Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Thalasemia adalah kelompok dari anemia herediter yang diakibatkan oleh berkurang nya
sintesis salah satu rantai globin yang mengkombinasikan hemoglobin (HbA, 2 2). Disebut
hemoglobinopathies, tidak terdapat perbedaan kimia dalam hemoglobin. Nolmalnya HbA
memiliki rantai polipeptida dan , dan yang paling penting thalasemia dapat ditetapkan sebagai
atau thalassemia.!
2.2 Sintesis hemoglobin
"igmen merah yang memba#a oksigen dalam sel darah merah adalah hemoglobin, suatu
protein yang mempunyai molekul $%.%&'. Hemoglobin mengikat (2 menempel pada )e2*
dalam heme, a+initas hemoglobin terhadap (2 dipengaruhi oleh pH, suhu dan konsentrasi 2,!
di+os+ogliserat (2,!D",) dalam sel darah merah. 2,!D", dan H* berkopetensi dengan (2
untuk berikatan dengan Hb tanpa (2 ((2 teroksidasi), sehingga menurunkan a+initas Hb
terhadap (2 dengan menggeser posisi % rantai polipeptida.&
Hemoglobin dibentuk dari hem dan globin. Hem sendiri terdiri dari % struktur pirol
dengan atom )e di tengah nya, sedangkan globin terdiri dari 2 pasang rantai polopeptida.
"embuatan setiap rantai polipeptida ini di atur oleh beberapa gen (gen regulator), sedangkan
urutannya dalam rantai tersebut di atur oleh gen struktural.%
-alau suatu gen abnormal diturunkan dari salah satu orang tua memerintahkan
pembentukan Hb abnormal yakni, kalau ini.idu tersebut hetero/igot separuh dari Hb sirkulasi
nya abnormal dan separuh nya normal.kalau gen gen abnormal identik diturunkan dari orang
tuanya, indi.idu tersebut homo/igot dan semuanya Hb nya abnormal. 0e1ara teoritis ada
kemungkinan diturunkan 2 Hb abnormal yang berbeda, satu dari ayah dan satu dari ibu. "ada
beberapa kasus penelitian tentang pe#arisan dan distribusi geogra+ik Hb abnormal
memungkinkan untuk memastikan asal dari gen mutan tersebut dan perkiraan #aktu ter2adi
mutasi. 0e1ara umum mutasi yang berbahaya 1endrung musnah, tetapi gen mutan yang
memba#a 1iri 1iri kelangsungan hidup, akan tetap bertahan dan menyebar dalam populasi.
0ebenarnya terdapat 2 golongan besar gangguan pembentukan hemoglobin, yaitu 3
4. ,angguan stru1tural pembentukan Hb (Hb abnormal)
2. ,angguan 2umlah (salah satu atau beberapa) rantai globin missal thalasemia.%, &, $
2.3 Klasifikasi
Di indonesia talasemia merupakan penyakit terbanyak di antara golongan anemia hemolitik
dengan penyebab intrakorpuskuler.
0e1ara molekuler thalasemia dibedakan atas 3
4. Thalasemia (gangguan pembentuakan rantai ).
2. Thalasemia (gangguan pembentukan rantai ).
!. Thalasemia 5 (gangguan pembentukan rantai dan 5 yang letak gen nya di duga
berdekatan)
%. Thalasemia 65 (gangguan pembentukan rantai 5). %
0e1ara -linis thalasemia dibedakan atas 3 ! TABL 2.!.2 6 klasi+ikasi klinis thalasemia
"a##ie# Hematologi normal
Thalassemia T#ait anemia ringan dengan mikrositik dan hipokromik.
(thalassemia trait atau thalassemia trait)
$emoglobin $ Disease anemia hemolitik menu2u ke berat
(thalassemia)
Atau
$emoglobin $6"onstant S%#ing ikterus dan spleenomegali
Thalassemia &a'o# anemia berat, hepatosleenomegali.
Thalassemia Inte#me(ia beberapa 2enis thalasemia tanpa terapi tran+usi regular.
2.! Patofisiologi
7utasi pada Thalassemia meliputi delegi gen globin, mutasi daerah promotor,
penghentian mutasi dan mutasi lainnya. Terdapat relati+ sedikit mutasi pada Thalassemia.
