Anda di halaman 1dari 14

STRUMA TOKSIK

DANI MARYUDIANTO
NIM : 091001016

Pembimbing :
Dr. Rajin Saragih Sp.B



KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN BEDAH
RSUD. DJASAMEN SARAGIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
2014




KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul STRUMA TOKSIK yang disusun untuk
melengkapi Tugas Mid-Test Kepanitraan Klinik Senior (KKS) Ilmu Bedah pada
Rumah Sakit Umum Daerah dr.Djasamen Saragih Pematang Siantar.
Pada kesempatan ini penulis ingin meyampaikan terima kasih kepada
dokter-dokter spesialis bedah yang ada di RSUD dr. Djasamen Saragih dan pihak
yang bersangkutan atas bimbingan dan arahannya sehingga paper ini dapat
terselesaikan dengan baik.
Penulis menerima segala kritikan dan saran yang bersifat membangun
yang akhirnya dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh dari paper ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai struma toksik.


Pematang Siantar, April 2014

Penyusun

(Dani Maryudianto)








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
DEFINISI ........................................................................................................................ 1
ETIOLOGI ....................................................................................................................... 1
ANATOMI TIROID ........................................................................................................ 2
FISIOLOGI ..................................................................................................................... 3
STRUMA TOKSIK ......................................................................................................... 4
MANIFESTASI KLINIS ................................................................................................ 5
DIAGNOSIS ................................................................................................................... 7
PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................................................................... 8
PENATALAKSANAAN ................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 11
1


STRUMA TOKSIK

PENDAHULUAN
DEFINISI
Struma adalah istilah lain
,
untuk pembesaran kelenjar tiroid (gondok).
Struma atau goites adalah suatu pembengkakan atau pembesaran kelanjar tiroid
yang abnormal yang penyebabnya bisa bermacam-macam. Kelenjar tiroid dalam
keadaan normal tidak tampak, merupakan suatu kelanjar yang terletak di leher
bagian depan, di bawah jakun. Kelenjar tiroid ini berfungsi untuk memproduksi
hormon tiroid yang berfungsi untuk mengontrol metabolisme tubuh sehingga
tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang normal.



ETIOLOGI
- Autoimun yaitu saat tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang
kornponen spesifik dari jaringan itu sendiri.
- Tidak diketahui mekanismenya secara pasti, kebanyakan dijumpai pada
wanita
- Obat-obatan tertentu yang digunakan untuk menekan produksi hormon
kelenjar tiroid misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium.
- Kurang yodium dalam diet dan air minum yang berlangsung dalam kurun
waktu yang cukup lama





2

ANATOMI TIROID




Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua
bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong
berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20
gram. Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan
bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini
memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan
hormon tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul
T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan
oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang
3

dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar
pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang
mengandung yodium.

Fisiologi Kelenjar Tiroid
Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan
metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan
pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh
dan reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah
produksi panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa,merangsang pertumbuhan
somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak
adanya hormon-hormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan
neurologik timbul pada saat lahir dan bayi.

Patogenesis Struma
Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam
pembentukan TSH oleh hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan hipofisis
mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH

4

kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah
yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin
bertambah besar. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan
pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid
dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram.
Selain itu struma dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang
menghambat sintesa hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon oleh zat
kimia (goitrogenic agent), proses peradangan atau gangguan autoimun seperti
penyakit Graves. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma
dan penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obat-obatan misalnya
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium, gangguan metabolik misalnya struma
kolid dan struma non toksik (struma endemik).


STRUMA TOKSIK
Struma Toksik
Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma
nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan
bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain.
Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan
benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler
toksik).
Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena
jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah.
Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic

5

goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara
hipertiroidisme lainnya.
Graves
Penyakit Graves (goiter difusa toksika) dipercaya disebabkan
oleh suatu antibodi yang merangsang tiroid untuk
menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan.

Patogenesis
Patogenesis penyakit Graves sampai sejauh ini belum
diketahui secara pasti. Namun demikian, diduga faktor genetik
dan lingkungan ikut berperan dalam mekanisme yang belum
diketahui secara pasti meningkatnya risiko menderita penyakit
Graves. Berdasarkan ciri-ciri penyakitnya, penyakit Graves
dikelompokkan ke dalam penyakit autoimun, antara lain
dengan ditemukannya antibodi terhadap reseptor TSH
(Thyrotropin Stimulating Hormone - Receptor Antibody /TSHR-
Ab) dengan kadar bervariasi.

