Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Sifat Koligatif Larutan Elektrolit dan Larutan Non Elektrolit

Sifat Koligatif Larutan Elektrolit dan Larutan Non Elektrolit



I. TUJUAN
1. Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa dapat memahami sifat koligatif larutan elektrolit dan larutan non elektrolit.
2. Tujuan Intruksional Khusus
Penurunan titik beku larutan elektrolit maupun larutan non elektrolit.
Terampil untuk menentukan besarnya penurunan titik beku larutan non elektrolit.
Menjelaskan perbedaan besarnya penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku larutan
elektrolit dan larutan non elektrolit.

II. DASARTEORI
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan
dan tidak dipengaruhi oleh sifat dari zat terlarut. Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat.
Adanya interaksi antara zat terlarut dan pelarut dapat berakibat terjadinya perubahan sifat fisis dari komponen-
komponen penyusun larutan tersebut.

Hukum Raoult merupakan dasar bagi empat sifat larutan encer yang disebut sifat koigatif (diambil dari bahasa latin
colligare yang artinya mengumpulkan bersama). Sifat-sifat itu tergantung dari pada efek koligatif jumlah partikel
terlarut, bukan pada sifat partikel yang terlibat. Empat sifat larutan, diantaranya:
1. Penurunan tekanan uap larutan relatif terhadap tekanan uap pelarut murni.
2. Peningkatan titik didih.
3. Penurunan titik beku.
4. Gejala tekanan osmotik (oxotoby, David W : 2004, 166).

1) Penurunan tekanan uap larutan merupakan parkel zat pelarut yang tidak mudah menguap dalam larutan yang dapat
mengurangi kemampuan partikel zat pelarut untuk menguap, sehingga tekanan uap larutan akan lebih rendah
dibanding tekanan uap pelarut murni. Adanya partikel zat terlarut dalam larutan juga menyebabkan terjadinya
kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan. Bila zant non elektrolit yang sukar menguap dilarutkan, maka
menurut hukum Raoult, besarnya tekanan uap:
P = tekanan uap di atas larutan
P
o
= tekanan uap pelarut murni
N
1
= fraksi mol pelarut

2) Suatu larutan mendidih pada temperatur lebih tinggi dari pelarutnya, selisihnya disebut kenaikan titik didih larutan.
Hingga grafik tekanan uap selalu ada di bawah pelarut;
Tb = T T
0

Tb hanya tergantung jenis pelarut dan konsentrasi larutan, tidak tergantung jenis zat terlarut. Hubungan Tb
dengan konsentrasi larutan dapat dicari dengan persamaan Clausius-clapeyron dan hukum Raoult.
3) Titik beku larutan adalah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku
pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Proses pembekuan zat cair terjadi bila suhu diturunkan, sehingga jarak
antara partikel sedemikian dekat satu sama lain dan akhirnya terjadi gaa tarik menarik antar molekul yang sangat
kuat. Adanya partikel-partikel dari zat terlarut akan mengakibatkan proses pergerakan molekul pelarut terhalang.
Akibatnya untuk lebih mendekatkan jarak antar molekul diperlukan suhu yang lebih rendah. Perbedaan titik beku
akibat adanya partikel-partikel dari zat terlarut disebut penurunan titik beku (T
f
).
T
f
= k
f
. m
Titik beku larutan merupakan merupakan titik beku pelarut murni dikurangi dengan penurunan titik bekunya.
T
f
= Tf
0
- T
f



o Sifat-sifatReagen
a. Sifat Urea (CO(NH
2
)
2
)
Urea merupakan kristal, berwarna putih, tidak mudah terbakar, menghantarkan listrik.
Sifat fisis urea:
- Densitas (padat pada suhu 20
0
C) = 1335 kg/m
3

- Titik lebur = 126 J/mol/
0
C
- Spesifik heat (lebur) = 13,6 KJ/mol
- Berat molekul = 60,056

Reaksi pembuatan CO(NH
2
)
2
terdiri atas dua tingkat yaitu reaksi pembentukan amonium karbonat (NH
2
COONH
4
)
dan reaksi penguraian amonium karbonat menjadi urea dan air. Amonium karbonat dibuat dari amoniak (NH
3
) dan
karbondioksida (CO
2
). Menurut reaksi sbb:
2NH3 + CO2 ----> NH
2
COONH
4
DH
298
= -28,5 kkal/mol.... (1)
Reaksi ini merupakan reaksi eksotermis yang berlangsung cepat mengeluarkan panas dan kesetimbangan
karbamat cepat tercapai. Reaksi penguraian amonium karbamat bersifat endotermis dan berlangsung lambat.
H
2
COONH
4
----> NH
2
CONH
2
+ H
2
O DH
298
= 3 6 kkal/mol.... (2)
P = P
o
. N
1

