Anda di halaman 1dari 26

URINALISIS

Disusun oleh :
Andiesta Asriyah Mariam Saman
P27834113018
Semester 3 Reguler

D4 ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga
beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin
disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya
dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea),
garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari
darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi
ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam
tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar
yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan
dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui
urinalisis.
Pemeriksaan urin dalam mengindikasikan beberapa penyakit sangat penting.
Pemeriksaan urin tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran
urin tetapi juga mengenai faal berbagai organ dalam beberapa tubuh seperti hati,
saluran empedu, pankreas dan korteks adrenal. Oleh karena pada pemerikasaan urin
dapat dideteksi berbagai macam penyakit maka sangat penting dilakukan pemeriksaan
urinalisis.
B. Rumusan Masalah
a. Apa sajakah yang meliputi pemeriksaan urinalisis ?
b. Apa manfaat pemeriksaan urinalisis ?

C. Tujuan
a. Untuk mengetahui pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan urinalisis.
b. Untuk mengetahui manfaat pemeriksaan urinalisis.
BAB II
PEMBAHASAN

Urinalisis merupakan istilah umum untuk tes urin, dilakukan untuk mengevaluasi
kesehatan seseorang, mendiagnosis kondisi medis seseorang, atau untuk memonitor penyakit
seseorang. Urinalisis merupakan analisis fisik, kimia, dan mikroskopis terhadap urine. Uji
urine rutin dilakukan pertama kali pada tahu 1821. Sampai saat ini, urine diperiksa secara
manual terhadap berbagai kandungannya, tetapi saat ini digunakan berbagai strip reagen
untuk melakukan skrining kimia dengan cepat.
Urinalisis berguna untuk mendiagnosis penyakit ginjal atau infeksi salurah kemih, dan
untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan ginjal.
Berbagai uji urinalisis rutin dilakukan di tempat praktik pemberi layanan kesehatan dan juga
di rumah sakit atau di laboratorium swasta. Warna, tampilan dan bau urine diperiksa, serta
ph, protein, keton, glukosa, dan bilirubin diperiksa dengan strip reagen. Berat jenis, diukur
dengan urinometer, dan pemeriksaan mikroskopis sedimentasi urine dilakukan untuk
mendeteksi sel darah merah atau sel darah putih di dalam urine. Pemeriksaan makroskopis
meliputi pemeriksaan sedimen, kristal dan bakteria. Tidak semua tes pada urin disebut
urinalisis, misalnya tes kehamilan dan tes narkoba. Suatu cairan dinyatakan sebagai urin
apabila kadar ureum yang tinggi melebihi 1 g/dl dan kadar kreatinin lebih dari 50 mg/dl.(3).
A. Pemilihan Sampel Urinalisis
Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina,
perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu
temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem
urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar
membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu
membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus
memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan
kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar.
Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus
untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu
malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang
terbentuk mengalami pemekatan.
Ketika menampung spesimen urine harus digunakan wadah yang bersih. Sinar matahari
langsung harus dihindari ketika menangani spesimen urin. Pemeriksaan urin tidak boleh
menggunakan urin yang mengandung antiseptik. Pemeriksaan urine akan lebih baik jika
dilakukan secepatnya (penundaan maksimal 1 jam), karena penundaan pemeriksaan terhadap
spesimen urine dapat mengurangi validitas hasil.
Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain :
Unsur-unsur berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam.
Urat dan fosfat yang semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan
pemeriksaan mikroskopik elemen lain.
Kadar bilirubin dan urobilinogen akan turun karena mengalami oksidasi bila
terpajan sinar matahari.
Bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Selain itu, bakteri akan memecah urium menjadi ammonia sehingga menyebabkan
pH menjadi basa. pH basa inilah yang menyebabkan unsure sedimen dalam urine
seperti eritrosit, leukosit, silinder, ataupun sel menjadi pecah atau hancur.
Glukosa mungkin turun, badan keton (jika ada) akan menguap.
Fosfat yang ada dalam urine akan mengendap, sehingga urine menjadi keruh.

Untuk berbagai jenis pemeriksaan urine, diperlukan bahan pemeriksaan yang berbeda
sesuai dengan jenis tes yang diperiksa. Pada umumnya yang paling sering digunakan adalah
urine sewaktu. Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan kapan saja saat diperlukan
pemeriksaan. Sedangkan pemeriksaan kuantitatif zat tertentu di dalam urine, misalnya protein
diperlukan pengumpulan urine 24 jam. Berikut ini akan berbagai jenis bahan urine untuk
urinalisis :
1. Urin sewaktu
Sesuai namanya, urin diambil kapan saja tidak ada ketentuan khusus.
Keuntungannya cukup baik dilakukan pada saat penderita dalam keadaan rileks dan
dapat dilakukan pada kondisi darurat. Kelemahannya adalah tidak mencerminkan
kondisi dalam satu hari.




2. Urin pagi
Urin yang dikeluarkan pertama kali saat bangun tidur. Urin ini lebih pekat
sehingga baik untuk pemeriksaan berat jenis, sedimen, protein, dan tes kehamilan
(HCG).

