan tepat guna menciptakan suatu
organisasi profesi yang mandiri dan mampu menghidupi anggotanya melalui upaya jaminan
kualitas kinerja dan harapan akan masa depan yang lebih baik serta meningkat.
Komitmen perawat guna memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu baik secara
mandiri ataupun melalui jalan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sangat penting dalam
terwujudnya pelayanan keperawatan professional. Nilai professional yang melandasi praktik
keperawatan dapat di kelompokkan dalam :

1. Nilai intelektual
Nilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri dari
a. Body of Knowledge
b. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)
c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif.

2. Nilai komitmen moral
Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan memperhatikan kode etik
keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989) pelayanan professional terhadap
masyarakat memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik.
Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat adalah :
a. Beneficience
selalu mengupayakan keputusan dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang terbaik dan
tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994)
b. Fair
Tidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, social budaya, keadaan ekonomi
dan sebagainya, tetapi memprlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan
dengan keunikan yang dimiliki.
c. Fidelity
Berperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu), selalu berusaha
menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta memperhatikan
kebutuhan spiritual klien.

3. Otonomi, kendali dan tanggung gugat
Otonomi merupakan kebebasan dan kewenangan untuk melakukan tindakan secara mandiri.
Hak otonomi merujuk kepada pengendalian kehidupan diri sendiri yang berarti bahwa
perawat memiliki kendali terhadap fungsi mereka. Otonomi melibatkan kemandirian,
kesedian mengambil resiko dan tanggung jawab serta tanggung gugat terhadap tindakannya
sendiribegitupula sebagai pengatur dan penentu diri sendiri.
Kendali mempunyai implikasi pengaturan atau pengarahan terhadap sesuatu atau seseorang.
Bagi profesi keperawatan, harus ada kewenangan untuk mengendalikan praktik, menetapkan
peran, fungsi dan tanggung jawab anggota profesi.
Tanggung gugat berarti perawat bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang
dilakukannya terhadap klien.

2.2 Definisi issue
Issue adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak namun belum jelas faktannya atau
buktinya. Beberapa issue keperawatan pada saat ini :
v EUTHANASIA
Membunuh bisa dilakukan secara legal. Itulah euthanasia, pembuhuhan legal yang sampai
kini masih jadi kontroversi. Pembunuhan legal ini pun ada beragam jenisnya.
Secara umum, kematian adalah suatu topik yang sangat ditakuti oleh publik. Hal demikian
tidak terjadi di dalam dunia kedokteran atau kesehatan. Dalam konteks kesehatan modern,
kematian tidaklah selalu menjadi sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Kematian dapat
dilegalisir menjadi sesuatu yang definit dan dapat dipastikan tanggal kejadiannya. Euthanasia
memungkinkan hal tersebut terjadi.
Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seorang individu secara tidak menyakitkan,
ketika tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan dari
individu yang akan mengakhiri hidupnya.
Ada empat metode euthanasia:
Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian.
Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena
faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini adalah
menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan
vegetatif (koma).
Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan
persetujuan, namun hal ini tidak dilakukan. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan
untuk melanjutkan perawatan ditolak.
Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Hal ini
terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya
sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan, namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri
tersebut. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini, biasanya disebut sebagai bunuh diri
atas pertolongan dokter. Di Amerika Serikat, kasus ini pernah dilakukan oleh dr. Jack
Kevorkian.
Euthanasia dapat menjadi aktif atau pasif:
Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk
menimbulkan kematian. Contoh dari kasus ini adalah memberikan suntik mati. Hal ini ilegal
di Britania Raya dan Indonesia.
Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh penghentian tindakan
medis. Contoh dari kasus ini adalah penghentian pemberian nutrisi, air, dan ventilator.

Argumen Pro Euthanasia
Kelompok pro euthanasia, yang termasuk juga beberapa orang cacad, berkonsentrasi untuk
mempopulerkan euthanasia dan bantuan bunuh diri. Mereka menekankan bahwa pengambilan
keputusan untuk euthanasia adalah otonomi individu. Jika seseorang memiliki penyakit yang
tidak dapat disembuhkan atau berada dalam kesakitan yang tak tertahankan, mereka harus
diberikan kehormatan untuk memilih cara dan waktu kematian mereka dengan bantuan yang
diperlukan. Mereka mengklaim bahwa perbaikan teknologi kedokteran merupakan cara untuk
meningkatkan jumlah pasien yang sekarat tetap hidup. Dalam beberapa kasus, perpanjangan
umur ini melawan kehendak mereka.
