Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perdarahan pasca persalinan/ hemoragik post partum (HPP) adalah
perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir.
Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah lahirnya plasenta
Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan
setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan
pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium
yang mengelilingi pembuluh darah yang memaskularisasi daerah implantasi
plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak
berkontraksi. Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini
!50"#, dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi
peripartum.
Perdarahan post partum dapat menyebabkan kematian ibu $5" terjadi %$ jam
pertama setelah bayi lahir, &'-() " dalam satu minggu setelah bayi lahir, dan '%-''"
dalam dua minggu setelah bayi lahir.
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini
!50"#, dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi
peripartum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perdarahan Post Partu
1
2.1.1 De!"n"s"
Perdarahan pasca persalinan/ hemoragik post partum (HPP) adalah
perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir.
Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah lahirnya plasenta.
*,+0,++,+%
,efinisi lain menyebutkan Perdarahan Pasca Persalinan adalah perdarahan 500 cc
atau lebih yang terjadi setelah plasenta lahir.
+
-enurut .aktu terjadinya dibagi atas
dua bagian /
+0,++,+%
a. Perdarahan postpartum primer !early postpartum hemorrhage# yang terjadi
dalam %$ jam
setelah anak lahir.
b. Perdarahan postpartum sekunder !late postpartum hemorrhage# yang
terjadi antara %$ jam
dan & minggu setelah anak lahir.
2.1.2 E#"de"olog"
+. 0nsiden
+%
Angka kejadian perdarahan postpartum setelah persalinan peraginam yaitu 5-
' ". Perdarahan postpartum adalah penyebab paling umum perdarahan yang
berlebihan pada kehamilan, dan hampir semua tranfusi pada .anita hamil dilakukan
untuk menggantikan darah yang hilang setelah persalinan.
%. Peningkatan angka kematian di 1egara berkembang
,i negara kurang berkembang merupakan penyebab utama dari kematian
maternal hal ini disebabkan kurangnya tenaga kesehatan yang memadai, kurangnya
layanan transfusi, kurangnya layanan operasi.
2.1.$ Et"olog"
2
2anyak faktor potensial yang dapat menyebabkan hemorrhage postpartum,
faktor-faktor yang menyebabkan hemorrhage postpartum adalah atonia uteri,
perlukaan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, kelainan pembekuan darah.
+0,++,+%
+. 3one ,imished / Atonia uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi dan
mengecil sesudah janin keluar dari rahim. Perdarahan postpartum secara fisiologis di
control oleh kontraksi serat-serat myometrium terutama yang berada disekitar
pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta. Atonia
uteri terjadi ketika myometrium tidak dapat berkontraksi. Pada perdarahan karena
atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada palpusi. Atonia uteri juga dapat
timbul karena salah penanganan kala 000 persalinan, dengan memijat uterus dan
mendorongnya keba.ah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya bukan
terlepas dari uterus. Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.
,isamping menyebabkan kematian, perdarahan postpartum memperbesar
kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. Perdarahan
yang banyak bisa menyebabkan 4 5indroma 5heehan 4 sebagai akibat nekrosis pada
hipofisis pars anterior sehingga terjadi insufiensi bagian tersebut dengan gejala /
astenia, hipotensi, dengan anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkan
kakeksia, penurunan fungsi seksual dengan atrofi alat-alat genital, kehilangan rambut
pubis dan ketiak, penurunan metabolisme dengan hipotensi, amenorea dan kehilangan
fungsi laktasi. 2eberapa hal yang dapat mencetuskan terjadinya atonia meliputi /
+%
6 -anipulasi uterus yang berlebihan,
6 7eneral anestesi !pada persalinan dengan operasi #,
6 8terus yang teregang berlebihan /
o Kehamilan kembar
o 9etal macrosomia ! berat janin antara $500 : 5000 gram #
o polyhydramnion
6 Kehamilan le.at .aktu,
6 Portus lama
3
6 7rande multipara ! fibrosis otot-otot uterus #,
6 Anestesi yang dalam
6 0nfeksi uterus ! chorioamnionitis, endomyometritis, septicemia #,
6 Plasenta preia,
6 5olutio plasenta,
%. 3issue
a. ;etensio plasenta
b. 5isa plasenta
c. Plasenta acreta dan ariasinya.
Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir, hal itu
dinamakan retensio plasenta. <al ini bisa disebabkan karena plasenta belum lepas
dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan. =ika
plasenta belum lepas sama sekali, tidak terjadi perarahan, tapi apabila terlepas
sebagian maka akan terjadi perdarahan yang merupakan indikasi
untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena /
- kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ! plasenta adhesia #
- Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab ilis komalis menembus
desida sampai miometrium : sampai diba.ah peritoneum ! plasenta akreta :
perkreta #.
Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar
disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan
kala 000. 5ehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian ba.ah uterus yang
menghalangi keluarnya plasenta ! inkarserasio plasenta #. 5isa plasenta yang
tertinggal merupakan penyebab %0-%5 " dari kasus perdarahan postpartum.
Penemuan 8ltrasonografi adanya masa uterus yang echogenic mendukung diagnosa
retensio sisa plasenta. <al ini bisa digunakan jika perdarahan beberapa jam setelah
persalinan ataupun pada late postpartum hemorraghe. Apabila didapatkan caum uteri
kosong tidak perlu dilakukan dilatasi dan curettage.
4
). 3rauma
5ekitar %0" kasus hemorraghe postpartum disebabkan oleh trauma jalan lahir /
a. ;uptur uterus
b. 0nersi uterus
c. Perlukaan jalan lahir
d. >aginal hematom
;uptur spontan uterus jarang terjadi, faktor resiko yang bisa menyebabkan
antara lain grande multipara, malpresentasi, ri.ayat operasi uterus sebelumnya, dan
persalinan dengan induksi o?ytosin. ;epture uterus sering terjadi akibat jaringan
parut section secarea sebelumnya. @aserasi dapat mengenai uterus, ceri?, agina,
atau ula, dan biasanya terjadi karena persalinan secara operasi ataupun persalinan
peraginam dengan bayi besar, terminasi kehamilan dengan acuum atau forcep,
.alau begitu laserasi bisa terjadi pada sembarang persalinan. @aserasi pembuluh
darah diba.ah mukosa agina dan ula akan menyebabkan hematom, perdarahan
akan tersamarkan dan dapat menjadi berbahaya karena tidak akan terdeteksi selama
beberapa jam dan bisa menyebabkan terjadinya syok. Apisiotomi dapat menyebabkan
perdarahan yang berlebihan jika mengenai artery atau ena yang besar, jika episitomi
luas, jika ada penundaan antara episitomi dan persalinan, atau jika ada penundaan
antara persalinan dan perbaikan episitomi.
Perdarahan yang terus terjadi ! terutama merah menyala # dan kontraksi uterus
baik akan mengarah pada perdarahan dari laserasi ataupun episitomi. Ketika laserasi
ceri? atau agina diketahui sebagai penyebab perdarahan maka repair adalah solusi
terbaik.
