Anda di halaman 1dari 53

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PENERIMAAN DAERAH TERHADAP


PERTUMBUHAN EKONOMI DIMODERASI DENGAN
BELANJA LANGSUNG
(STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA DI WILAYAH
PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010-2012)
Disusun Oleh:
GUNTUR HENDRIWIYANTO
NIM. 125020304111018
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2014
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH PENERIMAAN DAERAH TERHADAP
PERTUMBUHAN EKONOMI DIMODERASI DENGAN
BELANJA LANGSUNG
(STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA DI WILAYAH
PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010-2012)
Disusun Oleh:
GUNTUR HENDRIWIYANTO
NIM. 125020304111018
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2014
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH PENERIMAAN DAERAH TERHADAP
PERTUMBUHAN EKONOMI DIMODERASI DENGAN
BELANJA LANGSUNG
(STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA DI WILAYAH
PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010-2012)
Disusun Oleh:
GUNTUR HENDRIWIYANTO
NIM. 125020304111018
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2014
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................................... i
BAB I : PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................6
1.3 Batasan Masalah....................................................................................6
1.4 Tujuan Penelitian...................................................................................7
1.5 Manfaat Penelitian.................................................................................7
1.5.1 Manfaat Teoritis ........................................................................7
1.5.2 Manfaat Praktis..........................................................................7
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS ..............9
2.1 Landasan Teori ......................................................................................9
2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi ..............................................................9
2.1.1.1 Pengertian Pertumbuhan Ekonomi..............................9
2.1.1.2 Indikator dan Cara Mengukur Pertumbuhan Ekonomi
Regional ....................................................................10
2.1.1.3 Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik.........................12
2.1.1.4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik...................14
2.1.2 Teori Produksi .........................................................................15
2.1.3 Teori Pengeluaran Negara.......................................................15
2.1.4 Penerimaan Daerah..................................................................19
2.1.4.1 Pendapatan Asli Daerah ............................................19
ii
2.1.4.2 Dana Perimbangan ....................................................26
2.1.5 Belanja Daerah ........................................................................31
2.1.5.1 Belanja Tidak Langsung............................................31
2.1.5.2 Belanja Langsung......................................................33
2.1.6 Hubungan Antar Variabel .......................................................36
2.1.6.1 Hubungan antara PAD, DAU, DAK, dan DBH
dengan PDRB............................................................36
2.1.6.2 Hubungan antara Belanja Modal dengan PDRB.......36
2.1.7 Penelitian Terdahulu................................................................37
2.2 Kerangka Pemikiran............................................................................39
2.3 Model Hipotesis ..................................................................................40
2.4 Hipotesis Penelitian.............................................................................40
BAB III : METODE PENELITIAN...................................................................41
3.1 Jenis Penelitian....................................................................................41
3.2 Populasi dan Sampel ...........................................................................41
3.3 Data Penelitian ....................................................................................42
3.3.1 Jenis dan Sumber Data ............................................................42
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data ......................................................42
3.4 Variabel Penelitian..............................................................................43
3.5 Metode Analisis Data..........................................................................44
3.5.1 Analisis Regresi Data Panel ....................................................44
3.5.2 Pemilihan Model Estimasi dalam Data Panel .........................45
3.5.3 Uji Statistik..............................................................................45
iii
3.5.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R
2
).................................45
3.5.3.2 Uji F-Statistik............................................................45
3.5.3.3 Uji t-Statistik .............................................................46
3.5.4 Uji Asumsi Klasik ...................................................................46
3.5.4.1 Uji Autokorelasi ........................................................46
3.5.4.2 Uji Heterokedastisitas ...............................................47
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................48
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia memasuki era desentralisasi fiskal bertepatan dengan proses
pergantian rezim (orde baru ke era reformasi yang lebih demokratis). Pada era
transisi kepemimpinan Presiden Habibie dalam waktu yang cukup singkat
periode 1998-1999 diterbitkanlah UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Resmi berlaku mulai tahun 2001, terjadi perubahan pola pengelolaan
hubungan keuangan antara pusat dan daerah dari sentralistik menjadi
desentralisasi. Konsekuensi dari konsep desentralisasi adalah menjelmanya
pemerintah daerah menjadi daerah-daerah otonom. Sehingga berdasarkan
pasal 1 huruf h UU No.22 Tahun 1999 pemerintah daerah diberikan
kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyakat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Dengan rentang kendali antara pemerintah pusat terhadap kabupaten/kota
yang dinilai terlalu luas memunculkan ronde kedua perumusan kebijakan
desentralisasi yang ditandai oleh diterbitkannya UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
2
Desentralisasi fiskal meliputi otonomi dari segi penerimaan termasuk
pengeluaran daerah. Ide pokok lain dari otonomi daerah yaitu penyerahan
sebagian kewenangan meliputi tugas dan fungsi yang awalnya dilaksanakan
oleh pemerintah pusat kepada daerah. Tentunya dengan adanya pelimpahan
tersebut pemerintah daerah membutuhkan pendanaan lebih yang berimplikasi
pada kebutuhan akan transfer dana dari pemerintah pusat kepada daerah yang
tidak dapat dihindari. Transfer dana yang dimaksud meliputi Dana Alokasi
Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).
Dana transfer diarahkan sebagai pendamping bersamaan dengan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) untuk kegiatan pembangunan ekonomi.
Harapan awal dari desentralisasi yaitu kemandirian daerah tidak hanya dari
aspek pengeluaran tetapi juga dari sisi penerimaan berupa meningkatnya
kemampuan daerah dalam menggali potensi PAD guna memperkuat tingkatan
otonomi suatu daerah. Faktanya, tingkat ketergantungan daerah kepada
pemerintah pusat cukup tinggi dari sisi pembiayaan (penerimaan daerah).
Sehingga kita dapati, penerimaan daerah dari dana grant berpengaruh
signifikan kepada prediksi dan alokasi belanja daerahnya dan terlampau jauh
dengan nilai PAD.
Ibarat induk membesarkan anaknya, pemerintah pusat tetap berkewajiban
melakukan kontrol atas pertumbuhan dan kesejahteraan daerah yang secara
agregat berpengaruh kepada perekonomian nasional. Salah satu indikator
perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat berupa besaran
pendapatan nasional yang dapat dihitung dengan pendekatan pengeluaran
3
yang menjelaskan bahwa pendapatan nasional merupakan model matematika
yang mengikuti fungsi sebagai berikut
Y = C + I + G + (X M)
Mengacu pada model tersebut diharapkan perekonomian tumbuh seiring
dengan meningkatnya dana perimbangan sebagai komponen pengeluaran
(G) pemerintah pusat kepada daerah.