MANIFESTASI KLINIS
Penyakit Graves umumnya ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid/
struma difus, discrtai tanda dan gejala tirotoksikosis dan seringkali juga disertai
oftalmopati (terutama eksoftalmus) dan kadang-kadang dengan dermopati.
Manifestasi kardiovaskular pada tirotoksikosis merupakan gejala paling menonjol
dan merupakan karakteristik
.
gejala dan tanda tirotoksikosis.

Gejala tirotoksikosis yang sering ditemukan:
Hiperaktivitas, iritabilitas
Palpitasi
Tidak tahan panas dan keringat berlebih
Mudah lelah
Berat badan turun meskipun makan banyak
Buang air besar lebih sering
6

Oligomenore atau amenore dengan libido berkurang

Tanda tirotoksikosis yang sering ditemukan:
Takikardi, fibrilasi atrial
Tremor halus, refleks meningkat
Kulit hangat dan basah
Rambut rontok

Penderita penyakit Graves memiliki gejala-gejala khas dari hipertiroidisme
dan 3 gejala tambahan khusus :
Seluruh kelenjar terangsang sehingga kelenjar sangat membesar,
menyebabkan suatu benjolan di leher (gondok, goiter).
Eksoftalmus (mata menonjol). Hal ini terjadi sebagai akibat dari penimbunan
zat di dalam orbit mata.
Penonjolan kulit diatas tulang kering.


PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik kelenjar tiroid digambarkan pada gambar dibawah.
Tiroid melekat erat pada trakea anterior, dipertengahan antara cekungan sternum
dan kartilago tiroid, biasanya mudah dilihat dan diraba.
Ada tiga langkah pemeriksaan;

1. Dengan penerangan baik yang datang dari belakang pemeriksa, pasien disuruh
menelan seteguk air. Perhatikan kelenjar saat naik atau -turun. Pembesaran
dan penonjolan (nodul) biasanya dapat dilihat.
2. Raba kelenjar dari anterior. Secara lembut tekan dengan jempol satu sisi
kelenjar untuk memutar lobus lain ke depan dan raba saat pasien menelan.
3. Raba kelenjar dari belakang pasien dengan tiga jari tengah masing-masing
lobus sementara pasien menelan. Suatu gambaran kelenjar dapat diketahui
pada kulit leher dan diukur. Nodul-nodul dapat diukur dengan cara yang sama.
Jadi perubahan-perubahan ukuran pada kelenjar atau pada nodul nodul
dapat diikuti.
7

Pada pemeriksaan fisik, bagian bulbus masing-masing lobus yang
teraba dari kelenjar tiroid normal berukuran kira-kira 2 cm pada dimensi
vertikal. dan kira-kira 1 cm pada dimensi horizontal di atas istmus.
Pembesaran kelenjar tiroid disebut goiter. Pembesaran yang menyeluruh
disebut goiter difus; pembesaran yang tidak beraturan atau bertonjol-tonjol
disebut goiter nodular.


DIAGNOSIS
1. Anamnesa
a. Penderita datang dengan keluhan adanya benjolan pada leher depan bagian
tengah
b. Usia dan jenis kelamin : nodul tiroid timbul pd usia < 20 tahun atau > 50
tahun dan jenis kelamin laki-laki resiko malignancy tinggi (20-70%).
c. Riwayat radiasi daerah leher & kepala pada masa anak-anak
malignancy 33-37%
d. Kecepatan tumbuh tumor. Nodul jinak membesar lama (tahunan), nodul
ganas membesar dengan cepat (minggu/bulan)
e. Gangguan menelan, sesak nafas, suara serak & nyeri (akibat
penekanan/desakan dan/atau infiltrasi tumor sebagai pertanda telah terjadi
invasi ke jaringan atau organ di sekitarnya)
f. Asal dan tempat tinggal (pegunungan/pantai)
g. Benjolan pada leher, lama, pembesaran
h. Riwayat penyakit serupa pada keluarga
i. Struma toksik :
Kurus, irritable, keringat banyak
Nervous
Palpitasi
Hipertoni simpatikus (kulit basah dingin & tremor)



