Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Jumlah perokok di dunia pada tahun 2005 diperkirakan mencapai
1,6 milyar, saat ini jumlah perokok telah mencapai 1,3 milyar. Sekitar 22%
perempuan di negara-negara industri adalah perokok, dimana angka tersebut
diperkirakan mencapai 9% di negara-negara dengaan tingkat konsumtif
tembakau tertinggi di dunia. Penggunaan tembakau di Indonesia tumbuh
dengan sangat cepat. Keinginan merokok diindikasikan meningkat di usia
muda, terutama pada populasi 5-19 tahun. Prevalensi merokok tinggi diantara
usia 15-19 tahun (Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jendral Departemen
Kesehatan RI, 2008).
Data Survey Nasional 2004 menyebutkan bahwa 63,2% laki-laki
dan 4,4% perempuan Indonesia adalah perokok. Jumlah penduduk di
Indonesia yang merokok lebih dari 30% dari jumlah penduduk Indonesia
merokok, artinya di negara kita sekitar 60 juta orang perokok. Sekitar 70%
dari perokok di Indonesia memulai kebiasaanya sebelum berumur 19 tahun,
karena terbiasa melihat anggota keluarganya yang merokok. Data tahun 2004
juga menunjukkan bahwa sebagian besar (84%) dari perokok Indonesia yang
merokok setiap hari ternyata menghisap 1-12 batang per hari dan 14%
2


merokok sejumlah 13-24 batang per hari. Perokok 25 batang sehari hanya
1,4% saja.
Data tahun 2004 juga menunjukkan bahwa persentase merokok di
pedesaaan Indonesia (37%) lebih tinggi dari pada perkotaan (32%). Sementara
itu, baik di kota maupun di desa di negara kita terjadi peningkataan perokok
sebesar 3% antara tahun 2001 ke 2003 (T.Y Aditama, 2006).
Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur
15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun, kemudian menurun pada
umur lebih lanjut. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun, walaupun
prevalensi hanya 2%, tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16
batang per hari (Riskesdas, Departemen Kesehatan RI, 2007).
Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap
Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden
Riskesdas 2007 yaitu umur 10-14 tahun 2.0% dengan jumlah 10 rokok/hari,
umur 15-24 tahun 24.6% dengan jumlah 12 rokok/hari, umur 25-34 tahun
35.0% dengan jumlah 13 rokok/hari, umur 35-44 tahun 36.0% dengan jumlah
14 rokok/hari, umur 45-54 tahun 38.0% dengan jumlah 13 rokok/hari, umur
55-64 tahun 37.5% dengan jumlah 13 rokok/hari, umur 65-74 tahun 34.7%
dengan jumlah 10 rokok/hari dan umur 75 tahun keatas 33.1% dengan jumlah
13 rokok/hari (Riskesdas, 2007).
Secara nasional, persenatse tertinggi usia pertama kali merokok
terdapat pada usia 15-19 tahun 32,4%, disusul usia 20-24 tahun 11,7%.
Menurut provinsi, perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun
3


tertinggi dijumpai di Bangka Belitung 42,0%, disusul oleh DKI Jakarta 39,9%,
Sulawesi Utara 39,5% dan Jawa Barat 35,9% (Riskesdas, 2007).
Menurut laporan riset kesehatan tahun 2007 Provinsi Jawa Timur,
persentase perokok tiap hari sebesar 24,3% dengan karakteristik umur 12-18
tahun sebanyak 19,1% merupakan perokok aktif. Di Kabupaten Kediri dari
hasil penelitian yang dilakukun Riskesdas 2007 menunjukan, remaja usia 12-
18 tahun sebanyak 44,7% merupakan perokok aktif, sedangkan di Kota Kediri
sendiri dengan karakteristik usia yang sama menunjukan 36,1% merupakan
perokok aktif (Riskesdas, 2007).
Hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga Menanggulangi
Masalah Merokok (LM3) menyatakan bahwa dari 375 responden, 66,2%
pernah mencoba berhenti merokok tetapi mereka gagal. Kegagalan ini ada
berbagai macam; 42,9% tidak tahu caranya; 25,7% sulit berkonsentrasi, dan
2,9% terikat oleh sponsor rokok (Fawzani dan Triratnawati, 2005).
Data statistik tahun 2002 menggambarkan bahwa 90% kematian
yang disebabkan karena gangguan pernafasan, 25% kematian yang disebabkan
karena penyakit jantung koroner dan 75% kemaatian yang disebabkan karena
penyakit emphysema. Semua kematian itu dipacu oleh kebiasaan merokok
(Husaini, 2007).
Terdapat dua metode yang umum digunakan untuk mengurangi
perilaku merokok, yaitu metode perubahan perilaku yang didasarkan pada
berbagai teori behavioral dan metode obat-obatan. Kedua metode tersebut
kurang banyak berkembang di masyarakat karena biasanya membutuhkan
waktu yang lama dan kurang melibatkan sisi afeksi pada para perokok. Hal ini
4


mengakibatkan motivasi dan keinginan untuk berhenti merokok tidak tumbuh
dengan sendirinya dan cenderung tidak bertahan lama.
Salah satu teknik terapi yang kemungkinan dapat membantu untuk
mengurangi kebiasaan merokok adalah SEFT (Spiritual Emotional Freedom
Technique). SEFT adalah salah satu varian dari satu cabang ilmu baru yaitu
energy psychology. SEFT merupakan penggabungan antara spiritual power
dan energy psychology. Efek dari penggabungan antara spiritual dan energy
psychology ini dinamakan amplifiying effect (efek pelipatgandaan) (Zainuddin,
2009).
Untuk menghentikan kebiasaan merokok, hipnotis digunakan
karena mampu merubah perilaku orang secara setengah sadar tetapi sukarela.
Artinya, jika pada saat trancedia diberi intervensi oleh penghipnotis bahwa
merokok itu buruk dan dia harus berhenti, maka pada saat dia sadar kembali,
besar kemungkinan dia akan berhenti, sekalipun dia tidak tahu siapa yang
menyuruhnya berhenti merokok (Komariah, 2012).
Sejumlah penelitian telah membuktikan keefektifan metode
tersebut untuk membantu mengurangi ketergantungan seseorang terhadap
aktivitas merokok. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Laila
Komariah (2012) yang menyatakan bahwa SEFT efektif untuk menurunkan
perilaku merokok pada mahasiswa. Mahasiswa yang diberikan SEFT
mengalami penurunan skala perilaku merokok dibandingkan mahasiswa yang
tidak diberikan SEFT. Subjek yang mengalami penurunan perilaku merokok
setelah diberikan SEFT adalah subjek yang terlihat sungguh-sungguh dan
terlihat konsentrasi ketika melakukan SEFT dan mempunyai keinginan besar
5


untuk berhenti merokok. Setelah diberikan SEFT, rokok menjadi terasa pahit
di lidah dan tidak ada keinginan dalam diri subjek untuk merokok lagi.
Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang Efektifitas Metode Spiritual Emotional
Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Intensitas Merokok Pada
Siswa SMAN 5 Kota Kediri 2014.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang di
atas maka peneliti tertarik untuk melakukann penelitian tentang Bagaimana
Efektifitas Therapy Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap
Penurunan Intensitas Merokok Pada Siswa SMAN 5 Kota Kediri 2014.
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana Efektifitas Therapy Spiritual Emotional
Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Intensitas Merokok Pada
Siswa SMAN 5 Kota Kediri 2014.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik merokok pada siswa SMAN 35
Kediri sebelum dilakukan terapi SEFT
2. Untuk mengetahui karakteristik merokok pada siswa SMAN 35
Kediri sesudah dilakukan terapi SEFT
3. Untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan terapi
SEFT

6




1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pemahaman
peneliti tentang Efektifitas Therapy Spiritual Emotional Freedom
Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Intensitas Merokok Pada Siswa
SMAN 5 Kota Kediri 2014.
2. Bagi Lahan Penelitian
Sebagai bahan dan data tentang Efektifitas Therapy Spiritual Emotional
Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Intensitas Merokok
Pada Siswa SMAN 5 Kota Kediri 2014.
3. Bagi Responden
Sebagi langkah guna meminimalisasi perokok di kalangan pelajar
khususnya pada siswa SMAN 5 Kota Kediri.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi, dokumentasi dalam
pengembangan penelitian-penelitian selanjutnya yang diharpakan jauh
lebih baik dan dapat bermanfaat bagi siapa saja.