Akan tetapi linearitas pertumbuhan ekonomi dengan limpahan dana grant
pemerintah pusat hanya akan tercipta apabila daerah sebagai eksekutor
dengan bijak dan seksama merencanakan dan mengalokasikan dana tersebut
dalam proyek-proyek pembangunan ekonomi yang pada akhirnya menjadi
katalis bagi muncul serta meningkatnya aktivitas perekonomian di daerah.
Perencanaan dan alokasi dana grant secara bijak dan seksama dilaksanakan
melalui investasi daerah (belanja publik/langsung/pembangunan) serta
mengurangi belanja yang tidak berkontribusi langung kepada kesejahteraan
masyarakat (belanja tidak langsung).
Mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 jo
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 disebutkan bahwa
belanja daerah dikategorikan menjadi belanja langsung dan belanja tidak
langsung. Penganggaran atas belanja tidak langsung tidak terkait langsug
dengan program/kegiatan, sementara belanja langsung berkaitan langsung
dengan program/kegiatan baik fisik maupun nonfisik yang berdampak
langsung/tidak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
4
Sehingga apabila diperhatikan dengan seksama, besaran belanja langsung
yang didanai dari otonomi penerimaan daerah (PAD dan dana grant)
merupakan komponen G yang sebenarnya dalam model pendekatan
pengeluaran dalam menghitung pendapatan nasional.
Perbedaan besaran variabel penerimaan (PAD dan dana perimbangan) antar
daerah memiliki dampak yang berbeda pula pada pertumbuhan ekonominya.
Pulau Jawa dengan enam provinsinya memiliki jumlah penduduk dan
kapasitas fiskal yang tinggi pula. Berikut adalah laju pertumbuhan ekonomi
di Pulau Jawa tahun 2007-2009:
Tabel 1.1
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Di Pulau Jawa Tahun 2007-2009 (persen)
Provinsi 2007 2008 2009 Rerata
DKI Jakarta 6,44 6,23 5,02 5,89
Banten 6,04 5,77 4,71 5,50
Jawa Barat 6,48 6,21 4,19 5,62
Jawa Tengah 5,59 5,61 5,14 5,44
DI.Yogyakarta 4,31 5,03 4,43 4,59
Jawa Timur 6,11 5,94 5,01 5,68
Sumber : BPS
Provinsi Jawa Timur bagaikan kutub magnet ekonomi di pulau Jawa bagian
Timur menduduki peringkat ke-2 rata-rata pertumbuhan ekonomi tertinggi
setelah DKI Jakarta disusul kemudian oleh Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten,
kemudian di posisi terakhir adalah DI. Yogyakarta.
5
Tabel 1.2
Total Dana Perimbangan Tahun 2007-2009
Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Jawa Timur (exclude provinsi)
Tahun
Total Dana Perimbangan
(jutaan rupiah)
2007 19.003.745,55
2008 23.258.741,34
2009 25.098.838,37
Sumber : DJPK Kemenkeu (data diolah)
Tren total dana perimbangan kabupaten/kota dan provinsi pada Provinsi Jawa
Timur bergradien positif.
Tabel 1.3
Total Belanja Langsung (Modal) Tahun 2007-2009
Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Jawa Timur (exclude provinsi)
Tahun
Total Belanja Modal
(jutaan rupiah)
2007 5.503.436,57
2008 6.400.127,15
2009 7.306.296,08
Sumber : DJPK Kemenkeu (data diolah)
Perkembangan total belanja langsung kabupaten/kota dan provinsi pada
Provinsi Jawa Timur bergradien positif.
Mengacu pada tabel 1.1, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur dari
tahun 2007 sampai 2009 bergradien negatif meskipun nilai dana perimbangan
yang dikucurkan oleh pemerintah pusat mengalami peningkatan yang diikuti
pula dengan peningkatan nilai belanja modal/langsung yang diharapkan
berimplikasi langsung pada kegiatan pembangunan ekonomi untuk
kesejahteraan rakyat yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi.
6
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian
PENGARUH PENERIMAAN DAERAH TERHADAP
PERTUMBUHAN EKONOMI DIMODERASI DENGAN BELANJA
LANGSUNG (STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA DI WILAYAH
PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010-2012).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian
ini, yaitu bagaimanakah pengaruh penerimaan daerah terhadap pertumbuhan
ekonomi yang dimoderasi oleh nilai belanja langsung pada kabupaten/kota di
wilayah Provinsi Jawa Timur (studi tahun anggaran 2008-2012)?
1.3 Batasan Masalah
Untuk membatasi ruang lingkup penelitian supaya tidak meluas maka
dilakukan pembatasan-pembatasan masalah yang melingkupinya. Adapun
batasan masalahnya adalah:
1. Variabel independen yang diteliti meliputi PAD, DAU, DAK, dan DBH.
2. Variabel dependen yang diteliti adalah pertumbuhan ekonomi yang
diproksi dengan nilai pendapatan berdasarkan pendekatan produksi yang
diwakili oleh nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
3. Variabel moderator yang digunakan adalah nilai belanja langsung yang
diwakili oleh belanja modal.
4. Objek penelitian yang digunakan adalah seluruh kabupaten/kota di
wilayah Provinsi Jawa Timur sebanyak 38 kabupaten/kota.
7
5. Tahun penelitian yang digunakan dibatasi untuk tahun anggaran 2008
sampai dengan 2012.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Menganalisa pengaruh PAD terhadap pertumbuhan ekonomi.
2. Menganalisa pengaruh DAU terhadap pertumbuhan ekonomi.
3. Menganalisa pengaruh DAK terhadap pertumbuhan ekonomi.
4. Menganalisa pengaruh DBH terhadap pertumbuhan ekonomi.
5. Menganalisa pengaruh belanja langsung dalam memoderasi hubungan
antara PAD, DAU, DAK, dan DBH terhadap pertubuhan ekonomi.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu
kontribusi akademis dalam upaya mengidentifikasi pengaruh variabel
penerimaan daerah berupa PAD, DAU, DAK, dan DBH terhadap
pertumbuhan ekonomi yang dimoderasi oleh nilai belanja langsung.
1.5.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana
pengaruh variabel penerimaan daerah berupa PAD, DAU, DAK,
dan DBH terhadap pertumbuhan ekonomi yang dimoderasi oleh
nilai belanja langsung.
8
b. Bagi Stakeholder
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau
pertimbangan bagi pemerintah daerah kabupaten/kota di wilayah
Provinsi Jawa Timur ataupun lembaga terkait dalam upaya
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
c. Bagi Akademisi
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi atau
bahan masukan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi
2.1.1.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas
produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional. Sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu
indikator keberhasilan pembangunan ekonomi.
Menurut Sadono Sukirno (1985), pertumbuhan ekonomi merupakan
perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlaku dari tahun ke tahun.