Mereka yang mengadvokasikan euthanasia non sukarela, seperti Peter Singer, berargumentasi
bahwa peradaban manusia berada dalam periode ketika ide tradisional seperti kesucian hidup
telah dijungkir balikkan oleh praktek kedokteran baru yang dapat menjaga pasien tetap hidup
dengan bantuan instrumen. Dia berargumen bahwa dalam kasus kerusakan otak permanen,
ada kehilangan sifat kemanusian pada pasien tersebut, seperti kesadaran, komunikasi,
menikmati hidup, dan seterusnya. Mempertahankan hidup pasien dianggap tidak berguna,
karena kehidupan seperti ini adalah kehidupan tanpa kualitas atau status moral.
Falsafah Utilitarian Singer menekankan bahwa tidak ada perbedaan moral antara membunuh
dan mengizinkan kematian terjadi. Jika konsekuensinya adalah kematian, maka tidak menjadi
masalah jika itu dibantu dokter, bahkan lebih disukai jika kematian terjadi dengan cepat dan
bebas rasa sakit.

Oposisi terhadap Euthanasia
Banyak argumen anti euthanasia bermula dari proposisi, baik secara religius atau sekuler,
bahwa setiap kehidupan manusia memiliki nilai intrinsik dan mengambil hidup seseorang
dalam kondisi normal adalah suatu kesalahan. Advokator hak-hak orang cacad menekankan
bahwa jika euthanasia dilegalisasi, maka hal ini akan memaksa beberapa orang cacad untuk
menggunakannya karena ketiadaan dukungan sosial, kemiskinan, kurangnya perawatan
kesehatan, diskriminasi sosial, dan depresi. Orang cacad sering lebih mudah dihasut dengan
provokasi euthanasia, dan informed consent akan menjadi formalitas belaka dalam kasus ini.
Beberapa orang akan merasa bahwa mereka adalah beban yang harus dihadapi dengan solusi
yang jelas. Secara umum, argumen anti euthanasia adalah kita harus mendukung orang untuk
hidup, bukan menciptakan struktur yang mengizinkan mereka untuk mati.

Eutanasia menurut hukum dibeberapa negara
Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditoleransi di negara
bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai
kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark
- Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya
negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal (
pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian
Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan
memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act). Tetapi
undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-
syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh
minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan
dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan
(dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi
dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter
kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa
pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan mental.
Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya
tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan,
jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan, sebab
dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin saja nanti
nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi
terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.
Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu polling (Gallup Poll) menunjukkan bahwa 60%
orang Amerika mendukung dilakukannya eutanasia.
- Indonesia
Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan
hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal
344 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa "Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya
dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun". Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang
juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan
demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan
tindakan eutanasia oleh siapa pun.
Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam
suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan
bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima
dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga
saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang
masih berlaku yakni KUHP.

Eutanasia menurut ajaran agama islam
Seperti dalam agama-agama Ibrahin lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam mengakui hak
seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada
manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS
22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum islam meskipun tidak
ada teks dalam Al-Quranmaupun Hadist yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati
demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di
jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS
2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS
4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan
demikian, seorang Muslim (Dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien)
disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu
suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit,
karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara
positif maupun negatif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa
tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan
berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga.
Eutanasia positif
Yang dimaksud taisir al-maut al-fa'al (eutanasia positif) ialah tindakan memudahkan
kematian si sakit --karena kasih sayang-- yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan
instrumen (alat).
Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif)adalah tidak diperkenankan oleh
syara'. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan
tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara
overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar
yang membinasakan.
Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang
mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya.
Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang
Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala, karena Dia-lah
yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang
telah ditetapkan-Nya.
Eutanasia negatif
Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Pada eutanasia negatif tidak
dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit, tetapi
ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. Hal ini
didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya
dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesuai dengan Sunnatullah (hukum Allah
terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat.
Diantara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahwa mengobati atau
berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut Jumhur Fuqaha dan imam-imam
mahzab. Bahkan menurut mereka, mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum
mubah. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan
oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,, dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah).