3. Urin postprandial
Urin dikeluarkan sekitar 1,5 -3 jam setelah makan. Pemeriksaan ini berguna
terutama bagi penderita Diabetes Mellitus (DM) untuk pemeriksaan skrining adanya
glukosuria. Kelemahannya adalah ketepatan waktu dalam pengambilan urin.

4. Urin 24 jam
Urin yang dikumpulkan selama satu hari penuh. Urin yang dikeluarkan selama
satu hari, contohnya dari jam 8 pagi hingga jam 8 pada hari berikutnya, ditampung
untuk dilakukan pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi seseorang
selama satu hari. Kelemahannya adalah kesulitan dalam pengumpulan bahan.

5. Urin 3 gelas
Pengambilannya ditampung dalam 3 gelas tanpa menghentikan aliran urin.
Sebelumnya pasien tidak boleh berkemih dulu. Pemeriksaan ini dapat
menggambarkan keadaan masing-masing saluran kencing, namun memiliki
kelemahan dalam ketepatan pengumpulan bahan pada masing-masing gelas.
Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan lokasi infeksi pada saluran kencing
pria. Namun, pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan.

B. Pemeriksaan dalam Urinalisis
1. Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis urin terdiri atas beberapa pemeriksaan, anatara lain:
a. Volume
Banyaknya urine yang dikeluarkan oleh ginjal dalam 24 jam. Dihitung
dalam gelas ukur. Volume urine normal : 1200-1500 ml/24 jam. Volume urine
masing-masing orang bervariasi tergantung pada luas permukaan tubuh,
pemakaian cairan, dan kelembapan udara / penguapan. Pengukuran volume
harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang
akurat.


b. Bau
Bau urine yang normal, tidak keras. Bau urine yang normal disebabkan dari
sebagian oleh asam-asam organik yang mudah menguap. Urine yang berbau
ammonia disebabkan oleh pemecahan urea oleh bakteri, sedangkan apabila urine
berbau busuk mengindikasi adanya bakteri atau pasien tersebut terkena infeksi
saluran kencing. Namun, bila urine berbau manis seperti buah-buahan dapat
mengindikasi bahwa pasien tersebut mengalami asidosis diabetika atau
kelaparan.

c. Buih
Buih pada urine normal berwarna putih. Jika urine mudah berbuih,
menunjukkan bahwa urine tersebut mengandung protein. Sedangkan jika urine
memiliki buih yang berwarna kuning, hal tersebut disebabkan oleh adanya
pigmen empedu (bilirubin) dalam urine.

d. Kejernihan
Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut
dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin..
Cara menguji kejernihan sama seperti menguji warna yaitu jernih, agak
keruh, keruh atau sangat keruh. Tidak semua macam kekeruhan bersifat
abnormal. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat
(dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Urine normal pun akan
menjadi keruh jika dibiarkan atau didinginkan. Kekeruhan juga bisa disebabkan
oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin. Kekeruhan ringan disebut
nubecula dan terjadi dari lender, sel-sel epitel, dan leukosit yang lambat laun
mengendap.
Sebab sebab urine keruh dari mula-mula :
Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar, mungkin terjadi sesudah
pasien banyak mengonsumsi makanan.
Bakteri.
Unsur sedimen dalam jumlah besar, seperti eritrosit, leukosit dan sel epitel.
Cylus dan lemak.
Benda-benda koloid.
Sebab sebab urine keruh menjadi keruh setelah dibiarkan :
Nubecula.
Urat-urat amorf.
Fosfat amorf dan karbonat.
Bakteri.

e. Warna
Warna urine ditentukan oleh besarnya dieresis. Makin besar dieresis, makin
muda warna urine itu. Biasanya warna urine normal berkisar antara kuning
muda dan kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna,
terutama urochrom dan urobilin. Jika didapat warna abnormal disebabkan oleh
zat warna yang dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam
jumlah besar.
Kemungkinan adanya zat warna abnormal, berupa hasil metabolisme
abnormal, tetapi mungkin juga berasal dari suatu jenis makanan atau obat-
obatan. Beberapa keadaan warna urine mungkin baru berubah setelah dibiarkan.
Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :
Merah
Penyebab patologik: hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.
Penyebab nonpatologik: banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab
(kelembak), senna.
Oranye
Penyebab patologik : pigmen empedu.
Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat
lain termasuk fenotiazin.
Kuning
Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin.
Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.

Hijau
Penyebab patologik: biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas).
Penyebab nonpatologik: preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
Biru
Pengaruh obat: diuretik, dan nitrofuran.
Coklat
Penyebab patologik: hematin asam, mioglobin, pigmen empedu.
Pengaruh obat: levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
Hitam atau hitam kecoklatan
Penyebab patologik: melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen,
methemoglobin.
Pengaruh obat: levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.

f. Berat Jenis
Untuk mengukur berat jenis dapat menggunakan urometer, refraktometer,
dan carik celup. Berat jenis normalnya adalah 1,015-1,025 (rujukan yang
digunakan oleh Laborarotium Parahita). Berat jenis kurang dari 1,005 dapat
disebabkan karena banyak minum, kebelihan cairan, kekurangan atau kelebihan
kalium, penyakit ginjal atau diabetes insipidus. Sedangkan berat jenis lebih dari
1,026 dapat disebabkan karena kurang minum, dehidrasi, diare, muntah dan
diabetes mellitus.

2. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda
berbentuk partikel lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik
yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena
infeksi misalnya perdarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.
Metode pemeriksaan mikroskopik sedimen urine lebih dianjurkan untuk
dikerjakan dengan pengecatan Stenheimer-Malbin. Dengan pewarnaan ini, unsur-
unsur mikroskopik yang sukar terlihat pada sediaan natif dapat terlihat jelas.
Pemeriksaan mikroskopis urine meliputi pemeriksaan sedimen urine. Tujuan
dari pemeriksaan sedimen urine adalah untuk mengidentifikasi jenis sedimen yang
dipakai untuk mendeteksi kelainan ginjal dan saluran kemih. Untuk pemeriksaan
sedimen urine diperlukan urine segar yaitu urine yang ditampung 1 jam setelah
berkemih. Untuk mendapat sedimen yang baik diperlukan urine pekat yaitu urine
yang diperoleh pagi hari dengan berat jenis > 1,023 atau osmolalitas > 300 m
osm/kg dengan pH yang asam.. Berikut ini adalah pemeriksaan yang meliputi
pemeriksaan mikroskopis :
a. Eritrosit
Eritrosit dalam air seni dapat berasal
dari bagian manapun dari saluran kemih.
Secara teoritis, harusnya tidak dapat
ditemukan adanya eritrosit, namun dalam
urine normal dapat ditemukan 0 3 sel/LPK.
Hematuria adalah adanya peningkatan
jumlah eritrosit dalam urin karena: kerusakan
glomerular, tumor yang mengikis saluran
kemih, trauma ginjal, batu saluran kemih, infeksi, inflamasi, infark ginjal,
nekrosis tubular akut, infeksi saluran kemih atas dan bawah, nefrotoksin,
dan lain-lain.
Hematuria dibedakan menjadi hematuria makroskopik (gross
hematuria) dan hematuria mikroskopik. Darah yang dapat terlihat jelas
secara visual menunjukkan perdarahan berasal dari saluran kemih bagian
bawah, sedangkan hematuria mikroskopik lebih bermakna untuk kerusakan
glomerulus. Dinyatakan hematuria mikroskopik jika dalam urin ditemukan
lebih dari 5 eritrosit/LPK. Hematuria mikroskopik sering dijumpai pada
nefropati diabetik, hipertensi, dan ginjal polikistik. Hematuria mikroskopik
dapat terjadi persisten, berulang atau sementara dan berasal dari sepanjang
ginjal-saluran kemih. Hematuria persisten banyak dijumpai pada
perdarahan glomerulus ginjal.
Eritrosit dapat terlihat berbentuk normal, membengkak, krenasi,
mengecil, shadow atau ghost cells dengan mikroskop cahaya. Spesimen
segar dengan berat jenis 1,010-1,020, maka eritrosit berbentuk cakram
normal. Eritrosit tampak bengkak dan hampir tidak berwarna pada urin
yang encer, tampak mengkerut (crenated) pada urine yang pekat, dan
tampak mengecil sekali dalam urine yang alkali. Selain itu, kadang-kadang
eritrosit tampak seperti ragi.
Eritrosit dismorfik tampak pada ukuran
yang heterogen, hipokromik, terdistorsi dan
sering tampak gumpalan-gumpalan kecil tidak
beraturan tersebar di membran sel. Eritrosit
dismorfik memiliki bentuk aneh akibat
terdistorsi saat melalui struktur glomerulus
yang abnormal. Adanya eritrosit dismorfik
dalam urin menunjukkan penyakit glomerular
seperti glomerulonefritis.

b. Leukosit
Lekosit berbentuk bulat, berinti, granuler,
berukuran kira-kira 1,5 2 kali eritrosit.
Lekosit dalam urine umumnya adalah neutrofil
(polymorphonuclear, PMN). Lekosit dapat
berasal dari bagian manapun dari saluran
kemih.
Lekosit hingga 4 atau 5 per LP, umumnya
masih dianggap normal. Peningkatan jumlah
lekosit dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya menunjukkan
adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis,
pielonefritis, atau glomerulonefritis akut. Leukosituria juga dapat dijumpai
pada febris, dehidrasi, stress, leukemia tanpa adanya infeksi atau inflamasi,
karena kecepatan ekskresi leukosit meningkat yang mungkin disebabkan
karena adanya perubahan permeabilitas membran glomerulus atau
perubahan motilitas leukosit. Pada kondisi berat jenis urin rendah, leukosit
dapat ditemukan dalam bentuk sel Glitter merupakan lekosit PMN yang
menunjukkan gerakan Brown butiran dalam sitoplasma. Pada suasana pH
alkali leukosit cenderung berkelompok.
Lekosit dalam urine juga dapat merupakan suatu kontaminan dari
saluran urogenital, misalnya dari vagina dan infeksi serviks, atau meatus
uretra eksterna pada laki-laki.

