Anda di halaman 1dari 20

Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari


H1A008026
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
hidayahNya penulis dapat menyelesaikan Laporan tinjauan pustaka parafimosis ini sebagai suatu
laporan atas hasil belajar penulis terkait materi parafimosis yang berhubungan dengan kegiatan
yang dilakukan pada Blok XIII semester V ini. Pada laporan yang berjudul parafimosis ini,
penulis membahas masalah yang berkaitan dengan parafimosis dimulai dari angka kejadian
parafimosis sampai ke pengobatan parafimosis beserta komplikasi dan prognosisnya.
Penulis mohon maaf jika dalam laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam menggali
semua aspek yang menyangkut segala hal yang berhubungan dengan parafimosis ataupun pada
pembahasan yang kurang memuaskan. Karena ini semua disebabkan oleh keterbatasan kami
sebagai manusia. Tetapi, kami berharap laporan ini dapat memberi pengetahuan serta manfaat
kapada para pembaca.


Penulis







I. Anatomi penis normal
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
2
Penis (penis) adalah salah satu bagian organ genitalia eksterna pada pria. Penis
merupakan organ kopulasi yang diselimuti oleh kulit yang longgar dan memuat uretra pars
spongiosa dan di dalamnya terdapat 3 jaringan erektil yang akan terisi darah apabila ada
stimulasi seksual saat koitus (Van De Graaff, 2001).

Penis dibagi menjadi 3 bagian : (Van De Graaff, 2001)

Pangkal penis
Terdapat dibawah tulang pubis yang berfungsi untuk stabilitas penis pada saat ereksi.
Pangkal penis meluas kearah posterior membentuk bulb of the penis dan crus of the
penis. Bulb terletak pada urogenital triangle pada perineum dan melekat pada
permukaan bawah diafragma urogenital dan dibungkus oleh musculus
bulbocavernosus. Sedangkan crus, menyambungkan pangkal penis ke ramus
isopubicus dan ke membran perineal. Crus yang terletak superior dari bulb, dibungkus
oleh musculus ischiocavernosus.

Batang penis (body/ shaft)
Merupakan bagian mayor penis yang terdiri dari 2 korpora kavernosa (kor'por-a
kav''er-no'sa) dan korpus spongiosum. Jaringan fibrosa diantaraa dua korpora
kavernosa membentuk septum penis. Korpus spongiosum (spon''je-o'sum) terletak
ventral dari kedua korpora kavernosa dan mengelilingi uretra pars spongiosa. Penis
dalam keadaan flaccid apabila jaringan seperti sponge ini tidak terisi darah dan
sebaliknya akan ereksi apabila terisi darah.

Glans penis
Adalah bagian distal dari korpus spongiosum yang berbentuk kerucut yang biasanya
dilapisi oleh kulit longgar (prepusisium) pada individu yang tidak disirkumsisi.
Jaringan melingkar dibelakang glans penis disebut sulkus koronarius. Pada ujung
glans penis terdapat orifisium uretra eksterna, yaitu tempat keluarnya urin dan semen.
Pada bagian bawah glans penis, terdapat lipatan jaringan vertikal yang disebut
frenulum (fren'yu-lum) yang melekatkan kulit yang melapisi penis dengan glans
penis. Kulit yang melapisi penis tidak ditumbuhi rambut, mengandung sedikit sel
lemak dan biasanya terpigmentasi lebih gelap dari bagian kulit yang lain. Kulit ini
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
3
melapisi glans penis dengan longgar dan disebut prepusisium / prepuce (pre'pyoos) /
foreskin.




Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
4

Penis yang belum disirkumsisi Penis yang telah disirkumsisi

Penis diinervasi oleh nervus dorsalis dextra dan sinistra (saraf sensori yang
utama) yang merupakan cabang dari nervus pudendus (Van De Graaff, 2001 ; Schuenke
& Faller, 2004).
Penis merupakan organ yang kaya pembuluh darah dan disuplai oleh arteri
pudenda interna yang berasal dari arteri iliaka interna yang bercabang menjadi deep
penile artery, bulbar artery dan urethral artery. Deep penile artery menjadi arteri
cavernosa, yang akan menyuplai seluruh korpus kavernosum. Urethral artery menyuplai
glans penis dan korpus spongiosum. Bulbar artery menyuplai uretra pars bulbaris dan
otot bulbospongiosus (Van De Graaff, 2001 ; Schuenke & Faller, 2004).

(Schuenke & Faller, 2004)
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
5

Penis dan hubungannya dengan struktur lain (Schuenke & Faller, 2004)


I I . Penile I njury
Injuri penis dapat dibagi menjadi 3, yaitu (American College of Emergency Physician,
1999) :
a. Fraktur penis
Fraktur penis terjadi dengan rupturnya corpora kavernosa akibat robeknya tunika
albuginea yang mengakibatkan hematoma subcutaneous yang luas. Hal ini sering
terjadi akibat penis yang ereksi yang dipaksa dan tertahan oleh benda solid, seperti
pubis, pada saan berhubungan seksual. Pasien dapat mendengar cracking sound
yang diikuti nyeri, pembengkakan dan deformitas penis. Konsultasi di bidang
urologi dibutuhkan untuk penanganan terbaik.

b. Zipper injuries
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
6
Injuri yang terjadi pada prepusisium ketika zipper / resleting celana ikut
meresleting bagian prepusisium penis pada anak yang belum disirkumsisi. Injuri ini
paling sering terjadi pada anak usia 3-6 tahun yang tergesa-gesa memakai celana
setelah berkemih.

c. Torniquet injuries
Biasanya disebabkan oleh balanitis, parafimosis atau selulitis pada penis. Injuri ini
terjadi apabila terbentuk cincin jeratan yang mengelilingi sulkus koronarius. Injuri
biasanya bersifat local, namun dapat juga menyebar ke uretra dan korpora.
Pengobatan biasanya dilakukan melalui pelepasan cincin jeratan dan pengobatan
terhadap infeksi yang dialami. Apabila dicurigai injuri pada bagian dalam penis,
maka perlu dilakukan follow up.










III. Parafimosis
Kelainan structural maupun inflamasi prepusisium dan glans penis merupakan
keluhan yang sering dijumpai pada keadaan gawat darurat. Dokter harus dengan akurat
mengidentifikasi dan mengatasi kondisi ini serta dapat mengenali kapan harus melakukan
rujukan untuk penanganan pasien yang lebih maksimal (Huang, 2009).

A. Definisi
Paraphimosis (say: para-fim-oh-sus) / Parafimosis merupakan kondisi
terperangkapnya prepusisium yang fimotik proximal dari korona penis (prepusisium
yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan ke keadaan
semula sehingga timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius) yang
menyebabkan edema dan pembengkakan glans dan prepusisium (Cranston & Reynard,
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
7
2005 ; Choe, 2000). Parafimosis berbeda dengan fimosis yang merupakan suatu
keadaan dimana prepusisium tidak bisa diretraksi ke belakang corona glandis.
Parafimosis merupakan suatu kegawatdaruratan di bidang urologi sedangkan fimosis
bukan merupakan keadaan kegawatdaruratan (Donohoe, 2009).
Gambaran skematis parafimosis :
(Donohoe, 2009)

B. Epidemiologi
Parafimosis relatif jarang ditemui dan lebih jarang ditemui daripada fimosis.
Parafimosis paling sering terjadi pada laki-laki yang setelah melakukan hubungan
seksual kemudian tertidur dan terbangun dengan gejala parafimosis atau pada kondisi
dilakukannya tindakan medis, pada pasien yang prepusisiumnya diretraksi untuk
membersihkan smegma pada pemasangan kateter, tidak dapat dikembalikan pada
posisi semula (Cranston & Reynard, 2005). Parafimosis juga sering terjadi pada
remaja (Huang, 2009).
Berdasarkan survei yang dilakukan di National Hospital di United States, tren
pada 30-40 tahun terakhir ini mengarah ke banyaknya orang yang tidak disirkumsisi.
Persentase pasien yang disirkumsisi yang awalnya sebesar 78-80% pada tahun
1960an, menurun menjadi 55-60% pada tahun 2003. Dengan bertambahnya jumlah
individu yang tidak disirkumsisi, parafimosis memiliki potensial untuk terjadi lebih
sering (Donohoe, 2009).

