Anda di halaman 1dari 13

BAB II

Tinjauan Pustaka
A. FRAKTUR
Defenisis Fraktur
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang, rawan, sendi dapat
terjadi akibat trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal
pada tulang. (Apley, 1995)
Klasifikasi Fraktur :
Secara klinis fraktur dapat dibagi berdasarkan ada atau tidaknya hubungan patahan
dengan dunia luar, yaitu: (Chairuddin, 2009)
a. Fraktur tertutup fraktur dengan kulit di atasnya masih utuh
b. Fraktur terbuka terdapatnya hubungan fraktur melalui dunia luar, kulit atau
organ tubuh tertembus sehingga terjadi kontaminasi bakteri dan dapat mengalami
infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat
Derajat 1 : laserasi < 1 cm, kerusakan jaringan tidak berarti, relative bersih.
Derajat II : laserasi >1 cm, tidak ada kerusakan jaringan yag hebat atau avulsi,
ada kontaminasi
Derajat III : terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak, termasuk otot,
kulit, dan struktur neurovascular dengan kontaminasi hebat.
- III a : jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat
laserasi hebat ataupun ada flap
- III b : kerusakan dan kehilangan jaringan, terdapat pendorongan periost,
tulang terbuka, kontaminasi hebat dan fraktur kominitif yang hebat
- III c : fraktur terbuka disertai kerusakan arteri yang memerlukan perbaikan
tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jarigan lunak.
Klasifikasi berdasarkan Radioogi
Berdasarkan bentuk garis fraktur:
a. Fraktur komplit fragmen proksimal terputus total dari fragmen distal
Garis fraktur dapat berupa transversal, oblik, spiral atau kominutif, impaksi









b. Fraktur inkomplit tulang terpisah secara tak lengkap dan periostium tetap
menyatu, missal pada fraktur greenstick yaitu tulang bengkok atau
melengkukng seperti ranting daun yang dipatahkan.


Gambaran Klinis Fraktur
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma baik yang hebat ataupun trauma
ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan anggota gerak, adanya
pembengkakan atau nyeri pada anggota gerak.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal perlu diperhatikan adanya syok, anemia, perdarahan, cedera
organ lain seperti kepala, medulla spinalis, organ toraks, abdomen dan panggul.
Status lokalis :
Look : lihat ada luka atau tidak, ekstravasasi darah di bawah kulit, deformitas
(angulasi, discrepancy, rotasi), edema,
Feel : Nyeri tekan, krepitasi, penilaian Neuro vascular distal, pengukuran panjang
tungkai,
Move : niai pergerakan secara aktif dan pasif pada sendi proksimal dan distal pada
daerah yang mengalami trauma

Pemeriksaan penunjang
Gold standar : Rontgen Foto polos, dengan prinsip dua
2 posisi proyeksi, minimal AP dan lateral
2 sendi anggota gerak
2 anggota gerak (terutama anak-anak)
2 trauma (pada trauma yang hebat biasanya menyebabkan fraktur pada dua
daerah tulang)
2 kali foto ( pada fraktur tertentu seperti fraktur skafoid)
Tatalaksana
Penanganan Fraktur dengan dasar 4R
- Recognition Diagnosa dan penilaian fraktur
- Reduction melakukan reposis pada fraktur untuk mengembalikan
kedudukan fragmen fraktur ke posisi anatomis
- Retaining tindakan fiksasi untuk mempertahankan kedudukan
- Rehabilitation melatih kembali fungsi angota gerak
Fraktur tertutup
1. Konservatif : dengan mitela (sling), bidai, gips,
Indikasi : fraktur yang tidak bergeser, fraktur iga yang stabil, fraktur falag atau
metakarpal
2. Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi perkutaneus dengan K-wire
3. Reduksi terbuka dan fiksasi interna
4. Eksisi fragmen tulang dan penggantian dengan protease
Fraktur terbuka
1. Bersihkan luka ( golden periode 6-7 jam)
2. Antibacterial (sebelum selama dan seseudah treatmen)
3. Antitetanus
4. Debridement
5. Tatalaksana tulang yang fraktur , tergantung jenis fraktur, jika grade 1 reposisi
dan pemasangan gips, jika kerusakan tulang dan jaringan lunak luas dilakukan
ORIF, atau jika disertai dengan fraktur komunitif dilakukan eksternal fiksasi.


B. FRAKTUR COLLUM FEMUR
1. Definisi
Fraktur collum femur merupakan fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian
proksimal femur. Yang termasuk collum femur adalah mulai dari bagian distal
permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter.