Sehingga untuk mengetahuinya harus diadakan perbandingan pendapatan
naional dari tahun ke tahun, yang dikenal dengan laju pertumbuhan
ekonomi.
Menurut Budiono (1994), pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses
pertumbuhan output perkapita jangka panjang yang terjadi apabila ada
kecenderungan (output perkapita untuk naik) yang bersumber dari proses
internal perekonomian tersebut (kekuatan yang berada dalam
perekonomian itu sendiri), bukan berasal dari luar dan bersifat sementara.
Dengan kata lain bersifat self generating, yang berarti bahwa proses
pertumbuhan itu sendiri menghasilkan suatu kekuatan atau momentum
bagi kelanjutan pertumbuhan tersebut dalam periode-periode selanjutnya.
10
Sementara itu pertumbuhan ekonomi menurut Prof. Simon
Kuznets (dalam Jhingan, 2000: 57), adalah kenaikan jangka panjang
dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak
jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini
tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian
kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya.
2.1.1.2. Indikator dan Cara Mengukur Pertumbuhan Ekonomi Regional
Secara umum pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan beragam cara
antara lain melalui angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),
investasi, inflasi, pajak dan retribusi, pinjaman dan pelayanan bidang
ekonomi. Khusus PDRB merupakan gambaran total output barang dan
jasa dari fungsi input unit-unit produksi yang digunakan pada suatu
daerah dalam periode tertentu. Dalam praktiknya, nilai PDRB seringkali
dijadikan sebagai indikator makroekonomi dalam mengukur tingkat
pertumbuhan ekonomi dengan cara membandingkan kenaikan/penurunan
nilai PDRB tahun tertentu dengan tahun sebelumnya.
Perhitungan PDRB dapat dilakukan dengan empat cara pendekatan,
yaitu:
1. Pendekatan Produksi, yaitu dengan cara menjumlahkan seluruh nilai
tambah dari aktivitas produksi untuk menghasilkan output berupa
barang dan/atau jasa. Nilai tambah diperoleh dengan cara
mengurangkan biaya antara yang digunakan dalam proses produksi
dari total nilai output yang diproduksi di semua sektor/subsektor.
11
2. Pendekatan Pendapatan, yaitu dengan cara menjumlahkan seluruh
balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan
dalam proses produksi meliputi upah dan gaji, sewa tanah, bunga
modal, keuntungan. Komponen tersebut sebelum dipotong pajak
penghasilan dan pajak langsung lainnya. Selain empat komponen
tersebut, termasuk juga penyusutan dan pajak tidak langsung netto
(pajak tidak langsung dikurangi subsidi).
3. Pendekatan Pengeluaran, yaitu dengan cara menjumlahkan seluruh
pengeluaran konsumsi rumah tangga, lembaga swasta nirlaba, dan
pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan
inventori dan ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi
impor). Secara sederhana dirangkum dalam rumus Y = C + I + G + X
4. Pendekatan tidak langsung/alokasi yaitu dengan cara mengalokasikan
nilai PDB Nasional untuk masing-masing provinsi dengan alokator
tertentu antara lain dapat berupa nilai produk bruto/netto setiap sektor
jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk, dan alokator lainnya
yang sesuai.
Dengan pendekatan manapun, nampak bahwa PDRB mampu
mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakan secara keseluruhan
sehingga wajar apabila PDRB dapat digunakan sebagai indikator
kesejahteraan masyarakat/pembangunan ekonomi.
Terdapat dua macam harga yang digunakan sebagai dasar perhitungan
PDRB yaitu atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas dasar harga
12
konstan (ADHK). ADHB menggunakan harga berlaku yang masih
terpengaruh oleh besaran inflasi dalam menghitung nilai aktivitas
ekonomi sementara ADHK menggunakan harga konstan yang biasaya
ditetapkan tahun tertentu sebagai tahun dasar sehingga harga-haraga yang
berlaku pada tahun-tahun setelahnya disesuaikan terlebih dahulu dengan
tahun dasar dengan menghilangkan pengaruh inflasi dari harga tersebut
pada tahun perhitungan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi dihitung dengan cara membandingkan
PDRB tahun tertentu dengan tahun sebelumnya berdasarkan ADHK.
PDRB yang disajikan per sektor/subsektor ekonomi mampu
menggambarkan struktur perekonomian daerah tertentu.
Lebih dari itu, kita mampu mengetahui angka pendapatan perkapita
dengan cara membagi nilai PDRB ADHB dengan jumlah penduduk yang
dapat digunakan sebagai pembanding tingkat kemakmuran antar daerah.
Sementara itu membandingkan PDRB ADHB dengan ADHK dapat
memberikan informasi mengenai besaran inflasi/deflasi yang terjadi pada
daerah tertentu dan tahun tertentu.
2.1.1.3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik
Aliran klasik dirintis oleh tiga ilmuwan besar, yaitu
1. Adam Smith
Adam Smith merupakan tokoh ekonomi yang mengkampanyekan
sistem liberal yang bebas dari campur tangan pemerintah. Beliau
13
yakin dengan sistem liberal akan tercapai pertumbuhan ekonomi yang
maksimum.
Dalam pandangan Adam Smith, pertumbuhan ekonomi dicapai
dengan melibatkan dua unsur yaitu pertumbuhan penduduk dan
pertumbuhan output/total. Pertumbuhan ekonomi yang maksimum
tercapai pada saat sumber daya alam yang terbatas/langka
dimanfaatkan secara maksimum oleh tenaga kerja yang handal
dengan didukung oleh barang modal/tingkat teknologi yang cukup.
Adam Smith menuangkan pemikirannya dalam buku yang berjudul
The Wealth of Nation.
2. David Ricardo dan TR Malthus
Berbeda dengan Adam Smith, David Ricardo dan TR Malthus
berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk yang terlalu besar justru
mereduksi tingkat pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan penduduk
yang tinggi menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah sehingga
rata-rata upah yang diterima menjadi minimum yang berpengaruh
pada tingkat hidup yang minimum pula.
TR Malthus mengemukan teorinya yang terkenal bahwa bahan
makanan yang tersedia bertambah menurut deret hitung (1, 2, 3, 4, 5,
dan seterusnya) sementara itu jumlah penduduk bertambah menurut
deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, dan seterusnya). Kondisi ini menurut beliau,
nantinya menyebabkan masyarakat hidup dalam kekurangan yang
mengarah pada stagnansi ekonomi.
14
2.1.1.4. Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik
Tiga tokoh ekonomi yang merintis aliran neoklasik meliputi
1. Robert Solow
Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi tercapai melalui
pertumbuhan output. Sementara itu, pertumbuhan output memenuhi
model Q = f(C, L) dimana Q merupakan total output yang dihasilkan,
C adalah modal, dan L adalah tenaga kerja. Fungsi output Robert
Solow mengasumsikan bahwa tingkat teknologi konstan.
