Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN 6

SISTEM RESPIRASI



I. Tujuan Percobaan
Setelah melalukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu:
menjelaskan peranan sistem respirasi dalam mempertahankan homeostatis tubuh.
menjelaskan peran organ-organ yang terlibat dalam sistem respirasi.
Menerapkan cara sederhana dalam mendeteksi adanya kelainan dalam sistem
respirasi.

II. Prinsip
Sistem respirasi bekerjasama dengan sistem kardiovaskular dalam menyuplai oksigen
dan mengeliminasi karbondioksida (CO2).

III. Teori Dasar
Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang digunakan untuk
pertukaran gas. Sistem pernapasan umumnya termasuk saluran yang digunakan untuk
membawa udara ke dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas. Diafragma menarik
udara masuk dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi sistem pernapasan ditemukan pada
berbagai jenis makhluk hidup. Bahkan pohon pun memiliki sistem pernapasan.

1. Struktur Pernafasan Manusia

a. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung
berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar
keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk
lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi
menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang
mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk.

b. Faring
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran,
yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan
(orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring
(tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan
menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara. Makan sambil berbicara dapat
mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat
tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur agar peristiwa
menelan, bernafas, dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan
kesehatan.


c. Laring
Dari faring, udara pernapasan akan menuju pangkal tenggorokan atau disebut juga
laring. Laring tersusun atas kepingan tulang rawan yang membentuk jakun. Jakun tersebut
tersusun oleh tulang lidah, katup tulang rawan, perisai tulang rawan, piala tulang rawan, dan
gelang tulang rawan. Pangkal tenggorokan dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorokan
(epiglotis). Jika udara menuju tenggorokan, anak tekak melipat ke bawah, dan ketemu dengan
katup pangkal tenggorokan sehingga membuka jalan udara ke tenggorokan. Saat menelan
makanan, katup tersebut menutupi pangkal tenggorokan dan saat bernapas katup tersebut
akan membuka. Pada pangkal tenggorokan terdapat pita suara yang bergetar bila ada udara
melaluinya. Misalnya saat kita berbicara.

d. Tenggorokan (Trakhea)
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya 10 cm, terletak sebagian di leher dan
sebagian di rongga dada (torak). Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin
tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini berfungsi menyaring
benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.

e. Bronkus
Bronkus tersusun atas percabangan, yaitu bronkus kanan dan kiri. Letak bronkus
kanan dan kiri agak berbeda. Bronkus kanan lebih vertikal dari pada kiri. Karena strukturnya
ini, sehingga bronkus kanan akan mudah kemasukan benda asing. Itulah sebabnya paru-paru
kanan seseorang lebih mudah terserang penyakit bronkhitis. Pada seseorang yang menderita
asma bagian otot-otot bronkus ini berkontraksi sehingga akan menyempit. Hal ini dilakukan
untuk mencegah masuknya lebih banyak benda asing yang menimbulkan reaksi alergi.
Akibatnya penderita akan mengalami sesak napas. Sedangkan pada penderita bronkitis,
bagian bronkus ini akan tersumbat oleh lendir. Bronkus kemudian bercabang lagi sebanyak
2025 kali percabangan membentuk bronkiolus. Pada ujung bronkiolus inilah tersusun
alveolus yang berbentuk seperti buah anggur.

f. Cabang-cabang Tenggorokan (Bronki)
Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan
bronkus kiri. Struktur lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea, hanya tulang rawan
bronkus bentuknya tidak teratur dan pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang
rawannya melingkari lumen dengan sempurna. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi
bronkiolus.

g. Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian samping dibatasi oleh
otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. Paru-paru ada
dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri
(pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis,
disebut pleura. Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura
dalam (pleura visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan
dengan tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis). Antara selaput luar dan selaput
dalam terdapat rongga berisi cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas paru-paru. Cairan
pleura berasal dari plasma darah yang masuk secara eksudasi. Dinding rongga pleura bersifat
permeabel terhadap air dan zat-zat lain. Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus,
jaringan elastik, dan pembuluh darah. Paru-paru berstruktur seperti spon yang elastis dengan
daerah permukaan dalam yang sangat lebar untuk pertukaran gas. Di dalam paru-paru,
bronkiolus bercabang-cabang halus dengan diameter 1 mm, dindingnya makin menipis jika
dibanding dengan bronkus. Bronkiolus tidak mempunyi tulang rawan, tetapi rongganya masih
mempunyai silia dan di bagian ujung mempunyai epitelium berbentuk kubus bersilia. Pada
bagian distal kemungkinan tidak bersilia. Bronkiolus berakhir pada gugus kantung udara
(alveolus). Alveolus terdapat pada ujung akhir bronkiolus berupa kantong kecil yang salah
satu sisinya terbuka sehingga menyerupai busa atau mirip sarang tawon. Oleh karena alveolus
berselaput tipis dan di situ banyak bermuara kapiler darah maka memungkinkan terjadinya
difusi gas pernapasan.


2. Mekanisme Pernafasan

Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan
tertidur meskipun sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat
terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan
luar dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara
dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan
yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh.
Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam
rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih kecil
maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka
udara akan keluar.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan
pengeluaran udara (ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.
a. Pernapasan Dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antar tulang rusuk. Mekanismenya
dapat dibedakan sebagai berikut :
Fase inspirasi.
Fase ini berupa berkontraksinya otot antar tulang rusuk sehingga rongga dada
membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar
sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.

Fase ekspirasi.
Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi
semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai
akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga
udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

b. Pernapasan Perut

Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas
otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan
perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni sebagai berikut :
Fase Inspirasi.
Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya
rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.
Fase Ekspirasi.
Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi
semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar,
akibatnya udara keluar dari paru-paru.

3. Volume udara pernafasan

Dalam keadaan normal, volume udara paru-paru manusia mencapai 4500 cc. Udara
ini dikenal sebagai kapasitas total udara pernafasan manusia. Walaupun demikian, kapasitas
vital udara yang digunakan dalam proses pernafasan mencapai 3500 cc, yang 1000 cc
merupakan sisa udara yang tidak dapat digunakan tetapi senantiasa mengisi bagian paru-paru
sebagai residu atau udara sisa. Kapasitas vital adalah jumlah udara maksimum yang dapat
dikeluarkan seseorang setelah mengisi paru-parunya secara maksimum. Dalam keadaan
normal, kegiatan inspirasi dan ekspirasi atau menghirup dan menghembuskan udara dalam
bernafas hanya menggunakan sekitar 500 cc volume udara pernafasan (kapasitas tidal =
500 cc). Kapasitas tidal adalah jumlah udara yang keluar masuk paru-paru pada pernafasan
normal.
Dari 500 cc udara inspirasi/ekspirasi biasa, hanya sekitar 350 cc udara yang mencapai
alveolus, sedangkan sisanya mengisi saluran pernapasan. Volume udara pernapasan dapat
diukur dengan suatu alat yang disebut spirometer.


Gambar: Spirometer

Besarnya volume udara pernapasan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain ukuran alat pernapasan, kemampuan dan kebiasaan bernapas, serta kondisi kesehatan.

4. Pertukaran O2 dan CO2 dalam pernafasan

Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan
dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah
maupun jenis bahan makanan yang dimakan.
Pekerja-pekerja berat termasuk atlet lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding pekerja
ringan. Demikian juga seseorang yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dengan sendirinya
membutuhkan oksigen lebih banyak. Selanjutnya, seseorang yang memiliki kebiasaan
memakan lebih banyak daging akan membutuhkan lebih banyak oksigen daripada seorang
vegetarian.
Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24 jam)
atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume udara
inspirasi dan ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi oksigen udara
inspirasi berkurang atau karena sebab lain, misalnya konsentrasi hemoglobin darah
berkurang.
Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi
alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna darah atau pigmen darah
(hemoglobin) untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh. Hemoglobin yang terdapat dalam
butir darah merah atau eritrosit ini tersusun oleh senyawa hemin atau hematin yang
mengandung unsur besi dan globin yang berupa protein.

Proses difusi oksigen ke dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi
oleh tekanan O2 dalam udara inspirasi.
Tekanan seluruh udara lingkungan sekitar 1 atmosfir atau 760 mmHg, sedangkan tekanan O2
di lingkungan sekitar 160 mmHg. Tekanan oksigen di lingkungan lebih tinggi dari pada
tekanan oksigen dalam alveolus paru-paru dan arteri yang hanya 104 mmHg. Oleh karena itu
oksigen dapat masuk ke paru-paru secara difusi.

Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan O2 nya 104
mm, menuju ke jantung. Dari jantung O2 mengalir lewat arteri sistemik yang tekanan O2 nya
104 mm hg menuju ke jaringan tubuh yang tekanan O2 nya 0 - 40 mm hg. Di jaringan, O2 ini
akan dipergunakan. Dari jaringan CO2 akan mengalir lewat vena sistemik ke jantung.
Tekanan CO2 di jaringan di atas 45 mm hg, lebih tinggi dibandingkan vena sistemik
yang hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis yang tekanan O2
nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke paru-paru lalu dilepaskan ke
udara bebas.
Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mmHg dapat mengangkut 19 cc oksigen.
Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan
dalam darah vena. Dengan demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah
7 cc per 100 mm3 darah.
Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui 3 Cara yakni sebagai berikut :
Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim
anhidrase (7% dari seluruh CO2).
Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari
seluruh CO2).
Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai
pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2).

5. Energi dalam pernafasan
Energi yang digunakan dalam kegiatan respirasi bersumber dari ATP (Adenosin Tri
Fosfat) yang ada pada masing-masing sel. ATP berasal dari bahan-bahan karbohidrat yang
diubah menjadi fosfat melalui tiga tahapan. Mula-mula proses glikolisis oleh enzim
glukokinase membentuk piruvat pada siklus Glukosa (Tahap I) kemudian tahap II, yakni
siklus krebs (TCA = Tri Caboxylic Acid Cycle) kemudian tahap III, yakni tahap transfer
elektron. Glikolisis terjadi di sitoplasma, siklus krebs terjadi di mitokondria.

6. Gangguan Pada Respirasi
Gangguan pada sistem pernapasan adalah terganggunya pengangkutan O2 ke sel-sel
atau jaringan tubuh disebut asfiksi. Asfiksi ada bermacam-macam misalnya terisinya alveolus
dengan cairan limfa karena infeksi Diplokokus pneumonia atau Pneumokokus yang
menyebabkan penyakit pneumonia. Pada orang yang tenggelam, alveolusnya terisi air
sehingga difusi oksigen sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali sehingga mengakibatkan
orang tersebut shock dan pernapasannya dapat terhenti. Orang seperti itu dapat ditolong
dengan mengeluarkan air dari saluran pernapasannya dan melakukan pernapasan buatan
tanpa alat dengan cara dari mulut ke mulut dengan irama tertentu dan menggunakan metode
Silvester dan Hilger Neelsen. Asfiksi dapat pula disebabkan karena penyumbatan saluran
pernapasan oleh kelenjar limfa, misalnya polip, amandel, dan adenoid. Peradangan dapat
terjadi pada rongga hidung bagian atas dan disebut sinusitis, peradangan pada bronkus
disebut bronkitis, serta radang pada pleura disebut pleuritis. Paru-paru juga dapat mengalami
kerusakan karena terinfeksi Mycobacterium tuber culosis penyebab penyakit TBC.
Pengangkutan O2 dapat pula terhambat karena tingginya kadar karbon monoksida dalam
alveolus sedangkan daya ikat (afinitas) hemoglobin jauh lebih besar terhadap CO daripada
O2 dan CO2. Keracunan asam sianida, debu, batu bara dan racun lain dapat pula
menyebabkan terganggunya pengikatan O2 oleh hemoglobin dalam pembuluh darah, karena
daya afinitas hemoglobin juga lebih besar terhadap racun dibanding terhadap O2. Gejala
alergi terutama asma dapat pula menghinggapi sistem pernapasan begitu juga kanker dapat
menyerang paru-paru terutama para perokok berat. Penyakit pernapasan yang sering terjadi
adalah emfisema berupa penyakit yang terjadi karena susunan dan fungsi alveolus yang
abnormal.

