Anda di halaman 1dari 25

Kromatografi adalah teknik pemisahan zat untuk analisis dan preparative dengan

melarutkan campuran dalam fase gerak (cairan atau gas), yang mengalir melalui fase diam
atau stasioner, zat zat yang hendak dipisahkan harus berinteraksi dengan fase stasioner
dengan kuat yang berbeda beda , interaksi ini dapat bersifat adsorbs, partisi, pertukaran
ion, dan interaksi lainnya.
A. KROMATOGRAFI PENUKAR ION
Pertukaran ion adalah salah satu metode yang efektif untuk pemisahan secara
kuantitatif. Pemisahannya berdasarkan prinsip yang sama sekali berbeda dan hanya
diterapkan pada senyawa yang berion. Dua seri paralel dari prosedur yang ada, terfokus
pada pertukaran anion dan kation.
stilah penukar ion secara umum diartikan orang sebagai pertukaran dari ion!ion
yang bertanda muatan (listrik) sama, antara suatu larutan dan suatu bahan yang padat serta
sangat tak dapat larut, dimana larutan itu bersentuhan. "at padat itu (penukaran ion) harus
mengandung ion!ion miliknya sendiri. Dan agar pertukaran dapat berlangsung dengan
cukup cepat dan ekstensif, zat padat itu harus mempunyai struktur molekuler yang terbuka
dan permeabel, sehingga ion!ion dan molekul!molekul pelarut dapat bergerak keluar
masuk dengan bebas. Penukar kation terdiri dari suatu anion polimerik dan kation!kation
aktif, sementara suatu penukar anion adalah suatu kation polimerik dengan anion!anion
aktif.
#esin penukar kation sebagai suatu polimer berbobot molekul tinggi, yang
terangkai silang yang mengandung gugus!gugus sulfonat, karboksilat, fenolat, dan
sebagainya sebagai suatu bagian integral dari resin itu serta se$umlah kation yang
ekuivalen. %uatu resin penukar anion adalah suatu polimer yang mengandung gugus!gugus
amino (ammonium kuartener) sebagai bagian!bagian integral dari kisi polimer itu dan
se$umlah ekuivalen anion!anion seperti ion klorida, hidroksil atau sulfat.
%yarat!syarat dasar bagi suatu resin yang berguna adalah&
'. #esin itu harus cukup terangkai silang, sehingga keterlarutannya yang dapat
diabaikan.
(. #esin harus cukup hidrofilik untuk memungkinkan difusi ion!ion melalui
strukturnya dengan la$u yang terukur dan berguna.
). #esin harus menggunakan cukup banyak gugus penukar ion yang dapat dicapai,
dan harus stabil dalam hal kimiawinya.
*. #esin yang sedang mengembang, harus lebih besar rapatannya daripada air.
I. Aksi dari Resin Penukar Ion
#esin penukar kation mengandung kation + kation bebas yang dapat ditukar
dengan kation + kation dalam larutan (lar).
(#es. ,)-
.
. /
.
(larutan) 0 (#es. ,)/
.
. -
.
(larutan)
1ika kondisi + kondisi eksperimen adalah sedemikian, sehingga kesetimbangan
telah sama sekali tergeser dari kiri ke kanan, ion /
.
telah lengkap difiksasi (dilekatkan
tetap) pada penukaran kation. %atu contoh khas adalah penukaran ion natrium pada
suatu resin sufonat oleh ion kalsium&
( (#es.%2
)
!
)3a
.
/a
(.
(lar.)
(#es. %2
)
!
)
(
/a
(.
( 3a
.
(lar.)
.
.
#eaksi ini reversibel, dengan mengalirkan suatu larutan yang mengandung ion!
ion natrium melalui produk itu, ion!ion kalsium dapat dikeluarkan lagi dari resin, dan
bentuk natrium yang semula, teregenerasi (pulih seperti keadaan semula). %ama halnya
dengan mengalirkan suatu larutan garam netral melalui bentuk hidrogen suatu resin
sulfonat, dihasilkan se$umlah asam padanannya yang ekuivalen oleh reaksi khas
berikut&
(#es.%2
)
!
)4
.
3a
.
/l
!
(lar.) .
(#es.%2
)
!
)3a
.
4
.
/l
!
(lar.)
.
5kuran resin penukar kation yang asam kuat, seperti resin polistirena sulfonat
yang terangkai silang kapasitas tukar boleh dikatakan tak bergantung pada p4 larutan.
5ntuk penukar kation asam lemah, seperti yang mengandung gugus karboksilat,
ionisasi timbul samapi tingkat yang berarti hanya dalam larutan basa, yaitu dalam
bentuk garam!garam mereka, maka resin karboksilat hanya mempunyai sangat sedikit
aksi dalam larutan dibawah p4 6. Penukaran!penukaran ion karboksilat ini dalam
bentuk hidrogennya, akan menyerap basa kuat dari larutan&
(#es./22
!
)4
.
3a
.
24
!
(lar.)
. (#es./22
!
)3a
.
4
(
2 .
7etapi hanya memiliki sedikit aksi terhadap, misalnya 3a/l, ter$adi hidrolisis
pada bentuk garam dari resin itu sehingga basa tersebut mungkin tak dapat lengkap
diserap, bahkan sekalipun terdapat resin dengan berlebihan.
#esin penukar kation yang basa kuat, yaitu polistirena terangkai silang yang
mengandung gugus ammonium kuartener, sebagian besar akan terionisasi, baik yang
dalam bentuk hidroksida maupun yang dalam bentuk garamnya. -eberapa reaksi khas
mereka, dapat dinyatakan sebagai&
( (#es.38e
)
.
)/l
!
.
%2
*
(!
(lar.)
(#es.38e
)
.
)
(
%2
*
(!
( /l
!
(lar.)
(#es.38e
)
.
)/l
!
24
!
(lar.)
(#es.38e
)
.
)24
!
/l
!
(lar.)
.
.
.
(#es.38e
)
.
)24
!
4
.
/l
!
(lar.) .
(#es.38e
)
.
)/l
!
. 4
(
2
,ktivitas resin!resin ini serupa dengan resin penukar kation sulfonat, dan
aksinya sangat tak bergantung pada p4. #esin penukar ion yang basa lemah, hanya
mengandung sedikit bentuk hidroksida dalam larutan basa. %ebagai contoh,
kesetimbangan dari&
(#es.38e
(
) (#es.34 8e
(
)
.
24
!
4
(
2 .