Tinggi rendahnya output bergantung pada kombinasi yang tepat dan
maksimum antara kedua jenis input tersebut.
2. Harrod dan Domar (teori modernisasi)
Teori ini dicetuskan oleh Evsey Domar dan Roy Harrod. Keduanya
menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh
tingginya tabungan dan investasi. Jika tabungan dan investasi
masyarakat rendah, maka pertumbuhan ekonomi masyarakat atau
negara tersebut juga rendah.
3. Joseph Schumpeter
Pertumbuhan ekonomi tercapai melalui inovasi oleh para pengusaha
(wiraswasta). Inovasi merupakan penerapan pengetahuan dan
teknologi yang baru di dunia usaha.
15
2.1.2. Teori Produksi
Produksi adalah proses mengubah serangkaian input (faktor produksi)
menjadi output (barang dan/ atau jasa). Teori yang menjelaskan hubungan
antara input, output, serta tingkat produksinya disebut teori produksi.
Faktor produksi diartikan sebagai berbagai hal yang digunakan supaya
terjadi proses produksi guna menghasilkan output. Faktor produksi meliputi
modal, tenaga kerja, sumber daya fisik, dan kewirausahaan.
Model matematis fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Q = f (C, L, R, T)
dimana,
Q = Jumlah output produksi
C = Modal
L = Tenaga kerja
R = Sumber daya
T = Teknologi/kewirausahaan
Teori produksi secara sederhana menjelaskan bahwa output merupakan
fungsi dari input
Output = f (Input)
2.1.3. Teori Pengeluaran Negara
Pengeluaran negara merupakan pengeluaran yang dilakukan untuk
membiayai kegiatan-kegiatan pada suatu negara dalam rangka menjalankan
fungsi pemerintahan yaitu mensejahterakan masyarakat.
16
Secara garis besar, pengeluaran negara dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Pengeluaran untuk investasi yang bertujuan untuk menambah kekuatan
dan ketahanan ekonomi di masa mendatang.
2. Pengeluaran yang secara langsung memberikan kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat.
3. Dalam rangka menghemat pengeluaran di masa mendatang.
4. Pengeluaran untuk menyediakan kesempatan kerja dan daya beli yang
lebih luas.
Berdasarkan sifatnya, pengeluaran negara diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Self liquidating (menghasilkan keuntungan), yaitu pengeluaran negara
dalam rangka pemberian barang dan/atau jasa kepada masyarakat yang
diikuti dengan pembayaran kembali/imbal balik langsung dari
masyarakat.
Sebagai contoh, pemerintah daerah mengeluarkan dana dalam bentuk
investasi pada BUMD misal perusahaan daerah air minum. Pengeluaran
dana untuk BUMD PDAM nantinya diharapkan terdapat imbal balik
langsung dari masyarakat yang menggunakan jasa PDAM.
2. Reproduktif, yaitu pengeluaran negara yang berakibat masyarakat dapat
melakukan usaha dan meningkatkan penghasilannya.
3. Tidak produktif yaitu pengeluaran negara yang tidak menghasilkan
pemasukan kembali. Sebagai contoh, pengeluaran untuk membangun
konsumen.
17
4. Penghematan di masa mendatang, misalnya untuk penyantunan anak
yatim, kalau dimulai sejak dini biayanya lebih ringan daripada kalau
terlambat.
Teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang dikemukakan
oleh para ahli ekonomi pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi tiga
golongan (Mangkoesoebroto:2008), yaitu:
1. Model pembangunan tentang pengeluaran pembangunan
Model ini dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave yang
menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-
tahap pembangunan ekonomi yang dibedakan antara tahap awal, tahap
menengah, dan tahap lanjut.
Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan pengeluaran negara
yang besar untuk investasi pemerintah, terutama untuk menyediakan
infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan
untuk pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta
sudah mulai berkembang.
Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap
diperlukan terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
misalnya peningkatan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan
sebagainya.
18
2. Hukum Wagner
Wagner mengemukakan suatu teori mengenai perkembangan persentase
pengeluaran pemerintah terhadap PDB yang semakin besar, yaitu dalam
suatu perekonomian apabila pendapatan per kapita meningkat maka
secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat. Hukum
Wagner dikenal dengan The Law of Expanding State Expenditure.
Dasar dari hukum tersebut adalah pengamatan empiris terhadap negara-
negara maju. Dalam hal ini Wagner menerangkan mengapa peranan
pemerintah menjadi semakin besar, terutama disebabkan karena
pemerintah harus mengatur hubungan yang timbul dalam masyarakat.
Kelemahan hukum Wagner adalah karena hukum tersebut tidak
didasarkan pada suatu teori mengenai pemilihan barang-barang public.
Wagner hanya mendasarkan pandangannya dengan suatu teori yang
disebut teori organis mengenai pemerintah (organic theory of the state)
yang menganggap pemerintah sebagai individu yang bebas bertindak,
terlepas dari anggota masyarakat lain.
3. Teori Peacock dan Wiseman
Peacock dan Wiseman adalah dua orang yang mengemukakan teori
mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang terbaik. Teori
mereka didasarkan pada suatu pandangan bahwa pemerintah senantiasa
berusaha untuk memperbesar pengeluaran, sedangkan masyarakat tidak
suka membayar pajak yang semakin besar untuk membiayai
pengeluaran pemerintah yang semakin besar tersebut. Peacock dan
19
Wiseman mendasarkan teori mereka pada suatu teori bahwa masyarakat
mempunyai suatu tingkat toleransi pajak, yaitu suatu tingkat dimana
masyarakat dapat memahami besarnya pungutan pajak yang dibutuhkan
oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Jadi
masyarakat menyadari bahwa pemerintah membutuhkan dana untuk
membiayai aktivitas pemerintah sehingga mereka mempunyai tingkat
kesdiaan untuk membayar pajak. Tingkat toleransi ini merupakan
kendala bagi pemerintah untuk menaikkan pemungutan pajak secara
semena-mena.
2.1.4. Penerimaan Daerah
Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih (Permendagri No. 21 Tahun 2011 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah).
Sebagaimana pasal 25 Permendagri No. 21 Tahun 2011 pendapatan daerah
dikelompokkan atas:
1. Pendapatan asli daerah;
2. Dana perimbangan; dan
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
2.1.4.1. Pendapatan Asli Daerah
Pengertian pendapatan asli daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor
33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah
Pasal 1 angka 18 bahwa Pendapatan asli daerah, selanjutnya disebut
20
PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Kebijakan keuangan daerah pada sistem desentralisasi fiskal diarahkan
untuk meningkatkan PAD sebagai sumber utama pendapatan dan
pendanaan atas kegiatan pemerintahan dan pembangunan ekonomi.
