Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I. DEFINISI SERAT (FIBER)



1.1. Pengertian Serat (Fiber)
Serat (fiber) adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang
membentuk jaringan memanjang yang utuh. Serat adalah suatu material yang
perbandingan antara panjang dan lebarnya sangat besar dan molekul-molekul yang
menyusunnya terorientasi terutama ke arah panjang. Serat kapas misalnya memiliki
perbandingan panjang:lebar dari mulai 500 : 1 sampai dengan 1000 : 1.
Sejarah perkembangan serat sintetis dimulai dengan dibuatnya serat poliamida
oleh Dupont pada tahun 1938 dengan nama nilon, dan oleh IG Farben pada tahun 1939
dengan nama perlon. Serat dapat juga diperoleh dari hasil pengolahan selulosa secara
kimiawi. Selulosa merupakan serat alami dan merupakan bagian terbesar yang terdapat
dalam tumbuhtumbuhan. Serat diperoleh dari hasil pengolahan selulosa adalah rayon.
Serat banyak digunakan dalam industri tekstil.
Dengan ditemukannya beberapa macam serat sintetis, perkembangan selanjutnya
diarahkan pada memperbaiki cara pembuatan dan pengubahan bahan serat untuk
mendapatkan kualitas hasil akhir yang lebih baik. Serat poliamida (nilon) mempunyai
banyak jenis antara lain: nilon 66, nilon 6, nilon 610, nilon 7, nilon 11 (krislan). Nomor
yang ada di belakang nama nilon menunjukkan jumlah atom karbon monomer
pembentuknya. Ciri-ciri serat antara lain;
1. Modulus dan kekuatannya yang tinggi
2. Daya rentang yang baik
3. Stabilitas panas yang baik
4. Spinabilitas ( kemampuan untuk diubah menjadi filament-filamen )
2

Sifat-sifat serat ditentukan oleh struktur makro molekul dan teknik produksinya
diantaranya;
1. Kekuatan,
2. Kehalusan dan panjang serat
3. Elastisitas atau daya serap
4. Gesekan serat,
5. Keseragaman serat,
6. kelenturan
Contoh serat yang paling sering dijumpai adalah serat pada kain. Material ini
sangat penting dalam ilmu Biologi baik hewan maupun tumbuhan sebagai pengikat dalam
tubuh. Manusia menggunakan serat dalam banyak hal: untuk membuat tali, kain, atau
kertas. Serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu serat alami dan serat sintetis
(serat buatan manusia). Serat sintetis dapat diproduksi secara murah dalam jumlah yang
besar. Namun demikian, serat alami memiliki berbagai kelebihan khususnya dalam hal
kenyamanan.






3

BAB II. PENGELOMPOKAN SERAT (FIBER)

2.1. SERAT ALAMI
Serat alami yaitu serat yang langsung diperoleh di alam. Serat alami meliputi serat
yang diproduksi oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, dan proses geologis. Serat jenis ini
bersifat dapat mengalami pelapukan. Serat alami dapat digolongkan ke dalam:
1. Serat tumbuhan/serat pangan
2. Serat kayu
3. Serat hewan
4. Serat mineral (asbestos)
2.1.1. Serat Tumbuhan/ Serat Pangan
Serat tumbuhan biasanya tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan kadang-kadang
mengandung pula lignin. Contoh dari serat jenis ini yaitu katun dan kain ramie. Serat
tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil. Serat tumbuhan juga
penting bagi nutrisi manusia. Serat tumbuhan memiliki dasar kimia selulosa yang
berdasarkan pada asal tumbuhannya dapat berasal dari biji, daun, batang, dan, buah. Serat
alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain: kapas, lenan, rayon, nenas, pisang.