IV. Alat dan Bahan

Alat :
- Spirometer
- Alat pengukur
- Stetoskop

Bahan :
- Etanol 70 %
- Kapas


V. Prosedur percobaan
V.1. Anatomi


V.2. Fisiologi
a. proses inspirasi dan ekspirasi

Ukurlah rongga dada rekan praktikan pada saat mengalami respirasi normal ( inspirasi dan
ekspirasi normal)


Diukur pula rongga dada rekan praktikan saat menarik nafas dalam (inspirasi dan ekspirasi
normal)


Bagian rongga dada diukur adalah daerah axial dan xiphoid

b. Bunyi pernafasan


Menempatkan stetoskop pada berbagai posisi di punggung



Didengarkan bunyi pernafasan rekan praktikan



Dihitung frekuensi pernafasan ( jumlah pernafasan / menit)



Dibahas kekuatan serta bunyi pernafasan rekan praktikan


c. Menentukan perbandingan Volume Tidal (VT), Volume Ekspirasi Cadangan (VEC),
dan Volume I nspirasi Cadangan (VI C)

Dilakukan inhalasi normal kemudian ekshalasikan normal ke dalam spirometer




Dicatat nilai yang tertera pada spirometer



Nilai yang diperoleh adalah nilai VT



Dilakukan ekshalasi normal



Setelah itu diekshalasikan sekuat-kuatnya ke dalam spirometer



Dicatat nilai yang tertera pada spirometer




Nilai yang diperoleh adalah nilai Kapasitas Vital (KV)


Dari nilai KV ini dapat diperoleh nilai VIC sbb:
Karena KV = VT + VIC + VEC, maka
VIC = KV (VT = VEC)

VI. Data pengamatan

a. Prose inspirasi dan ekspirasi

Tabel
Komponen komponen yang terlibat dan perubahan yang terjadi pada proses ekspirasi
dan inspirasi


Proses Komponen yang terlibat Perubahan yang terjadi
Ekspirasi - Dada
- Abdomen
Mengecil (Normal) => 93 cm
Mengembang => 99 cm
Inspirasi - Dada
- Abdomen
Mengembang => 104 cm
Mengempis => 89 cm

b. Bunyi pernafasan

Frekuensi pernafasan 11x per menit

c. Menentukan perbandingan Volume Tidal (VT), Volume Ekspirasi Cadangan, dan
Volume Inspirasi Cadangan (VIC)

o VT = 450
o VEC = 1000
o KV = 2200
o VIC = KV (VT+VEC)
= 2200 ( 450 + 1000 )
= 750 dengan perbandingan : 1 : 50, di dapat 9 : 20 : 25


VII. Pembahasan

a. Proses inspirasi dan ekspirasi

Pada proses inspirasi dan ekspirasi pada percobaan ini merupakan respirasi dada karena
mengukur perubahan ukuran dada ketika melakukan proses inspirasi dan ekspirasi. Pada
percobaan, ketika proses inspirasi dan ekspirasi dilakukan dan dilakukan pengukuran pada dada
tepat di daerah axila dan xiphoid (daerah yang lurus dengan ketiak), maka hasil yang didapat
ukuran dada ketika melakukan inspirasi lebih besar daripada ekpirasi. Hal ini disebabkan oleh
proses inspirasi dan ekspirasi itu sendiri. Pada proses inspirasi dan ekspirasi komponen organ
yang terlibat sama, tetapi berbeda pada komponen organ yang berbeda. Proses inspirasi
merupakan proses memasukkan udara ke dalam tubuh. Fase ini berupa berkontraksinya otot
antar tulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada
menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk ke
dalam tubuh. Ketika memasukkan udara ke dalam tubuh, rongga dada membesar, tulang rusuk
tertarik ke atas dan otot diafragma lurus. Sedangkan pada proses ekspirasi merupakan proses
mengeluarkan udara dari dalam tubuh. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot
antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga
dada menjadi kecil dan otot diafragma melengkung. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga
dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya
karbon dioksida keluar.

b. Bunyi pernafasan
Pada percobaan ini, jumlah frekuensi pernafasan yang di dapat sebanyak 11 x per menit.
Sedangkan kekuatan dan bunyi pernafasan tidak terlalu kuat dan tidak terdapat suara yang asing,
artinya pernafasan pada orang yang diuji tidak terjadi gangguan atau penyakit. Jika pada saat
mendengarkan bunyi suara terdapat bunyi yang asing seperti pengikan, besar kemungkinan
proses pernafasan terganggu atau mengidap penyakit asma. Sedangkan jumlah frekuensi
pernafasan melebihi jumlah frekuensi pernafasan normal yaitu 11 x permenit, ini disebabkan
tidak terlalu terdengarnya bunyi pernafasan dan suasana yang rame sehingga kemungkinan
terjadi kesalahan dalam pendengaran atau ketika dipriksa orang yang diperiksa tidak teratur
dalam mengatur pernafasannya atau orang tersebut sedang kelelaha sehingga mempengaruhi
frekuensi pernafasan.