Pada inersio uteri bagian atas uterus memasuki kaum uteri, sehingga fundus
uteri sebelah dalam menonjol kedalam kaum uteri. Peristi.a ini terjadi tiba-tiba
dalam kala 000 atau segera setelah plasenta keluar. 0nersio uteri dapat dibagi /
5
- 9undus uteri menonjol kedalam kaum uteri tetapi belum keluar dari ruang
tersebut.
- Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam agina.
- 8terus dengan agina semuanya terbalik, untuk sebagian besar terletak diluar
agina.
3indakan yang dapat menyebabkan inersion uteri ialah perasat crede pada
korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan plasenta
yang belum lepas dari dinding uterus. Pada penderita dengan syok perdarahan dan
fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang laBim pada kala 000 atau setelah
persalinan selesai. Pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak diatas
seri? uteri atau dalam agina. Kelainan tersebut dapat menyebabkan keadaan ga.at
dengan angka kematian tinggi ! +5 : (0 " #. ;eposisi secepat mungkin memberi
harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita.
$. 3hrombin / Kelainan pembekuan darah
7ejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan
ataupun didapat,
kelainan pembekuan darah bisa berupa /
6 <ipofibrinogenemia,
6 3rombocitopeni,
6 0diopathic thrombocytopenic purpura,
6 <A@@P syndrome ! hemolysis, eleated lier enBymes, and lo. platelet
count #,
6 ,isseminated 0ntraaskuler Coagulation,
6 ,ilutional coagulopathy bisa terjadi pada transfusi darah lebih dari ' unit
karena darah donor biasanya tidak fresh sehingga komponen fibrin dan trombosit
sudah rusak.
6
2.1.% &aktor 'es"ko
;i.ayat hemorraghe postpartum pada persalinan sebelumnya merupakan
faktor resiko paling besar untuk terjadinya hemorraghe postpartum sehingga segala
upaya harus dilakukan untuk menentukan keparahan dan penyebabnya. 2eberapa
faktor lain yang perlu kita ketahui karena dapat menyebabkan terjadinya hemorraghe
postpartum /
++,+%
+. 7rande multipara
%. Perpanjangan persalinan
). Chorioamnionitis
$. Kehamilan multiple
5. 0njeksi -agnesium sulfat
&. Perpanjangan pemberian o?ytocin
2.1.( D"agnos"s
1)
<emorraghe postpartum digunakan untuk persalinan dengan umur kehamilan
lebih dari %0 minggu, karena apabila umur kehamilan kurang dari %0 minggu disebut
sebagai aborsi spontan.
*
2eberapa gejala yang bisa menunjukkan hemorraghe
postpartum /
+. Perdarahan yang tidak dapat dikontrol
%. Penurunan tekanan darah
). Peningkatan detak jantung
$. Penurunan hitung sel darah merah ! hematocrit #
5. Pembengkakan dan nyeri pada jaringan daerah agina dan sekitar perineum
Perdarahan hanyalah gejala, penyebabnya haruslah diketahui dan
ditatalaksana sesuai penyebabnya.
'
Perdarahan postpartum dapat berupa perdarahan
yang hebat dan menakutkan sehingga dalam .aktu singkat ibu dapat jatuh kedalam
keadaan syok. Atau dapat berupa perdarahan yang merembes perlahan-lahan tapi
7
terjadi terus menerus sehingga akhirnya menjadi banyak dan menyebabkan ibu lemas
ataupun jatuh kedalam syok.
Pada perdarahan melebihi %0" olume total, timbul gejala penurunan
tekanan darah, nadi dan napas cepat, pucat, e?tremitas dingin, sampai terjadi syok.
Pada perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau
laserasi jalan lahir, bila karena retensio plasenta maka perdarahan akan berhenti
setelah plasenta lahir. Pada perdarahan yang terjadi setelah plasenta lahir perlu
dibedakan sebabnya antara atonia uteri, sisa plasenta, atau trauma jalan lahir. Pada
pemeriksaan obstretik kontraksi uterus akan lembek dan membesar jika ada atonia
uteri. 2ila kontraksi uterus baik dilakukan eksplorasi untuk mengetahui adanya sisa
plasenta atau laserasi jalan lahir. 2erikut langkah-langkah sistematik untuk
mendiagnosa perdarahan postpartum /
+. Palpasi uterus / bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
%. -emeriksa plasenta dan ketuban / apakah lengkap atau tidak
). @akukan ekplorasi kaum uteri untuk mencari /
a. 5isa plasenta dan ketuban
b. ;obekan rahim
c. Plasenta succenturiata
$. 0nspekulo / untuk melihat robekan pada ceri?, agina, dan arises yang
pecah.
5. Pemeriksaan laboratorium / bleeding time, <b, Clot Dbseration test dan lain-
lain.
2.1.* Pen+egahan dan ,ana-een
1).12
1. Pen+egahan Perdarahan Post#artu
6 Pera.atan masa kehamilan
8
-encegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang
disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. 3indakan pencegahan tidak saja
dilakukan se.aktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan
antenatal care yang baik. -enangani anemia dalam kehamilan adalah penting, ibu-ibu
yang mempunyai predisposisi atau ri.ayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan
untuk bersalin di rumah sakit.
6 Persiapan persalinan
,i rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar <b, golongan
darah, dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan dititipkan di bank darah.
Pemasangan cateter intraena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila
diperlukan transfusi. 8ntuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung
dilakukan transfusi. 5angat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan
postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan.
6 Persalinan
5etelah bayi lahir, lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau
maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. -assae
yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah
lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan
mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan
memicu terjadinya perdarahan postpartum.
6 Kala tiga dan Kala empat
6 8terotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. 5tudy
memperlihatkan penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang
mendapat o?ytocin setelah bahu depan dilahirkan, tidak didapatkan peningkatan
insiden terjadinya retensio plasenta. <anya saja lebih baik berhati-hati pada
pasien dengan kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada 857 untuk
memastikan. Pemberian o?ytocin selama kala tiga terbukti mengurangi olume
darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar $0".
9
6 Pada umumnya plasenta akan lepas dengan sendirinya dalam 5 menit setelah
bayi lahir. 8saha untuk mempercepat pelepasan tidak ada untungnya justru dapat
menyebabkan kerugian. Pelepasan plasenta akan terjadi ketika uterus mulai
mengecil dan mengeras, tampak aliran darah yang keluar mendadak dari agina,
uterus terlihat menonjol ke abdomen, dan tali plasenta terlihat bergerak keluar
dari agina. 5elanjutnya plasenta dapat dikeluarkan dengan cara menarik tali
pusat secra hati-hati. 5egera sesudah lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau
tidak. 8ntuk 4 manual plasenta 4 ada perbedaan pendapat .aktu dilakukannya
manual plasenta. Apabila sekarang didapatkan perdarahan adalah tidak ada
alasan untuk menunggu pelepasan plasenta secara spontan dan manual plasenta
harus dilakukan tanpa ditunda lagi. =ika tidak didapatkan perdarahan, banyak
yang menganjurkan dilakukan manual plasenta )0 menit setelah bayi lahir.
Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap, uterus terus di
eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa plasenta.
6 @akukan pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir
yang dapat menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. @uka
trauma ataupun episiotomy segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang
mengeras dan berkontraksi dengan baik.
2. ,ana-een Perdarahan Post#artu
3ujuan utama pertrolongan pada pasien dengan perdarahan postpartum adalah
menemukan dan menghentikan penyebab dari perdarahan secepat mungkin. 3erapi
pada pasien dengan hemorraghe postpartum mempunyai % bagian pokok /
a. ;esusitasi dan manajemen yang baik terhadap perdarahan
Pasien dengan hemorraghe postpartum memerlukan penggantian cairan dan
pemeliharaan olume sirkulasi darah ke organ : organ penting. Pantau terus
perdarahan, kesadaran dan tanda-tanda ital pasien. Pastikan dua kateler intraena
ukuran besar !+&# untuk memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan
apabila diperlukan resusitasi cairan cepat.
10
6 Pemberian cairan / berikan normal saline atau ringer lactate
6 3ransfusi darah / bisa berupa .hole blood ataupun packed red cell
6 Aaluasi pemberian cairan dengan memantau produksi urine !dikatakan
perfusi cairan ke ginjal adekuat bila produksi urin dalam +jam )0 cc atau lebih#
/. -anajemen penyebab hemorraghe postpartum
3entukan penyebab hemorraghe postpartum /
6 Atonia uteri
Periksa ukuran dan tonus uterus dengan meletakkan satu tangan di fundus
uteri dan lakukan massase untuk mengeluarkan bekuan darah di uterus dan agina.
Apabila terus teraba lembek dan tidak berkontraksi dengan baik perlu dilakukan
massase yang lebih keras dan pemberian o?ytocin. Pengosongan kandung kemih bisa
mempermudah kontraksi uterus dan memudahkan tindakan selanjutnya. @akukan
kompres bimanual apabila perdarahan masih berlanjut, letakkan satu tangan di
belakang fundus uteri dan tangan yang satunya dimasukkan le.at jalan lahir dan
ditekankan pada forni? anterior. Pemberian uterotonica jenis lain dianjurkan apabila
setelah pemberian o?ytocin dan kompresi bimanual gagal menghentikan perdarahan,
pilihan berikutnya adalah ergotamine.
6 5isa plasenta
Apabila kontraksi uterus jelek atau kembali lembek setelah kompresi
bimanual ataupun massase dihentikan, bersamaan pemberian uterotonica lakukan
eksplorasi. 2eberapa ahli menganjurkan eksplorasi secepatnya, akan tetapi hal ini
sulit dilakukan tanpa general anestesi kecuali pasien jatuh dalam syok. =angan
hentikan pemberian uterotonica selama dilakukan eksplorasi. 5etelah eksplorasi
lakukan massase dan kompresi bimanual ulang tanpa menghentikan pemberian
uterotonica. Pemberian antibiotic spectrum luas setelah tindakan ekslorasi dan
manual remoal. Apabila perdarahan masih berlanjut dan kontraksi uterus tidak baik
bisa dipertimbangkan untuk dilakukan laparatomi. Pemasangan tamponade
uterroaginal juga cukup berguna untuk menghentikan perdarahan selama persiapan
operasi
11
6 3rauma jalan lahir
Perlukaan jalan lahir sebagai penyebab pedarahan apabila uterus sudah
berkontraksi dengan baik tapi perdarahan terus berlanjut. @akukan eksplorasi jalan
lahir untuk mencari perlukaan jalan lahir dengan penerangan yang cukup. @akukan
reparasi penjahitan setelah diketahui sumber perdarahan, pastikan penjahitan dimulai
diatas puncak luka dan berakhir diba.ah dasar luka. @akukan ealuasi perdarahan
setelah penjahitan selesai. <ematom jalan lahir bagian ba.ah biasanya terjadi apabila
terjadi laserasi pembuluh darah diba.ah mukosa, penetalaksanaannya bisa dilakukan
incise dan drainase. Apabila hematom sangat besar curigai sumber hematom karena
pecahnya arteri, cari dan lakukan ligasi untuk menghentikan perdarahan.
6 7angguan pembekuan darah
=ika manual eksplorasi telah menyingkirkan adanya rupture uteri, sisa plasenta
dan perlukaan jalan lahir disertai kontraksi uterus yang baik mak kecurigaan
penyebab perdarahan adalah gangguan pembekuan darah. @anjutkan dengan
pemberian product darah pengganti ! trombosit,fibrinogen#.
6 3erapi pembedahan
o @aparatomi
Pemilihan jenis irisan ertical ataupun horiBontal !Pfannenstiel# adalah
tergantung operator. 2egitu masuk bersihkan darah bebas untuk memudahkan
mengeksplorasiuterus dan jaringan sekitarnya untuk mencari tempat rupture uteri
ataupun hematom. ;eparasi tergantung tebal tipisnya rupture. Pastikan reparasi
benarbenar menghentikan perdarahan dan tidak ada perdarahan dalam karena hanya
akan menyebabkan perdarahan keluar le.at agina. Pemasangan drainase apabila
perlu. Apabila setelah pembedahan ditemukan uterus intact dan tidak ada perlukaan
ataupun rupture lakukan kompresi bimanual disertai pemberian uterotonica.
o @igasi arteri
6 @igasi uteri uterine
12
Prosedur sederhana dan efektif menghentikan perdarahan yang berasal dari
uterus karena uteri ini mensuplai *0" darah yang mengalir ke uterus. 3idak ada
gangguan aliran menstruasi dan kesuburan.
6 @igasi arteri oarii
-udah dilakukan tapi kurang sebanding dengan hasil yang diberikan
6 @igasi arteri iliaca interna
Afektif mengurangi perdarahan yang bersumber dari semua traktus genetalia
dengan mengurangi tekanan darah dan circulasi darah sekitar pelis. Apabila tidak
berhasil menghentikan perdarahan, pilihan berikutnya adalah histerektomi.
2.2 S0ok H"#o1ole"k
2.2.1 De!"n"s"
*
5hock didefinisikan sebagai gangguan sirkulasi yang mengakibatkan
penurunan kritis perfusi jaringan ital atau menurunnya olume darah yang
bersirkulasi secara efektif. 5yok hipoolemik merupakan kondisi medis atau bedah
dimana terjadi cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ,
disebabkan oleh olume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang
tidak adekuat.
Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien
trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak
terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari luka, atau hematemesis dari tukak
lambung. Perdarahan yang tidak terlihat, misalnya perdarahan dari saluran cerna,
seperti tukak duodenum, cedera limpa, kehamilan di luar uterus, patah tulang pelis,
dan patah tulang besar atau majemuk.