4

2.1.2 Serat Kayu
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai
dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh
bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian. Kayu
berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Bahkan
dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-
sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada
semua jenis kayu yaitu :
1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan
dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa
(karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan
jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau
melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan
suhu udara disekelilingnya.
4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam
keadaan kering.
2.1.3. Serat Hewan (Protein)
Serat hewan umumnya tersusun atas protein tertentu. Serat hewan adalah serat
yang berasal dari binatang seperti bulu biri-biri, unta, kambing, dan kepompong sutera.
Wol dan sutera adalah bahan yang berasal dari serat protein. Pada umumnya serat dari
protein lebih mudah dipengaruhi bahan-bahan kimia dari pada serat sellulosa.
5

Serat wol bersifat hidroskopis, tetapi serat tersebut juga melepaskan uap air secara
perlahan-lahan, sewaktu wol melepaskan uap uap air akan menimbulkan panas pada
bahan tekstil. Wol tahan kusut dan bersifat dapat menahan lipatan, misalnya karena
penyetrikaan. Wol merupakan serat alami yang dapat (felting) menggumpal, apabila
dikerjakan dalam larutan sabun bersuhu panas. Serat sutera berbentuk filamen, dihasilkan
oleh larva ulat sutera waktu membentuk kepompong.


2.1.4. Serat Mineral (Asbestos)
Serat mineral, umumnya dibuat dari asbestos. Saat ini asbestos adalah satu-
satunya mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang. Asbes (asbestos)
adalah salah satu bahan tambang yang bisa ditemui dengan mudah di dunia dalam bentuk
benang serat atau gumpalan serat. Bahan ini memiliki kekuatan dan ketahanan tinggi,
terhadap api, panas serta zat kimia, tetapi tidak bisa diuraikan oleh alam.
Asbestos merupakan mineral-mineral berbentuk serat halus yang terjadi
secara alamiah. Sebagaimana bahan tambang pada umumnya, asbes merupakan batuan
yang mampat namun sangat mudah untuk dipisah-pisahkan menjadi banyak sekali serat-
serat halus yang umumnya sangat ringan dan mudah terbang. Secara kimia asbes adalah
suatu zat terdiri dari magnesium-calsium-silikat berbangun serat dengan sifat fisik yang
sangat kuat.
6

Ada enam jenis mineral yang dikategorikan asbes yaitu : chrysolite, riebeckite,
grunerite, actinolite, anthrophyllite, dan thermolite. Berdasarkan komposisi dan bentuk
serat mineral silika ada dua kelompok asbes yaitu :
1. Serpentine yaitu chrysotile, merupakan hidroksida magnesium silikat yang
memiliki komposisi Mg
6
(OH)
6
(Si
4
O
11
)H
2
O.
2. Amphibole yaitu grunerite asbes amosite atau asbes coklat, riebeckite asbes
crocidolite atau asbes biru, actinolite, thermolite dan campuran yang sekurang-
kurangnya mengandung salah satu dari mineral-mineral tersebut.
Ada 4 jenis asbes yang beredar dipasaran saat ini
antara lain :
1. chrysotile, atau asbes putih
2. crocidolite atau asbes biru
3. amosite atau asbes coklat
4. anthrophyllite atau asbes abu-abu.
Asbes putih masih digunakan dalam industri dibandingkan dengan asbes coklat
dan abu-abu. Asbes biru sudah dilarang penggunaannya. Asbes merupakan bahan yang
cukup ringan, tahan api serta kedap air. Secara luas produk dari asbes antara lain, baju
anti panas, pelapis permukaan rem, permukaan plat kopling kendaraan bermotor dan
pelapis tekstil dan bahan bangunan.


7

2.2. SERAT SINTETIS (SERAT BUATAN)
Serat sintetis atau serat buatan manusia umumnya berasal dari bahan petrokimia.
Namun demikian, ada pula serat sintetis yang dibuat dari selulosa alami seperti rayon.
Sifat-sifat umum dari serat buatan, yaitu kuat dan tahan gesekan.
Rayon merupakan serat buatan yang paling awal dibuat, memiliki faktor yang
terpenting untuk keberhasilan pemasaran serat rayon mempunyai harga yang murah dan
dapat dipergunakan untuk membuat kain yang bagus dengan warna menyerupai wol,
sutera ataupun linen. Serat rayon ada bermacam-macam yaitu serat rayon viskos, serat
rayon kupramonium, serat rayon modulus, serat rayon kekuatan tinggi, dan serat
polinosic. Produksi serat sintesis berkembang dengan cepat sesuai dengan kebutuhan
tekstil yang melapaui produksi kapas dan wol. Serat-serat sintesis diklasifikasi sebagai
mineral dan polimer.
2.2.1. Serat Sintetis Mineral
Serat sintetis mineral dibagi empat jenis;
A. Serat Kaca (Fiberglass)
B. Serat Optik
C. Serat Logam
D. Serat Karbon
A. Serat Kaca (Fiberglass)
Kaca serat (fiberglass) atau sering diterjemahkan menjadi serat gelas adalah kaca
cair yang ditarik menjadi serat tipis dengan garis tengah sekitar 0,005 mm - 0,01 mm.
Fiberglass merupakan bahan paduan atau campuran beberapa bahan kimia (bahan
komposit) yang bereaksi dan mengeras dalam waktu tertentu. Serat ini dapat dipintal
menjadi benang atau ditenun menjadi kain, yang kemudian diresapi dengan resin
8

sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi untuk digunakan sebagai badan mobil
dan bangunan kapal. Fiberglass juga digunakan sebagai agen penguat untuk banyak
produk plastik; material komposit yang dihasilkan dikenal sebagai plastik diperkuat-gelas
(glass-reinforced plastic, GRP) atau epoxy diperkuat glass-fiber (GRE).
Membayangkan peralatan-peralatan yang terbuat dari kaca (glass), kebanyakan
orang akan beranggapan bahwa peralatan tersebut pasti akan mudah pecah. Akan tetapi
melalui proses penekanan, cairan atau bubuk kaca diubah menjadi bentuk serat akan
membentuk bahan tersebut dari bahan yang mudah pecah (brittle materials) menjadi
bahan yang mempunyai kekuatan tinggi (strong materials). Jika kaca (glass) diubah dari
bentuk cair atau bubuk menjadi bentuk serat (fiber), kekuatannya akan meningkat secara
tajam. Kekuatan tarik maksimal dari satu serat kaca dengan diameter 9 15 micrometer
mencapai 3.447.000 kN/m Oleh karena itu fiberglass merupakan salah satu
material/bahan yang mempunyai kekuatan sangat tinggi.




Bahan pembuat fiberglass pada umumnya terdiri dari 11 macam bahan, 6 macam
sebagai bahan utama dan 5 macam sebagai bahan finishing. Sebagai bahan utama yaitu
erosil, pigmen, resin, katalis, talk, mat, sedangkan sebagai bahan finishing antara lain :
aseton, PVA, mirror, cobalt, dan dempul. Berikut dijelaskan pengertian dari bahan-
bahan yang digunakan dalam pembuatan fiberglass.
a). Erosil
Bahan ini berbentuk bubuk sangat halus seperti bedak bayi berwarna putih.
Berfungsi sebagai perekat mat agar fiberglass menjadi kuat dan tidak mudah patah/pecah.
9

b). Resin
Bahan ini berujud cairan kental seperti lem, berkelir hitam atau bening. Berfungsi
untuk mencairkan/ melarutkan sekaligus juga mengeraskan semua bahan yang akan
dicampur. Biasanya bahan ini dijual dalam literan atau dikemas dalam kaleng.
c). Katalis
Zat ini berwarna bening dan berfungsi sebagai pengencer. Zat kimia ini biasanya
dijual bersamaan dengan resin, dan dalam bentuk pasta. Perbandingannya adalah resin 1
liter dan katalisnya 1/40 liter.
d). Pigmen
Pigmen adalah zat pewarna sebagai pencampur saat bahan fiberglass dicampur.
Pemilihan warna disesuaikan dengan selera pembuatnya. Pada umumnya pemilihan
warna untuk mempermudah proses akhir saat pengecatan.
e). Mat
Bahan ini berupa anyaman mirip kain dan terdiri dari beberapa model, dari model
anyaman halus sampai dengan anyaman yang kasar atau besar dan jarang-jarang.
Berfungsi sebagai pelapis campuran adonan dasar fiberglass, sehingga sewaktu unsur
kimia tersebut bersenyawa dan mengeras, mat berfungsi sebagai pengikatnya. Akibatnya
fiberglass menjadi kuat dan tidak getas.
f). Talk
Sesual dengan namanya bahan ini berupa bubuk berwarna putih seperti sagu.
Berfungsi sebagal campuran adonan fiberglass agar keras dan agak lentur.
g). Aseton
Pada umumnya cairan ini berwarna bening, fungsinya seperti katalis yaitu untuk
mencairkan resin. Zat ini digunakan apabila adonan terlalu kental yang akan
mengakibatkan pembentukan fiberglass menjadi sulit dan lama keringnya.
10