C. Faktor risiko
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
8
Parafimosis terjadi hanya pada pasien yang belum melakukan sirkumsisi atau
telah melakukan sirkumsisi parsial (Donohoe, 2009).

D. Etiologi
Penyebab tersering dari parafimosis adalah fimosis (fibrosis dan konstriksi dari
prepusisium yang terletak distal dari glans sehingga tidak memungkinkan retraksi
prepusisium). Ini mengarah ke pembentukan skar sirkular yang nantinya dapat
membentuk seperti tourniquet pada glans ketika prepusisium diretraksi, yang akan
mengganggu aliran vena dan limfatik (Chad & Julie, 2009).
Parafimosis sering terjadi setelah retraksi prepusisium setelah pemeriksaan
penis, pembersihan penis, kateterisasi atau sistoskopi. Sebelum insersi kateter uretral,
klinisi biasanya meretraksi prepusisium untuk membersihkan smegma untuk
melakukan proses secara steril. Prepusisium yang teretraksi tersebut dapat tetap dalam
posisi teretraksi selama beberapa jam atau beberapa hari. Kegagalan untuk
mengembalikan prepusisium ke posisi semula kadang kala mengarah ke kejadian
parafimosis. Parafimosis sekunder setelah ereksi juga dapat terjadi (Donohoe, 2009).
Pada studi kasus yang dilakukan Ramdass et al pada sebuah festival perayaan di
Trinidad & Tobago, telah terbukti bahwa akibat tradisi dansa yang kerap kali
dilakukan, menimbulkan hasrat seksual pada laki-laki yang dapat bertahan selama
beberapa jam. Hasrat seksual ini timbul akibat gerakan memutar pada bagian pinggul
dan daerah pelvis pada laki-laki dan wanita yang bersentuhan pada saat dansa
tradisional ini. Ereksi yang lama dan friksi dari penis ini ditambah faktor tight
preputitium, dapat berkontribusi terhadap perkembangan menjadi parafimosis
(Ramdass et al, 2000). Penyebab lain dari parafimosis adalah higienitas urogenital
yang buruk, balanopostitis kronis dan tindikan pada daerah genital (Chad & Julie,
2009).
Parafimosis dapat terjadi pada pasien yang belum disirkumsisi yang melakukan
tindikan penis. Perhiasan yang dimasukkan ke dalam glans penis pada pasien yang
melakukan tindikan pada penis juga akan mengganggu aliran urin (Meltzer, 2005).

Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
9
E. Patofisiologi
Ketika prepusisium terperangkap dibelakang corona glandis dalam waktu yang
lama, terbentuk berkas jaringan yang erat disekitar penis. Keadaan ini dapat
menimbulkan konstriksi pada penis yang akan mengganggu aliran darah vena dan
limfatik pada glans penis dan prepusisium sehingga dapat mengakibatkan edema
glans. Seiring dengan bertambah parahnya edema, aliran darah arterial juga menjadi
terganggu sehingga lama kelamaan dapat terjadi iskemia jaringan, pembengkakan dan
nyeri pada glans dan prepusisium. Apabila keadaan ini tidak ditangani, maka akan
mengarah ke gangrene atau autoamputasi penis bagian distal (Donohoe, 2009).