7erutama adalah ke sebelah kiri, dan resin ini sebagian besar berada dalam
bentuk amina. ni dapat $uga dinyatakan dengan kata!kata bahwa dalam larutan basa,
basa bebas #es.348e
(
24 sangat sedikit terionisasi. 3amun, dalam larutan yang asam,
mereka berperilaku sebagai resin penukar ion basa kuat, yang menghasilkan bentuk
garam yang sangat terionisasi&
(#es.348e
(
.
)/l
!
4
.
/l
!
(lar.) . (#es.38e
(
)
8ereka dapat digunakan dalam larutan asam untuk pertukaran anion, sebagai
contoh&
(#es.348e
(
.
)/l
!
32
)
!
(lar.)
(#es.34 8e
(
)
.
32
)
!
/l
!
(lar.) . .
#esin yang bersifat basa, dalam bentuk garamnya, mudah diregenerasikan
dengan alkali.
Keseimbangan pertukaran ion
Proses pertukaran ion yang melibatkan penggantian ion!ion ,
#
yang tertukarkan
dalam resin, dengan ion!ion yang bermuatan sama -
%
dari suatu larutan, boleh ditulis&
.
,
#
-
%
-
#
,
%
.
Proses ini reversibel. %e$auh mana satu ion lebih dipilih untuk diserap,
dibandingkan ion lain, memiliki arti penting yang mendasar, yaitu menentukan
seberapa mudahnya dua atau lebih zat yang menghasilkan ion!ion dengan muatan
serupa dapat dipisahkan dengan cara pertukaran ion dan $uga menentukan seberapa
mudahnya ion!ion tersebut dapat selan$utnya dikeluarkan dari resin. 9aktor!faktor yang
menetapkan distribusi ion!ion antara suatu larutan, meliputi&
'. %ifat ion!ion yang saling bertukaran
a. Pada konsentrasi!konsentrasi rendah dalam larutan air, dan pada suhu biasa,
tingkat pertukaran bertambah dengan bertambahnya valensi ion yang bertukar
itu, yaitu& 3a
.
:/a
(.
:,l
).
:7h
*.
.
b. Pada kondisi yang serupa dan valensi yang konstan, untuk ion!ion univalen
(bervalensi ') tingkat pertukaran bertambah dengan berkurangnya ukuran
kation terhidrasi& , sementara untuk ion divalen ukuran ion merupakan faktor
yang penting, tetapi ketidak lengkapan disosiasi garam!garam logam bivalen
(bervalensi () $ugamemainkanperanan /d
(.
:-e
(.
:8n
(.
:8g
(.
;"n
(.
:/u
(.
;3i
(.
:/o
(.
:/a
(.
:%r
(.
:Pb
(.
:-a
(.
.
c. Dengan resin penukar anion basa kuat, tingkat pertukaran bagi anion!anion
univalent, berbeda!beda menurut ukuran ion terhidrasinya dengan cara yang
sama seperti untuk kation. Dalam larutan encer, anion polivalen umumnya lebih
dipilih untuk diserap.
d. -ila sebuah kation dalam larutan sedang bertukar dengan sebuah ion yang
berbeda valensinya, afinitasnya relatif dari ion yang bervalensi lebih tinggi
(terhadap resin) bertambah dengan perbandingan lurus dengan bertambahnya
keenceran. 1adi, untuk menukar suatu ion bervalensi lebih tinggi yang berada
pada suatu penukar ion, dengan suatu ion bervalensi lebih rendah dalam larutan,
pertukaran akan lebih baik dengan menaikkan konsentrasi, sedangkan $ika ion
bervalensi lebih rendah berada pada penukar ion, dan ion bervalensi lebih tinggi
berada dalam larutan, pertukaran akan lebih baik dengan keenceran yang lebih
tinggi.
(. %ifat resin penukar ion
,bsorpsi ion!ion akan bergantung pada sifat gugus fungsional dalam resin.
Dan $uga bergantung pada dera$at rangkaian silang dengan naiknya dera$at
rangkaian silang resin men$adi lebih selektif terhadap ion!ion yang berbeda!beda
ukurannya (volume ion dianggap meliputi air hidrasi), dimana ion dengan volume
terhidrasi yang lebih kecil, biasanya akan lebih dipilih untuk diserap.
Kapasitas pertukaran-ion
Kapasitas pertukaran ion total dari suatu resin bergantung pada $umlah total
gugus ugus aktif!ion per satuan bobot bahan itu dan semakin banyak $umlah ion!ion
itu, smeakin besarlah kapasitasnya. Kapasitas penukar!ion yang asam lemah dan yang
basa lemah, merupakan fungsi dari p4, dimana yang asam lemah mencapai nilai!nilai
agak konstan pada p4 di atas sekitar <, sedangkan yang basa lemah pada p4 di bawah
sekitar =.
II. Prinsip Kromatografi Pertukaran Ion
Kromatografi penukar ion merupakan kromatografi yang berdasarkan penukaran
ion!ion secara e>uivalen antara larutan dan gugusan fungsional resin yang mengandung
ion!ion yang dapat ditukar (Pud$aatmaka, (??().
1ika suatu campuran dan dua atau lebih dari kation yang berbeda ,, -, dan
sebagainya dialirkan melalui sebuah kolom penukar ion, dan $ika kuantitas!kuantitas
ion!ion ini lebih kecil dibanding kapasitas total kolom untuk ion, maka mungkin untuk
memperoleh kembali ion!ion terserap itu, sendiri!sendiri dan berturut!turut dengan
menggunakan larutan regenerasi atau elusi yang sesuai. 1ika kation , ditahan lebih
kuat oleh resin penukar dibandingkan kation -, semua - yang terdapat akan mengalir
keluar dari dasar kolom sebelum satupun , dibebaskan, asalkan kolom cukup pan$ang
dan faktor!faktor eksperimen lainnya menguntungkan bagi pemisahan khusus itu.
7eknik pemisahan ini disebut kromatografi pertukaran ion.
1ika suatu larutan berupa eluan yang sesuai, dialirkan melalui sebuah kolom
yang dimuati oleh suatu ion ,, $alannya reaksi dapat diikuti dengan menganalisis
larutan efluen dengan kontinu. 1ika konsentrasi , dalam porsi!porsi eluat yang
berturutan, dialirkan terhadap volume eluat, akan diperoleh sebuah kurva elusi seperti
diperlihatkan pada gambar&
3ampak, bahwa praktis semua , terkandung dalam volume cairan tertentu dan
$uga bahwa konsentrasi , melalui suatu batas maksimum.