2. Epidemiologi
Fraktur collum femur merupakan cedera yang banyak dijumpai pada pasien usia tua
dan menyebabkan morbiditas serta mortalitas. Fraktur collum femur sering terjadi
pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada wanita yang disebabkan oleh
kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca
menopause.
Lebih dari 250.000 fraktur pinggul terjadi di Amerika Serikat setiap tahun (50%
termasuk fraktur collum femur), dan jumlah ini diperkirakan dua kali lipat pada tahun
2040. 80 % terjadi pada wanita, dan insidensinya menjadi 2 kali lipat setiap 5 hingga
6 tahun pada wanita usia lebih dari 30 tahun. Terdapat suatu bimodal insidensi,
insiden pada pasien muda sangat rendah dan terutama dikaitkan dengan trauma energi
tinggi. Kebanyakan terjadi pada usia tua dengan umur rata-rata 72, sebagai hasil
terjatuh dengan energi rendah. Insiden fraktur collum femur di Amerika Serikat
adalah 63,3 dan 27,7 tiap 100,000 populasi/tahun untuk pria dan wanita. Faktor resiko
termasuk jenis kelamin wanita, ras kulit putih, peningkatan umur, kesehatan yang
buruk, pengguna tembakau dan alkohol, riwayat fraktur terdahulu, riwayat terjatuh
dan rendahnya kadar estrogen. Angka pasti kasus fraktur collum femur tidak
diketahui.
Pada suatu penelitian dari Inggris diketahui bahwa pasien yang berusia di atas 82
tahun ( 7 tahun) memburuk setelah mengalami fraktur ini dan angka kematian
berkisar antara 20-35% dalam 1 tahun. Mayoritas pasien adalah wanita (80%).

3. Faktor Resiko
Fraktur collum femur dan fraktur subtrochanter femur banyak terjadi pada
wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami
osteoporotik. Trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh
terpeleset di kamar mandi), sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat
mengalami kecelakaan, jatuh dari ketinggian atau jatuh dari sepeda.

4. Klasifikasi
Klasifikasi fraktur femur :
1. Fraktur intrakapsular, fraktur ini terjadi di kapsul sendi pinggul
a. Fraktur kapital : fraktur pada kaput femur
b. Fraktur subkapital : fraktur yang terletak di bawah kaput femur
c. Fraktur transervikal : fraktur pada kolum femur
2. Fraktur ekstrakapsular, fraktur yang terjadi di luar kapsul sendi pinggul
a. Fraktur sepanjang trokanter mayor dan minor
b. Fraktur intertrokanter
c. Fraktur subtrokanter

Klasifikasi fraktur collum femur menurut Gardens (1961) adalah sebagai berikut :
a.Grade I : Fraktur inkomplit (abduksi dan terimpaksi)
b.Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran fragmen tulang
c.Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian fragmen fraktur (varus
malaligment).
d.Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen
yang bersinggungan.

Klasifikasi Pauwels untuk fraktur collum femur juga sering digunakan. Klasifikasi
ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal
pada posisi tegak.
a. Tipe I : Garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada
posisi tegak.
b. Tipe II : Garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal
pada posisi tegak.
c. Tipe III : Garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada
posisi tegak

5. Patologi
Kaput femoris mendapat vaskularisasi dari 3 sumber, yaitu dari pembuluh darah
intramedulla pada collum femur, pembuluh darah servikal asenden pada retinakulum
kapsular dan pembuluh darah pada ligamentum kapitis femoris. Pasokan darah
intramedulla selalu terganggu oleh fraktur; pembuluh retinakular juga dapat robek
bila terdapat banyak pergeseran. Pada pasien usia lanjut, pasokan yang tersisa dalam
ligamentum teres sangat sedikit dan pada 20% kasus tidak ada. Hal inilah yang
menyebabkan tingginya insidensi nekrosis avaskular pada fraktur collum femur yang
disertai pergeseran.
Fraktur transervikal, menurut definisi, bersifat intrakapsular. Fraktur ini
penyembuhannya buruk karena dengan robeknya pembuluh kapsul, cedera itu
melenyapkan persediaan darah utama pada kaput femur, kemudian karena tulang
intra-artikular hanya mempunyai periosteum yang tipis dan tidak ada kontak dengan
jaringan lunak yang dapat membantu pembentukan kalus, serta akibat adanya cairan
sinovial yang mencegah pembekuan hematom akibat fraktur itu. Karena itu ketepatan
aposisi dan impaksi fragmen tulang menjadi lebih penting dari biasanya. Terdapat
bukti bahwa aspirasi hemartrosis dapat meningkatkan aliran darah dalam kaput
femoris dengan mengurangi tamponade.

