Anda di halaman 1dari 7

1

VALUASI FINANSIAL PEMBANGUNAN COAL TERMINAL BERDASARKAN KAPASITAS


STOCKPILE YANG OPTIMAL PADA PT. X DENGAN PENDEKATAN SIMULASI

Randa Tio Alexy, I Ketut Gunarta
J urusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Email: tioadrenaline@gmail.com, gunarta@ie.its.ac.id;

Abstrak
Kebutuhan energi di Indonesia, khususnya batubara beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang
cukup signifikan di tiap tahunnya sehingga mendorong industri pertambangan batubara Indonesia untuk memenuhi
kebutuhan energi tersebut dengan meningkatkan kapasitas produksinya. Menurut data Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral, pada tahun 2011 konsumsi batubara domestik meningkat 18,7% dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Semester awal tahun 2013 ini akan selesai sebuah mega proyek 10.000 Mega Watt PT. PLN Tahap I
dimana akan ada 10 Pembangkit Listrik Tenaga Uap/Batubara (PLTU) baru di 10 provinsi yang berbeda dengan
total suplai listrik sebanyak 2.438 Mega Watt yang tentu saja akan membutuhkan suplai batubara yang dalam jumlah
besar untuk tahun-tahun berikutnya. Melihat hal tersebut PT. X sebagai salah satu perusahaan pertambangan
batubara terbesar di Indonesia memandang perlu memperkuat rantai pasoknya untuk memeenuhi permintaan pasar
baik domestik maupun ekspor melalui rencana proyek pembangunan Coal Terminal. Coal terminal tersebut akan
digunakan sebagai stasiun penyimpanan atau stockpile batubara yang memiliki kapasitas muat batubara yang besar
sehingga mempermudah proses pendistribusian melalui moda transportasi kereta api dan transportasi laut. Penelitian
ini akan melakukan valuasi finansial terhadap proyek pembangunan Coal Terminal tersebut dengan
mempertimbangkan kapasitas stockpile batubara yang diperoleh melalui pendekatan simulasi. Penelitian ini akan
melakukan valuasi finansial terhadap proyek pembangunan Coal Terminal tersebut dengan mempertimbangkan
kapasitas stockpile batubara yang diperoleh melalui pendekatan simulasi.penelitian ini menghasilkan model
terintegrasi penilaian keuangan pembangunan coal terminal untuk PT. X. Maksimal pengiriman batubara yang dapat
dilayani oleh coal terminal adalah sebesar 15 juta ton/tahun, kapasitas maksimal stockpile sebesar 400.000 ton, total
investasi sebesar 1,030 trilyun rupiah dengan pertambahan nilai sebesar 1,753 trilyun rupiah.

Kata kunci: Coal Terminal, stockpiles, rantai pasok batubara, simulasi, valuasi finansial, Net Present Value (NPV)

Abstract
The Indonesias energy demand, especially of coal in the last few years are experiencing some significant
escalation on each year that encouraging the Indonesia coal mining industry in order to fulfilling those energy
needs by increasing its production capacity. According to the data by Indonesia Ministry Of Energy and Mineral
Resources, in year 2011 the domestic coal consumption itself increasing about 18,7% compared by last year result.
In addition, there will be a completion of 10.000 Mega Watt Phase I Project by PT. PLN in the early semester of
2013. Thats where will be about 10 new steam powered electric generator (PLTU) in 10 different province with
2.438 Mega Watt total electricity supply which is mean that there is a massive need of coal supply for its generator
in the next future ahead. Seeing that event occuring, PT.X as one of the biggest coal mining company in Indonesia
should have a policy to apply it in its production and coal supply to the consumer that can be accounted for
fulfilling domestic and export market of coal demand, with one of its Coal Terminal development plan as a
stockpiling station that have massive capacity so that it could be some reinforcement of company coal distribution
by using train and sea transportation. This research will do a financial valuation of the Coal Terminal development
project by considering the coal stockpile capacity using a simulation approach. This research resulting an PT.X
integrated coal terminal development financial valuation. The maximum coal throughput are 15 million ton per
year, 400.000 ton stockpile capacit and total investment of 1,030 trillion rupiah with added value of 1,753 trillion
rupiah in total.