1ika kolom pertukaran ion memuat berbagai ion -, / dan sebagainya yang
bermuatan serupa, kurva!kurva elusi dapat diperoleh untuk masing!masing ion dengan
menggunakan eluan!eluan yang sesuai. 1ika kurva!kurva elusi ini cukup $auh terpisah
seperti gambar dibawah, suatu pemisahan kuantitatif dimungkinkan $ika kurva elusi itu
saling tindih, hanya akan diperoleh pemisahan yang tak lengkap. dealnya, kurva harus
mendekati distribusi @auss (distribusi normal). Penyimpangan yang terlalu besar dari
distribusi ini, mungkin menun$ukkan teknik!teknik yang salah dan atau kondisi!kondisi
operasi yang salah.
III. Pertukaran-Ion a!am Pe!arut-pe!arut Organik dan Air Organik
Penelitian!penelitian dalam sistem!sistem air telah menetapkan banyak prinsip!
prinsip dasar dari pertukaran ion, serta menghasilkan penetapan yang berguna. 3amun,
lingkup dari proses pertukaran ion telah diperluas selama sekitar dekade terakhir ini
dengan menggunakan baik sistem pelarut organik, maupun sistem campuran pelarut
air!organik.
Pelarut organik yang umum digunakan adalah senyawa!senyawa okso dari tipe
alkohol, keton, dan karboksilat, yang umunya mempunyai tetapan dielektrik di bawah
*?. 8aka kation!kation, dan anion!anion tentunya akan berpasangan lebih kuat dalam
sistem!sistem pelarut demikian dibandingkan dalam air, dan faktor ini sendiri sa$a
dapat diharapkan akan mengubah selektivitas untuk resin. %elain mempengaruhi gaya!
gaya yang murni elektrostatik ini, adanya pelarut!pelarut organik dapat meningkatkan
kecenderungan suatu kation untuk membentuk kompleks dengan ligan lainnya, $adi
memodifikasi perilaku pertukaran ionnya. Dalam pelarut campuran air!organik,
besarnya efek!efek demikian $elas bergantung pada proporsi pelarut organik yang ada.
%eperti telah ditun$ukkan, resin!resin penukar ion merupakan sistem!sistem
osmotik yang mengembang karena pelarut tertarik ke dalam resin. Dimana sistem
pelarut campuran digunakan, ter$adi kemungkinan osmosis preferensial (osmosis yang
lebih dipilih), dan telah diperlihatkan bahwa fase resin!resin kation yang sangat asam
dan fase resin anion yang sangat basa, cenderung untuk secara dominan menyerap air
ke dalam struktur resin, sedangkan larutan yang mengambang di antara resin!resin,
secara dominan adalah pelarut organik. Afek ini (sorpsi air yang lebih dipilih
(preferensial) oleh resin) meningkat dengan menurunnya tetapan dielektrik dari pelarut
organik itu.
%uatu akibat yang menarik dari sorpsi selektif ini adalah bahwa kondisi!kondisi
untuk kromatografi (partition chromatography) muncul, yang dapat memperbaiki
faktor!faktor pemisahan pertukaran ion yang normal. ,spek ini telah dimanfaatkan
oleh Korkisch untuk pemisahan ion!ion anorganik dengan apa yang disebut B8etode
Kombinasi Pertukaran on!Akstraksi pelarutB (/%A ; Combined Ion Exchange-Solvent
Extraction).
IV.Resin-resin Penukar-Ion Pem"entuk #epit
%uatu sifat penting dari penukar ion penyempit adalah selektivitas mereka yang
lebih besar dibandingkan penukar!ion $enis konvensional. ,finitas suatu ion logam
tertentu terhadap suatu resin!penyempit tertentu, bergantung terutama pada sifat gugus
penyepit. Dan perilaku selektif dari resin, terutama didasarkan atas perbedaan!
perbedaan dalam kestabilan komplek!komplek logam yang berbentuk pada resin itu
pada berbagai kondisi p4.
Proses pertukaran ion dalam suatu resin!penyepit biasanya lebih lambat
ketimbang dalam penukar $enis biasa, dimana la$u nampaknya dikendalikan oleh
mekanisme difusi partikel.
8enurut @regor et al., sifat!sifat berikut diperlukan untuk suatu zat penyepit,
yang akan dimasukkan sebagai gugus fungsional ke dalam suatu resin penukar!ion.
'. zat penyepit itu harus, sendirian, atau bersama!sama sebuah zat perangkai!silang,
menghasilkan ke dalam suatu gel resin yang cukup stabilC atau ia sanggup
dimasukkan ke dalam suatu matriks polimer.
(. gugus penyepit itu harus memiliki kestabilan kimia yang cukup, sehingga selama
sintesis (pembentukan) resin itu, struktur fungsionalnya tak berubah oleh
polimerisasi atau reaksi apapun.
). struktur ruang (sterik) dari gugus penyepit itu harus kompak, sehingga
pembentukan cincin sepit dengan kation, tak akan terintangi oleh matriks resin.
*. tata letak gugus!gugus ligan yang spesifik itu harus tetap terpelihara di dalam resin.
ni terutama perlu karena zat!zat penyepit yang membentuk komplek yang stabil,
biasanya paling sedikit tridentat
Pertimbangan!pertimbangan ini menun$ukkan bahwa banyak zat penyepit tak
dapat dimasukkan ke dalam suatu resin, tanpa kehilangan kemampuan!kemampun
mereka untuk membentuk kompleks yang selektif.
-ahan permulaan untuk sintesis resin penyepit ini adalah stirena!divinilbenzena
terklorometilasi yang mengalami reaksi aminasi dan laku diolah dengan asam mono!
klorasetat.
V. Penukar-Ion $airan
Proses penukaran ion yang melibatkan resin penukar, ter$adi antara fase padat
dengan fase cair, sementara dalam hal penukar ion cairan, proses berlangsung antara (
larutan yang tidak saling tercampurkan. Penukar ion cairan terdiri dari asam dan basa
yang berbobot molekul tinggi, yang memiliki kelarutan yang rendah dalam air, tetapi
kelarutan yang tinggi dalam pelarut!pelarut yang tidak tercampurkan dengan air.
-egitulah, larutan suatu basa yang tidak larut dalam air, dalam pelarut yang tidak
tercampurkan dalam air, dapat digunakan sebagai penukar anion. %ama halnya dengan
asam yang tidak terlarutkan dalam air, dapat bertindak sebagai penukar kation untuk
ion!ion dalam larutan air.
Penukar anion yang sekarang tersedia sebagian besar berdasarkan amino alifatik
primer, sekunder dan tersier, misalnya penukar ion ,mberlite D,.' E3!dodesenil
(trialkilmetil)aminaF dan ,mberlite D,.( E3!lauril (trialkilmetil)aminaF, yang
keduanya adalah amin sekunder. /airan penukar anion paling baik digunakan sebagai
larutan dan pelarut organik inert seperti benzena, toluena, petroleum eter, sikloheksena,
dan sebagainya.