Beberapa kasus menarik
Kasus Hasan Kusuma Indonesia
Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 oktober 2004 telah diajukan
oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang
bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan disamping itu
ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan
pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang diluar keinginan pasien.
Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani
perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan
dalam pemulihan kesehatannya.
Kasus seorang wanita New Jersey - Amerika Serikat
Seorang perempuan berusia 21 tahun dari New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal 21
April 1975 dirawat di rumah sakit dengan menggunakan alat bantu pernapasan karena
kehilangan kesadaran akibat pemakaian alkohol dan zat psikotropika secara berlebihan.Oleh
karena tidak tega melihat penderitaan sang anak, maka orangtuanya meminta agar dokter
menghentikan pemakaian alat bantu pernapasan tersebut. Kasus permohonan ini kemudian
dibawa ke pengadilan, dan pada pengadilan tingkat pertama permohonan orangtua pasien
ditolak, namun pada pengadilan banding permohonan dikabulkan sehingga alat bantu pun
dilepaskan pada tanggal 31 Maret 1976. Pasca penghentian penggunaan alat bantu tersebut,
pasien dapat bernapas spontan walaupun masih dalam keadaan koma. Dan baru sembilan
tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Juni 1985, pasien tersebut meninggal akibat infeksi
paru-paru (pneumonia).
ABORSI
Aborsi berasal dari bahasa latin abortus yaitu berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan
20 minggu yang mengakibatkan kematian janin.
Aborsi yaitu tindakan pemusnahan yang melanggar hukum , menyebabkan lahir prematur
fetus manusia sebelum masa lahir secara alami.
Aborsi telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada
undang-undang yang mengatur mengenai tindakan aborsi. Peraturan mengenai hal ini
pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan aborsi.
Sejak itu maka undang-undang mengenai aborsi terus mengalami perbaikan, apalagi dalam
tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan
pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan aborsi. Hukum abortus di berbagai
negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut:
Hukum yang tanpa pengecualian melarang aborsi, seperti di Belanda.
Hukum yang memperbolehkan aborsi demi keselamatan kehidupan penderita (ibu),
seperti di Perancis dan Pakistan.
Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi medik, seperti di Kanada,
Muangthai dan Swiss.
Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia,
Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.
Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia,
dan Yugoslavia.
Hukum yang memperbolehkan aborsi atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-
indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria,
USSR, Singapura.
Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan
bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India
Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil
akibat perkosaan) seperti di Jepang
Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya
mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:
Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus
atas indikasi medik.
Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.
Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.
Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya.
Untuk memenuhi desakan masyarakat.
Statistik baru-baru ini diterbitkan oleh Departemen Kesehatan (DH) mengungkapkan bahwa
pada tahun 2008, untuk wanita penduduk di Inggris dan Wales, jumlah dari aborsi adalah
195.296 (DH, 2009). Media pelaporan
sekitar statistik terfokus pada 'kejam' naik dari laju mengulangi aborsi (Daily Mail, 2009),
danmasyarakat umum dengan cepat mengomentari seperti artikel, sehingga menimbulkan
putaran lagi perdebatan tentang hak-hak dan kesalahan aborsi. Perdebatan aborsi bukanlah
hal baru.
Meskipun ini adalah sebuah negara di mana hampir 200.000 kehamilan yang berakhir melalui
aborsi setiap tahun, dan di mana aborsi telah hukum selama lebih dari 40 tahun, prosedur ini
masih dikelilingi oleh kontroversi dan membagi masyarakat umum, kesehatan profesional
dan politisi. Akibatnya, aborsi tidak berbicara tentang dalam percakapan sehari-hari, dan
sedikitwanita mengakui telah punya satu - itu hanya terlalu pribadi, terlalu tabu (Hadley,
2006). Alasan mengapa perempuan mungkin memilih melakukan aborsi sangat kompleks dan
bervariasi, namun masalah tetap diperdebatkan, dan masih ada besar keengganan untuk
terlibat dalam pemeriksaan terbuka dan jujur tentang praktek aborsi dan tempatnya dalam
masyarakat kita Sebagai perawat di Marie penasihat Stopes International, salah satu dari
penyedia terkemuka Inggris seksual dan reproduksi jasa-jasa perawatan kesehatan, saya
sehari-hari berurusan dengan klien yang telah aborsi dipilih untuk berbagai macam alasan,
tapi yang merasa terisolasi dan setan untuk melakukannya. Memutuskan untuk mengakhiri
kehamilan dapat menjadi salah satu yang paling sulit keputusan seorang wanita untuk
membuat, dan ketika membuat ini keputusan saya percaya bahwa perempuan harus memiliki
akses ke dukungan dan nasihat untuk memungkinkan mereka untuk membuat
suatu pilihan. Aku merasa sangat yakin bahwa kita perlu membasmi rasa malu yang
berhubungan dengan aborsi sehingga perempuan dapat memilih prosedur tanpa menjadi
lebih pengalaman menyedihkan daripada perlu.