"enyebab utama adalah terdapatnya ketidakseimbangan rantai globin. "ada sumsum tulang
mutasi thalasemia mengganggu pematangan sel darah merah, sehingga tidak e+ekti+nya
eritropoiesis akibat hiperakti+ sumsum tulang, terdapat pula sedikit 8etikulosit dan anemia berat.
"ada thalasemia terdapat kelebihan rantai globin yang relati+ terhadap dan 9globin:
tetramersglobin (%) terbentuk, dan ini berinteraksi dengan membran eritrosit sehingga
memperpendek hidup eritrosit, yang mengarah ke anemia dan meningkatkan produksi erythroid.
8antai globin 9diproduksi dalam 2umlah yang normal, sehingga menyebabkan peningkatan Hb )
(92 2). 8antai 5globin 2uga diproduksi dalam 2umlah normal, Hb A2 meningkat (2 52) di
Thalassemia. "ada talasemia terdapat lebih sedikitglobin rantai dan berlebihan dan rantai
9globin. -elebihan rantai ini membentuk hb ;art (9%) dalam kehidupan 2anin dan Hb H (%)
setelah lahir. Tetramers abnormal ini tidak mematikan tetapi mengakibatkan hemolisis
e<tra.as1ular.
Thalasemia )*
0eperti telah disebutkan diatas terdapat 2 gen pada tiap haploid kromosom, sehingga
dapat di duga ter2adi % ma1am kelainan pada thalasemia . -elainan dapat ter2adi pada 4 atau 2
gen pada satu kromosom atau beberapa gen pada seorang indi.idu sehat. "enelitian akhir akhir
ini menun2ukkan bah#a pada kelainan thalasemia4 tidak terbentuk rantai sama sekali,
sedangkan 6 thalasemia 2 masih ada sedikit pembentukan rantai tersebut. Atas dasar
tersebut, thalasemia4 dan thalasemia2 sekarang disebut ' dan * thalasemia. %
Disamping kelainan pada pembentukan rantai ini terdapat pula kelainan struktural pada
rantai . =ang paling banyak di temukan ialah Hb 1onstant spring. "ada Hb 1onstant spring
terdapat rantai dengan 4>2 asam amino, berarti !4 asam amino lebih pan2ang daripada rantai
biasa. -ombinasi hetero/igot antara ' thalasemia dengan * thalasemia atau ' thalasemia
dengan Hb 1onstant spring akan menimbulkan penyakit HbH. "ada thalasemia akan ter2adi
ge2ala klinis bila terdapat kombinasi gen ' thalasemia dengan gen lainnya.
Homo/igot ?*? thalasemia hanya menimbulkan anemia yang sangan ringan dengan
hipokromia eritrosit. ;entuk homo/igot Hb 1onstant spring 2uga tidak menimbulkan ge2ala yang
nyata, hanya anemia ringan dengan kadang kadang disertai spleenomegali ringan. 4 "ada +etus
kekurangan rantai 6 menyebabkan rantai5 yang berlebihan sehingga akan terbentuk tetramer 5
% (Hb ;art@s) sedangkan pada anak besar atau de#asa, kekurangan rantai ini menyebabkan
rantai6 yang berlebihan hingga akan terbentuk tetramer % (HbH). Aadi adanya nya Hb bart@s
dan HbH pada elektro+oresis merupakan petun2uk terhadap adanya thalasemia . =ang sulit ialah
mengenal bentuk hetero/igot thalasemia. ;entuk hetero/igot ' thalasemia memberikan
gambaran darah tepi serupa dengan bentuk hetero/igot thalasemia seperti mikrositosis dan
peninggian resistensi osmotik. B
"ada Hidrops +etalis, biasanya bayi telah mati pada usia kehamilan 2B%' minggu atau
lahir hidup untuk beberapa 2am kemudian meninggal. ;ayi akan tampak anemia dengan kadar
Hb $B gC, sediaan hapusan darah tepi memperlihatkan hipokromia dengan tanda tanda
anisositosis, poikilositosis, banyak normoblas dan retikulositosis. "ada pemeriksaan eritroporesis
darah, akan ditemukan Hb bart@s sebanyak kira kira B'C. Tidak ditemukan Hb) 7aupun HbA. %
"ada penyakit HbH, biasanya ditemukan anemia dengan pembesaran limpa. Anemia
biasa nya tidak membutuhkan tran+usi darah. 7udah ter2adi serangan hemolisis akut pada
serangan in+eksi berat. -adar Hb biasanya >4' gC. 0ediaan darah tepi biasanya menun2ukkan
tanda tanda hipokromia. Terdapat pula retikulositosis (&4'C) dan ditemukan inclusion bodies,
pada sediaan hapus darah tepi yang di inkubasi dengan biru brilian kresil. "ada elektro+oresis
ditemukan adanya HbA, H, A2 dan sedikit Hb ;art@s. HbH 2umlanya sekitar &%'C, kadang
kadang kurang atau lebih dari .ariasi itu. "ada pemeriksaan sintesis rantai globulin (in vitro) dari
retikulosis terdapat ketidak seimbangan antara pembentukan rantai D yaitu antara ',& sampai
',2&. Dalam keadaan normal rasio D ialah 4. E
TABL 2+,+3 THAFA00G7HA 0=ND8(7G0
SIND-.& / T&UAN KLINIK $&.0L.BINS
Silent "a##ie# tanpa anemia, tampilan sel
darah merah normal.
