Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AKHIR PRATIKUM

KIMIA BAHAN ALAM II



Isolasi Senyawa Alkaloid (Piperin) dari Piper nigrum








Oleh :
RANI ZAFIRA ARMAN
1211011006









LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Tinjauan Botani Piper ningrum
1.1.1. Klasifikasi
Menurut Depkes (1995) Tumbuhan Piper ningrum di klasifikasi dalam
beberapa tingkatan yaitu :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyedonae
Famili : Diperaciae
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum L


Gambar 1.1 Lada hitam (Piper nigrum)
www.centeralhealth.com

1.1.2. Morfologi
Tanaman lada termasuk tanaman tahunan yang memanjat dan
mempunyai empat macam sulur yaitu sulur panjat, sulur buah, sulur gantung
dan sulur tanah (AAK, 1993 dalam Alirman, 2001).
Secara morfologi, lada tergolong tanaman dimorfik yang memiliki dua
macam sulur, yaitu sulur panjat (orthotropic climbing shoot) dan sulur buah
(axillary plagiotropic fruiting branches). Perbedaan yang jelas antara sulur
panjat dan sulur buah yaitu sulur panjat memiliki akar lekat (hold fast),
sedangkan sulur buah tidak memilikinya (Syakir, 2001).
Akar tanaman lada yang berasal dari biji sudah jarang lagi ditemukan
karena umumnya tanaman lada dikembangkan melalui stek sehingga yang ada
hanya akar lateral. Akar lada akan terbentuk pada buku-buku di ruas batang
pokok dan cabang. Akar lada yang tumbuh di dalam tanah atau yang tumbuh di
dekat pangkal tanaman disebut akar utama dan akar lada yang tumbuh di atas
permukaan tanah disebut akar lekat.
Batang tanaman lada biasa disebut stolon yaitu batang pokok yang
tumbuh ke atas dan dari bagian batang pokok akan tumbuh cabang-cabang
ortotrop (vertikal) dan cabang plagiotrop (horizontal). Batang lada berbentuk
agak pipih dan beruas-ruas dengan panjang setiap ruas 7 12 cm.
Daunnya merupakan daun tunggal dengan tekstur kenyal, panjang daun
12 - 18 cm dan lebar daun 3 cm dengan tangkai sepanjang 4 cm. Permukaan
daun bagian berwarna hijau tua mengkilat dan bagian bawah berwarna hijau
tua pucat tidak mengkilat. Daun lada agak unik karena bentuknya berbeda-beda
tergantung dari mana daun tersebut tumbuh. Daun yang keluar pada bagian atas
bentuknya panjang dan daun yang tumbuh pada bagian bawah cenderung
membulat.
Bunga tanaman lada adalah majemuk yang tumbuh mengelilingi malai
bunga. Setiap malai terdiri dari 100150 bunga yang nantinya akan menjadi
buah. Malai bunga hanya akan keluar dari cabang plagiotrop. Bunga tanaman
lada tergolong bunga lengkap yang terdiri dari tajuk, mahkota bunga, putik,
dan benang sari.
Buahnya berbentuk bulat dengan biji keras dan berkulit lunak, berwarna
hijau tua pada waktu muda dan berangsur-angsur kekuning-kuningan lalu
berwarna kemerahan bila buah tersebut telah masak. Diameter biji 34 mm dan
dilindungi oleh daging buah yang tebalnya 2 cm (Nurmas, 2010).

1.1.3. Nama daerah
Tumbuhan ini memiliki beberapa nama daerah di Indonesia yaitu :
Nama Umum : Lada
Sumatera : Koro-koro ( Enggano ), Lada ( Aceh ), Lada ( Batak ),
Lado ketek ( Minangkabau), Lada ( Lampung), Lada kecik
( Bengkulu )
Jawa : Pedes (Sunda ), Merica ( Jawa tengah), Sakang ( Madura )
Bali : Mica
Nusa Tenggara : Sahang ( Sasak ), Sana ( Bima ), Lada ( Timor ),
Mbokosaah ( Ende ), Ngauru ( Flores )
Sulawesi : Malita lodowa ( Gorontalo ), Merica ( Makassar ), Barica
( Bugis ), Risa jawa ( Minahasa),
Maluku : Marissanmau ( Seram ), Emrisan ( Burn ), Maricang puwe
( Halmahera), Rica jawa ( Ternate ).( Depkes,2012 )