Ker$a penukar ion cairan melibatkan perpindahan selektif suatu zat terlarut
antara suatu fase air dan suatu fase organik yang tak tercampurkan yang mengandung
penukar cairan. -egitulah amina yang berbobot molekul tinggi, dalam larutan asam
menghasilkan kation!kation yang mampu membentuk spesi!spesi dengan berbagai
anion, yang dapat diekstraksi. 7eknik yang digunakan untuk pemisahan dengan
penukar ion cairan identik dengan teknik yang digunakan dalam pemisahan dengan
ekstraksi pelarut, $adi penukar!penukar ini memberi banyak sifat!sifat yang
menguntungkan baik dari pertukaran ion maupun ekstraksi pelarut. 3amun, ada
kesulitan dan kekurangan berkaitan dengan penggunaan mereka, dan ini penting
diperhatikan agar dapat menggunakan penukar ion cairan secara efektif.
%. AP&IKA#I KROMATOGRAFI PENUKAR ION
Kromatografi penukar ion (atau kromatografi ion) adalah sebuah proses yang
memberikan pemisahan ion!ion dan molekul polar berdasarkan their charge. Kromatografi
ini dapat digunakan untuk hampir semua $enis of charge molecule termasuk protein besar,
nukleotida kecil, dan asam amino. Darutan yang dimasukkan biasa disebut sampel, dan
pemisahan komponen!komponen secara sendiri!sendiri disebut analit. Kromatografi
penukar ion sering digunakan dalam pemurnian protein, analisis air, dan kontrol
kualitas.
Protein merupakan makromolekul yang tersusun dari building blok asam!asam
amino.Dalam setiap molekul dari setiap $enis protein tertentu mempunyai komposisi dan
deret asamamino, serta pan$ang rantai polipeptida yang tidak sama.
%alah satu tahap yang banyak digunakan untuk pemurnian protein adalah
pengendapan protein. Pengendapan ini dapat dilakukan dengan mengubah kekuatan ionic,
p4, pnambahan pelarut organik, polimer dan penambahan garam. @aram + garam yang
efektif digunakan pada proses pengendapan protein adalah garam yang multi anonik
seperti sulfat, fosfat, dansitrat (%copes,'<<*).
Pemurnian Protein
Kromatografi pertukaran ion memisahkan protein berdasarkan pada muatan bersih
protein dan pada kekuatan relatif dari muatan bersih protein tersebut. Kromatografi
pertukaran ion memerlukan fase diam yang biasanya merupakan polimer terhidratasi yang
bersifat tidak larut seperti selulosa, dekstran dan agarosa. @ugus penukar ion
diimobilisasikan pada matrik. -eberapa gugus penukar anion yaitu aminoetil (,A!)
kuaternari aminoetil (G,A!) dan dietilaminoetil (DA,A!), sedangkan gugus penukar
kation yaitu sulfopropil (%P!), metil sulfonat dan karboksimetil (/8!). Penukar ion lemah
hanya dapat mempertahankan kondisi terionisasi pada rentang p4 sempit dan kehilangan
muatannya pada p4 tertentu, sedangkan penukar ion kuat dapat mempertahankan kondisi
terionisasi pada rentang p4 yang luas. 8isalnya gugus penukar anion lemah DA,A!
terionisasi sempurna dibawah p4 H.? dan akan kehilangan muatannya pada p4 <.?. @ugus
penukar kation lemah /8! akan kehilangan muatannya dibawah p4 *.=. @ugus penukar
ion kuat G (penukar anion kuat) dan %P! (penukar kation kuat) dapat mempertahankan
kondisi terionisasi pada rentang p4 ' + '?.
Dasar dari kromatografi pertukaran ion adalah ion bermuatan dapat dengan bebas
dipertukarkan dengan ion yang memiliki tipe muatan yang sama. Protein yang memiliki
muatan negatif dapat dipertukarkan dengan ion klorida. 8ula!mula gugus fungsional
matrik yang bermuatan negatif mengikat ion dari bufer (misalnya 3a.). Pada saat sampel
dimasukkan ke dalam kolom, maka protein yang bermuatan positif akan menggantikan ion
3a. sedangkan protein yang bermuatan negatif atau netral tidak akan terikat. Protein yang
tidak terikat dibilas dengan menggunakan buffer (biasanya dengan konsentrasi '?!=? m8).
Proses selan$utnya adalah melepaskan ikatan protein yang terikat gugus fungsional matrik
dengan cara membilas kolom menggunakan bufer yang mengandung 3a/l atau K/l.
Pembilasan dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi 3a/l atau K/l secara linier atau
bertahap sehingga protein yang memiliki ikatan lemah dengan matrik akan lepas terlebih
dahulu dan diikuti oleh protein yang memiliki ikatan lebih kuat.
Pemurnian protein dengan kromatrografi pertukaran ion
Pemilihan penukar ion tergantung pada muatan protein target. 8uatan bersih
protein tergantung pada p4 (protein semakin bermuatan positif dengan menurunkan p4
dan semakin negatif dengan menaikkan p4). Pada saat menentukan p4 untuk
kromatografi, maka harus diperhatikan stabilitas protein target pada p4 yang dipilih.
,pabila protein stabil pada p4 diatas titik isoelektriknya (p) maka digunakan penukar
anion (positif), tetapi bila protein stabil pada p4 dibawah p nya maka digunakan penukar
kation (negatif). 1ika protein stabil pada rentang ' unit diatas dan dibawah p maka kedua
penukar ion dapat digunakan.
8atrik yang mengikat gugus fungsional menentukan sifat aliran, ion yang dapat
diikat, stabilitas mekanik dan kimia. ,da ) kelompok matrik yang biasanya digunakan,
yaitu & '. polistiren, poliakrilik atau polifenolC (. selulosaC dan ). Dekstran (%ephadeI) atau
agarosa (sepharose). 8atrik polistiren dan polifenolik lebih sering digunakan untuk
memisahkan molekul!molekul kecil seperti asam!asam amino, peptida kecil, nukleotida,
nukleotida siklik, asam!asam organik. 8atrik selulosa biasanya digunakan untuk
memisahkan protein (termasuk enzim), polisakarida dan asam nukleat. DA,A!selulosa,
/8!selulosa dan fosfoselulosa paling sering digunakan. 8atrik polidekstran dan agarosa
(misalnya DA,A!%ephadeI, /8%ephadeI) digunakan untuk memisahkan protein, hormon,
t#3, dan polisakarida. Pada pemurnian Iilanase, matrik selulosa biasanya tidak
digunakan karena beberapa Iilanase tertentu memiliki cellulose binding domain
(%ubramaniyan J Prema (??() yang akan berinteraksi pada proses elusi normal.
