Anda di halaman 1dari 9

Strategi Pengembangan Pasar Tradisional

Posted on June 21, 2012 by arasy


Pendahuluan
Penelitian ini merupakan penelitian survey, menurut Kerlinger (Sugiyono,1999)
penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun
kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi
tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-
hubungan antar variable.
Studi ini termasuk jenis penelitian penjelasan (explanatory research), penelitian
konfirmatori (confirmatory research) atau disebut juga penelitian hipotesis, yaitu
menjelaskan pengaruh antar variabel atau hubungan kausal antar variabel-variabel
melalui pengujian hipotesis (Sugiyono, 2005). Studi ini juga disebut jenis penelitian
persepsional (perception research) yaitu jenis penelitian yang datanya dapat
diperoleh melalui persepsi yang diberikan oleh responden, melalui serangkaian
pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan item item yang tersedia di dalam
kuisioner yang telah dirancang oleh peneliti untuk ditanyakan kepada responden
yang bersangkutan
Unit analisis dalam penelitian ini adalah pedagang pasar tradisional,pembeli dan
masyarakat. yang selanjutnya disebut responden, sehingga studi ini juga disebut
jenis penelitian persepsional (perception research) yaitu jenis penelitian yang
datanya dapat diperoleh melalui persepsi yang diberikan oleh responden, melalui
serangkaian pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan item item yang tersedia di
dalam kuisioner yang telah dirancang dan dijadikan sebagai acuan untuk wawancara
oleh tim survey kepada responden .
Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kebijakan , pendekatan
lingkungan, dan pendekatan ekonomi.Pendekatan kebijakan digunakan untuk
mencermati kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pembangunan kembali pasar
tradisional. Sedangkan pendekatan ekonomi digunakan untuk menilai kelayakan
pembangunan kembali pasar Tradisional ditinjau dari aspek bentuk atau sifat
investasi, pasar serta manajemen. Adapun pendekatan lingkungan dimanfaatkan
untuk menganalisis sejauh mana pembangunan kembali pasar Tradisional akan
berdampak pada lingkungan sekitarnya dan bagaimana cara mengantisipasi atau
meminimalkan kondisi negatif yang akan muncul.
Kerangka Pikir
Adapun alur pikir kegiatan studi kelayakan pembangunan kembali pasar Tradisional
ada 3 tahapan yang dilakukan dalam studi ini sebagai mana gambar berikut.


Secara garis besar, pelaksanaan studi ini terdiri dari 3 tahapan yaitu :
1.Tahap Pendahuluan. Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
Menyiapkan kelengkapan administrasi sebelum dimulainya pekerjaan antara lain
pengurusan surat tugas dan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait;
Mengumpulkan literatur yang berupa buku-buku, buku petunjuk atau tata cara,
peraturan, kebijakan yang terkait, hasil-hasil studi sejenis yang pernah dilakukan
serta dokumen-dokumen yang berisi kebijakan pembangunan didaerah studi;
Menyusun metodologi dan rencana kerja pelaksanaan studi.
2.Tahap Analisa Kelayakan yang meliputi :
Pekerjaan pengumpulan data sekunder yaitu mengumpulkan data atau hal-hal
yang terkait yang telah ada yang dipergunakan sebagai pendukung pelaksanaan
pekerjaan ini.
Pekerjaan pengumpulan data primer.
Pekerjaan analisa kelayakan pembangunan kembali pasar tradisional.
3.Tahap Rekomendasi yang meliputi :
Rekomendasi Kebijakan
Rekomendasi Teknis
Rekomendasi Ekonomi
Rekomendasi sistem operasional dan pengelolaan pasar tradisional
Rekomendasi konsep model investasi pembangunan pasar tradisional.
Variabel dan Indikator
Variabel dan indikator yang digunakan dalam studi ini dikelompokkan berdasarkan
jenis analisis kelayakan yang digunakan, yaitu :
1). Analisis kelayakan pasar, dengan variabel permintaan dan penawaran saat
ini dan yang akan datang, harga jual daging, target pasar, kendala pemasaran,
distribusi pemasaran, daerah pemasaran dan prospek pasar tradisional.