7




BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Rokok
2.1.1 Pengertian Rokok
Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan
mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kemudian ada
juga yang menyebutkan bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus
termasuk cerutu atau bahan lainya yang dihasilkan dari tanamam Nicotiana
Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang
mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan (Hans Tendra,
2003).
2.1.2 Kandungan dalam Rokok
Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih dari
4000 bahan kimia beracun yang berbahaya dan dapat mengakibatkan maut. Di
antara kandungan asap rokok termasuklah aceton (bahan pembuat cat), naftalene
(bahan kapur barus), arsen, tar (bahan karsinogen penyebab kanker), methanol
(bahan bakar roket), vinyl chloride (bahan plastik PVC), phenol butane (bahan
bakar korek api), potassium nitrate (bahan baku pembuatan bom dan pupuk),
polonium-201 (bahan radioaktif), ammonia (bahan pencuci lantai) dan sebagainya
(Jaya, 2009). Racun yang paling utama ialah tar, nikotin, dan karbon monoksida
8


(Universiti Teknologi Malaysia, 2005). Bahan - bahan kimia yang terkandung
dalam rokok adalah sebagi berikut :

1. Nikotin
Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok. Nikotin
yang terkandung di dalam asap rokok antara 0.5-3 ng, dan semuanya diserap,
sehingga di dalam cairan darah atau plasma antara 40-50 ng/ml. Nikotin
merupakan alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi bersifat racun.
Zat ini hanya ada dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi otak atau
susunan saraf pusat. Nikotin juga memiliki karakteristik efek adiktif dan
psikoaktif. Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk
mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar
nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya
(Pusat Data dan Informasi, Persatuan Rumah Sakit Indonesia, 2006).
2. Karbon Monoksida (CO)
Gas ini bersifat toksik dan dapat menggeser gas oksigen dari
transport hemoglobin. Dalam rokok terdapat 2-6% gas karbon monoksida pada
saat merokok, sedangkan gas karbon monoksida yang diisap perokok paling
rendah 400 ppm (part per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi-
hemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%. Kadar normal karboksi-hemoglobin
hanya 1% pada bukan perokok (Sitepoe, 2000).
3. Tar
Tar hanya dijumpai pada rokok yang dibakar. Eugenol atau minyak
cengkeh juga diklasifikasikan sebagai tar. Di dalam tar, dijumpai zat-zat
9


karsinogen seperti polisiklik hidrokarbon aromatis, yang dapat menyebabkan
terjadinya kanker paru-paru. Selain itu, dijumpai juga N nitrosamine di dalam
rokok yang berpotensi besar sebagai zat karsinogenik terhadap jaringan paru-paru
(Sitepoe, 2000). Tar juga dapat merangsang jalan nafas, dan tertimbun di saluran
nafas, yang akhirnya menyebabkan batuk-batuk, sesak nafas, kanker jalan nafas,
lidah atau bibir (Jaya, 2009).
4. Timah Hitam
Timah hitam merupakan partikel asap rokok, setiap satu batang
rokok yang diisap mengandung 0,5 mikrogram timah hitam. Apabila seseorang
mengisap 1 bungkus rokok perhari, 10 mikrogram timah hitam akan dihasilkan,
sedangkan batas bahaya kadar timah hitam di dalam tubuh adalah 20
mikrogram/hari (Sitepoe, 2000).
5. Amoniak
Amonia adalah senyawa nitrogen dan hidrogen yang memiliki
aroma tajam dengan bau yang khas. Sebuah molekul amonia terbentuk dari ion
nitrogen bermuatan negatif dan tiga ion hidrogen bermuatan positif, dan karena itu
secara kimia direpresentasikan sebagai NH3 (rumus kimia amonia) (Tantri, 2013).
6. Hidrogen Sianida (HCN)
Hidrogen sianida merupakan gas yang tidak berbau, bau pahit
seperti bau kacang almond. HCN juga disebut formanitrille, dalam bentuk cairan
disebut asam prussit dan asam hidrosianik . Dalam bentuk cairan HCN tidak
berwarna atau dapat berwarna biru pucat pada suhu kamar. HCN bersiafat
flamable atau mudah terbakar serta dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan
10


peledak, juga sangat mudah bercampur dengan air sehingga mudah digunakan
(Jeny, 2011).

7. Nitrous Oxide
Nitric Oxide yang juga dikenal sebagai nitrogen monoksida,
merupakan molekul dengan rumus kimia (N1O1). Molekul ini merupakan zat
perantara yang sangat penting dalam siklus kimia di dalam tubuh. Pada manusia,
senyawa Nitric Oxide (N1O1) merupakan senyawa kimia yang penting untuk
tranportasi sinyal listrik didalam sel-sel, dan berfungsi dalam proses fisiologis dan
patologis. Demikian pula, senyawa ini bisa menyebabkan pelebaran pembuluh
darah atau dalam istilah kedokteran di sebut vasodilator yang kuat sehingga bisa
menurunkan tekanan darah (Taruna, 2012).
8. Fenol
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak
berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan
strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil.
Kata fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang
berikatan dengan gugus hidroksil. Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air,
yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya dapat
melepaskan ion H
+
dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan
anion fenoksida C6H5O

yang dapat dilarutkan dalam air (Adi, 2012).


9. Hidrogen Sulfida
11


Hidrogen sulfida adalah senyawa dari dua unsur zat kimia yaitu gas
hidrogen dan belerang yang sering disebut hidrogen sulfur. Gas Hidrogen Sulfida
merupakan gas beracun yang sangat berbahaya bagi manusia. Untuk mengurangi
kadar hidrogen sulfida yang terdapat pada limbah produksi gas bisa digunakan
zeolit sebagai media penyerap (Jumidah, 2011).
2.1.3 Kategori Perokok
Sitepoe (2000) mengkategorikan perokok berdasarkan jumlah
konsumsi rokok harian yaitu perokok ringan (1 10 batang/ hari), perokok sedang
(11 20 batang/ hari), perokok berat (> 20 batang/ hari). Perokok yang
mengkonsumsi rokok dalam jumlah yang lebih kecil memiliki kecenderungan
yang lebih besar untuk berhenti merokok (Kwon Myung & Gwan Seo, 2011).
Taylor (2009) menyebut istilah chippers untuk menjelaskan perokok yang
mengkonsumsi rokok kurang dari 5 batang/ hari dan biasanya chippers tidak
menjadi perokok berat sehingga sangat kecil kemungkinan mengalami
ketergantungan nikotin. Istilah lainnya pada perokok adalah social smoker yaitu
individu yang merokok hanya pada situasi sosial atau situasi tertentu misalnya
saat bertemu dengan teman lama di suatu acara atau pesta. Situasi sosial tersebut
bertindak sebagai isyarat atau pemicu untuk merokok (Hahn & Payne, 2003).
2.1.4 Tahap Menjadi Perokok
Merokok tidak terjadi dalam sekali waktu karena ada proses yang
dilalui, antara lain: periode eksperimen awal (mencoba-coba), tekanan teman
sebaya dan akhirnya mengembangkan sikap mengenai seperti apa seorang
12


perokok (Taylor, 2009). Ada 4 tahapan yang merupakan proses menjadi perokok
(Ogden, 2000) antara lain:


