Anda di halaman 1dari 6

PAPER PRODUKTIVITAS PERAIRAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Produktivitas Peraian






Disusun Oleh
Azhlimsyah R.P 230110120034








PROGRAM STUDI PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014
1


PRODUKTIVITAS PERAIRAN
1.1. Konsep Produktivitas
Produktifitas perairan sangat penting dalam bidang perikanan, karena dapat diketahui
potensi suatu perairan bagi pengembangan khususnya budidaya. Produktifitas primer
merupakan salah satu daya dukung dalam menjga keseimbangan ekosistem perairan. Nilai
produktifitas primer yang tinggi nmenunjukkan kualitas perairan yang baik, hal ini
dikarenakan peningkatan produktifitas priemer sebanding dengan kadar O2 terlarut dalam air
oleh organisme produsen seperti plankton dan algae.
Produktivitas adalah laju penambatan atau penyimpanan energi oleh suatu komunitas
dalam ekosistem. Produktivitas dari suatu ekosistem adalah kecepatan cahaya matahari yang
diikat oleh vegetasi menjadi produktivitas kotor (produktivitas primer bruto), sesuai dengan
kecepatan fotosintesis. Sedangkan produktivitas bersih (produktivitas primer neto) dari
vegetasi adalah produksi dalam arti dapat dipergunakan oleh organisme lain, yaitu sesuai
dengan kecepatan fotosintesis (produksi bahan kering) dikurangi kecepatan respirasi. Oleh
karena suhu dan cahaya bervariasi sepanjang hari maka produktivitas tanaman dinyatakan
dalam satuan berat kering (gram/kilogram) per satuan luas permukaan tanah per musim
pertumbuhan atau per tahun.

Produktivitas primer merupakan laju penambatan energi yang dilakukan oleh
produsen. Produktivitas primer dibedakan atas produktivitas primer kasar (bruto) yang
merupakan hasil asimilasi total, dan produktivitas primer bersih (neto) yang
merupakan penyimpanan energi di dalam jaringan tubuh tumbuhan. Produktivitas
primer bersih ini juga adalah produktivitas kasar dikurangi dengan energi yang
digunakan untuk respirasi.
Produktivitas sekunder merupakan laju penambatan energi yang dilakukan oleh
konsumen. Pada produktivitas sekunder ini tidak dibedakan atas produktivitas kasar
dan bersih. Produktivitas sekunder pada dasamya adalah asimilasi pada aras atau
tingkatan konsumen.
Laju produktivitas akan tinggi bilamana faktor-faktor lingkungan cocok atau optimal.
Pemberian bantuan energi dari luar atau subsidi energi juga dapat meningkatkan
2

produktivitas. Subsidi energi banyak dilakukan oleh manusia terhadap ekosistem
pertanian, yang dapat berupa pemberian pupuk, irigasi, pengendalian hama,
pengolahan tanah. Subsidi energi juga dapat terjadi secara alami, misalnya berupa
ombak di lautan, pasang naik dan surut di pantai, hujan di daratan, angin, dan lain
lain.
Produktivitas atau produksi berbeda dengan hasil panen. Produktivitas atau produksi
adalah sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Produksi pada pertanian sebetulnya
adalah hasil panen. Hasil panen adalah bagian dari produktivitas primer bersih yang
diambil/dimanfaatkan oleh manusia. Pada dasarnya alam akan memaksimalkan
produktivitas bruto, sedangkan manusia berupaya memaksimalkan produktivitas
bersih, sehingga manusia dapat memaksimalkan hasil panen. Manusia juga
memerlukan produktivitas sekunder. Dari produktivitas sekunder, manusia juga dapat
memperoleh hasil panen yang dapat berupa daging, telur, atau susu.
Pengukuran produktivitas primer pada umumnya didasarkan pada reaksi fotosintesis.
Beberapa metode pengukuran produktivitas primer adalah: metode panen yang cocok
untuk ekosistem pertanian; pengukuran oksigen, misalnya dengan metode botol gelap
dan botol terang, untuk ekosistem perairan; metode pH, yang cocok untuk ekosistem
perairan; metode klorofil, yang pada dasamya adalah mengukur kadar klorofil;
metode radioaktif; dan metode CO2
1.2. Produktivitas Primer
Produktivitas Primer ialah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya
energi dari senyawa-senyawa anorganik. Jumlah seluruh bahan organik (biomassa) yang
terbentuk dalam proses produktivitas dinamakan produktivitas primer kotor, atau produksi
total.
Jumlah seluruh bahan organik yang terbentuk dalam proses produksivitas dinamakan
produksi primer kotor, atau produksi total. Karena sebagian dari produksi total ini digunakan
tumbuhan untuk kelangsungan proses-proses hidup, respirasi. Produksi primer bersih adalah
istilah yang digunakan bagi jumlah sisa produksi primer kotor setelah sebagian digunakan
untuk respirasi. Produksi primer inilah yang tersedia bagi tingkatan-tingkatan trofik lain.
Produksi primer kotor maupun bersih pada umumnya dinyatakan dalam jumlah gram
karbon (C) yang terikat per satuan luas atau volume air laut per interval waktu. Jadi, produksi
3

dapat dilaporkan sebagai jumlah gram karbon per m2 per hari (gC/m2/hari), atau satuan-
satuan lain yang lebih tepat.