Pemilihan penukar ion kuat atau lemah tergantung pada p4 molekul target.
8olekul yang memerlukan p4 sangat rendah atau sangat tinggi untuk dapat erionisasi atau
apabila molekul stabil pada p4 ekstrim maka penukar ion kuat harus digunakan. Penukar
ion lemah akan memberikan hasil pemisahan yang lebih baik untuk protein!protein yang
memiliki muatan bersih yang berdekatan. Keuntungan kromatografi penukar ion
diantaranya adalah tidak merusak protein yang dimurnikan dan pada umumnya memiliki
kapasitas pengikatan yang tinggi. Kelemahannya adalah protein!protein yang memiliki
distribusi gugus bermuatan pada permukaannya atau memiliki p yang sama atau mirip
akan sulit dipisahkan dengan cara kromatografi penukar ion. %elain itu larutan enzim hasil
kromatografi penukar ion mengandung kadar garam cukup tinggi yang harus dihilangkan
untuk proses pemurnian selan$utnya.
Proses penukar ion dapat dipisahkan men$adi * langkah yaitu&
1. A>uilibrasi
(. ,plikasi sampel
3. Alusi
4. #egenerasi
1. E'ui!i"rasi
7ahap adalah kesetimbangan terhadap fase stasioner atau fase diam untuk
membuat kondisi awal yang diinginkan. Ketika ter$adi kesetimbangan, semua bagian
dari gugus muatan pada fase stasioner berikatan dengan counter ion penukar, misalnya
on Klorida (/l!) atau %odium (3a.).
(. Ap!ikasi #ampe!
7ahap adalah aplikasi sampel dan pencucian. 7u$uan pada tahap ini adalah
untuk mengikatkan molekul yang men$adi target dan mencuci semua material yang
tidak terikat dengan sampel buffer yang mempunyai p4 dan kekuatan ionik sama,
seperti buffer awal agar supaya semua muatan protein berikatan dengan tepat.
3. E!usi
Dalam tahap ketiga ini adalah elusi, biomolekul dilepaskan dari penukar ion
dengan mengubah komposisi buffer, yang umum digunakan adalah peningkatan ionik
dengan 3a/l atau gram sederhana lainnya agar supaya ter$adi penurunan ikatan
protein. Deabsorbsi protein relatif terhadap $umlah gugus bermuatan pada
permukaanya.
4. Regenerasi
7ahap akhir adalah regenerasi, membuang semua molekul yang masih berikatan,
ini untuk memastikan bahwa kapasitas penuh dari fase stasioner untuk dapat digunakan
selan$utnya.
Enzim
Anzim adalah protein globular yang umumnya berfungsi sebagai biokatalis pada
semua proses kimia dalam makhluk hidup, sehingga disebut life is enzyme. Anzim mampu
meningkatkan reaksi kimia tetapi tidak diubah oleh reaksi yang dikatalisnya serta
tdak megubah kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Anzim mempunyai daya
katalisisspesifik yang lebih besar dari katalisator lainnya.
Anzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. %ebagai
protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi antara
lain konversi energi dan metabolism pertahanan sel.
5ntuk dapat memahami bagaimana aplikasi kromatografi penukar ion dalam
pemurnian protein, maka kami mengambil satu dari sekian banyak penelitian!penelitian
yang telah dilakukan mengenai isolasi dan pemurnian protein yaitu salah satunya enzim
Iilanase. ,plikasi kromatografi penukar ion dalam pemurnian protein ini $uga dapat
dikembangkan dalam bidang industri.
Ap!ikasi Kromatografi Penukar Ion a!am Iso!asi dan Karakterisasi )i!anase dari
Bacillus circulans
A. PENA*U&UAN
Perkembangan teknologi industri terus mengalami kema$uan terutama teknologi
yang berwawasan lingkungan. %aat ini telah dikembangkan proses bioteknologi dalam
industri pulp dan kertas. %alah satu upaya yang sedang dikembangkan adalah penggunaan
enzim pada beberapa proses pembuatan pulp dan kertas seperti pada pemasakan (cooking),
reduksi pitch, pemutihan (bleaching) dan deinking. Pemakaian enzim memiliki banyak
keunggulan seperti menghemat energi, mengurangi kebutuhan bahan kimia dan
meningkatkan kekuatan pulp dan kertas.
%alah satu enzim yang banyak dimanfaatkan dalam industri pulp dan kertas adalah
Iilanase. Kilanase bisa digunakan untuk menghidrolisis Iilan (hemiselulosa) men$adi gula
Iilosa. Kilan banyak diperoleh dari limbah pertanian dan industri makanan. Pengembangan
proses hidrolisis secara enzimatis merupakan prospek baru untuk penanganan limbah
hemiselulosa. Penggunaan enzim Iilanase diharapkan dapat mereduksi penggunaan bahan
kimia klorin yang bersifat berbahaya pada bagi lingkungan sehingga dengan menggunakan
enzim Iilanase, proses pemutihan men$adi lebih ramah lingkungan. Proses pemutihan
adalah proses yang memisahkan serat kertas dari lignin (penyebab kertas berwarna kusam)
,yang selama ini memakai pemutih kimia. Kilanase digunakan untuk meningkatkan
ekstraksi lignin dan melepaskan kromofor dari pulp dalam tahapan awal pemutihan pulp.
7u$uan utama dari proses pemutihan adalah untuk meningkatkan dera$at putih pulp,
sehingga pulp tersebut sesuai untuk dibuat kertas dengan $enis tertentu. Proses pemutihan
pulp tidak hanya membuat pulp men$adi lebih putih atau cerah, tetapi $uga membuatnya
stabil sehingga tidak menguning atau kehilangan kekuatan dan dera$at putih selama
penyimpanan.
Kilanase yang dibutuhkan dalam proses prapemutihan pulp diharapkan memiliki
beberapa karakteristik spesifik seperti tahan suhu tinggi (H?!6?
o
/), tahan p4 alkali, berupa
endoIilanase dan bebas dari aktivitas selulase.
Kilanase dapat diproduksi oleh beberapa organisme seperti bakteri, alga, $amur,
aktinomisetes, ragi, protozoa, gastropoda dan artropoda. -eberapa $enis bakteri dan $amur
diketahui mampu menghasilkan Iilanase ekstraseluler yang dapat menghidrolisis
hemiselulosa men$adi Iilosa. %elain itu beberapa mikroorganisme yang terdapat pada
ruminansia diketahui berpotensial sebagai penghasil Iilanase karena hewan ruminansia
tersebut mengkonsumsi hemiselulosa dalam $umlah besar.