1. Tahap I dan II : Initiation dan Maintenance
Tahap initiation dan maintenance cukup sulit dibedakan. Initiation
merupakan tahap awal atau pertama kali individu merokok sedangkan
maintenance merupakan tahap dimana individu kembali merokok.
Charlton (Ogden, 2000) mengatakan bahwa merokok biasanya
dimulai sebelum usia 19 tahun dan individu yang mulai merokok pada usia
dewasa jumlahnya sangat kecil. Faktor kognitif berperan besar ketika individu
mulai merokok, antara lain: menghubungkan perilaku merokok dengan
kesenangan, kebahagiaan, keberanian, kesetia-kawanan dan percaya diri. Faktor
lainnya adalah memiliki orang-tua perokok, tekanan teman sebaya untuk
merokok, menjadi pemimpin dalam kegiatan sosial dan tidak adanya kebijakan
sekolah terhadap perilaku merokok.
2. Tahap III: Cessation
Merupakan suatu proses dimana perokok pada akhirnya berhenti
merokok. Tahap cessation terbagi 4, yaitu: precontemplation (belum ada
keinginan berhenti merokok), contemplation (ada pemikiran berhenti merokok),
action (ada usaha untuk berubah), maintenance (tidak merokok selama beberapa
waktu). Tahapan tersebut bersifat dinamis karena seseorang yang berada di tahap
contemplation dapat kembali ke tahap precontemplation.
13


3. Tahap IV : Relapse
Individu yang berhasil berhenti merokok tidak menjadi jaminan
bahwa ia tidak akan kembali menjadi perokok. Marlatt dan Gordon (dalam Ogden,
2000) membedakan antara lapse dengan relapse. Lapse adalah kembali merokok
dalam jumlah kecil sedangkan relapse adalah kembali merokok dalam jumlah
besar. Ada beberapa situasi yang mempengaruhi pre-lapse yaitu high risk
situation, coping behavior dan positive-negative outcome expectancies.
Saat individu dihadapkan dengan high risk situation maka individu
akan melakukan strategi coping behavior berupa perilaku atau kognitif. Bentuk
perilaku misalnya menjauhi situasi atau melakukan perilaku pengganti (makan
permen karet) sedangkan bentuk kognitif adalah mengingat alas an berhenti
merokok. Positive outcome expectancies (misalnya merokok mengurangi
kecemasan) dan negative outcome expectancies (misalnya merokok membuatnya
sakit) dipengaruhi pengalaman individu. No lapse berhasil dilakukan jika individu
memiliki strategi coping dan negative outcome expectancies serta peningkatan self
efficacy yang mempengaruhi individu tetap bertahan untuk tidak merokok.
Namun, jika individu tidak memiliki strategi coping dan memiliki positive
outcome expectancies serta self efficacy yang rendah maka individu akan
mengalami lapse (kembali merokok dalam jumlah kecil).
2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok
Taylor (2009) mengatakan bahwa kumpulan teman sebaya dan
anggota keluarga yang merokok menimbulkan persepsi bahwa merokok tidak
berbahaya sehingga meningkatkan dorongan untuk merokok. Perokok
berpendapat bahwa berhenti merokok merupakan hal yang sulit, meskipun mereka
14


sendiri masih tergolong sebagai perokok yang baru (Floyd, Mimms & Yelding,
2003). Ada beberapa alasan sehingga perokok tetap merokok, antara lain:
pengaruh anggota keluarga yang merokok, untuk mengontrol berat badan,
membantu mengatasi stres, self esteem yang rendah dan pengaruh lingkungan
sosial (Floyd, Mimms & Yelding, 2003). Selain itu, rendahnya self efficacy
(keyakinan terhadap kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik)
khususnya yang berkaitan dengan perilaku merokok yaitu keyakinan terhadap
kemampuan untuk mengontrol keinginan merokok sangat berpengaruh terhadap
berlanjutnya perilaku merokok (Bandura, 1997).
2.1.6 Dampak Merokok
1. Dampak Bagi Kesehatan
Menurut studi prospektif yang dilakukan Rosenman timbulnya
penyakit jantung koroner lebih tinggi 50 % bagi individu yang merokok kira-kira
12 batang sehari dan 200 % bagi individu yang merokok lebih dari 12 batang
sehari (Sarafino dalam Perwitasari, 2006). Merokok memiliki efek sinergis pada
faktor beresiko kesehatan lainnya, yaitu memperluas dampak faktor resiko lainnya
yang berkenaan dengan kesehatan (Dembroski & Mac Dougal dalam Shelly,
1995). Nikotin menghasilkan efek rangsang pada sistem jantung pada orang yang
memiliki kerusakan jantung maupun yang tidak memiliki kerusakan jantung.
Kematian mendadak pada perokok, dapat diakibatkan dari kurang baiknya aliran
darah karena pembuluh darah yang berkerut dan terhalangi pada detak jantung
yang dihasilkan oleh naiknya sirkulasi catecholamine (Benowitz dalam Shelly,
1995). Nikotin dapat juga menyebabkan kekejangan pembuluh arteri (vasopasm)
15


pada orang yang menderita penyakit atherosclerotic (Pomerlau dalam Shelly,
1995).
Merokok dapat menyebabkan penyakit jantung koroner karena ketika seseorang
merokok denyut jantungnya semakin cepat, sedangkan pemasokan zat asam yang
diperlukan oleh jantung kurang dari normal. Merokok dapat memicu terjadinya
trombosis koroner atau serangan jantung karena bekuan darah yang menutup salah
satu pembuluh darah utama yang memasok jantung, hal ini disebabkan oleh
nikotin yang mengganggu irama jantung yang teratur dan membuat darah dalam
tubuh menjadi lengket. Asap rokok ketika merokok dapat menyebabkan bronkitis
(Amstrong, 1992).
2. Dampak Bagi Psikologis
Merokok juga dapat menimbulkan dampak psikologis yaitu
Memperoleh perasaan positif seperti rasa santai, rasa senang, atau sebagai
penambah semangat, Mengurangi perasaan yang negatif seperti rasa cemas atau
rasa tegang, Sebagai obat dari ketergantungannya secara psikologis yang
mengatur keadaan emosional, baik yang positif maupun yang negative (Sarafino,
1990).
Seseorang merokok karena ketagihan nikotin dan tanpa nikotin hidupnya terasa
hampa. Mereka menjadi terbiasa untuk merokok agar dapat merasa santai dan
mereka menikmatinya sewaktu merokok. Perilaku merokok telah menjadi bagian
dari perilaku sosial mereka, secara tidak langsung tanpa merokok mereka akan
terasa hampa dan merokok merupakan penopang bermasyarakat. Mereka yang
pemalu perlu mengambil tindakan tertentu untuk menutupi perasaan malunya di
hadapan orang lain dengan merokok (Amstrong, 1992).
16


