Anda di halaman 1dari 26

Pencabutan Gigi pada Anak, Space maintainer, dan

Koreksi Anterior Crossbite






Disusun oleh:
Alifah Inarah Ghassani 1006666974
Ajrina Busri 100




Pembimbing:
drg. Eva Fauziah, Sp.KGA (K)





Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia

Oktober 2014

2

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pencabutan Gigi pada Anak.................................................... ... 4
2.2 Space maintainer .......................................................................... 13
2.3 Koreksi Anterior Crossbite.......................................................... 21

BAB III KESIMPULAN................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 26


3

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagian besar anak-anak pasti pernah mengalami masalah pada gigi dan mulut. Rasa
sakit pada gigi dan mulut dapat membuat anak tidak nyaman serta turut menurunkan selera
makan mereka. Aktivitas anak pun terutama yang berhubungan dengan fisik juga dapat
menjadi terganggu karena rasa tidak nyaman pada gigi dan mulut. Beberapa masalah yang
sering dijumpai pada anak-anak umumnya adalah gigi yang sakit karena berlubang, gigi
goyang, dan gigi yang tumbuh tidak rapi. Hal ini menunjukkan perawatan gigi dan mulut
sangat penting pada anak, baik restorasi untuk karies, atau perawatan pulpa untuk karies yang
sudah sangat meluas, sampai tindakan pencabutan.
Perawatan gigi dan mulut pada anak penting dilakukan untuk menghindari kerusakan
yang lebih lanjut pada gigi tetap yang jika rusak tidak dapat digantikan. Berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, jenis perawatan yang diterima penduduk yang
mengalami masalah gigi dan mulut, jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk
yang mengalami masalah gigi dan mulut yaitu pengobatan 87,6% pencabutan gigi 38,5%.
Prosedur pencabutan gigi pada anak tidak jauh berbeda dengan pencabutan gigi pada dewasa,
namun terdapat berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam menangani pasien anak,
mencakup aspek psikologis dan anatomis yang berbeda pada pasien dewasa. Oleh karena itu,
Pada perawatan gigi dan mulut pada anak, diperlukan kerjasama antara dokter dan orang tua
sehingga perawatan dapat berjalan dengan baik.
1
Pada kasus kehilangan gigi sulung sebelum waktunya atau bahkan kehilangan gigi
tetap, biasanya gigi molar pertama di usia anak-anak tentunya dapat mempengaruhi erupsi dan
perkembangan oklusi dalam rongga mulut anak. Hal tersebut dapat menyebabkan malposisi
gigi pada periode gigi campur atau maloklusi yang juga menjadi masalah kesehatan gigi dan
mulut anak. Untuk mempertahankan ruang agar gigi tidak migrasi pada kehilangan gigi
sebelum waktunya, dapat menggunakan alat space maintainer sehingga kasus maloklusi dapat
dihindari. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pencabutan gigi sulung, space
maintainer dan perawatan untuk mengkoreksi anterior cross bite.


4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pencabutan Gigi pada Anak
2.1. Pencabutan Gigi pada Anak
Prinsip pencabutan gigi sulung tidak berbeda dengan gigi permanen, tetapi harus
diingat bahwa di bawah gigi sulung terdapat benih gigi permanen yang mahkotanya sangat
dekat dengan akar gigi sulung terutama gigi molar dua sulung dengan penggantinya yaitu
premolar dua terjepit di antara akar gigi sulung molar dua tersebut, sehingga saat pencabutan
gigi molar dua sulung, premolar dua dapat terganggu. Rongga mulut anak lebih kecil dari
rongga mulut orang dewasa sehingga mempengaruhi ruang kerja dalam melakukan tindakan
pencabutan ataupun tindakan operasi.Sebelum melakukan pencabutan gigi perlu dilakukan
anastesi lebih dulu.Pada umumnya diberikan anastesi lokal, tetapi pada keadaan tertentu
dilakukan anastesi umum yang dilakukan oleh spesialis anastesi.
2
Beberapa hal perlu dilakukan sebelum pencabutan pada pasien anak, antara lain
adanya izin tertulis dari orang tua (informed concent) sebelum melakukan anastesi pada
pasien anak, kunjungan untuk pencabutan sebaiknya dilakukan pagi hari (saat anak masih
aktif) dan dijadwalkan, sehingga anak tidak menunggu terlalu lama karena anak cenderung
menjadi lelah menyebabkan anak tidak koperatif. Instrumen yang akan dipakai sebaiknya
jangan diletakkan di atas meja namun diletakkan pada tempat yang tidak terlihat oleh anak
dan diambil saat akan digunakan. Selain itu, perhatikan untuk tidak mengisi jarum suntik di
depan pasien karena dapat menyebabkan rasa takut dan cemas.Sebaiknya informasikan
kepada anak yang sebenarnya bahwa akan ditusukdengan jarum (disuntik) dan akan terasa
sakit sedikit sehingga anak dapat mengembangkan rasa percaya pada dokter.
3
2.1.1. Anestesi
2.1.1.1.Anatomi Persyarafan
4
Anatomi saraf maksila sama antara pada anak- anak dan orang dewasa (Gambar 2.1.1) Saraf
maksila berasal dari cabang kedua dari saraf trigeminal. Sedangkan anatomi mandibula
sedikit berbeda antara orang dewasa dan anak- anak (Gambar 2.1.2). Pada anak umur 3 tahun,
foramen mandibula yaitu lubang untuk menuju saraf mandibularis, terletak 4,12 mm di bawah
5

oklusal. Pada umur 9 tahun terletak pada oklusal, dan ketika dewasa setelah masa pubertas
4,16 mm di atas garis oklusal. Saraf mandibula sendiri berasal dari cabang ketiga dari saraf
trigeminal.