Panas reaksi yang dibutuhkan reaksi (2) dapat dipenuhi dari sebagian panas yang dihasilkan (1). Selama
pembentukan urea, terjadi reaksi samping yaitu pembentukan biuret.
2NH
2
CONH
2
----> NH
2
CONHCONH
2
+ NH
3
DH298 = 4,28 kkal/mol.... (3)

Reaksi ini berlangsung lambat dan memerlukan panas (endoterm).
b. Sifat Garam
Garam merupakan larutan elektrolit kuat. Jika garam dilarutkan dalam air, maka ia akan terurai menjadi ion.
Sifat NaCl :
- Berbentuk kristal
- Mudah larut dalam air (36 gr/100 ml air dari pada 20
o
C)
- Dalam bentuk bubuk bersifat higroskopis
- Banyak terdapat di udara (dari air laut)
- Campuran NaCl dengan es cair mencapai -20
o
C.


III. ALAT DAN BAHAN
1.1 Alat
No Nama Alat Ukuran Gambar jumlah
1 Tabung reaksi -

4
2 Gelas ukur 5 ml

1
3 Erlenmeyer 250 m

1
4 Stand tabung reaksi -

2
5 Pipet tetes -

1
6 Sendok -

1
7 Palu -

1
8 Termometer
-10
o
C
100
o
C

1
9 Beker plastik -

1

1.2 Bahan
1. Urea (CO(NH
2
)
2
)
2. NaCl
3. Garam dapur
4. Es batu

IV. CARAKERJA
1. Memasukkan 5 ml NaCl 0,6 gram ke dalam tabung reaksi.
2. Memasukkan butir-butir es batu ke dalam beker plastik sebanyak 2/3 tinggi beker, kemudian menambahkan 5
sendok garam dapur sambil diaduk sampai rata.
3. Memasukkan tabung reaksi yang berisi NaCl 0,6 gram ke dalam campuran es dan garam dapur tersebut. Biarkan
sampai naCl membeku seluruhnya.
4. Setelah NaCl membeku seluruhnya, keluarkan segera tabung reaksi.
5. Mengukur temperatur NaCl setia selang 30 detik hingga semua padatan melebur kembali.
6. Catat hasil pengamatan pada tabel 1.
7. Mengulangi percobaan di atas dengan menggunakan larutan;
a. 1,2 gram NaCl sebanyak 5 ml
b. 1,2 gram Co(NH
2
)
2
sebanyak 5 ml
c. 0,6 gram Co(NH
2
)
2
sebanyak 5 ml

V. DATA PERCOBAAN
Rumus
Zat terlarut Titik beku (
o
C)
Tf
Massa Molalitas Air Larutan
Co(NH
2
)
2
0,6 1,075 0 -2 2
Co(NH
2
)
2
1,2 1,612 0 -3 3
NaCl 1,2 2,150 0 -4 4
NaCl 0,6 2,150 0 -4 4

VI. PERHITUNGAN
1) Molalitas larutan non elektrolit Co(NH
2
)
2

a. Molaritas Co(NH
2
)
2
0,6 gram
= 1,075 mol
b. Molalitas Co(NH
2
)
2
1,2 gram
= 1,612 mol

2) Molalitas larutan elektrolit
a. Molalitas NaCl 1,2 gram
= 2,150 mol
b. Molalitas NaCl 0,6 gram
= 2,150 mol
molalitas NaCl adalah 2,150 x 2 = 4,301 mol
3) Tf larutan non elektrolit (CO(NH
2
)
2
)
Tf = Tf pelarut Tf larutan

a. Tf CO(NH
2
)
2
) 1,2 gram
Tf = 0 (-3)
= 3
o
C
b. Tf CO(NH
2
)
2
) 0,6 gram
Tf = 0 (-2)
= 2
o
C

4) Tf larutan elektrolit (NaCl)
Tf = Tf pelarut Tf larutan

a. Tf NaCl 1,2 gram
Tf = 0 (-4)
= 4
o
C
b. Tf NaCl 0,6 gram
Tf = 0 (-4)
= 4
o
C

VII. PEMBAHASAN
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, karena larutan elektron terurai menjadi
partikel-partikel yang berupa ion. Larutan non elektrolit merupakan larutan ang tidak dapat menghantarkan arus
listrik, karena tidak trurai menjadi partikel-partikel yang berupa ion.