@enus Bacillus diketahui sebagai penghasil Iilanase yang aktif pada suhu =? L/ +
H? L/, dengan p4 6 ! <, sehingga enzim dari bakteri ini diharapkan dapat diproduksi dan
digunakan pada proses awal pemutihan pulp di industri pulp dan kertas. 4asil penelitian
terdahulu menun$ukkan Bacillus circulans diketahui mampu menghasilkan Iilanase
dengan aktivitas selulase terendah. -erdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan
penelitian mengenai isolasi dan karakterisasi Iilanase dari Bacillus circulans. Diharapkan
dengan penelitian ini dapat mengatasi permasalahan ketersediaan enzim yang spesifik dan
kendala yang dihadapi dalam aplikasinya di industri pulp dan kertas. Pengembangan
produksi dalam skala komersial diharapkan dapat menciptakan kewirausahaan baru dan
$uga mendukung perkembangan industri pulp dan kertas yang berwawasan lingkungan.
%. %A*AN dan METOA
%a+an dan A!at
Peralatan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotary shaker, kantung
dialisis berbahan dasar selulosa (%@8, /4A8/,D) dengan ukuran pori yang dapat
memisahkan protein minimal '( kDa., refrigerated centrifuge, pengaduk magnetik, kolom
kromatografi, avometer, spektrofotometer, waterbath, elektroforesis 8ini Protean I.
-akteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah B. circulans yang berasal dari
laboratorium 8ikrobiologi, %ekolah lmu dan 7eknologi 4ayati, 7-, -andung. -ahan
utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah ammonium sulfat, 3a4/2
)
, 3a
(
/2
)
,
matriks DA,A!7oyopearl H=? 8 (7osoh /orp, 7okyo, 1epang), 3a/l, Iilosa, K
)
9e/3
H
,
Bovine serum albumin (-%,, 9raksi M, 8erck), ris base, glisin, 3a24, poliakriamida,
gliserol, bromofenol biru, Congo !ed, asam asetat. 8edium Iilan terdiri dari pepton ?,=N,
ekstrak ragi ?,=N, K
(
4P2
*
?,'N, 8g%2
*
.64
(
2 ?,?(N, Iilan oat spelt ?,=N (%igma
/hemical), p4 medium diatur '?,= dengan 3a
(
/2
)
'N.
Metoda
,. Iso!asi )i!anase
5ntuk mengetahui waktu bakteri menghasilkan Iilanase dan umur inokulum kultur
yang digunakan maka dilakukan pembuatan kurva tumbuh dan kurva aktivitas Iilanase
dari B. circulans. solat ditumbuhkan pada medium Iilan kemudian diinkubasi selama O?
$am. 5ntuk mengetahui pola pertumbuhan dan aktivitas Iilanase, diambil sampel se$umlah
) mD setiap dua $am sekali sampai dengan $am ke!(*, kemudian setiap enam $am sekali
sampai $am ke!H?, dan '( $am sekali sampai kultur berumur O? $am. %eluruh sampel yang
diperoleh dihitung $umlah koloninya dan aktivitas Iilanasenya. -erdasarkan kurva
pertumbuhan dan kurva aktivitas Iilanase yang telah dibuat, dilakukan produksi Iilanase.
Kultur B. circulans diinokulasikan ke dalam medium Iilan kemudian diinkubasi pada suhu
)6
P
/ dengan pengadukan (?? rpm selama 'O $am. nokulum yang digunakan adalah '?N
(vQv). Akstrak kasar enzim diperoleh dengan mensentrifugasi kultur bakteri dengan
kecepatan O.??? rpmselama '? menit pada suhu *
o
/.
(. Pemurnian Parsia! )i!anase
%eluruh tahapan pemurnian dilakukan pada suhu *
o
/ dengan diagram alir seperti dibawah
ini&
a. Fraksinasi Bertingkat dan Dialisis
Akstrak kasar enzim Iilanase dari hasil isolasi difraksinasi bertingkat dengan
menggunakan garam ammonium sulfat ((34
*
)
(
%2
*
) sehingga diperoleh persen saturasi ?!
(?, (?!*?, *?!H?, H?!O?, dan O?!'??. Darutan kemudian diaduk dan disentrifugasi dengan
kecepatan '(.??? rpm selama (= menit. Andapan yang diperoleh dilarutkan dalam buffer
3a4/2
)
!3a
(
/2
)
(= m8 p4 <,). 4asil fraksinasi kemudian didialisis dalam *,O D buffer
3a4/2
)
!3a
(
/2
)
selama (* $am.
b. Kromatografi Penukar Ion
9iltrat hasil dialisis kemudian dimurnikan lebih lan$ut dengan kromatografi kolom.
Kromatografi dilakukan dengan menggunakan bahan pendukung DA,A!7oyopearl H=? 8
yang telah disetimbangkan dengan buffer 3a4/2
)
!3a
(
/2
)
. 9iltrat hasil dialisis kemudian
dialirkan ke dalam kolom dan dielusi secara bertahap dengan menggunakan larutan 3a/l
(?!*=? m8) dalam buffer 3a4/2
)
!3a
(
/2
)
sehingga diperoleh fraksi!fraksi. %etiap fraksi
yang diperoleh diu$i aktivitas Iilanase dan kadar proteinnya. 5$i aktivitas Iilanase dan
pengukuran protein dilakukan menggunakan metode sebagai berikut&
-. U.i Akti/itas )i!anase
,ktivitas Iilanase diu$i dengan mengukur $umlah gula pereduksi dari substrat Iilan
dengan menggunakan metode 9erisianida ,lkali (Ralker dan 4armon, '<<H). 8ula!mula
ekstrak enzim se$umlah =? SD ditambahkan ke dalam substrat Iilan oat spelt '!)N
se$umlah '=? SD dalam buffer 3a
(
/2
)
!3a4/2
)
(=!'?? m8 (p4 '?,=). /ampuran
tersebut kemudian diinkubasi pada suhu )<
o
/ selama )? menit. ,ktivitas enzim dihentikan
dengan menambahkan ferisianida alkali se$umlah H?? SD dan dididihkan selama '? menit.
/ampuran ditambahkan air se$umlah * mD kemudian diukur pada ,*(?. %atu unit (5)
aktivitas Iilanase didefinisikan sebagai $umlah enzim yang dapat menghasilkan ' Smol
gula pereduksi (Iilosa) per menit dengan Iilan sebagai substrat.