Gambar 2.1.1 Anatomi saraf maksila dan mandibula

Gambar 2.1.2 Perbedaan letak foramen mandibula pada anak dan orang dewasa
2.1.1.2. Bahan Anestesi
5
Bahan Anestesi terdiri dari 2 golongan yaitu golongan amida dan golongan ester.Berikut
adalah contoh dari kedua golongan tersebut.

6

Tabel 2.1.1 Klasifikasi Bahan Anestesi
Bahan yang sering digunakan sebagai anastetikum adalah lidocaine dan epinephrine
(vasokonstriktor). Lidocaine 2 % dan epinephrine 1 : 80.000 merupakan pilihan utama
(kecuali bila ada alergi lidokain, walaupun hal ini jarang terjadi). Anastetikum tanpa adrenalin
kurang efektif dibandingkan dengan adrenalin.Epinefrin dalam anestesi lokal adalah sebagai
vasokontriktor. Vasokonstriktor berfungsi untuk menurunkan konsentrasi plasma puncak
dalam agen anestesi, meningkatkan durasi dan kualitas dari anesthesia, menurunkan
konsentrasi minimum yang dibutuhkan dari anestesi supaya dapat bekerja (terutama dalam
anestesi blok), dan mengurangi kehilangan darah selama proses bedah. Contoh bahan
anastetikum lain yang sering digunakan: 1. Lidocaine (Xylocaine) HCl 2 % dengan
epinephrine 1 : 100.000 2. Mepivacaine (Carbocaine) HCl 2 % dengan levanordefrin (Neo-
cobefrin) 1 :20.000. 3. Prilocaine (Citanest Forte) HCl 4 % dengan epinephrine 1 : 200.000.
Dosis yang diperkenankan adalah berdasarkan berat badan anak.
Amides Esters

Bupivacaine
Etidocaine
Levobupivacaine
Lidocaine
Mepivacaine
Prilocaine
Ropivacaine
Benzocaine
Chloroprocaine
Cocaine
Procaine
Tetracaine

7


Tabel 2.1.2 Dosis Anestesi pada Anak
2.1.1.3. Macam Anestesi
6
a. Anestesi Topikal
Anestesi topikal adalah kondisi dari baal sementara yang disebabkan oleh penggunaan bahan
tertentu pada permukaan tubuh.Pada kedokteran gigi, anestesi topikal diaplikasikan langsung
pada mukosa mulut.Anestesi topikal digunakan untuk mengurangi rasa sakit karena tusukan
jarum atau prosedur dental lainnya.Anestesi ini tersedia dalam bentuk gel, salep, semprotan,
dan adhesive patch. Beberapa anestesi topikal memiliki rasa seperti buah-buahan, mint, atau
bubble gum.8 Sebelum anestesi topikal diaplikasikan, mukosa yang akan diinjeksi jarum
harus dikeringkan dengan kasa atau kapas. Kemudian anestesi topikal diaplikasikan dengan
menggunakan kapas dan ditahan minimal selama 1 menit.Waktu yang dibutuhkan untuk
bekerja bervariasi dari 30 detik hingga 5 menit.
b. Anestesi Lokal
Secara anatomis, anestesi lokal secara anatomis dibagi menjadi (1) nerve block, di mana
anestesi dilakukan pada atau dekat cabang saraf utama, (2) field block, di mana anestesi
8

dilakukan pada cabang sekunder dari saraf utama, (3) local infiltration, di mana anestesi
dilakukan pada cabang terminal saraf.

Tabel 2.1.3 Injeksi yang direkomendasikan untuk prosedur restorasi atau pencabutan
A. Anestesi untuk gigi molar sulung dan tetap rahang atas
Teknik : Infiltrasi bukal
Prosedur: Tarik pipi agar area injeksi dapat terlihat, arahkan bevel jarum agar sejajar dengan
tulang, insersikan jarum pada area mukobukal fold, lalu insersikan jarum, sampai mencapai
kedalaman yang cukup untuk apikal dari akar gigi molar. Bevel jarum harus menghadap pada
periosteum tulang, aspirasi. Deposisikan obat anestesi perlahan, lalu tarik jarum dan
aplikasikan kapas dengan tekanan ringan untuk menghentikan hemostasis

Gambar 2.1.3 Infiltrasi untuk saraf (a) anterior (b) posterior
(c) middle superior alveolar
9

B. Anestesi untuk jaringan palatal
Inervasi : nervus anterior palatinus dan nervus nasopalatinus
Teknik : blok nasopalatine atau infiltrasi palatal
Untuk blok nasopalatine, jarum diinsersikan pada sisi kiri atau kanan papilla, biasanya lebih
sakit karena itu penanganan pada anak harus lebih diperhatikan. biasanya terjadi blanching.
Untuk infiltrasi palatal, gunakan kapas untuk menekan area palatal sebagai distraksi
ketidaknyamanan, insersikan jarum pada area antara kapas dan gigi Untuk infiltrasi palatal
dan bukal, dapat melalui interdental mesial dan distal dari gigi yang bersangkutan (injeksi
interpapila).