2.2.2 Et"olog"
*
5yok hipoolemik yang dapat disebabkan oleh hilangnya cairan intraascular,
misalnya terjadi pada /
13
+. Kehilangan darah atau syok hemorargik karena perdarahan yang mengalir
keluar tubuh seperti hematotoraks, ruptur limpa, perdarahan post partum dan
kehamilan ektopik terganggu.
%. 3rauma yang berakibat fraktur tulang besar, dapat menampung kehilangan
darah yang besar.
). Kehilangan cairan intraaskuler lain yang dapat terjadi karena kehilangan
protein plasma atau cairan ekstraseluler, misalnya pada/
a. 7astrointestinal/ peritonitis, pankreatitis, dan gastroenteritis.
b. ;enal/ terapi diuretik, krisis penyakit Addison.
c. @uka bakar !kombustio# dan anafilaksis.
Kemungkinan besar yang dapat mengancam nya.a pada syok hipoolemik
berasal dari penurunan olume darah intraaskular, yang menyebabkan penurunan
cardiac output dan tidak adekuatnya perfusi jaringan. Kemudian jaringan yang ano?ia
mendorong perubahan metabolisme dalam sel berubah dari aerob menjadi anaerob.
<al ini menyebabkan akumulasi asam laktat yang menyebabkan asidosis metabolik.
2.2.$ Pato!"s"olog"
12
3ubuh manusia berespon terhadap perdarahan akut dengan mengaktiasi
sistem fisiologi utama sebagai berikut/ sistem hematologi, kardioaskuler, ginjal, dan
sistem neuroendokrin. 5istem hematologi berespon terhadap kehilangan darah yang
berat dan akut dengan mengaktiasi kaskade koagulasi dan asokonstriksi pembuluh
darah !melalui pelepasan tromboksan A% lokal#. 5elain itu, platelet diaktiasi !juga
melalui pelepasan tromboksan A% lokal# dan membentuk bekuan darah immatur pada
sumber perdarahan. Pembuluh darah yang rusak menghasilkan kolagen, yang
selanjutnya menyebabkan penumpukan fibrin dan menstabilkan bekuan darah.
,ibutuhkan .aktu sekitar %$ jam untuk menyempurnakan fibrinasi dari bekuan darah
dan menjadi bentuk yang sempurna.
5istem kardioaskuler pada a.alnya berespon terhadap syok hipoolemik
dengan meningkatkan denyut jantung, meningkatkan kontraktilitas miokard, dan
14
asokonstriksi pembuluh darah perifer. ;espon ini terjadi akibat peningkatan
pelepasan norepinefrin dan penurunan ambang dasar tonus nerus agus !diatur oleh
baroreseptor di arcus caroticus, arcus aorta, atrium kiri, dan penbuluh darah
pulmonal#. 5istem kardioaskuler juga berespon dengan mengalirkan darah ke otak,
jantung, dan ginjal dengan mengurangi perfusi kulit, otot, dan traktus gastrointestinal.
5istem renalis berespon terhadap syok hemoragik dengan peningkatan sekresi
renin dari apparatus ju?taglomeruler. ;enin akan mengubah angiotensinogen menjadi
angiotensin 0, yang selanjutnya akan dikonersi menjadi angiotensin 00 di paru-paru
dan di hati. Angotensin 00 mempunyai % efek utama, yang keduanya membantu
perbaikan keadaan pada syok hemoragik, yaitu asokonstriksi arteriol otot polos dan
menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron bertanggungja.ab
pada reabsorbsi aktif natrium dan akhirnya akan menyebabkan retensi air.
5istem neuroendokrin berespon terhadap syok hemoragik dengan
meningkatan Antidiuretik Hormone !A,<# dalam sirkulasi. A,< dilepaskan dari
glandula pituitari posterior sebagai respon terhadap penurunan tekanan darah
!dideteksi oleh baroreseptor# dan terhadap penurunan konsentrasi natrium !yang
dideteksi oleh osmoreseptor#. 5ecara tidak langsung A,< menyebabkan peningkatan
reabsorbsi air dan garam !1aCl# pada tubulus distalis, duktus kolektius, dan
lengkung <enle.
Patofisiologi dari syok hipoolemik itu telah tercakup pada apa yang ditulis
sebelumnya. ;eferensi untuk bacaan selanjutnya dapat ditemukan pada bibliografi.
-ekanisme yang rumit yang telah dijelaskan sebelumnya efektif dalam memenuhi
perfusi organ ital pada kehilangan darah yang berat. 3anpa resusitasi cairan dan
darah dan atau koreksi keadaan patologi yang mendasari perdarahan, perfusi jantung
akhirnya akan berkurang, dan kegagalan berbagai organ akan segera terjadi.
2.2.% ,an"!estas" Kl"n"s
*
15
a. Pada pasien dengan kemungkinan syok akibat hipoolemik, ri.ayat penyakit
penting untuk menentukan penyebab yang mungkin dan untuk penanganan
langsung. 5yok hipoolemik akibat kehilangan darah dari luar biasanya nyata
dan mudah didiagnosis. Perdarahan dalam kemungkinan tidak nyata, seperti
pasien hanya mengeluhkan kelemahan, letargi, atau perubahan status mental.
b. 7ejala-gejala syok seperti kelemahan, penglihatan kabur, dan kebingungan,
sebaiknya dinilai pada semua pasien.
c. Pada pasien trauma, menentukan mekanisme cedera dan beberapa informasi
lain akan memperkuat kecurigaan terhadap cedera tertentu !misalnya, cedera
akibat tertumbuk kemudi kendaraan, gangguan kompartemen pada pengemudi
akibat kecelakaan kendaraan bermotor.
d. =ika sadar, pasien mungkin dapat menunjukkan lokasi nyeri.
e. 3anda ital, sebelum diba.a ke unit ga.at darurat sebaiknya dicatat.
f. 1yeri dada, perut, atau punggung mungkin menunjukkan gangguan pada
pembuluh darah.
g. 3anda klasik pada aneurisma arteri torakalis adalah nyeri yang menjalar ke
punggung. Aneurisma aorta abdominalis biasanya menyebabkan nyeri perut,
nyeri punggung, atau nyeri panggul.
h. Pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal, mengumpulan keterangan
tentang hematemesis, melena, ri.ayat minum alkohol, penggunaan obat anti-
inflamasi non steroid yang lama, dan koagulopati !iatrogenik atau selainnya#
adalah sangat penting.
Kronologi muntah dan hematemesis harus ditentukan. Pada pasien
dengan hematemesis setelah episode berulang muntah yang hebat
kemungkinan mengalami 5indrom 2oerhaae atau -allory-Eeiss tear,
sedangkan pasien dengan ri.ayat hematemesis sejak sejak a.al
kemungkinan mengalami ulkus peptik atau arises esophagus.
=ika suatu penyebab ginekologik dipertimbangkan, perlu dikumpukan
informasi mengenai hal berikut/ periode terakhir menstruasi, faktor
risiko kehamilan ektopik, perdarahan peraginam !termasuk jumlah
dan durasinya#, produk konsepsi pada saluran agina, dan nyeri.