F. Manifestasi Klinis
Pasien dewasa dengan parafimosis yang simptomatik paling sering
mengeluhkan rasa nyeri di daerah penis. Namun nyeri tidak selalu ada pada pasien
parafimosis Pada pasien pediatri, parafimosis dapat bermanifestasi sebagai obstruksi
saluran kemih akut dan dapat menimbulkan gejala saat berkemih, gejala obstruksi
(bila parah), disuria dan hematuria (Donohoe, 2009 ; Huang, 2009 ; Choe, 2000).
Selain itu gejala dapat pula berupa nyeri saat ereksi (Huang, 2009).
Glans penis tampak membesar dan terkongesti, dengan cincin prepusisium
yang edema disekeliling sulcus coronarius. Bagian lain dari penis tetap normal dan
dalam keadaan flaccid.
(Choe, 2000)

G. Penegakan diagnosis
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
10
Ketika mengevaluasi pasien yang suspek parafimosis, riwayat manipulasi
penis harus digali, misalnya : instrumentasi, bedah endoskopik, pembedahan pada
kandung kemih maupun uretra, self-retraction, sirkumsisi, perubahan dari tekstur dan
warna kulit (Choe, 2000).
Pemeriksaan fisik yang dilakukan harus terfokus ke bagian penis, kateter uretra
(apabila sedang dipasang kateter) dan skrotum. Inspeksi dilakukan untuk melihat
adanya prepusisium, derajad konstriksi disekitar korona penis dan turgor prepusisium.
Dengan tidak adanya prepusisium pada inspeksi, diagnosa parafimosis dapat
disingkirkan. Warna merah muda pada glans menunjukkan adanya suplai darah yang
baik pada glans. Apabila prepusisium atau glans berwarna hitam, menandakan
autonekrosis telah terjadi (Choe, 2000).
Palpasi pada glans dapat memberikan informasi tambahan mengenai viabilitas
glans. Glans yang normal biasanya lembut dan kenyal. Apabila glans teraba keras dan
tidak elastik disertai warna hitam, maka nekrosis penis harus dicurigai. Selain itu,
perlu dilakukan inspeksi pada bagian skrotum untuk melihat warna, tekstur dan turgor,
kemudian dilakukan palpasi untuk menilai adanya hidrokel maupun tumor (Choe,
2000).
Pada pemeriksaan fisik, biasanya tampak glans penis membesar dan terdapat
kongesti oleh prepusisium yang tidak dapat kembali ke tempatnya semula.
Prepusisium yang terkontriksi ini terletak di belakang kepala penis (Donohoe, 2009).

Seringkali, pasien datang dengan edema dan nyeri glans dan ketidakmampuan
untuk menarik kembali prepusisium yang teretraksi. Diagnosa biasanya langsung
dapat ditegakkan dengan melihat striktur yang disebabkan oleh prepusisium yang
tidak dapat diretraksi tersebut dan edema pada glans. Reaksi alergi, trauma dan hair
tourniquets dapat mengakibatkan manifestasi klinis yang mirip dengan parafimosis.
Harus dibedakan antara berbagai infeksi glans penis (balanitis yang merupakan infeksi
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
11
hanya pada daerah glans, balanopostitis yang merupakan infeksi glans dan
prepusisium) dengan striktur penis (Chad & Julie, 2009).

H. Penatalaksanaan
Poin penting dalam penatalaksanaan parafimosis adalah prevensi dan
intervensi (Choe, 2000). Apabila didiagnosa pada saat awal, parafimosis dapat
disembuhkan dengan mudah. Prinsip terapi dari parafimosis adalah mengurangi nyeri
dan mencegah iskemia glans (Chad & Julie, 2009).
Terapi untuk parafimosis meliputi menenangkan pasien, mengurangi edema
prepusisium dan mengembalikan prepusisium ke posisi dan kondisi yang mormal.
Beberapa metode telah dikembangkan untuk mengurangi edema pada glans penis,
meliputi : penggunaan ice packs, penile wraps dan kompresi manual yang secara
mekanis akan mengurangi edema, agen osmotic seperti granulated sugar,
hyaluronidase yang meningkatkan difusi cairan yang akan mengurangi edema lokal
dapat diberikan pada pasien pediatri (Donohoe, 2009).
Pengobatan awal pada pasien biasanya diberikan analgesia dan anastesi local,
kemudian penis ditekan selama 2-3 menit untuk mengurangi pembengkakan, sebelum
mencoba untuk mengurangi edema pada kulup. Beberapa klinisi juga telah melakukan
teknik pungsi menggunakan fine needle untuk mengurangi edema pada prepusisium.
Apabila semua pengobatan ini gagal, maka perlu dilakukan sirkumsisi segera
(Cranston & Reynard, 2005).