Di negara-negara di mana aborsi ilegal atau sangat terbatas, aborsi yang tidak aman tetap
menjadi penyebab utama kematian, dan menyebabkan sampai 67.000 kematian setiap
tahunnya. Aborsi disahkan di Inggris dan Wales pada tahun 1967, dan hukum jika dua
dokter setuju bahwa alasan wanita untuk mencari
aborsi memenuhi persyaratan UU Aborsi. Hukum persyaratan dari Undang-undang tidak
mengizinkan perawat untuk mengotorisasi aborsi, tapi Royal College of Nursing
(RCN) mengakui bahwa pembangunan inovatif menyusui berarti bahwa peran perawat
sekarang merencanakan, memimpin dan mengelola proporsi yang signifikan perawatan
untuk wanita mencari dan / atau mengalami aborsi (RCN, 2008). Sebagai hasil dari
perubahan dalam praktik dan maju peran perawat dalam menyediakan pelayanan aborsi,
perawat berada dalam posisi yang ideal untuk membentuk cara aborsi layanan yang
disediakan di masa depan (RCN, 2008), dan memastikan bahwa wanita merasa didukung
daripada dipermalukan ketika menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan. Contoh peran
yang perawat bisa memainkan meliputi: Penilaian pra-aborsi. Menghadapi kehamilan yang
tidak diinginkan cenderung menjadi sangat menegangkan waktu bagi seorang
wanita. Karena dari sifat sensitif konsultasi awal, itu adalah ide yang bagus untuk melihat
wanita sendiri, sehingga ia dapat memberikan jawaban yang akurat dan mengungkapkan
perasaan-perasaannya tanpa merasa dihambat oleh pasangan atau orangtua Pra-dan pasca-
aborsi konseling. Sangat penting untuk memberi wanita kesempatan untuk
mempertimbangkan pilihan dalam sebuah rahasia dan tidak menghakimi lingkungan. Sistem
seharusnya berada di tempat untuk merujuk perempuan untuk kehamilan spesialis konseling,
ketika ini diperlukan. Tetapi kita juga harus mengenali perempuan hak otonomi dalam
pengambilan keputusan mereka.
CONFIDENTIALITY
Yang dimaksud confidentiality adalah menjaga privasi atau rahasia klien, segala sesuatu
mengenai klien boleh diketahui jika digunakan untuk pengobatan klien atau mendapat izin
dari klien. Sebagai perawat kita hendaknya menjaga rahasia pasien itu tanpa
memberitahukanya kepada orang lain maupun perawat lain.
Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan privasi dan
kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait isu ini yang secara
fundamental mesti dilakuakan dalam merawat pasien adalah:
a. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang diberikan
harus tetap terjaga
b. Individu yang menyalahgunakan kerahsiaan, keamanan, peraturan dan informasi dapat
dikenakan hukuman/ legal aspek
INFORMED CONSENT
Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang cukup untuk dapat
mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan. Informed consent juga berarti
mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk menentukan nasibnya dapat terpenuhi
dengan sempurna apabila pasien telah menerima semua informasi yang ia perlukan sehingga
ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Kekecualian dapat dibuat apabila informasi yang
diberikan dapat menyebabkan guncangan psikis pada pasien.
Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki dasar moral dan etik yang kuat.
Menurut American College of Physicians Ethics Manual, pasien harus mendapat informasi
dan mengerti tentang kondisinya sebelum mengambil keputusan. Berbeda dengan teori
terdahulu yang memandang tidak adanya informed consent menurut hukum penganiayaan,
kini hal ini dianggap sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan harus lengkap, tidak hanya
berupa jawaban atas pertanyaan pasien.