0. Pengukuran Kadar Protein
Kadar protein diukur dengan menggunakan metoda -radford ('<6H) dengan
menggunakan bovine serum albumin (-%,,9raksi MC 8erck) sebagai standar.
5. Karakterisasi )i!anase
a. Penentuan pH dan Suu !ptimum
Penentuan p4 optimum dilakukan dengan mengu$i aktivitas Iilanase pada rentang
p4 O+'? dengan rentang p4 ?,=. 5ntuk penentuan p4 optimum Iilanase digunakan dua
$enis buffer yaitu buffer 7ris!/l untuk p4 O, dan buffer @lisin!3a24 untuk p4 O,=!'?.
Penyesuaian p4 enzim dilakukan dengan cara mengencerkan enzim se$umlah '?!'??I
pada berbagai p4 sehingga konsentrasi akhir buffer pada reaksi '?? m8. Penentuan suhu
optimum dilakukan dengan mengu$i aktivitas enzim Iilanase pada rentang suhu )?!<?
o
/
selama )? menit dengan rentang '?
o
/ pada p4 optimum yang diperoleh.
b. "nalisis #imogram
%ampel enzim dielektroforesis dengan native gel poliakrilamida '? N selama *!=
$am dengan kondisi dingin (*!O
o
/). 8ula!mula enzim dicampur dengan sampel buffer =I
yang mengandung 7ris!/l )'(,= m8 p4 H,O, gliserol =?N (vQv) dan -romofenol biru
?,?=N. %ampel se$umlah '?!)H SD dimasukkan ke dalam sumur kemudian dielektroforesis
dengan arus sebesar (* m, pada double strength running buffer (p4 <). @el
dielektroforesis pada 8ini Protean iI (-io #ad) dengan tanki elektroforesis vertikal. @el
kemudian direndam di dalam buffer @lisin!3a24 '?? m8 p4 O,= dengan substrat Iilan
?,'N pada suhu =?
o
/ selama (?!)? menit. @el kemudian diwarnai menggunakan Congo
!ed ?,'N selama '= menit pada suhu ruangan. @el tersebut kemudian dibilas dengan
menggunakan larutan 3a/l ' 8 sampai kelebihan warna pada pita hilang. @el lalu dibilas
kembali menggunakan asam asetat ?,=N sehingga akan diperoleh zona bening yang
menun$ukkan adanya aktivitas enzim Iilanase dengan latar belakang biru gelap.
$. PEM%A*A#AN
,. Iso!asi %. 1ir1u!ans
4asil skrining menun$ukkan bahwa isolate -. circulans dapat menghasilkan
Iilanase dengan memiliki aktivitas selusase rendah yaitu ?.()( 5QmD yang lebih rendah
$ika dibandingkan dengan isolate -acillus lainnya sehingga sesuai digunakan untuk
industry pulp dan kertas.
Kondisi fermentasi yang digunakan untuk menghasilkan ilanase adalah suhu )6
o
/,
p4 medium '?.= dengan pengadukan (?? rpm selama 'O $am dengan $umlah inokulum
bakteri yang digunakan adalah '?N (vQv). kurva aktivitas Iilanase yang tertinggi diperoleh
pada $am ke 'O dan $am ke )H (?.)6O 5QmD enzim). -erdasarkan kurva tersebut, maka
waktu bakteri yang digunakan untuk percobaan selan$utnya adalah 'O $am karena pada
waktu tersebut Iilanase mempunyai aktivitas tertinggi dan memiliki waktu fermentasi yang
singkat. Akstrak kasar enzim yang diperoleh dan fermentasi dengan menggunakan '?? mD
medium adalah '?? mD berarti Iilanase yang dihasilkan pada kondisi tersebut dapat
mencapai rendemen '??N.
(. Pemurnian parsia! 2i!anase
Pemurnian dilakukan secara parsial karena pada penelitian ini tidak bisa didapat
enzim yang benar( murni. 7ingkat kemurnian suatu enzim diketahui dari aktifitas enzim
tersebut dan berdasarkan kelipatan pemurnian enzim yang diperoleh. /ara mengetahui
aktifitas enzim dengan membagi aktifitas enzim hasil pemurnian dengan aktifitas enzim
awal ekstrak kasar enzim.
Akstrak kasar Iilanase difraksinasi bertingkat sehingga didapat = fraksi. Dengan
adanya garam ammonium sulfat pada konsentrasi tertentu berpengaruh terhadap kelarutan
suatu protein. 1ika konsentrasi garam tinggi maka kelarutan protein akan menurun
sehingga protein akan menurun sehingga protein dapat mengendap dengan sempurna,
tetapi $ika konsentrasi garam rendah maka akan ter$adi sebaliknya.
4asil fraksinasi menun$ukkan Iilanase dapat mengendap pada seluruh tingkatan
fraksinasi yang digunakan karena pada seluruh fraksi yang diperoleh menun$ukkan adanya
aktivitas Iilanase. Kilanase mulai dapat mengendap pada konsentrasi garam dengan persen
saturasi ? + (?N. Pengendapan protein semakin meningkat dengan peningkatan $umlah
garam yang ditambahkan dalam sampel protein yang ditandai dengan meningkatnya
$umlah endapan. Dalu fraksi tersebut didialisis untuk menghilangkan garam ammonium
sulfat dan molekul kecil berberat molekul rendah.
-erdasarkan hasil u$i aktivitas spesifik, aktivitas Iilanase fraksi dengan saturasi (?+
*?N menun$ukkan peningkatan aktivitas spesifik tertinggi yaitu sebesar =O=.'( 5Qmg,
maka sampel fraksi (? + *?N digunakan untuk proses pemurnian dengan kolom
kromatografi.
Anzim hasil fraksinasi (? + *? N yang telah didialisis dialirkan dalam kolom
penukar ion lalu dielusi secara bertahap dengan menggunakan 3a/l (? + *=? m8) dalam
buffer 3a4/2
)
!3a
(
/2
)
(= m8, p4 <.) sehingga diperoleh *? fraksi. Prinsip kolom
penukar ion adalah protein dengan ikatan elektrostatis yang lebih rendah dengan matriks
akan dielusi terlebih dahulu dan diikuti protein dengan ikatan elektrostatik yang lebih
tinggi. 4asil pemisahan protein dengan kolom penukar anion menun$ukkan puncak
aktivitas Iilanase tertinggi diperoleh pada fraksi ke '* dengan aktivitas spesifik O?=.*O
5Qmg.