16
5emua .anita usia subur sebaiknya menjalani tes kehamilan, untuk
meyakinkan apakah mereka hamil. 3es kehamilan negatif bermakna
untuk menyingkirkan diagnosis kehamilan ektopik.
2.2.( Pendekatan Kl"n"s
12
Pemeriksaan fisik seharusnya selalu dimulai dengan penanganan jalan napas,
pernapasan, dan sirkulasi. Ketiganya diealuasi dan distabilkan secara bersamaan,
sistem sirkulasi harus diealuasi untuk tanda-tanda dan gejala-gejala syok.
=angan hanya berpatokan pada tekanan darah sistolik sebagai indikator utama
syok, hal ini menyebabkan diagnosis lambat. -ekanisme kompensasi mencegah
penurunan tekanan darah sistolik secara signifikan hingga pasien kehilangan )0"
dari olume darah. 5ebaiknya nadi, frekuensi pernapasan, dan perfusi kulit lebih
diperhatikan. =uga, pasien yang mengkonsumsi beta bloker mungkin tidak mengalami
takikardi, tanpa memperhatikan derajat syoknya.
Ta/el 1. Ind"kas" #araeter #ada #eer"ksaan atau #engka-"an dala
engest"as" keh"langan 1olue +a"ran
17
2.$. Aton"a Uter"
2.$.1. De!"n"s"
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim yang
menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat
implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir
2.$.2. INSIDENSI
Perdarahan post partum dapat menyebabkan kematian ibu $5" terjadi %$ jam
pertama setelah bayi lahir, &'-() " dalam satu minggu setelah bayi lahir, dan '%-''"
dalam dua minggu setelah bayi lahir.
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini
!50"#, dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi
peripartum.
2.$.$. PEN2EBAB
Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor
predisposisi seperti /
18
+. Derdistention uterus seperti/ gemeli makrosomia, polihidramnion, anak
terlalu besar atau paritas tinggi.
%. 8mur yang terlalu muda atau terlalu tua
). -ultipara dengan jarak kelahiran pendek
$. Partus lama
5. -alnutrisi.
&. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta
belum terlepas dari dinding uterus.
(. <ipertensi dalam kehamilan !7estosis#.
'. ;i.ayat atonia sebelumnya
*.3indakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam.
5elain faktor : faktor di atas, faktor lain yang juga dapat menyebabkan
terjadinya atonia uteri adalah /
a. Kehamilan dengan mioma uterus
-ioma yang paling sering menjadi penyebab perdarahan post partum
adalah mioma intra mular, dimana mioma berada di dalam miometrium
sehingga akan menghalangi uterus berkontraksi.
b. Persalinan buatan !5ectio Cesaria, 9orcep dan akum ekstraksi#
Persalinan buatan mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera
mengeluarkan janin dengan segera sehingga pada pasca persalinan
menjadi lelah dan lemah untuk berkontraksi.
c. Persalinan le.at .aktu
Peregangan yang berlebihan ada otot uterus karena besarnya kehamilan,
ataupun juga terlalu lama menahan beban janin di dalamnya menjadikan
otot uterus lelah dan lemah untuk berkontraksi.
d. Persalinan yang cepat
19
Persalinan cepat mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera
mengeluarkan janin sehingga pada pasca persalinan menjadi lelah dan
lemah untuk berkontraksi.
e. Kelainan plasenta
Plasenta akreta, plasenta preia dan plasenta lepas prematur
mengakibatkan gangguan uterus untuk berkontraksi. Adanya benda
asing menghalangi kontraksi yang baik untuk mencegah terjadinya
perdarahan.
f. Anastesi atau analgesik yang kuat
Dbat anastesi atau analgesi dapat menyebabkan otot uterus menjadi
dalam kondisi relaksasi yang berlebih, sehingga saat dibutuhkan untuk
berkontraksi menjadi tertunda atau terganggu. ,emikian juga dengan
magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada
preeklamsi/eklamsi yang berfungsi sebagai sedatia atau penenang.
g. 0nduksi atau augmentasi persalinan
Dbat-obatan uterotonika yang digunakan untuk memaksa uterus
berkontraksi saat proses persalinan mengakibatkan otot uterus menjadi
lelah.
h. Penyakit sekunder maternal
Anemia, endometritis, kematian janin dan koagulasi intraaskulere
diseminata merupakan penyebab gangguan pembekuan darah yang
mengakibatkan tonus uterus terhambat untuk berkontraksi.
i. 5alah pimpinan kala 000
Faitu kalau rahim di pijat-pijat untuk mempercepat lahirnya plasenta.
Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari
uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta
menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik, pemberian uterotonik yang
tidak tepat .akunya yang juga dapat menyebabkan seriks kontraksi
dan menahan plasenta.
20
2.$.%. DIA3N4SIS
- 2ila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif,
banyak dan bergumpal
- ,ari palpasi didapatkan fundus uteri setinggi pusat atau lebih dengan
kontraksi yang lembek
- Plasenta lengkap
- 0nspekulo / untuk melihat robekan pada serik atau agina, dan arises
yang pecah
2.$.(. 3EJALA KLINIK
- 8terus tidak berkontraksi dan lembek
- Perdarahan aktif, sangat banyak dan darah tidak merembes segera setelah
bayi lahir
- 9undus uteri masih tinggi
- 3anda : tanda syok ! tekanan darah rendah, takikardia, ekstremitas
dingin, gelisah, mual muntah dan lain- lain#
2.$.*. PAT4&4SI4L43I
Perdarahan postpartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serat-
serat miometrium terutama yang berada disekitar pembuluh darah yang
mensuplai darah pada tempat implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi karena
myometrium tidak dapat berkontraksi. Atonia uteri merupakan penyebab
tersering perdarahan postpartum, sekurang-kurangnya %/) dari semua
perdarahan postpartum disebabkan oleh atonia uteri.
+%
21
,ekan"se #enghent"an #erdarahan otot uterus
2.$.*. PENATALAKSANAAN
22
AT4NIA
UTE'I
-ultiparitas
Partus lama
;egangan uterus
5olusio plasenta
Kadar <b
1ilai fungsi
pembekuan
-asase uterus dan kompresi bimanual
Dksitosi +0 08 0- dan infus %0 08 dalam 500 ml 15/;@ $0 tetes-
guyur
0nfus untuk restorasi cairan dan jalur obat esensial
Perdarahan
terus
berlangsung
8terus tidak
berkontraksi
0dentifikasi sumber
perdarahan lainnya/
@aserasi jalan lahir
<ematoma
parametrial
;uptura uteri
0nersio uteri
5isa fragmen placenta
Koagulopati
Kompresi bimanual
Kompresi aorta abdominalis
3ekan segmen ba.ah atau aorta abdominalis
Pemberian misoprostol $00 mg rektal
2erhasil
3idak berhasil
3empon uterus
;ujuk
@igasi ateri uterina dan oarika
Terkontrol
3ransfusi
'A5AT LANJUT dan
4BSE'6ASI KETAT
Perdarahan
-asih
berlangsung
3ransfusi
HISTE'EKT4,I
Penanganan Khusus atonia uteri /
+. ;esusitasi
Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan
a.al yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat,
monitoring tanda-tanda ital, monitoring jumlah urin, dan monitoring
saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu
dilakukan untuk persiapan transfusi darah.