h). Cobalt
Cairan kimia ini berwarna kebiru-biruan. Berfungsi sebagai bahan aktif
pencampur katalis agar cepat kering, terutama apabila kualitas katalisnya kurang baik dan
terlalu encer. Bahan ini dapat dikategorikan sebagai bahan penyempurna, sebab tidak
semua bengkel menggunakannya. Hal ini tergantung pada kebutuhan pembuat dan
kualitas resin yang digunakannya. Perbandingannya adalah 1 tetes cobalt dicampur
dengan 3 liter katalis. Apabila perbandingan cobalt terlalu banyak, dapat menimbulkan
api.
i). PVA
Bahan ini berupa cairan kimia berkelir biru menyerupai spiritus. Berfungsi untuk
melapis antara master mal/cetakan dengan bahan fiberglass. Tujuannya adalah agar kedua
bahan tersebut tidak saling menempel, sehingga fiberglass hasil cetakan dapat dilepas
dengan mudah dari master mal atau cetakannya.
j). Mirror
Sesuai namanya, manfatnya hampir sama dengan PVA, yaitu menimbulkan efek
licin. Bahan ini berwujud pasta dan mempunyai warna bermacam macam.
k). Dempul Fiberglass
Setelah hasil cetakan terbentuk dan dilakukan pengamplasan, permukaan yang
tidak rata dan berpori-pori perlu dilakukan pendempulan. Tujuannya agar permukaan
fiberglass hasil cetakan menjadi lebih halus dan rata sehingga siap dilakukan pengerjaan
lebih lanjut.
Proses pembuatan fiberglass diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu (a)
mencampur 6 (enam) bahan utama menjadi bahan dasaran; (b) membuat campuran
penguat; dan (c) finishing atau penyempurnaan. Agar dapat dihasilkan kualitas fiberglass
11

yang kuat,campuran bahan untuk master cetakan harus lebih tebal daripada fiberglass
hasil, yaitu sekitar 2-3 mm atau dilakukan 3-4 kali pelapisan, prosesnya sebagai berikut:
1. Resin sejumlah 1,5 2 liter dicampur dengan talk dan diaduk rata. Apabila
campuran yang terjadi terlalu kental maka perlu ditambahkan katalis. Penggunaan
katalis harus sesuai dengan perbandingan 1 : 1/40. Oleh karena itu apabila
resinnya 2 liter, maka katalisnya 50 cc.
2. Selanjutnya ditambahkan erosil antara 400 500 gram pada campuran tersebut
dan ditambahkan pula pigmen atau zat pewarna.
3. Apabila semua campuran tersebut diaduk masih terlalu kental, maka perlu
ditambahkan katalis dan apabila campurannya terialu encer dapat ditambahkan
aseton. Pemberian banyak sedikitnya katalis akan mempengaruhi cepat atau
lambatnya proses pengeringan. Pada cuaca yang dingin akan dibutuhkan katalis
yang lebih banyak.
4. Setelah campuran bahan dasar dibuat, langkah berikutnya adalah memoles
permukaan cetakan dengan mirror (sebagai pelicin dan pengkilap) dan dilakukan
memutar sampai lapisannya benar-benar merata.
5. Agar didapatkan hasil yang lebih baik, perlu ditunggu beberapa menit sampai
pelicin tersebut menjadi kering. Untuk mempercepat proses pengeringan, dapat
dijemur diterik matahari.
6. Apabila mirror sudah terserap, permukaan cetakan dapat dilap dengan
menggunakan kain bersih hingga mengkilap.
7. Selanjutnya permukaan cetakan dioleskan PVA untuk menjaga agar permukaan
cetakan tidak lengket dengan fiberglass hasil.
8. Langkah berikutnya adalah mengoleskan permukaan cetakan dengan
adonan/campuran dasar sampai merata, dan ditunggu sampai setengah kering.
12