NaCl merupakan larutan elektrolit, sedangkan urea (CO(NH
2
)
2
) merupakan larutan non elektrolit. Urea tidak
terionisasi sehingga tetap sebagai molekul, itulah sebabnya pada konsentrasi yang sama NaCl mempunyai Tf 2x
lebih besar dari pada urea. Pada kemolalan yang sama, penurunan titik beku larutan elektrolit (NaCl) lebih besar
dibanding larutan non elektrolit (CO(NH
2
)
2
).

o Alasan mengapa digunakan garam untuk membekukan larutan
Karena garam memiliki titik beku yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pelarut murni air. Apabila ke
dalam air kita larutkan garam dan kemudian suhunya diturunkan sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya
waktu larutan tersebut secara perlahan akan berubah menjadi fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah
menjadi fasa padat secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan
fasa padat, akibatnya saat proses pendinginan berlangsung, larutan akan mempertahankan fasanya dalam keadaan
cair. Hal ini menyebabkan potensial kimia pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah sedangkan potensial kimia
pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh. Inilah sebab mengapa adanya zat terlarut akan menurunkan titik beku
larutannya.



VII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat saya simpulkan:
- Makin besar molalitas suatu larutan, makin tinggi penurunan titik beku larutan.
- Titik beku pelarut murni (air) lebih tinggi dibanding titik beku larutan CO(NH
2
)
2
dan NaCl.
- Titik beku larutan non elektrolit lebih rendah dari pada larutan elektrolit pada massa yang sama.
- Titik beku NaCl lebih rendah dibanding CO(NH
2
)
2
pada massa yang sama.


http://biologiikipmadiun.blogspot.com/2010/09/laporan-praktikum-sifat-koligatif.html

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi
bergantung pada jumlah atau kelompok partikel zat terlarut (konsentrasi zat terlarut) di dalam larutan.
Sifat koligatif meliputi:







Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh
konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan
jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit
terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat
koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Rima_Nurmalasari_060505/pengertian.html

sifat Koligatif Larutan
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat
terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat
terlarut).
Sifat koligatif meliputi:
1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmotik
Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu
sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel
dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan
elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi
ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non
elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
PENURUNAN TEKANAN UAP JENUH

Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan
uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan
penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian
atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapanberkurang.
MenurutRAOULT:
p = p
o
. X
B

dimana:
p = tekanan uap jenuh larutan
po = tekanan uap jenuh pelarut murni
XB = fraksi mol pelarut
Karena X
A
+ X
B
= 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi:
P = P
o
(1 - X
A
)
P = P
o
- P
o
. X
A

P
o
- P = P
o
. X
A

sehingga:
P = po . XA
dimana:

P = penunman tekanan uap jenuh pelarut
p
o
= tekanan uap pelarut murni
X
A
= fraksi mol zat terlarut
KENAIKAN TITIK DIDIH
Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari
titik didih pelarut murni.
Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
Tb = m . K
b

dimana:
Tb = kenaikan titik didih (
o
C)
m = molalitas larutan
K
b
= tetapan kenaikan titik didih molal
Karena : m = (W/Mr) . (1000/p) ; (W menyatakan massa zat terlarut)
Maka kenaikan titik didih larutan dapat dinyatakan sebagai:
Tb = (W/Mr) . (1000/p) . K
b

Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan
sebagai:
Tb = (100 + Tb)
o
C
PENURUNAN TITIK BEKU
Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai :
T
f
= m . K
f
= W/M
r
. 1000/p . K
f

dimana:
T
f
= penurunan titik beku
m = molalitas larutan
K
f
= tetapan penurunan titik beku molal
W = massa zat terlarut
M
r
= massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya dinyatakan
sebagai:
T
f
= (O - T
f
)
o
C
TEKANAN OSMOTIK

Tekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan
perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel
(proses osmosis).
Menurut VAN'T HOFF tekanan osmotik mengikuti hukum gas ideal:
PV = nRT
Karena tekanan osmotik = , maka :
= n/V R T = C R T
dimana :
= tekanan osmotik (atmosfir)
C = konsentrasi larutan (mol/liter= M)
R = tetapan gas universal = 0.082 liter.atm/mol
o
K
T = suhu mutlak (
o
K)
- Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari yang lain
disebut larutan Hipotonis.
- Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dari yang lain
disebut larutan Hipertonis.
- Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut
Isotonis.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya
mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit
mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada
konsentrasi yang sama
Contoh:
Larutan 0.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal garam dapur.
- Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya) tetap, yaitu 0.5 molal.
- Untuk larutan garam dapur: NaCl(aq) --> Na
+
(aq) + Cl
-
(aq) karena terurai menjadi 2
ion, maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula = 1.0 molal.
Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah
derajat ionisasi.
Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai:
= jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula
Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk
elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 <<>
Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam
perumusan sifat koligatifnya.
1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai:
T
b
= m . K
b
[1 + (n-1)] = W/M
r
. 1000/p . K
b
[1+ (n-1)]
n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.
2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai:
T
f
= m . K
f
[1 + (n-1)] = W/M
r
. 1000/p . K
f
[1+ (n-1)]
3. Untuk Tekanan Osmotik dinyatakan sebagai:
= C R T [1+ (n-1)]
Diposkan oleh Dody Putranto di 02:15
Label: Kimia SMU Kelas XII
sifat Koligatif Larutan
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat
terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat
terlarut).
Sifat koligatif meliputi:
1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmotik
Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu
sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel
dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan
elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi
ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non
elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
PENURUNAN TEKANAN UAP JENUH
Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan
uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan
penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian
atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapanberkurang.
MenurutRAOULT:
p = p
o
. X
B

dimana:
p = tekanan uap jenuh larutan
po = tekanan uap jenuh pelarut murni
XB = fraksi mol pelarut
Karena X
A
+ X
B
= 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi:
P = P
o
(1 - X
A
)
P = P
o
- P
o
. X
A

P
o
- P = P
o
. X
A

sehingga:
P = po . XA
dimana:

P = penunman tekanan uap jenuh pelarut
p
o
= tekanan uap pelarut murni
X
A
= fraksi mol zat terlarut
KENAIKAN TITIK DIDIH
Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari
titik didih pelarut murni.
Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:
Tb = m . K
b

dimana:
Tb = kenaikan titik didih (
o
C)
m = molalitas larutan
K
b
= tetapan kenaikan titik didih molal
Karena : m = (W/Mr) . (1000/p) ; (W menyatakan massa zat terlarut)
Maka kenaikan titik didih larutan dapat dinyatakan sebagai:
Tb = (W/Mr) . (1000/p) . K
b

Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan
sebagai:
Tb = (100 + Tb)
o
C
PENURUNAN TITIK BEKU
Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai :
T
f
= m . K
f
= W/M
r
. 1000/p . K
f

dimana:
T
f
= penurunan titik beku
m = molalitas larutan
K
f
= tetapan penurunan titik beku molal
W = massa zat terlarut
M
r
= massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya dinyatakan
sebagai:
T
f
= (O - T
f
)
o
C
TEKANAN OSMOTIK

Tekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan
perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel
(proses osmosis).
Menurut VAN'T HOFF tekanan osmotik mengikuti hukum gas ideal:
PV = nRT
Karena tekanan osmotik = , maka :
= n/V R T = C R T
dimana :
= tekanan osmotik (atmosfir)
C = konsentrasi larutan (mol/liter= M)
R = tetapan gas universal = 0.082 liter.atm/mol
o
K
T = suhu mutlak (
o
K)
- Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari yang lain
disebut larutan Hipotonis.
- Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dari yang lain
disebut larutan Hipertonis.
- Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut
Isotonis.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya
mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit
mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada
konsentrasi yang sama
Contoh:
Larutan 0.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal garam dapur.
- Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya) tetap, yaitu 0.5 molal.
- Untuk larutan garam dapur: NaCl(aq) --> Na
+
(aq) + Cl
-
(aq) karena terurai menjadi 2
ion, maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula = 1.0 molal.
Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah
derajat ionisasi.
Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai:
= jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula
Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk
elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 <<>
Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam
perumusan sifat koligatifnya.
1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai:
T
b
= m . K
b
[1 + (n-1)] = W/M
r
. 1000/p . K
b
[1+ (n-1)]
n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.
2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai:
T
f
= m . K
f
[1 + (n-1)] = W/M
r
. 1000/p . K
f
[1+ (n-1)]
3. Untuk Tekanan Osmotik dinyatakan sebagai:
= C R T [1+ (n-1)]
Diposkan oleh Dody Putranto di 02:15
Label: Kimia SMU Kelas XII
http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/06/sifat-koligatif-larutan.html