6 Manifestasi Klinik
Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul.
Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
pemendekakan dari tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi
serta eksorotasi. Terdapat nyeri tekan di daerah panggul.

7. Diagnosis
Penegakan diagnosis fraktur collum femur dibuat berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
a.Anamnesis
Dari anamnesis diketahui adanya riwayat trauma/jatuh yang diikuti nyeri pinggul,
pada pemeriksaan didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi, eksorotasi dan
abduksi. Pada atlet yang mengalami nyeri pinggul namun masih dapat berjalan
pemeriksaan dimulai dengan riwayat rinci dan pemeriksaan fisik. Dokter harus
menanyakan apakah gejala yang muncul terkait dengan olahraga atau kegiatan
tertentu. Riwayat latihan fisik harus diperoleh dan perubahan dalam tingkat aktivitas,
alat bantu, tingkat intensitas, dan teknik harus dicatat.
Adanya riwayat menstruasi harus diperoleh dari semua pasien wanita.
Amenore sering dikaitkan dengan penurunan kadar serum estrogen. Kurangnya
estrogen pelindung menyebabkan penurunan massa tulang. Trias yang dijumpai pada
wanita bisa berupa amenore, osteoporosis, dan makan teratur banyak mempengaruhi
perempuan aktif. Tanda dan gejala pada perempuan meliputi fatigue, anemia, depresi,
intoleransi dingin, erosi enamel gigi.
b.Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Pemeriksaan ini dimulai dengan pengamatan pasien selama evaluasi.
Perhatikan setiap kali pasien meringis atau pola-pola abnormal. Pasien dengan patah
tulang leher femur biasanya tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada
panggul. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
pemendekakan dari tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi
serta eksorotasi. Amati krista iliaka untuk setiap ketinggian yang berbeda, yang
mungkin menunjukkan perbedaan fungsional panjang kaki. Alignment dan panjang
ekstremitas biasanya normal, tapi gambaran klasik dari pasien dengan fraktur yang
pendek dan ekstremitas eksternal diputar. Penilaian ada tidaknya atrofi otot atau
asimetri juga penting.

Palpasi
Pada palpasi fraktur diagnosis sering ditemukan adanya hematom di panggul.
Pada tipe impaksi, biasanya penderita masih dapat berjalan disertai rasa sakit yang
tidak begitu hebat. Posisi tungkai tetap dalam keadaan posisi netral.
Ditentukan rentang gerak untuk fleksi panggul, ekstensi, adduksi, rotasi internal dan
eksternal serta fleksi lutut dan ekstensi. Temuan termasuk adanya rasa sakit dan
terbatasnya rentang gerak pasif di pinggul.

Pemeriksaan Penunjang
Foto Rontgen
Pada proyeksi AP kadang tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus
yang impacted, untuk ini diperlukan pemerikasaan tambahan proyeksi axial.
Pergeseran dinilai melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat
ketidakcocokan garis trabekular pada kaput femoris dan ujung leher femur. Penilaian
ini penting karena fraktur yang terimpaksi atau tidak bergeser (stadium I dan II
Garden ) dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang bergeser
sering mengalami non union dan nekrosis avaskular.
Radiografi foto polos secara tradisional telah digunakan sebagai langkah
pertama dalam pemeriksaan pada fraktur tulang pinggul. Tujuan utama dari film x-
ray untuk menyingkirkan setiap patah tulang yang jelas dan untuk menentukan lokasi
dan luasnya fraktur. Adanya pembentukan tulang periosteal, sclerosis, kalus, atau
garis fraktur dapat menunjukkan tegangan fraktur. Radiografi mungkin menunjukkan
garis fraktur pada bagian leher femur, yang merupakan lokasi untuk jenis fraktur.
Bone Scanning
Bone scanning dapat membantu menentukan adanya fraktur, tumor, atau
infeksi. Bone scan adalah indikator yang paling sensitif dari trauma tulang, tetapi
mereka memiliki kekhususan yang sedikit. Shin dkk melaporkan bahwa bone
scanning memiliki prediksi nilai positif 68%. Bone scanning dibatasi oleh resolusi
spasial relatif dari anatomi pinggul.
Di masa lalu, bone scanning dianggap dapat diandalkan sebelum 48-72 jam
setelah patah tulang, tetapi sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hold dkk
menemukan sensitivitas 93%, terlepas dari saat cedera.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI telah terbukti akurat dalam penilaian fraktur dan andal dilakukan dalam
waktu 24 jam dari cedera, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan MRI, fraktur
biasanya muncul sebagai garis fraktur di korteks dikelilingi oleh zona edema intens
dalam rongga meduler. Dalam sebuah studi oleh Quinn dan McCarthy, temuan pada
MRI 100% sensitif pada pasien dengan hasil foto rontgen yang kurang terlihat. MRI
dapat menunjukkan hasil yang 100% sensitif, spesifik dan akurat dalam
mengidentifikasi fraktur collum femur.