9. Selanjutnya di atas campuran yang telah dioleskan dapat diberi selembar mat
sesuai dengan kebutuhan, dan dilapisi lagi dengan adonan dasar. Untuk
menghindari adanya gelembung udara, pengolesan adonan dasar dilakukan sambil
ditekan, sebab gelembung akan mengakibatkan fiberglass mudah keropos. Jumlah
pelapisan adonan dasar disesuaikan dengan keperluan, makin tebal lapisan maka
akan makin kuat daya tahannya. Selain itu sebagai penguat dapat ditambahkan
tulangan besi atau tripleks, terutama untuk bagian yang lebar. Tujuannya adalah
agar hasilnya tidak mengalami kebengkokan.
10. Apabila diperlukan, dilakukan pengerolan menyesuaikan alur-alur atau lekukan-
lekukan yang ada di cetakan.
11. Untuk mempercepat proses pengeringan, dapat dijemur diterik matahari.
12. Pelepasan fiberglass hasil dilakukan apabila lapisan adonan tersebut sudah kering
dan mengeras, sebab apabila dilepas sebelum kering dapat terjadi penyusutan.
13. Pada langkah finishing, dilakukan pengamplasan permukaan fiberglass,
pendempulan, dan pengecatan sesuai dengan warna yang diinginkan.
B. Serat Optik
Serat optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau
plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk
mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang
digunakan biasanya adalah laser atau LED. Kabel ini berdiameter lebih kurang 120
mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena indeks bias dari
kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang
sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus
digunakan sebagai saluran komunikasi.
13

Perkembangan teknologi serat optik saat ini, telah dapat menghasilkan pelemahan
(attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km. Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar
sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat
dibandingan dengan penggunaan kabel konvensional.
Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan
terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi. Pada
prinsipnya serat optik memantulkan dan membiaskan
sejumlah cahaya yang merambat didalamnya. Efisiensi dari serat optik ditentukan
oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas/kaca. Semakin murni bahan gelas, semakin
sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.
Dalam penggunaan serat optik ini, terdapat beberapa keuntungan antara lain:
1. Lebar jalur besar dan kemampuan dalam membawa banyak data, dapat memuat
kapasitas informasi yang sangat besar dengan kecepatan transmisi mencapai
gigabit-per detik dan menghantarkan informasi jarak jauh tanpa pengulangan.
2. Biaya pemasangan dan pengoperasian yang rendah serta tingkat keamanan yang
lebih tinggi
3. Ukuran kecil dan ringan, sehingga hemat pemakaian ruang
4. Imun, kekebalan terhadap gangguan elektromagnetik dan gangguan gelombang
radio
5. Non-Penghantar, tidak ada tenaga listrik dan percikan api
6. Tidak berkarat
Secara garis besar kabel serat optik terdiri dari 2 bagian utama, yaitu cladding dan
core. Cladding adalah selubung dari inti (core). Cladding mempunyai indek bias lebih
14

rendah dari pada core akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core
kembali kedalam core lagi.
Dalam aplikasinya serat optik biasanya diselubungi oleh lapisan resin yang
disebut dengan jacket, biasanya berbahan plastik. Lapisan ini dapat menambah kekuatan
untuk kabel serat optik, walaupun tidak memberikan peningkatan terhadap sifat
gelombang pandu optik pada kabel tersebut. Namun lapisan resin ini dapat menyerap
cahaya dan mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran cahaya yang keluar dari
selubung inti. Serta hal ini dapat juga mengurangi cakap silang (cross talk) yang mungkin
terjadi. Berikut gambar kabel serat optik


C. Serat logam
Serat logam adalah serat buatan yang dibuat dari logam. Serat logam sudah lama
digunakan. Serat logam menghasilkan benang logam yang digunakan sebagai bahan
penghias tekstil, baik tekstil untuk keperluan rumah tangga maupun pakaian. Mengingat
banyaknya jenis bahan yang beredar di pasar, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas
ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membedakan bahan asli dan bahan tiruan
yaitu dengan mikroskop, tes pembakaran dan tes kimia.


15

D. Serat Karbon
Serat karbon adalah serat buatan yang bahan bakunya berasal dari karbon,
biasanya dicampur dengan plastik dalam pengolahannya untuk dijadikan suatu produk
tertentu disebut Plastik diperkuat-grafit atau plastik diperkuat serat karbon (bahasa
Inggris: carbon Fiber reinforced plastic, CFRP atau CRP) adalah sebuah material
komposit atau plastik diperkuat fiber yang kuat, ringan, tetapi mahal. Seperti plastik
diperkuat-gelas, yang seringkali disebut fiberglass, material komposit umumnya ditunjuk
oleh nama serat penguatnya (carbon fiber. Plastiknya seringkali adalah epoxy, namun
jenis lainnya, seperti polyester atau vinylester juga digunakan.
Bahan ini memiliki banyak aplikasi dalam konstruksi pesawat, otomotif, kapal
layar, dan terutama banyak dipakai untuk kontruksi rangka sepeda modern, di mana
kekuatan dan berat yang ringan sangat penting. Plastik diperkuat telah menjadi umum
dalam barang konsumen kecil seperti laptop, tripod, dan gagang pancing.