c. Menentukan perbandingan volume tidal (VT), volume ekspirasi cadangan (VEC), dan
volume inspirasi cadangan (VIC)

Untuk menentukan VT, VEC, dan VIC dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang
disebut spirometer. Volume tidal merupakan volume udara pada waktu inspirasi atau ekspirasi
secara normal. Nilai VT bisa diperoleh dengan cara melakukan inhalasi secara normal dan
kemudian ekshalasi ke dalam spirometer. Pada percobaan nilai VT di dapat 450 mL. VEC
merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan berekspirasi sekuat-kuatnya
pada saat akhir ekspirasi normal. Pada percobaan VEC didapat 1000 mL. Sedangkan VIC
merupakan volume ekstra udara yang masih dapat dihirup setelah inspirasi normal sebagai
volume udara tambahan terhadap volume-volume tidal. VIC dapat diperoleh dari persamaan :
KV = VT + VEC + VIC
VIC = KV (VT + VEC)
KV merupakan kapasitas vital, yaitu jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang
setelah mengisi paru-parunya secara maksimum. Nilai KV dapat diperoleh dari alat spirometer
dengan cara melakukan inhalasi sedalam mungkin dan ekshalasikan sekuat-kuatnya ke dalam
spirometer. Pada percobaan nilai KV di dapat 2200 mL. Setelah mendapatkan nilai KV maka
kita dapat mengetahui nilai VIC. Maka nilai VIC sebesar 750 mL. Setelah mengetahui nilai VT,
VEC, dan VIC, kita dapat mengetahui apakah pernafasan pada orang yang diuji normal atau
tidak dengan cara membandingkan nilai VT, VEC, dan VIC. Pada percobaan ini,
perbandingannya adalah 1 : 50. Maka perbandingan nilai VT, VEC, dan VIC pada orang yang
diuji adalah 1 : 20 : 25.
Setelah mengetahui perbandingan VT, VEC, dan VIC tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pernafasan pada orang tersebut normal.


VIII. Kesimpulan

pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan
darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara
darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan pengeluaran
udara (ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan
dada dan pernapasan perut.
Proses inspirasi merupakan proses berkontraksinya otot antar tulang rusuk sehingga rongga
dada membesar dan diafragma lurus, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih
kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
proses ekspirasi merupakan proses relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke
posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil dan
diafragma melengkung. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih
besar daripada tekanan luar, sehingga udara
dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
Pada proses inspirasi dan ekspirasi, komponen organ yang telibat adalah tulang rusuk, rongga
dada, dan otot diafragma.
VT merupakan volume udara pada waktu inspirasi atau ekspirasi secara normal.
VEC merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan berekspirasi sekuat-
kuatnya pada saat akhir ekspirasi normal.
VIC merupakan volume ekstra udara yang masih dapat dihirup setelah inspirasi normal
sebagai volume udara tambahan terhadap volume-volume tidal.
KV merupakan jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang setelah mengisi
paru-parunya secara maksimum.
Kenormalan pernafasan dapat diketahui dengan cara melakukan perbandingan nilai VT,
VEC, dan VIC.
Nilai VIC dapat diketahui dengan cara :
KV = VT + VEC + VIC
VIC = KV (VT + VEC)









IX. Daftar pustaka

o http://www.slatergartrellsports.com.au/media/catalog/product/cache/1/image/9df78eab3352
5d08d6e5fb8d27136e95/s/p/spirometer.jpg

o http://3.bp.blogspot.com/-2rH7E7-
CmoM/UoQRhL1fJOI/AAAAAAAAAY4/gxUarxUl3yY/s1600/Bagian+Pernafasan.png

o http://ogysogay.blogspot.com/2011/04/sistem-respirasi-laporan-anfisman.html

o http://ilmusainsbiologi.blogspot.com/2011/05/laporan-anfisman-sistem-pernapasan.html