Anda di halaman 1dari 11

KISTA BARTHOLINI

PENDAHULUAN
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan genitalia
eksterna.Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya
adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna
dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya.Tidak terkecuali pada glandula
vestibularis mayor atau dikenal dengan kelenjar bartolini.Kelenjar bartolini
merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina.Jika
kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan
terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu tumor jinak pada
vulva.Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan
pada duktus kelenjar bartolini yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik.
Dimana isi didalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus
atau bila tersumbat dapat mengumpul didalam menjadi abses.
1
Kista bartolini ini merupakan masalah bagi wanita usia subur, kebanyakan kasus
terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun. Kista bartolini bias tumbuh dari ukuran
seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini
tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti gonorea
adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang
berujung pada terbentuknya kista dan abses.
2

DEFENISI
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang
terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh.Kista kelenjar
bartolin terjadi ketika kelenjar ini tersumbat karena berbagai alasan, seperti
infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini
mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan
menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan kelenjar ini kemudian
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.
3,4



1

ANATOMI
Glandula Bartholini terletak pada kedua sisi kiri dan
kanan bawah, fossa navikulare, dengan ukuran diameter
lebih kurang 1 cm, terletak di bawah otot konstriktor kunni
dan mempunyai saluran kecil panjang 1,5 2 cm yang
bermuara di vulva pada saat koitus kelenjar barthoni
mengeluarkan getah lendir.
5




PENYEBAB
Peradangan mendadak glandula bartholini biasanya disebabkan oleh
infeksi gonokokkus, dapat pula oleh bakteri lain yang paling dominan berkaitan
dengan penyakit hubungan seksual adalah karena Neisseria Gonorrhoeae yang
menimbulkan abses.
6

Tetapi meskipun termasuk bersamaan dengan penyakit yang ditularkan
melalui seksual, abses pada kelenjar bartholini tidak selalu diakibat infeksi
Gonorhoeae dan Klamidia. Pembentukan abses duktus bartholini dapat dimulai
secara de novo atau sebagai hasil infeksi sekunder kista duktus bartholini.


2
Pembentukan kista disebabkan oleh oklusi orifisum duktus pada
vestibulum sehingga menimbulkan pembengkakan kista pada salah satu atau sisi
lain pada bagian dalam posterior dan labia mayora.
Kadang-kadang obstruksi saluran juga dapat terjadi karena penyebab lain,
seperti stenosis traumatik atau kongenital atau akibat lapisan hiperplasia.
7


PATOLOGI
Kista yang ada kalanya ganda, dapat timbul di daerah sub klitoris atau
periuretra atau di daerah kelenjar bartholini vulva pada wanita segala umur. Lebih
sering kista timbul sebagai kelainan tunggal yang umumnya berkaitan dengan
kelenjar bartholini. Kista yang timbul dalam kelenjar bartholini atau saluran
ekskresi, diameternya dapat sampai 5 cm dan sering sebagai akibat obstruksi salah
satu saluran ekskresi utama, sehingga mengakibatkan penimbunan sekret musin
yang progresif.
Kista yang demikian dilapisi oleh epitel transisional atau epitel kubus dari
saluran, tetapi dapat berubah sangat pipih atau hampir hilang karena tekanan
intrakista.Selain menyebabkan rasa sakit setempat dan perasaan tidak nyaman,
kista ini mudah mengalami infeksi sekunder dan mudah menjadi suatu abses
bartholini. Kista-kista di tempat lain diduga timbul dari sisa embrional, pada
umumnya kecil (berdiameter 1 s/d 2 cm) dan dilapisi oleh epitel silindris atau
kubus musinosa atau epitel bersilia yang ada kalanya mengalami perubahan
metaplasi menjadi epitel skuamosa. Karena tidak berhubungan dengan vestibulum
vulva, kista-kista ini jarang terinfeksi.
8



3
GEJALA
Kista Bartholini biasanya kecil, antara ukuran ibu jari dan bola pimpong,
tidak terasa nyeri dan tidak mengganggu koitus, bahkan kadang-kadang tidak
disadari oleh penderita. Tetapi ada pula yang sebesar telur ayam.
5

Biasanya, dokter dapat meraba kelenjar yang membesar di sepertiga
posterior labium mayor dimana kelenjar biasanya menonjol ke medial ke arah
introitus vagina. Fluktuasi yang tidak nyeri biasanya menandai kelenjar berubah
menjadi kista yang tidak terinfeksi.
7