Terapi untuk parafimosis dapat dibagi menjadi (Little & White, 2005) :

1) Compression method / metode kompresi manual
Anastesi pasien dapat menggunakan anastesi lokal dengan lidokain 1%
tanpa epinefrin, morfin / midazolan i.v pada kasus-kasus tertentu kemudian
melakukan kompresi manual untuk mengurangi edema. Tentukan terlebih
dahulu lokasi cincin sikatrik / jeratan yang membuat edema, kurangi edema
dengan menurunka cincin sikatrik dengan satu tangan dan tangan yang lainnya
mengompresi glans dan menekan edema. Setelah 2-3 kali kemudian dilakukan
prosedur sirkumsisi metode dorsal slit (Donohoe, 2009).
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
12
(Donohoe, 2009)
Teknik kompresi manual untuk mengurangi edema prepusisium
Untuk mereposisi prepusisium, letakkan kedua jempol pada glans penis
dan jari yang lain dibelakang prepusisium. Lakukan penekanan secara lembut
pada prepusisium dengan penekanan dengan arah yang berbeda ke glans penis
sehingga prepusisium tertarik ke bawah. Pada pasien yang tidak ingin dilakukan
sirkumsisi, oleskan triamcinolone cream 0.1% untuk mengurangi risiko fibrosis.
Setelah 6 minggu pemakaian cream ini, prepusisium dapat secara mudah
diretraksi dan dikembalikan ke posisi semula, namun tetap ada risiko
berulangnya fimosis dan parafimosis. Untuk mencegah berulangnya kondisi ini,
sebaiknya dilakukan sirkumsisi (Donohoe, 2009).
2) Osmotic method / metode osmotic
Metode osmotic dan puncture digunakan untuk pasien yang tidak dapat
ditangani dengan metode manual akibat besarnya edema prepusisial dan
glandular yang ada akibat penanganan yang terlambat. Pada pasien anak-anak,
sulit melakukan anastesi dengan penile block, biasanya dilakukan anastesi total.
Bila melakukan anastesi total, prepusisium dapat dikembalikan tanpa
menggunakan metode puncture/ pungsi maupun insisi. Pada metode osmotik,
digunakan substansi yang memiliki konsentrasi zat terlarut yang tinggi dan
substansi ini diletakkan pada permukaan penis dan prepusisium yang edema.
Substansi ini akan menarik air dari jaringan sesuai dengan gradien osmotiknya,
hal ini akan mengurangi edema jaringan. Beberapa substansi yang digunakan
antara lain : (1) glyserin magnesium sulfat ; (2) granulated sugar ; (3) larutan
dextrose 50% sebanyak 50 ml biasanya digunakan pada UGD, menggunakan
kain yang dibasahi dengan larutan tersebut, kemudian penis dibungkus dengan
kain tersebut selama 1 jam. Kelemahan dari metode osmotik adalah
membutuhkan banyak waktu untuk mengurangi edema (Little & White, 2005).

Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
13
3) Puncture-aspiration method
Teknik pungsi yang sering dilakukan untuk mengobati parafimosis adalah
metode Perth-Dundee. Teknik invasive yang minimal ini memerlukan anastesi
penis (penile block). Jarum 26-G digunakan untuk membuat 20 pungsi pada
prepusisium yang edema untuk mengeluarkan cairan yang terperangkap
(Donohoe, 2009 ; Little & White, 2005). Menurut penelitian yang telah
dilakukan dengan metode cohort, teknik ini berhasil pada semua sampel
penelitian (17 pasien) dan 82% pasien dianastesi dengan menggunakan anastesi
local. Dari penelitian yang telah dilakukan, tak ada pasien yang terinfeksi akibat
komplikasi teknik ini, sehingga penggunaan antibiotik rutin untuk profilaksis
tidak diindikasikan (Little & White, 2005).
Pada beberapa instansi kesehatan, teknik ini telah dilakukan dan
dimodifikasi dengan melakukan injeksi hyaluronidase 150 U/cc sebanyak 1 ml
pada 2-3 tempat pada prepusisium. Hyaluronidase iini memecah asam
hyaluronat yang kental pada cairan ekstrasellular dan dapat mengurangi edema.
Teknik ini telah dilaporkan sebagai inti dari teknik DeVries yang dapat
mengurangi edema dalam waktu yang singkat. Namun, kelemahan dari teknik
ini adalah sering tidak tersedianya hyaluronidase pada berbagai unit gawat
darurat. (Little & White, 2005).

Metode pungsi dengan menggunakan jarum yang dipungsi pada beberapa tempat
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
14
`
(Huang, 2009)
Selain itu telah dikembangkan metode alternatif lain, yaitu setelah
melakukan anastesi lokal pada penis, tourniquet dipasang pada bagian tengah
penis, kemudian dimasukkan jarum berukuran 20-G yang telah dipasang pada
spuit 10 ml paralel dengan uretra dan dilakukan aspirasi darah. Aspirasi darah
sebanyak 3-12 ml biasanya dapat mengurangi ukuran glans penis (Little &
White, 2005).

4) Sharp incision method
Apabila semua metode diatas telah dilakukan dan tidak berhasil, maka
perlu dilakukan insisi pada jeratan penis. Pada pasien dewasa, dapat dilakukan
anastesi penile-block, namun pada anak membutuhkan anastesi total. Tidak ada
referensi valid yang menyebutkan bahwa diperlukan profilaksis antibiotik
setelah melakukan insisi. Sebelumnya, prepusisium yang edema terlebih dulu
dibersihkan dengan povidone iodine dan mengidentifikasi cincin jeratan.
Kemudian dilakukan insisi longitudinal 1-2 cm. Apabila insisi ada pada sisi
yang panjang, maka perlu dilakukan penjahitan dengan benang undyed 3/0
vicryl rapide (Little & White, 2005).

Metode gabungan yang dapat mengurangi edema granular dan prepusisial
dengan efektif (Donohoe, 2009) :
Bungkus penis dengan plastic dan kompres dengan es
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
15
Bungkus penis dengan compressive elastic dressings
Lakukan kompresi manual secara sirkumferensial (gunakan anastesi
topical seperti gel lidokain 2% atau campuran prilocaine 2,5% dengan
2,5% lidokain pada kulit penis beberapa menit sebelum dilakukannya
kompresi)
Oleskan granulated sugar ke permukaan prepusisium yang edema
kemudian bungkus dengan kondom. Cairan hipotonik edema akan
bergerak sesuai gradient osmotic ke gula yang hipertonik yang akan
mengurangi edema prepusisium
Dengan spuit, injeksi 1 ml hyaluronidase (150U/ml Wydase) ke beberapa
lokasi prepusisium yang edema. Hyaluronidase akan memecah asam
hyaluronat pada jaringan ikat dan mempercepat difusi cairan antar jaringan
yang akan mengurangi edema prepusisium.

