Anda di halaman 1dari 25

SEMINAR AKUNTANSI PEMERINTAH

ALTERNATIVE BASES OF ACCOUNTING :


DEFINITION AND RECOGNITION OF REVENUES











KELOMPOK II
Arga Jaya Dwiputra, email: bowgel89@gmail.com
Fahreza Dhika Pradana, email: fahrezadhika@gmail.com
Hendra Medianto, email: hendramedianto@gmail.com
Wishnu Kusumo Agung E, email: abulailahasna@gmail.com
Yuli Susanti, email: yuli.santi11@gmail.com


Program Diploma IV Akuntansi Khusus
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Tangerang Selatan


ABSTRAK. Makalah ini menjelaskan mengenai definisi revenue atau pendapatan
berdasarkan 4 (empat) jenis basis atau pendekatan yang dikenal secara umum. Basis
tersebut mencakup basis kas, basis akrual, basis kas modifikasian, dan basis akrual
modifikasian. Selain itu dijelaskan pula mengenai definisi exchange revenue dan non
resiprocal revenue sebagaimana tercantum dlam PSC Study Number 9. Pada makalah ini
dijelaskan pula mengenai prinsip prinsip pengakuan pendapatan dan klasifikasi
pendapatan berdasarkan IPSAS dan PSAP.


2

PENDAHULUAN

IPSAS(International Public Sector Accounting Standards) telah diadopsi oleh banyak
negara di dunia. Munculnya IPSAS sebagai pedoman penyelenggaraan akuntansi berbasis
akrual telah memberikan arahan jelas bagi mereka yang berkeinginan untuk mengikuti jejak
negara yang telah berhasil menerapkan basis akrual di dalam akuntansi anggarannya.
Namun, standar akuntansi sektor publik tersebut tidak dengan serta merta dapat langsung
diaplikasikan 100% oleh suatu negara. Tercatat hanya beberapa negara saja yang
menerapkan IPSAS secara menyeluruh sebagai standar akuntansi sektor publik di
negaranya. Atas dasar itulah, muncul basis basis pengakuan pendapatan di dalam
penerapan IPSAS oleh negara negara di dunia yaitu basis akrual, basis kas, basis kas
modifikasian, dan basis akrual modifikasian. Prinsip pengakuan pendapatan ini sangat lekat
dengan definisi dan ketegori dari pendapatan itu sendiri. Berdasarkan PSC Study No.9
Definition and Recognition of Revenues par. 30, konsep Revenues sendiri dibedakan
menjadi dua kategori utama, yakni:
a) Kategori pertama adalah exchange revenues yang dalam banyak kasus
disamakan dengan pendapatan bisnis komersial.
b) Sedangkan kategori kedua yakni non-reciprocal revenues dimana kategori ini
termasuk juga penerimaan karena adanya kekuasaan kedaulatan (undang-
undang/paksaan), beasiswa, donasi, dan transfer-transfer dana yang sejenis.
Dikecualikan dari pengertian pendapatan (revenue) menurut IPSAS 9 par.13 adalah
arus masuk pembiayaan dikarenakan :
a) memberikan hasil yang sama di dalam perubahan nilai aset dan kewajiban,
dan;
b) tidak memiliki dampak atas aset bersih/ekuitas.
Pada klasifikasi pendapatan dijelaskan mengenai jenis jenis pendapatan berdasarkan
IPSAS 7 tentang Exchange Revenues dan IPSAS 23 tentang Non Resiprocal Revenues
yang secara garis besar mencakup:
1. Exchange Revenues and Gains
2. Revenues From The Use of Sovereign Powers
3. Grants and Donations





3

PEMBAHASAN

1. DEFINISI REVENUE DENGAN 4 BASIS AKUNTANSI YANG DIKENAL UMUM

Pendapatan merupakan hasil imbalan terhadap adanya penyerahan barang atau jasa
yang telah di produksi dalam operasi perusahaan. Pendapatan merupakan unsur yang
paling utama dalam menentukan tingkat laba yang dapat dilihat sebagai prestasi
perusahaan dalam mengoperasikan perusahaannya dalam suatu periode tertentu.
The International Accounting Standards Committee (IASC) Framework menggambarkan
pendapatan seperti yang timbul dalam rangka kegiatan bisnis suatu perusahaan. Baik
pendapatan dan keuntungan dimasukkan dalam definisi pendapatan pada IASC Framework.
Income is increases in economic benefits during the accounting period in the form of
inflows or enhancements of assets or decreases of liabilities that result in increases in
equity, other than those relating to contributions from equity participants (paragraph 70).
[Pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk
aliran masuk atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas, dan lain-lain yang berkaitan dengan kontribusi pada ekuitas entitas"].
Sedangkan definisi pendapatan menurut Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) adalah
sebagai berikut:
Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara yang menambah
ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 mengenai Keuangan Negara,
pendapatan didefinisikan sebagai berikut:
Penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara. (pasal 1 ayat 9)
Pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai
kekayaan bersih. (pasal 1 ayat 13)
Adapun definisi Pendapatan menurut Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah sebagai berikut:
Pendapatan negara yaitu semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan
perpajakan, penerimaan negara bukan pajak serta penerimaan hibah dari dalam dan luar
negeri selama tahun anggaran yang bersangkutan. (pasal 2 ayat 1)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan
wujud dari hak dari sebuah entitas atas kenaikan manfaat ekonomi dan memiliki fungsi
sebagai penambah kekayaan atau ekuitas serta dapat diukur dengan menggunakan satuan
moneter.
4

Basis akuntansi merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang menentukan kapan pengaruh
atas transaksi atau kejadian harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Basis akuntansi
ini berhubungan dengan waktu kapan pengukuran dilakukan. Basis akuntansi pada
umumnya ada dua yaitu basis kas dan basis akrual. Selain kedua basis akuntansi tersebut
terdapat modifikasi dari keduanya, yaitu modifikasi dari akuntansi berbasis kas, dan
modifikasi dari akuntansi berbasis akrual.
Tidak terkecuali di dalam sistem akuntansi pemerintah di Indonesia, sistem akuntansi
berbasis cash toward accrual menggunakan dual basis dimana pengakuan pendapatan,
belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran menggunakan basis kas,
sedangkan untuk pengakuan aktiva, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca
menggunakan.basis akrual (Lampiran II.01 PP No. 71 Tahun 2010 par 39). Sedangkan
sistem akuntansi berbasis akrual yang akan dijalankan pada tahun 2015 mendatang akan
menggunakan basis akrual dengan catatan bahwa apabila dalam hal peraturan
perundangan mewajibkan disajikannya laporan keuangan berbasis kas, maka entitas wajib
menyajikan laporan berbasis kas tersebut (Lampiran I.01 PP No.71 Tahun 2010).
Akibat adanya perbedaan penggunaan basis maka prinsip dalam pengakuan
pendapatan memiliki definisi yang berbeda-beda sebagai berikut:
1.1. Basis Kas
Dalam akuntansi berbasis kas, transaksi ekonomi dan kejadian lain diakui ketika
kas diterima atau dibayarkan. Basis kas ini dapat mengukur kinerja keuangan
pemerintah yaitu untuk mengetahui perbedaan antara penerimaan kas dan
pengeluaran kas dalam suatu periode. Basis kas menyediakan informasi mengenai
sumber dana yang dihasilkan selama satu periode, penggunaan dana dan saldo kas
pada tanggal pelaporan. Model pelaporan keuangan dalam basis kas biasanya
berbentuk Laporan Penerimaan dan Pembayaran (Statement of Receipts and
Payment) atau Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement).
Pada praktek akuntansi pemerintahan di Indonesia, dalam hal anggaran disusun
dan dilaksanakan berdasar basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran, berarti
bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima oleh Rekening Kas Umum
Negara/Daerah, dan belanja, transfer dan pengeluaran pembiayaan diakui pada saat
kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah. Secara rinci pengakuan
item-item dalam laporan realisasi anggaran, sesuai dengan Exposure Draft PSAP
Pernyataan No. 2 tentang Laporan Realisasi Anggaran adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah atau entitas pelaporan.
2. Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Khusus pengeluaran melalui bendahara
5

pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas
pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi
perbendaharaan
3. Dana Cadangan diakui pada saat pembentukan yaitu pada saat dilakukan
penyisihan uang untuk tujuan pencadangan dimaksud. Dana Cadangan
berkurang pada saat terjadi pencairan Dana Cadangan.
4. Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah.
5. Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening Kas Umum
Negara/Daerah.
Adapun kelebihan dari penggunaan akuntansi berbasis kas antara lain :
1. Laporan keuangan berbasis kas memperlihatkan sumber dana ,
2. Alokasi dan penggunaan sumber-sumber kas,
3. Mudah untuk dimengerti dan dijelaskan,
4. Pembuat laporan keuangan tidak membutuhkan pengetahuan yang mendetail
tentang akuntansi, dan tidak memerlukan pertimbangan ketika menentukan
jumlah arus kas dalam suatu periode.
Sedangkan Kekurangan akuntansi berbasis kas yaitu :
1. Hanya memfokuskan pada arus kas dalam periode pelaporan berjalan,
2. Mengabaikan arus sumber daya lain yang mungkin berpengaruh pada
kemampuan pemerintah untuk menyediakan barang-barang dan jasa-jasa saat
sekarang dan saat mendatang,
3. Laporan posisi keuangan (neraca) tidak dapat disajikan, karena tidak terdapat
pencatatan secara double entry,
4. Tidak dapat menyediakan informasi mengenai biaya pelayanan (cost of service)
sebagai alat untuk penetapan harga (pricing), kebijakan kontrak publik, untuk
kontrol dan evaluasi kinerja.

1.2. Basis Kas Modifikasian
Basis ini merupakan penggunaan sistem akuntansi berbasis kas biasa namun
ditambahkan dengan adanya tambahan waktu atau periode tertentu (specific period)
misalnya 1 atau 2 bulan setelah periode berjalan (leaves the books open) untuk
melakukan modifikasi atau pencatatan dalam laporan keuangan. Adanya penerimaan
dan pengeluaran kas yang terjadi selama periode tertentu yang telah ditentukan dan
disebabkan oleh periode pelaporan sebelumnya akan diakui sebagai penerimaan dan
pengeluaran atas periode pelaporan yang lalu (periode sebelumnya). Arus kas pada awal
6

periode pelaporan yang diperhitungkan dalam periode pelaporan tahun lalu dikurangkan
dari periode pelaporan berjalan.
Laporan keuangan dalam basis ini juga memerlukan pengungkapan tambahan atas
item-item tertentu yang biasanya diakui dalam basis akuntansi akrual. Pengungkapan
tersebut sangat beragam sesuai dengan kebijakan pemerintah. Sebagai tambahan atas
item-item yang diungkapkan dalam basis kas, ada beberapa pengungkapan yang
terpisah atas saldo near-cash yang diperlihatkan dengan piutang-piutang yang akan
diterima dan utang-utang yang akan dibayar selama periode tertentu dan financial assets
and liabilities.
Dalam basis ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Fokus pengukuran di bawah basis ini adalah pada sumber keuangan sekarang
(current financial resources) dan perubahan-perubahan atas sumber-sumber
keuangan tersebut. Basis akuntansi ini mempunyai fokus pengukuran yang lebih luas
dari basis kas, pengakuan penerimaan dan pembayaran kas tertentu selama periode
spesifik berarti bahwa terdapat informasi mengenai pituang dan hutang, meskipun
tidak diakui sebagai aktiva dan kewajiban.
2. Penetapan panjangnya periode tertentu bervariasi antara beberapa pemerintah,
namun ada beberapa ketentuan, yaitu :
a. Periode tertentu diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun
b. Periode tertentu harus sama untuk penerimaan dan pembayaran kas
3. Kriteria yang sama atas pengakuan penerimaan dan pembayaran kas selama
periode tertentu harus diterapkan untuk seluruh penerimaan dan pembayaran
4. Satu bulan adalah waktu yang tepat, karena pembelian barang secara kredit
umumnya diselesaikan dalam periode tersebut, periode tertentu yang terlalu lama
mungkin mengakibatkan kesulitan dalam menghasilkan laporan keuangan
5. Kebijakan akuntansi yang dipakai harus diungkapkan secara penuh (fully disclosed)
6. Kriteria pengakuan atas penerimaan selama periode tertentu adalah bahwa
penerimaan harus berasal dari periode yang lalu, namun penerapan ini tidak
seragam untuk semua negara. Beberapa pemerintah menganggap bahwa seluruh
penerimaan yang diterima selama periode tertentu adalah berasal dari periode
sebelumnya, sedangkan pemerintah yang lain mengakui hanya beberapa dari
penerimaan tersebut.

1.3. Basis Akrual Modifikasian
Basis akrual modifikasian mencatat transaksi dengan menggunakan basis kas
untuk transaksi tertentu dan menggunakan basis akrual untuk sebagian besar transaksi.
Basis akuntansi ini meliputi pengakuan beberapa aktiva, namun tidak seluruhnya,
7

seperti aktiva fisik, dan pengakuan beberapa kewajiban, namun tidak seluruhnya,
seperti utang pensiun. Contohnya dapat ditemukan dalam praktek sebagai berikut ini :
1. pengakuan seluruh aktiva, kecuali aktiva infrastruktur, aktiva pertahanan dan aktiva
bersejarah/warisan, yang diakui sebagai beban (expense) pada waktu
pengakuisisian atau pembangunan. Perlakuan ini diadopsi karena praktek yang sulit
dan biaya yang besar untuk mengidentifikasi atau menilai aktiva-aktiva tersebut.
2. pengakuan hampir seluruh aktiva dan kewajiban menurut basis akrual, namun
pengakuan pendapatan berdasar pada basis kas atau modifikasi dari basis kas
3. pengakuan hanya untuk aktiva dan kewajiban finansial jangka pendek
4. pengakuan seluruh kewajiban dengan pengecualian kewajiban tertentu seperti utang
pensiun.

1.4. Basis Akrual
Akuntansi berbasis akrual merupakan basis akuntansi di mana transaksi ekonomi
dan peristiwa-peristiwa lain diakui dan dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan
dalam periode laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, bukan pada
saat kas atau ekuivalen kas diterima atau dibayarkan. Akuntansi akrual dianggap lebih
baik daripada akuntansi kas. Akuntansi akrual diyakini dapat menghasilkan laporan
keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat, komprehensif, & relevan untuk
pengambilan keputusan ekonomi, sosial, & politik.
Pengaplikasian accrual basis dalam Akuntansi Sektor Publik adalah untuk
menentukan cost of services & charging for services, yaitu untuk mengetahui besarnya
biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan pelayanan publik serta penentuan harga
pelayanan yang dibebankan kepada publik sehingga kinerja dan transparansi dari bentuk
pelayanan publik dapat tercermin dalam bentuk pelaporan keuangan pemerintah.
Sistem akuntansi berbasis akrual mengakui semua aset, kewajiban, pendapatan dan
beban entitas. Fokusnya adalah pada pengukuran dan pelaporan beban barang dan jasa
yang dikonsumsi selama periode pelaporan. Pada Lampiran I.01 PP No.71 Tahun 2010
dijelaskan bahwa basis akrual untuk Laporan Operasional (LO) berarti bahwa
pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi
walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas
pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan penurunan nilai
kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum dikeluarkan dari Rekening Kas
Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Pendapatan seperti bantuan pihak
luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO.
8

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh atas penerapan basis akrual, baik bagi
pengguna laporan (user) maupun bagi pemerintah sebagai penyedia laporan keuangan.
Manfaat tersebut antara lain:
1. Dapat menyajikan laporan posisi keuangan pemerintah dan perubahannya
2. Memperlihatkan akuntabilitas pemerintah atas penggunaan seluruh sumber daya
3. Menunjukkan akuntabilitas pemerintah atas pengelolaan seluruh aktiva dan
kewajibannya yang diakui dalam laporan keuangan
4. Memperlihatkan bagaimana pemerintah mendanai aktivitasnya dan memenuhi
kebutuhan kasnya
5. Memungkinkan user untuk mengevaluasi kemampuan pemerintah dalam medanai
aktivitasnya dan dalam memenuhi kewajiban dan komitmennya
6. Membantu user dalam pembuatan keputusan tentang penyediaan sumber daya ke
atau melakukan bisnis dengan entitas
7. User dapat mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal biaya pelayanan, efisiensi
dan penyampaian pelayanan tersebut.

2. DEFINITION OF EXCHANGE REVENUE
Exchange Transaction menurut IPSAS 9 par.11 adalah transaksi di mana satu entitas
menerima aktiva atau jasa atau telah menggugurkan kewajibannya dan langsung
memberikan nilai yang sama (terutama dalam bentuk uang tunai, barang, atau jasa, atau
penggunaan aset) ke entitas lain dalam pertukaran. Sedangkan Non Exchange Transaction
mempunyai arti bahwa suatu entitas baik menerima nilai dari entitas lain tanpa secara
langsung memberikan nilai yang sama dalam pertukaran, atau memberikan nilai kepada
entitas lain tanpa secara langsung menerima nilai yang sama dalam pertukaran. Perlakuan
atas exchange transaction dijelaskan dalam IPSAS 9.
Dalam subbab berikut akan dibahas mengenai definisi, pengukuran, identifikasi, dan
pengungkapan exchange revenue yang mengambil sumber dari IPSAS 9 Revenue from
Exhange Transactions dan PSC Study No.9 mengenai Definition and Recognition of
Revenues, termasuk PP 71 tahun 2010 tentang Sandar Akuntansi Pemerintah serta jika ada
perbedaan yang signifikan dengan standar dari AASB ataupun NZASB.
IPSAS 9 par. 12 menyebutkan bahwa pendapatan (revenue) hanya mencakup arus
masuk bruto dari manfaat ekonomi atau jasa potensial yang diterima (received) dan dapat
diterima (receivable) oleh suatu entitas. Jumlah pendapatan yang diperoleh sebagai agen
dari pemerintah atau organisasi pemerintah lainnya atau atas nama pihak ketiga, misalnya,
pengumpulan pembayaran tagihan telepon dan listrik oleh kantor pos atas nama entitas
yang menyediakan layanan tersebut dikecualikan dari akun pendapatan dikarenakan tidak
memberikan pengaruh atas kenaikan nilai aset maupun penurunan nilai utang suatu entitas.
9

Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi selama periode tertentu yang
timbul dalam rangka kegiatan normal suatu entitas ketika arus masuk tersebut
mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain kenaikan yang berkaitan dengan kontribusi dari
peserta ekuitas (AASB 118 par.7).Jadi, pendapatan (revenue) adalah keseluruhan arus
masuk atas manfaat ekonomi atau jasa yang potensial selama masa pelaporan ketika hasil
dari arus masuk tersebut meningkatkan nilai bersih dari aset atau ekuitas, selain
peningkatan yang berasal dari kontribusi pemilik.
Dikecualikan juga dari pengertian pendapatan (revenue) menurut IPSAS 9 par.13
adalah arus masuk pembiayaan dikarenakan :
a) memberikan hasil yang sama di dalam perubahan nilai aset dan kewajiban, dan
b) tidak memiliki dampak terhadap aset bersih/ekuitas.
Berdasarkan IPSAS 9 par. 1 dinyatakan bahwa suatu entitas yang mempersiapkan dan
menyajikan laporan keuangan berbasis akrual berlaku standar dalam akuntansi pendapatan
yang timbul dari exchange transactions sebagai berikut:
a) pemberian jasa;
b) penjualan barang; dan
c) penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen
atau distribusi yang serupa.
Standar ini berlaku untuk semua entitas sektor publik selain BUMN sesuai IPSAS 9 par.
2. Ketentuan ini tidak berlaku untuk:
a) perjanjian leasing (IPSAS 13);
b) dividen yang timbul dari investasi yang dicatat dengan metode ekuitas (IPSAS 7);
c) Keuntungan dari penjualan property, plant, and equipment (IPSAS 17)
d) kontrak asuransi dari perusahaan asuransi;
e) perubahan nilai wajar aset keuangan dan kewajiban keuangan atau pembuangan mereka
(IPSAS 29);
f) perubahan dalam nilai aset lancar lainnya;
g) pengakuan awal dan perubahan nilai biologis dari kegiatan pertanian (IPSAS 27);
h) pengakuan awal hasil pertanian (IPSAS 27);
i) peningkatan alami pada peternakan, dan produk-produk pertanian dan kehutanan; dan
j) ekstraksi bijih mineral.
Identifikasi transaksi dalam pengakuan pendapatan pada IPSAS 9 antara lain:
a) Pendapatan diakui hanya jika besar kemungkinan tingkat diterimanya manfaat ekonomi
dan potensi jasa yang berkaitan dengan transaksi yang akan mengalir ke entitas. (par. 21)
b) Ketika hasil dari transaksi atas pemberian jasa tidak dapat ditetapkan nilainya,
pendapatan seharusnya diakui hanya jika tingkat beban yang dikeluarkan dapat diperoleh
kembali. (par. 25)
10

Pada Lampiran I.01 Kerangka Konseptual PP 71 Tahun 2010 paragraf 87, disebutkan
bahwa pendapatan yang diakui harus memenuhi konsep kemungkinan besar manfaat
ekonomi masa depan terjadi akan mengalir dari atau ke entitas pelaporan. Konsep ini
diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan operasional pemerintah.
Pengkajian derajat kepastian yang melekat dalam arus manfaat ekonomi masa depan
dilakukan atas dasar bukti yang dapat diperoleh pada saat penyusunan laporan keuangan.
Exchange transactions terdiri dari:
1. Penyediaan Layanan/Jasa (Rendering Of Services)
Pendapatan dari pemberian jasa diakui saat hasil dari sebuah transaksi bisa
diperkirakan dengan baik, pendapatan diakui dan dicatat saat transaksi jasa telah selesai
diberikan. Hasil dari sebuah transaksi jasa dapat diestimasi dengan andal saat memenuhi
kondisi-kondisi berikut (IPSAS 9 par.19) :
a) Nilai dari pendapatan bisa diukur secara andal;
b) Ada kemungkinan aliran masuk dari manfaat ekonomi atau jasa yang potensial terkait
dengan transaksi;
c) Tingkat penyelesaian transaksi pada tanggal pelaporan dapat diukur secara andal; dan
d) Biaya-biaya yang timbul selama transaksi dan biaya yang terjadi selama penyelesaian
sebuah transaksi dapat diukur secara andal.
Pengakuan pendapatan dengan mengacu pada tingkat penyelesaian dari transaksi
sering disebut sebagai metode persentase penyelesaian. Dengan metode ini, pendapatan
diakui pada periode pelaporan di mana jasa diserahkan. Pengakuan pendapatan atas dasar
ini memberikan manfaat informasi tentang sejauh mana kegiatan pelayanan dan kinerja
selama periode tertentu. Pendapatan diakui hanya jika besar kemungkinan manfaat
ekonomi atau potensi layanan yang terkait dengan transaksi tersebut akan mengalir ke
entitas. Namun, ketika ketidakpastian timbul tentang pelunasan yang sudah termasuk dalam
pendapatan, jumlah ditagih, atau jumlah pemulihan, diakui sebagai biaya, bukan sebagai
penyesuaian dari jumlah pendapatan awalnya diakui. Apabila hasil transaksi yang
melibatkan penyerahan jasa tidak dapat diestimasi dengan andal, pendapatan harus diakui
hanya sampai sebatas biaya yang diakui yang dapat diperoleh kembali.
2. Penjualan Barang (Sale Of Goods)
IPSAS 9 par. 28 menyebutkan bahwa pendapatan dari penjualan barang hanya diakui
ketika memenuhi seluruh kondisi di bawah ini:
a) Entitas telah menstransfer kepada pelanggan risiko-risiko yang signifikan dan kepemilikan
atas barang;
b) Entitas mempertahankan keterlibatan manajerial secara berkelanjutan yang berkaitan
dengan kepemilikan atau kontrol yang efektif atas barang yang dijual;
c) Nilai pendapatan dapat diukur;
11

d) Kemungkinan manfaat ekonomi dan potensi jasa yang berkaitan dengan transaksi akan
mengalir ke dalam entitas; dan
e) Biaya yang terjadi atau akan terjadi dapat diukur.
Barang yang dimaksud meliputi:
a) barang yang diproduksi oleh entitas untuk tujuan penjualan, seperti publikasi; dan
b) barang yang dibeli untuk dijual kembali, seperti barang dagangan atau tanah dan properti
lain yang dimiliki untuk dijual kembali
3. Pendapatan Bunga, Royalti, dan Dividen, Atau Pendapatan Yang Sejenis
Pendapatan atas bunga, royalti, dan dividen diakui ketika (IPSAS 9 par.33):
a) Besar kemungkinan diterimanya manfaat ekonomi dan potensi jasa yang berkaitan
dengan transaksi yang mengalir ke dalam entitas.
b) Nilai atas pendapatan dapat diukur.
Pendapatan diakui dengan pendekatan akuntansi di bawah ini (IPSAS 9 par.34):
a) Bunga diakui atas dasar proporsi waktu yang memperhitungkan the effective yield on the
assets.
b) Royalti diakui selama perolehannya sesuai dengan perjanjian.
c) Dividen atau yang setara diakui ketika hak pemegang saham atau entitas untuk menerima
pembayaran diterbitkan.

2.1. Prinsip Prinsip Pengakuan Pendapatan
Dalam pengukuran pendapatan, IPSAS No. 9 menyatakan bahwa prinsip-prinsip terkait
dengan pengakuan pendapatan antara lain :
a) Pendapatan harus diukur pada nilai wajarnya (fair value) dengan mempertimbangkan
diterima dan dapat diterimanya. (par. 14)
b) Jumlah pendapatan yang timbul dari transaksi biasanya ditentukan oleh kesepakatan
(agreement) antara entitas dan pembeli atau pengguna aset atau layanan. Hal ini diukur
pada nilai wajar atas imbalan yang diterima atau dapat diterima, dengan mempertimbangkan
jumlah setiap potongan penjualan dan rabat volume yang diperbolehkan oleh entitas (par.
15)
c) Hanya ketika suatu barang dijual atau jasa diberikan dan sebagai pertukarannya diberikan
barang dan jasa yang tidak sama, maka pertukaran ini dapat dianggap sebagai transaksi
yang menghasilkan pendapatan. Ketika nilai wajar dari barang atau jasa yang diterima tidak
dapat diukur secara pasti, pendapatan diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang
diserahkan, disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer. (par. 17)
Sedangkan pada paragraf 37 PSC Study No.9, dibahas mengenai pendapatan yang
didapat dari non-reciprocal transaction sehingga entitas pelapor menerima aset atau jasa,
atau berkurangnya kewajiban, dan secara langsung memberikan nilai yang sekiranya setara
12

(dalam bentuk barang, jasa, atau penggunaan aset) kepada pihak lain dalam pertukaran.
Keberadaan dari pertukaran tersebut melibatkan kebersediaan pembeli dan penjual
membantu untuk menetapkan fair value (nilai wajar) dari barang atau jasa yang disediakan.
Pada beberapa kasus, instansi pemerintah akan mengenakan tarif/harga atas barang
atau jasa yang tidak berkaitan dengan biaya yang digunakan untuk menyediakan barang
atau jasa tersebut, atau tidak berhubungan dengan harga yang ingin dibayarkan oleh
pembeli. Namun, tidak tertutup kemungkinan bagi perusahaan swasta untuk mengalami
loss leaders dan jasa lainnya di bawah nilai wajarnya. Selain itu, dapat dikatakan bahwa
apabila instansi pemerintah memberikan subsidi kepada konsumen, hal tersebut akan
memberikan beberapa manfaat lainnya (selain penerimaan kas dan hak atas kas) melalui
pencapaian tujuan sosialnya ( PSC Study No.9 par.39).
Apabila pemerintah menggunakan kekuatan monopoli (seperti pengenaan tarif untuk
pembuatan paspor atau perijinan yang melebihi biaya produksi) dapat dikatakan bahwa
transaksi tersebut lebih baik diklasifikasikan sebagai pajak atau transfer paksa (involuntary).
Oleh karena itu, tarif monopoli tersebut seharusnya diperlakukan sebagai exchange
revenue (PSC Study No.9 par.40).

3. DEFINITION OF NON-RECIPROCAL REVENUE
Berdasarkan PSC Study 9, non-reciprocal transfer didefinisikan sebagai suatu transfer
dimana entitas menerima aset atau layanan atau memperoleh penghapusan kewajiban
tanpa secara langsung memberikan nilai yang setara sebagai gantinya kepada pihak yang
memberi transfer. Pajak adalah salah satu sumber utama dari jenis aliran masuk manfaat
ekonomi yang seperti ini. Selain pajak, pemerintah juga dapat menerima hibah, donasi dan
pembayaran untuk kepentingan pihak lain.
Dalam dunia bisnis, jumlah pendapatan merupakan penilaian kinerja utama yang sering
kali menjadi indikasi efisiensi dan efektivitas perusahaan.Namun dalam sektor pemerintah,
pendapatan dimaksudkan untuk memaksimalkan kesejahteraan masyarakat.Sebagian besar
pendapatan pemerintah berasal dari pendapatan non-resiprokal. Oleh karena pemerintah
mempunyai kekuasaan untuk memaksakan pendapatan pajak, jumlah pendapatan tidak
mengindikasikan efisiensi dan efektivitas pemerintah.

3.1. Pendapatan dari Penggunaan Kekuasaan Pemerintah
Pemerintah menerima transfer pendapatan melalui penggunaan kekuasaannya yang
bersifat memaksa. Jenis-jenis transfer tersebut sangat luas, muncul dengan berbagai
sebutan, dan berbeda antara satu yurisdiksi dengan yang lain, tetapi mungkin
termasuk:pajak penghasilan, pajak tunjangan;pajak penjualan;pajak pertambahan nilai;pajak
13

gaji;pajak properti;pajak atas keuntungan;layanan perangko, cek dan kredit;pajak lisensi;
biayapenggunaan jalan dan biaya kendaraan bermotor;retribusi, dandenda.
Pajak adalah kategori utama dalam pendapatan non-resiprokal dalam pemerintah.
Meskipun pemerintah menyediakan barang atau jasa sebagai hasil dari transfer ini, barang
dan jasa ini tidak disediakan secara langsung dan tidak memiliki nilai yang setara dengan
nilai yang diterima. Pemerintah tidak memiliki kewajiban untuk memberikan barang dan jasa
kepada wajib pajak secara individual, melainkan menggunakannya untuk menyediakan
barang dan jasa untuk kepentingan umum dan sosial.

3.2. Hibah
PSC Study 9 menggunakan istilah "hibah" atau "kontribusi" untuk merujuk kepada
transfer non-resiprokal selain yang diperoleh melalui penggunaan kekuasaan pemerintah
yang bersifat memaksa. Hibah dapat berupa uang tunai, jasa, transfer aset atau
pengurangan kewajiban. Persyaratan tertentu mungkin terikat pada penerimaan hibah oleh
entitas. Hibah juga meliputi penghematan dalam arus keluar manfaat ekonomi masa depan.
Contohnya adalah penghapusan kewajiban dari pemerintah negara lain.

3.3. Restricted and Unrestricted Revenues
Pembatasan mungkin dikenakan terhadap bagaimana penggunaan suatu sumber daya
yang mana pemerintah bertanggung jawab kepada pihak eksternal tertentu. Pendapatan
yang dibatasi mungkin tidak dapat digunakan untuk memenuhi tugas umum pemerintah.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mengungkapkan informasi mengenai
pembatasan tersebut. Pembatasan dapat muncul karena berbagai hal, misalnya adanya
perjanjian antara pemerintah dengan pihak eksternal terkait dalam penggunaan sumber
daya yang diberikan. Ketika ada suatu pembatasan, maka sumber daya yang bersangkutan
tidak akan tersedia kecuali untuk memenuhi tujuan yang spesifik.

3.4. Non-Reciprocal Revenues under an Accrual Basis of Accounting
Dalam PSC Study 9 disebutkan bahwa dalam akuntansi berbasis akrual, pendapatan
perlu dibedakan dari:
a. Taxes and seignorage
Pendapatan pajak dalam pemerintah tidak bisa dijadikan ukuran kinerja seperti halnya
dalam entitas komersial. Di sisi lain, pendapatan pajak dapat dipandang sebagai sumber
pendanaan yang digunakan untuk membiayai kegiatan dan tidak diperoleh dari penjualan
barang dan jasa. Pendapatan pajak lebih dimaksudkan untuk membiayai operasional
pemerintah daripada konsekuensi dari kegiatan operasional tersebut. Pendapatan pajak
sering kali merupakan sumber utama pendapatan pemerintah dan dipandang sebagai
14

komponen penting dalam mengukur hasil finansial pemerintah dalam suatu periode. Oleh
karena itu, muncul suatu penerimaan umum yang berlaku internasional, bahwa pajak harus
dipandang sebagai bagian dari kegiatan operasi pemerintah dan merupakan bagian dari
pendapatan.Jika pajak diakui sebagai pendapatan, maka pajak harus dibedakan dari
sumber pembiayaan lainnya.Sumber pembiayaan lain dalam pemerintah dapat muncul
melalui adanya kekuasaan untuk menciptakan uang secara langsung (seigniorage). Apabila
pemerintah menggunakan uang baru yang diciptakan untuk membiayai operasinya sendiri
(tidak meletakkannya dalam sirkulasi umum), peningkatan kas yang tersedia untuk
mendanai kegiatan pemerintah tersebut dapat digolongkan sebagai pendapatan.
b. Contributions from Owners
Definisi pendapatan pada umumnya mengecualikan kontribusi dari pemilik. Beberapa
peningkatan aktiva bersih dari pemerintah berasal dari kontribusi dari pemilik, misalnya
ketika sebuah departemen atau lembaga pemerintah menerima suntikan modal dari
pemerintah induk. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah semua transfernon-
resiprokal yang dibuat dengan maksud meningkatkan kapasitas untuk menyediakan layanan
secara permanen dapat dipandang sebagai kontribusi dari pemilik daripada pendapatan.
Sebagai contoh, pemerintah dapat menaikkan pajak untuk tujuan pembiayaan
pembangunan infrastruktur. Dalam hal ini, wajib pajak dapat dipandang sebagai setara
dengan pemilik di sektor swasta karena sulit untuk mengidentifikasi pihak lain yang harus
dipertimbangkan sebagai ekuitas pemilik dalam pemerintahan secara keseluruhan. Dalam
kebanyakan kasus, pajak tidak terkait dengan kontribusi modal atau operasi. Alokasi pajak
terhadap penggunaan modal atau operasi tergantung pada kebijakan pemerintah, bukan
wajib pajak. Apakah pajak meningkatkan kemampuan operasi pemerintah tergantung pada
bagaimana pemerintah menggunakan dana dan membuat kebijakan. Selain itu, wajib pajak
tidak memiliki financial interest yang dapat dijual, dialihkan atau ditebus. Seorang wajib
pajak mungkin tidak secara langsung mendapat manfaat dari infrastruktur baru atau
peningkatan lainnya atas aktiva bersih. Oleh karena itu, kepemilikan dalam pemerintah akan
terbatas pada situasi seperti pemerintah nasional yang berhak atas distribusi dari agen
(misalnya, departemen atau perusahaan negara) dan tidak akan mencakup masyarakat
luas. Dengan demikian, penerimaan perpajakan, baik digunakan untuk tujuan modal atau
operasi,akan diklasifikasikan sebagai pendapatan.
c. Agency payment
Pemerintah sering kali menerima atau mengumpulkan sumber daya yang kemudian
akan ditransfer ke pihak lain. Praktik akuntansi untuk transfer tersebut bervariasi. Ketika
pemerintah hanya bertindak sebagai penyalur, pendapatan negara dan hibah memiliki
karakteristik mirip dengan trust fund. Dalam kasus seperti ini, penerimaan tersebut
15

seharusnya tidak dicatat sebagai pendapatan karena bukan dana milik pemerintah tetapi
hanya mengalir melalui pemerintah ke penerima yang dituju.
Sebagai tambahan, pemerintah yang memungut pajak yang tidak digunakan dalam
aktivitas operasi pemerintah sendiri melainkan untuk disalurkan kembali, maka hanya pajak
yang digunakan untuk mengadministrasi sistem tersebut (komisi) yang diakui sebagai
penghasilan, bukan keseluruhan sumber daya yang disalurkan kembali.Semua aliran masuk
pajak diakui sebagai pendapatan pada tingkat pemerintah secara keseluruhan.Untuk
lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab memungut pajak, hanya jumlah yang diterima
dalam rangka mengadministrasikan sistem pajak tersebut yang dianggap sebagai
pendapatan, bukan keseluruhan pajak yang masuk.

3.5. Revenue From Non-Reciprocal Transaction Menurut IPSAS 23
Dalam IPSAS 23, non-reciprocal revenue disebut sebagai revenue from non-exchange
transaction. Dalam beberapa transaksi, entitas akan menerima sumber daya tanpa
memberikan penggantian secara langsung. Transaksi seperti ini yang disebut non-exchange
transaction yang diatur dalam IPSAS 23. Misalnya, wajib pajak membayar pajak karena
hukum dan peraturan, tetapi pemerintah akan memberikan berbagai layanan publik kepada
pembayar pajak, dan tidak memberikan imbal balik langsung atas pembayaran pajaknya.
Suatu transaksi dapat terdiri dari dua komponen yakni: exchange component dan non-
exchange component. Pendapatan terdiri dari aliran masuk kotor dari manfaat ekonomi atau
potensi layanan yang diterima entitas, yang mewakili peningkatan dalam aset bersih/ekuitas,
selain peningkatan yang terkait dengan kontribusi dari pemilik.Pajak merupakan sumber
utama pendapatan pemerintah dan entitas sektor publik lainnya. Pajak didefinisikan sebagai
manfaat ekonomi yang wajib dibayar dan terutang kepada entitas sektor publik, sesuai
dengan hukum dan peraturan yang berlaku, yang ditetapkan untuk menyediakan
pendapatan bagi pemerintah, tidak termasuk denda atau penalti lainnya yang timbul dari
pelanggaran hukum dan peraturan.
Aliran masuk sumber daya dari transaksi non-exchange, selain pemberian jasa, yang
memenuhi definisi suatu aset harus diakui sebagai aset jika, dan hanya jika:
a. besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa depan atau potensi layanan yang
terkait dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas, dan
b. nilai wajar aset dapat diukur secara andal.
Aset yang diperoleh melalui transaksi non-exchange, pada awalnya diukur dengan nilai
wajar saat perolehan.
Aliran masuk sumber daya yang berasal dari transaksi non pertukaran yang diakui
sebagai aset, harus diakui sebagai pendapatan, kecuali apabila liability juga diakui
sehubungan dengan aliran masuk yang sama. Ketika entitas memenuhi kewajiban yang
16

diakui sebagai liability yang terkait dengan aliran masuk sumber daya dari transaksi non-
exchange yang diakui sebagai aset, maka entitas harus mengurangi nilai tercatat kewajiban
yang telah diakui dan mengakui pendapatan sejumlah pengurangan tersebut. Pendapatan
transaksi non pertukaran harus diukur pada jumlah kenaikan aktiva bersih yang diakui oleh
entitas. Kewajiban yang timbul dari transaksi non-exchange, yang memenuhi definisi liability
harus diakui sebagai liability ketika:
a. besar kemungkinan aliran keluar sumber daya dalam bentuk manfaat ekonomi masa
depan atau potensi layanan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban tersebut; dan
b. jumlah kewajiban dapat diestimasi secara handal.
Jumlah yang diakui sebagai liability merupakan perkiraan terbaik dari jumlah yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban pada tanggal pelaporan.
Pajak
Entitas harus mengakui aset terkait pajak ketika peristiwa yang dapat dikenakan pajak
terjadi dan kriteria pengakuan aset terpenuhi. Sumber daya yang berasal dari pajak
memenuhi definisi aset ketika entitas dapat mengendalikan sumber daya tersebut sebagai
hasil dari kejadian di masa lalu (peritiwa yang dikenakan pajak) dan memperkirakan akan
menerima manfaat ekonomi masa depan atau potensi layanan dari sumber daya tersebut.
Sumber daya yang berasal dari pajak memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset ketika ada
kemungkinan bahwa arus masuk akan terjadi dan nilainya dapat diukur dengan terpercaya.
Pendapatan pajak hanya muncul bagi pemerintah yang memberlakukan pajak, dan bukan
untuk entitas lain. Sebagai contoh, pemerintah pusat memberlakukan pajak yang
dikumpulkan oleh suatu agen perpajakan, aktiva dan pendapatan atas pajak yang
dikumpulkan tersebut terhutang kepada pemerintah, bukan kepada agen yang
mengumpulkannya.
Pajak tidak memenuhi definisi kontribusi dari pemilik karena pembayaran pajak tidak
memberikan wajib pajak hak untuk menerima (a) pembagian manfaat ekonomi masa depan
atau jasa potensial dari entitas (b) pembagian sisa dari aset atas kewajiban dalam hal
pemerintah mengalami kegagalan. Pembayaran pajak juga tidak memberikan hak
kepemilikan atas pemerintah yang dapat dijual, dipertukarkan, ditransfer, atau ditebus
kepada wajib pajak. Pajak memenuhi kriteria definisi transaksi non-pertukaran karena wajib
pajak mentransfer sumber daya kepada pemerintah, tanpa menerima nilai yang sama
sebagai gantinya secara langsung. Walaupun wajib pajak menerima manfaat dari kebijakan
sosial oleh pemerintah, hal ini bukanlah disediakan secara langsung sebagai pengganti atas
pembayaran pajak.
Transfer
Suatu entitas harus mengakui aset terkait transfer ketika sumber daya yang ditransfer
memenuhi definisi dan kriteria pengakuan aset. Transfer memenuhi definisi aset ketika
17