Lebih jauh lagi dengan tercapainya kemandirian fiskal daerah dalam segi
pendanaan melalui PAD diharapkan akan mengurangi tingkat
ketergantungan daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat.
PAD dianggap sebagai alternatif untuk memperoleh tambahan dana yang
dapat digunakan untuk berbagai keperluan pengeluaran yang ditentukan
oleh daerah sendiri khususnya keperluan rutin. Oleh karena itu
peningkatan pendapatan tersebut merupakan hal yang dikehendaki setiap
daerah. (Mamesa, 1995:30)
Mengacu pada pasal 6 UU No.33 Tahn 2004, PAD bersumber dari:
1. Pajak daerah
Pengertian pajak daerah berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 1 angka 10 bahwa pajak
daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib
kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
21
Sementara itu, menurut Rohmat Soemitro (2008), pajak lokal atau
pajak daerah ialah pajak yang dipungut oleh daerah-daerah swatantra,
seperti provinsi, kotapraja, kabupaten, dan sebagainya.
Sedangkan Siagin merumuskannya sebagai, pajak negara yang
diserahkan kepada daerah dan dinyatakan sebagai pajak daerah
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dipergunakan guna
membiayai pengeluaran daerah sebagai badan hukum publik
Dalam UU No. 28 Tahun 2009, jenis Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah yang dapat dipungut oleh Propinsi dan Kabupaten/Kota
adalah sebagai berikut:
a. Jenis pajak daerah propinsi terdiri dari:
1) Pajak kendaraan bermotor
2) Bea balik nama kendaraan bermotor
3) Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
4) Pajak air permukaan
5) Pajak rokok
b. Jenis pajak daerah kabupaten/kota terdiri dari:
1) Pajak hotel
2) Pajak restoran
3) Pajak hiburan
4) Pajak reklame
5) Pajak penerangan jalan
6) Pajak mineral bukan logam dan batuan
22
7) Pajak parkir
8) Pajak air tanah
9) Pajak sarang burung walet
10) Pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan dan
11) Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan
2. Retribusi daerah
Pengertian retribusi daerah berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 1 angka 64 bahwa
retribusi daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu
yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah
untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Sementara itu, menurut Marihot P. Siahaan(2005:6), retribusi daerah
adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian
izin terentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Retribusi terdiri atas tiga kelompok, yaitu:
a. Retribusi jasa umum
b. Retribusi jasa usaha
c. Retribusi perizinan tertentu
Jenis-jenis retribusi jasa umum, jasa usaha dan perijinan tertentu
ditetapkan dengan peraturan pemerintah berdasarkan beberapa
23
kriteria, namun daerah melalui perda dapat menetapkan jenis retribusi
selain ketiga kelompok tersebut.
Adapun kriterian retribusi secara umum,
a. Retribusi jasa umum
1) Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan
retribusi jasa usaha atau retribusi perizinan tertentu.
2) Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi.
3) Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau
badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk
melayani kepentingan dan kemanfaatan umum.
4) Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi
5) Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional
mengenai penyelenggaraannya.
6) Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta
merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang
potensial
7) Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa
tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang
lebih baik.
b. Retribusi jasa usaha
1) Retribusi Jasa Usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan
retribusi jasa umum atau retribusi perizinan tertentu; dan
24
2) Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial
yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum
memadai atau terdapatnya harta yang di miliki/dikuasai
daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh
pemerintah daerah.
c. Retribusi perizinan tertentu
1) Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang
diserahkan kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi;
2) Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi
kepentingan umum; dan
3) Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin
tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari
pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai
dari retribusi perizinan.
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Berdasarkan Permendagri No. 21 Tahun 2011, jenis hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut objek pendapatan
yang mencakup:
a. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
daerah/BUMD;
b. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
pemerintah/BUMN; dan
25
c. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
swasta atau kelompok usaha masyarakat.
4. Lain-lain PAD yang sah
Lain-lain PAD yang sah berdasarkan Permendagri No. 21 Tahun
2011 disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang
tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan
hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut
obyek pendapatan yang mencakup:
a. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;
b. jasa giro;
c. pendapatan bunga;
d. penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah;
e. penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai
akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa
oleh daerah;
f. penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap
mata uang asing;
g. pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;
h. pendapatan denda pajak;
i. pendapatan denda retribusi;
j. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
k. pendapatan dari pengembalian;
l. fasilitas sosial dan fasilitas umum;
26
m. pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; dan
n. pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.
2.1.4.2. Dana Perimbangan
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU No.33 Tahun 2004 dan PP
No.55 Tahun 2005).
Dana perimbangan bertujuan untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara
Pemerintah dan Pemerintahan Daerah dan antar-Pemerintah Daerah
(Pasal 3 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004).
Dana perimbangan terdiri atas:
1. Dana Bagi Hasil
Dana bagi hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam.
Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri atas:
a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
b. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan
c. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib PajakOrang
Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
Dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari:
a. Kehutanan
b. Pertambangan umum
c. Perikanan
d. Pertambangan minyak bumi
27
e. Pertambangan gas bumi
f. Pertambangan panas bumi
2. Dana Alokasi Umum
Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 pasal 1 angka 21, dana alokasi
umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yangbersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan
Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
Dana Alokasi Umum (DAU) atau disebut transfer atau block
grant dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah digunakan
untuk menjaga/menjamin tercapainya standar pelayanan public
minimum diseluruh negeri (Simanjuntak dalam Sidik et al, 2002)
Transfer merupakan konsekuensi dari tidak meratanya keuangan dan
ekonomi daerah. Selain itu tujuan transfer adalah mengurangi
kesenjangan keuangan horizontal antar-daerah, dan mengurangi
kesenjangan vertikal Pusat-Daerah.mengatasi persoalan efek
pelayanan public antar-daerah, dan untuk menciptakan stabilitas
aktivitas perekonomian di daerah (Abdullah dan Halim 2003).
DAU untuk suatu Daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan
alokasi dasar.
Celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas
fiskal Daerah. Sementara itu, alokasi dasar dihitung berdasarkan
jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
28
Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah
untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum yang diukur secara
berturut-turut dengan jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks
Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto perkapita,
dan Indeks Pembangunan Manusia.
Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang
berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil.
3. Dana Alokasi Khusus
Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 pasal 1 angka 23, dana alokasi
khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan
tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan
urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
Pasal 162 UU No.32/2004 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan
dalam APBN untuk daerah tertentu dalam rangka pendanaan
desentralisasi untuk
a. membiayai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah Pusat
atas dasar prioritas nasional dan
b. membiayai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu.