1. Ruang Lingkup Produktifitas Primer
Sumber energi yang utama dalam pemeliharaan ekosisitem perairan (dan daratan)
adalah energi cahaya matahari, proses fiksasi cahaya biasanya melibatkan air sebagai donor
hydrogen dalam meruduksi karbondioksida menjadi karbohidrat. Proses ini tidak hanya
merupaka bagian dari fotosintesis, dan sebagian bakteri fotosintesis dapat menggunakan
sumber-sumber selain air untuk hydrogen. Selainitu terdapat beberapa proses kemosintesis
yaitu dengan memperoleh energi untuk sintesis bahan organik dari perubahan kimia.Yang
termasuk kedalam produksi utama pada periran yaitu organisme Autotrof yaitu organisme
yang menggunakan bahan organik.
Fotosintesis
Merupakan suatu proses biokimia untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan
memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang
dihasilkan dalam fotosintesis.
a) Faktor penentu laju fotosintesis:
Cahaya Merupakan aspek penting dalam fotosintesis , gelombang energi cahaya yang
diabsorbsi air dan klorofil berkisar 350-710 nm PAR (Photosynthesis Active Radiation).
Sedangkan sinar matahari yang biasa terserap oleh air sekitat 45-50% dari kekuatan cahaya
yang sebenarnya. Beberaapa faktor yang berefek terhadap penerimaan jumlah cahaya untuk
dapat sampai ke dalam permukaan air adalah:
Ketinggian tempat (altitude).
Efek geografik : jumlah radiasi cahaya matahari dalam setahun (kal/cm2/hari)
berbeda secara geografis (latitude).
Efek musim : letak geografis, perbedaan musim dalam setahun perbedaan radiasi.
Efek diurnal : pagi atau sore jarak matahari lebih jauh daripada tengah hari, elevasi
cahaya juga lebih rendah (semakin miring) sehingga % cahaya yang dipantulkan
semakin besar intensitas cahaya rendah.
4

Efek lokal : morfologi perairan, arus
Konsentrasi karbon dioksida
Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan
tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis. Suhu Enzim-enzim yang bekerja dalam proses
fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis
meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim. Kadar fotosintat
(hasil fotosintesis) Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan
naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan
berkurang.
a) Suhu
Laut tropik memiliki massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan
yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan
terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu.
Berdasarkan gradien suhu secara vertikal di dalam kolom perairan, Wyrtki (1961) membagi
perairan menjadi 3 (tiga) lapisan, yaitu:
lapisan homogen pada permukaan perairan atau disebut juga lapisan permukaan
tercampur
lapisan diskontinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin
lapisan di bawah termoklin dengan kondisi yang hampir homogen, dimana suhu
berkurang secara perlahan-lahan ke arah dasar perairan.
Menurut Lukas and Lindstrom (1991), kedalaman setiap lapisan di dalam kolom perairan
dapat diketahui dengan melihat perubahan gradien suhu dari permukaan sampai lapisan
dalam. Lapisan permukaan tercampur merupakan lapisan dengan gradien suhu tidak lebih
dari 0,03 oC/m (Wyrtki, 1961), sedangkan kedalaman lapisan termoklin dalam suatu perairan
didefinisikan sebagai suatu kedalaman atau posisi dimana gradien suhu lebih dari 0,1 oC/m
(Ross, 1970).
Suhu permukaan laut tergantung pada beberapa faktor, seperti presipitasi, evaporasi,
kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam
kolom perairan. Presipitasi terjadi di laut melalui curah hujan yang dapat menurunkan suhu
permukaan laut, sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan akibat adanya
aliran bahang dari udara ke lapisan permukaan perairan. Menurut McPhaden and Hayes
5

(1991), evaporasi dapat meningkatkan suhu kira-kira sebesar 0,1 oC pada lapisan permukaan
hingga kedalaman 10 m dan hanya kira-kira 0,12 oC pada kedalaman 10 75 m. Disamping
itu Lukas and Lindstrom (1991) mengatakan bahwa perubahan suhu permukaan laut sangat
tergantung pada termodinamika di lapisan permukaan tercampur.
1.3. Produktivitas Sekunder
Produktivitas sekunder adalah kecepatan organisme heterotrop mengubah energi kimia
dari bahan organik yang dimakan menjadi simpanan energi kimia baru di dalam tubuhnya.
Energi kimia dalam bahan organik yang berpindah dari produsen ke organisme heterotrop
(konsumen primer) dipergunakan untuk aktivitas hidup dan hanya sebagian yang dapat
diubah menjadi energi kimia yang tersimpan di dalam tubuhnya sebagai produktivitas bersih.
Demikian juga perpindahan energi ke konsumen sekunder dan tersier akan selalu
menjadi berkurang. Perbandingan produktivitas bersih antara trofik dengan trofik-trofik di
atasnya dinamakan efisiensi ekologi. Diperkirakan hanya sekitar 10% energi yang dapat
ditransfer sebagai biomassa dari trofik sebelumnya ke trofik berikutnya.