Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN TETAP

KIMIA ANALITIK INSTRUMENT


KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Disusun Oleh :
Kelompok 3
Angga Harsyah 0613 3040 1031
Anggre Novilestari 0613 3040 1032
Gita Putri Kusumawardani 0613 3040 1037
Indah Okta 0613 3040 10 39
Renita Putri Utami 0613 3040 1046
Romadhona Safitri 0613 3040 1047

Kelas : 3 KE

Dosen Pembimbing : Anerasari, M.Si, M,Si

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2014/2015
PALEMBANG



KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)
THIN LAYER CHROMATOGRAPHY (TLC)


1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini kami harapkan mampu:
- Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatografi lapis tipis.

2. ALAT YANG DIGUNAKAN
- Plat TLC
- Chamber Chromatography

3. BAHAN YANG DIGUNAKAN
- Zat pewarna
- Etanol
- Metanol
- Aquadest

4. DASAR TEORI
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa
menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan.
Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik
penyerap maupun cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa
senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar
dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen
untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom,
identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil.
Pelarut yang dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang
dianalisis. Bahan lapisan tipis seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan
pereaksi pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat. Data yang diperoleh dari KLT
adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa.


Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa
standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik
asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena itu
bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0. Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan
sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam
atau plastik yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat
berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran
pelarut yang sesuai.Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahan warna yang merupakan
gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan isolasi pigment tanaman yang
berwarna hijau dan kuning.
Pelaksanaan kromatografi biasanya digunakan dalam pemisahan pewarna yang
merupakan sebuah campuran dari beberapa zat pewarna.
Contoh pelaksanaan kromatografi lapis tipis: Sebuah garis menggunakan pinsil
digambar dekat bagian bawah lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna
ditempatkan pada garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk
menunjukkan posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari
tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk. Ketika bercak dari campuran itu
mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia bertutup berisi pelarut
dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi bercak
berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan bawah kondisi dalam
gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam gelas
kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi
jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut. Karena pelarut
bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran
pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan
bercak warna.
Gambar menunjukkan lempengan setalah pelarut bergerak setengah dari lempengan.
Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Ini akan memberikan
pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu
dari pelarut dan fase diam.


Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu
terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu
proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa
semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.





Distance travelled by
the solvent Distance travelled
by the various
oyes







Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat membentuk ikatan
hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der
Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan. Terdapat perbedaan bahwa
ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan
yang sama pula. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika.
Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan
mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan
silika.







5. PROSEDUR KERJA
a. Menyediakan pelat yang telah selesai dilapisi.
b. Meneteskan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada permukaan pelat.
c. Memasukkan pelat ke dalam chamber yang telah diisi dengan pelarut. Tetesan
yang berada pada pelat tidak boleh terendam pelarut. Bila perlu dapat digunakan
campuran metanol dan etanol (50:50).
d. Membiarkan pelarut naik perlahan-lahan sepanjang pelat hingga hampir dicapai
ujung yang lain dari pelat. Menandai batas perjalanan pelarut.
e. Membiarkan pelat kering dan membandingkan harga R
f
dari noda-noda yang
terbentuk.

6. DATA PENGAMATAN
No
.
Zat Pewarna
(sampel)
Zat Warna
Jarak
Pelarut
(cm)
Jarak
Komponen
(cm)
Nilai R
f

Waktu
(menit)
1. Fanta Merah 11 11 1
50
menit
2. Kuku Bima
Ungu Muda
Ungu Tua
11
14
4,3
4
0,39
0,36
3. Pepsi Blue Biru 11 11 1
4. Fanta + Blaw
Biru
Merah
11
11
0
10,8
0
0,98
5. Sirup Orange Kuning 11 4 0,36
6.
Pepsi Blue + Sirup
Orange
Kuning 11 2 0,18
7. Blaw Biru 11 0 0








7. PERHITUNGAN
1. Pada Komponen 1 (fanta)
Jarak warna merah : 11 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 1
2. Pada Komponen 2 (kuku bima)
Jarak warna ungu muda : 4,3 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 0.39
Jarak warna ungu tua : 4 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 0.36