Kebutuhan khusus yang dapat dibiayai oleh DAK adalah kebutuhan
yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan
rumus DAU, dan kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas
nasional. Berdasarkan ketentuan Pasal 162 Ayat (4) UU Nomor 32
29
Tahun 2004 yang mengamanatkan agar DAK ini diatur lebih lanjut
dalam bentuk PP, Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 55
Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.
Pelaksanaan DAK sendiri diarahkan pada kegiatan investasi
pembangunan, pengadaan, peningkatan, dan/atau perbaikan sarana
dan prasarana fisik pelayanan masyarakat dengan umur ekonomis
yang panjang, termasuk pengadaan sarana fisik penunjang, dan tidak
termasuk penyertaan modal. Sebagai contoh, penggunaan DAK
bidang pendidikan meliputi:
a. Rehabilitasi gedung sekolah/ruang kelas,
b. Pengadaan/rehabilitasi sumber dan sanitasi air bersih serta kamar
mandi dan WC,
c. Pengadaan/perbaikan meubelair ruang kelas dan lemari
perpustakaan,
d. Pembangunan/rehabilitasi rumah dinas penjaga/guru/kepala
sekolah, dan
e. Peningkatan mutu sekolah dengan pembangunan/penyediaan
sarana dan prasarana perpustakaan serta fasilitas pendidikan
lainnya di sekolah.
DAK tidak dapat digunakan untuk mendanai administrasi kegiatan,
penyiapan kegiatan fisik, penelitian, pelatihan, dan perjalanan dinas
seperti pelaksanaan penyusunan rencana dan program, pelaksanaan
tender pengadaan kegiatan fisik, kegiatan penelitian dalam rangka
30
mendukung pelaksanaan kegiatan fisik, kegiatan perjalanan pegawai
daerah dan kegiatan umum lainnya yang sejenis.
Untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawabnya, daerah
penerima wajib mengalokasikan dana pendamping dalam APBD-nya
sebesar minimal 10% dari jumlah DAK yang diterimanya. Untuk
daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan
menyediakan dana pendamping yakni daerah yang selisih antara
Penerimaan Umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol
atau negatif. Namun, dalam pelaksanaannya tidak ada daerah
penerima DAK yang mempunyai selisih antara Penerimaan Umum
APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol atau negatif.
Berdasarkan penjabaran tersebut dapat diketahui bahwa latar
belakang pencanangan program DAK disebabkan adanya kebutuhan
untuk membiayai kegiatan khusus, yang merupakan kebutuhan yang
tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumusan
DAU. Dilain sisi, kemampuan asli sebagian besar daerah yang
tercermin dalam PAD hanya mampu mengumpulkan tidak lebih dari
15% nilai APBD.
31
2.1.5. Belanja Daerah
Kelompok belanja menurut Permendagri No. 13 Tahun 2006 pasal 36 ayat
(1) dirinci menjadi belanja tidak langsung dan belanja langsung.
2.1.5.1. Belanja tidak langsung
Merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung
dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja tidak langsung terdiri
dari:
1. Belanja pegawai
Belanja pegawai dalam kelompok belanja tidak langsung merupakan
belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta
penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil
yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
2. Bunga
Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga
utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal
outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang.
3. Subsidi
Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya
produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual
produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat
banyak.
32
4. Hibah
Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau
pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan
yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.
5. Bantuan sosial
Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian
bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang
bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
6. Belanja bagi hasil
Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil
yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota
atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau
pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah
Iainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
7. Bantuan keuangan
Bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan
keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada
kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah
Iainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa
dan pemerintah daerah Iainnya dalam rangka pemerataan dan/atau
peningkatan kemampuan keuangan.
33
8. Belanja tidak terduga
Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang
sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti
penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak
diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan
penerimaan daerah tahuntahun sebelumnya yang telah ditutup.
2.1.5.2. Belanja langsung
Merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan.
Kelompok belanja langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri
dari:
1. Belanja pegawai
Belanja pegawai pada kelompok belanja langsung merupakan belanja
untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program
dan kegiatan pemerintah daerah.
2. Belanja barang dan jasa
Belanja barang dan jasa digunakan untuk pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12
(duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan
program dan kegiatan pemerintahan daerah.
3. Belanja modal
Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap
34
berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas)
bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti
dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan,
jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.
Dari kategori belanja berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006, belanja
langsung merupakan belanja yang digunakan langsung untuk membiayai
program pembangunan ekonomi.
Pembangunan merupakan bentuk investasi fisik yang dilakukan oleh
pemerintah untuk mendorong terjadinya peningkatan aktivitas ekonomi
yang mengarahkan pada terciptanya kesejahteraan masyarakyat.
Dari tiga jenis belanja langsung, belanja pegawai dan belanja barang dan
jasa memiliki andil dalam terlaksananya program dan kegiatan
pembangunan namun dalam proporsi yang kecil jika dibandingkan dengan
nilai belanja langsung berupa belanja modal yang secara nyata merupakan
nilai investasi yang sebenarnya berpengaruh langsung pada kesejahteraan
masyarakat.
Pengeluaran investasi melalui belanja modal yang ditujukan untuk
pembentukan aset (barang modal/capital stock) diharapkan dapat
menimbulkan multiplier effect yang lebih besar dan lebih berkelanjutan di
masa mendatang jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin operasional
yang memiliki efek multiplier hanya bersifat jangka pendek.
35
Selanjutnya, pengeluaran Pemerintah untuk investasi tersebut dapat
dikelompokkan menjadi pengeluaran investasi produktif yang bersifat
langsung dan tidak langsung.
Pengeluaran investasi produktif yang bersifat langsung,
seperti pengadaan tanah dan pembelian barang/peralatan fisik akan dapat
meningkatkan stok barang modal (capital stock) secara fisik, dan
meningkatkan output di masa-masa mendatang. Investasi produktif yang
bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi
penunjang, yang disebut investasi "infrastruktur" ekonomi dan sosial.
Investasi penunjang tersebut, antara lain berupa pembangunan jalan raya,
penyediaan listrik, persediaan air bersih dan perbaikan sanitasi,
pembangunan fasilitas komunikasi dan sebagainya, yang kesemuanya
mutlak diperlukan dalam rangka menunjang dan mengintegrasikan segenap
aktivitas ekonomi produktif.
Sementara itu, pengeluaran investasi produktif yang bersifat tidak langsung,
sebagai contoh sederhana yaitu investasi untuk pengembangan sumber daya
manusia (SDM) yang diharapkan dapat memberikan dampak positif
terhadap tingkat produktivitas tenaga kerja, sehingga dapat meningkatkan
skala hasil produksi dan menciptakan pertumbuhan output yang
berkesinambungan dalam jangka panjang.