2.2 Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)
2.2.1 Sejarah SEFT
Metode SEFT merupakan sebuah pengembengan dan
penyempurnaan dari beberapa metode terapi sebelumnya. Teknik ini berdasarkan
prinsip prinsip yang sama dengan akupuntur, akupresur, applied kinesiology,
Tought Fields Therapy (TFT) dan Emotional Freedom Technique (EFT)
(Zainuddin, 2009;Thayib, 2010).
Pada tahun 1991, Erika dan Helmut Simon menemukan mayat
yang masih utuh terendam dalam glacier (sungai dengan suhu di bawah titik beku)
di daerah sekitar perbatasan Austria dan Italia. Di tubuh mayat tersebut terdapat
tatto yang menandai titik-titik utama meridian tubuh. Setelah di uji dengan
carbon dating test, mayat ini diduga berumur 5300 tahun. Para ahli akupuntur
modern berpendapat bahwa titik-titik akupuntur yang ditandai dengan tatto di
tubuh mayat tersebut tentu dibuat oleh seorang ahli akupuntur kuno yang sangat
kompeten, mengingat ketepatan dan kompleksitasnya. Karena itu mereka
berkesimpulan bahwa ilmu akupuntur telah berkembang jauh sebelumnya,
mungkin sekitar 5500 tahun yang lalu (Zainuddin, 2009).
Di Cina terdapat dua buku tertua yang membahas tentang adanya
sistem energi tubuh (life energy). Buku tersebut adalah buku Yi Jing yang ditulis
oleh Fu Xi pada tahun 2852 SM (di Barat dkenal dengan The I Ching Book of
Changes) dan buku Huang Ni Dei Jing (The Yellow Emperors Classic on
Internal Medicine) yang ditulis oleh Kaisar Kuning yang memerintah Cina pada
abad 26 SM (2696 2597 SM). Umur Kaisar Kuning yang mencapai 100 tahun
diduga berkaitan dengan pengetahuan dan praktek yang ia lakukan berhubungan
17


dengan energy medicine. Akupuntur dan akupresur merangsang energi tubuh yang
berhubungan langsung dengan sumber rasa sakit (gangguan fisik). Dengan
menancapnya jarum atau menekan ke beberapa titik yang terkadang terletakjauh
dari rasa sakit, maka hasilnya rasa sakit akan hilang (Zainuddin, 2009).
Pada tahun 1964, Dr. George Goodheart, seorang ahli chiropractic
(terapi pijat pada tulang belakang untuk menyembuhkan berbagai penyakit fisik)
meneliti tentang hubungan antara kekuatan otot, organ dan kelenjar tubuh dengan
energy meridian. Metode yang digunakannya sebagai Applied Kinesiology ini
mendiagnosa penyakit pasien dengan cara menyentuh beberapa bagian otot tubuh.
Asumsinya adalah penyakit di bagian dalam tubuh seperti jantung, paru-paru,
liver, dsb berdampak pada melemahkan otot tertntu. Dengan merasakan otot
tertentu mana yang lemah maka dapat menentukan organ tubuh mana yang sakit
(Zainuddin, 2009; Thayib, 2010).
Prinsip applies kinesiology ditindaklanjuti lebih jauh oleh seorang
psikiater pakar pengobatan holistik, Dr. John Diamond. Ian memperkenalkan
cabang baru psikologi yaitu Energy Psycology, yang mengabungkan prisnsip
pengobatann timur dengan psikologi. Dalam energy psychology menggunakan
sistem energi tubuh unutk mempengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku. Teori ini
yang menjadi pondasi bagi lahirnya Tought Fields Therapy (TFT) yang dipelopori
oleh Dr. Roger Callahan (Zainuddin, 2009; Thayib, 2009).
Metode TFT memanfaatkan sistim energi tubuh dan melakukan
ketukan (tapping) pada titik-titik tertentu. Sebelum terapi dilakukan, harus
didiagnosa terlebih dahulu jenis penyakit dan di mana titik yang harus diketuk.
Titik yang diketuk berbeda-beda, disesuaikan dengan penyakitnya. Namun
18


dirasakan sulit bagi orang awam untuk mempelaajari teknik ini. Untuk
menguasainya diperlukan training-training yang tidak mudah dan tidak murah
(hingga USD 100.000,-) (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010).
Selama beberapa tahun sejak tahun 1991, Gary Craig, seorang
murid Dr. Callahan dan insinyur lulusan Standford University telah berhasil
menyederhanakan algoritma TFT ini. Dari sinilah lahir istilah Emotional
Freedom Technique (eft). Prosesnya dibuat universal agar bisa diterapkan untuk
semua permasalahan mental, emosional dan fisik. Jika pada TFT menggunakan
urutan titik meridian yang kompleks dan aplikasinya berbeda-beda sesuai dengan
jenis penyakitnya, maka pada EFT hanya mengetuk seluruh titik meridian untuk
setiap masalah, sehingga selalu dapat menggunakan titik yang tepat. Dengan
demikian EFT lebih mudah untuk dipelajari, dapat digunakan oleh semua orang
dan dengan protokol yang sama digunakan untuk semua masalah. Bahkan oleh
Steve Wells, seorang psikolog klinis dari Australia, EFT dikembangkan lebih jauh
lagi. Tidak hanya digunakan untuk penyembuhan saja, tetapi diperluas
kegunannya untuk meningkatkan prestasi (peak performance) (Zainduddin, 2009;
Thayib 2010).
Di Indonesia, Ahmad Faiz Zainuddin mengembangkan apa yang
dinamainya dengan Spirirtual-EFT (selanjutnya disebut SEFT) sejak tanggal 17
Desember 2005. Ia belajar langsung EFT dari Steve Wells dan Gary Craig. SEFT
merupakan pengembangan dari EFT, yang menggabungkan antara spiritualitas
(melalui doa, keiklasan dan kepasrahan) dan energy psychology untuk mengatasi
berbagai macam masalah fisik, emosi serta untuk meningkatkan performa kerja.
Latar belakang masyarakat Indonesia yang agamis, sudah menjadi sesuatu yang
19


taken for granted bahwa doa sangat penting untuk penyembuhan, bahakan
untuk pemecahan segala maslah hidup. Hal ini didukung oleh penelitian Larry
Dossey, MD, Seorang dokter ahli penyakit dalam yang melakukan penelitian
ektensif tentang efek doa dan spiritualitas memiliki kekuatan yang sama besar
dengan pengobatan dan pembedahan (Zainuddin, 2009).



2.2.2 Definisi SEFT
SEFT merupakan teknik penggabungan dari sistem energi tubuh
(energy medicine) dan terapi spiritual dengan menggunakan metode tapping pada
beberapa titik tertentu pada tubuh. SEFT bekerja dengan prinsip yang kuraang
lebih sama dengan akupuntur dan akupresur. Ketiganya berusaha merangsang
titik-titik kunci pada sepanajang 12 jalur energi (energy meridian) tubuh. Bedanya
dibandingkan metode akupuntur dan akupresur adalah teknik SEFT menggunakan
unsur spiritual, cara yang digunakan lebih aman, lebih mudah, lebih cepat dan
lebih sederhana, karena SEFT hanya menggunakan ketukan ringan (tapping)
(Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012).
Sebagian besar penyakit ternyata berasal dari gangguan emosi atau
psikologis. Contohnya, ketika seseorang stres, ada yang mengalami diare, ada
yang perutnya mulas dan beban pikiran yang menyebabkan seseorang terserang
penyakit lambung (maag). Dalam dunia kedokteran istilahnya adalah
psikosomatis, yaitu gangguan emosi yang menyebabkan penyakit. Dengan metode
SEFT membuat diri penderita bisa menerima persoalan yang mengganggu
20


stabilitas emosinya. Ketika penderita tersebut bisa berdamai dengan situasi yang
mengganggu emosinya, maka penyakit penyakit fisik akan hilang dengan
sendirinya (Saputra, 2012).
2.2.3 Perbedaan SEFT dan EFT
Hampir 90% isi SEFT adalah EFT, dalam hali ini yang dimaksud
adalah titik titiknya. Perlu diketahui bahwa semua teknik energy psychology
yang memakai tapping, mulai dari TFT-nya Roger Callahan, EFT-nya Gary Craig,
PET-nya (Provocative Energy Technique) Steve Walls dan David Lake
menggunakan titik-titik tapping yang sama. Sejak 5000 tahun yang lalu titik-titik
tersebut sudah digunakan oleh akupuntur, moxa dan akrupresur dan sebagainya.
Proses yang dilakukan sambil men-tapping itulah yang membedakan EFT, TFT,
PET dengan SEFT (Zainuddin, 2009). Berikut ini perbedaannya :
Tabel 2.3 Perbedaan EFT dan SEFT
EFT SEFT
Basic Philosopy
Self centerd
Asumsi kesembuhan
berasal dari diri sendiri,
begitu individu bisa
menerima dirinya sendiri
God centered
Asumsi kesembuhan
berasal dari Tuhan YME,
begitu individu bisa iklas
dan pasrah
Eventhough I have Set-Up
pain... I deeply profound
and accept my self
Walaupun saya sakit ini...
Ya Allah... walaupun saya
sakit ini... saya iklas
menerima sakit saya ini,
saya pasrahkan
21