Gambar 2.1.4 Blok nasopalatine
2.1.2. Ekstraksi
2.1.2.1. Indikasi dan kontraindikasi
3
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapan dan bagaimana gigi sulung
harus diekstraksi antara lain meliputi oklusi, perkembangan rahang, ukuran gigi, jumlah akar,
resorpsi akar, tahap perkembangan gigi permanen pengganti gigi sulung tersebut dan gigi
yang bersebelahan, ada atau tidaknya infeksi.
Berikut merupakan indikasi dari ekstraksi gigi sulung antara lain pada gigi yang rusak dan tidak
dapat dipertahankan lagi di mana kerusakan mencapai bifurkasi atau struktur gigi pada bagian margin
gingival tidak dapat diperoleh, pada gigi yang terkena infeksi pada bagian periapikal atau inter
radicular dan tidak dapat disembuhkan, pada kasus abses dentoalveolar akut dengan selulitis. Selain
itu, pencabutan perlu dilakukan jika gigi sulung mempengaruhi erupsi normal gigi permanen
pengganti dan pada kasus gigi yang erupsi tidak sempurna
10

Kontraindikasi
Kontraindikasi pada ekstraksi gigi sulung, selain pada pertimbangan pada perawatan gigi anak
yang telah disebutkan di atas, sama seperti kontraindikasi pada dewasa. Beberapa
kontraindikasi adalah relatif tergantung pada kondisi dan dapat dihindari dengan premedikasi,
antara lain pada kondisi stomatitis infeksi akut, infeksi Vincent akut atau stomatitis herpetik
dan lesi serupa di mana lesi tersebut harus dieliminasi terlebih dahulu sebelum ekstraksi
dilakukan, kecuali pada kondisi seperti abses dentoalveolar akut disertai selulitis yang
memerlukan ekstraksi segera.Pada anak yang memiliki kelainan darah yang rentan terkena
infeksi paska operasi dan perdarahan, pencabutan sebaiknya dilakukan hanya setelah
dilakukannya konsultasi dengan hematologis. Pada anak dengan penyakit jantung rematik
akut atau kronis, penyakit jantung bawaan, dan penyakit ginjal serta perisementitis akut, abses
dentoalveolar dan selulitis, membutuhkan pemberian antibiotik yang tepat jika ekstraksi
dibutuhkan. Selain itu, pada kondisi infeksi sistemik akut, keganasan, dan gigi yang masih
tersisa pada tulang yang telah teradiasi, pencabutan merupakan kontraindikasi kecuali pada
kondisi tertentu.Pada anak dengan diabetes mellitus diperlukan konsultasi lebih lanjut untuk
dilakukan pencabutan.
2.1.2.2. Peralatan
7
Alat yang digunakan saat ekstraksi gigi sulung adalah bein, cryer, dan forceps.Bein memiliki
fungsi untuk melonggarkan gigi atau akar dari soket tulang pada bagian awal sebelum
penggunaan forceps.Cryer digunakan untuk mengangkat akar yang tertinggal.Penggunaan
bein dan cryer perlu diperhatikan agar tidak merusak gigi yang berdekatan atau pun benih gigi
di bawahnya.Forceps berfungsi untuk mengangkat gigi dari tulang rahang.
2.1.2.3. Posisi
8
Sebelum melakukan perawatan dental, terlebih dahulu harus diperhatikan riwayat kesehatan,
riwayat dental, dan mencegah serta siap menangani keadaan darurat. Kemudian setelah itu
perlu diperhatikan manajemen pasien. Penting untuk menjelaskan apa yang akan dilakukan
kepada anak dengan lengkap dan jelas, menggunakan bahasa yang dimengerti. Pasien anak
mungkin saja menelan sesuatu, untuk mencegah hal ini, dibuat posisi kursi sedemikian rupa
sehingga sudut antara rahang atas dan lantai tidak lebih dari 45
o
. Dokter gigi harus berada
pada posisi yang membuatnya dapat mengontrol instrumentasi, memiliki akses penglihatan ke
daerah operasi dan dapat mengontrol kepala anak. Tangan yang tidak dominan diletakan di
11

mulut anak untuk mengontrol kepala anak, menyangga rahang yang sedang ditangani dan
meretraksi pipi, bibir atau lidah serta meraba prosesus alveolaris selama ekstraksi. Setelah
posisi operator benar, ekstraksi sudah dapat dimulai.
Posisi operator dalam melakukan ekstraksi gigi pada rahang atas, dokter gigi berada di depan
pasien, ibu jari dan telunjuk tangan kiri memegang prosesus alveolaris gigi yang akan
diekstraksi, dan tangan kanan memegang instrumen (gambar 7). Untuk ekstraksi gigi bawah
kiri, dokter gigi berada di depan pasien, tangan kiri memfiksasi rahang bawah dengan jari, dan
tangan kanan memegang instrumen (gambar 8). Sementara itu untuk ekstraksi gigi bawah
kanan, dokter gigi berada pada posisi jam 10 terhadap pasien dan melingkari kepala pasien
dengan lengan kiri. Lalu dengan tangan kiri, pegang pasien dengan ibu jari di lingual, telunjuk
di vestibulum dan jari tengah menyokong rahang bawah, dan tangan kanan memegang
instrumen. (Gambar 9)