8. Penatalaksanaan
a.Terapi Konservatif
Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut :
a.Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal
b.Kesulitan mengamati fragmen proksimal
c.Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial.

Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction dan buck extension.

b.Terapi Operatif
Pada umumnya terapi yang dilakukan adalah terapi operasi, fraktur yang
bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi internal. Fraktur terimpaksi dapat
dibiarkan menyatu, tetapi selalu ada resiko terjadinya pergeseran pada fraktur-fraktur
itu, sekalipun ditempat tidur, jadi fiksasi internal lebih aman. Dua prinsip yang harus
diikuti dalam melakukan terapi operasi yaitu reduksi anatomi yang sempurna dan
fiksasi internal yang kaku.
Metode awal yang menstabilkan fraktur adalah fiksasi internal dengan Smith
Petersen Tripin Nail. Fraktur dimanipulasi dengan meja khusus orthopedi. Kemudian
fraktur difiksasi internal dengan S.P. Nail dibawah pengawasan Radiologi. Metode
terbaru fiksasi internal adalah dengan menggunakan multiple compression screws.
Pada penderita dengan usia lanjut (60 tahun ke atas) fraktur ditangani dengan cara
memindahkan caput femur dan menempatkannya dengan metal prosthesis, seperti
prosthesis Austin Moore.
Penderita segera di bawa ke rumah sakit. Tungkai yang sakit dilakukan
pemasangan skin traction dengan buck extension. Dalam waktu 24-48 jam dilakukan
tindakan reposisi, yang di lanjutkan dengan reposisi tertutup dengan salah satu cara
menurut Leadbetter. Penderita terlentang di atas meja operasi dalam pengaruh
anastesi, asisten memfiksir pelvis, lutut dan coxae dibuat fleksi 90 untuk
mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. Dengan sedikit adduksi paha
ditarik ke atas, kemudian pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi panggul 45,
kemudian sisi panggul dilakukan gerakan memutar dengan melakukan gerakan
abduksi dan extensi. Setelah itu di lakukan test.
Palm Halm Test : tumit kaki yang cedera diletakkan di atas telapak tangan. Bila
posisi kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil
baik. Setelah reposisi berhasil baik, dilakukan tindakan pemasangan internal fiksasi
dengan teknik multi pin percutaneus. Kalau reposisi pertama gagal dapat diulang 3
kali. Kemudian dilakukan open reduksi, dilakukan reposisi terbuka, setelah tereposisi
dilakukan internal fiksasi alat internal fiksasi knowless pin, cancellous screw, atau
plate.
Pengawasan dengan sinar X (sebaiknya digunakan penguat) digunakan untuk
memastikan reduksi pada foto anteroposterior dan lateral. Diperlukan reduksi yang
tepat pada fraktur stadium III dan IV, fiksasi pada fraktur yang tak tereduksi hanya
mengundang kegagalan kalau fraktur stdium III dan IV tidak dapat direduksi secara
tertutup dan pasien berumur dibawah 70 tahun, dianjurkan melakukan reduksi terbuka
melalui pendekatan anterolateral.
Pada fraktur leher femur impaksi biasanya penderita dapat berjalan selama
beberapa hari setelah jatuh sebelum timbul keluhan. Umumnya gejala yang timbul
minimal dan panggul yang terkena dapat secara pasif digerakkan tanpa nyeri. Fraktur
ini biasanya sembuh dalam waktu 3 bulan tanpa tindakan operasi, tetapi apabila tidak
sembuh atau terjadi disimpaksi yang tidak stabil atau nekrosis avaskuler,
penanganannya sama dengan yang di atas.