2). Analisis kelayakan teknis, yang meliputi variabel lokasi usaha, kondisi
tapak,fasilitas dan utilitas umum, perkiraan biaya,gambar pra dan rencana
spesifikasi.
3). Analisis kelayakan finansial, dengan variabel jumlah/kebutuhan investasi untuk
pembangunan,sumber pendanaan,dan proyeksi pembiayaan.
4). Analisis kelayakan lingkungan meliputi aspek-aspek kedekatan dengan
pemukiman penduduk, jalur transportasi, dan tempat pembuangan limbah.
Kebutuhan Dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh langsung dari nara sumber yang antara terdiri dari atas pedagang,
pembeli dan
masyarakat.Sedangkan data sekunder diperoleh melalui bahan publikasi yang
diterbitkan oleh instansi terkait dan berhubungan langsung dengan studi ini.
Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
Studi ini dibagi dalam dua tahap pengumpulan data. Tahap pertama di fokuskan
kepada aktivitas desk research yang meliputi telaah pustaka dan pencarian data
sekunder. Tahap kedua akan memfokuskan pada pencirian data primer melalui
wawancara mendalam (indepth interview) dengan nara sumber terpilih baik dari
kalangan pedagang,pembeli,maupun masyarakat dengan metode random sampling.
Adapun teknik pengolahan data didasarkan kepada aspek-aspek analisis kelayakan
yang antara lain meliputi :
1). Aspek Kelayakan Pasar, dengan teknik analisis trend terhadap variabel terpilih.
Analisis ini memberikan arahan tentang volume permintaan dan penawaran daging
sekarang dan masa yang akan datang.
2). Aspek Kelayakan Teknis, melalui teknik analisis deskriptif terhadap variabel-
variabel yang telah ditentukan.
3). Aspek Kelayakan Finansial, melalui Net Present Value (NPV), Internal Rate of
Returns(IRR) dan Net Benefit Cost Ratio.
4). Aspek Kelayakan Lingkungan diterapkan secara deskriptif untuk mengetahui dan
mengukur kemanfaatan dan kerugian yang diprediksi akan muncul dengan adanya
fasilitas pemotongan hewan di sekitar bangunan RPH.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam studi ini adalah :
1). Teknik Analisis Deskriptif yang meliputi,
Kecenderungan (trend) produksi;
Potensi pemasaran;
Pendapatan per kapita masyarakat dan perkembangan penduduk;
Dampak lingkungan.
Aksesibilitas
2). Teknik Analisis Kelayakan Teknis, yang mencakup :
Analisis lokasi;
Analisis kondisi tapak
Analisis fasilitas dan Utilitas umum.
Perkiraan Biaya Pembangunan Fisik
Gambar Pra Rencana
Rencana spesifikasi pasar Tradisional
3). Teknik Analisis Kelayakan finansial
(1). Teknik Analisis NPV
Teknik analisis NPV sangat bermanfaat untuk menilai kelayakan suatu proyek
dengan menghitung nilai penerimaan sekarang dan yang akan datang. Penilaian
proyek dilakukan dengan mengukur prospek penerimaan sekarang atas sejumlah
dana dengan mempertimbangkan penerimaan di masa yang akan datang. Apabila
dari hasil perhitungan,NPV bernilai positif maka rencana proyek layak untuk
dilanjutkan,demikian pula sebaliknya.
(2). Teknik Analisis Internal Rate of Returns (IRR)
Tingkat hasil pengembalian internal didefinisikan sebagai suku bunga yang
menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan atau penerimaan kas,
dengan pengeluaran investasi awal. Analisis IRR adalah proses penghitungan suatu
tingkat discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan 0 (nol).
Jika IRR lebih besar daripada CoC (Cost of Capital) maka proyek tersebut layak
untuk diteruskan, sedangkan apabila IRR lebih kecil atau sama dengan CoC maka
proyek tersebut sebaiknya dihentikan.
(3). Teknik Analisis Net Benefit Cost Ratio
Teknik analisis Net B-C Ratio digunakan untuk membandingkan antara keuntungan
bersih yang telah di discount positif dengan net benefit yang telah
di discount negatif.Jika nilai Net B/C lebih besar dari 1 (satu) maka proyek tersebut
layak untuk dikerjakan sebaliknya jika Net B/C kurang dari 1 (satu) berarti proyek
tersebut tidak layak untuk diteruskan.
Pengembangan Central Business District (CBD)
Dalam pengertian Rencana Tata Ruang dan Wilayah, CBD adalah wilayah yang
melayani perdagangan dengan skala pelayanan regional dan kota/Kabupaten.

Gambar . Penguatan Kekhasan Central Business district
(Sumber: Roturua Central Business District Retail Strategy)
Pengembangan CBD adalah mengembangkan upaya untuk mendorong agar masing
masing CBD mampu menampilkan keunikan dan karakteristik yang dimiliki
sebagai salah satu daya tarik bagi pedagang maupun pembeli. Beberapa upaya yang
bisa dilakukan adalah:
Memantapkan keunikan dan kekhasan CBD (themes& cluster);
Oleh sebab itu, pengelompokkan kawasan atau CBD berdasarkan aktifitas
perdagangan yang unik harus terus didorong. Walaupun begitu, pengelompokkan ini
harus tetap fleksibel dengan berorientasi pada kepentingan pelaku usaha.
Pendekatan waktu sebagai identifikasi kegiatan perdagangan seperti: Pasar Kliwon
atau Pasar Minggu bisa menjadi salah satu keunikan yang bermanfaat terutama
dalam menarik minat pelancong dari luar kota. Sesungguhanya Kota ataupun
Kabupaten telah memiliki banyak pasar dengan tema yang kuat tetapi belum
branded, terutama untuk jenis pasar tradisional.
Pemberian atribut yang mencerminkan kekhasan CBD;
Secara kasat mata (tangible) penempatan karya seni atau ikon yang mencerminkan
CBD, memberikan cat yang unik dan menarik, banner atau dekorasi lain yang sesuai
akan semakin menarik minat pengunjung terutama wisatawan ke kawasan
perdagangan.
Jaminan keamanan dan kebersihan;
Jaminan keamanan dan kebersihan hingga kerapian di kawasan perdagangan adalah
tuntutan konsumen di masa depan. Kelemahan pasar tradisional yang selama ini
sulit dicarikan solusi adalah ketidakteraturan dan joroknya lingkungan di pasar
tradisional. Pemerintah harus berani menjamin bahwa ketidaknyaman yang
disebabkan ketidakbersihan lingkungan dan ketidakamanan. Jaminan keamanan
dan kebersihan lingkungan di CBD adalah satu hal yang sangat vital terutama bila
mengharapkan masuknya pelancong dari luar negeri.
Menjamin konsistensi dan keseragaman waktu pelayanan;
Kepastian waktu pelayanan menjadi faktor yang penting terutama bila
pengembangan perdagangan memiliki linkage dengan upaya mendorong tumbuhnya
industri pariwisata domestik dan mancanegara.
Memfasilitas perdagangan di malam hari (night time economy);
Jika di dalam kawasan perdagangan tersebut juga menjadi basis ekonomi di malam
hari (night time economy) maka kegiatan perdagangan di malam hari tersebut pun
mesti difasilitasi dan didorong agar mampu tumbuh dengan baik. Akfititas
perdagangan di Pasar Keputran adalah salah satu contoh kegiatan perdagangan yang
intensif terjadi di malam hari dan akan berakhir di siang hari. Aktifitas pedagang
kaki lima terutama pada kelompok usaha makanan dan minuman banyak bergerak
di malam hari dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata kuliner. Hanya
saja, problem kesemrawutan adalah dampak negatif dari aktifitas pedagang kaki
lima. Promosi dan infrastruktur transportasi harus mendukung kegiatan
perdagangan di malam hari tersebut.
Berpedoman pada pengembangan yang berkelanjutan;
Agar aura kawasan perdagangan tetap memiliki daya tarik terutama bagi wisatawan,
maka ide pengembangan kawasan perdagangan harus terus digali dengan
melibatkan masyarakat setempat dan pelaku retail yang ada. Upaya untuk terus
mempertahankan daya tarik kawasan perdagangan harus seiring atau tidak
berbenturan dengan upaya penguatan city branding.
Keterkaitan antar Kawasan Perdagangan.
Untuk menjadikan pasar tradisional sebagai pusat perdagangan maka pasar
tradisional harus memiliki banyak fasilitas perdagangan dan perkulakan modern
yang melayani penduduk dalam kota maupun luar kota. Keberadaan kawasan
kawasan perdagangan inilah yang mendasari adanya CBD yang didalamnya terdapat
pasar, perbankan, perkantoran modern dengan aktifitas bisnis dagang yang bersifat
global dan dinamis.
Bentuk Kerjasama Pembangunan/Investasi
Model kelembagaan untuk investasi pembangunan Pasar Tradisional , sebenarnya
masih merupakan masalah tersendiri. Alternatif sistem BOT (Built Operate
Transfer) dapat menjadi salah satu pilihan/solusi apabila terdapat kesulitan
pendanaan oleh pihak pemerintah daerah. Dalam pola tersebut, pihak swasta
diundang untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek pemerintah/publik. Kontribusi
pemerintah dapat berbentuk non tunai misalnya dalam bentuk aset lahan. Alternatif
bentuk kelembagaan BOT antara lain adalah :
(1). Konsorsium perusahaan swasta saja.
(2). Konsorsium perusahaan swasta dengan perusahaan BUMN/BUMD.
(3). Konsorsium perusahaan swasta dan pemerintah daerah.
Berkaitan dengan rencana pembangunan kembali pasar tradisional nampaknya
alternatif pertama dapat merupakan pilihan terbaik.
Analisis SWOT
Internal PASAR Tradisional:
a. Kekuatan PASAR Tradisional:
1. Jaringan pemasaran luas dan dekat dengan konsumen
2. Mempunyai nilai historis
3. Memiliki goodwill / nama baik serta telah mempelopori usaha sejenis
4. Kualitas produk yang dijual cukup dan selalu ditingkatkan
5. Sarana pemasaran/ pembelanjaan baik dan mempunyai segmen pasar sendiri
A. Jenis produk banyak/ pilihan bervariasi, 80-90 % dari kebutuhan rumah
tangga(one stop shoping)
B. Outlet/ stand dekat dengan pemukiman (konsumen)/lokasi strategis
C. Kontribusi PAD ke Pemerintah meningkat
D. Harga Murah
b. Kelemahan Pasar Tradisional
1. Manajemen lemah
2. Pegawai pendidikan rendah
3. Kinerja rendah
4. Pengelolaan keuangan terpusat
5. Rasio pembeli terhadap pedagang relatif kecil
6. Image masyarakat rendah
7. Keamanan tidak terjamin
8. Parkir semrawut
9. Banyaknya PKL
10. Tidak nyaman
11. Lampu sering mati
12. Gedung bocor
13. Kurang bersih
14. Letak dagangan semrawut
15. Hubungan UPTD dengan HPP lemah
16. Tidak ada discount
17. Pengamen dan pengemis banyak
18. Kurang agresif dalam promosi
19. Minimnya informasi dan bimbingan kepada para pedagang
Eksternal PASAR Tradisional:
a. Peluang Pasar Tradisional
1. Proteksi pemerintah terhadap perdagangan eceran
2. Stabilitas politik di Indonesia dan tumbuhnya daya beli masyarakat
3. Adanya perubahan gaya hidup masyarakat sehubungan dengan tumbuhnya
tingkat perekonomian
4. Berkembangnya tempat tempat pemukiman penduduk (real estate) yang
merupakan peluang pertumbuhan baru atau pengembangan usaha. Perekonomian
Indonesia yang semakin tumbuh
5. Laju pertumbuhan penduduk 5 % per tahun
6. Meningkatnya usia harapan hidup
b. Ancaman Pasar Tradisional
1. Persaingan pengusaha dari dalam dan luar negeri, sehubungan dengan kebijakan
perdagangan dunia (APEC,GATT,AFTA,ACFTA) seperti, Sogo, Mark & Spencer,
Makro, Goro, Gelael, Golden Truly, Carrefour, Giant dan sebagainya.
2. Inflasi yang tinggi akan berpengaruh pada deprisiasi rupiah
3. Adanya kemungkinan pasar diawang awang ( non market place)
4. Pelanggan dalam tingkat loyalitas switccher, yang merupakan kelemahan bagi
perusahaan
5. Kenaikan tarif listrik, telpon, BBM dan inflasi