Rasa nyeri yang berat sebagai keluhan utama biasanya mengganggu duduk
dan berjalan, daerah kelenjar Bartholini membengkak dan nyeri tekan, edema
reaktif dapat meluas dan mengenai bagian kulit vulva sehingga sisi seluruh labium
terkena.Massa terasa panas, edema, eritema, dan indurasi.
9

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, manifestasi
klinik dari kista bartolini termasuk nyeri, tenderness, dispareunia. Jaringan sekitar
mengalami inflamasi dan edema. Pada pemeriksaan fisik, introitus vagina
biasanya berubah dengan tampak adanya fluktuasi massa pada pemeriksaan
palpasi. Jarang sekali gejala sistemik dan tanda-tanda infeksi dilaporkan.
10
Jika kista bartolini tidak terinfeksi, mungkin hanya akan terasa benjolan di daerah
vulva, dengan kemerahan atau bengkak. Ukuran kista dapat bervariasi mulai dari
0,25 inci hingga 1 inci. Kista mungkin dapat ditemukan secara tidak sengaja pada
pemeriksaan. Jika kista terinfeksi, hal itu mungkin akan menyebabkan kesakitan
yang lebih. Kista yang terinfeksi membentuk suatu abses. Kelenjar mungkin
terinfeksi jika pasien berada dalam kesakitan yang ekstrim bahkan kesulitan
berjalan atau duduk.
11






4
DIAGNOSA BANDING
Bila seorang wanita datang dengan keluhan terabanya benjolan pada
daerah kemaluannya terutama bagian introitus vagina, maka kemungkinan dapat
kita pertimbangkan adanya :
Abses glandula bartholini
Ca glandula bartholini










PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Sejumlah tindakan konservatif dapat dilakukan untuk membantu
meringankan secara sementara rasa nyeri yang berat sehubungan dengan
infeksi kelenjar atau saluran bartholini. Misalnya, anjurkan pasien untuk
mencuci vulva engan air hangat beberapa kali sehari. Berikan obat
analgesik jika diperlukan. Setelah mengambil kultur, pertimbangkan untuk
memberikan antibiotik spekttrum luas yang efektif melawan organisme
yang tersering ditemukan pada infeksi ini seperti bakteri koliform,
klamidia dan gonokokus.
7
2. Marsupialisasi


5
Kadang merupakan terapi terpilih untuk pasien dibawah umur 40 tahun
jika tidak di indikasi eksisi kista.
9
Selain itu marsupialisasi ditujukan untuk
mencegah kekambuhan dimasa mendatang.
7


Marsupialisasi kista Bartholini.(I)
Kelenjar Bartholini kanan sangat
membesar dan kritik. Sulkus
interlabianya hilang. Suatu insisi dibuat
pada sisi dalam labium minus di
perbatasan sepertiga tengah dan
sepertiga posterior.
12





Marsupialisasi kista Bartholini (II)
Setelah kista dikosongkan,
pelapisnya dijahit ke kulit labium minus
dengan jahitan terputus halus sepanjang
pinggir luka. Sepotong kasa
dimasukkan ke dalam ostium yang baru
dibentuk.
12













6
3. Mengeksisi Kista Bartholini
Pada saat ini jarang ada keperluan mengeksisi kista Bartholini kecuali jika
diduga karsinoma kelenjar Bartholini, eksisi bisa menjelaskan diagnosis
histologi.

Kulit labium minus diinsisi dan tepi
luka ditegangkan. Kemudian
dinding kistanya dikeluarkan secara
tajam dengan skalpel.





4. Kateter Word
Kateter word biasanya digunakan untuk penanganan kista saluran bartolini
dan abses. Batang karet kateter ini memiliki panjang 1 inchi dan diameter
no.10 french foley catheter. Balon kecil yang ditiup di ujung kateter dapat
menahan sekitar 3 ml larutan salin atau garam. Setelah persiapan steril dan
anestesi local, dinding kista atau abses dijepit dengan forsep kecil, dan
mata pisau no 11 digunakan untuk membuat sayatan 5 mm (menusuk)
kedalam kista atau abses. Sayatan harus berada dalam introitus hymenalis
eksternal terhadap daerah dilubang saluran. Jika sayatan terlalu besar,
kateter word akan jatuh keluar. Setelah dibuat sayatan, kateter word
dimasukkan, dan ujung balon di kembangkan dengan 2-3 ml larutan garam
yang disuntikkan melalui pusat kateter yang memungkinkan balon kateter
untuk tetap berada di dalam rongga kista atau abses. Ujung bebas kateter
dapat di tempatkan dalam vagina. Untuk memungkinkan ephitelialisasi
dari pembedahan saluran di ciptakan, kateter word dibiarkan pada