4C62C Hgb ;art@s (9% ) saat lahir: dapat
mempunyai 4C62C Hgb I0 J
(4gen delesi)
Thalassemia Trait ringan, dengan tampilan
sel darah merah
hipokromik dan mikrositik
&C6 4'C Hgb ;art@s (9% ) saat lahir: dapat
mempunyai 4C6 2C Hgb I0, J B'C6E&C
Hgb A
(2gen delesi)
$emoglobin $ Disease anemia berat, +rakmen sel
darah merah hipokromik
dan mikrositik
&C6 !'C Hgb ;art@s (9% ) saat lahir: dapat
mempunyai 4C6 2C
(!gen delesi)
Thalasemia+ 1 2Thalasemia ma'o#3 4oole5 anemia6
;entuk ini lebih heterogen dibandingkan thalasemia , tetapi untuk kepentingan klinis
umumnya dibedakan antara thalasemia ' dan thalasemia *. "ada ' thalasemia tidak dibentuk
rantai globin sama skali, sedangkan * thalasemia terdapat pengurangan (4'&'C) daripada
produksi rantai globin tersebut. "embagian selan2utnya adalah kadar HbA2 yang normal baik
pada ' maupun * thalasemia dalam bentuk hetero/igotnya. ;entuk homo/igot dari ' atau
1ampuran antara ' dengan * thalasemia yang berat akan menimbulkan ge2ala klinis yang
berat yang memerlukan tran+usi darah se2ak permulaan kehidupannya. Tapi kadang kadang
bentuk 1ampuran ini memberi ge2ala klinis ringan dan disebut thalasemia intermedia.%
Bent7k 1+Thalasemia sin(#om lain n5a.B
0indrom talasemia digolongkan men2adi enam kelompok3 thalasemia, 5
thalasemia, 9 thalasemia, 5 thalasemia, K95 thalasemia, dan sindrom H")H. 0ebagian besar
thalasemia relati+ langka, hanya beberapa yang ditemukan dalam kelompok keluarga.
thalasemia 2uga dapat diklasi+ikasikan se1ara klinis sebagai si+at talasemia, minimum, ringan,
menengah, dan besar dari tingkat anemia. -lasi+ikasi genetik tidak selalu menentukan +enotipe,
dan dera2at anemia tidak selalu memprediksi klasi+ikasi genetik.

Thalasemia intermedia dapat berupa kombinasi dari mutasi thalasemia (' D , ' D
.ariant, GD'), yang akan menyebabkan +enotipe anemia mikrositik dengan Hb sekitar > g D dF.
Terdapat kontro.ersi mengenai apakah dilakukan tran+usi pada anakanak ini. 7ereka pasti akan
mengembangkan dera2at hiperplasia meduler, hemosiderosis gi/i mungkin membutuhkan
1helation, splenomegali, dan komplikasi lain thalasemia dengan kelebihan /at besi.
Hematopoiesis G<tramedullary dapat ter2adi dalam kanalis .ertebralis, penekanan sara+ oleh
tulang belakang dan menyebabkan ge2ala neurologis, kedua adalah darurat medis yang
membutuhkan terapi radiasi langsung lokal untuk menghentikan eritropoiesis. Trans+usi akan
meringankan mani+estasi thalasemia dan memper1epat kebutuhan 1helation. splenektomi
menempatkan anak berisiko terin+eksi dan hipertensi paru.