saya terima diri sendiri
sepenuhnya..
kesembuhannya pada-MU..
Sikap Saat Tapping
EFT dilakukan dalam
suasana santai, kaena
fokusnya pada diri sendiri
SEFT dilaakukan dengan
pennuh keyakinan bahwa
kesembuhan datangnya
dari Tuhan YME,
kekhusukkan, keiklasan,
kepasrahan dan rasa syukur
EFT dengan menyebut
Tune In masalahnya.
Sakit kepala ini, rasa pedih
ini, dan seterusnya...
SEFT tidak terlalu fokus
pada detail masalahnya,
cukup melakukan tiga hal
secara bersamaan :
1. Rasakan sakitnya,
2. Fokuskan pikiran ke
tempat sakit,
3. Iklaskan dan pasrahkan
kesembuhan sakit itu
kepada Tuhan YME.
Tapping
EFT menggunakan 7 atau
14 titik
SEFT menambahkan
titiknya hingga 18 titik
Unsur Spiritualitas
Tidak ada 90% penekanan pada unsur
22


spiritualitas
Sumber : Zainuddin, 2009
2.2.4 Metode SEFT
SEFT memandang jika aliran energi tubuh terganggu karena dipicu
kenangan masa lalu atau trauma yang tersimpan dalam alam bawah sadar, maka
emosi seseorang akan menjadi kacau. Mulai dari yang ringan, seperti bad mood,
malas, tidak termotivasi melakukan sesuatu, hingga yang berat, seperti Post
Traumatic Stress Disorder (PTSD), depresi, phobia, kecemasan berlebihan dan
stres emosional berkepanjangan. Sebenarnya semua ini penyebabnya sederhana,
yakni terganggunya sistim energi tubuh. Karena itu solusinya juga sederhana,
menetralisir kembali gangguan energi itu dengan metode SEFT (Zainuddin, 2009;
Saputra, 2012). Zainuddin (2009) menjelaskan teknik teknik yang mendasari
SEFT adalah sebagai berikut :
a. Emotional Freedom Technique (EFT)
Hainsworth (2008) mengatakan bahwa EFT diperkenalkan pada
tahun 1995 oleh Gary Craig. EFT adalah metode sederhana yang menekankan
fokus pada masalah dalam diri individu disertai dengan menekan secara lembut
pada titik akupuntur (tapping) di wajah , tubuh bagian atas dan tangan. EFT dapat
membantu berbagai masalah emosi dan fisik, diantaranya adalah fobia, gangguan
fisik dan seksual, stress dan kecemasan, trauma, alergi, sakit kepala, migrain,
kecanduan, kepercayaan diri, dan insomnia.
Hainsworth (2008) menjelaskan bahwa banyak saluran energi yang
berjalan dalam tubuh seseorang. Energi tersebut sangat penting perannya bagi
kesehatan seseorang. Energi tersebut mengalir dalam 12 jalur energi yang disebut
23


energy meridian. Jika aliran energi ini terhambat atau kacau maka timbullah
gangguan emosi atau penyakit fisik.
Proses penyembuhan dalam EFT tidak perlu mengungkap
peristiwa atau emosi masa lalu. Individu hanya perlu menekankan apa yang
dialami pada saat ini dan mengikuti penyebab timbulnya perasaan negatif tersebut.
Individu tidak harus mengalami kembali emosi lama, hanya perlu fokus untuk
menyembuhkan emosi-emosi negatif tersebut (Hainsworth, 2008).



Adapun langkah langkah yang dilakukan dalam EFT adalah sebagai berikut :
1) Estimate Severity
Hainsworth (2008) mengatakan bahwa ada baiknya terlebih dahulu
subjek menentukan nilai seberapa tinggi intensitas emosi / rasa sakit yang dialami
sekarang dengan menggunakan skala 0-10 (0 = tidak terasa, 10 = intensitas
maksimum). Nilai subjektif tersebut (0-10) yang menjadi tolok ukur kemajuan
setelah SEFT diterapkan.
2) The Set Up
Hainsworth (2008) mengatakan bahwa semua individu memiliki
aspek bawah sadar yang tidak siap untuk menyembuhkan karena menganggap
jauh lebih aman dengan keadaan dirinya yang sekarang. The set up dirancang
untuk membantu individu agar siap untuk sembuh. Cara melakukan set up adalah
24


dengan mengucapkan kalimat set up seperti Meskipun saya ingin merokok
ketika minum kopi padahal saya juga ingin berhenti merokok, saya benar benar
menerima dan mencintai diri saya sendir . Kalimat tersebut diucapkan sebanyak
tiga kali sambil menekan pada titik karate chop yaiti pada samping telapak tangan
(Hainsworth, 2008).
3) Tapping
Pada bagian tapping yang dilakukan adalah dengan menekan atau
mengetuk 5-7 kali ketukan pada titik-titik di bagian tubuh tertentu sambil
mengucapkan permasalahn yang sedang dialami subjek. Adapun titik-titik tersebut
adalah pada bagian top of head (bagian atas kepala), end of eyebrow (titik
permulaan alis mata), side of eye (titik permulaan alis mata), under eye (2 cm di
bawah mata), under nose (di bawah hidung), chin (antara dagu dan bagian bawah
bibir), collarbone (pada ujung tempat bertemu tulang dada dan tulang rusuk
pertama), under arm, (untuk laki-laki terletak di bawah ketiak sejajar dengan
putting susu dan wanita terletak di perbatasan antara tulang dada dan bagian
bawah payudara), gamut (di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan
tulang jari kelingking), karate point (di samping telapak tangan) (Hainsworth,
2008).
Hainsworth (2008) juga menjelaskan bahwa ketika subjek
menekan pada titik-titik tertentu dalam tubuh yang telah disebutkan di atas,
sadarilah bahwa setiap kenangan atau emosi atau pikiran atau perasaan dalam
tubuh yang muncul ke permukaan akan menuntun subjek pada permasalahan atau
apa yang harus diucapkan pada putaran tapping selanjutnya.
4) Conntinuation
25


Pada tahap conntinuation individu memperkirakan kembali berapa
tinggi intensitas emosi / rasa sakit yang dialami. Jika sudah turun namun belum
nol maka melakukan langkah-langkah EFT kembali mulai langkah pertama
hingga ketiga. Akan tetapi, kalimat yang diucapkan ketika melakukan set up
disesuaikan menjadi seperti contoh berikut ini : Meskipun saya masih ingin
merokok ketika minum kopi, padahal saya juga ingin berhenti merokok, saya
benar-benar mencintai dan menerima diri saya sendiri". Individu juga dipastikan
untuk memasukkan setiap kenangan, pikiran, emosi atau perasaan dalam tubuhnya
yang muncul saat melakukan EFT berikutnya (Hainsworth, 2008).