2.3 Trend dan issue kesejagatan dalam keperawatan
12 Mei 2008 adalah Hari Keperawatan Sedunia. International Council of Nurses (ICN)
mengangkat temaDelivering Quality, Serving Communities: Nurses Leading Primary Health
Care. Tema tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan kondisi Bangsa Indonesia karena
Pertama, Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat turut bertanggung jawab untuk
mewujudkan derajat kesehatan setinggi tingginya.
Pada tahun 2004-2009, Pemerintah telah menetapkan kebijakan pembangunan kesehatan
yang diarahkan pada peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas puskesmas, peningkatan
kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan, pengembangan sistem jaminan kesehatan terutama
bagi penduduk miskin, peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat,
peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini serta pemerataan dan
peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar.
Bahkan, pada tahun 2006, Menteri Kesehatan RI menetapkan flatform baru, terutama inisiatif
nasional untuk mobilisasasi sosial dan pemberdayaan masyarakat serta meningkatkan kinerja
sistem kesehatan.
Kedua, Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah tetapi masalah kesehatan justru semakin
kompleks. Krisis ekonomi dan berbagai bencana alam menyebabkan terpuruknya kondisi
masyarakat termasuk masalah kesehatan. Sebagian masyarakat tidak lagi mampu membiayai
pelayanan kesehatannya sendiri. Pola pelayanan kesehatan dasar sebagian besar masih di
bawah standar pelayanan minimum (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas).
Padahal, Pelayanan Kesehatan Dasar sangat diperlukan untuk menanggulangi berbagai
masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat. Hal ini mengakibatkan penyakit tidak
menular meningkat drastis.
Di Jawa dan Bali, sekitar 20 juta orang menderita penyakit jantung, dan 30% penyakit ini
menyebabkan kematian. Disisi lain, penyakit menular masih tinggi. Sekitar 22% kematian
disebabkan oleh penyakit menular dan parasit. Demikian juga angka kematian ibu
248/100,000 kelahiran hidup, angka kematian bayi 26.9/1,000 kelahiran hidup (Data Pusat
Statistik, 2007). Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat di Vietnam hanya 18, Thailand,
17, Filipina, 26, Malaysia, 5.5, dan Singapura, 3. padahal angka-angka tersebut merupakan
indikator kesehatan suatu bangsa.
Masalah gizi juga sangat memprihatinkan. Pada tahun 2007, penderita gizi kurang mencapai
21.9%. Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 juta anak menderita gizi kurang dimana 1,5 juta
diantaranya menderita gizi buruk, dan 150,000 diantaranya mengalami gizi buruk berat
(marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor). Ada sekitar 232 balita meninggal
dunia karena masalah pada periode Januari-November 2005. Kondisi ini mengakibatkan
pertahanan tubuh lemah sehingga penyakit menular seperti TB Paru, Malaria, dan demam
berdarah cenderung meningkat. Bahkan, angka kesakitan TB Paru mencapai 102/100,000.
Hal yang sama juga terjadi pada lanjut usia (lansia). Lansia akan tumbuh sebesar 7%. Pada
tahun 1990 sampai 2025, Indonesia akan mengalami kenaikan lansia hingga 414%. Angka ini
menjadikan kita menduduki peringkat ke-3 dunia, setelah Cina dan India (Bureau of the
Cencus USA, 1993). Pada awal abad ke 21 ini diperkirakan mencapai 15 juta orang dan pada
tahun 2020 jumlah lanjut usia tersebut akan meningkat sekitar 30-40 juta orang.
Ketiga, Alokasi anggaran kesehatan kita masih di bawah standar WHO, yaitu minimal 5%.
Anggaran sekecil itu oleh pemerintah diarahkan pada bantuan Jaminan Kesehatan
Masyarakat bagi yang sakit, bukan pada upaya promotif dan preventif. Disisi lain,
kemampuan fiskal daerah tidak menjamin alokasi biaya kesehatan, terutama public goods,
disaat kemampuan masyarakat miskin untuk menjangkau pelayanan kesehatannya masih
rendah. Hal ini mengakibatkan kita tertinggal dalam pencapaian berbagai indikator kesehatan
dasar.
Keempat, seluruh potensi profesi kesehatan belum dioptimalkan. Sejak dulu hingga sekarang,
profesi kesehatan selalu diarahkan untuk pelayanan pengobatan (kuratif). Perawat
sesungguhnya memiliki kemampuan dan kompetensi untuk memimpin pelayanan kesehatan
primer. Perawat mampu memberdayakan keluarga dan masyarakat untuk membantu
mengatasi masalah kesehatannya sendiri.