Gambar 2.1.5 Ekstraksi Gigi Rahang Atas

Gambar 2.1.6 Ekstraksi Gigi Rahang Bawah Kiri
12


Gambar 2.1.7 Ekstraksi Gigi Rahang Bawah Kanan
2.1.2.4. Komplikasi pasca ekstraksi
9
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi setelah dilakukan ekstraksi antara lain,
adalah fraktur akar, trauma terhadap benih gigi tetap, dry socket dan perdarahan. Untuk
menghindari terjadinya fraktur tulang akar gigi sulung, perlu teknik yang baik dan hati-hati
saat melakukan pencabutan. Sedapat mungkin dikeluarkan dengan tang khusus untuk radiks
atau bein dan harus dikerjakan dengan hati-hati dan sebaiknya segera dikeluarkan sebelum
gigi tetapnya erupsi, karena dikhawatirkan sisa akar tersebut akan terjepit di antara gigi-gigi
tetap. Jika diperlukan, pembuatan radiograf dental dapat membantu untuk melihat posisi sisa
akar terhadap benih gigi tetapnya. Terjadinya trauma pada benih gigi tetap dapat
mengakibatkan benih gigi permanen dapat ikut tercabut atau berubah posisi. Jika benih gigi
permanen ikut tercabut segera kembalikan ke dalam soket, lalu gingival dijahit sehingga gigi
sulungnya tertutup. Observasi diperlukan pada benih gigi yang berubah posisi jika perlu
dilakukan reposisi. Dry Socket merupakan komplikasi yang jarang terjadi karena vaskularisasi
pada anak cukup baik, bila terjadi di bawah umur 10 tahun mungkin anak tersebut memiliki
gangguan sistemik seperti pada penderita anemia, defisiensi vitamin, gangguan nutrisi atau
terdapat infeksi. Selain itu, Perdarahan mungkin terjadi bila anak menderita penyakit darah
atau kemungkinan ada sisa akar atau tulang yang menyebabkan iritasi terhadap jaringan.

13

2. 2 Space maintainer

Space maintainer merupakan suatu alat cekat/lepasan yang digunakan untuk tindakan
pencegahan maloklusi dengan mempertahankan ruang yang ada agar tidak berubah.
Penggunaan space maintainer adalah pilihan terbaik untuk memanajemen ruang pada mixed
dentition untuk meminimalisasi perkembangan crowding pada gigi permanen, jika gigi molar
sulung tanggal sebelum waktunya. Ketika gigi molar sulung kedua (dm2) tanggal dini karena
karies atau erupsi ektopik molar permanen pertama (M1), maka gigi M1 akan tumbuh
bergeser ke arah mesial. Space maintainer digunakan untuk mempertahankan ruang yang
dibutuhkan oleh gigi yang akan erupsi agar mencegah pergeseran pertumbuhan M1 ke mesial
yang dapat menyebabkan maloklusi kelas 2. Khususnya pada mandibula, kehilagan gigi
kaninus dini dapat menyebabkan terjadinya migrasi inklinasi insisif ke arah distolingual
sehingga dapat menutup ruang kaninus. Pada beberapa kasus bahkan dapat dijumpai midline
shifting. Penggunaan space maintainer dapat membantu untuk menjaga ruang yang ada
sehingga mencegah terjadinya migrasi gigi.
10
Beberapa fungsi dari space maintainer antara lain:
- Mencegah pergeseran gigi ke ruang kosong yang terjadi akibat pencabutan gigi
- Mencegah ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang dicabut dini
- Memperbaiki fungsi pengunyahan, estetik, dan bicara setelah pencabutan dini
Lengkung gigi mengalami banyak perubahan pada periode mixed dentition sehingga
agak sulit untuk memperkirakan ukuran dan bentuk lengkung gigi dan rahang yang telah
tumbuh sempurna. Tidak semua dokter gigi melakukan perawatan space maintaineruntuk
kasus tanggalnya gigi sulung dini, karena tidak semua gigi sulung yang tanggal dini
memerlukan space maintainer. Hal ini bergantung pada jenis gigi, letak gigi pada rahang, dan
waktu tanggal dini dari gigi tersebut. Pada banyak kasus pencabutan gigi sulung dini dapat
menyebabkan crowding, tapi ada juga kasus pencabutan gigi sulung dini yang tidak
menyebabkan crowding. Oleh sebab itu, diperlukan banyak pertimbangan untuk memutuskan
perawatan dengan penggunaan space maintainer.
11

2.2.1 Indikasi, kontraindikasi, dan syarat pemasangan space maintainer
11,12
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemasangan space maintainer
pada anak. kehilangan prematur pada gigi sulung. Terjadinya congenital missing pada gigi
gulung, tidak adanya kelainan orthodonsi pada rahang yang akan dipasangkan space
maintainer, dan adanya kebutuhan estetis merupakan beberapa indikasi pemasangan space
14

maintainer. Selain itu, space maintainer juga diindikasikan sebagai penuntun erupsi gigi
molar satu permanen dan persiapan membuat bridge. Space maintainer penting untuk
dipasang pada rahang yang jika tidak dipasangkan space maintainer akan menyebabkan
maloklusi atau memicu terjadinya kebiasaan buruk atau trauma fisik. Ada juga beberapa
kriteria kontraindikasi pemasangan space maintainer, yaitu anak dengan kelainan orthodonsi,
anak yang memiliki kebiasaan buruk, anak dengan resiko karies yang tinggi, dan juga anak-
anak penderita kebutuhan khusus, keterbatasan fisik, atau sindrom tertentu.
Selain indikasi dan kontraindikasi, ada juga syarat-syarat uang penting untuk
diperhatikan dalam pemasangan space maintainer. Pemasangan space maintainer tidak boleh
mengganggu erupsi gigi permanen dibawahnya dan juga gigi antagonisnya, juga dapat
menjaga ruang dimensi proksimal.Selain itu, pemasangan space maintainer tidak boleh
mempengaruhi fungsi bicara, pengunyahan, dan juga fungsi pergerakan
mandibula.Pemasangan space maintainer harus dapat mencegah terjadinya ekstrusi gigi
lawan.Selain itu, space maintainer tidak boleh memberikan tekanan abnormal pada gigi
penyangga dan tidak boleh mengganggu jaringan lunak. Desain dari space maintainer harus
sederhana, ekonomis, dan juga mudah dibersihkan.