5) Nine Gamut Prosedure
Hainsworth (2008) mengatakan bahwa nine gamut procedure
adalah proses keseluruhan dari sembilan bagian dari bentuk panjang EFT yang
pada awalnya diajarkan namun tidak banyak digunakan pada saat sekarang. Tetapi
proses ini bisa sangat kuat dalam menghilangkan semua link dalam otak seseorang
untuk menghilangkan peristiwa traumatis. Hainsworth (2008) juga mengatakan
bahwa beberapa praktisi percaya bahwa melakukan proses ini sangat penting
untuk menghilangkan trauma. Hainsworth (2008) mengatakan 9 langkah yang
dilakukan dalam nine gamut procedure sambil menekan pada titik gamut dan
tuning adalah menutup mata, membuka mata, mata digerakkan dengan kuat ke
kanan bawah, mata digerakkan dengan kuat ke kiri bawah, memutar bola mata
searah jarum jam, memutar bola mata berlawanan arah jarum jam, bergumam
dengan selama 3 detik, menghitung 1,2,3,4,5 kemudian diakhiri dengan
bergumam lagi selama 3 detik (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012).
26


6. Self Hypnotherapy (Ericksonian)
Sarafino (1990) menyebutkan bahwa hypnosis merupakan salah
satu teknik yang sudah digunakan sudah digunakan beberapa dokter sejak lama
untuk menghilangkan rasa sakit (analgesik) dalam pembedahan. Ketika dalam
kondisis terhipnosis perhatian seseorang terhadap dirinya (termasuk tubuh)
berkurang, bahkan hilang sama sekali.
Masih menurut Sarafino (1990) menjelaskan bahwa meditasi dapat
dipandang sebagai suatu bentuk self hypnosis karena pada saat meditasi
seseorang dipuatkan pada objek meditasi (benda, napas, mantra / doa) sehigga
semakin lama seseorang semakin tidak merasakan rangsangan yang ada di
sekitarnya, termasuk rangsang sakit.
Zainuddin (2009) mengatakan bahwa dalam SEFT yang digunakan
adalah ericksonian hypnotherapy. Subjek menghipnosis diri sendiri untuk
menghapus program-program bawah sadar yang menjadi akar penyebab dari
emosi negatif yang dialami.
7. Meditation and Relaxation
Smith (Subandi, 2003) mengatakan bahwa istilah meditasi
mengacu pada sekelompok latihan untuk membatasi pikiran dan perhatian.
Sementara itu, Walsh (Subandi, 2003) mengungkapkan bahwa meditasi
merupakan teknik atau metode latihan yang digunakan untuk melatih perhatian
supaya dapat meningkatkan taraf kesadaran yang selanjutnya dapat dapat
membawa proses-proses mental dapat terkontrol secara sadar.
Zainuddin (2009) mengatakan bahwa walapun terdapat berbagai
jenis dan pendapat mengenai meditasi, tapi jenis meditasi yang paling banyak
27


dipraktikan adalah yang membawa subjek pada kondisi tenang dan relaks,
merasakan nafas, menyadari kehadiran Tuhan dalam diri, serta mengarahkan
untuk kembali pada diri sejati (fitrah). Saat melakukan SEFT, subjek dianjurkan
melakukannya dalam kondisi meditative (yakin, khsyuk, ikhlas, pasrah, dan
syukur). Jika demikian, efek SEFT akan terasa lebih efektif.
8. Provocative Therapy
Farrelly (2002) mengatakan bahwa bahasa terpai konvensional
yang penggunaannya tidak hanya menekankan pada kehebatan kata kata yang
disampaikan kapada klien tetapi lebih menekankan pada kemampuan terapis
supaya klien mampu memeriksa kembali asumsinya sendiri terhadap
permasalahan yang di hadapinya dan menjadikannya sebagai sesuatu yang dapat
menyembuhkan dan membuatnya berubah.
9. Logotherapy
Southwick dkk. (2006) mengatakan bahwa secara bahasa
logotherapy adalah penyembuhan melalui makna. Logotherapy adalah psikoterapi
yang memusatkan pada kebermaknaan yang berasal dari filsafat eksistensial dan
didasarkan pada pengalaman hidup penggagas psikoterapi tersebut yaitu Viktor
Frankl.
10. Powerfull Prayer
Barth (2004) menyatakan bahwa terdapat bukti ilmiah yang
mengatakan bahwa doa dan spiritualitas berpengaruh terhadap kesehatan.
Pernyataan tersebut didukung dengan penelitian Koenig (2004) yang menyatakan
bahwa ada hubungan antara agama, spiritualitas, dan kesehatan baik mental
maupun fisisk.
28


Zainuddin (2009) menjelaskan bahwa dalam SEFT, 90%
menekankan pada unsur spiritualitas. Subjek dibawa pada keyakinan bahwa
kesembuhan berasal dari Tuhan sehingga subjek dapat ikhlas dan pasrah terhadap
masalah ataupun sakit yang sedang dialaminya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teknik yang
mendasari SEFT adalah seluruh teknik yang terdapat dalam EFT, ditambahkan
dengan Logotherapy, Self Hypnosis (Ericsonian), Transcendental Relaxation &
Meditation, Sedona Methode, Provocative Therapy, dan Powerfull Prayer.
Zainuddin (2009) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan ketika melakukan SEFT agar hasilnya efektif :
a. Testing
Sebelum menerapkan SEFT, terlebih dahulu subjek menentukan
nilai seberapa tinggi intensitas emosi/rasa sakit yang dialami sekarang dengan
menggunakan skala 0-10 (0 = tidak terasa, 10 = intensitas maksimum). Nilai
subjektif tersebut (0-10) yang menjadi tolok ukur kemajuan setelah SEFT
diterapkan.
b. Aspects
Ketika melakukan SEFT, subjek dibantu untuk memikirkan dan
membayangkan masalah yang dialaminya. Memikirkan dan membayangkan aspek
yang membuat subjek ingin merokok, sudah dapat menimbulkan gangguan energi
yang hampir sama ketika subjek sedang merokok. Efektivitas SEFT yang
diterapkan pada saat membayangkan aspek tersebut cenderung bertahan.
c. Be Spesific
29


Semakin spesifik mengenali akar masalah dari gangguan emosi,
pikiran, dan perilaku yang dialami maka semakin efektif hasilnya.
Berikut ini adalah uraaian tentang bagaimana melakukan SEFT untuk
membebaskan aliran energi di tubuh yang dengannya akan membebaskan emosi
dari berbagai kondisi negatif (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012) :
a. The Set Up
The Se-Up bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh
terarahkan dengan tepat.Langkah ini dilakukan unuk menetralisir psychological
reversal atau perlawanan psikologis (biasanya berupa pikiran negative spontan
atau keyakinan bawah sadar negatif, seperti kesulitan untuk melepaskan diri dari
kecanduan merokok).Cara menetralisir psychological reversal tersebut adalah
dengan melakukan the set-up words. Dalam bahasa religius, the set-up words
adalah doa kepasrahan kepada Allah SWT. Contoh the set-up wordsadalah Ya
Allah walaupun saya ingin sekali merokok padahal saya ingin bisa berhenti
merokok.,saya ikhlas menerima masalah saya ini. Saya pasrahkan padamu
kesembuhan saya dari kecanduan rokok.
b. The Tune In
Cara melakukan tune-in adalah dengan memikirkan sesuatu atau
peristiwa spesifik tertentu yang dapat membangktkan emosi negatif yang akan
dihilangkan atau situasi dimana seseorang sangat ingin merokok. Tujuannya
adalah untuk secara spesifik menetralisir emosi negatif atau sakit fisik yang
dirasakan. Untuk membantu terjadinya tune-in adalah dengan terus memikirkan
sesuatu yang membangkitkan respon emosi negatif tersebut sekaligus mengulang-
ngulang kata pengingat yang mewakili emosi yang dirasakan. Dalam hal ini, kata
30