3. Pada Komponen 3 (pepsi blue)
Jarak warna biru : 11 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 1
4. Pada Komponen 4 (fanta + blaw)
Jarak warna biru : 0 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 0
Jarak warna merah : 10,8 cm
Jarak pelarut : 11 cm


Rf =

= 0,98
5. Pada Komponen 5 (sirup orange)
Jarak warna merah : 4 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 0.36
6. Pada Komponen 6 (pepsi blue + sirup orange)
Jarak warna merah : 2 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Rf =

= 0.18
7. Pada Komponen 7 (kuku bima)
Jarak warna merah : 0 cm
Jarak pelarut : 11 cm
Nilai Rf untuk warna merah 1
Rf =

= 0










8. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan kromatografi lapis tipis yang telah dilakukan maka dapat
dianalisa bahwa pelarut yang digunakan pada percobaan kali ini adalah etanol. Pelarut
tersebut dimasukkan ke dalam chamber dan ditutup rapat supaya pelarut yang
digunakan tidak menguap.
Pada percobaan kali ini cuplikan yang digunakan ada 7 sampel, yaitu fanta, kuku
bima, pepsi blue, fanta + blaw, sirup orange, pepsi blue + sirup orange, dan blaw. Pelat
yang akan ditotolkan dengan cuplikan, sebelumnya diberi tanda agar jarak antar
cuplikannya merata. Setelah cuplikan diteteskan pada Pelat yang diberi tanda tersebut,
pelat dimasukkan ke dalam chamber, ketika pelarut mulai membasahi plat / lempengan,
pelarut pertama-tama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah
ditempatkan pada garis dasar.
Kemudian stopwatch di hidupakn untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan
cuplikan mencapai ujung plat. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada
lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut. Terlihat mulai ada
bercak terpisah-pisah, hal ini dikarenakan setelah sampel dilarutkan eluen maka sampel
akan ikut berinteraksi juga dengan silika yang ada dilempengan, senyawa yang
terperangkap dibagian paling bawah menunjukan bahwa senyawa tersebut paling tinggi
kepolarannya, senyawa ini dapat membentuk ikatan hidrogen yang akan melekat pada
silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Dan dapat dikatakan bahwa senyawa ini
terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya.
Setelah dilakukan percobaan dapat diketahui sampel yang bersifat polar yaitu
fanta, fanta + blaw, kuku bima, sirup, dan pepsi +sirup merupakan semi polar.
Sedangkan blaw merupakan non-polar. Untuk pepsi blue bersifat polar, tetapi karena
terlalu encer jadi larut bersama pelarutnya. Sampel bersifat polar karena komponen
terpindah dari awal kemudian begerak keatas dan berpindah. Sedangkan bersifat non-
polar karena komponen tertahan di pelat silika.
Dari percobaan dapat dilihat bahwa jarak dari setiap sampel sangat bervariatif
dari yang paling pendek hingga panjang, hal ini disebabkan karna semakin besar jarak
kompenen sampel itu berarti sampel tersebut polar terhadap plat yang dibuktikan
dengan nilai R
f
yang kian besar. Sebaliknya, bila suatu sampel mempunyai nilai R
f

yang kecil atau jarak komponen-nya kecil/pendek maka sampel tersebut dikatakan
polar terhadap plat.




9. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kromatografi lapis tipis adalah alat yang digunakan untuk menganalisa dan
memisahkan zat dalam jumlah yang sedikit.
2. Pada percobaan ini yang merupakan fase geraknya adalah campuran etanol dan
metanol, sedangkan fase diamnya adalah pelat.

10. DAFTAR PUSTAKA
Rusdianansari. 2014. Modul Praktikum Kimia Analitik Instrumen. Palembang.
Politeknik Negeri Sriwijaya.





















GAMBAR ALAT


Chamber Kromatografi + Plat Pipa Kapiler



Lampu UV Gelas Kimia