Key word: Coal Terminal, stockpiles, coal supply chain, simulation, financial valuation, Net Present Value (NPV)

1. Latar Belakang
Industri pertambangan, khususnya batubara
merupakan salah satu industri besar di Indonesia
dengan banyak permintaan baik domestik maupun
mancanegara sekarang ini. Hal ini dikarenakan
sumber daya batubara di Indonesia yang tersedia
2

berlimpah dan juga karena konsumsi energi oleh
masyarakat dunia yang terus meningkat setiap
tahunnya bersamaan dengan meningkatnya
permintaan oleh industri-industri baik di dalam
maupun luar negeri terhadap batubara. Terlebih lagi
di tahun 2013 PT. PLN (Persero) menargetkan
selesainya pembangunan 10 Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU/Batubara) baru yang merupakan
bagian dari proyek 10.000 Mega Watt milik
perusahaan tersebut, seperti yang dilansir oleh
detikfinance (2013). Adanya mega proyek tersebut
dapat memproyeksikan perkiraan peningkatan
kebutuhan batubara akan bergerak semakin tinggi
pada wilayah domestik untuk tahun-tahun berikutnya.
Berdasarkan data statistik yang dihimpun
oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM, 2012), diketahui bahwa konsumsi batubara
di dalam dan luar negeri adalah sebesar 79,5 juta ton
atau meningkat sebanyak 18,74% apabila
dibandingkan dengan tahun 2010 yang tercatat
sebanyak 67 juta ton. Sedangkan untuk kebutuhan
barubara di mancanegara yang dapat disuplai pada
tahun 2011 adalah sebesar 272,6 juta ton atau
meningkat 31,09 % jika dibandingkan dengan ekspor
208 juta ton batubara di periode yang sama di tahun
sebelumnya. Dengan melihat hal tersebut maka dapat
diperkirakan permintaan domestik dan ekspor
batubara akan semakin meningkat setiap tahunnya
dengan presentase yang cukup tinggi. Hal ini menjadi
salah satu pemicu terhadap bertambahnya kapasitas
produksi batubara dari berbagai perusahaan tambang
di Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar.
Oleh karena itu dengan kondisi kebutuhan
batubara yang semakin meningkat tiap tahunnya
maka PT. X merencanakan untuk meningkatkan
kapasitas produksinya dan juga memperbaiki
disribusi batubara melalui penambahan jaringan
transportasi multimoda yang memadai pula. Selama
ini PT. X menggunakan jasa angkutan kereta api
untuk mengangkut sekitar 90% dari seluruh hasil
produksi batubara per tahunnya dan sekitar 10%
sisanya baru menggunakan moda transportasi sungai
melalui sungai Musi dengan menggunakan kapal
tongkang. Di dalam penelitian ini selanjutnya akan
dilakukan sebuah proses simulasi mulai datangnya
angkutan kereta api dari UPT Tanjung Enim menuju
coal terminal Prajen dan dilanjutkan hingga
pengangkutan batubara oleh kapal tongkang dari coal
terminal melalui sungai Musi hingga keluar menuju
transhipment di ambang luar selat Bangka, lalu
dilanjutkan dengan studi tentang valuasi finansial.
Proses valuasi finansial terhadap proyek
pembangunan coal terminal ini terbilang cukup
kompleks, dikarenakan ada beberapa elemen variabel
yang terkait antara satu dengan yang lain seperti laju
suplai batubara dari kereta api yang masuk ke coal
terminal dan laju suplai batubara keluar dari coal
terminal dengan menggunakan kapal tongkang,
kompleksitas bertambah dengan adanya supply rate
dari masing-masing elemen tersebut, oleh karena itu
diperlukan sebuah model terintegrasi untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut. Hasil dari
eksekusi model yang dilakukan nantinya akan
menjadi suatu masukan untuk perusahaan terhadap
besaran kapasitas stockpile dari coal terminal yang
berdampak pada value perusahaan.

2. Perumusan Masalah
Bagaimana melakukan valuasi finansial atas
inisiatif perusahaan untuk memperkuat rantai pasok
dengan mempertimbangkan kapasitas stockpile
batubara yang optimal dalam proyek pembangunan
coal terminal yang dilakukan oleh PT.X.

