Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Saat ini terdapat banyak sekali masalah mengenai penyakit tanaman,
mulai dari bagian akar hingga daun. Dari akar ada penyakit puru akar, busuk
batang, hingga klorosis daun (Dropkhin 1989). Penyebab dari penyakit
tersebut berbeda-beda, dapat disebabkan oleh cendawan, virus, dan nematoda.
Terkadang gejala penyakit yang sama dapat disebabkan oleh penyebab yang
berbeda. Gejala layu dapat disebabkan oleh nematoda, atau defisiensi hara
(Laksono 2010).
Untuk mengetahui penyebab penyakit, harus tahu bagaimana cara
melihat penyebab dari penyakit tersebut. Misalnya virus dengan cara ekstrasi
daun bergejala, cendawan dengan mengambilnya dan diamati di bawah
mikroskop, dan sebagainya. Begitu juga untuk nematode, harus tahu
bagaimana cara mengekstrak nematode dari bagian tanaman.
Nematoda parasite merupakan hewan yang juga membutuhkan inang
untuk tinggal. Biasanya nematode tinggal di tanah sekitar perakaran dan di
dalam akar. Inti dari ekstrasi nematode adalah memancing nematode untuk
berenang keluar ke dalam air yang kita sediakan. Untuk tanah digunakan
tehnik bernama Corong Baerman dan Flotasi, dan untuk akar tehniknya
bernama Mist Chamber. Corong Baerman digunakan dengan cara menaruh
tanah di atasnya yang terdapat saringan di bawahnya, kemudian direndam
sebagian ke dalam air yang ada di wadah bawahnya (Ambarwulan 2013).
Flotasi yaitu ekstrasi nematode dengan memutar suspense pada kecepatan
tertentu sehingga air dan tanah terpisah. Mist Chamber digunakan prinsip
pengabutan terhadap akar, yang dibutuhkan waktu cukup lama agar semua
nematode keluar dari akar.


BAB II
BAHAN DAN METODE
Bahan yang digunakan yaitu sample tanah dan akar tanaman pisang (Musa
sp.), air, alat pengambil sample tanah, gunting rumput. Tanah diambil berdasarkan
jarak tajuk terjauh dari tanaman pisang membentuk pola bintang. Tanah diambil
menggunakan alat pengambil sampel tanah. Akar diambil dengan cara akar diambil
dari dalam tanah kemudian dipotong sebagian. Pengambilan ujung akar tidak
direkomendasikan karena beresiko mematikan tanaman pisang tersebut. Bawa sampel
tanah dan akar ke laboratorium.
Metode ekstrasi nematode dari tanah menggunakan teknik Corong Baerman.
Dasar dari teknik ini adalah memancing nematode untuk berenang ke bawah yang
berisi air. Nematode dapat turun karena dipicu oleh gaya gravitasi dan sifat dari
nematode itu sendiri yang menyukai air (Adnan 2009). Ada dua wadah, wadah bawah
yaitu tempat air, dan wadah atas yaitu wadah saringan dengan sampel tanah di
atasnya. Wadah atas ditenggelamkan hingga tanah terendam air, tetapi wadah tidak
sampai tenggelam. Corong ditunggu selama seminggu kemudian dapat diamati
jumlah nematode yang turun (Munif 2011)
Metode ekstrasi nematode dari tanah yang lain yaitu dengan cara Flotasi.
Tanah 100 ml diencerkan dengan air 1000 ml. Tanah diaduk selama 20 detik. Cairan
dituangkan dengan saringan bertingkat 20 mesh dan 400 mesh. Hasil saringan
dimasukkan ke dalam centrifuge tube. Suspensi disentrifugasi selama 5 menit. Cairan
dibuang hingga hanya menyisakan endapan. Endapan tersebut dicampur dengan air
gula 40%. Air gula berguna untuk menaikkan nematode ke atas, karena masa jenis air
gula lebih tinggi daripada nematode. Suspense disentrifugasi lagi selama 1 menit.
Suspense hasil sentrifugasi disaring lagi dengan saringan 400 mesh. Hasil saringan
siap diamati.
Untuk akar sendiri digunakan metode Mist Chamber, yaitu metode
pengabutan pada akar. Akar dicuci kemudian dipotong kecil-kecil. Letakkan pada
wadah yang terdapat saringan di bawahnya. Masukkan wadah tersebut ke dalam
chamber, dengan wadah gelas di bawahnya agar nematode turun ke wadah gelas
tersebut. Pengabutan dilakukan selama seminggu.
Semua sampel diamati di bawah mikroskop stereo untuk dihitung jumlah
nematode tiap sampel. Penghitungan diulang tiga kali dengan cara mengambil 2 ml
tiap pengamatan. Kemudian beberapa nematode tiap sampel diteliti dibawah
mikroskop cahaya. Pengambilan nematode harus dapat mewakili jumlah populasi,
genus, dan jenis kelamin (Huettel 2009).