c. Sel epitel
Sel Epitel Tubulus
Sel epitel tubulus ginjal berbentuk bulat
atau oval, lebih besar dari leukosit,
mengandung inti bulat atau oval besar,
bergranula dan biasanya terbawa ke urin
dalam jumlah kecil. Namun, pada sindrom
nefrotik dan dalam kondisi yang mengarah ke degenerasi saluran kemih,
jumlahnya bisa meningkat. Jumlah sel tubulus 13 / LPK atau penemuan
fragmen sel tubulus dapat menunjukkan adanya penyakit ginjal yang aktif
atau luka pada tubulus, seperti pada nefritis, nekrosis tubuler akut, infeksi
virus pada ginjal, penolakan transplnatasi ginjal, keracunan salisilat.
Sel epitel tubulus dapat terisi oleh banyak tetesan lemak yang berada
dalam lumen tubulus (lipoprotein yang menembus glomerulus), sel-sel
seperti ini disebut oval fat bodies / renal tubular fat / renal tubular fat
bodies. Oval fat bodies menunjukkan adanya
disfungsi disfungsi glomerulus dengan
kebocoran plasma ke dalam urin dan kematian
sel epitel tubulus. Oval fat bodies dapat
dijumpai pada sindrom nefrotik, diabetes
mellitus lanjut, kerusakan sel epitel tubulus
yang berat karena keracunan etilen glikol, air
raksa. Selain sel epitel tubulus, oval fat bodies juga dapat berupa makrofag
atau hisiosit.
Sel epitel tubulus yang membesar dengan multinukleus (multinucleated
giant cells) dapat dijumpai pada infeksi virus. Jenis virus yang dapat
menginfeksi saluran kemih adalah Cytomegalovirus (CMV) atau Herpes
simplex virus (HSV) tipe 1 maupun tipe 2.
Sel Epitel Transisional
Sel epitel ini dari pelvis ginjal, ureter, kandung kemih (vesica urinaria),
atau uretra, lebih besar dari sel epitel tubulus ginjal, dan agak lebih kecil
dari sel epitel skuamosa. Sel epitel ini berbentuk bulat atau oval, gelendong
dan sering mempunyai tonjolan. Besar kecilnya ukuran sel epitel
transisional tergantung dari bagian saluran kemih yang mana dia berasal.
Sel epitel skuamosa adalah sel epitel terbesar yang terlihat pada spesimen
urin normal. Sel epitel ini tipis, datar, dan inti bulat kecil. Mereka mungkin
hadir sebagai sel tunggal atau sebagai kelompok dengan ukuran bervariasi.
Sel Skuamosa
Epitel skuamosa umumnya dalam jumlah yang lebih
rendah dan berasal dari permukaan kulit atau dari luar
uretra. Signifikansi utama mereka adalah sebagai
indikator kontaminasi.

d. Silinder
Silinder (cast) adalah massa protein berbentuk silindris yang terbentuk
di tubulus ginjal dan dibilas masuk ke dalam urine. Silinder terbentuk
hanya dalam tubulus distal yang rumit atau saluran pengumpul (nefron
distal). Tubulus proksimal dan lengkung Henle bukan lokasi untuk
pembentukan silinder. Silinder dibagi-bagi berdasarkan gambaran
morfologik dan komposisinya. Faktor-faktor yang mendukung
pembentukan silinder adalah laju aliran yang rendah, konsentrasi garam
tinggi, volume urine yang rendah, dan pH rendah (asam) yang
menyebabkan denaturasi dan precipitasi protein, terutama mukoprotein
Tamm-Horsfall. Mukoprotein Tamm-Horsfall adalah matriks protein yang
lengket yang terdiri dari glikoprotein yang dihasilkan oleh sel epitel ginjal.
Semua benda berupa partikel atau sel yang terdapat dalam tubulus yang
abnormal mudah melekat pada matriks protein yang lengket.
Konstituen selular yang umumnya melekat pada silinder adalah
eritrosit, leukosit, dan sel epitel tubulus, baik dalam keadaan utuh atau
dalam berbagai tahapan disintegrasi. Apabila silinder mengandung sel atau
bahan lain yang cukup banyak, silinder tersebut dilaporkan berdasarkan
konstituennya. Apabila konstituen selular mengalami disintegrasi menjadi
partikel granuler atau debris, biasanya silinder hanya disebut sebagai
silinder granular.

1. Silinder hialin
Silinder hialin atau silinder protein
terutama terdiri dari mucoprotein
(protein Tamm-Horsfall) yang
dikeluarkan oleh sel-sel tubulus.
Silinder ini homogen (tanpa struktur),
tekstur halus, jernih, sisi-sisinya
parallel, dan ujung-ujungnya membulat.
Sekresi protein Tamm-Horsfall membentuk sebuah silinder hialin di
saluran pengumpul.
Silinder hialin tidak selalu menunjukkan penyakit klinis. Silinder
hialin dapat dilihat bahkan pada pasien yang sehat. Sedimen urin
normal mungkin berisi 0 1 silinder hialin per LPL. Jumlah yang lebih
besar dapat dikaitkan dengan proteinuria ginjal (misalnya, penyakit
glomerular) atau ekstra-ginjal (misalnya, overflow proteinuria seperti
dalam myeloma).
Silinder protein dengan panjang, ekor tipis terbentuk di
persimpangan lengkung Henle's dan tubulus distal yang rumit disebut
silindroid (cylindroids).