2.2.2 Analisis yang digunakan pada penerapan Space maintainer
10
Analisis yang digunakan dalam pemasangan space maintainer dapat dilakukan dengan
pengamatan langsung maupun dengan metode anlisis gigi-geligi campuran.Pengamatan
langsung dapat dilakukan dengan cara observasi langsung ukuran gigi-gigi sulung dalam
mulut anak sehingga bisa diperkirakan ukuran gigi penggantinya. Penilaian potensi ruang
dengan pengamatan langsung dapat juga ditunjang dengan foto rontgen dari gigi-gigi yang
belum erupsi, yang dapat menunjukkan ukuran lengkung gigi dari gigi pengganti. Analisis
dengan metode analisisi gigi-geligi campuran dapat dilakukan dengan metode Nance, Moyers,
Huckaba, ataupun metode Johnson dan Tanaka.

2.2.3 Klasifikasi space maintainer
13
Klasifikasi space maintainer menurut Hitchcock dibagi menjadi empat kategori. Yang
pertama adalah klasifikasi berdasarkan pemasangan space maintainer yang terbagi menjadi
removable, semifixed, dan fixed. Kemudian, klasifikasi berdasarkan fungsi space maintainer
yaitu space maintainer fungsional dan space maintainer non fungsional. Berdasarkan
kemampuannya untuk menggerakkan gigi, space maintainer diklasifikasikan menjadi space
15

maintainer aktif dan pasif. Yang terakhir adalah kombinasi dari semua kategori klasifikasi
diatas.

A. Jenis space maintainer berdasarkan cara pemasangannya:
13

Removable
Ada dua macam konstruksi space maintainer removable:
1. Removable Space maintainertanpa klamer retensi (seluruhnya terbuat dari akrilik).
Terutama dibuat bila kehilangan gigi bilateral simetris. Retensinya didapatkan dari
tepi-tepi servikal gigi. Dapat dibuat dengan self curing acrylic karena mudah dan
mempercepat waktu pembuatan
2. Removable Space maintainerdengan klamer retensi, dibuat pada kasus yang
memerlukan retensi dari kawat klamer. Ada berbagai jenis klamer yang dapat
dipergunakan, yaitu:
a) Klamer Labial bow
Klamer labial bow (Gambar 2.2.1) berfungsi untuk mencegah gigi bergerak
ke depan pada rahang atas dan pada rahang bawah hanya perlu digunakan
jika terjadi overbite. Untuk RB, bila hubungan RA dan RB normal (overbite
normal) tidak perlu dibuatkan labial bow karena pergeseran gigi-gigi RB ke
depan akan ditahan oleh permukaan palatal gigi-gigi RA. Tujuan pembuatan
labial bow pada RB hanya untuk retensi supaya alat tetap pada tempatnya.
Letak labial bow harus cukup jaraknya dari gingiva dan jangan sampai
mengenai interdental papila karena dapat mengiritasi gingiva. Sebaiknya
lengan labial bow dibuat melalui cusp dari gigi C tetapi tidak mengganggu
oklusi.

Gambar 2.2.1 Klamer Labial Bow

16

b) Occlusal rest
Fungsi dari occlusal rest (Gambar 2.2.2) adalah untuk menghindari
kemungkinan terjadinya hambatan pertumbuhan rahang ke arah lateral. Pada
umunya digunakan pada rahang bawah yang tidak menggunakan labial bow.

Gambar 2.2.2 Occlusal Rest
c) Interproximal spur atau interproximal loop
Interproximal loop (Gambar 2.2.3) dipakai sebagai retensi tambahan pada
anak-anak karena sering memainkan lidahnya dan space maintainer tetap
dipakai waktu makan maka perlu dibuatkan klamer retensi. Dapat dipakai
pada RA maupun RB.

Gambar 2.2.3 Interproximal Loop
d) Klamer C
Klamer C dibuat hampir mengelilingi gigi dan dapat menghasilkan retensi
yang cukup baik. Namun demikian, pemasangan klamer C dapat
menghalangi pertumbuhan tulang rahang ke arah lateral. Oleh karena itu,
diperlukan kontrol yang teratur pada penggunaan klamer C. Jika terlihat
gejala akan terjadi crossbite maka pemakaian klamer ini dapat diganti
dengan occlusal rest.
Pemakaian space maintainer removable memiliki beberapa keuntungan
tersendiri. Selain baik jika dilihat dari segi estetik, space maintainer removable mudah
dibersihkan di luar rongga mulut sehingga memungkinkan kebersihan mulut dan gigi
geligi dapat terjaga. Selain itu, dapat dikombinasikan dengan alat pencegahan yang lain,
terutama pada kasus interceptive orthodontic. Pergerakan dari alat dapat membantu
melancarkan sirkulasi darah pada jaringan lunak. Space maintainer removable juga dapat
membantu fungsi pengunyahan dan bicara pada kasus fungsional, menjaga lidah tetap
17

pada posisinya, dan membantu merangsang erupsi gigi tetap. Pada penggunaan space
maintainer removable, bila terjadi karies pada gigi geligi mudah terlihat dan dapat segera
ditanggulangi. Ruangan untuk erupsi gigi juga tetap dapat dibuat dengan mengurangi plat
pada bagian gigi yang akan erupsi tanpa membuat alat baru.
Meskipun demikian, seperti hal nya alat lain, terdapat juga beberapa kekurangan
space maintainer removable, di antaranya adalah alat dapat hilang, patah, atau pun pecah
jika tidak dijaga dengan baik. Pada beberapa kasus pasien yang tidak kooperatif dapat
juga terjadi ketidakmauan pasien untuk memakai alat tersebut. Selain itu, pada
pemakaian klamer C dapat menghalangi pertumbuhan rahang kolateral. Beberapa tipe
alat removable juga dapat mengiritasi jaringan lunak. Untuk menghindari terjadinya
iritasi, maka dipertimbangkan penggunaan alat semi-fixed atau fixed.