5) Sirkumsisi : metode dorsal slit
Pada kontriksi / jeratan yang parah harus dilakukan sirkumsisi metode
dorsal slit. Pada saat melakukan sirkumsisi, penis harus dalam keadaan yang
steril, kemudian ditentukan lokasi cincin sikatrikal / jeratan, kemudian cincin
tersebut dijepit dengan hemostat pada jam 12 kemudian digunting, pastikan
cincin tersebut telah diinsisi. Ketebalan cincin tersebut biasanya tidak lebih dari
5-10 mm. Setelah proses ini dilakukan, prepusisium dapat dengan mudah
dikembalikan ke posisi semula. Penjahitan dapat dilakukan untuk mengontrol
pendarahan. Manajemen jangka panjang perlu didiskusikan dengan pasien.
Pilihan terapi yang dilakukan berupa pembedahan via sirkumsisi atau terapi
konservatif dengan triamcinolone cream selama 6 minggu dan watchful waiting.
Sirkumsisi merupakan terapi definitif untuk parafimosis (Donohoe, 2009).
Langkah-langkah dalam melakukan metode dorsal slit dan sirkumsisi
(Donohoe, 2009) :
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
16


(1) Gunting prepusisium diarah jam 12,
sebelumnya diklem dengan haemostat
diantaranya.


(2) Bagian yang diinsisi dijahit dengan
benang yang dapat diserap
(absorbable)


(3) Prosedur dorsal slit telah selesai
dilakukan




(4) Melakukan sirkumsisi untuk
memotong prepusisium setelah
metode dorsal slit untuk mengobati
parafimosis


(5) Selama sirkumsisi, prepusisium
diinsisi diantara 2 klem haemostat


Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
17

(6) Prepusisium / kulit yang berlebih
dibuang dengan menggunakan
electrocautery




(7) Tepi kulit prepusisium dengan mukosa
penis dijahit dengan benang
absorbable


Indikasi dilakukannya sirkumsisi emergensi metode dorsal slit adalah
keadaan fimosis dan parafimosis yang tidak dapat disembuhkan dengan
pengobatan konservatif. Biasanya metode dorsal slit ini digunakan untuk
parafimosis yang berat dan kompleks. Tindakan terbaik yang dapat mencegah
terulangnya parafimosis adalah sirkumsisi (Donohoe, 2009).
Kontraindikasi dilakukannya sirkumsisi adalah hipospadia, penis dengan
ukuran kecil dan yang mengalami deformitas (Donohoe, 2009).


I. Pencegahan
Pencegahan parafimosis dapat dilakukan dengan memberikan edukasi dan
klarifikasi mengenai cara merawat prepusisium yang benar pada pasien.
Memperlakukan penis dengan hati-hati merupakan pencegahan parafimosis yang
terbaik (Donohoe, 2009).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari antara lain : (1)
setelah melakukan hubungan seksual, perlu dilakukan pembersihan pada daerah penis
dan pastikan prepusisium telah kembali ke posisi semula, (2) jangan membiarkan
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
18
prepusisium berada dibelakang kepala penis terlalu lama, (3) setelah pemasangan
kateter, perlu diperhatikan posisi prepusisium apakah telah diposisikan seperti semula
(Choe, 2000).
Pada pasien pediatri, orang tua seharusnya diberikan informasi terkait dengan
risiko penis yang tidak disirkumsisi. Sirkumsisi / pemotongan prepusisium penis
hingga ke daerah sulcus, sering dilakukan untuk mencegah inflamasi pada penis
(contoh : balanopostitis) dan stenosis atau penyakit konstriktual prepusisium (fimosis
dan parafimosis). Sirkumsisi dapat mengurangi insidensi kanker penis, infeksi saluran
kencing dan penyakit menular seksual (Rudolph et al, 2003).


J. Prognosis
Parafimosis tidak akan kambuh setelah dilakukan sirkumsisi dengan teknik
yang baik (terutama dengan teknik dorsal slit). Namun, permasalahan yang sering
dihadapi oleh para klinisi adalah banyak pasien menolak dilakukannya sirkumsisi
(Donohoe, 2009).