2. Silinder Eritrosit
Silinder eritrosit bersifat granuler dan
mengandung hemoglobin dari kerusakan
eritrosit. Adanya silinder eritrosit disertai
hematuria mikroskopik memperkuat
diagnosis untuk kelainan glomerulus.
Cedera glomerulus yang parah dengan kebocoran eritrosit atau
kerusakan tubular yang parah menyebabkan sel-sel eritrosit melekat
pada matriks protein (mukoprotein Tamm-Horsfall) dan membentuk
silinder eritrosit.




3. Silinder Leukosit
Silinder lekosit atau silinder nanah,
terjadi ketika leukosit masuk dalam
matriks Silinder. Kehadiran mereka
menunjukkan peradangan pada ginjal,
karena silinder tersebut tidak akan
terbentuk kecuali dalam ginjal. Silinder
lekosit paling khas untuk pielonefritis
akut, tetapi juga dapat ditemukan pada penyakit glomerulus
(glomerulonefritis). Glitter sel (fagositik neutrofil) biasanya akan
menyertai silinder lekosit. Penemuan silinder leukosit yang bercampur
dengan bakteri mempunyai arti penting untuk pielonefritis, mengingat
pielonefritis dapat berjalan tanpa keluhan meskipun telah merusak
jaringan ginjal secara progresif.

4. Silinder Granular
Silinder granular adalah silinder
selular yang mengalami degenerasi.
Disintegrasi sel selama transit melalui
sistem saluran kemih menghasilkan
perubahan membran sel, fragmentasi inti,
dan granulasi sitoplasma. Hasil
disintegrasi awalnya granular kasar,
kemudian menjadi butiran halus.

5. Silinder Lilin (Waxy Cast)
Silinder lilin adalah silinder tua
hasil silinder granular yang
mengalami perubahan degeneratif
lebih lanjut. Ketika silinder selular
tetap berada di nefron untuk beberapa
waktu sebelum mereka dikeluarkan ke
kandung kemih, sel-sel dapat berubah menjadi silinder granular kasar,
kemudian menjadi sebuah silinder granular halus, dan akhirnya,
menjadi silinder yang licin seperti lilin (waxy). Silinder lilin umumnya
terkait dengan penyakit ginjal berat dan amiloidosis ginjal.
Kemunculan mereka menunjukkan keparahan penyakit dan dilasi
nefron dan karena itu terlihat pada tahap akhir penyakit ginjal kronis.
Yang disebut telescoped urinary sediment adalah salah satu di
mana eritrosit, leukosit, oval fat bodies, dan segala jenis silinder yang
ditemukan kurang lebih sama-sama berlimpah. Kondisi yang dapat
menyebabkan telescoped urinary sediment adalah: 1) lupus nefritis 2)
hipertensi ganas 3) diabetes glomerulosclerosis, dan 4)
glomerulonefritis progresif cepat.
Pada tahap akhir penyakit ginjal dari setiap penyebab, sedimen
saluran kemih sering menjadi sangat kurang karena nefron yang masih
tersisa menghasilkan urin encer.