%. -asase, merangsang puting susu, dan kompresi bimanual
-asase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus
yang akan menghentikan perdarahan. Pemijatan fundus uteri segera setelah
lahirnya plasenta !ma? +5 detik#.
a. =ika uterus berkontraksi
Aaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung,
periksa apakah perineum atau agina dan seriks mengalami laserasi
dan jahit atau rujuk segera.
b. =ika uterus tidak berkontraksi maka /
23
2ersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari agina G lobang
seriks
+# Pastikan bah.a kandung kemih telah kosong
%# @akukan kompresi bimanual internal !K20# selama 5 menit.
)# =ika uterus berkontraksi, teruskan K20 selama % menit, keluarkan
tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.
$# =ika uterus tidak berkontraksi, maka / Anjurkan keluarga untuk
mulai melakukan kompresi bimanual eksternalH Keluarkan tangan
perlahan-lahanH 2erikan ergometrin 0,% mg @- !jangan diberikan
jika hipertensi#, Pasang infus menggunakan jarum ukuran +& atau
+' dan berikan 500 ml ;@ I %0 unit oksitosin. <abiskan 500 ml
pertama secepat mungkin, 8langi K20 =ika uterus berkontraksi,
pantau ibu dengan seksama selama kala empat =ika uterus tidak
berkontraksi maka rujuk segera
). 8terotonika
Dksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior
hipofisis. Dbat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat
seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor
oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan
meningkatkan frekuensi, tetapi pada dosis tinggi menyababkan tetani.
Dksitosin dapat diberikan secara 0- atau 0>, untuk perdarahan aktif
diberikan le.at infus dengan ringer laktat %0 08 perliter, jika sirkulasi kolaps
bisa diberikan oksitosin +0 08 intramiometrikal !0--#. Afek samping
pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan omitus, efek
samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.
$. Kompresi bimanual eksterna dan interna
Kompresi bimanual eksterna
@etakan satu tangan di atas fundus uteri dan satu tangan dalam keadaan
terkepal letakan pada bagian korpus uteri kemudian rapatkan kedua tangan
24
untuk menekan pembuluh darah di dinding uterus dengan jalan menjepit
uterus diantara kedua tangan tersebut
Kompresi bimanual interna
@etakan satu tangan pada dinding perutdan usahakan menahan bagian
belakang uterus sejauh mungkin. @etakan tangan yang lain pada korpus
depan dari dalam agina, kemudian tekan untuk mengkompresi pembuluh
darah di dinding uterus.
5. 8terine laage dan 8terine Packing
=ika uterotonika gagal menghentikan perdarahan, pemberian air
panas ke dalam caum uteri mungkin dapat bermanfaat untuk mengatasi
atonia uteri. Pemberian +-% liter salin $(JC-50JC langsung ke dalam caum
uteri menggunakan pipa infus. 3angan operator tidak boleh menghalangi
25
agina untuk memberi jalan salin keluar. Penggunaan uterine packing saat
ini tidak disukai dan masih kontroersial.
Prinsipnya adalah membuat distensi maksimum sehingga
memberikan tekanan maksimum pada dinding uterus. 5egmen ba.ah rahim
harus terisi sekuat mungkin, anestesi dibutuhkan dalam penanganan ini dan
antibiotika broad-spectrum harus diberikan. 8terine packing dipasang
selama %$-)& jam, sambil memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah
masuk. 8terine packing diberikan jika tidak tersedia fasilitas operasi atau
kondisi pasien tidak memungkinkan dilakukan operasi.
&. Dperatif
a. @igasi arteri uterina
2eberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan
angka keberhasilan '0-*0". Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina
yang berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen ba.ah rahim.
=ika dilakukan 5C, ligasi dilakukan %-) cm diba.ah irisan segmen ba.ah
rahim. 8ntuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan
benang absorbable yang sesuai. Arteri dan ena uterina diligasi dengan
mele.atkan jarum %-) cm medial asa uterina, masuk ke miometrium
keluar di bagian aaskular ligamentum latum lateral asa uterina. 5aat
melakukan ligasi hindari rusaknya asa uterina dan ligasi harus mengenai
cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk menyertakan
%-) cm miometrium. =ahitan kedua dapat dilakukan jika langkah diatas
tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen ba.ah rahim.
,engan menyisihkan esika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada
asa uterina bagian ba.ah, )-$ cm diba.ah ligasi asa uterina atas. @igasi
ini harus mengenai sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen
ba.ah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke serik, jika
26
perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau
unilateral ligasi asa oarian.
b. @igasi arteri 0liaka 0nterna
0dentiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang,
untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-' cm pada peritoneum
lateral paralel dengan garis ureter. 5etelah peritoneum dibuka, ureter
ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri %,5 cm distal bifurkasio
iliaka interna dan eksterna. Klem dile.atkan dibelakang arteri, dan dengan
menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak
+,5-% cm. <indari trauma pada ena iliaka interna. 0dentifikasi denyut
arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah
ligasi.;isiko ligasi arteri iliaka adalah trauma ena iliaka yang dapat
menyebabkan perdarahan. ,alam melakukan tindakan ini dokter harus
mempertimbangkan .aktu dan kondisi pasien.
a. 3eknik 2-@ynch
3eknik 2-@ynch dikenal juga dengan 4brace sutureK, ditemukan oleh
Christopher 2 @ynch +**(, sebagai tindakan operatif alternatie
untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.
b. <isterektomi
<isterektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan
jika terjadi perdarahan pospartum masif yang jmembutuhkan tindakan
operatif. 0nsidensi mencapai (-+) per +0.000 kelahiran, dan lebih
banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan aginal.

2.$.7. PEN8E3AHAN
@angkah berikutnya dalam upaya mencegah atonia uteri ialah melakukan
#enanganan kala t"ga se+ara akt"!, yaitu
a. -enyuntikan Dksitosin
- -emeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal.
27
- -enyuntikan Dksitosin +0 08 secara intramuskuler pada bagian
luar paha kanan +/) atas setelah melakukan aspirasi terlebih dahulu
untuk memastikan bah.a ujung jarum tidak mengenai pembuluh
darah.
b. Peregangan 3ali Pusat 3erkendali
- -emindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-+0 cm dari
ula atau menggulung tali pusat
- -eletakan tangan kiri di atas simpisis menahan bagian ba.ah
uterus, sementara tangan kanan memegang tali pusat menggunakan
klem atau kain kasa dengan jarak 5-+0 cm dari ula
- 5aat uterus kontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke
arah dorso-kranial
c. -engeluarkan plasenta
- =ika dengan penegangan tali pusat terkendali tali pusat terlihat
bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta, minta
ibu untuk meneran sedikit sementara tangan kanan menarik tali
pusat ke arah bah.a kemudian ke atas sesuai dengan kure jalan
lahir hingga plasenta tampak pada ula.
