Anda di halaman 1dari 4

A.

Seks Bebas
Semua permasalahan yang timbul akibat pengaruh sex bebas di kalangan remaja perlu
mendapat perhatian khusus. Generasi muda di Indonesia harus diselamatkan agar tidak
terjerumus dalam hal-hal yang merusak moral mereka. Semuanya akan dapat berjalan dengan
baik apabila adanya kerjasama antara pihak orang tua, anak dan lembaga yang terkait. Ada
banyak faktor yang memicu terjadinya sex bebas dikalangan remaja, antara lain faktor
kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan timur dan perkembangan teknologi
yang semakin canggih. Dari faktor-faktor tersebut, semuanya mempunyai dampak negatif dan
positif bagi remaja. Jika kita bisa mengendalikannya maka akan memberikan dampak positif,
tetapi sebaliknya jika tidak bisa mengendalikan maka akan berdampak negatif.
Menurut Desmita (2005) pengertian seks bebas adalah segala cara mengekspresikan
dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti
berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual, tetapi perilaku tersebut dinilai
tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman tentang seksual.
Sedangkan menurut Sarwono (2008) menyatakan, bahwa seks bebas adalah segala tingkah
laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, mulai
dari tingkah laku yang dilakukannya seperti sentuhan, berciuman (kissing), berciuman belum
sampai menempelkan alat kelamin yang biasanya dilakukan dengan memegang payudara atau
melalui oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama, (necking dan bercumbuan
sampai menempelkan alat kelamin yaitu dengan saling menggesek-gesekan alat kelamin
dengan pasangan namun belum bersenggama, (petting dan yang sudah bersenggama
(intercourse), yang dilakukan diluar hubungan pernikahan.
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar
mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya.Dengan informasi
yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab
mengenai proses reproduksi. Pendidikan seks merupakan bagian dari pendidikan kesehatan
reproduksi sehingga lingkup pendidikan kesehatan reproduksi lebih luas. Pendidikan
kesehatan reproduksi mencakup seluruh proses yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan
aspek-aspek yang mempengaruhinya, mulai dari aspek tumbuh kembang hingga hak-hak
reproduksi. Sedangkan pendidikan seks lebih difokuskan kepada hal-hal yang berkaitan
dengan kehidupan seks.

B. Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah usahausaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usahausaha
itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen
dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi. Sampai sekarang cara
kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat berbagai
berikut :
dapat dipercaya
tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan
daya kerjanya dapat dapat diatur menurut kebutuhan (Sarwono, 2008).

Kontrasepsi dapat dilakukan dengan alat bantu maupun tanpa alat bantu. Metode
kontrasepsi tanpa alat bantu disebut juga KB sistem kalender atau abstinesia. Cara KB
dengan sistem kalender adalah mengatur kehamilan dengan tidak melakukan hubungan
cekcual pada saat wanita dalam masa subur. Masa subur berkaitan dengan terjadinya siklus
menstruasi atau datang bulan. Masa subur wanita adalah kurang lebih satu minggu sebelum
menstruasi dan satu minggu sesudah menstruasi. Jenis kontrasepsi yang kedua adalah
kontrasepsi dengan alat bantu. Dengan alat bantu kontrasepsi memungkinkan sperma dan sel
telur tidak dapat bertemu walaupun terjadi ejakulasi di dalam pagina saat melakukan
hubungan cekcual. Pemakaian alat kontrasepsi masih menuai pro dan kontra di kalangan
masyarakat, terutama golongan agamawan. Namun saat ini masyarakat telah banyak
memanfaatkan alat kontrasepsi untuk membantu mengatur kelahiran anak.