Baik investasi produktif yang langsung maupun yang tidak langsung
memiliki efek jangka panjang terhadap pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi.
36
2.1.6. Hubungan antar Variabel
2.1.6.1. Hubungan antara PAD, DAU, DAK, dan DBH dengan PDRB
Berdasarkan teori produksi, secara sederhana output merupakan fungsi
dari input.
Output = f (input)
Mengacu pada fungsi tersebut, penerimaan daerah merupakan input
sementara PDRB merupakan output. Sehingga turunan fungsi yang
terbentuk sebagai berikut
PDRB = f (PAD, DAU, DAK, DBH)
Penerimaan daerah tersebut nantinya akan digunakan sebagai pendanaan
bagi pengeluaran-pengeluaran daerah melalui belanja langsung/modal
yang dapat meningkatkan output berupa PDRB.
2.1.6.2. Hubungan antara Belanja Modal dengan PDRB
Mengacu pada teori pengeluaran negara oleh Rostow dan Musgrave
bahwa pertumbuhan ekonomi berakselerasi positif dan selaras dengan
nilai pengeluaran negara dalam bentuk investasi barang modal meliputi
sarana dan prasarana. Sehingga secara sederhana dapat dirumuskan
melalui model matematika sebagai berikut
PDRB/Pertumbuhan ekonomi = f (pengeluaran negara)
Selain itu, dengan mengacu pada hukum wagner diketahui pula bahwa
persentase pengeluaran pemerintah yang semakin besar berkorelasi
positif dengan nilai PDB. Sehingga secara tidak langsung ataupun
langsung dalam hal dikehendaki PDB secara agregat meningkat serta
37
secara rerata pendapatan perkapita meningkat pula harus diikuti dengan
meningkatnya nilai pengeluaran pemerintah.
Pengeluaran pemerintah yang dimaksud dengan mengacu pada model
Rostow dan Musgrave serta hukum Wagner merupakan pengeluaran
investasi dalam bentuk belanja langsung yang secara langsung diproksi
oleh nilai belanja modal.
2.1.7. Penelitian Terdahulu
Penelitian Chang & Ho dalam Abdu Rahman (2002) menyatakan bahwa
PAD mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dengan melihat hasil analisis
elastisitas PAD terhadap PDRB. Lin dan Liu dalam Priyo (2006)
menyatakan bahwa belanja pembangunan merupayakan upaya logis yang
dilakukan pemerintah daerah dalam meningkatkan kepercayaan publik
dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian
tersebut menemukan adanya hubungan yang kuat antara belanja
pembangunan dengan tingkat desentralisasi yang mana akan mendorong dan
mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah.
Penelitian Adi (2006) mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi
daerah, belanja pembangunan dan PAD se Jawa Bali menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi daerah mempunyai dampak yang signifikan terhadap
peningkatan PAD. Namun sayangnya pertumbuhan ekonomi pemda
kabupaten dan kota masih kecil, akibatnya penerimaan PAD-nya pun kecil,
sedangkan belanja pembangunan memberikan dampak yang positif terhadap
PAD maupun pertumbuhan ekonomi.
38
Anis Setiyawati dan Ardi Hamzah pada tahun 2007 melakukan penelitian
mengenai dampak desentralisasi fiskal dengan judul Analisis Pengaruh
PAD, DAU, DAK, dan Belanja Pembangunan terhadap Pertumbuhan
Ekonomi, Kemiskinan, dan Pengangguran: Pendekatan Analisis Jalur.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa PAD berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan ekonomi, sedangkan DAU berpengaruh negatif terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Ulfi Maryati dan Endrawati pada tahun 2010 juga melakukan penelitian
dengan judul Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi
Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Pertumbuhan
Ekonomi : Studi Kasus Sumatera Barat. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa PAD berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi,
DAU berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan
DAK tidak berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
39
2.2. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
40
2.3. Model Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah diuraikan
sebelumnya, maka disajikan model hipotesis sebagai berikut:
Gambar 2.2 Model Hipotesis
2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, penelitian ini mengajukan hipotesis
awal sebagai berikut:
Ha
1
: PAD berpengaruh signifikan dan positif terhadap PDRB
Ha
2
: DAU berpengaruh signifikan dan positif terhadap PDRB
Ha
3
: DAK berpengaruh signifikan dan positif terhadap PDRB
Ha
4
: DBH berpengaruh signifikan dan positif terhadap PDRB
Ha
5
: Belanja Modal memoderasi hubungan antara variabel independen
(PAD, DAU, DAK, dan DBH) dengan variabel dependen (PDRB).
41
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menguji
hipotesis (hypotheses testing), yaitu apakah variabel penerimaan daerah
berupa PAD, DAU, DAK, dan DBH berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi yang dimoderasi oleh nilai belanja langsung.
Penelitian hipotesis umumnya merupakan penelitian yang menjelaskan
fenomena dalam bentuk hubungan antar variabel (Indriantoro dan
Supomo,2002:89).
3.2. Populasi dan Sample
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:80).
Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah kabupaten/kota seluruh
Indonesia.
Sampel adalah sebagian dari subjek dalam populasi yang diteliti, yang sudah
tentu mampu secara representative dapat mewakili populasinya (Sabar. 2007).
Metode sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non random
convenience sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada
ketersediaan dan kemudahan mendapatkannya.
42
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemerintah
kabupaten/kota se Jawa Timur dengan rentang pengamatan dari tahun
anggaran 2010 s.d 2012.
3.3. Data Penelitian
3.3.1. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
bersumber dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dan Badan
Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi
Jawa Timur di Surabaya.
Data utama yang diperlukan dari Badan Pusat Statistik yaitu variabel
besaran PDRB sementara dari Kantor Perwakilan BPK RI Surabaya adalah
data keuangan berupa variabel PAD, DAU, DAK, DBH, dan belanja
modal.
3.3.2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian (Gulo, 2002 : 110).
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode dokumen.
Dokumen meliputi buku harian, notula rapat, laporan berkala, jadwal
kegiatan, peraturan pemerintah, anggaran dasar, rapor siswa, surat-surat
resmi dan lain sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai
untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu
43
memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut
sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna (Faisal, 1990: 77).
Permintaan data dalam bentuk dokumen disampaikan oleh peneliti kepada
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dan Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur di
Surabaya.
Selain data sekunder yang berasal dari dokumen, data dalam penitian ini
juga diambil melalui studi pustaka yang berasal dari berbagai penelitian
terdahulu yang sejenis, literatur, jurnal, artikel dan pengetahuan yang
dianggap relevan dengan pembahasan.