1.2. Kandungan Kimia dan Kegunaan
1.2.1. Kandungan Kimia
Buah Piper nigrum tersebut memilki saponin, dan minyak atsiri yang
mengandung felandren, dipenten, kariopilen, enthoksilin, limonen, alkaloida
piperina dan kavisina. (Depkes, 1995)


Gambar 1.2 Piperin Gambar 1.3 Beta-felandren

1.2.2. Kegunaan
Piperin memiliki kegunaan didalam bidang kesehatan yaitu analgetik,
menghambat metabolisme obat di hati, protektif hati, antiinflamasi,
menghambat peroksidasi lipid, antifertilitas, dan antidiare. (Anagha A.
Rajopadhye, et al, 2011)


1.3. Teori
1.3.1 Alkaloida
a. Sistem pengklasifikasian alkaloid menurut Hegnaver yaitu :
1. True Alkaloid
Alkaloid yang dalam bentuk N-heterosiklik, dan biasanya dijumpai dalam
bentuk garam asam organik. Dan merupkn turunan asam amino yang bersifat
basa.
2. Proto Alkaloid
Alkaloid tersebut diperoleh dari biosintesis asam amino yang bersifat
basa,dan alkaloid ini tidak berada dalam bentuk N-heterosiklik. Contohnya :
meskalin; ephedin; N,N-dimetiltriptamin.
3. Pseudo Alkaloid
Senyawa ini tidak diturunkan dari prekursor asam amino dan ditemukan
dalam bentuk basa. Contoh alkaloid seroidal dan purin.
( Cordell,1981)

b. Sifat fisikokimia Alkaloid
Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi dalam bentuk kristal dengan titik
lebur tertentu. (Solomon,1983). Hanya sedikit dijumpai dalam bentuk amorf
dan bentuk lain contoh: nikotin dan koniin dijumpai dalam bentuk cairan.
(Cordel,1981).
Alkaloid dijumpai kebanyakan tidak berwarnatidak berwarna,tetapi
beberapa sneyawa yang komplek, spesies aromatis berwarna,contoh barberin
berwarna kuning, betanin berwarna merah.( Harjono,1996)

1.3.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh
kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan maupun hewan. Ekstrak adalah
sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau
hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung,
ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Cairan penyari yang
digunakan air, etanol dan campuran air etanol (Depkes RI, 1979).
1.3.3 Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Maserasi
merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan simplisia yang
dihaluskan sesuai dengan syarat farmakope (umumnya terpotong-potong atau
berupa serbuk kasar) disatukan dengan bahan pengekstraksi. Selanjutnya
rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah
reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok kembali.
Waktu lamanya maserasi berbeda-beda antara 4-10 hari. Secara teoritis pada
suatu maserasi tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi absolute. Semakin
besar perbandingan cairan pengekstraksi terhadap simplisia, akan semakin banyak
hasil yang diperoleh (Voigt, 1995).

1.3.4 Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah pemurnian suatu zat padat dari
campuran/pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah
dilarutkan dalam pelarut yang cocok. Prinsip rekristalisasi adalah perbedaan
kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat
pencampur/pencemarnya. Larutan yang terjadi dipisahkan satu sama lain,
kemudian larutan zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya.
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak
digunakan, dimana zat-zat tersebut atau zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam
suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan
zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total
impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin,
maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk
yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap (Arsyad, 2001).
Rekristalisasi merupakan metode yang sangat penting untuk pemurnian
komponen larutan organic. Ada tujuh metode dalam rekristalisasi yaitu: memilih
pelarut, melarutkan zat terlarut, menghilangkan warna larutan, memindahkan zat
padat, mengkristalkan larutan, mengumpul dan mencuci kristal, mengeringkan
produknya (hasil) (Williamson, 1999).
Prinsip dasar dari proses ini adalah perbedaan kelarutan antara zat yang
dimurnikan dengan zat pencemarnya dan hanya molekul-molekul yang sama yang
mudah masuk kedalam struktur kristalnya, sedangkan molekul-molekul lain atau
pengotor tetap di dalam larutan atau berada di luar kristalnya (Keenan, 1999).