Semi fixed atau Fixed space maintainer
13
Fixed space maintainer adalah space maintainer cekat yang mempunyai 2 gigi abutment
atau pada sebelah mesial dan distal diastema. Sedangkan yang dimaksud dengan
Semifixed space maintainer adalah space maintainercekat dengan pegangan pada satu sisi
dari diastema.
1. Band / crown and loop
Indikasi dari penggunaan band / crown and loop (Gambar 2.2.4 dan Gambar 2.2.5) ini
adalah kehilangan gigi molar sulung unilateral setelah atau selama gigi molar satu
permanen erupsi. Band digunakan pada gigi abutment yang masih baik sedangkan
crown digunakan untuk gigi abutment yang sudah karies (perlu direstorasi).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam desain loop. Lengan dari loop harus
ditempatkan pada sepertiga tengah dan servikal dan tidak menganggu oklusi, kontur
dari loop harus disesuaikan dengan kontur gingiva, dan lebar dari loop harus cukup
untuk erupsi premolar dalam loop.
Keuntungan penggunaan band/crown and loop antara lain konstruksinya yang mudah
dan cepat, waktu kunjungan yang lebih sedikit, dan banyak modifikasi yang bisa
digunakan. Sementara itu, kekurangannya antara lain tidak bisa menyeimbangkan
lengkung rahang, tidak fungsional, tidak bisa digunakan untuk kehilangan beberapa
gigi, dan kadang alat bergerak karena tekanan kunyah.
18


Gambar 2.2.4 Band and Loop Gambar 2.2.5 Crown and Loop
2. Distal shoe
Distal shoe (Gambar 2.2.6) digunakan untuk kasus kehilangan gigi molar sulung
kedua sedangkan gigi molar satu permanennya belum/hampir erupsi. Kehilangan dini
gigi molar dua sulung menyebabkan gigi molar satu tetap yang belum erupsi tersebut
bergeser ke mesial dalam tulang alveolar. Cara pembuatan distal shoe adalah dengan
melakukan pencetakan model gigi sebelum atau sesudah pencabutan gigi molar kedua
sulung. Band kemudian diletakkan pada model gigi molar satu sulung dan diberikan
perpanjangan bar hingga ke distal molar dua sulung setelah gigi molar dua sulungnya
dikikir dari model. Sebuah stainless steel lalu disolder pada ujung distal loop/bar dan
ditempatkan pada area yang diekstraksi. Perpanjangan stainless steel ini berperan
sebagai panduan gigi molar satu tetap untuk erupsi pada posisi yang seharusnya dan
ditempatkan 1 mm di bawah mesial marginal ridge dari gigi molar yang belum erupsi.
Harus dipastikan ujung bar distal tidak berlebih karena dapat melukai benih gigi tetap,
dan tidak terlalu pendek karena jarak yang ada dapat membuat molar tipping. Setelah
alat siap di aplikasikan, lakukan ekstraksi gigi molar kedua sulung. Band & bar dapat
disementasikan ke molar satu sulung dengan posisi distal bar masuk ke soket gigi
molar kedua sulung.

Gambar 2.2.6 Distal Shoe
19

3. Lingual dan palatal arch wire
Lingual arch wire (Gambar 2.2.7) dan palatal arch wire (Gambar 2.2.8) digunakan
pada kasus kehilangan satu atau lebih gigi posterior atau kehilangan gigi sulung
posterior setelah erupsi gigi insisif tetap rahang bawah, baik unilateral ataupun
bilateral. Dapat juga digunakan untuk kehilangan dini gigi kaninus sulung.
Penggunaan lingual arch dan palatal arch selain dapat mempertahankan lengkung
rahang juga dapat mencegah terjadinya rotasi gigi-gigi insisiv dan mencegah
pergerakan gigi-gigi posterior kea rah anterior.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada desain arch adalah arch harus berkontak
dengan singulum insisif permanen yang sudah erupsi. Arch wire diletakkan 2mm di
bawah gingiva margin dari ridge edntulus, 1-2 mm ke arah lingual dari area posterior
agar erupsi dapat terjadi. Keuntungan penggunaan arch wire antara lain dapat
digunakan untuk mempertahankan ruang dan juga banyak jenis modifikasinya.
Kekurangannya adalah konstruksinya yang sulit dan dapat terjadi distorsi pada alat
karena pergerakan lidah.

Gambar 2.2.7 Lingual Arch Wire


Gambar 2.2.8 Palatal Arch Wire



20

B. Jenis space maintainer berdasarkan fungsinya: Fungsional dan Non Fungsional
13

Space maintainer fungsional ditujukan untuk mendukung fungsi pengunyahan.
Contohnya, pada daerah diastema dapat dibuat dengan tambahan elemen gigi atau tanpa
elemen gigi tetapi dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berkontak dengan gigi
antagonisnya.Keuntungan penggunaan space maintainer fungsional adalah pasien dapat
mengunyah sesuai dengan fungsi gigi. Akan tetapi, perlu diperhatikan pada waktu erupsi gigi
pengganti karena bila kurang kontrol dapat mengganggu erupsi gigi tetap karena terhalangi
oleh plat.