3. Metodologi Penelitian
Penelitian dimulasi dengan melakukan studi
literatur dan studi lapangan pada perusahaan dan
objek amatan secara langsung. Selanutnya melakukan
pengumpulan data mengenai kapasitas produksi
batubara, data supply rate batubara dengan
menggunakan transportasi kereta api serta tingkat
kepadatan sungai Musi. Selain itu dilakukan
pengumpulan data tentang coal handling facilities
yang memuat tentang kebutuhan fasilitas material
handling batubara serta data finansial perusahaan.
Selanjutnya dilakukan proses pembuatan
model simulasi eksisting terhadap tingkat kepadatan
sungai musi yang nantinya akan digunakan sebagai
disturbance simulasi dengan adanya coal terminal
baru di daerah Prajen. Setelah dilakukan simulasi
yang pertama kemudian dilakukan optimasi model
simulasi untuk menemukan variabel-variabel yang
optimal untuk input model seimulasi. Setelah
dilakukan simulasi ulang didapatkan hasil stockpile
yang optimal lalu dilakukan pembuatan desain coal
terminal berdasar hasil simulasi, kemudian dilakukan
proses pembuatan model finansial untuk menemukan
seberapa besar value yang dapat diberikan oleh
adanya pembangunan coal terminal oelh perusahaan.

4. Pemodelan Dan Simulasi
Pemodelan simulasi yang dilakukan pada
sistem amatan akan digambarkan melalui simulasi
dengan menggunakan software Arena untuk bisa
didapatkan model kondisi eksisting berdasarkan data
yang nyata diperoleh dari perusahaan. Setelah
dipastikan kondisi model yang dibuat sudah sesuai
dengan kondisi eksisting maka berikutnya dilakukan
simulasi dengan adanya penambahan coal terminal
baru pada sistem amatan. Pada Gambar 4.1
ditampilkan Activity Cycle Diagram dari sistem
simulasi yang dibuat.
3


Gambar 4.1 ACD Kegiatan Stockpiling dan
Distribusi Batubara

Setelah itu dilakukan formulasi model
dengan memasukkan data fitting distribusi kedalam
model untuk melakukan running simulasi kondisi
eksisting tentang kepadatan lalu lintas sungai Musi.
Tetapi sebelum model dijalankan atau di-running
maka perlu dilakukan sebuah proses verifikasi model
simulasi untuk memastikan apakah model yang sudah
tersebut sesuai dengan model konseptual yang sudah
dirancang dan juga berjalan sesuai dengan ketentuan
yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adapun
verifikasi yang telah dilakukan untuk menunjukkan
bahwa dalam model tidak terjadi error atau bisa
dikatakan model tersebut telah verified dapat dilihat
pada Gambar 4.2.


Gambar 4.2 Verifikasi Model Simulasi

Kemudian langkah berikutnya yaitu validasi
model. Validasi merupakan sebuah proses
perbandingan antara model simulasi maupun model
konseptual yang telah dibuat dengan model yang ada
sebenarnya. Model dapat diputuskan dapat terbilang
valid apabila hasil perbandingan dari perhitungan
tidak menunjukkan adanya perbedaan yang terlalu
signifikan. Tahap validasi ini dilakukan setelah
proses verifikasi model simulasi yang sudah sesuai.
Pada tahap validasi model simulasi ini, dilakukan
perbandingan antara perhitungan dari data statistik
jumlah kapal yang diperoleh dari PT. Pelindo II
dengan perhitungan dari hasil simulasi. Perhitungan
statistik yang dilakukan yaitu mengolah data terkait
selama 3 tahun (2010-2012) yang berupa jumlah
kapal yang ada dalam sistem sungai di Palembang
atau sungai Musi. Pada Tabel 4.1 ditunjukkan
perhitungan validasi model simulasi yang dilakukan.

Tabel 4.1 Perhitungan Validasi Model


Berikutnya digunakan metode Welch
Confidence Interval dimana:

H
0
=
1
-
2
=0
H
1
=
1
-
2
0
=0,05

Dari perhitungan di atas, dilakukan pengolahan untuk
mendapatkan t
df,/2
dengan df =4,00 dan = 0,05,
maka didapatkan t
4, 0,025
sebesar 4,303. Maka, langkah
selanjutnya dilakukan perhitungan hw dengan rumus
sebagai berikut.
hw =
,/2

1
2
1
+
2
2
2
; hw =4,303
1
2
1
+
2
2
2

hw =1178601,868
Sehingga convidence interval yang dihasilkan adalah:

P[(
1

2
) hw
1
-
2
(
1

2
) +hw] =1-
-1.178.476,1346
1
-
2
1.178.727,6012

Karena nilai 0 berada di antara di antara
rentang
1
-
2
maka juga dapat dikatakan
1
-
2
=0.
Keputusan yang diambil adalah terima H
0
.
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu kondisi real
system dengan simulasi tidak berbeda terlalu
signifikan dan model simulasi lalu lintas sungai yang
eksisting ini dapat disimpulkan sebagai model yang
valid. Setelah dilakukan validasi model lalu
dilakukan perhitungan replikasi yang menghasilkan
jumlah 5 kali replikasi yang dilakukan sudah lebih
dari cukup.
Ketika dilakukan running simulasi awal
menggunakan skenario didapatkan bahwa target awal
perusahaan untuk shipment 20 juta ton tidak
terpenuhi dikarenakan masalah traffic lalu lintas
sungai. Hasilnya dapat dilihat melalui Tabel 4.2.

4

Tabel 4.2 Hasil Simulasi Target 20 J uta Ton


5. Optimasi Simulasi
Dikarenakan pada tahap sebelumnya
didapatkan hasil bahwa coal terminal tidak mampu
menyuplai batubara hingga 20 juta ton/tahun yang
disebabkan oleh lalu lintas/traffic sungai, maka
dilakukan proses optimasi dari simulasi arena dengan
menggunakan bantuan software OptQuest For Arena.
Setelah dilakukan penentuan variabel kontrol, respon,
konstrain dan objective simulasi. Lalu didapatkan
hasil optimasi yang menunjukkan variabel paling
optimal yang dimasukkan kedalam model untuk di
simulasi ulang. Pada Gambar 5.1 dan Tabel 5.1
ditunjukkan hasil dan rekapitulasi optimasi simulasi
yang dilakukan.

Gambar 5.1 Hasil Running Optimasi Dari Simulasi

Tabel 5.1 Hasil Rekap Optimasi


6. Hasil Skenario Target 10 & 15 Juta Ton
Setelah dilakukan optimasi dan didapatkan
variabel yang paling optimal maka langkah
selanjutnya adalah memasukkan variabel tersebut
kedalam model simulasi skenario 10 & 15 juta ton
batubara. Dari kedua skenario tersebut didapatkan
hasil yang paling optimal untuk masing-masing yang
ditunjukkan pada Gambar 6.1 dan 6.2 serta Tabel 6.1.


Gambar 6.1 level Stockpile Dengan Skenario 10 J uta
Ton

Gambar 6.2 level Stockpile Dengan Skenario 15 J uta
Ton

Tabel 6.1 Rekapitulasi Hasil Simulasi Target
Shipment 10 &15 J uta Ton
Target
Shipment
Jumlah
Barge
Level Stockpile
Max
Volume Batubara
Keluar
10.000.000
ton
22 110.447,19 ton 10.081.672,75 ton
15.000.000
ton
34 134.850,01 ton 10.042.999,95 ton

7. Desain CHF Dan Coal Terminal
PT.X mempunyai lahan yang akan
digunakan sebagai Coal Terminal yang berlokasi di
kabupaten Banyuasin dan berbatasan langsung
5

dengan wilayah kota Palembang yang berbagi daerah
aliran sungai dari sungai Musi dimana lokasi tersebut
merupakan lahan milik PT.X sendiri. Pada Gambar
7.1 ditunjukkan bagian yang berwarna kuning yang
merupakan denah lokasi coal terminal prajen.

Gambar 7.1 Denah Lokasi Kawasan Coal Terminal
Prajen

Lalu dilakukan penghitungan kebutuhan
lahan stockpile demi perhitungan investasi dengan
rumusan sebagai berikut:
Kapasitas Stockpile Max Simulasi =237.598 ton
Safety Factor Stockpile =1,5

Cap. Safety Stockpile =Kap. Stockpile simulasi x
Safety factor
Cap. Safety Stockpile =237.598 x 1,5 =356.397 ton
400.000 ton
Pada Gambar 7.2 ditunjukkan desain coal
terminal dari perusahaan.

Gambar 7.2 Desain Coal Terminal Prajen
Sedangkan untuk pengukuran luasan areal stockpile
yang dibutuhkan didalam coal terminal ditentukan
dengan menggunakan pendekatan sederhana dari
volume stockpile yang berbentuk trapesium/atau
prisma segi empat sama kaki yang diperoleh dari
luasan trapesium dikalikan dengan panjang sehingga
bisa didapatkan volume kemudian dikalikan massa
jenis batubara, dan didapatkanlah volume stockpile
yang sesuai. Dibawah ini akan dijelaskan tentang
penghitungan kebutuhan luasan areal stockpile
dengan pendekatan yang telah dijabarkan diatas serta
gambaran stockpile pada Gambar 7.3.