Thalasemia diklasi+ikasikan sebagai minimum dan ringan biasanya hetero/igot (' D , D
) yang memiliki +enotipe yang lebih parah dari si+at tetapi tidak separah intermedia. Anakanak
ini harus diselidiki untuk genotipe dan dimonitor untuk akumulasi besi. thalassemia
dipengaruhi oleh keberadaanThalassemia 3 thalassemia menyebabkan anemia dengan si+at
kurang parah dan digandakan gen ( D (menyebabkan talasemia yang lebih berat. (rang
yang berada dalam kelompokkelompok ini memerlukan trans+usi pada masa rema2a atau
de#asa, ;eberapa mungkin men2adi kandidat untuk kemoterapi seperti hydro<yurea.
0i+at thalasemia sering misdiagnosis sebagai kekurangan /at besi pada anakanak. 0ebuah kursus
singkat dari besi dan ree.aluasi, semua yang diperlukan untuk memisahkan anakanak yang
perlu dilakukan e.aluasi lebih lan2ut. Anak anak yang memiliki si+at Thalasemia akan
memiliki lebar sel darah merah terdistribusi dan pada elektro+oresis Hb memiliki Hb) tinggi dan
diagnose di tinggikan HbA2. Terdapat istilah LsilentL bentuk si+at thalasemia dan 2ika se2arah
keluarga adalah sugesti+, studi lebih lan2ut dapat diindikasikan.
2., &anifestasi Klinis
Anemia ter2adi pada usia !$ bulan ketika ter2adi pergnatian sintesis rantai 69 men2adi
rantai 6 yaitu Hb) men2adi HbA se1ara normal kasus yang lebih ringan ter2adi di atas usia
tersebut (sampai usia % tahun).
Thalasemia minor umumnya hanya menyebabkan anemia ringan sampai sedang, dan
mungkin bersi+at asimtomatik dan sering tidak terditeksi. 0edangkan thalasemia mayor
umumnya menampakan mani+estasi klinis yang 2elas.
Tanada a#al sebelum diagnosis ditegakan, a#itan mendadak, anemia demam yang
penyebabnya tidak bisa di2elaskan, pola makan memburuk dan pembesaran limpa yang khas.
-omplikasi 2angka pan2ang sebagai akibat dari hemokromatosis dengan kerusakan sel resultan
yang mengakibatkan splenomegali (biasanya memerlukan splenoktomi). -omplikasi skeletal,
seperti penebalan tulang kranial, pembesaran kepala, tulang #a2ah menon2ol, maloklusi gigi,
yang akan nampak +a1ies talasemik atau +a1ies 1ooley, dan rentan terhadap +raktur sepontan.
-omplikasi 2antung, seperti aritmia, perikarditis, IH), dan dan +ibrosis serat otot 2antung.
"enyakit kantung empedu, termasuk batu kandung empedu ( dapat memerlukan kolesistektomi).
"embesaran hepar dan berlan2ut men2adi sirosis. "erubahan kulit, seperti ikterus dan pigmentasi
1oklat akibat deposit /at besi. 8etardasi pertumbuhan dan komplikasi endokrin (kemungkinan
disebabkan oleh kelen2ar endokrin sensiti+ terhadap /at besi), seperti keterlambatan kematanag
seksual dan diabetes melitus.
2.8 Diagnosa
Diagnosis thalasemia beta ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan
gambaran klinis. "emeriksa hematologi mengungkapkan perubahan yang khas pada sel darah
merah (yaitu, mikrositosis, hipokromia, anisositosis, poikilositosis, selsel target dan basophili1
stipling Mber1akber1ak berbentuk batangN pada berbagai stadium). -adar Hb dan hemato1rit (Ht)
yang rendah terlihat pada anemia berat, #alaupun kedua angka tersebut se1ara khas lebih rendah
dibandingkan angka penurunan 2umlah eritrosis karena proli+erasis eritrosis yang imatur. Hasil
pemeriksa elektro+oresis Hb akan memastikan diagnosis, dan +oto ronsenDradiogra+ tulang yang
terkait akan mengungkapkan gambaran yang khas.
