Anda di halaman 1dari 16

STERILISASI DAN PEMBUATAN MEDIA

Oleh :

Adawiah 1114121002










PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FALKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012









I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan
manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat
yang disebut media, pada saat melakukan pembuatan media hal yang harus diperhatikan ialah
bekerja secara aseptik. Bekerja secara aseptik bisa meliputi sterilisasi, jadi saat pembuatan
media dilakukan alat-alat yang akan digunakan harus disterilisasi sebelum
inokulasi. Sterilisasi yaitu suatu proses untuk mematikan semua organisme yang dapat
menjadi kontaminan. Cara tersebut digunakan untuk menghancurkan, menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dan menyingkirkan mikroorganisme. Metode yang umumnya
diterapkan untuk mensterilisasikan media dan alat-alat ialah dengan pemanasan. Jika panas
digunakan bersama-sama dengan uap air disebut sterilisasi basah (menggunakan
autoklaf), sedangkan jika tanpa uap air disebut sterilisasi kering (menggunakan oven).
Pada praktikum kali ini metode yang dipakai ialah sterilisasi basah dengan autoklaf, autoklaf
adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat dan bahan yang menggunakan tekanan
15 psi (1,02 atm) dan suhu 121
0
C. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan
media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel
dibanding dengan udara panas.
Sedangkan media yang akan kita buat dalam praktikum ini adalah media PDA (Potato
Dextrosa agar), bahan utama yang digunakan adalah kentang.


Penggunaan kentang dalam pembuatan media karena kentang kaya akan karbohidrat yang
sangat diperlukan oleh suatu mikroorganisme.
.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum sterilisasi adalah menghindari terjadinya kontaminan, sedangkan
pembuatan media bertujuan untuk mengenal dan mengetahui cara pembuatan media buatan
yang benar.











II. METODE PERCOBAAN


2.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini ialah pisau, timbangan, erlenmeyer,
autoklaf. Sedangkan bahan yang digunakan ialah kentang 200g, Dextrase 20g, agar 20g, dan
air destilasi.


2.2 Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum kali ini sebagai berikut:
1. Semua bahan ditimbang
2. Kentang dipotong kecil dan berukuran dadu
3. Kentang tersebut direbus dalam air destilasi hingga sari dari rebusan tersebut
keluar
4. Ambil sari dari rebusan kentang lalu saring
5. Masukkan dextrase dan agar secara perlahan, aduk agar tidak menggumpal
6. Masukkan kedalam erlenmeyer yang selanjutnya disterilkan dalam autoklaf











III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan


Gambar Keterangan




Pada gambar disamping
merupakan gambar sari kentang
yang sudah disaring dan dicampur
dengan dextrase serta agar yang
kemudian dilakukan sterilisasi



3.2 Pembahasan

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika
ditumbuhkan di dalan suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang
biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora
bakteri (Fardiaz, 1992).

Menurut Arthur (1962) sterilisasi yang umum dilakukan antara lain sterilisasi kering,
sterilisasi basah, penyaringan, sterilisasi kimia dan sterilisasi dengan radiasi. Sesuai dengan
praktikum yang dilakukan kita menggunakan strerilisasi basah yaitu menggunakan
autoklaf. Sterilisasi menggunakan autoklaf dilakukan dengan memasukkan agar dan bahan-
bahan lain ke dalam autoklaf selama 15 menit dengan suhu 121
0
C pada tekanan 2 atm.
Sterilisasi basah tersebut dilakukan dengan menggunakan air, yang dimanfaatkan adalah uap
airnya dalam proses sterilisasi.

Berdasarkan kandungannya dan penggunaannya maka media dapat dibedakan menjadi:
a. Medium serbaguna
Medium yang paling umum digunakan dalam bakteriologi karena dapat menunjang
pertumbuhan sebagian besar bakteri. Contoh: kaldu nutrient
b. Medium selektif
Medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang dapatmenghambat pertumbuhan satu
kelompok bakteri atau lebih tanpa menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang
diinginkan
c. Medium diferensial
Medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang memungkinkan dipengamat
membedakan tipe-tipe bakteri (Hadiotomo, 1993).