K. Komplikasi
Parafimosis merupakan kegawatan di bidang urologi dan merupakan hasil
akibat retraksi pada fimosis. Nyeri pada parafimosis berasal dari retraksi fimosis.
Apabila prepusisium penis tidak dikembalikan ke tempat semula, maka akan
menyebabkan nyeri dan bengkak. Apabila kondisi ini berlanjut maka akan menekan
glans penis dan menyebabkan rasa nyeri dan bengkak. Semakin lama hal ini berlanjut
maka akan semakin sulit untuk diatasi dan akan menyebabkan glandular ischemia
(Cranston & Reynard, 2005). Bila iskemia terus berlanjut, maka dapat terjadi nekrosis
glans penis dan terjadi autoamputasi bagian distal penis (Donohoe, 2009 ; Choe,
2000).
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
19

Komplikasi parafimosis meliputi nyeri, infeksi dan edema glans penis.
Bagian distal penis dapat terjadi iskemik dan bahkan nekrosis. Komplikasi potensial
yang terkait dengan sirkumsisi meliputi perdarahan, infeksi, pemendekan kulit penis
dan injuri uretra (Donhoe, 2009). Parafimosis juga dapat menyebabkan obstruksi
traktus urinarius yang mengakibatkan retensi urin pada pria. Penyebab lain retensi urin
pada pria meliputi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), meatal stenosis, dan kanker
prostat (Selius & Subedi, 2008).
Perdarahan postoperative adalah komplikasi yang tersering, oleh karena itu,
perlu diperhatikan hemostasis pada saat melakukan sirkumsisi. Apabila terjadi infeksi
setelah sirkumsisi, dapat ditangani dengan antibiotic oral. Injuri uretra dapat terjadi
tetapi jarang (Donhoe, 2009).


IV. Referensi :

American College of Emergency Physician. 1999. Pediatric Emergency Medicine.
McGrawHill : United States of America
Chad & Julie. 2009. Non-Traumatic Urologic Emergencies in Men : A Clinical Review.
Western Journal of Emergency Medicine, Department of Emergency Medicine,
UC Irvine. Accessed at : http://www.escholarship.org/uc/item/2cj981j1
Choe, Jong M. 2000. Paraphimosis : Current Treatment Options. American Family
Physician. Accessed at : http://www.aafp.org/afp/20001215/2623.html
Blok XIII - Uropoetika

Riri Kumala Sari
H1A008026
20
Choe, Jong M. 2000. Paraphimosis : What it is and how to prevent it. American Family
Physician, vol. 62, Iss 12; pg. 2628. Accessed at :
http://proquest.umi.com/pqdweb?did=65923517&sid=1&Fmt=3&clientId=1238
04&RQT=309&VName=PQD
Cranston & Reynard. 2005. Urology A Handbook for Medical Students. BIOS Scientific
Publishers Ltd : United Kingdom
Donohoe, Jeffrey M. 2009. Paraphimosis. Accessed at : http://emedicine.medscape.com/
article/ 442883-overview
Huang, Craig J. 2009. Problems of the Foreskin and Glans Penis. Elsevier : Clinical
Pediatric Emergency Medicine 10:56-59
Little & White. 2005. Treatment options for paraphimosis. Journal of Clinical Practice,
59, 5, 591-593. Blackwell Publishing Ltd, UK.
Ramdass et al. 2000. Case report : Paraphimosis due to erotic dancing. Tropical
Medicine and International Healt, vol. 5, no.12, p. 906-907. Blackwell Science
Ltd.
Rudolph et al. 2003. Rudolphs Pediatrics, 21
st
ed. McGraw-Hill
Meltzer, Donna I. 2005. Complications of Body Piercing. American Family Physician.
15;72(10):2029-2034. Accessed at :
http://www.aafp.org/afp/2005/1115/p2029.html
Selius & Subedi. 2008. Urinary Retention in Adults : Diagnosis and Initial Management.
American Family Physician, 1;77(5):643-650. Accessed at :
http://www.aafp.org/afp/2008/0301/p643.html
Schuenke & Faller. 2004. The Human Body : An Introduction to Structure and Function.
Thieme Stuttgart : New York
Van De Graaff, Kent M. 2001. Van De Graaff : Human Anatomy. The McGraw-Hill
Companies