-lasi+ikasi se1ara klinis dibagi men2adi lima kategori sebagai berikut3
(4) Silent carrier thalasemia3 pasien biasanya tidak memiliki ge2ala.
(2) thalasemia trait3 pasien mengalami anemia ringan, sel darah merah abnormal, Hb abnormal,
pada pemeriksaan darah peri+er biasanya ditemukan hipo1hrom dan mi1ro1ytosis.
(!) Thalasemia intermedia3 kondisi ini biasanya berhubungan dengan keadaan hetero/ygote yang
menghasilkan anemia tetapi tidak mengalami ketergantungan trans+usi darah.
(%) thalasemia berhubungan dengan .ariasi struktur dari rantai .
(&) Thalasssemia mayor (Cooley anemia)3 pada kondisi ini memerlukan trans+usi darah yang terus
menerus, splenomegali yang berat, de+ormitas dari tulang dan keterlambatan pertumbuhan. Hasil
pemeriksaan darah tepi pada pasien ditemukan hypocromic macrocytes,
polychromasia, leukostes yang immatur.
Diagnosis pranatal tersedia dengan menggunakaan DNA (.ili korionik atau 1airan
amnion) maupun darah 2anin. DNA +etal biasanya diampli+ikasi dengan menggunakan reaksi
rantai polimerase (polymerase chain reaction, "8I) dan mutasi DNA deteksi. Aika 2anin terkena
dengan parah, pasangan tersebut harus melakukan konsultasi, dan terminasi kehamilan, 2ika
perlu, bisa dita#arkan.
2.9 Penatalaksanaan
H. 7edikamentosa
"emberian iron 1helating agent (des+ero<amine)3 diberikan setelah kadar +eritin serum sudah
men1apai 4''' mgDl atau saturasi trans+erin lebih &'C, atau sekitar 4'2' kali trans+usi darah.
Des+ero<amine, dosis 2&&' mgDkg berat badanDhari subkutan melalui pompa in+us dalam #aktu
B42 2am dengan minimal selama & hari berturut setiap selesai trans+usi darah.
Oitamin I 4''2&' mgDhari selama pemberian kelasi besi, untuk meningkatkan e+ek kelasi
besi.
Asam +olat 2& mgDhari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Oitamin G 2''%'' HP setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpan2ang umur sel darah
merah
HH. ;edah
0plenektomi, dengan indikasi3
limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita, menimbulkan peningkatan
tekanan intraabdominal dan bahaya ter2adinya ruptur
hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan trans+usi darah atau kebutuhan
suspensi eritrosit ("8I) melebihi 2&' mlDkg berat badan dalam satu tahun.
Transplantasi sumsum tulang telah memberi harapan baru bagi penderita thalasemia dengan lebih
dari seribu penderita thalasemia mayor berhasil tersembuhkan dengan tanpa ditemukannya
akumulasi besi dan hepatosplenomegali. -eberhasilannya lebih berarti pada anak usia diba#ah
4& tahun. 0eluruh anak anak yang memiliki HFAspesi+ik dan 1o1ok dengan saudara
kandungnya di an2urkan untuk melakukan transplantasi ini.
HHH. 0uporti+
Tran+usi Darah
Hb penderita dipertahankan antara B gDdl sampai E,& gDdl. Dengan kedaan ini akan memberikan
supresi sumsum tulang yang adekuat, menurunkan tingkat akumulasi besi, dan dapat
mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan penderita. "emberian darah dalam bentuk
"8I (pa1ked red 1ell), ! mlDkg ;; untuk setiap kenaikan Hb 4 gDdl.
2.: Pemanta7an
H. Terapi
"emeriksaan kadar +eritin setiap 4! bulan, karena ke1enderungan kelebihan besi sebagai akibat
absorbsi besi meningkat dan trans+usi darah berulang.
G+ek samping kelasi besi yang dipantau3 demam, sakit perut, sakit kepala, gatal, sukar bernapas.
;ila hal ini ter2adi kelasi besi dihentikan.
HH. Tumbuh -embang
Anemia kronis memberikan dampak pada proses tumbuh kembang, karenanya diperlukan
perhatian dan pemantauan tumbuh kembang penderita.
HHH. ,angguan Aantung, Hepar, dan Gndokrin
Anemia kronis dan kelebihan /at besi dapat menimbulkan gangguan +ungsi 2antung (gagal
2antung), hepar (gagal hepar), gangguan endokrin (diabetes melitus, hipoparatiroid) dan +raktur
patologis.