7
tempatnya selama empat sampai enam minggu, meskipun epithelialisasi
dapat terjadi segera setelah tiga sampai empat minggu. Jika kista bartolini
atau abses terlalu dalam, penempatan kateter tidak praktis, dan pilihan
laian harus di pertimbangkan.
11


PROGNOSA
Baik, tetapi walaupun terjadinya karsinoma kelenjar Bartholini jarang,
harus dipertimbangkan juga pada pasien tua yang menderita kista atau abses
Bartholini pada usia lanjut.
7

SIMPULAN
Kista kelenjar bartolin terjadi ketika kelenjar ini tersumbat karena berbagai
alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran
kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama
lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan kelenjar ini
kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk
suatu kista.
3,4

Kista bartolini bukanlah suatu infeksi, meskipun dapat disebabkan oleh
infeksi, peradangan, atau penyumbatan fisik (lendir atau halangan lain) ke saluran
bartolini (tabung yang mengarah dari kelanjar vulva).
2
Rasa nyeri yang berat sebagai keluhan utama biasanya mengganggu duduk
dan berjalan, daerah kelenjar Bartholini membengkak dan nyeri tekan, edema
reaktif dapat meluas dan mengenai bagian kulit vulva sehingga sisi seluruh labium
terkena. Massa terasa panas, edema, eritema, dan indurasi.
7,9
Jika infeksi parah atau berulang prosedur pembedahan yang dikenal
sebagai marsupialization diperlukan untuk menghentikan rekuren yang lebih
lanjut.
2





8

DAFTAR PUSTAKA

1. Hart David McKay. Ginaecology Illustrated. Edisi ke-5. New York :
Churcill living Stone Division. 2000;p.172.
2. Anonymous. Bartholins Cyst. Available from
URL:http//www.wapedia.com/. Accessed on February 10, 2013
3. Dodd NR. Bartholin Cyst. Available from
URL:http//www.emedicine.com/. Accessed on February 10, 2013
4. Anonymous. Bartholins Gland Cyst. Available from
URL:http//www.google.com/. Accessed on February 10, 2013
5. Wiknjosatro H, Prof, dr, DSOG, Ilmu Kebidanan, edisi ketiga cetakan
kesembilan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2007,
hal. : 32 dan 406-411.
6. Johann H. Duenhoetter, Ginekologi Greenhill, alih bahasa: dr. Chandra
Sanusi, editor oleh : dr. Petrus Andrianto, edisi 10, hal : 24.
7. Geoffrey Chamberlain, Prof, MD, FRCS, FRCOG, Obstetri dan
Ginekologi Praktis, alih bahasa: dr. R.F. Maulany, Msc, edisi ke-2, 1994,
hal : 145-148.
8. Robbins dan Kumar, Buku Ajar Patologi II, Alih Bahasa : Staf Pengajar
Laboratorim Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Erlangga,
Edisi ke-4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995, hal : 372-374.
9. Wiknjosatro H, Prof, dr, DSOG, Ilmu Kandungan, edisi ketiga cetakan
kesembilan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2007,
hal.272.
10. Pernoll Martin L. Disorders Of The Vulva and Vagina. Dalam: Obstetric
ang Gynaecology. New York:Mc Graw-Hill Medical Publishing Division.
2001. P.579-80.


9
11. Omole Folasade. Management Of Bartholins Duct Cyst and Gland
Abcess. Available from URL:http//www.american family physician.com/.
Accessed on February 10, 2013
12. Emanuel A. Friedman, MD, Sc.D, Seri Skema Diagnosis dan
Penatalaksanaan Ginekologi, Alih bahasa: Dr. Widjaja Kusuma, edisi ke-
2, Penerbit Binarupa Aksara, hal : 138-139.






















DAFTAR ISI



10
Kata Pengantar ................................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................... ii
KISTA BARTHOLINI
Pendahuluan ..................................................................................................... 1
Defenisi ............................................................................................................ 1
Anatomi ............................................................................................................ 2
Penyebab .......................................................................................................... 2
Patologi ............................................................................................................ 3
Gejala ............................................................................................................... 4
Diagnosa ........................................................................................................... 4
Diagnosa Banding ............................................................................................ 5
Penatalaksanaan ............................................................................................... 5
Prognosa ........................................................................................................... 8
Simpulan .. 8
Daftar Pustaka .................................................................................................. 10










ii
i