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan media buatan, PDA atau Potato Dextrose
Agar. PDAtermasuk dalam media serbaguna yang lebih dikenal media umum, media umum
dapat digunakan untuk menumbuhkan semua jenis patogen yang dapat ditumbuhkan dimedia
buatan.
Potato Dextrose Agar merupakan salah satu media biakan karena kaya akan nutrisi yang
dibutuhkan oleh mikroba untuk hidup. Nutrisi yang diberikan media untuk mikroba berupa
karbohidrat (pati) dari kentang, glukosa dari dekstrosa atau fruktosa serta kandungan air
dalam agar.

King B Agar atau
Raja agar B memungkinkan produksi fluoresceine (atau pyoverdin), pigmen kuning-hijau
yang berfluoresensi di bawah
sinar ultraviolet dalam strain tertentu Pseudomonas. Media yangdigunakan terutama
dalam analisis air untuk deteksi dan diferensiasi Pseudomonas aeruginosa, yang
menghasilkan pigmen karakteristik sementara spesies
lain dari Pseudomonas tidak. Media digambarkan oleh Raja, Ward dan Raney pada tahun
1954, dan kemudian dimodifikasi sesuai dengan rekomendasidari US Pharmacopoeia. Para
penulis juga bertanggung jawab untuk pengembangan Raja Sebuahmedia, yang
mendukung produksi pyocyanin (pigmen biru neon) atas bahwa dari pyoverdine.

Triphenyl klorida tetrazolium,
TTC/TZC atau klorida hanya tetrazolium merupakan indikator redoksumum digunakan
dalam percobaan biokimia terutama untuk menunjukkan respirasi selular. Ini adalah bubuk
kristal putih, larut dalam air, etanol , dan aseton , tetapi larut dalam eter .









IV. KESIMPULAN


Kesimpulan dari parktikum yang dilakukan sebagai berikut
1. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik agar tidak
terjadinya kontaminan
2. Sterilisasi menggunakan alat yaitu autoklaf
3. Berdasarkan penggunaannya media dibagi menjadi media umum dan selektif
4. Pembuatan media yang digunakan adalah media umum yaitu media PDA
(Potato Dextroose Agar)





DAFTAR PUSTAKA


Arthur, H. B., Charles, A. B., Charles, G. B. 1962. Bacteriology. Barnes and
Noble, New York.

Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Hadiotomo, Ratna Sri. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktikum. Jakarta: PT.
Gramedia (Hlm. 44-46, 55-60)




