- 2ila tali pusat bertambah panjang tetapi plasenta belum lahir,
pindahkan kembali klem hingga berjarak L 5-+0 dari ula. 2ila
plasenta belum lepas setelah +5 menit 5untikan ulang +0 08
Dksitosin i.m
- Periksa kandung kemih, lakukan kateterisasi bila penuh
- 3unggu +5 menit, bila belum lahir lakukan tindakan plasenta
manual
d. 5etelah plasenta tampak pada ula, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. 2ila terasa ada tahanan, penegangan plasenta dan
28
selaput secara perlahan dan sabar untuk mencegah robeknya selaput
ketuban.
e. -asase 8terus
5egera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri
dengan menggosok fundus secara sirkuler menggunakan bagian
palmar $ jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik !fundus teraba
keras#
f. -emeriksa kemungkinan adanya perdarahan pasca persalinan
- Kelengkapan plasenta dan ketuban
- Kontraksi uterus
- Perlukaan jalan lahir
2.$.9. K4,PLIKASI
- 0nfeksi
- sindroma 5heehan sebagai akibat nekrosis pada hipofisis pars anterior
sehingga terjadi insufisiensi bagian tersebut. 7ejala-gejalanya ialah
hipotensi, anemia, turunnya berat badana sampai menimbulkn
kakeksia, penurunana fungsi seksual dengan atrifi alat-alat genital,
kehilangan rambut pubis dan ketiak, penurunan metabolisme dan
hipotensi, amenorea dan kehilangan fungsi laktasi.
- Kematian
29
BAB III
LAP4'AN KASUS
$.1 Ident"tas
1ama / 1y. 5.-
8mur / )$ tahun
Pekerjaan / 0;3
Alamat / ,s. Karang Kemiri 2elitang
Agama / 0slam
3gl. -;5 / %+/*/%0+$ Pukul 0*/$5 E02
1o. ;- / ++5'%)
$.2 Ananesa
Keluhan Utaa : Pendarahan setelah melahirkan spontan.
'";a0at Pen0ak"t Sekarang <'PS= :
Pasien datang ke PD1AK ;58, Palembang 2ari diantar oleh bidan dengan
keluhan mengalami pendarahan setelah melahirkan spontan L ) jam yang lalu. anak
ke ) dengan berat )+00 gr dan Panjang $* cm dengan diagnosis hemoragik post
partum ec susp sisa Plasenta. -enurut 2idan yang mengantar, pendarahan dialami
pasien terus menerus setelah melahirkan. kelahiran plasenta L +5 menit setelah
kelahiran bayi. 5aat plasenta lahir keadaan plasenta utuh tetapi pendarahan
30
0dentitas suami/
1ama / 7unadi
8mur / )5 tahun
Alamat/ 0ndralaya. Dgan ilir
Agama / islam
peraginam aktif terus menerus dan kontraksi uterus yang kurang adekuat. =umlah
pendarahan cukup banyak sehingga pasien harus berganti sarung sebanyak 5?. Ds
dirujuk ke ;58, Palembang 2ari. 5aat tiba di ;5. 2ari kondisi pasien cukup lemah
dengan .ajah pucat. Pada tangan kanan terpasang 0>9, ;@.
5aat kehamilan pasien sering A1C dengan bidan setempat.
;i.ayat -ensturasi/
-enarche / L+5 tahun
5iklus / %' hari
@amanya / 5M& hari
;i.ayat Persalinan/
3ahun =K 22@ P2@
+. % Perempuan )000gr - 5pontan
peraginam
%. Perempuan )500gr - 5pontan
peraginam
). % @aki-laki )+00gr - 5pontan
peraginam
;i.ayat Penyakit ,ahulu/
Asma / !-#
Penyakit jantung / !-#
,iabetes militus / !-#
Penyakit paru-paru / !-#
<ipertensi / !-#
Alergi obat dan makanan / !-#
Apilepsy / !-#
31
;i.ayat Penyakit Keluarga
Asma / !-#
Penyakit jantung / !-#
,iabetes militus / !-#
Penyakit paru-paru / !-#
<ipertensi / !-#
Alergi obat dan makanan / !-#
Apilepsy / !-#
).). PA-A;0K5AA1 9050K
Keadaan umum / 3ampak sakit sedang
Kesadaran / delirium
3anda ital / 3,/ +%0/(0 mm<g
1adi / +%% ?/ menit
;; / %& ?/ menit
3/ )&,%
o
C
Kepala /
- -ata / konjungtia anemis !I/I#, sclera ikterik !-/-#
- <idung / nafas cuping hidung !-#, secret !-#
- -ulut / tidak ada kelainan
- 3elinga / tidak ada kelainan
@eher / tidak ada kelainan
3horak / tidak ada kelainan
Abdomen / tidak ada kelainan
Akstremitas / Acral dingin I
5tatus obstetri
Pemeriksaan luar /
32
- 398 / 5epusat
Pemeriksaan dalam /
- >agina /ula / tidak ada kelainan
- D8A / terbuka. Pendarahan tidak aktif
- ,ilakukan eksplorasi didapat stool sel. =aringan tidak ada.
).$. PA-A;0K5AA1 @A2D;A3D;08-
3anggal %+/*/+$
- <2 / &,% gr/dl
- @eukosit / %+.'00/ui
- 3rombosit / %00.000/ui
- <ematocrit / +'"
- 7olongan darah/ D
- ;hesus / I
- Clotting time / +0K
- 2leeding time /%K
).5. ,0A71D505 2A1,017
<emoragik Post Partum ec Atonia 8teri
<emoragik Post Partum ec 5isa Plasenta
<emoragik Post Partum ec Perlukaan jalan @ahir.
).&. PA1A7AKA1 ,0A71D505
,ari Anamnesis didapatkan 1y. 5.-/ )$ th. datang ke Ponek ;58,
Palembang 2ari dengan keluhan mengalami pendarahan pasca
melahirkan sejak L ) jam 5-;5. -enurut 2idan yang mengantar,
33
pendarahan dialami pasien terus menerus setelah melahirkan.
kelahiran plasenta L 5 menit setelah kelahiran bayi. 5aat plasenta lahir
keadaan plasenta utuh tetapi pendarahan peraginam aktif terus
menerus dan kontraksi uterus yang kurang adekuat.
Pemeriksaan fisik/ K8 / 3ampak sakit sedang. Kesadaran/ ,elirium
pada pemeriksaan ital sign 3,/ +%0/(0 mm<g 1adi/ +%% ?/menit.
5uhu badan )&,%
0
C.
Pemeriksaan fisik spesifik. Konjungtia anemis I, acral dingin I.