8

2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Pemeriksa berada di depan penderita. Penderita posisi duduk
dengan kepala sedikit fleksi atau leher terbuka sedikit hiperekstensi agar
m. sternokleidomastoideus relaksasi sehingga tumor tiroid mudah
dievaluasi.
Apabila terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan
beberapa komponen berikut :
Lokasi : lobus kanan, lobus kiri, ismus
Ukuran : besar/kecil, permukaan rata/noduler
Jumlah : uninodusa atau multinodusa
Bentuk : apakah difus (leher terlihat bengkak) ataukah berupa noduler
lokal
Gerakan : pasien diminta untuk menelan, apakah pembengkakannya
ikut bergerak
Pulsasi : bila nampak adanya pulsasi pada permukaan pembengkakan
b. Palpasi
Pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi, pemeriksa
berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan kedua
tangan. Beberapa hal yang perlu dinilai pada pemeriksaan palpasi :
Perluasan dan tepi
Gerakan saat menelan, apakah batas bawah dapat diraba atau tidak
dapat diraba trachea dan kelenjarnya.
Konsistensi, temperatur, permukaan, dan adanya nyeri tekan
Hubungan dengan m. sternocleidomastoideus (tiroid letaknya lebih
dalam daripada musculus ini.
Limfonodi dan jaringan sekitar
c. Auskultasi
Pada auskultasi perlu diperhatikan adanya bising tiroid yang
menunjukkan adanya hipertiroid.


9

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Pemeriksaan kadar TSH, T3 total, Free T4, dan T4 total.
2. Radiologi
Thorax adanya deviasi trakea, retrosternal struma, coin lesion
(papiler), cloudy (folikuler).
Leher AP lateral evaluasi jalan nafas untuk intubasi pembiusan.
3. USG
Dilakukan untuk mendeteksi nodul yang kecil atau nodul di posterior yang
secara klinis belum dapat dipalpasi. Di samping itu, dapat dipakai untuk
membedakan nodul yang padat atau kistik serta dapat dimanfaatkan untuk
penuntun dalam tindakan biopsy aspirasi jarum halus.
4. Scanning tiroid (pemeriksaan sidik tiroid)
Memakai uptake I yang didistribusikan ke tiroid untuk menentukan fungsi
tiroid. Normalnya uptake 15-40 % dalam 24 jam. Bila
uptake > normal disebut hot area, sedangkan jika uptake < normal disebut
cold area (pada neoplasma)
5. Pemeriksaan sitologi melalui biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
Pemeriksaan sitologi nodul tiroid diperoleh dengan aspirasi jarum halus. Cara
pemeriksaan ini berguna untuk menetapkan diagnosis suspek maligna
ataupun benigna.


PENATALAKSANAAN
Struma toksik :
Bed rest
PTU 100-200 mg (propilthiouracil)
Merupakan obat anti-tiroid, dimana bekerjanya dengan
prevensi pada sintesis dan akhir dari tiroksin. Obat ini bekerja
mencegah produksi tiroksin (T4). Diberikan dosis 3x 100 mg/hari
tiap 8 jam sampai tercapai eutiroid. Bila menjadi eutiroid
10

dilanjutkan dengan dosis maintenance 2 x 5 mg/hari selama 12-18
bulan.
Lugol 5 10 tetes
Obat ini membantu mengubah menjadi tiroksin dan
mengurangi vaskularisasi serta kerapuhan kelenjar tiroid. Digunakan
10-21 hari sebelum operasi. Namun sekarang tidak digunakan lagi,
oleh karena propanolol lebih baik dalam mengurangi vaskularisasi
dan kerapuhan kelenjar. Dosis 3 x 5-10 mg/hari selama 14 hari.
Iodium
Radioterapi
biasanya diberikan pada pasien yang telah diterapi dengan obat anti-tiroid.
Indikasi radioterapi adalah pasien pada awal penyakit atau pasien dengan
resiko tinggi untuk operasi dan untuk pasien dengan hipotiroid rekuren.
Radioterapi merupakan kontraindikasi bagi wanita hamil dan anak-anak.
Operatif
a. Isthmulobectomy , mengangkat isthmus
b. Lobectomy, mengangkat satu lobus, bila subtotal sisa 3 gram
c. Tiroidectomi total, semua kelenjar tiroid diangkat
d. Tiroidectomy subtotal bilateral, mengangkat sebagian lobus kanan dan
sebagian kiri.
e. Near total tiroidectomi, isthmulobectomy dextra dan lobectomy subtotal
sinistra dan sebaliknya.
RND (Radical Neck Dissection),
mengangkat seluruh jaringan limfoid pada leher sisi yang bersangkutan
dengan menyertakan n. accessories, v. jugularis eksterna dan interna, m.
sternocleidomastoideus dan m.omohyoideus serta kelenjar ludah
submandibularis.





11

DAFTAR PUSTAKA


Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Kedokteran : Dari Sel ke Sistem, 2nd ed.
EGC : Jakarta.

Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 11th ed. EGC : Jakarta.

Murray, Robert K., et al. 2003. Biokimia Harper, 25th ed. EGC : Jakarta.

Marijata. 2006. Pengantar Bedah Klinis. FK UGM : Yogyakarta.

http://doctorology.net