Sisi 1 =75 meter; Sisi 2 =56 meter; Tinggi =8
meter; Panjang =253,58 meter; =1.506 kg/m
3


Luas =
1
2
(sisi 1 +sisi 2) x tinggi
=
1
2
(75+56) x 8 meter
=523,72 m
2

Vol Bangun =Luas x Panjang
=523,72 m
2
x 253,58 m
=132.802 m
3

Vol Stockpile : m = x v
m =1.506 kg/m
3
x

132.802 m
3

= 200.000.000 kg
= 200.000 ton (1 stockpile)
= 400.000 ton (2 stockpile)

Gambar 7.3 Gambaran Bentuk Stockpile Yang
Digunakan

8. Pembuatan Model Finansial Perusahaan
Agar dapat dibuat proyeksi keuangan dari
perusahaan dalam beberapa tahun kedepan (20
tahun), diperlukan adanya sebuah model finansial
yang mampu merepresentasikan kondisi keuangan
perusahaan secara menyeluruh (dalam kasus ini yaitu
dengan adanya penambahan sistem coal terminal
baru). Keluaran/output yang dihasilkan dari model
finansial ini nantinya berupa financial statements dari
perusahaan seperti halnya profit & loss (pernyataan
laba-rugi), cash flow (arus kas), balance sheet (neraca
keuangan), dan yang terakhir adalah valuasi terhadap
6

pengembangan coal terminal yang berujung pada
nilai proyek tersebut dengan indikator yang dilihat
yaitu NPV (Net Present Value).
Berikutnya dilakukan perhitungan WACC
untuk melakukan penilaian dengan metode DCF.
WACC sendiri merupakan perhitungan biaya modal
suatu perusahaan dengan mempertimbangkan biaya
dari masing-masing sumber modal (Ekuitas dan
Pinjaman J angka Panjang). Untuk rumusan yang
dipakai dalam menghitung WACC adalah :

=



Dimana :
Kd =Cost Of Debt
Ke =Cost Of Equity
D/A =Presentase jumlah utang terhadap modal
E/A =Presentase jumlah ekuitas terhadap total
modal

WACC =


=(0,004088367 x 9%) +(0,995911633 x
13.1676036%) = 13,14 %

9. Penentuan Jumlah Investasi Sistem Coal
Terminal Untuk Model Finansial
Didalam menentukan valuasi pengembangan
coal terminal pada sistem amatan ini, diperlukan
adanya input data berupa jumlah investasi yang
dikeluarkan perusahaan dalam mengembangkan
usahanya. Pada bagian ini akan dibagi menjadi 4
jenis investasi berdasarkan kebutuhannya yaitu
investasi Persiapan Lahan & Konstruksi Tunnel,
investasi Coal Handling Facilities (CHF), investasi
Dermaga dan investasi Transshipment.
Adapun investasi-investasi yang ditentukan
dapat dilihat pada Gambar 9.1.

Gambar 9.1 J umlah Investasi Yang Dikeluarkan
Perusahaan

10. Hasil Penghitungan Model Finansial
Dari hasil pemodelan finansial yang
dilakukan, dimana ada beberapa asumsi yang
dimasukkan beserta data finansial serta besaran
jumlah investasi untuk pembangunan coal terminal
Prajen, maka didapatkan angka-angka dari arus kas
bersih pada arus kas bebas (free cash flow) yang
digunakan untuk mendapatkan nilai NPV. Berikut
adalah NPV yang didapatkan yang tampak melalui
dashboard model finansial pada Gambar 10.1

Gambar 10.1 Nilai NPV Pada Model Finansial

11. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah :
1. Pada penelitian ini telah dibuat model
simulasi terhadap pembangunan coal
terminal berdasarkan kapasitas optimal
stockpile, serta telah dibuat model finansial
untuk mengetahui apakah adanya
pembangunan proyek tersebut mampu
memberikan value yang positif bagi
perusahaan.
2. Target Shipment atau pengiriman batubara
maksimal yang mampu diakomodasi oleh
coal terminal prajen dengan kapal
tongkang melalui sungai Musi adalah
sebesar 15.000.000 (lima belas juta)
ton/tahun.
3. Berdasar dari hasil simulasi yang telah
dilakukan, kapasitas stockpile pada coal
terminal adalah sebesar 400.000 ton
setelah dikalikan dengan safety factor
sebagai tindakan antisipasi.
4. Investasi dalam pembangunan sistem coal
terminal adalah sebesar 1.030.646 (juta
rupiah).
5. Berdasarkan asumsi dan perhitungan yang
telah dilakukan, pertambahan nilai (value)
akibat dari pengembangan rantai pasok
batubara dengan penambahan infrastruktur
coal terminal adalah sebesar Rp. 1.753.798
(dalam juta rupiah)

UCAPAN TERIMAKASIH
Pada penelitian ini, penulis mengucapkan
terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu kelancaran terselesaikannya penelitian.
Serta kepada PT.X, dosen pembimbing dan juga
pihak-pihak lain yang telah banyak membantu proses
penyelesaian penelitian ini.


