Anda di halaman 1dari 5

III

PEMBAHASAN


3.1. Bahan bahan dalam Pembuatan Complete Feed
Bahan bahan dalam Pembuatan Complete feed menurut Balai Pengkajian
teknologi pertanian Semarang tahun 2009 :
1. Jerami : 52 kg
2. Ampas Singkong : 8 kg
3. Katul : 38 kg
4. Dolomit : 0,5 kg
5. Mineral ( Feed Suplement ) : 0,5 kg
6. Garam Krosok : 2 kg
7. Urea : 1.25 kg
8. probiotik ( EM 4 ) : 0,5 kg
9. Molases : 2,8 kg
10. Temulawak : 0,1 kg

3.2. Cara Pembuatan Complete Feed
Cara Pembuatan Complete feed menurut Balai Pengkajian teknologi pertanian
Semarang tahun 2009 :
1. Jerami padi dicacah (semakin kecil semakin baik), kemudian dihamparkan
diatas terpal dan diatasnya ditabur dedak, ampas singkong dan diikuti mineral
serta kalsit.
2. Buat Larutan Garam, Urea, Tetes Tebu (Molases) dan Probiotik (EM 4)
dengan air secukupnya.
13

3. Semprotkan / Percikkan larutan No. 2 keatas hamparan bahan No. 1,
selanjutnya diaduk aduk hingga merata dan bila perlu ditambah air hingga
kadar air campuran mencapai 60 %.
4. Untuk mengukur Kadar Air , adonan dikepalkan ditangan bila tangan basah
tapi air tidak menetes berarti takaran kadar air sudah cukup.
5. Masukkan adonan No. 3 kedalam drum plastik, dipadatkan dan tutup rapat (
tidak ada udara luar yang masuk ).
6. Pakan Komplit hasil fermentasi ini dapat digunakan setelah 3 hari proses
fermentasi berlangsung.

3.3. Cara Pemberian Complete Feed
Cara Pemberian Complete feed menurut Balai Pengkajian teknologi pertanian
Semarang tahun 2009 :
1. Setelah 3 hari difermentasi Pakan Komplit siap diberikan kepada ternak.
2. Takaran pemberian Pakan Komplit adalah 5 % dari Bobot Ternak dan
diberikan 2 3 kali sehari.
3. Setelah pemberian pakan drum plastik ditutup lagi rapat rapat agar udara
luar tidak masuk.
4. Dengan perlakuan yang benar Pakan Komplit ini dapat bertahan selama 1,5
bulan.

3.4. Manfaat Complete Feed untuk Ternak Sapi Perah
1. Pakan siap pakai yang memiliki kandungan zat nutrisi lengkap
2. Dengan complete feed peternak tidak lagi tergantung terhadap hijauan
3. Complete feed dapat membuat produktivitas susu lebih optimal.
14

4. Dengan complete feed peternak tidak perlu lagi membutuhkan lahan yang luas
untuk tanaman HMT
5. Dengan menggunakan complete feed dapat menekan biaya pakan dalam usaha
peternakan sehingga akan menambah pendapatan peternak lebih maksimal.

3.5. Complete Feed Solusi Sistem Pemberian Pakan dan Peningkatan
Produksi Susu Sapi Perah
Sapi perah sangat berpotensi dalam menghasilkan produk pangan sumber
protein hewani sehingga perkembangan ruminansia menjadi hal yang penting.
Masalah utama dalam keberhasilan perkembangan peternakan terletak pada kualitas
pakan. Kualitas pakan sapi perah dipengaruhi oleh kandungan nutrisi dari hijauan dan
konsentrat. Permasalahan utama dalam pemberian hijauan adalah kontinyuitas serta
ketersediaannya yang masih tergantung pada musim dan rendahnya nilai nutrisi.
Rumput dengan kecernaan yang rendah tidak dapat mendukung pertumbuhan dan
aktivitas mikroba rumen karena ketersediaan protein khususnya bagi aktivitas
mikroba menjadi terbatas dan ketersediaan zat gizi lain juga akan berkurang. Nitis et
al. (1985) melaporkan bahwa pemberian rumput sebagai pakan tunggal dapat
menurunkan pertumbuhan ternak.
Hijauan merupakan pakan utama untuk ruminansia sehingga penyediaannya
harus kontinyu. Rumput gajah merupakan rumput yang berasal dari Afrika tropik dan
merupakan rumput potong (Reksohadiprodjo, 1994). Rumput gajah mengandung
protein kasar (PK) 9,72%, lemak kasar (LK) 1,04%, serat kasar (SK) 27,54%, abu
18,13% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 43,56% (Lubis, 1992).
Penggunaan rumput gajah sebagai pakan tunggal belum dapat memenuhi kebutuhan
protein dan energi untuk ternak berproduksi. Penggunaan rumput gajah sebagai pakan
membutuhkan suplementasi protein, energi dan mineral, sehingga perlu dilakukan
15