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Pengulangan Volume
sampel (ml)
Jumlah nematoda
(ekor)
1 2 14
2 2 2
3 2 8
Jumlah 24
Rata-rata 40


Perhitungan
Kerapatan () =


= 8 ekor

Jumlah populasi =


.
=

. 8
= 40 ekor









Identifikasi nematoda

Sampel Metode
ekstraksi
Nematoda Nama genus
Akar Pengabutan
(Mist
chamber)
A Radopholus
B Ditylenchus
C Protylenchus
D Radopholus

Anterior Posterior Anterior Posterior
Nematoda A : Radopholus (40X10) Nematoda B : Ditylenchus (40X10)

Anterior Posterior Anterior Posterior
Nematoda C : Pratylenchus (40X10) Nematoda D : Radopholus (40X10)

2. Pembahasan
Metode yang dipakai untuk ekstrasi nematode adalah Corong
Baerman, Flotasi, dan Mist Chamber. Corong Baerman merupakan teknik
ekstrasi menggunakan dua wadah yang memancing nematode untuk turun.
Gravitasi dan air menjadi pemicu turunnya nematode. Flotasi menggunakan
alat sentrifugasi dalam ekstrasinya, agar antara air dan tanah terpisah. Mist
Chamber merupakan teknik pengabutan pada sampel, biasa digunakan pada
sampel akar.




Nematoda parasite yang terdapat pada tanaman pisang yaitu
Meloidogyne, Pratylenchus, Tylenchorhinchus, Tylenchulus, Ditylenchus,
Radopholus, dan Xiphinema. Pada hasil pengamatan didapat nematode jenis
Pratylenchus, Ditylenchus, dan Radopholus. Nematoda tersebut didapat dari
hasil sampel akar. Sementara sampel yang lain tidak terdapat nematode. Ini
dikarenakan keadaaan tanah ya pada saat itu kering, dan juga tempat
pengambilan sampel yang kurang tepat.
Perhitungan sampel dilakukan setiap 2 ml dan diulangi tiga kali. Hasil
rata-rata yang didapat adalah 8 ekor, dan berdasarkan perhitungan setiap 10
ml terdapat 40 ekor nematode.

BAB IV
KESIMPULAN
Nematoda parasite tanaman merupakan nematode yang menyerang akar
tanaman, menyebabkan berbagai penyakit pada tanaman. Nematoda parasite tinggal
di dalam akar tanaman dan di dalam tanah. Ekstrasi nematode dapat melalui sampel
tanah dengan metode corong baerman atau flotasi. Sedangkan yang berasal dari akar
menggunakan teknik Mist Chamber. Nematoda pada akar paling banyak ditemui,
terlihat dari sampel yang lain yang tidak ada nematode.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Adnan AM. 2009. Jurnal. Mengenal Nematoda. 1 : 4
Huettel RN et al. 2009. Jurnal. Radopholus ctirophilus sp. n. (Nematoda), a Sibling
Species of Radopholus similis. 51(1) : 2-3
Munif A, Kristina. 2012. Jurnal. Hubungan Bakteri Endofit dan Nematoda Parasit
Penyebab Penyakit Kuning pada Tanana Lada di Provinsi Bangka Belitung.
1 : 2
Ambarwulan R et al. 2013. Jurnal Online Agroteknologi. Penggunaan Cendawan
Mikoriza Arbuskula (CMA) untuk Mengendalikan Fusarium oxysporum f.sp .
cubense dan Nematoda Radopholus similis pada Tanaman Barangan (Musa
Paradisiaca L.) di Rumah Kaca. 1 : 3
Laksono KD et al. 2010. Jurnal Agrikultura. Inventarisasi Penyakit pada Tanaman
Jarak Pagar (Jathropa curcas L.) pada Tiga Daerah Jawa Barat. 21(1) : 31-38
Dropkhin VH. 1989. Introduction to Plant Nematology. Diterjemahkan oleh :
Supratoyo. Yogyakarta : Gadjah Mada University

MATA KULIAH PENGANTAR NEMATOLOGI
TUMBUHAN

METODE EKSTRASI NEMATODA



THEO RIZQY GUNAWAN
A34130106






DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014