3.4. Variabel Penelitian
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) yang merupakan gambaran total output barang dan jasa dari
fungsi input unit-unit produksi yang digunakan pada suatu daerah dalam
periode tertentu. Menyandingkan PDRB antar daerah pada rentang pereiode
tertentu akan didapatkan informasi mengenai perbedaan laju pertumbuhan
ekonomi antar daerah.
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu pendapatan yang mengacu pada
kemampuan fiskal asli daerah itu sendiri.
2. Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu alokasi umum dari pemerintah pusat
kepada daerah untuk menyamaratakan perbedaan kemampuan keuangan
antar daerah.
44
3. Dana Alokasi Khusus (DAK) yaitu alokasi khusus dari pemerintah pusat
kepada daerah untuk membiayai program khusus yang menjadi prioritas
nasional atau mengacu pada usulan daerah.
4. Dana Bagi Hasil (DBH) yaitu bagi hasil pendapatan yang diperoleh oleh
pemerintah pusat dari sumber pendapatan yang terdapat pada daerah.
Variabel moderating yang digunakan dalam penelitian ini adalah belanja
modal sebagai reprensentasi dari belanja langsung.
3.5. Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan model regresi data panel karena data yang
digunakan merupakan gabungan antara data time series (rentang periode
tahun 2010-2012) dan cross section (seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur).
Model matematika yang digunakan sebagai berikut:
PDRB = +
1
PAD +
2
DAU +
3
DAK +
4
DBH +
5
BM +
6
PAD.BM
+
7
DAU.BM +
8
DAK.BM +
9
DBH.BM + e
3.5.1. Analisis Regresi Data Panel
Terdapat tiga metode dalam pengolahan data panel, yaitu
1. Pooled least square (PLS) secara sederhana menggabungkan (pooled)
seluruh data time series dan cross section.
2. Fixed Effect yang memperhitungkan kemungkinan bahwa peneliti
menghadapi masalah omitted variables. omitted variables mungkin
membawa perubahan pada intersep time series atau cross section.
Model ini menambahkan dummy variables untuk mengijinkan adanya
perubahan intersep ini.
45
3. Random effect yaitu variasi dari estimasi generalized least square.
3.5.2. Pemilihan Model Estimasi dalam Data Panel
Dari tiga pendekatan metode data panel, dua pendekatan yang sering
digunakan untuk mengestimasi model regresi dengan data panel adalah
pendekatan fixed effect model dan pendekatan random effect model.
Untuk melihat apakah model mengikuti random effect atau fixed effect ata
digunakan uji hausman dengan H
0
: random effect dan H
1
: fixed effect.
3.5.3. Uji Statistik
3.5.3.1. Uji Koefisien Determinasi (R
2
)
Nilai koefisien determinasi (R
2
) ini mencerminkan seberapa besar variasi
dari variabel terikat Y dapat diterangkan oleh variabel bebas X. Bila nilai
koefisien determinasi sama dengan 0 (R
2
= 0), artinya variasi dari Y tidak
dapat diterangkan oleh X sama sekali. Sementara bila R
2
= 1, artinya
variasi dari Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X. Dengan kata
lain bila R
2
= 1, maka semua titik pengamatan berada tepat pada garis
regresi. Dengan demikian baik atau buruknya suatu persamaan regresi
ditentukan oleh R2 nya yang mempunyai nilai antara nol dan satu.
3.5.3.2. Uji F-Statistik
Uji F dikenal dengan Uji serentak atau uji model/uji anova, yaitu uji
untuk melihat bagaimanakah pengaruh semua variabel bebasnya secara
bersama-sama terhadap variabel terikatnya.
Uji F dapat dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel,
jika F hitung > dari F tabel, (Ho di tolak Ha diterima) maka variabel
46
independennya secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependennya, sebaliknya jika F hitung < F tabel, maka
variabel independennya secara bersama-sama tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependennya.
3.5.3.3. Uji t-Statistik
Menurut Imam Ghozali (2006) uji statistik t pada dasarnya menunjukkan
seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam
menerangkan variabel dependen.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikan level 0,05 (=5%).
Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria:
1. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi
tidak signifikan). Ini berarti secara parsial variabel independen tidak
mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
2. Jika nilai signifikan 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi
signifikan ). Ini berarti secara parsial variabel independen tersebut
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
3.5.4. Uji Asumsi Klasik
3.5.4.1. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi
korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang
baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. (Ghozali, 2006:99-100)
47
Untuk menguji ada gejala autokorelasi dalam model regresi dalam
penelitian ini digunakan uji Durbin-Watson (DW). Pengambilan
keputusan ada tidaknya autokorelasi dengan syarat du < DW < (4 du).
Jika nilai DW lebih besar dari du dan kurang dari (4 du) maka tidak
terjadi autokorelasi, baik itu autokorelasi positif atau autokorelasi negatif.
3.5.4.2. Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain tetap, maka disebut homoskesdastisitas dan jika berbeda
disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. (Ghozali,
2006:125)
Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dengan menggunakan
uji statistik yaitu uji glejser sehingga lebih menjamin keakuratan hasil.
Uji gletser dilakukan dengan meregres nilai absolut residual terhadap
variabel independen.
1. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi
variabel dependen yaitu probabilitas signifikansinya < 0,05, maka ada
indikasi terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika variabel independen tidak signifikan secara statistik
mempengaruhi variabel dependen yaitu probabilitas signifikansinya >
0,05, maka tidak ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.
48
DAFTAR PUSTAKA
_________.2007. Jawa Timur dalam Angka 2007. Jawa Timur:BPS.
_________.2008. Jawa Timur dalam Angka 2008. Jawa Timur:BPS.
_________.2009. PDRB Jawa Timur atas Dasar Harga Konstan 2000.
http:www.bps.go.id
Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan
_________.Otonomi Daerah di Indonesia. http://id.wikipedia.org/ (diakses 18
Agustus 2014)
49
_________.2012. Belanja Modal dan Pengeluaran Investasi Pemerintah.
http://www.anggaran.depkeu.go.id/dja/edef-konten-view.asp?id=908
(diakses 31 Agustus 2014)
_________.2012. Data Keuangan Daerah. DJPK, Kementerian Keuangan
Republik Indonesia. http://www.djpk.kemenkeu.go.id/data-series/data-
keuangan-daerah/setelah-ta-2006 (diakses 19 Agustus 2014).
_________. Menciptakan Alokasi Sumber Daya Nasional yang Efisien Melalui
Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah yang Transparan, Akuntabel, dan
Berkeadilan.
Setiyawati, Anis dan Ardi Hamzah. 2007. Analisis Pengaruh PAD, DAU, DAK
dan Belanja Pembangunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan,
dan Pengangguran. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Universitas
Indonesia.
Maryanti, Ulfi dan Endrawati. 2010. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi : Studi Kasus Sumatera Barat. Jurnal Akuntansi dan
Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan
Negara.