Macam-macam Alat Kontrasepsi
Berikut ini contoh alat kontrasepsi yang banyak digunakan oleh masyarakat saat ini beserta
kelebihan dan kekurangan yang ditimbulkan dalam pemakaiannya.
1. IUD (Intra Uterine Device)
IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan ke dalam rongga
rahim, dan harus diganti apabila sudah dipakai dalam masa tertentu. Kelebihan penggunaan
IUD adalah sangat efektif untuk mencegah kehamilan. Sedangkan kekurangan penggunaan
IUD adalah dapat menyebabkan pendarahan di luar siklus menstruasi yang dialami wanita.
Cara kerja IUD, banyak yang berpendapat bahwa cara kerja dari IUD ini adalah dengan
menyulitkan bertemunya sperma dan sel telur. Namun beberapa dokter muslim menjelaskan
bahwa sifat kerja IUD adalah mencegah bersemainya sel telur yang telah dibuahi di dalam
Rahim (telah berbentuk zygot), sehingga dapat diartikan membunuh bayi diusia dini.
Sehingga beberapa ulama berpendapat bahwa penggunaan IUD haram.

2. Kondom.
Kondom digunakan pada fenis pria untuk mencegah sperma bertemu sel telur ketika terjadi
ejakulasi. Kondom berupa sarung karet yang terbuat dari bahan lateks. Kelebihan
penggunaan kondom adalah mudah digunakan dan tidak membutuhkan bantuan medis untuk
memakai. Kekurangan penggunaan kondom adalah terjadinya kebocoran cairan mani dan
alergi pada pemakaian bahan-bahan kondom tertentu.

3. KB Suntik.
KB Suntik dilakukan setiap 3 bulan sekali pada seorang wanita untuk mencegah terjadinya
ovulasi (pelepasan sel telur). Kelebihan menggunakan KB Suntik adalah efektif mencegah
kehamilan tanpa perlu banyak tahap yang sulit. KB Suntik juga termasuk metode kontrasepsi
yang terhitung murah untuk masyarakat Indonesia. Meski demikian, suntikan KB pada uji
coba hewan bisa meningkatkan terjadi resiko kanker.
4. Pil KB.
Pil KB disebut juga kontrasepsi oral. Pil KB berisi hormon yang menghambat pengeluaran
sel telur. Keunggulan menggunakan Pil KB adalah bisa mengatur kehamilan sekaligus efektif
mencegah kanker ovarium dan endometrium. Sedangkan kelemahan penggunaan pil KB
adalah harus diminum oleh wanita secara rutin. Bila tidak diminum secara rutin dan disiplin
maka kemungkinan hamil tetap terjadi.
5. Implant
Metode kontrasepsi implant (susuk) ditempatkan di bawah kulit lengan wanita dan
mengeluarkan hormon yang mencegah pelepasan ovum. Metode kontrasepsi ini terbilang
efektif dan tidak memerlukan kedisiplinan tinggi seperti penggunaan Pil KB. Kekurangan
penggunaan implant adalah bisa menyebabkan fase menstruasi tidak teratur. Selain itu,
sejumlah kasus melaporkan implant yang tertanam tidak berdiam di lengan namun bergerak
ke bagian tubuh terdekat lainnya.

6. Difragma
Diafragma atau cervical cap berguna untuk menutupi uterus sehingga mencegah sperma
membuahi sel telur. Metode ini tidak biasa di Indonesia karena selain mahal, pemasangannya
harus dengan tenaga medis dengan biaya yang mahal. Ditambah lagi angka kegagalan tinggi,
peningkatan risiko infeksi, membutuhkan evaluasi dari tenaga kesehatan, ketidaknyamanan

7. Jeli, busa atau spons
Jeli termasuk alat kontrasepsi yang dipakai oleh wanita yang mengandung spermisida (zat
yang membunuh sel sperma) sehingga sperma gagal memasuki uterus. Jeli saat ini jarang
dipakai dalam metode kontrasepsi karena tidak efektif mencegah kehamilan dan
menimbulkan alergi pada sebagian besar wanita yang memakai.

Daftar pustaka

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosda Karya.

Sarwono. (2003). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Gravido Persada