pengingatnya adalah kecanduan rokok. Cara lain untuk melakukan tune-in adalah
dengan mengganti kata pengingatnya dengan kalimat saya ikhlas, saya pasrah
pada-Mu ya Allah. Tune-in tetap dilakukan sampai semua teknik SEFT dilakukan
hingga akhir.
c. The Tapping
Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik
titik tertentu di tubuh sambil terus Tune In. Titik titik ini adalah titik titik
kunci dari The Major Energy Meridians, yang jika kita ketuk beberapa kali
akan berdampak pada netralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita
rasakan. Tapping menyebabkan aliran tubuh berjalan dengan normaal dan
seimbang kemabali (Zainuddin, 2009).
Titik titik yang akan diberikan ketukan ringan berada di bagian
kepala, daerah dada dan tangan. Pada bagian kepala titik titik tersebut terdiri
dari titik CR (Crown) yaitu titik di bagian atas kepala (ubun ubun), titik EB (Eye
Brow) yaitu titik permulaan alis mata dekat pangkal hidung, titik SE (Side of the
Eye) yaitu titik diatas tulang ujung mata sebelah luar, titik UE (Under the Eye)
yaitu titik tepat di tulang bawah kelopak mata, titik UN (Under the Nose) yaitu
titik yang letaknya tepat dibawah hidung dan titik Ch (Chin) yaitu titik yang
letaknya diantara dagu dan bagian bawah bibir (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010;
Saputra, 2012).
Pada bagian dada titik titik tapping terdiri dari titik CB (Colar
Bone) yaitu titik yang letaknya di ujung tempat bertemunya tulang dada dan
tulang rusuk pertama, titk UA (Under the Arm) yaitu titik yang berada dibawah
ketiaak sejajar dengan puting susu (pria) atau tepat di bagian bawah tali bra
31


(wanita) dan titik BN (Below Nipple) yaitu titik yang letaknya 2,5 cm dibawah
puting susu (pria) atau di perbatasan antara tulang dada dan bagian bawah
payudara (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012).
Pada bagian tangan ada 9 titik tapping yang terdiri dari titik IH
(Inside of Hand) yaitu titik yang letaknya di bagian dalam tangan yang berbatasan
dengan telapak tangan, titik OH (Outside of Hand) yaitu titik yang letaknya di
bagian luar tangan yang berbatasan dengan telapak tangan, titik Th (Thumb) yaitu
titik yang letaknya pada ibu jari di samping luar bagian bawah kuku, titik IF
(Indeks Finger) yaitu titik yang letaknya pada jari telunjuk di samping luar bagian
bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari), titik MF (Middle Finger) yaitu
titik yang letaknya pada jari tengah di samping luar bagian bawah kuku (di bagian
yang mengahdap ibu jari), titik RF (Ring Finger) yaitu titik yang letaknya pada
jari manis di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu
jari), titik BF (Baby Finger) yaitu titik yang letaknya pada jari kelingking di
samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari), titik KC
(Karate Chop) yaitu titik yang letaknya di samping telapak tangan, bagian yang
digunakan untuk mematahkan balok pada olahraga karate dan titik GS (Gamut
Spot) yaitu titik yang letaknya di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan
tulang jari kelingking (Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012).
Khusus untuk Gamut Spot, sambil men-tapping titik tersebut, kita
melakukan The 9 Gamut Procedure. Ini adalah 9 gerakan untuk merangsang
otaak. Tiap gerakan dimaksudkan untuk merangsang bagian otak tertentu.
Sembilan gerakan itu dilakukan sambil tapping pada salah satu titik energi tubuh
yang dinamakan Gamut Spot. Sembilan gerakan itu adalah menutup mata,
32


membuka mata, mata digerakkan dengan kuat ke kanan bawah, mata digerakkan
dengan kuat ke kiri bawah, memutar bola mata searah jarum jam, memutar bola
mata berlawanan arah jarum jam, bergumam dengan berirama selama 3 detik,
menghitung 1, 2, 3, 4, 5 kemudian diakhiri dengan berguamam lagi selama 3 detik
(Zainuddin, 2009; Thayib, 2010; Saputra, 2012).
The 9 Gamut Procedure ini dalam teknik psikoterapi kontemporer
disebut dengan teknik EMDR (Eye Movement Desensitization Repatterning).
Setelah menyelesaikan The 9 Gamut Procedure, langkah terakir adalah
mengulang lagi tapping dari titik pertama hingga ke-17 (berakir di karate chop),
dan di akhiri dengan mengambil napas panjang dan menghembuskannya, sambil
menucap rasa syukur (Alhamdulillah...) (Zainuddin,2009; Thayib, 2010; Saputra,
2012).
Walaupun beberapa fakta telah membuktikan keberhasilan SEFT
dalam membantu banyak orang untuk berhenti merokok namun belum ada
penelitian yang mengkaji secara ilmiah terkait efektivitas terapi tersebut. Oleh
karena itu, peneliti tertarik meneliti efektivitas SEFT sehingga efektivitas SEFT
tidak hanya dibuktikan secara empiris namun dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
2.3 Peran Perawat Spesialis
Sebagai seorang perawat metode SEFT ini dapat digunakan untuk
membantu pasien mentralisir pikiran pikiran negatif dengan kaliamt doa dan
menumbuhkan sikap positif bahwa apapun masalah pikiran, jiwa dan rasa sakitnya
ia iklas menerima serta mempasrahkan kesembuhannya pada Allah SWT. Dengan
melepaskan beban emosional (pikiran negatif), baik itu yang bersumber dari
33


dalam dirinya sendiri maupun yang berasal dari lingkungannya, maka aliran
energi tubuh yang terlambat (blocking) dapat berjalan dengan normal dan
seimbang kembali (Zainuddin, 2009).
SEFT ini memandang individu sebagai suatu keutuhan, baik yang
bersifat energi, fisik, emosi, mental, sosial, maupun spiritual. Lingkungan sangat
berbengaruh dalam membentuk persepsi dan pengalaman individu dan lebih jauh
akan mempengaruhi kesehatan fisik dan emosionalnya (Zainuddin, 2009; Saputra,
2012).
Menurut teori keperawatan yang dikemukakan oleh Calista Roy
individu akan mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan
perilaku secara adaptif. Manusia adalah sebagai sebuah sistim adaptif yang
menerima input rangsangan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri
individu itu sendiri. Manusia memiliki fungsi fisiologi, aspek psikososial dan
spiritual. Manusia juga membutuhkan interaksi satu sama lain yang fokusnya
adalah untuk saling meberi dan menerima cinta kasih sayang, perhatian dan saling
menghargai. (Alligood & Tomey, 2006).








34












BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep
Input Proses Output






Outcome


Siswa SMAN
5 Kota Kediri
- Berkurangnya
tingkat perokok
pada siswa
- Dapat
memahami akan
dampak dari
merokok
Terapi SEFT
Menurunkan
intensitas merokok
pada siswa
Faktor yang
memepengaruhi :
- Lingkungan
- Pergaulan
- Perilaku
35



Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak Diteliti

Berdasrkan gambar 3.1 dapat dijelaskan bahwa input pada
kerangka konseptual yang akan diteliti adalah Siswa SMA N 5 Kediri. Proses
dalam penelitian ini terapi SEFT Spiritual Emotional Freedom Technique.
Dengan diberikan terapi SEFT diharapkan dapat mengahasilkan output yang
diharapkan yaitu dapat berkurangnya tingkat peroko pada siswa SMAN 5 Kediri
dan mengetahui akan bahaya atau dampak merokok, sehingga dengan demikian
outcome yang diperoleh dapat menurunkan intensitas merokok pada siswa SMAN
5 Kediri.
3.2 Hipotesis
Hipotesis adalah suatu pernyataan yang merupakan jawaban
sementarapeneliti terhadap pertanyaan penelitian (Dahlan, 2008). Hipotesis inilah
yang akan dibuktikan oleh peneliti melalui penelitian. Ada dua kemungkinan
hasil apakah hipotsis penelitian terbukti atau tidak terbukti.
Hipotesis dalam penelitian ini (H
1
) adalah ada perbedaan intensitas
merokok antara sebelum dan sesudah Terapi SEFT pada Siswa SMAN 5 Kediri.
Selanjutnya diubah dalam bentuk hipotesis statistik (H
0
) yang berbunyi tidak ada
perbedaan sebelum dan sesudah Terapi SEFT pada Siswa SMAN 5 Kediri.