Undang-Undang Praktik Keperawatan.
Tetapi, dalam peringatan Hari Perawat Sedunia ini Persatuan Perawat Nasional Indonesia
(PPNI) lebih mendorong disahkannya Undang-Undang Praktik Keperawatan. Hal ini karena
pertama, Keperawatan sebagai profesi memiliki karateristik yaitu, adanya kelompok
pengetahuan (body of knowledge) yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikan
masalah dalam tatanan praktik keperawatan; pendidikan yang memenuhi standar dan
diselenggarakan di Perguruan Tinggi; pengendalian terhadap standar praktik;
bertanggungjawab dan bertanggungugat terhadap tindakan yang dilakukan; memilih profesi
keperawatan sebagai karir seumur hidup, dan; memperoleh pengakuan masyarakat karena
fungsi mandiri dan kewenangan penuh untuk melakukan pelayanan dan asuhan keperawatan
yang beriorientasi pada kebutuhan sistem klien (individu, keluarga, kelompok dan
komunitas).
Kedua, Kewenangan penuh untuk bekerja sesuai dengan keilmuan keperawatan yang
dipelajari dalam suatu sistem pendidikan keperawatan yang formal dan terstandar menuntut
perawat untuk akuntabel terhadap keputusan dan tindakan yang dilakukannya. Kewenangan
yang dimiliki berimplikasi terhadap kesediaan untuk digugat, apabila perawat tidak bekerja
sesuai standar dan kode etik. Oleh karena itu, perlu diatur sistem registrasi, lisensi dan
sertifikasi yang ditetapkan dengan peraturan dan perundang-undangan.
Sistem ini akan melindungi masyarakat dari praktik perawat yang tidak kompeten, karena
Konsil Keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam Undang Undang Praktik
Keperawatan akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan melalui uji kompetensi akan
membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi perawat
yang mempunyai pengetahuan yang dipersyaratkan untuk praktik. Sistem registrasi, lisensi
dan sertifikasi ini akan meyakinkan masyarakat bahwa perawat yang melakukan praktik
keperawatan mempunyai pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja sesuai standar.
Ketiga, perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan.
Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah
dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan. Tetapi pengabdian
tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum,
bahkan cenderung menjadi objek hukum.
Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat
pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat memegang
teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang
jelas, kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi,
pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi,
fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan dan kesesuaian
interprofesional (WHO, 2002).
Keempat, Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan
keperawatan semakin meningkat. Hal ini karena adanya pergeseran paradigma dalam
pemberian pelayanan kesehatan, dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada
diagnosis penyakit dan pengobatan, ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat
penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996).
Disamping itu, masyarakat membutuhkan pelayanan keperawatan yang mudah dijangkau,
pelayanan keperawatan yang bermutu sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dan
memperoleh kepastian hukum kepada pemberian dan penyelenggaraan pelayanan
keperawatan.
Negara-negara ASEAN seperti Philippines, Thailand, Singapore, Malaysia, sudah memiliki
Undang Undang Praktik Keperawatan (Nursing Practice Acts) sejak puluhan tahun yang lalu.
Mereka siap untuk melindungi masyarakatnya dan lebih siap untuk menghadapi globalisasi
perawat asing yang masuk ke negaranya dan perawatnya bekerja di negara lain. Ketika
penandatanganan Mutual Recognition Arrangement di Philippines tahun 2006, posisi
Indonesia, bersama dengan Vietnam, Laos dan Myanmar, yang belum memiliki Konsil
Keperawatan. Semoga apa yang dilakukan oleh PPNI dapat mengangkat derajad bangsa ini
dengan negara lain, khususnya dalam pelayanan keperawatan.

2.4 Globalisasi dalam keperawatan
Tantangan internal profesi keperawatan adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) tenaga keperawatan sejalan dengan telah disepakatinya keperawatan sebagai suatu
profesi pada lokakarya nasional keperawatan tahun 1983, sehingga keperawatan dituntut
untuk memberikan pelayanan yang bersifat professional.
Tantangan eksternal profesi keperawatan adalah kesiapan profesi lain untuk menerima
paradigma baru yang kita bawa.
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas
wilayah.Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan,
kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik
kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
(Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
Professional keperawatan adalah proses dinamis dimana profesi keperawatan yang telah
terbentuk (1984) mengalami perubahan dan perkembangan karakteristik sesuai dengan
tuntutan profesi dan kebutuhan masyarakat.