e. Kristal
Kristal yang sering dijumpai adalah kristal calcium oxallate, triple
phosphate, dan asam urat. Penemuan kristal-kristal tersebut tidak mempunyai
arti klinik yang penting. Namun, dalam jumlah berlebih dan adanya
predisposisi antara lain infeksi, memungkinkan timbulnya penyakit "kencing
batu", yaitu terbentuknya batu ginjal-saluran kemih (lithiasis) di sepanjang
ginjal saluran kemih, menimbulkan jejas, dan dapat menyebabkan fragmen
sel epitel terkelupas. Pembentukan batu dapat disertai kristaluria, dan
penemuan kristaluria tidak harus disertai pembentukan batu.
1. Kalsium Oksalat
Kristal ini umum dijumpai pada spesimen
urine bahkan pada pasien yang sehat. Mereka
dapat terjadi pada urin dari setiap pH, terutama
pada pH yang asam. Kristal bervariasi dalam
ukuran dari cukup besar untuk sangat kecil.
Kristal ca-oxallate bervariasi dalam ukuran, tak berwarna, dan bebentuk
amplop atau halter. Kristal dapat muncul dalam spesimen urine setelah
konsumsi makanan tertentu (misalnya: asparagus, kubis, dll) dan keracunan
ethylene glycol. Adanya 1-5 (+) kristal Ca-oxallate per LPL masih
dinyatakan normal, tetapi jika dijumpai lebih dari 5 ( ++ atau +++ ) sudah
dinyatakan abnormal.
2. Triple Fosfat
Seperti halnya Ca-oxallate, triple fosfat
juga dapat dijumpai bahkan pada orang yang
sehat. Kristal terlihat berbentuk prisma empat
persegi panjang seperti tutup peti mati
(kadang-kadang juga bentuk daun atau
bintang), tak berwarna dan larut dalam asam
cuka encer. Meskipun mereka dapat
ditemukan dalam setiap pH, pembentukan mereka lebih disukai di pH netral
ke basa. Kristal dapat muncul di urin setelah konsumsi makan tertentu
(buah-buahan). Infeksi saluran kemih dengan bakteri penghasil urease (mis.
Proteus vulgaris) dapat mendukung pembentukan kristal (dan urolithiasis)
dengan meningkatkan pH urin dan meningkatkan amonia bebas.
3. Asam Urat
Kristal asam urat tampak berwarna kuning
ke coklat, berbentuk belah ketupat (kadang-
kadang berbentuk jarum atau mawar). Dengan
pengecualian langka, penemuan kristal asam
urat dalam urin sedikit memberikan nilai klinis,
tetapi lebih merupakan zat sampah metabolisme
normal; jumlahnya tergantung dari jenis makanan, banyaknya makanan,
kecepatan metabolisme dan konsentrasi urin. Meskipun peningkatan 16%
pada pasien dengan gout, dan dalam keganasan limfoma atau leukemia,
kehadiran mereka biasanya tidak patologis atau meningkatkan konsentrasi
asam urat.
4. Sistin (Cystine)
Cystine berbentuk heksagonal dan tipis.
Kristal ini muncul dalam urin sebagai akibat
dari cacat genetic atau penyakit hati yang
parah. Kristal dan batu sistin dapat dijumpai
pada cystinuria dan homocystinuria. Terbentuk
pada pH asam dan ketika konsentrasinya > 300mg. Sering membingungkan
dengan kristal asam urat. Sistin crystalluria atau urolithiasis merupakan
indikasi cystinuria, yang merupakan kelainan metabolisme bawaan cacat
yang melibatkan reabsorpsi tubulus ginjal tertentu termasuk asam amino
sistin.
5. Leusin dan Tirosin
Leusin dan tirosin adalah kristal asam
amino dan sering muncul bersama-sama
dalam penyakit hati yang parah. Tirosin
tampak sebagai jarum yang tersusun
sebagai berkas atau mawar dan kuning.
Leusin muncul-muncul berminyak bola
dengan radial dan konsentris striations. Kristal leucine dipandang sebagai
bola kuning dengan radial konsentris. Kristal ini kadang-kadang dapat
keliru dengan sel-sel, dengan pusat nukleus yang menyerupai. Kristal dari
asam amino leusin dan tirosin sangat jarang terlihat di sedimen urin. Kristal
ini dapat diamati pada beberapa penyakit keturunan seperti tyrosinosis dan
"penyakit Maple Syrup". Lebih sering kita menemukan kristal ini
bersamaan pada pasien dengan penyakit hati berat (sering terminal).
6. Kristal Kolesterol
Kristal kolesterol tampak regular atau
irregular , transparan, tampak sebagai pelat
tipis empat persegi panjang dengan satu
(kadang dua) dari sudut persegi memiliki
takik. Penyebab kehadiran kristal kolesterol
tidak jelas, tetapi diduga memiliki makna
klinis seperti oval fat bodies. Kehadiran kristal kolesterol sangat jarang dan
biasanya disertai oleh proteinuria
7. Kristal lain
Berbagai macam jenis kristal lain yang dapat dijumpai dalam sedimen
urin misalnya adalah sebagai berikut
a) Kristal dalam urin asam :
Natirum urat: tak berwarna, bentuk batang ireguler tumpul, berkumpul
membentuk roset.
Amorf urat: warna kuning atau coklat, terlihat sebagai butiran,
berkumpul.
b) Kristal dalam urin alkali :
Amonium urat (atau biurat) : warna kuning-
coklat, bentuk bulat tidak teratur, bulat
berduri, atau bulat bertanduk.
Ca-fosfat : tak berwarna, bentuk batang-
batang panjang, berkumpul membentuk
rosset.
Amorf fosfat : tak berwarna, bentuk butiran-butiran, berkumpul.
Ca-karbonat : tak berwarna, bentuk bulat kecil, halter.
Secara umum, tidak ada intepretasi klinis, tetapi jika terdapat dalam
jumlah yang banyak, mungkin dapat menimbulkan gangguan. Banyak obat
diekskresikan dalam urin mempunyai potensi untuk membentuk kristal,
seperti kristal Sulfadiazin dan Sulfonamida seperti gambar dibawah ini




f. Bakteri
Bakteri yang umum dalam spesimen urin karena banyaknya mikroba
flora normal vagina atau meatus uretra eksternal dan karena kemampuan
mereka untuk cepat berkembang biak di urine pada suhu kamar. Bakteri
juga dapat disebabkan oleh kontaminan dalam wadah pengumpul,
kontaminasi tinja, dalam urine yang dibiarkan lama (basi), atau memang
dari infeksi di saluran kemih. Oleh karena itu pengumpulan urine harus
dilakukan dengan benar.
Diagnosis bakteriuria dalam kasus yang dicurigai infeksi saluran kemih
memerlukan tes biakan kuman (kultur). Hitung koloni juga dapat dilakukan
untuk melihat apakah jumlah bakteri yang hadir signifikan. Umumnya,
lebih dari 100.000/ml dari satu organisme mencerminkan bakteriuria
signifikan. Beberapa organisme mencerminkan kontaminasi. Namun
demikian, keberadaan setiap organisme dalam spesimen kateterisasi atau
suprapubik harus dianggap signifikan.