9 Diagnosis Banding
Fraktur collum femur di diagnosis banding dengan kelainan berikut :
a.Osteitis Pubis
b.Slipped Capital Femoral Epiphysis
c.Snapping Hip Syndrome

10 Komplikasi
1. Neuroavaskuler
2. Koksa vara
3. Delayed unio atau Non-Union









B. FRAKTUR HUMERUS
1. Definisi
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.

2. Faktor Resiko
Biasanya terjadi akibat kecelakaan atau terjatuh, namun juga sering terjadi
pada wanita yang osteoporosis.

3. Klasifikasi
Fraktur humerus terbagi atas :
1. Fraktur Suprakondilar humerus
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada anak-anak setelah
fraktur antebrakii. Jenis fraktur ini dapat dibedakan menjadi :
a. Jenis ekstensi yang terjadi karena trauma langsung pada humerus distal
melalui benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasi dan lengan
siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfikasi. Pada tipe ini fragmen
distal bergeser ke posterior.
b. Jenis fleksi biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan
dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi,
fragmen distal bergeser ke anterior.

Berdasarkan tipe juga dibagi 4 tipe:
Tipe I : terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya berupa retak yang
berupa garis.
Tipe II : tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara
humerus dan kondilus lateralis (normal 40 derajat)
Tipe III : terdapat pergesaran fragmen tetaapi korteks posterior masih utuh
serta masih ada kontak kedua fragmen
Tipe IV : pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.


Pengobatan :
Tipe I cukup dengan pemasangan mitela dan sembuh dalam 10-14 hari.
Tipe II perlu dilakukan reposisi tertutup
Tipe III dan IV reposisi tertutup sebaiknya dengan menggunakan image intensifier
dan dapat difiksasi dengan K-wire perkutaneus atau tanpa fiksasi dan dipasang gips.


2. Fraktur Kondilus lateralis humerus
Fraktur yang sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur
kondiler medialis humerus. Dibagi dalam 3 tipe yaitu :
Tipe 1 : tidak ada pergeseran fragmen
Tipe 2 : terdapat pergeseran ringan
Tipe 3 : terdapat pergeseran yang jauh.

3. Fraktur batang humerus (fraktur midshaft humerus)
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral
(fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi)

4. Fraktur kolum humerus
Fraktur ini dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah kaput humeri) dan
kolum sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum)

4. Manifestasi Klinik
Karena fraktur sering terimpaksi secara erat, nyerinya mungkin tidak terlalu hebat.
Tetapi muncul memar yang luas pada bagian atas lengan perlu dicurigI. Tanda- tanda
cedera pada saraf aksila dan pleksus brakialis peru dicari. Pada pasin muda fragmen
bisanya terpisah secara lebih jelas. Pada remaja terjadi fraktur pemisahan pada
episfisi humerus bagian atas, batang bergeser ke atas dan ke depan meninggalkan
kaput dalam mangkok sendi.

5. Diagnosis
Penegakan diagnosis fraktur humerus dibuat berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
a.Anamnesis
riwayat trauma, nyeri, pembengkakan, pada bahu.
b.Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Tampak edema pada bahu, bisa ada luka atau tidak, adanya deformitas

Palpasi
Adanya nyeri tekan, gangguan pergerakan lengan.

Pemeriksaan Penunjang
Foto Rontgen
Pemeriksaan foto polos merupakan gold standar untuk semua fraktur, hasil foto
merupakan acuan untuk melihat lokasi dan konfigurasi fraktur.
8. Penatalaksanaan
a.Terapi Konservatif
Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan pemasangan mitela, pemasangan U
Slab, pemasangan gips tergantung ( hanging cast).


b.Terapi Operatif
pada fraktur yang disertai dengan pergeseran fragmen dapat dilakukan tindakan
operatif dengan pemasangan plate and screw atau pin dari rush atau pada fraktur
terbuka dengan fiksasi eksterna

9 Diagnosis Banding
Fraktur humerus di diagnosis banding dengan kelainan berikut :
Dislokasi sendi bahu.

10 Komplikasi
1. Dislokasi bahu
2. Cedera pembuluh darah dan cedera saraf
3. Kekakuan
4. Malunion















Daftar Pustaka

Anderson, Sylvia. 1985. Pathofisiologi Konsep klinik Proses-Proses Penyakit. Jakarta
; EGC

Apley, A, Graham, Solomon Luis, 1995, Orthopedi dan fraktur system Apley. Ahli
bahasa Edi Nugroho, Edisi ke-7 jakarta ; EGC