Globalisasi yang akan berpengaruh terhadp perkembangan pelayanan kesehatan termasuk
pelayanan keperawatan ada 2 yaitu ;
a. Tersedianya alternatif pelayanan
b. persaingan penyelenggaraan pelayanan untuk menarik minat pemakai jasa pemakai
kualitas untuk memberikan jasa pelayanan kesehatan yang terbaik.
Untuk hal ini berarti tenaga kesehatan, khususnya tenaga keperawatan diharapkan untuk
dapat memenuhi standar global dalam memberikan pelayanan / asuhan keperawatan. Dengan
demikian diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan professional dengan standar
internasional dalam aspekintelektual,interpersonal dan teknikal, bahkan peka terhadap
perbedaan social budaya dan mempunyai pengetahuan transtrutural yang luas serta mampu
memanfaatkan alih IPTEK.
Datangnya era globalisasi tidak dapat dan memang tidak perlu kita cegah, yang lebih penting
adalah bagaimana kita menyikapi dampak positif dan mencegah dampak negatifnya. Usaha
peningkatan kompetensi individual dan daya saing nasional merupakan pilihan utama agar
para manajer pelayanan kesehatan Indonesia tetap kukuh sebagai tuan rumah di negara
sendiri. Di samping itu, pemerintah seharusnya senantiasa memfasilitasi dalam bentuk
penyusunan kebijakan, peraturan perundangan, dan pengawasan yang efektif serta efisien.

2.5 Liberalisasi perdagangan jasa pelayanan kesehatan
Indonesia merupakan negara yang cukup diminati oleh negara asing. Pertama karena
memiliki potensi pasar yang besar terkait dengan jumlah penduduk yang besar. Kedua,
sekarang ini kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup menjanjikan. Dengan potensi
pasar yang besar tidak mengherankan jika kelak banyak dokter atau tenaga kesehatan asing
yang berniat bekerja di Indonesia. Hal ini tampaknya menakutkan profesi kesehatan, karena
ketakutan untuk bersaing, seperti kita ketahui kualitas sumber daya manusia kesehatan kita
rendah serta penguasaan teknologi yang terbatas pula.
Dalam bidang kesehatan era globalisasi lebih banyak diartikan pada perdagangan jasa
pelayanan kesehatan, seperti yang tercantum dalam perjanjian GATS, poin nomor 4 dari
perjanjian mengenai masuknya tenaga profesional kesehatan ke Indonesia. Perdagangan jasa
pada era globalisasi berlangsung secara bebas. Pembatasan yang bersifat protektif, misal
melalui lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti yang dilakukan oleh negara-negara
berkembang lainnya, namun hal tersebut sudah tidak boleh dilakukan.
Seharusnya liberalisasi pada bidang kesehatan justru menjadi cambuk bagi kita, dimana kita
perlu pemusatan diri untuk meningkatkan mutu atau profesionalisme sehingga apapun yang
terjadi di masa mendatang dokter Indonesia tidak perlu takut lagi di negeri sendiri dan diluar
negeri. Bila Indonesia dapat menambah jumlah, jenis serta dapat meningkatkan mutu dokter,
dokter spesialis, maka akan turun minat rumah sakit asing di Indonesia mempekerjakan
dokter asing, karena Indonesia sudah dapat memenuhi kuota dokter atau dokter spesialis dan
biaya yang dikeluarkanpun relatif murah, sebab biaya mempekerjakan dokter asing lebih
mahal. Kalau dianalisis dari sudut pandang yang lain, sebenarnya dokter Indonesia tidak
perlu takut dengan masuknya dokter asing karena ada kemungkinan pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan oleh dokter asing tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
kesehatan masyarakat Indonesia sebagai akibat dari sistem pendidikan serta latar belakang
sosial budaya yang berbeda.
Bila pemerintah Indonesia tidak segera memperbaiki sistem pendidikan dan kebijakan dalam
bidang kesehatan maka tenaga kesehatan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi akan
dihadapkan pada dua pilihan : Jadi tuan rumah di negeri sendiri, atau tergusur. Atau jadi tuan
rumah di negeri sendiri serta tamu terhormat di luar negeri.

Diposkan oleh Ayus.CeeLiia di 18:05
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke