Anda di halaman 1dari 16

TUGAS INDIVIDU

KESADARAN DAN KEPATUHAN HUKUM


MASYARAKAT DALAM KEHIDUPAN BERSAMA
SUATU NEGARA HUKUM



DISUSUN OLEH :
NAMA : ZAKARIA USMAN
NIM : 0120240170
PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2014
i


DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................... 2
C. Tujuan Masalah ................................................................... 2

BAB II: PEMBAHASAN
A. Negara Hukum .................................................................... 3
B. Peran Masyarakat Dalam Negara Hukum .......................... 5
C. Kesadaran Masyarakat Dalam Mentaati Hukum ................ 7
D. Karakteristik Negara Hukum Indonesia ............................. 11

BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................... 13
B. Saran ................................................................................... 13


1



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesadaran hukum dengan hukum itu mempunyai kaitan yang erat
sekali. Kesadaran hukum merupakan faktor dalam penemuan hukum. Bahkan
Krabbe mengatakan bahwa sumber segala hukum adalah kesadaran hukum.
Menurut pendapatnya maka yang disebut hukum hanyalah yang memenuhi
kesadaran hukum kebanyakan orang, maka undang-undang yang tidak sesuai
dengan kesadaran hukum kebanyakan orang akan kehilangan kekuatan mengikat.
Hal ini masih memerlukan kritik. Perlu kiranya diketahui bahwa Krabbe dan juga
Kranenburg termasuk mereka yang mengembangkan teori tentang kesadaran
hukum.
Kesadaran tentang apa hukum itu berarti kesadaran bahwa hukum itu
merupakan perlindungan kepentingan manusia. Bukankah hukum itu merupakan
kaedah yang fungsinya adalah untuk melindungi kepentingan manusia? Karena
jumlah manusia itu banyak, maka kepentingannyapun banyak dan beraneka ragam
pula serta bersifat dinamis. Oleh karena itu tidak mustahil akan terjadinya
pertentangan antara kepentingan manusia. Kalau semua kepentingan manusia itu
dapat dipenuhi tanpa terjadinya sengketa atau pertentangan, kalau segala sesuatu
itu terjadi secara teratur tidak akan dipersoalkan apa hukum itu, apa hukumnya,
siapa yang berhak atau siapa yang bersalah. Kalau terjadi seseorang dirugikan
oleh orang lain, katakanlah dua orang pengendara sepeda motor saling
bertabrakan, maka dapatlah dipastikan bahwa, kalau kedua pengendara itu masih
dapat berdiri setelah jatuh bertabrakan, akan saling menuduh dengan mengatakan
Kamulah yang salah, kamulah yang melanggar peraturan lalu lintas atau Saya
terpaksa melanggar peraturan lalu lintas karena kamu yang melanggar peraturan
lalu lintas lebih dulu. Kalau tidak terjadi tabrakan, kalau tidak terjadi
pertentangan kepentingan, sekalipun semua pengendara kendaraan mengendarai
kendaraannya simpang siur tidak teratur, selama tidak terjadi tabrakan, selama
kepentingan manusia tidak terganggu, tidak akan ada orang yang mempersoalkan
tentang hukum. Kepentingan-kepentingan manusia itu selalu diancam oleh segala

2

macam bahaya: pencurian terhadap harta kekayaannya, pencemaran terhadap
nama baiknya, pembunuhan dan sebagainya. Maka oleh karena itulah manusia
memerlukan perlindungan terhadap kepentingan-kepentingannya. Salah satu
perlindungan kepentingan itu adalah hukum.
Peran warga negara dalam bidang hukum ini memang sangat eratnya
dalm jaminan persamaan dalam hukum seperti dalam prinsip demokrasi yang
telah dikatakan oleh Lyman Tower. Masalah persamaan hukum telah diatur dalam
konstitusi di Indonesia yaitu pasal 28D. Warga negara yang otonom harus
melakukan tiga hal untuk mewujudkan demokrasi konstitusional, yaitu
menciptakan kultur taat hukum yang sehat dan aktif (culture of law), ikut
mendorong proses pembuatan hukum yang aspiratif (process of law making),
mendukung pembuatan materi-materi hukum yang responsif (content of law), ikut
menciptakan aparat penegak hukum yang jujur dan bertanggung jawab (structure
of law).

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa itu negara hukum?
2. Bagaimana peran masyarakat dalam negara hukum?
3. Bagaimana cara menyadarkan masyarakat agar taat hukum?
4. Bagaimanakah negara hukum Indonesial?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Memahami apa itu negara hukum
2. Mengetahui peran masyarakat dalam negara hukum
3. Menyadarkan masyarakat agar taat hukum
4. Karakteristik negara hukum Indonesia

3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Negara Hukum
Aristoteles merumuskan negara hukum adalah Negara yang berdiri di
atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan
merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga Negara dan
sebagai daripada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia
agar ia menjadi warganegara yang baik. Peraturan yang sebenarnya menurut
Aristoteles ialah peraturan yang mencerminkan keadilan bagi pergaulan antar
warga negaranya. maka menurutnya yang memerintah Negara bukanlah manusia
melainkan pikiran yang adil. Penguasa hanyalah pemegang hukum dan
keseimbangan saja.
Penjelasan UUD 1945 mengatakan, antara lain, Negara Indonesia
berdasar atas hukum (Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka
(machsstaat). Jadi jelas bahwa cita-cita Negara hukum (rule of law) yang
tekandung dalam UUD1945 bukanlah sekedar Negara yang berlandaskan
sembarang hukum. Hukum yang didambakan bukalah hukum yang ditetapkan
semata-mata atas dasar kekeuasaan, yang dapat menuju atau mencerminkan
kekuasaan mutlak atau otoriter. Hukum yang demikian bukanlah hukum yang adil
(just law), yang didasarkan pada keadilan bagi rakyat.
Unsur-unsur negara hukum (rechtsstaat) :
1) adanya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM).
2) adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan negara untuk menjamin
perlindungan HAM,
3) pemerintahan berdasarkan peraturan,
4) adanya peradilan administrasi
Dari uraian unsur-unsur rechtsstaat maka dapat dikaitkan dengan
konsep perlindungan hukum, sebab konsep rechtsstaat tersebut tidak lepas dari
gagasan untuk memberi pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Dengan demikian rechtsstaat memiliki inti upaya memberikan perlindungan pada
hak-hak kebebasan sipil dari warga negara, berkenaan dengan perlindungan
terhadap hak-hak dasar yang sekarang lebih populer dengan HAM, yang
konsekuensi logisnya harus diadakan pemisahan atau pembagian kekuasaan di

4

dalam negara. Sebab dengan pemisahan atau pembagian kekuasaan di dalam
negara, pelanggaran dapat dicegah atau paling tidak dapat diminimalkan.
Di samping itu, konsep rechtsstaat menginginkan adanya perlindungan
bagi hak asasi manusia melalui pelembagaan peradilan yang independen. Pada
konsep rechtsstaat terdapat lembaga peradilan administrasi yang merupakan
lingkungan peradilan yang berdiri sendiri.
Negara Hukum Indonesia diilhami oleh ide dasar rechtsstaat dan rule
of law. Langkah ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa negara hukum
Republik Indonesia pada dasarnya adalah negara hukum, artinya bahwa dalam
konsep negara hukum Pancasila pada hakikatnya juga memiliki elemen yang
terkandung dalam konsep rechtsstaat maupun dalam konsep rule of law.
Yamin menjelaskan pengertian Negara hukum dalam penjelasan UUD
1945, yaitu dalam Negara dan masyarakat Indonesia, yang berkuasa bukannya
manusia lagi seperti berlaku dalam Negara-negara Indonesia lama atau dalam
Negara Asing yang menjalankan kekuasaan penjajahan sebelum hari proklamasi,
melainkan warga Indonesia dalam suasana kemerdekaan yang dikuasai semata-
mata oleh peraturan Negara berupa peraturan perundang-undangan yang
dibuatnya sendiri
Indonesia berdasarkan UUD 1945 berikut perubahan-perubahannya
adalah negara hukum artinya negara yang berdasarkan hukum dan bukan
berdasarkan kekuasaan belaka. Negara hukum didirikan berdasarkan ide
kedaulatan hukum sebagai kekuasaan tertinggi.
Namun apabila dikaji, Pembukaan UUD 1945 alinea I (satu) yang
menyatakan Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan menunjukkan keteguhan dan
kuatnya pendirian bangsa Indonesia menghadapi masalah kemerdekaan melawan
penjajahan. Dengan pernyataan itu bukan saja bangsa Indonesia bertekad untuk
merdeka, tetapi akan tetap berdiri di barisan yang paling depan dalam menentang
dan menghapuskan penjajahan di atas dunia.
Alinea ini mengungkapkan suatu dalil objektif, yaitu bahwa penjajahan
tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan dan oleh karenanya harus
ditentang dan dihapuskan agar semua bangsa di dunia ini dapat menjalankan hak
atas kemerdekaan sebagai hak asasinya. Di samping itu dalam Batang Tubuh

5

UUD 1945 naskah asli, terdapat pasal-pasal yang memuat tentang hak asasi
manusia antara lain: Pasal 27, 28, 29, 30, dan 31. Begitu pula dalam UUD 1945
setelah perubahan pasal-pasal yang memuat tentang hak asasi manusia di samping
Pasal 27, 28, 29, 30 dan 31 juga dimuat secara khusus tentang hak asasi manusia
dalam Bab XA tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri dari Pasal 28A, 28B, 28C,
28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I dan Pasal 28J. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
konsep negara hukum Indonesia juga masuk di dalamnya konsepsi negara hukum
Anglo Saxon yang terkenal dengan rule of law.
Dari penjelasan dua konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep
negara hukum Indonesia tidak dapat begitu saja dikatakan mengadopsi konsep
rechtsstaat maupun konsep the rule of law, karena latar belakang yang menopang
kedua konsep tersebut berbeda dengan latar belakang negara Republik Indonesia,
walaupun kita sadar bahwa kehadiran istilah negara hukum berkat pengaruh
konsep rechtsstaat maupun pengaruh konsep the rule of law.
Dengan demikian, lebih tepat apabila dikatakan bahwa konsep negara
hukum Indonesia yang terdapat dalam UUD 1945 merupakan campuran antara
konsep negara hukum tradisi Eropa Continental yang terkenal dengan rechtsstaat
dengan tradisi hukum Anglo Saxon yang terkenal dengan the rule of law. Hal ini
sesuai dengan fungsi negara dalam menciptakan hukum yakni
mentransformasikan nilai-nilai dan kesadaran hukum yang hidup di tengah-tengah
masyarakatnya. Mekanisme ini merupakan penciptaan hukum yang demokratis
dan tentu saja tidak mungkin bagi negara untuk menciptakan hukum yang
bertentangan dengan kesadaran hukum rakyatnya. Oleh karena itu kesadaran
hukum rakyat itulah yang diangkat, yang direfleksikan dan ditransformasikan ke
dalam bentuk kaidah-kaidah hukum nasional yang baru.

B. Peran Masyarakat Dalam Negara Hukum
Didalam kehidupan bernegara, rakyat sejatinya adalah pemegang
kedaulatan tertinggi, partisipasi masyarakat telah berada dalam posisi yang
semakin penting. Ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari terbukanya kran
kebebasan berekspresi masyarakat buah dari proses reformasi, Dampak dari
semua itu masyarakat menjadi lebih kritis dan terbuka mengakaji serta mengkritisi
kebijakan-kebijakan yang akan dan tengah dilakukan pemerintah. Begitupun

6

didalam proses kehidupan berbangsa bernegara, dalam proses pembangunan
masyarakat punya hak-hak pengawasannya.
Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dikatakan kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar (Bab I pasal 1 )
dan juga, setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan
haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat bangsa dan negara (UUD
1945 pasal 28C). Sebagaimana juga dalam beberapa undang-undang dan
peraturan pemerintah yang telah dikukuhkan partisipasi dan peran serta
masyarakat selalu mendapat tempat sebagai fungsi pengawasan dan kontrol dalam
proses pembangunan seperti dalam bidang pendidikan, jasa konstruksi, hak asasi
manusia dll, dalam rangka turut serta berperan untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik, tentunya diperlukan pengelolaan dan penyedian
pelayanan publik yang transparan, akuntabel dan bebas dari kolusi, korupsi, dan
nepotisme(KKN).
Peran serta masyarakat menjadi penting sebab masyarakat harus
mengetahui secara pasti kemana sumbangan mereka melalui pajak dan retribusi
digunakan oleh pemerintah selaku pengelola keuangan. Dalam hal peran serta
masyarakat membantu upaya pencegahan tindak pidana korupsi juga dituangkan
dalam pasal 41 dan 42 UU RI no 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana
korupsi, yang diwujudkan dalam bentuk hak mencari,memperoleh dan
memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi. Yang
mana hal-hal tersebut untuk menuju dan mewujudkan pemerintah yang bersih
bebas dari KKN serta berkeadilan, menuju terciptanya transparansi dan
akuntabilitas pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara/daerah dalam
menciptakan pemerintahan yang baik.
Selain itu, peran warga negara dalam bidang hukum ini memang sangat
eratnya dalm jaminan persamaan dalam hukum seperti dalam prinsip demokrasi
yang telah dikatakan oleh Lyman Tower. Masalah persamaan hukum telah diatur
dalam konstitusi di Indonesia yaitu pasal 28D. Warga negara yang otonom harus
melakukan tiga hal untuk mewujudkan demokrasi konstitusional, yaitu
menciptakan kultur taat hukum yang sehat dan aktif (culture of law), ikut
mendorong proses pembuatan hukum yang aspiratif (process of law making),
mendukung pembuatan materi-materi hukum yang responsif (content of law), ikut

7

menciptakan aparat penegak hukum yang jujur dan bertanggung jawab (structure
of law).
Negara harus mengakui:
1) Adanya proteksi konstitusional
2) Adanya kekuasaan peradilan yang bebas dan tidak memihak
3) Adanya pemilihan umum yang bebas
4) Adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat dan berserikat
5) Adanya tugas-tugas oposisi; dan,
6) Adanya pendidikan civils.
Dan warga negara yang baik akan senantiasa mengerti tentang peranan
warga Negara yang bersifat aktif, pasif, positif, dan negatif, yang pada dasarnya
merupakan manifestasi dari prinsip-prinsip dari demokrasi politik.

C. Kesadaran Masyarakat Dalam Mentaati Hukum
Masyarakat dan institusi penegak hukum memaknakan hukum untuk
memberikan makna yang baik kepada pengalaman dan tindakan masyarakat,
dengan kesadaran hukum itu sendiri yang merupakan suatu bentuk dari tindakan.
Yang menjadi persoalan bahwa kesadaran hukum itu memiliki titik
persoalan `hukum sebagai perilaku dan bukan `hukum sebagai aturan. Berbicara
mengenai kesadaran hukum pasti akan berbicara bagaimana perilaku kita sebagai
masyarakat dalam menaati hukum, dan bukan hukum itu hanya sebagai sebuah
aturan.
Hal itulah yang menjadi titik perhatian yang sangat serius bagi kita
sebagai masyarakat dan penegak hukum di Indonesia dalam memahami dan
menjalankan hukum. Menurut Paul Scholten, Kesadaran hukum
(rechtsbewustzijn; legal consciousness) yang dimiliki warga masyarakat belum
menjamin bahwa warga masyarakat tersebut akan menaati suatu aturan hukum
atau aturan perundang-undangan.
Kesadaran seseorang bahwa mencuri itu salah atau jahat, belum tentu
menyebabkan orang itu tidak melakukan pencurian, jika pada saat ada tuntutan

8

mendesak. Semisal, kalau dia tidak mencuri, anak satu-satunya yang sedang sakit
keras akan meninggal karena tidak adanya biaya pengobatan.
Kesadaran hukum itu kiranya dapat dirumuskan sebagai kesadaran yang
ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa hukum itu, suatu kategori
tertentu dari hidup kejiwaan kita yang membedakan antara hukum dan tidak
hukum (on recht) antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak dilakukan.
Kesadaran hukum perlu dibedakan dari perasaan hukum. Kalau
perasaan hukum itu merupakan penilaian yang timbul secara serta merta (spontan)
maka kesadaran hukum merupakan penilaian yang secara tidak langsung diterima
dengan jalan pemikiran secara rasional dan berargumentasi. Sering kesadaran
hukum itu dirumuskan sebagai resultante dari perasaan-perasaan hukum di dalam
masyarakat.
Jadi kesadaran hukum tidak lain merupakan pandangan-pandangan
yang hidup dalam masyarakat tentang apa hukum itu. Pandangan-pandangan
hidup dalam masyarakat bukanlah semata-mata hanya merupakan produk dari
pertimbangan-pertimbangan menurut akal saja, akan tetapi berkembang di bawah
pengaruh beberapa faktor seperti agama, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini banyak dipermasalahkan tentang merosotnya kesadaran
hukum. Pandangan mengenai merosotnya kesadaran hukum disebabkan karena
akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum dan
ketidakpatuhan hukum.
Kalau kita mengikuti berita-berita dalam surat kabar, maka boleh
dikatakan tidak ada hati lewat dimana tidak dimuat berita tentang terjadinya
pelanggaran-pelanggaran hukum. Berita-berita tentang penipuan, penjambretan,
penodongan, pembunuhan, korupsi, kredit macet, manipulasi dan sebagainya
setiap hari dapat kita baca dalam surat kabar. Yang menyedihkan ialah bahwa
tidak sedikit orang yang seharusnya menjadi panutan, orang yang tahu hukum
melakukannya, baik ia petugas penegak hukum atau bukan. Yang mencemaskan
ialah bahwa meningkatnya kriminalitas bukan hanya dalam kuantitas dan
volumenya saja, tetapi juga dalam kualitas atau intensitas serta jensinya. Tidak
hanya pelanggaran hukum atau ketidakpatuhan hukum saja yang terjadi tetapi
juga penyalahgunaan hak dan/atau wewenang.

9

Karena peristiwa-peristiwa tersebut di atas dapatlah dikatakan secara
umum bahwa kesadaran hukum masyarakat dewasa ini menurun. Pada hakekatnya
kesadaran hukum itu tidak hanya berhubungan dengan hukum tertulis. Tetapi
dalam kaitannya dengan kepatuhan hukum, maka kesadaran hukum itu timbul
dalam proses penerapan hukum positif tertulis.
Kepatuhan hukum adalah ketaatan pada hukum, dalam hal ini hukum
yang tertulis. Kepatuhan atau ketaatan ini didasarkan pada kesadaran. Hukum
dalam hal ini hukum tertulis atau peraturan perundang-undangan mempunyai
pelbagai macam kekuatan, kekuatan berlaku atau rechtsgeltung. Kalau suatu
undang-undang itu memenuhi syarat-syarat formal atau telah mempunyai
kekuatan secara yuridis, namun belum tentu secara sosiologis dapat diterima oleh
masyarakat, ini yang disebut kekuatan berlaku secara sosiologis.
Masih ada kekuatan berlaku yang disebut filosofische rechtsgetung,
yaitu apabila isi undang-undang tersebut mempunyai ketiga kekuatan berlaku
sekaligus. Orang akan patuh atau taat pada hukum apabila ia sadar bahwa hukum
itu berfungsi untuk melindungi kepentingan manusia baik sebagai individu
termasuk dirinya sendiri maupun kelompok.
Kepatuhan merupakan sikap yang aktif yang didasarkan atas motivasi
setelah ia memperoleh pengetahuan. Dari mengetahui sesuatu, manusia sadar,
setelah menyadari ia akan tergerak untuk menentukan sikap atau bertindak. Oleh
karena itu dasar kepatuhan itu adalah pendidikan, kebiasaan, kemanfaatan dan
identifikasi kelompok. Jadi karena pendidikan, terbiasa, menyadari akan
manfaatnya dan untuk identifikasi dirinya dalam kelompok manusia akan patuh.
Jadi harus terlebih dahulu tahu bahwa hukum itu ada untuk melindungi
dari kepentingan manusia, setelah tahu kita akan menyadari kegunaan isinya dan
kemudian menentukan sikap untuk mematuhinya.
Dalam usaha kita meningkatkan dan membina kesadaran hukum ada
tindakan pokok yang dapat dilakukan.
1) Tindakan represif, ini harus bersifat drastic, tegas. Petugas penegak hukum
dalam melaksanakan law enforcement harus lebih tegas dan konsekwen.
Pengawasan terhadap petugas penegak hukum harus lebih ditingkatkan

10

atau diperketat. Makin kendornya pelaksanaan law enforcement akan
menyebabkan merosotnya kesadaran hukum. Para petugas penegak hukum
tidak boleh membeda-bedakan golongan.
2) Tindakan preventif merupakan usaha untuk mencegah terjadinya
pelanggaran-pelanggaran hukum atau merosotnya kesadaran hukum.
Dengan memperberat ancaman hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran
hukum tertentu diharapkan dapat dicegah pelanggaran-pelanggaran hukum
tertentu. Demikian pula ketaatan atau kepatuhan hukum para warga
Negara perlu diawasi dengan ketat.
3) Tindakan persuasif, yaitu mendorong, memacu. Kesadaran hukum erat
kaitannya dengan hukum, sedang hukum adalah produk kebudayaan.
Kebudayaan mencakup suatu sistem tujuan dan nilai-nilai hukum
merupakan pencerminan daripada nilai-nilai yang terdapat dalam
masyarakat. Menanamkan kesadaran hukum berarti menanamkan nilai-
nilai kebudayaan.
Pendidikan tetang kesadaran hukum hendaknya diberikan secara formal
di sekolah-sekolah dan secara non formal di luar sekolah kepada masyarakat luas.
Yang harus ditanamkan dalam pendidikan formal maupun non formal ialah
bagaimana menjadi warga Negara yang baik, tentang apa hak dan kewajiban
seorang Warga Negara Indonesia. Setiap warga Negara harus tahu undang-undang
yang berlaku di negara kita. Pengetahuan tentang adanya dan isinya harus
diketahui untuk menimbulkan kesadaran hukum. Ini merupakan presumsi hukum,
merupakan azas yang berlaku. Dengan mengenal undang-undang maka kita akan
menyadari isi dan manfaatnya dan selanjutnya mematuhinya. Lebih lanjut ini
semuanya berarti menanamkan pengertian bahwa di dalam pergaulan hidup kita
tidak boleh melanggar hukum serta kewajiban hukum, tidak boleh berbuat
merugikan orang lain dan harus bertindak berhati-hati di dalam masyarakat
terhadap orang lain.
Tetapi yang lebih penting lagi kiranya kalaulah semua Warga Negara
Indonesia mengamalkan ilmu hukum yang diperolehnya baik dari pendidikan
formal maupun non formal. Ilmu hukum yang diperoleh itu harus diamalkan (ilmu
yang amaliah) dan amal itu harus ilmiah (amal yang ilmiah).


11

D. Karakteristik Negara Hukum Indonesia
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945)
setelah perubahan menegaskan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.
Semula istilah negara hukum hanya dimuat pada Penjelasan UUD 1945 yang
menegaskan bahwa Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtstaats), tidak
berdasar atas kekuasaan belaka (machtstaat). Persoalannya apakah yang dimaksud
dengan rechtstaat dalam konsepsi UUD 1945 dan bagaimana impelementasinya
dalam kehidupan negara. Dengan dasar kerangka berpikir di atas dalam kajian
singkat ini, hendak menguraikan secara ringkas bagimana konsep negara hukum
Indonesia dan perbedaannya dengan konsep rechtstaat atapun rule of law serta
perkembangan pemahaman dan konsepnya pada tingkat implementasi dalam
pembentukan peraturan perundang-undangan dan hukum dalam praktik (law in
action).
Lahirnya negara hukum Pancasila menurut Padmo Wahyono (lihat Tahir Azhary,
2003: 96) berbeda dengan cara pandang liberal yang melihat negara sebagai suatu
status tertentu yang dihasilkan oleh suatu perjanjian bermasyarakat dari individu-
individu yang bebas atau dari status naturalis ke status civis dengan
perlindungan terhadap civil rights. Tetapi dalam negara hukum Pancasila terdapat
anggapan bahwa manusia dilahirkan dalam hubungannya atau keberadaanya
dengan Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu negara tidak terbentuk karena
perjanjian atau vertrag yang dualistis melainkan atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas. Jadi posisi Tuhan dalam negara hukum Pancasila
menjadi satu elemen utama bahkan menurut Oemar Seno Adji (Lihat Oemar Seno
Adji, 1980: 25) merupakan causa prima. Begitu pentingnya prinsip Ketuhanan
ini dalam negara Indonesia menempatkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa,
sebagai prinsip pertama dari dasar negara Indonesia. Begitu pentingnya dasar
Ketuhanan ketika dirumuskan oleh para founding fathers negara kita dapat dibaca
pada pidato Soekarno pada 1 Juni 1945, ketika berbicara mengenai dasar negara
(philosophische grondslag ) yang menyatakan : Prinsip Ketuhanan! Bukan saja
bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya
ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk
Isa Al Masih, yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w, orang Budha

12

menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah
kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-
tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan leluasa. Segenap rakyat
hendaknya ber-Tuhan. Secara kebudayaan yakni dengan tiada egoisme agama.
Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang ber-Tuhan.

13


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Upaya untuk mengubah budaya yang sudah ada pada masyarakat
indonesia sebenarnya sangat susah, karena culture yang ada di indonesia itu
sangat bermacam-macam dan beraneka ragam, sangat tidak mungkin untuk
mengubahnya. Tetapi kaitannya dengan budaya masyarakat indonesia yang sangat
kurang terhadap kesadaran hukum itu mungkin disebabkan karena dari awal
masyarakat itu tidak mengerti akan pentingnya hukum bagi kehidupan, kalau saja
tidak ada hukum mungkin akan terjadi kekacauan dimana-mana.
Untuk dapat meningkatkan kesadaran hukum di masyarakat mungkin
pemerintah atau aparat penegak hukum sebagai pembuat dan pelaksana dapat
lebih mensosialisasikan hukum itu sendiri kepada masyarakat. Agar masyarakat
dapat lebih mengerti mengenai akan pentingnya hukum itu bagi kehidupan
bermasyarakat.
Jadi upaya untuk mengubah culture yang ada di masyarakat itu harus
diawali dengan pensosialisasian yang lebih mendalam dan terarah
terhadap masyarakat mengenai pentingnya hukum bagi kehidupan, dengan
semakin banyaknya masyarakat yang mengerti akan pentingnya hukum, budaya
masyarakat kita sedikit demi sedikit akan berubah menjadi lebih baik dan
kesadaran hukum masyarakat indonesia akan lebih meningkat. Dan tujuan dari
hukum akan tercapai yaitu masyarakat yang aman, tentram dan sejahtera
B. Saran
Negara hukum dalam perspektif Pancasila yang dapat diistilahkan
sebagai negara hukum Indonesia atau negara hukum Pancasila disamping
memiliki elemen-elemen yang sama dengan elemen negara hukum dalam
rechtstaat mauapun rule of law, juga memiliki elemen-elemen yang spesifik yang
menjadikan negara hukum Indonesia berbeda dengan konsep negara hukum yang
dikenal secara umum. Perbedaan itu terletak pada nilai-nilai yang terkandung
dalam Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya mengandung Pancasila dengan

14

prinsip-prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa serta tidak adanya pemisahan antara
negara dan agama, prinsip musyawarah dalam pelaksanaan kekuasaan
pemerintahan negara, prinsip keadilan sosial, kekeluargaan dan gotong royong
serta hukum yang mengabdi pada keutuhan negara kesatuan Indonesia.
Pembentukan hukum baik oleh pembentuk undang-undang maupun oleh
Mahkamah Konstitusi harus menjadikan keseluruhan elemen negara hukum itu
dalam satu kesatuan sebagai nilai standar dalam pembentukan maupun pengujian
undang-undang. Mengakhiri tulisan ini saya ingin mengemukakan pandangan
Prof. Dr. Satjipto Raharjo (lihat Satjipto Rahardjo, 2006: 53) mengenai
keresahannya terhadap negara hukum Indonesia dengan suatu harapan bahwa
hukum hendaknya membuat rakyat bahagia, tidak menyulitkan serta tidak
menyakitkan. Di atas segalanya dari perdebatan tentang negara hukum, menurut
Prof. Satjipto kita perlu menegaskan suatu cara pandang bahwa negara hukum itu
adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa Indonesia, bukan sebaliknya.
Hukum tidak boleh menjadikan kehidupan lebih sulit. Inilah yang sebaiknya
menjadi ukuran penampilan dan keberhasilan (standard of performance and result)
negara hukum Indonesia.