2.; Kom%likasi
Akibat anemia yang berat dan lama, sering ter2adi gagal 2antung. Tran+usi darah yang berulang
ulang dan proses hemolisis menyebabkan kadar besi dalam darah sangat tinggi, sehingga di
timbun dalam berbagai 2arigan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, 2antung dan lain lain. Hal ini
menyebabkan gangguan +ungsi alat tersebut (hemokromatosis). Fimpa yang besar mudah ruptur
akibat trauma ringan. -adang kadang thalasemia disertai tanda hiperspleenisme seperti
leukopenia dan trompositopenia. -ematian terutama disebabkan oleh in+eksi dan gagal 2antung.
%
Hepatitis pas1a trans+usi biasa di2umpai, apalagi bila darah trans+usi telah diperiksa terlebih
dahulu terhadap H;sAg. Hemosiderosis mengakibatkan sirosis hepatis, diabetes melitus dan
2antung. "igmentasi kulit meningkat apabila ada hemosiderosis, karena peningkatan deposisi
melanin. 44
DAFTAR PUSTAKA
4. Hskandar. (2 Aanuari 2'4'). Thalasemia penyakit turunan yang bisa di1egah. Hnilah.1om
http://www.inilah.com/news/read/gayahid!p/"#$#/#$/#"/"%%&4$/thalasemia
penya'itt!r!nanyang(isadicegah
2. 8us#andi. (& maret 2''E). Aumlah penderita thalasemia naik B,!C. -ompas.1om
http://'esehatan.'ompas.com/read/"##)/#*/#%/"$$""%44/+!mlah.Penderita.Thalass
emia.,ai'.-.*.Persen
..
!. 8udolph I. D, 8udolph A. 7, Hostetter 7. -, Fister , and 0iegel N. A. (2''2). Rudolphs Pediatrics.
part 4E blood and blood+orming tissues. 4E.%.> Thallasemia. 24st Gdition. 71,ra#hill 1ompany3 North
Ameri1a
%. Hassan 8 dan Alatas H. (2''2). Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan anak. bagian 4E Hematologi hal. %4E
%&' ,;agian ilmu kesehatan anak )akultas -edokteran Pni.ersitas Hndonesia 3 Aakarta
&. ,anong Q. ). (2''!). Buku aar !isiolo"i kedokteran. bab 2> sirkulasi 1airan tubuh hal. &4!&4& Gdisi
2'. G,I 3 Aakarta
$. ,uyton A. I dan Hall A. G. (4EE>). Buku aar !isiolo"i kedokteran. ;ab !2 sel sel darah merah, anemia
dan polisitemia hal. &!%&!$ Gdisi E. G,I. Aakarta
>. 7odell ; and Darlison 7. (2''B). ,lobal Gpidemiology o+ hemoglobin disorders and deri.ed ser.i1e
indi1ators. Bulletin o# the $orld %ealth &r"ani'ation, .olume B$, number $.
http://www.who.int/(!lletin/.ol!mes/-////#/#*//&*/en/
B. ;ehrman 8.G, -liegman 8.7 and 2enson H.;. (2''%). (elson te)tbook o# pediatrics. "art 2' disease
o+ the blood 1hapter %&% hemoglobin disorder %&%.E thallasemia syndrome. 4>th edition.P0A
E. Hastings I. (2''2). the childrens hospital &akland hematolo"y*oncolo"y handbook. 1hapter %
thallasemia. 7osby. Pnited 0tates o+ Ameri1a
4'. Hay Q.Q, Hay#ard A.8, Fe.in 7..A and 0andheimer A.7. (2''!). Current pediatric dia"nosis and
treatment. "art 2> hematologi1 disorder, 1ongenital hemolyti1 anemias hemoglobinopaties. 4$th edition.
Fange medi1al booksD71,ra#hill. North Ameri1a
44. Herdata,Heru No.iat.(2''B). Thalasemia, http3DDebook+kunsyiah.#ordpress.1omD1ategoryDhemato
onkologiDthalassemiaD
42. 8a1hmile#it/ G and 8und D. (2''&) R thalassemia. +he ne, -n"land ournal medicine 3 Aerusalem.
http://content.ne0m.org/cgi/reprint/*%*/$$/$$*%.pd1