penambahan pakan berupa konsentrat. Rumput gajah dan konsentrat yang dicampur
secara homogen bisa disebut dengan istilah pakan komplit (complete feed).
Complete feed merupakan suatu jenis pakan yang terdiri dari hijauan dan
konsentrat yang diberikan dalam imbangan yang memadai (Wahjuni dan Bijanti,
2006). Pakan komplit (Complete Feed) adalah campuran semua bahan pakan yang
terdiri atas hijauan dan konsentrat yang dicampur menjadi satu campuran yang
homogen dan diberikan kepada ternak sebagai satu-satunya pakan tanpa tambahan
rumput segar (Reksohadiprodjo, 1994). Complete feed dibuat dari limbah pertanian
seperti kulit kacang, Animal Agriculture Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 625
tumpi jagung, jerami kedelai, tetes tebu, kulit kakao, kulit kopi, ampas tebu, bungkil
biji kapok, dedak padi, onggok kering dan bungkil kopra, pakan tersebut
diformulasikan sedemikian rupa sehingga kebutuhan ternak terpenuhi .
Wahjuni dan Bijanti (2006) menjelaskan, complete feed disusun untuk
menyediakan ransum secara komplit dan praktis dengan pemenuhan nilai nutrisi yang
tercukupi untuk kebutuhan ternak serta dapat ditujukan untuk perbaikan sistem
pemberian pakan. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan complete
feed antara lain : 1). Sumber SK (jerami, tongkol jagung, pucuk tebu), 2). Sumber
energi (dedak padi, kulit kopi, kulit kakao tapioka, tetes), 3). Sumber protein (bungkil
kedelai, bungkil kelapa, bungkil sawit, bungkil biji kapok) dan 4). Sumber mineral
(tepung tulang, garam dapur) . Adapun beberapa informasi dasar yang harus
diperhatikan dalam pembuatan complete feed:
1. Kebutuhan Zat makanan dan periode pemeliharaan, yaitu berdasarkan kepada
kebutuhan konsumsi bahan kering dan periode pemeliharaan (laktasi dan non
laktasi). Konsumsi bahan kering dapat diberikan sebesar 2,5 3 % dari bobot
badan, tergantung pada : bobot badan, tinggi rendahnya produksi susu,
periode laktasi, kondisi lingkungan,kondisi tubuh, jenis dan kualitas pakan
terutama hijauan. Pada sapi laktasi berproduksi tinggi, kebutuhan energy
16

kadang-kadang tidak terpenuhi karena keterbatasan konsumsi bahan kering
sehingga dapat menurunkan bobot badan dan produksi.
2. Bahan Pakan. Perlu diperhatikan beberapa hal yaitu : Ketersediaan bahan
lokal, harga serta kandungan zat makanan dalam bahan yang akan digunakan
3. Tipe ransum yang akan dibuat. Hal ini erat hubungannya dengan komposisi
yang dibutuhkan serta kandungan zat makanan. Misalnya tipe ransum lengkap
(complete ration) yang merupakan campuran biji-bijian yang dicampur
dengan hijauan.
4. Konsumsi Ransum. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum
seperti : Konsumsi energi (sangat besar pengaruhnya terhadap konsumsi
ransum) , bentuk fisik ransum, palatabilitas ransum dsb.