1.3.4 Prinsip KLT
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran
senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang
menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan
bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya.KLT dapat digunakan
untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida
lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT
juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi
yang diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara
kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil. Pelarut yang dipilih untuk
pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis.(Roy J.
Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991)
Identifikasi dari senyawa-senyawa hasil pemisahan KLT dapat dilakukan
dengan penambahan pereaksi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi lazimnya
untuk identifikasi digunakan harga Rf. Harga Rf didefenisikan sebagai berikut:
Rf = Jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik penotolan
Jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik penotolan
(Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991)









BAB II
PROSEDUR PERCOBAAN

2.1. Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
a. Vakum unit
b. Beaker gelas 250 ml
c. Penangas air (Water bath)
d. Erlenmeyer 100 ml
e. Pipet tetes
f. Botol infus 500 ml
g. Rotary Evaporator
h. Vial
i. Corong
j. Timbangan
k. Gelas ukur
l. Kertas saring
m. Aluminium foil
n. Chamber dan plat KLT

2.1.2 Bahan
a. Lada hitam 100 gr
b. Metanol
c. Kalium hidroksida 10%
d. Air suling
e. n-heksana
f. Etil asetat





2.2 Cara Kerja
1) Buah merica (lada hitam) kering dihaluskan sebanyak 100 gram kemudian
dimasukan ke dalam botol 500 ml.
2) Sampel tersebut dimaserasi dengan metanol sebanyak 200 ml selama 3 hari,
dan kemudian disaring.
3) Maserat (100 ml) diuapkan hingga kental dengan alat rotary evaporator.
4) Ekstrak kental ditambahkan 10 mL larutan Kalium Hidroksida 10%,
kemudian ditutup dengan aluminium voil, dan didiamkan selama 24 jam
hingga terbentuk kristal.
5) Kristal yang terbentuk diambil, kemudian direkristalisasi dengan pelarut
etil asetat dan n-heksana serta dilakukan pemanasan dalam penangas air.
6) Jika telah terbentuk kristal, dilakukan cek KLT senyawa hasil isolasi dengan
fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak n-heksana : etil asetat (2:3).
Noda dilihat di bawah sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm.




















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAAN

3.1 HASIL
3.1.1 Hasil perhitungan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai
berikut:
a. Uji organoleptis
a. Bentuk : Serbuk
b. Warna : Putih kekuningan
b. Berat senyawa isolat
Berat isolat = 0,1362 gram

Rendemen = Berat akhir
Berat awal
= 0,1362 gram
10 gram
= 1,362 %

Rf

= Jarak noda
Jarak pengembangan
= 4,2
7
= 0,6

3.1.2 Gambar KLT






X 100%
X 100%

Gambar 3.1 Profil KLT
3.2 Pembahasan
Pada praktikum isolasi alkaloid (piperin) dari buah lada hitam ini
menggunakan metode ekstraksi. Metode ekstraksi yang dipilih yaitu maserasi,
karena proses pengerjaannya mudah dan murah. Selain itu, maserasi dapat
digunakan untuk senyawa-senyawa yang tahan pemanasan dan tidak memerlukan
biaya yang besar.
Dalam proses isolasi alkaloid ini bagian tanaman yang diambil adalah
buahnya yang telah dikeringkan dan digerinder sampai halus. Tujuan pengeringan
ini adalah untuk me-nonaktifkan enzim yang terkandung di dalam jaringannya,
selain itu juga untuk mencegah tumbuhnya jamur, sehingga sampel bisa disimpan
dan digunakan untuk waktu yang lama. Sedangkan tujuan sampel digrinder
adalah agar mempermudah zat aktif keluar dari sel saat di maserasi. Sampel yang
sudah halus ditimbang 10 gram.
Sampel dimaserasi dengan pelarut metanol. Metanol merupakan pelarut
polar. Digunakan pelarut polar karena sampel yang akan dimaserasi juga bersifat
polar sehingga pelarut dapat melarutkan sampel, ini sesuai dengan hukum like
dissolve like. Setelah direndam selama 3 hari, hasil maserasi disaring dari
ampasnya untuk mendapatkan maserat. Hasil saringan di uapkan menggunakan
alat rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental. Pada proses penguapan
ini digunakan vakum yang bertujuan untuk mempermudah proses penguapan
pelarut.
Setelah didapat ekstrak kental, masukkan kedalam vial dan tambahkan 10 ml
KOH. Tujuan penambahan KOH, adalah untuk mengikat basa yang ada pada
alkaloida sehingga mempercepat rekristalisasi. Lalu diamkan dan akan terdapat
kristal di dasar vial. Endapan tersebut dipisahkan dengan larutannya. Lalu di
lakukan rekristalisasi yaitu pemurnian hasil endapan agar diperoleh zat yang
murni dan bebas dari zat pengotornya. Rekristalisasi dilakukan dengan melarutkan
endapan kristal dengan etil asetat yang dibantu dengan pemanasan. Setelah
endapan larut dilakukan pendesakan dengan penambahan n-heksana agar
mempercepat terbentuknya kristal. Setelah didiamkan 24 jam, didapat kristal yang
murni berwarna kuning. Banyak kristal yang didapat adalah 0,1362 gram dengan
persen kadar 1,362%.
Setelah mendapatkan hasil kristal nya, diambil cuplikan kristal dan dilarutkan
dengan metanol untuk dilakukan cek KLT. Fase diam yang digunakan yaitu gel
60 F254, dan fase geraknya n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 2:3.
Setelah dilihat di bawah sinar UV, terdapat 3 bercak noda, hal ini berarti perlu
dilakukan rekristalisasi kembali karena masih terdapat zat pengotor. Setelah di
rekristalisasi dan dilakukan cek KLT, didapat 1 bercak noda yang menandakan zat
sudah murni. Sehingga didapat nilai Rf 0,6.






































BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Dalam melakukan maserasi pilih metode yang mudah dan efektif.
2. Pelarut yang digunakan saat maserasi harus cocok dan dapat melarutkan
sampel yang akan di maserasi
3. Jumlah isolat piperin (alkaloid) dari buah lada hitam (piper nigrum),
diperoleh sebanyak 0,1362 gram.
2. Jumlah randemen yang diperoleh sebanyak 1,362 %
3. Hasil identifikasi dengan KLT didapatkan 1 bercak noda, dengan nilai Rf
0,6.
4. Dari hasil KLT menunjukkan senyawa tersebut murni dan bebas zat
pengotor.

4.2. Saran
1. Pada saat praktikum, kita harus tahu pelarut yang akan kita gunakan selama
isolasi zat, ini untu mengurangi tingkat kesalahan dan kecelakaan kerja.
2. Setiap melakukan pengerjaan kita harus tahu kegunaan alat-alat yang kita
gunakan dan tujuannya.
3. Selama praktikum kita harus menggunakan perlengkapan pribadi seperti
jas labor, sarung tangan dan masker.
4. Apabila ada yang kurang paham, tanyakan ke asistent labor.
5. Untuk rekristalisasi piperin jangan terlalu banyak menambahkan n-heksana
karena dapat merusak bentuk Kristal
6. Gunakan pelarut seperlunya saja terutama saat maserasi, cukup sampai
sampel terendam pelarut.






DAFTAR PUSTAKA


Adijuwana, Nur M.A. 1989. Teknik Spektroskopi dalam Analisis Biologi. Bogor:
PusatAntarUniversitas IPB.

Alirman. 2001. Pengaruh Berbagai Kosentrasi Zat Pengatur Tumbuh Atonik dan
Jumlah Ruas Terhadap Pertumbuhan Setek Leda. Skripsi Jurusan
Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Haluoleo

Anagha A. Rajopadhye, Anuradha S. Upadhye, and Arvind M. Mujumdar.2011.
HPTLC Method for Analysis of Piperine in Fruitsof Piper Species. Journal
of Planar Chromatography 24. Akadmiai Kiad, Budapest

Arsyad, M. Natsir, 2001, Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah, Gramedia,
Jakarta.

Centeralhealth. 2014. Gambar lada hitam. Aviable from :
http://www.centeralhealth.com/lada-hitam.htm. Accesed : 2014, Juni 06.

Cordell,G,A.1981.Introduction toAlkaloids, Awiley-Interscience Publication,N,Y.

Departemen Kesehatan Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes :
Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta:
Depkes RI.

Harjono,S. 1996. Sintesis Bahan Alam.Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

Harbone, J.B.1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan
Terbitan Ke 2, Penerbit ITB : Bandung.
Ibnu Gholib Gandjar. Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka
Pelajar :Yogyakarta.

Keenan,W.C. 1999. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Edisi Keenam. Jilid 2.
Jakarta: Erlangga


Nurmas, A. 2010. Hand Out Mata Kuliah Budidaya Tahunan. Komoditas Lada.
Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Haluoleo. Kendari.

Raghuveer,K,G and Ananthakrishna,S,M.1980.Journal of Science and
Technology,volume 17.

Margraf Mareike,Rene Borstel,dkk . 2013. Preparative Isolation of Piperine from
Black Pepper Extracts. Knauer : Berlin

S,Ketaren.1985.Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka : Jakarta

Syakir, M. 2001. Makalah Falsafat Sains. Program Pasca Sarjana IPB Bogor

Voigt.R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi V. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Williamson. 1999. Macroscale and Microscale Organic Experiments. Houghton
Mifflin Company, USA.