C. Jenis space maintainer berdasarkan kegunaannya: Aktif atau Pasif
13

Space maintainer aktif disebut juga space regainer. Space regainer (Gambar 2.2.10)
dibuat dalam bentuk space maintainer removable yang ditambahkan kawat yang dapat
diaktifkan untuk mendapatkan ruangan kembali setelah terjadinya penyempitan dari diastema.
Dapat juga dibuat dalam bentuk cekat banyak dijumpai pada kasus tidak adanya ruangan
untuk gigi P2 karena begeraknya gigi M1 ke mesial. Space regainer dapat digunakan pada
kasus tidak adanya cukup ruang untuk premolar kedua rahang bawah tetapi masih ada ruang
di antara premolar pertama dan kaninus. Selain itu dapat juga digunakan pada kasus di mana
molar pertama bergeser ke mesial. Dalam pemakaian alat ini, harus dilakukan kontrol secara
teratur, agar evaluasi perawatan dapat diikuti sehingga hasilnya dapat sesuai dengan yang
direncanakan.

Gambar 2.2.10 Space Regainer

D. Kombinasi
13

Contoh: space maintainer/space regainer fungsional aktif: menggunakan expansion screw
yang ditambahkan elemen gigi-geligi.
21

2.3 Koreksi Anterior Crossbite
Crossbite atau gigitan silang anterior (maloklusi kelas I tipe 3), merupakan kelainan
posisi gigi anterior rahang atas yang beroklusi lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang
bawah. Crossbite anterior dapat dijumpai pada anak terutama pada periode gigi bercampur.
Kasus ini sering menjadi keluhan pasien oleh karena selain menimbulkan penampilan yang
kurang menarik, juga dapat mengakibatkan terjadinya trauma oklusi, pembentukan poket di
labial gigi anterior rahang bawah, dan facet di permukaan insisial dan labial gigi I rahang
atas.
12

Crossbite anterior harus dapat dibedakan dengan maloklusi kelas III. Perbedaan
prinsip antara crossbite dengan maloklusi kelas III adalah pada saat pergerakan menutup
mulut mandibula. Pasien diminta untuk membuka mulut kemudian diminta menutup
mulutnya secara perlahan dan amati pergerakannya. Apabila saat menutup mulut posisi
mandibula pasien bergeser ke depan untuk mendapatkan penutupan mulut yang sempurna
(centric occlusion) maka dapat dikatakan bahwa pasien tersebut memiliki crossbite anterior.
Tetapi jika pada saat menutup mulut tidak ada pergerakan ke depan dari mandibula untuk
mencapai oklusi sentrisnya maka hal tersebut termasuk maloklusi kelas III.
Penyebab crossbite anterior pada gigi geligi anak antara lain persistensi gigi sulung
yang menyebabkan gigi permanen tumbuh ke arah palatal, adanya gigi supernumerary yang
letaknya lebih ke labial dibandingkan gigi I rahang atas, adanya traumatic injury pada gigi
sulung anterior sehingga arah pertumbuhan gigi permanennya berubah, defisiensi panjang
lengkung gigi sehingga erupsi gigi permanen lebih ke palatal, dan letak atau arah benih gigi
tetap tidak sesuai.
12

Crossbite anterior tersebut dapat menyebabkan abrasi yang berlebihan dari gigi
anterior RA dan RB, ditandai dengan adanya pengikisan enamel pada permukaan labial dan
lingual dari gigi yang terlibat. Biasanya juga dijumpai kelainan patologis periodonsium
berupa inflamasi gingiva dan pembentukan poket pada aspek labial gigi rahang bawah. Selain
itu timbul gangguan fungsional pada pergerakan rahang bawah dan gangguan pertumbuhan
rahang bawah. Pergeseran rahang bawah ke anterior yang terjadi secara terus menerus dapat
mengubah pola pertumbuhan wajah anak.
12

Sebagian besar kasus crossbite anterior harus segera ditangani, karena jika
perawatannya ditunda dapat menyebabkan komplikasi seperti berkurangnya panjang lengkung
rahang. Agar perawatan crossbite berhasil, gigi yang mengalami crossbite tersebut masih
22

erupsi sebagian dan harus memiliki ruang di sebelah mesial dan distal yang cukup untuk
menggerakkan gigi yang crossbite ke posisi yang benar. Hubungan oklusi M dan C pasien
tersebut normal (kelas I Angle) dan bagian apikal dari gigi yang terkunci harus pada posisi
yang relatif sama dengan posisinya saat dalam keadaan normal.
12

Perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi crossbite adalah:
1. Tongue Blade
12

Tongue blade dapat digunakan jika anak kooperatif dan memiliki motivasi kuat
untuk memperbaiki keadaan giginya serta keadaan gigi crossbite berada pada fase awal
erupsi dengan tingkat in-locking minimal dan biasanya dapat direposisi dalam 24 jam.
Tongue blade ditempatkan di belakang gigi yang terkunci (Gambar 2.3.1). Pasien
dan orang tua diinstruksikan untuk menekan tongue blade ke bawah dengan tangan dengan
tujuan untuk mendorong gigi anterior ke depan, salah satu ujung tangan diletakkan di
permukaan palatal gigi yang crossbite. Sedangkan ujung tangan lainnya memegang labial
dari gigi bawah sehingga gigi bawah menjadi tumpuan. Latihan dilakukan 20 kali
sebelum makan dan pasien harus menghitung sampai 5 hitungan.
Jika latihan ini dilakukan dengan benar setiap harinya maka dalam kurun waktu 1-2
minggu perawatan akan sukses. Namun, jika pasien tidak melakukannya secara
berkelanjutan / tidak disiplin maka perawatan ini akan gagal dan diganti dengan perawatan
lain.
Gambar 2.3.1 Posisi Tonge Blade