2.2.2. Serat Polimer (Polyester Fiber)
Polyester fiber, adalah serat sintetik yang terbuat dari hasil polimerisasi etilen
glikol dengan asam tereptalat melalui proses polimerisasi kondensasi. Polyester fiber
merupakan suatu bahan yang dihasilkan dari senyawa kimia sintetis dengan bermacam
kegunaannya dalam frare industri di Indonesia. Bahan dan bentuk Polyester fiber sering
16

dinyatakan pada jenis serta alami, contohnya seperti, katun atau wol yang dapat di
rancang untuk benang.
Polyester fiber merupakan suatu kategori polimer yang mengandung fungsional
ester dalam rantai utamanya. Walaupun terdapat banyak sekali polyester yang merupakan
suatu bahan yang pada polietilena tereftalat (PET). Tetapi Polyester merupakan suatu
bahan kimia yang alami seperti yang kutin dari kulit ari tumbuhan, maupun zat kimia
sintetis seperti polikarbonat dan polibutirat. Serat Polyester berbentuk Ion molekul yang
sangat stabil dan kuat.
Karakteristik serat polyester :
Kehalusan : 1.3 denier,
Panjang : 38 mm,
Kekuatan tarik : 6.6 gram/denier,
Mulur : 22%,
Mengkerut : 6.3%,
Krimp : 5.2 per Cm,
Kandungan oil : 0.15%,
Kandungan air : 0.4%
Fungsi dari Polyester fiber adalah untuk digunakan dalam pembuatan bermacam
produk seperti, pakaian, peralatan rumah tangga, kain, perekam kaset komputer, dan lain-
lain. Karena terbuat dari bahan alami Polyester fiber memiliki keunggulan salah satunya
tidak menyerap kelembaban dan minyak. Dengan daya serap yang baik membuat pakaian
semakin nyaman untuk digunakan.


17

BAB III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari materi ini diantaranya;
1. Serat (fiber) adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang
membentuk jaringan memanjang yang utuh. Serat adalah suatu material yang
perbandingan antara panjang dan lebarnya sangat besar dan molekul-molekul yang
menyusunnya terorientasi terutama ke arah panjang.
2. Ciri-ciri serat antara lain;
a. Modulus dan kekuatannya yang tinggi
b. Daya rentang yang baik
c. Stabilitas panas yang baik
d. Spinabilitas ( kemampuan untuk diubah menjadi filament-filamen )
3. Sifat-sifat serat ditentukan oleh struktur makro molekul dan teknik produksinya
diantaranya; Kekuatan, Kehalusan dan panjang serat, Elastisitas atau daya serap,
Gesekan serat, Keseragaman serat, dan Kelenturan.
4. Serat dikelompokkan dalam dua jenis, serat alami dan serat sintetis (serat buatan)
5. Serat alami dibagi empat, serat tumbuhan/serat pangan, serat kayu, serat hewan
(protein) dan serat mineral (asbestos).
6. Serat sintetis dibagi dua, serat sintetis mineral dan serat polimer (polyester fiber).
7. Serat sintetis mineral terdiri dari serat kaca (fiberglass), serat optik, serat logam
dan serat karbon.


18

DAFTAR PUSTAKA
Serat, http://id.wikipedia.org. Diakses 30 Oktober 2013.
Kaca Serat, http://id.wikipedia.org. Diakses 25 November 2013.
Serat Alami dan Serat Buatan Sintetis, http://apobaeado.blogspot.com. Diakses 30
Oktober 2013.
Serat Alami dan Serat Buatan, http://korhejdalle.wordpress.com. Diakses 30 Oktober
2013.
Pengenalan Sifat-Sifat Kayu, http://www.dephut.go.id. Diakses 25 November 2013.
Asbes, http://id.wikipedia.org. Diakses 22 November 2013.
Serat Karbon, http://id.wikipedia.org. Diakses 22 November 2013.
Polyester Fiber, Apakah Itu dan Apakah Fungsinya, http://www.hiloninside.com. Diakses
27 November 2013.