36












BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan pendekatan
the one group pretest posttest design yaitu suatu desain yang memberikan
perlakuan pada satu kelompok intervensi, kemudian diobservasi sebelum dan
sesudah intervensi (Polit & Beck, 2006). Dalam desain ini pada sekelompok
subyek penelitian dilakukan pemeriksaan terhadap keadaan yang diteliti,
kemudian dilakukan intervensi. Setelah periode waktu yang dianggap cukup
dilakukan pemeriksaan kembali terhadap keadaan tersebut. Jadi setiap subyek
penelitian menajdi kontrol terhadap dirinya sendiri. Kekurangan desain ini adalah
hasilnya tidak dapat diklaim sebagai mutlak efek dari perlakuan yang diberikan
(Sastroasmoro, 2010). Penelitian ini menggunakan pendekatan the one group
pretest posttest design karena adanya keterbatasan waktu penelitian sehingga
37


dikuatirkan jumlah sampel yang didapatkan terlalu sedikit untuk dibagi menjadi
kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Pretest dan posttest dilakukan dengan menggunakan angket
dorongan perilaku. Langkah utama penerapan SEFT yang diharapkann oleh
Zainuddin (2009) yang diadaptasi dari Emotional Freedom Technique nya Gary
Craig (2007). Tahapan penerapan SEFT meliputi the set up, the tune in, the
tapping, nine gamut proccedure, dan the tapping again.



Untuk lebih jelasnya desain ini dapat dilihat pada skema 4.1 sebagai berikut :
Skema 4.1 Kerangka Kerja Penelitian

Pretest Intervensi Posttest Output




O1 X O2

Keterangan :
O1 = pretest
X = SEFT
O2 = posttest
Kondisi
Merokok
sebelum
intervensi
SEFT
Terapi
SEFT
Kondisi
Merokok
sesudah
intervensi
SEFT
Intensitas merokok
sebelum terapi
SEFT
Intensitas merokok
sesudah terapi
SEFT
Karakteristik
responden :
Umur,lingkungaan,
perilkau
O1 X O2
38



4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek (Arikunto, 1998). Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2002). Sebagai populasi penelitian
adalah siswa SMA 5 Kota Kediri.


4.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2002). Sampel dalam penelitiannya ini adalah
siswa SMA 5 Kota Kediri. Pengambilan sampel dilakukan menurut Kuntoro
(2006) adalah :
(t-1)(r-1) 15 atau (t-1)(r-1) 20
Keterangan :
n = jumlah replikasi
t = jumlah perlakuan
Nilai n yang diperoleh dari rumus ini adalah 15 20 sampel, dengan jumlah 1
perlakuan.
4.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode simple random sampling, yaitu dengan cara memilih sampel
39


diantara populasi sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi
yang telah dikenal sebelumnya.
Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya,
maka sebelum dilakukan pengambilan sampel, maka ditentukan kriteria inklusi
dan eksklusi. Kriteria tersebut sebagai berikut :
1. Kriteria inklusi
1) Merupakan perokok dari Siswa SMAN 5 Kediri
2. Kriteria eksklusi
1) Bukan perokok dari Siswa SMAN 5 Kediri

4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.4.1 Klasifikasi Variabel Penelitian
Variabel independent yaitu Terapi SEFT, sedangkan variabel
dependent (Y
1
) dalam penelitian ini adalah tingkat intensitas merokok
sebelum dan (Y
2
) tingkat intensitas merokok sesudah Terapi SEFT.
4.4.2 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala Kriteria
Teknik Spiritual
Emotional
Freedom
Technique
(SEFT)
Suatu terapi
komplementer body mind
therapy untuk
membebaskan aliran
energi di tubuh, yang
dengannya akan
membebaskan emosi dari
berbagai kondisi negatif,
dengan urutan prosedur :

40


the set up, the tune in,
the tapping, the 9 gamut
procedure, mengulang
lagi tapping dari titik
pertama hingga ke 17
(berakir di karate chop).
Dan diakhiri dengan
mengambil napas panjang
dan menghebuskannya,
sambil mengucap rasa
syukur (Alhamdulillah....)
Intensitas
merokok
sebelum Terapi
SEFT
Merupakan suatu hasil
tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan
penginderaaan terhadap
suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi
melalui panca indera
manusia yakni
penglihatan,
pendengaran, penciuman,
rasa dan raba
Kuesioner Ordinal 10 = Sangat Tinggi
7 9 = Cukup
4 6 = Sedang
1 3 Kurang
0 = Sangat Kurang
Intensitas
merokok setelah
Terapi SEFT
Merupakan suatu hasil
tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan
penginderaaan terhadap
suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi
melalui panca indera
manusia yakni
penglihatan,
pendengaran, penciuman,
Kuesioner Ordinal 10 = Sangat Tinggi
7 9 = Cukup
4 6 = Sedang
1 3 = Kurang
0 = Sangat Kurang
41


rasa dan raba

4.5 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data calon
responden yaitu Siswa SMAN 5 Kediri.
4.6 Analisa Data
4.6.1 Analisis Deskriptif (Univariat)
Analisa univariat dalam penelitian ini pada variabel independent
dan dependent melalui proses tabulasi data kemudian diskoring. Hasil
tabulasi digambarkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dilakukan
perhitungan presentase dengan rumus :

SP
P = X 100%
SM

Keterangan :
P : Presntase %
SP : Jumlah Kasus
SM : Jumlah Responden
Kemudian hasil pengolahan data dalam bentuk prosentase
diinterpretasikan sebagai berikut :
100% : Seluruhnya
76 99% : Hampir Seluruhnya
51 75% : Sebagian Besar
50% : Setengahnya
26 49% : Hampir Setengahnya
42


1 25% : Sebagian Kecil
0% : Tak Satupun
4.6.2 Analisis Bivariat
Analisis data secara inferensial untuk mencari perbedaan variabel
independent dengan dependent. Setelah data diolah dan ditabulasi
kemudian dilakukan analisa data dengan menggunakan Uji statistik. Uji
statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test terapan
yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis untuk mengetahui
adakah perbedaan tingkat intensitas merokok antara sebelum dan sesudah
terapi SEFT pada Siswa SMAN 5 Kediri secara komputerisasi dengan
menggunakan SPSS 20. Untuk menguji hipotesis penelitian (tes
signifikansi) dengan cara : Nilai signifikansi () value dibandingkan
dengan (). Bila () value < (), maka H
0
ditolak yang berarti ada
perbedaan tingkat intensitas merokok. Bila () value > (), maka H
1
diterima yang berarti tidak ada perbedaan tingkat intensitas merokok
antara sebelum dan sesudah terapi SEFT pada Siswa SMAN 5 Kediri.
Kemudian tentukan negative ranks, possitive ranks atau selisih antara
variabel sebelum dan sesudah dan juga ties atau tidak ada perbedaan antara
variabel sebelum dan sesudah. Jika jumlah negative ranks lebih kecil
dibanding positive ranks maka nilai T yang digunakan adalah jumlah
rangking yang negatif.
Selanjutnya dilakukan uji hipotesis H
0
: d = 0 (tidak ada perbedaan
tingkat intensitas antara sebelum dan sesudah terapi SEFT) H
1
: d 0 (ada
perbedaan tingkat intensitas antara sebelum dan sesudah terapi SEFT).
43

Anda mungkin juga menyukai