3. Pemeriksaan Kimia Urin
Pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan analisa dipstick. Dipstick adalah
strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung
bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Urine Dip merupakan
analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai penyakit.
Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein,
bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.
Prosedur Tes analisa Dipstick sebagai berikut :
1. Mengambil hanya sebanyak strip yang diperlukan
dari wadah dan segera tutup wadah.
2. Mencelupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam
urin selama dua detik (waktu tergantung jenis
pemeriksaan).
3. Menghilangkan kelebihan urine dengan
menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di atas
secarik kertas tisu.
4. Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala
warna rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip.
5. Memperhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak
akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan
kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk
memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual.
Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus
diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet.
Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup
kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap
strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan
warna.
Pemeriksaan kimia urine berguna untuk menunjang diagnosis kelainan di luar
ginjal seperti kelainan metabolism karbohidrat, fungsi hati, gangguan keseimbangan
asam basa, kelainan ginjal, dan saluran kemih seperti infeksi traktus urinarius. berikut
ini merupakan pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan kimia urine :
1. pH urine
pH normal urine adalah 4,8-7,4 (rujukan yang digunakan oleh Laboratorium
Parahita). pH tidak banyak berarti dalam pemeriksaan penyaring. Akan tetapi pada
gangguan keseimbangan asam-basa penetapan itu memberi gambaran tentang
keadaan dalam tubuh, apalagi jika disertai penetapan jumlah asam yang
diekskresikan dalam waktu tertentu, dan juga jumlah ion NH
4
.
Selain pada keadaan tersebut di atas, pemeriksaan pH urine segar dapat
memberi petunjuk kearah infeksi saluran kemih. Infeksi oleh E. coli biasanya
menghasilkan urine asam, sedangkan infeksi oleh Proteus yang merombak ureum
menjadi amoniak menyebabkan urine menjadi basa.
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih
(Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia),
terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis
sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau
metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+),
terapi pengasaman.
2. Glukosa urine
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam
urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi
karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.
Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi
tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu
glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes
mellitus.
Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase
(GOD), peroksidase (POD) dan zat warna. Pemeriksaan glukosa urine dapat
menggunakan:
a. Metode Fehling
Prinsip : Dengan pemanasan urine dalam suasana alkali, glukosa akan
mereduksi cupri sulfat menjadi cupro oksida. Pengendapan cupri
hidroksida dicegah dengan penambahan kalium natrium tartrate.
b. Metode Benedict
Prinsip : Glukosa dalam urine akan mereduksi garam-garam kompleks
yang terdapat pada pereaksi benedict (ion cupri direduksi menjadi cupro)
dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O.
Interpretasi hasil pada metode Fehling dan Benedict:
(-) : tetap biru, biru kehijauan.
(+1) : hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0,5 1 %
glukosa)
(+2) : kuning keruh (1 1,5 % glukosa)
(+3) : jingga atau warna lumpur keruh (2 3,5 % glukosa)
(+4) : merah bata (lebih dari 3,5 % glukosa)

3. Bilirubin urine
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk
(terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi
oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah
meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis
infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai
ikterik.
Bilirubin secara normal tidak terdapat dalam urine, namun dalam jumlah yang
sangat sedikit dapat berada dalam urine, tanpa terdeteksi melalui pemeriksaan
rutin. Bilirubin terbentuk dari penguraian hemoglobin dan ditranspor menuju hati,
tempat bilirubin berkonjugasi atau tak langsung bersifat larut dalam lemak, serta
tidak dapat diekskresikan ke dalam urine. Bilirubinuria mengindikasikan
kerusakan hati atau obstruksi empedu dan kadarnya yang besar ditandai dengan
warna kuning.
Pemeriksaan bilirubin urine berdasarkan reaksi antara garam diazonium
dengan bilirubin dalam suasana asam kuat yang menimbulkan kompleks yang
berwarna coklat muda hingga merah coklat dalam waktu 30 detik. Hasilnya
dilaporkan sebagai negative, +1 (0,5 mg/dl), +2 (1 mg/dl) atau +3 (3 mg/dl).
Sensitivitas pemeriksaan ini adalah 0,2 0,4 mg/dl.
Hasil yang positif harus dikonfirmasi dengan test Harrison dimana bilirubin
telah diendapkan oleh Barium chloride akan dioksidasi dengan reagen Fouchet
menjadi biliverdin yang berwarna hijau. Hasil positif pada tes Harisson,ditandai
dengan filtrate yang berwarna hijau pada kertas saring.

4. Urobilinogen urine
Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin yang terkonjugasi
mencapai area duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi
urobilinogen. Sebagian besar urobilinogen berkurang dalam feses dan sejumlah
besar kembali ke hati melalui aliran darah. Kemudian urobilinogen diproses ulang
menjadi empedu kira-kira ejumlah 1% diekskresi oleh ginjal di dalam urine.
Spesimen urine harus segera diperiksa dalam setengah jam karena urobilinogen
urine dapat teroksidasi menjadi urobilin.
Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar
menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang
melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen
meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika
atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik
hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung
dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel
sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker
pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya
sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.
Pemeriksaan urobilinogen dalam urine berdasarkan reaksi antara urobilinogen
dengan reagen Ehrlich (paradimethylaminobenzaldehyde, serta buffer asam).
Intensitas warna yang terjadi dari jingga hingga merah tua, dibaca dalam waktu 60
detik, warna yang timbul sesuai dengan peningkatan kadar urobilinogen dalam
urine.
Urine yang terlalu alkalis menunjukkan kadar urobilinogen yang lebih tinggi,
sedangkan urine yang terlalu asam menunjukkan kadar urobilinogen yang lebih
rendah dari seharusnya. Kadar nitrit yang tinggi juga menyebabkan hasil negatif
palsu. Hasil positif dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat
disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan
sejumlah kecil urobilinogen.