4asil pemurnian enzim Iilanase menggunakan kromatografi penukar anion
menun$ukkan peningkatan aktivitas enzim spesifik men$adi O?=.*O 5Qmg dengan tingkat
kemurnian *H.O kali dibanding dengan ekstrak kasarnya.
-. Karakterisasi en3im 2i!anase
Karakterisasi enzim Iilanase dilakukan menggunakan enzim hasil pemurnian
parsial dengan parameter p4 dan suhu. 1uga menggunakan zimogram untuk mengetahui
keragaman Iilanase dari setiap tahapan pemurnian yang dilakukan.
Kilanase memiliki aktivitas optimum pada p4 <.= dan suhu 6=
o
+ O?
o
/. interaksi
kimia menyebabkan perubahan konformasi protein yang berpengaruh terhadap stabilitas
dan aktivitas protein yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mikro protein dan
distribusi asam amino bermuatan pada permukaan protein.
,danya modifikasi pada protein tersebut dapat meningkatkan interaksi pada protein
tersebut sehingga protein tersebut men$adi lebih rigid dan stabil pada suhu dan p4 tinggi,
sehingga enzim tidak terdenaturasi.
0. Keragaman )i!anase
Keragaman Iilanase dapat dianalisis menggunakan metode zimogram. ,nalisis ini
perlu dilakukan untuk mengetahui keragaman Iilanase pada saat tahap pemurnian.
Keragaman enzim dapat ter$adi karena adanya isoenzim. soenzim dihasilkan oleh bakteri
dengan tu$uan agar bakteri tersebut dapat menghidrolisis substrat Iilane dengan sempurna.
Dari hasil zimogram diatas diketahui bahwa terdapat dua $enis Iilanase, maka kita
dapat men$elaskan adanya dua puncak aktivitas saat penentuan suhu optimum. karena
memiliki -8 yang berbeda tetapi memiliki titik isoelektrik yang sama. Kedua Iilanase ini
kemungkinan adalah isoenzim, karena dilihat dari -8 yang berbeda tetapi memiliki titik
isoelektrik yang sama, karena kedunya mengendapa pada fraksi yang sama yaitu fraksi
saturasi (?!*?N. 7itik isoelektrik (7) adalah daerah p4 tertentu dimana protein tidak
mempunyai selisih muatan atau $umlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak
bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik pada p4 isoelektrik (p), suatu protein
sangat mudah diendapakan karena pada saat itu muatan listriknya nol. %ehingga $ika kita
hubungkan dengan p4 optimum Iilanase yang telah didapat (p4 <,=), ada kemungkinan
bahwa p4 kedua Iilanase B. circulans pada fraksi '* mendekati nilai p, akibatnya kedua
protein tersebut dapat mengendap pada fraksi yang sama.
4. Kemungkinan Penggunaan )i!anase di Industri Pu!p dan Kertas
Penggunaan Iilanase dengan karateristik spesifik seperti tahan alkali dan suhu tinggi akan
memiliki beberapa keunggulan $ika dilihat dari sisi teknis, ekonomi dan lingkungan.
a. "spek $eknis
1ika kita menggunakan Iilanase yang tahan alkali dan suhu tinggi akan memudahkan
penggunaan enzim pada tahapan pra!pemutihan, karena tidak perlu lagi dilakukan
proses netralisasi dan pendinginan pulp.
Penggunaan Iilanase pada tahap pemutihan dapat meningkatkan fibrilasi pulp dan
retensi air, mereduksi waktu penggilingan pulp virgin, meningkatkan dera$at giling
dari serat daur ulang, meningkatkan dera$at putih dan menurunkan bilangan kappa.
Penggunaan Iilanase $uga dapat meningkatkan kualitas kertas karena Iilanase dapat
meningkatkan viskositas pulp, yaitu dengan menurunkan konsumsi senyawa klorin
sampai dengan (?N dan dapat diperoleh dera$at putih yang sama dengan kontrol
(tanpa menggunakan Iilanase) pada tahapan pemutihan /A4 (chlorinasi, eItraction,
dan hipoklorit).
b. "spek Ekonomi
Anzim merupakan metode alternatif dengan biaya rendah sehingga dapat digunakan
untuk mereduksi penggunaan klorin dan bahan bahan kimia pemutihan lainnya.
Penggunaan Iilanase pada tahap pra!pemutihan ini dapat mereduksi penggunaan
bahan kimia berbahan dasar klorinQ bahan pengoksidasi yang bersifat toksik se$umlah
(?!*?N.
Digunakannya Iilanase yang sesuai dengan karakteristik untuk proses pra pemutihan
maka ketergantungan ketersediaan enzim untuk industri pulp dan kertas dari impor
dapat berkurang. %elain itu ter$adinya penurunan aktivitas enzim selama proses
penyimpanan dapat dikurangi karena pengadaan enzim yang kontinyu.
c. "spek %ingkungan
7elah kita ketahui bahwa penggunaan Iilanase pada tahap pra!pemutihan pulp
dapat mereduksi penggunaan bahan kimia berbahan dasar klorin atau bahan pengoksidasi
yang bersifat toksik se$umlah (?!*?N. Dengan menurunnya senyawa klorin yang
digunakan pada proses pemutihan maka secara teoritis diharapkan kandungan bahan
berbahaya seperti senyara organik terklorinasi (,2K) dan dioksin pada air limbah industri
pulp dan kertas dapat direduksi.
AFTAR PU#TAKA
Dehninger, ,.D., '<<*, "asar-dasar Biokimia, diter$emahkan oleh 8aggy
7henawid$aya.Arlangga, 1akarta
Pud$aatmaka, 4., (??(, #amus #imia, *)* + *)=, -alai Pustaka, 1akarta
#ichana, 3ur, (??(, $roduksi dan $rospek En%im &ilanase dalam $engembangan
Bioindustri di Indonesia, -alai Penelitian -ioteknologi dan %umberdaya @enetik
Pertanian, -ogor
%copes, #.K., '<<*, $rotein $urification' $rinciples and $ractice, %pringer Meriag, 3ewTork
7oha, 4.,., (??=, "eoxyribo (ucleic )cid ' #eanekaragaman* Ekspresi* !ekayasa +
Efek $emanfaatannya, ,lfabeta, -andung
Mogel, '<<*, #imia )nalisis #uantitatif )norganik, ed. *,((?!()', A@/, 1akarta
Ridhyastuti, 3., (??6, $urifikasi dan #arakterisasi &ilanase Ekstraseluler Streptomyces
sp. S##I-, )sal Sukabumi, P- Press, -ogor
http&QQen.wikibooks.orgQwikiQProteomicsQProteinU%eparationsU!
U/hromatographyQonUeIchange