Pemeriksaan obstetric / P@/ 398 5epusat. P,/ >ula dan >agina
tidak ada kelainan. D8A 3erbuka. Pendarahan Aktif !-#. ,ilakukan
Aksplorasi 8terus didapatkan 5tool Cell !I# jaringan !-#
Pemeriksaan @aboratorium/ <b/ &,% gr/dl
).(. ,iagnosis Kerja
P)A0 Post Partus spontan dengan <emoragik Post Partum ec Atonia
uteri
).'. Penatalaksanaan !PD1AK#
Dbserasi >ital 5ign dan perdarahan
0>9, ;@ I % amp oksitosin gtt NN
?
/m tangan Kanan
0>9, 1aCl gtt NN
?
/m tangan Kiri
Cek <b Cito jika diba.ah * rencana tranfusi
Aksplorasi >agina tidak terdapat sisa plasenta. 5tol sel !I#
0nj Ceftria?on %?+ gr
0nj ,e?ametason 0 amp 0 ? order
34
BAB I6
ANALISA KASUS
Pasien rujukan datang bersama bidan dalam keadaan delirium, pucat, keluar
banyak darah dari agina. Pasien rujukan datang dengan diagnosis P) A0 post partus
spontan dengan pendarahan susp sisa plasenta. -enurut 2idan yang mengantar,
pendarahan dialami pasien terus menerus setelah melahirkan. kelahiran plasenta L 5
menit setelah kelahiran bayi. 5aat plasenta lahir keadaan plasenta utuh tetapi
pendarahan peraginam aktif terus menerus dan kontraksi uterus yang kurang
adekuat. =umlah pendarahan cukup banyak sehingga pasien harus berganti sarung
sebanyak 5?
Pemeriksaan fisik/ K8 / 3ampak sakit sedang. Kesadaran/ ,elirium pada
pemeriksaan ital sign 3,/ +%0/(0 mm<g 1adi/ +%% ?/menit. 5uhu badan )&,%
0
C,
konjungtia anemis I, acral dingin I. 2erdasarkan pemeriksaan fisik dan ital sign
tesebut pasien memang tampak lemah, nadi cepat dan acral dingin tetapi tekanan
darah pasien dalam batas normal. Pasien sudah bias dikategorikan mengalami syok
hipoolemik ringan.
Pemeriksaan obstetric / P@/ 398 5epusat. P,/ >ula dan >agina tidak ada
kelainan. D8A 3erbuka. Pendarahan Aktif !-#. ,ilakukan Aksplorasi 8terus
didapatkan 5tool Cell !I# jaringan !-#. 2erdasarkan pemeriksaan obstetric ula dan
agina tidak ada kelainan sehingga <PP ec perlukaaan jalan lahir bisa disingkirkan.
Pendarahan aktif !-# sehingga kompresi bimanual atau tamponade tidak perlu
dilakukan. Pada pemeriksaan eksploarsi uteru tidak ditemukan sisa plasenta sehingga
<PP ec sisa plasenta dapat disingkirkan.
35
Pemeriksaan @aboratorium/ <b/ &,% gr/dl dan leukosit %+.'00/ui
3atalaksana pada pasien ini adalah memperbaiki keadaan umum pasien dari keadaaan
anemia berat dengan cara melakukan transfusi darah dan obserasi keadaan umum
dan ital sign.
36
BAB 6
KESI,PULAN
Perdarahan pasca persalinan/ hemoragik post partum (HPP) adalah
perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir.
Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah lahirnya plasenta. ,efinisi
lain menyebutkan Perdarahan Pasca Persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih
yang terjadi setelah plasenta lahir.
2anyak faktor potensial yang dapat menyebabkan hemorrhage postpartum,
faktor-faktor yang menyebabkan hemorrhage postpartum adalah atonia uteri,
perlukaan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, kelainan pembekuan darah.
Pada laporan ini di dapatkan kasus 1y 5-/)$ th/ P)A0/ datang diantar bidan
dengan diagnosis <<P ec susp sisa plasenta. Kedaan umum pasien tampak sakit
sedang dengan tingkat kesadaran delirium. >ital sign 3,/ +%0/(0 mm<g 1adi/ +%%
?/menit. 5uhu badan )&,%
0
C, konjungtia anemis I, acral dingin I. 2erdasarkan
pemeriksaan fisik dan ital sign tesebut pasien memang tampak lemah, nadi cepat dan
acral dingin tetapi tekanan darah pasien dalam batas normal. Pasien sudah bias
dikategorikan mengalami syok hipoolemik ringan.
Pemeriksaan obstetric / P@/ 398 5epusat. P,/ >ula dan >agina tidak ada
kelainan. D8A 3erbuka. Pendarahan Aktif !-#. ,ilakukan Aksplorasi 8terus
didapatkan 5tool Cell !I# jaringan !-# Pendarahan aktif !-#.Pemeriksaan
@aboratorium/ <b/ &,% gr/dl dan leukosit %+.'00/ui
3atalaksana pada pasien ini adalah memperbaiki keadaan umum pasien dari
keadaaan anemia berat dengan cara melakukan transfusi darah dan obserasi keadaan
umum dan ital sign.
37
DA&TA' PUSTAKA
+. 5ar.ono. %0++. 0lmu kebidanan. 2ina Pustaka 5ar.ono Pra.ihardjo. =akartaH
0ndonesia
%. Fiadom A F -aame. Postpartum <emorrhage in Amergency -edicine
http///emedicine.medscape.com/article/(*&('5-clinical Akses %)/*/+$
). Atonia 8teri repository.usu.ac.id/bitstream/+%)$5&('*/%$0$$/$/Chapter
"%000.pdf Akses %)/*/+$
$. 5mith, =ohn ;. Postpartum <emorrhage http///emedicine.medscape.com/
article/%(50)'-oerie.
5. Eiknjosastro, <anifa, Abdul 2ari 5aifudin, 3riatmojo ;achimhadhi. 0lmu
2edah Kebidanan. Fayasan 2ina Pustaka 5ar.ono Pra.iharjo.=akarta. %0+0
&. 7eneral =aa Dnline. -aternal G 1eonatal <ealth. D253A3;0C G
1AD1A3A@ A-A;7A1CF. %00)
(. Ealling, ,. Anne. American Academy 9amily of Physician. ;isk of
<emorrhage and scarring in placenta accreta. August +***
'. 5aifuddin, Abdul 2ari. 2uku Acuan 1asional Pelayanan Kesehatan -aternal
dan 1eonatal. 2ina Pustaka 5ar.ono Pra.iroharjo. =akarta. %00*
*. 7abbe / Dbstretics : 1ormal and Problem Pregnancies,$th ed.,Copyright O
%00% Churchil @iingstone, 0nc.
+0. -ochtar ;ustam,%00', 5inopsis Dbstretis, edisi % jilid +. A7C. =akarta
++. -ansjoer Arif . Kapita 5elekta Kedokteran Adisi ke tiga =ilid Pertama ,
2inarupa Aksara. =akarta/+**&
+%. -anuaba, 0.2. %00(. Pengantar Kuliah Dbstetri, edisi +. A7CH =akarta
38