5. Keton dalam urine
Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi
untuk menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam
aseotasetat dan asam -hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal
dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila
kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan
diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi
keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang dijumpai
di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat.
Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak
seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi
karbohidrat (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis.
diabetes), sehingga tubuh mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein,
febris.
Berdasarkan reaksi antar asam asetoasetat dengan senyawa nitroprusida.
Warna yang dihasilkan adalah coklat muda bila tidak terjadi reaksi, dan ungu
untuk hasil yang positif. Hasilnya dilaporkan sebagai negatif, trace (5 mg/dl), +1
(15 mg/dl), +2 (40 mg/dl), +3 (80 mg/dl) atau +4 (160 mg/dl). Hasil positif palsu
dapat terjadi apabila urine banyak mengandung pigmen atau metabolit levodopa
serta phenylketones. Urine yang mempunyai berat jenis tinggi, pH yang rendah,
dapat memberikan reaksi hingga terbaca hasil yang sangat sedikit (5 mg/dl).




6. Protein Urine
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang
diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi
150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml
didefinisikan sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan
fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging
dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin.
Pra-menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein
tinggi.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin
merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan
karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan
peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda
yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel.
Proteinuria biasanya disebabkan oleh penyakit ginjal akibat kerusakan
glomerulus dan atau gangguan reabsorpsi tubulus ginjal. Pemeriksaan protein
dalam urine berdasarkan pada prinsip kesalahan penetapan pH oleh adanya
protein. Sebagai indikator digunakan tertrabromphenol blue yang dalam suatu
sistem buffer akan menyebabkan pH tetap konstan. Akibat kesalahan penetapan
pH oleh adanya protein, urine yang mengandung albumin akan bereaksi dengan
indikator menyebabkan perubahan warna hijau muda sampai hijau. Indikator
tersebut sangat spesifik dan sensitif terhadap albumin. Perubahan warna yang
terjadi dalam waktu 60 detik. Hasilnya dilaporkan sebagai negative, +1 (30
mg/dl), +2 (100 mg/dl), +3 (300 mg/dl) atau +4 (2000 mg/dl).
Pemeriksaan protein urine dapat juga menggunakan:
a. Metode Rebus
Prinsip : Untuk menyatakan adanya urine yang ditunjukkan dengan adanya
kekeruhan dengan cara penambahan asam akan lebih mendekatkan ke titik
isoelektris dari protein. Pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi
sehingga terjadi presipitasi yang dinilai secara semi kuantitatif.
b. Metode Sulfosalisilat
Prinsip dari metode sulfosalisilat sama dengan metode Rebus. Interpretasi
hasil metode Rebus dan Sulfosalisilat:
(-) : tetap jernih.
(+1) : ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir (0,01 0,05 g/dl)
(+2) : kekeruhan mudah dilihat dan tampak butir-butir (0,05 0,2 g/dl)
(+3) : urine jelas keruh dan kekeruhan itu jelas berkeping-keping (0,2 0,5
g/dl)
(+4) : urine sangat keruh dan bergumpal (lebih dari 0,5 g/dl)
c. Metode Heller
Prinsip : Adanya protein dalam urine akan bereaksi dengan HNO3 pekat
membentuk cincin putih.


BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan

Dalam urinalisis, terdapat beberapa pemeriksaan terhadap urine, yaitu:
1. Pemeriksaan Makroskpois, meliputi: volume, bau, buih, kejernihan, warna, dan
berat jenis urine.
2. Pemeriksaan Mikroskopis, meliputi : eritrosit, leukosit, sel epitel, kristal, silinder,
dan bakteri pada urine.
3. Pemeriksaan Kimia, melipuri : pH, glukosa, bilirubin, urobilinogen, badan keton,
dan protein dalam urine.

Urinalisis berguna untuk mendiagnosis penyakit ginjal atau infeksi salurah kemih,
dan untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan
ginjal, selain itu juga mengindikasikan beberapa penyakit sangat penting. Pemeriksaan
urin tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran urin tetapi
juga mengenai faal berbagai organ dalam beberapa tubuh seperti hati, saluran empedu,
pankreas dan korteks adrenal

B. Daftar Pustaka.
1. Kee, Joyce LoFever. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, Edisi
6. Jakarta: Penertbit Buku Kedokteran ECG
2. Pemeriksaan Urinalisis, http://redboxmedicalplus.wordpress.com/2013/07/29/-
pemeriksaan-urinalisis/ (diakses tanggal 4 Oktober 2014)
3. Urinalisis Makroskopis, http://labkesehatan.blogspot.com/2010/02/urinalisis-1.html
(diakses tanggal 4 Oktober 2014)
4. Urinalisis Mikroskopis, http://labkesehatan.blogspot.com/2010/02/urinalisis-2-
analisis-mikroskopik.html (diakses tanggal 4 Oktober 2014)
5. Urin, http://id.wikipedia.org/wiki/Urin (diakses tanggal 4 Oktober 2014)