23

2. Bite Plane
12

Perawatan crossbite juga dapat dilakukan dengan acrylic bite plane yang disementasi
pada 4-6 gigi anterior bawah. Bite plane sebaiknya bersudut 45
o
terhadap bidang horizontal
supaya ada gerakan meluncur dari gigi atas yang crossbite tersebut, namun tidak boleh
menekan gingiva.
Bite plane digunakan pada kasus maloklusi Angle kelas I (neutroklusi) dengan
linguoversi gigi-gigi anterior bawah agar gigi tersebut proklinasi, atau crossbite atau
palatoversi gigi anterior atas. Bite plane juga dapat digunakan pada kasus maloklusi Angle
kelas II (distoklusi) untuk mengubah kedudukan mandibula agar lebih ke depan, serta pada
kasus maloklusi Angle kelas II divisi 2 untuk proklinasi gigi anterior atas kemudian diikuti
pemakaian maxillary inclined bite plane untuk mendorong mandibula maju ke depan. Pada
kasus maloklusi Angle kelas III (mesioklusi) dengan crossbite anterior, bite plane
digunakan untuk mendorong mandibula ke belakang dan proklinasi gigi anterior rahang
atas.
Alat ini dipasang dalam mulut dan jika metode ini berhasil maka I maksila akan
bergerak jauh ke arah labial daripada gigi bawah dan mencapai oklusi yang normal dalam
7-10 hari. Aktivitas fisik anak sebaiknya dikurangi selama masa perawatan menggunakan
bite plane, karena gigi yang beroklusi dengan bite plane sangat rentan terjadi avulsi atau
luksasi akibat benturan pada dagu.
Gambar 2.3.2 Bite Plane
24

Gambar 2.3.3 Koreksi crossbite anterior menggunakan bite plane

3. Hawley-type appliance
12

Merupakan alat orthodonti lepasan yang memanfaatkan gaya pegas untuk mendorong
gigi I atas dari arah palatal. Alat ini dapat digunakan pada satu atau dua gigi yang
crossbite, khususnya gigi I2. Selain itu, alat ini menjadi space maintainer dan
memperbaiki kelainan minor pada lengkung rahang.
Gambar 2.3.4 Hawley-type appliance


25

BAB 3
KESIMPULAN


Pencabutan gigi sulung adalah salah satu tindakan perawatan yang dilakukan jika gigi
sulung tersebut sudah waktunya tanggal, persistensi, impaksi, gigi supernumerary, atau
mengalami karies yang parah dan tidak dapat direstorasi. Tindakan tersebut memerlukan
prosedur anestesi lokal untuk mengurangi ketidaknyamanan anak saat perawatan. Manajemen
anak dan kerja sama dengan orang tua diperlukan agar prosedur anestesi lokal berhasil.
Pencabutan gigi sulung sebelum waktunya tanggal seringkali dilakukan dokter gigi
pada karies parah yang tidak dapat dipertahankan. Pencabutan gigi sulung tersebut dapat
mengganggu gigi geligi yang lain. Oleh karena itu, diperlukan space maintainer yang dapat
mempertahankan ruang yang disebabkan oleh kehilangan gigi sulung dini.Pemilihan desain
space maintainer harus sesuai indikasi dan keadaan pasien.
Anterior crossbite yang sering ditemui pada anak-anak dapat menimbulkan trauma
oklusi, facet di permukaan insisal dan labial, inflamasi gingiva, serta penampilan yang kurang
menarik. Masalah tersebut dapat ditangani oleh dokter gigi menggunakan tongue blade, bite
plane, atau Hawley-type appliances. Umumnya prognosis perawatan anterior crossbite baik.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. www.litbang.depkes.go.id/bl_riskesdas2007 . diakses tanggal 1 Maret 2014, 20.00
2. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
TERAPAN/pdi705_slide_anaesthesi.pdf
3. Finn, Sidney B. Clinical Pedodontics.Philadelphia : Saunders, 1973.
4. Ootole TJ. Administration of Local Anesthesia. Handbook of Clinical Pedodontics.
London: Mosby; 1980. p. 77-95.
5. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
TERAPAN/pdi705_slide_anaesthesi.pdf
6. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
TERAPAN/pdi705_slide_anaesthesi.pdf
7. Malamed, S. Handbook of Local Anesthesia, C.V. Mosby Co., 1980
8. http://www.brunswickdentist.com.au/pdf/Dental%20extractions.pdf
9. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
TERAPAN/pdi705_slide_anaesthesi.pdf
10. Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry. 3rd ed: Mosby Elsevier;
2008.
11. Stewart RE, Barber TK, Troutman KD, Wei SHY. Pediatric Dentistry : Scientific
Foundations and Clinical Practice. St. Louis: Mosby; 1982.
12. McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the Child and Adolescent. 8
th
ed. St.
Louis: Mosby, 2004.
13. Pinkham JR, Casamassimo PS, Fields H, McTigue D, Nowak A. Pediatric Dentistry :
Infancy Through Adolescence. 4th ed. Missouri: Elsevier Saunders; 2005.

Anda mungkin juga menyukai