lakang
Dalam melakukan diagnosa mikrobiologi sterilisasi sangat diutamakan baik alat
maupun medianya. Suatu alat dikatakan steril apabila alat atau bahan bebas dari mikroba
baik bentuk vegetative maupun spora. Untuk itu sebagai pemula dalam mikrobiologi sangat
perlu mengenal teknik sterilisasi, pembuatan media serta teknik penanaman .
Secara umum sterilisasi merupakan proses pemusnahan kehidupan khususnya mikrobia
dalam suatu wadah ataupun peralatan laboratorium. Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah
suatu proses untuk mematikan semua mikroorgansime yang terdapat pada atau didalam suatu
benda. Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas,
penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Apabila panas digunakan bersama-sama
dengan uap air maka disebut sterilisasi basah, bila tanpa kelembapan maka disebut sterilisasi
kering.
Medium merupakan bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme
diatas atau didalamnya. Sebelum menumbuhkan mikroorganisme, pertama-tama kita harus
memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang
memberikan hasil baik.
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan percobaan untuk menambah pengetahuan
tentang cara pembuatan medium dan juga cara menstrilisasikan medium.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum kali ini adalah :
a. Mengetahui cara membuat media pertumbuhan mikrorganisme.
b. Mengetahui jenis medium.
c. Mengetahui cara mensterilkan medium.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah
memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yang
akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama
protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya
menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang
tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air
sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat
(Hadioetomo, 1993).
Alat yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus disterilisasi
terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk
kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang
teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu
penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; penggunaan bahan kimia
(etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Hadioetomo,
1993).
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi macam ketentuan
seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel tunggal, biasanya air
sangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke
dalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika. Bahan
agar yang utama adalah galaktan (komplek karbohidrat yang diekstrak dari alga genus
Gelidium). Agar akan larut atau cair pada suhu hampir 100
o
C dan akan cair apabila kurang
lebih 43
o
C (Hadioetomo, 1993). Menurut Schlegel (1993) agar merupakan media tumbuh
yang idealyang diperkenalkan melalui metode bacteriaological.
Organisme hidup memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Subtansi kimia organik
dan inorganik diperoleh dari lingkungan dalam berbagai macam bentuk. Nutrien diambil dari
likungan kemudian ditransformasikan melalui membran plasma menuju sel. Di sel beberapa
nutrisi diolah menghasilkan energi yang digunakan dalam proses seluler (Lim, 1998). Bakteri
dalam medium juga memerlukan makanan untuk pertumbuhannya. Bakteri yang tidak punya
akar harus berada pada permukaan larutan makanan yang cair. Pertumbuhan bakteri berarti
meningkatnya jumlah sel yang konstituen (yang menyusun). Apabila disusun 10 bakteri
dalam 1 ml medium yang cocok dan 24 jam kemudian ditemukan 10 juta bakteri tiap
milimeternya, maka terjadilah pertumbuhan bakteri. Meningkatnya jumlah bakteri terjadi
dengan proses yang disebut dengan pembelahan biner, dimana setiap bakteri membentuk
dinding sel baru (Volk, 1993).
Pertumbuhan bakteri selain memerlukan nutrisi, juga memerlukan pH yang tepat.
Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada kondisi yang terlalu basa, kecuali Vibrio
cholerae yang dapat hidup pada pH lebih dari 8. Suhu juga merupakan variabel yang perlu
dikendalikan. Kelompok terbesar yaitu mesofil, suhu optimum untuk pertumbuhannya 20-
40
o
C (Volk, 1993).
PH merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalam
pembuatan medium sehingga kondisi pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok
untuk dijadikan medium mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut.
Medium didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa medium
masih steril, karena selain pH sebagai penentu tumbuhnya mikroba, alat dan medium yang
steril juga menentukan (Dwidjoseputro, 1994).
Menurut (Suriawati, 2005), Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
a. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang
dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai
akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat bejana/ruang
panas (oven dengan temperatur 170
O
C 180
o
C dan waktu yang digunakan adalah 2 jam
yang umumnya untuk peralatan gelas).
b. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan
formalin).
c. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi
atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter.
Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-
partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).
Autoklaf digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan
autoklaf untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena
isi botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka
ketika manometermenunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit.
Medium yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah sterilisasi medium harus
segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat tersebut terurai. Medium dapat langsung
disimpan di lemasi es jika medium sudah dapat dipastikan steril (Dwidjoseputro, 1994).




BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Adapun praktikum ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : 03 November 2011
Waktu : 10.00 sampai selesai
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi FMIPA

A. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam laboratorium yakni:
1. Erlenmeyer 100 ml
2. Neraca analitik
3. Hot plate
4. Gelas ukur 100 mL
5. Batang pengaduk / Magnet Stirrer
6. Sendok Zat
7. Pipet tetes
8. Autoklaf

B. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam laborattorium mikrobiologi yakni:
1. Kapas
2. Aluminium Foil
3. Aquades
4. Agar
5. NA (Nutrien Agar)
6. MEA (Malt Extract Agar)
7. PDA (Potato Dextrose Agar)
8. LB ( Lactosa Broth)
9. KOH 1%
C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum ini yakni:
1. Menimbang masing-masing bahan yang akan digunakan kedalam Neraca Analitik sesuai
dengan jumlah yang diperlukan.
2. Kemudian memasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml, dan menambahkan aquades sebanyak
250 ml dan agar 7 gram kedalam masing-masing bahan.
3. Memanaskan larutan tersebut sampai mendidih di atas Hot Plate dan diaduk dengan
magnetic stirer agar larutan homogen.
4. Kemudian larutan diangkat dan mendinginkannya.
5. Setelah larutan dingin, kemudian mengukur pH nya.
































BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Adapun hasil yang telah didapatkan dari percobaan yakni:
No Nama dan Gambar Fungsi
Warna
sebelum
pengadukan
Warna
sesudah
pengadukan
1. PDA Sebagai
tempat
pembiakan
mikroba
Keruh Kuning Tua
2. LB
Sebagai
tempat
fermentasi
Merah Merah Tua




3. MEA Sebagai
tempat
pembiakan
mikroba
Coklat Coklat Tua
4. NA
Sebagai
tempat
pembiakan
bakteri
Keruh
Kuning
kecoklatan



C. Pembahasan
Medium merupakan bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme
diatas atau didalamnya, medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat, antara lain adalah
harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus mempunyai
tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang
akan ditumbuhkan, tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba, harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang di
tumbuhkan dapat tumbuh dengan baik. Percobaan kali ini yaitu pembuatan medium NA,
PDA, LB DAN MEA.
NA (Nutrien agar) digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri. Pembuatan medium
percobaan ini dengan menggunakan NA (Nutrien Agar), dimana dalam pembuatannya
terlebih dahulu dengan cara menimbang bahan yang akan digunakan kedalam neraca analitik
sesuai dengan jumlah yang diperlukan kemudian memasukkan bahan kedalam Erlenmeyer
250 ml, dimana bahan tersebut adalah aqades 250 ml, NA 3,75 dan agar 7 gram setelah itu
dipanaskan diatas hot plate 440
o
C di ikuti oleh pengadukan dengan menggunakan magnetik
stirer, tujuan dari pemanasan dan pengadukan ini adalah untuk menghomogenkan NA dengan
aqades, dimana dengan pemanasan dapat mempercepat pelarutan dari Na dan Aqades.
Setelah dipanaskan beberapa menit larutan berubah warna dari keruh menjadi kuning
kecoklatan hal ini menandakan larutan telah homogen. Setelah itu larutan ditambahkan KOH
1 % yang bertujuan mendapatkan pH netral yaitu 7 dan didinginkan kemidian diukur pHnya,
pH yang diperoleh 7 hal ini menandakan bakteri dapat hidup pada pH tersebut, hal ini sesuai
dengan literatrur yang menyatakan bakteri dapat hidup pada pH 6,8-7. Kemudian dimasukkan
kedalam autoklav dengan mulut Erlenmeyer disumbat dengan kapas dan dilapisi kertas
diluarnya. Tujuan dari penutupan ini agar meminimalkan kontaminasi. Pembuatan
NAberdasarkan konsistennya termasuk medium padat dan menurut kegunaannya termasuk
medium umum.
PDA (Potato Destore Agar) digunakan untuk menumbuhkan fungi atau jamur.
Pembuatan medium pada percobaan ini dengan menggunakan PDA (Potato Destore Agar)
dimana dalam pembuatannya terlebih dahulu dengan cara memasukkan 200 ml aqades dan 50
ml ekstrak kentang,3,75 deglucose dan 7 gr agar kemudian dipanaskan diatas hot plate
440
o
C diikuti oleh pengadukan dengan tujuan dari pemanasan dan pengadukan ini untuk
menghomogenkan PDA dengan aqades, dan pemanasan bertujuan mempercepat pelarutan
dari PDA. Setelah dipanaskan beberapa menit larutan berubah warna dari keruh menjadi
kuning tua, hal ini menunjukkan larutan telah homogen. Kemudian larutan didinginkan dan
diperoleh pH 5,72 hal ini sesuai dengan liateratur fungi hidup pada pH 5,2-5,8. Setelah itu
dimasukkan kedalam autoklav tetapi sebelum dimasukkan mulut Erlenmeyer ditutup dengan
kapas dan kemudian dibungkus dengan kertas, hal ini bertujuan agar meminimalkan
kontaminasi. PDA termasuk medium nonsintetik karena termasuk medium padat sedangkan
menurut fungsinya termasuk medium umum.
MEA (Malt Extract Agar) digunakan sebagai media pertumbuhan khamir. Dimana
dalam pembuatannya terlebih dahulu melarutkan MEA (Malt Extract Agar) sebanyak 12,5
gram kedalam erlenmeyer 250 ml dan menambahkan aqades 250 ml setelah itu dipanaskan
diatas hot plate dengan suhu 480
0
C diikuti dengan pengadukan menggunakan magnetic
stirer, tujuan dari pengadukan dan pemanasan untuk menghomogenkan MEA dengan aqades
dan pemanasan bertujuan untuk mempercepat pelarutan dari MEA. Setelah dipanaskan
beberapa menit larutan berubah warna dari coklat menjadi tua hal ini menujukkan larutan
telah menjadi homogen kemudian larutan didinginkan dan diukur pHnya, Ph pada MEA = 5,4
-0,2 pH maksimal 5,6 dan pH minimal 5,2. pH yang diperoleh pada percobaan ini yaitu 5,6.
Setelah itu dimasukkan kedalam autoklaf dengan mulut Erlenmeyer ditutup dengan kapas dan
diluarnya dibungkus dengan kertas, hal ini bertujuan untuk meminimalkan kontaminasi.
LB (Laktosa Broth) digunakan untuk fermentasi. Dimana dalam pembuatannya terlebih
dahulu LB dilarutkan sebanyak 3,25 gram kedalam Erlenmeyer 250 ml dan menambahkan
aqades 100 ml setelah itu dipanaskan dengan suhu 300
0
C diikuti dengan pengadukan
menggunakan magnetik stirrer, tujuan dari pengadukan untu menghomogenkan LB dengan
aqades sedangkan pemanasan bertujuan untuk mempercepat pelarutan dari LB. Setelah
dipanaskan larutan berubah warna dari merah menjadi merah tua, hal ini menujukkan larutan
telah homogen. Setelah dipanaskan larutan didinginkan kemudian di ukur pHnya, Ph yang
diperoleh 6,7 sedangkan Ph netral untuk LB yaitu 6,8. Setelah itu mulut Erlenmeyer disumbat
dengan kapas dan diluarnya dibungkus dengan kertas, hal ini bertujuan untuk meminimalkan
kontaminasi dan dimasukkan kedalam autoklav.
Autoklav adalah alat yang digunakan untuk sterilisasi. Autoklaf termasuk dalam teknik
sterilisasi secara fisika dengan prinsip arus uap dan tekanan. Alat ini sering digunakan dalam
teknik pensterilan karena tingkat koefisien dan sifat alat yang tidak merusak kandungan
dalam media pertumbuhan yang dipakai yaitu NA, PDA, MEA dan LB.
Sterilisasi yang dilakukan bertujuan untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Sterilisasi merupakan suatu proses (kimia dan fisika)
yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme. Sterilisasi yang digunakan
dalam percobaan ini adalah secara fisika yaitu menggunakan panas, dimana panas yang
digunakan adalah bersama uap air yang biasanya disebut sterilisasi basah.



BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah:
1. Teknik sterilisasi dapat dilakukan dengan tekanan uap tinggi menggunakan otoklaf sehingga
alat dan media steril.
2. NA (Nutrient Agar ) digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri.
3. MEA (Malt Extract Agar) digunakan sebagai media pertumbuhan yeast atau khamir.
4. PDA (Potato Destroxe Agar) digunakan untuk menumbuhkan fungi atau jamur.
5. LB (Laktosa Broth) digunakan untuk fermentasi.
6. Sterilisasi dilakukan bertujuan untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya
mikroorganisme yang tidak diinginkan.
7. Komposis media bahan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi sterilisasi
dilakukan bakteri demi mengoptimalkan pertumbuhannya, yang mana tiap-tiap komposisi
harus setimbang jumlahnya.

B. Saran
Pada praktikum selanjutnya medium untuk pertumbuhan mikroba dapat dibuat lebih
banyak lagi dan pada saat praktikum kedepannya diharapkan praktikum berjalan dengan
tertib tanpa kegaduhan dalam ruangan.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D, 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Hadioetomo, R. , 1993, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi, Gramedia: Jakarta.
Lim,D, 1998, Microbiology, 2nd Edition, McGrow-hill book, New york.
Schegel, G.H, 1993, General Microbiologi seventh edition, Cambrige University Press, USA.
Suriawiria, U, 2005, Mikrobiologi Dasar, Papas Sinar Sinanti, Jakarta.
Volk & Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi kelima, Erlangga: Jakarta.