INVESTASI
Dermaga 46.674 Juta rupiah
CHF (Coal Handling Facility) 98.841 Juta rupiah
Transshipment 570.000 Juta rupiah
Land Preparation 315.131 Juta rupiah
Total investasi 1.030.646 Juta rupiah
NPV 1.753.798
WACC 13,14%
Arus kas akhir 750.547
Selisih growth -WACC 11%
Ni l ai si sa 6.737.406
7

DAFTAR PUSTAKA



Association, World Coal. (2012). Coal In The
GLobal Energy Supply (pp. 4). London, UK.
Ballou, Ronald H. (2004). Business Logistics/Supply
Chain Management-5/E.
Bhatawedekhar, D, J acobson, Dan, & Hamadeh,
Hussam. (2005). Vault guide to finance
interviews: Vault Incorporated.
Borshchev, Andrei, & Filippov, Alexei. (2004). From
system dynamics and discrete event to
practical agent based modeling: reasons,
techniques, tools. Paper presented at the
Proceedings of the 22nd international
conference of the system dynamics society.
Christiansen, Marielle, Fagerholt, Kjetil, Nygreen,
Bjrn, & Ronen, David. (2006). Maritime
transportation. Transportation, 14, 189-284.
Crainic, Teodor Gabriel, & Kim, Kap Hwan. (2007).
Chapter 8 Intermodal Transportation. In B.
Cynthia & L. Gilbert (Eds.), Handbooks in
Operations Research and Management
Science (Vol. Volume 14, pp. 467-537):
Elsevier.
detikfinance. (2013). Ini 10 Pembangkit Listrik
Batubara PLN yang Rampung 2013.
Retrieved 2 April, 2013,
ESDM, Kementrian. (2012). Statistik Batubara.
Esdm.go.id. (2007). Pertumbuhan Industri Batubara
Semakin Pesat. Retrieved 27 December,
2012,
Gitman, Lawrence J , & Zutter, Chad. (2012).
Principles of managerial finance (Vol. 9):
Addison Wesley.
Gordon, Davis B. (1992). Kerangka Dasar Sistem
Informasi Manajemen Bagian 1: PT Pustaka
Binawan Presindo. J akarta.
Hidayati, R. (2008). Model Peringatan Dini Penyakit
Demam Berdarah dengan Informasi Unsur
Iklim.[Desertasi]. Sekolah Pascasarjana IPB
Bogor.

Hidayatullah, Mohammad. (2010). Analisis
Performansi Sistem Distribusi Perusahaan
Batubara Xyzdengan Adanya Penambahan
Coal Terminal Baru.
Indrajit. (2001). Analisis dan Perancangan Sistem
Berorientasi Object. Bandung: Informatika.
Inilah.com. (2010). Perkiraan Kebutuhan Batubara
Domestik 2011-2014. Retrieved 27
December, 2012,
J ogiyanto, Hartono M, & Akt, MBA. (2005). Analisis
dan Desain Sistem Informasi: pendekatan
terstruktur teori dan praktek aplikasi bisnis.
Andi, Yogyakarta, 2.
J oppe, Christiaan. (2011). Coal Transport
Kalimantan. Deventer.
Kemenristek. (2006). Penelitian, Pengembangan dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Bidang Teknologi dan Manajemen
Transportasi. J akarta.
Kompas.com. (2011). Produksi Batubara Mencapai
235 J uta Ton. Retrieved 27 December,
2012,
Nahmias, Steven. (2005). Production and Operations
Analysis. McGraw/Irwin, New York.
Petrology, International Committee for Coal. (1963).
International handbook of coal petrography:
Centre national de la recherche scientifique.
Pidd, Michael. (2004). Systems modelling: theory and
practice: Wiley.
Pujawan, IN. (2010). Supply Chain Management
(Edisi Kedua ed.): Institu Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
Report, Annual. (2011). PT. X Annual Report 2011:
PT. X.
Simbolon, Elviana. (2010). Penelitian Penerapan Bus
Sebagai Feeder Angkutan Kereta Api Dalam
Rangka Mendukung Mobilitas Di Perkotaan
(pp. 124). J akarta: Kemenristek &
Kemenhub.