entitas dapat mengendalikan sumber daya tersebut sebagai akibat dari kejadian di masa lalu
(transfer), dan memperkirakan untuk menerima manfaat ekonomi masa depan atau potensi
layanan dari sumber daya tersebut. Transfer memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset
ketika ada kemungkinan bahwa arus masuk akan terjadi dan nilainya dapat diukur dengan
handal. Transfer antara lain meliputi:
a. Grants
b. Debt forgiveness
Entitas mengakui pendapatan atas penghapusan utang ketika utang tersebut tidak lagi
memenuhi definisi kewajiban dan tidak memenuhi kriteria untuk diakui sebagai kewajiban,
dengan syarat penghapusan utang tersebut tidak memenuhi definisi kontribusi dari
pemilik.Pendapatan yang berasal dari penghapusan utang diukur pada nilai tercatat dari
utang yang dihapuskan.
c. Fines
Yaitu manfaat ekonomi atau layanan potensial yang diterima atau dapat diterima oleh
suatu entitas sektor publik, dari entitas lain atau perseorangan, sebagaimana yang
diperintahkan oleh pengadilan atau badan penegak hukum lain, sebagai konsekuensi
pelanggaran oleh entitas atau perseorangan tersebut.Fines pada umumnya mengharuskan
entitas untuk mentransfer sejumlah kas kepada pemerintah, dan tidak menimbulkan
kewajiban apapun pada pemerintah yang dapat diakui sebagai liability.Karena itu, fines
diakui sebagai pendapatan ketika memenuhi definisi aset dan kriteria pengakuan aset. Aset
dari fines diukur dengan estimasi terbaik aliran masuk sumber daya kepada entitas.
d. Bequests
Adalah transfer yang dibuat sesuai dengan provisi atas wasiat seseorang yang
meninggal dunia.Bequest yang memenuhi definisi aset diakui sebagai aset dan sebagai
pendapatan ketika besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan atau potensi layanan
akan mengalir kepada entitas, serta ketika nilai wajar aset dapat diukur secara handal.
e. Gifts and donation, Goods in-kind, Service in-kind
Gifts and donation, adalah transfer atas aset secara sukarela, termasuk kas atau aset
keuangan lain, goods in-kind, dan service in-kind yang disediakan oleh suatu entitas untuk
entitas lain, yang pada umumnya tidak bersyarat. Pemberi transfer dapat merupakan suatu
entitas atau perseorangan.
Goods in-kind, adalah aset berwujud yang ditransfer kepada suatu enitas dalam
transaksi non-pertukaran, tanpa biaya, tetapi mungkin disertai syarat tertentu.
Gifts and donation (selain services in-kind) diakui sebagai aset dan pendapatan ketika
besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan atau potensi layanan akan mengalir
kepada entitas, serta ketika nilai wajar aset dapat diukur secara handal. Goods in-kind diakui
sebagai aset ketika barang diterima atau jika ada perjanjian yang mengikat untuk menerima
18

barang.Jika barang diterima tanpa syarat maka pendapatan segera diakui. Jika ada
persyaratan tertentu, maka liability diakui, yang akan berkurang, dan pendapatan diakui
ketika persyaratan dipenuhi. Gifts and donation termasuk Goods in-kind diukur pada nilai
wajar pada tanggal perolehan.
Services in-kind, adalah layanan yang disediakan oleh perseorangan kepada entitas
sector publik dalam suatu transaksi non pertukaran. Layanan jasa ini memenuhi definisi aset
karena entitas mengendalikan sumber daya yang darinya manfaat ekonomi masa depan
atau potensi layanan diperkirakan akan mengalir ke entitas. Namun aset ini segera
dikonsumsi, dan transaksi dengan nilai setara juga diakui untuk menggambarkan konsumsi
atas layanan ini. Beberapa services in-kind ditak memenuhi definisi aset karena entitas tidak
memiliki cukup control atas layanan yang diberikan. Atau dalam kondisi lainnya, entitas
memiliki control namun tidak bisa mengukurnya secara handal, dengan demikian menjadi
tidak memenuhi kriteria pengakuan aset. Karena ketidakpastian terkait services in-kind
maka standar ini memperbolehkan tapi tidak mempersyaratkan pengakuan services in-kind.
Item-item tersebut memiliki persamaan yaitu transfer sumber daya dari suatu entitas
kepada entitas lain tanpa menyediakan nilai yang sama sebagai penggantian, dan bukan
berupa pajak. Suatu entitas harus mengungkapkan baik di muka, ataupun dalam catatan
atas laporan keuangan:
Nilai dari pendapatan atas transaksi non-exchange yang diakui dalam satu periode
ditampilkan secara terpisah berdasarkan masing-masing kriteria utama, yaitu:
a) Pajak, ditampilkan secara terpisah untuk masing-masing jenisnya;
b) Transfer, ditampilkan secara terpisah untuk masing-masing penggolongan utama.
Nilai dari piutang yang diakui terkait transaksi non-exchange;
Nilai dari kewajiban yang diakui terkait transfer aset yang bersyarat;
Nilai dari kewajiban yang diakui terkaitconcessionary loans yang memilikipersyaratan
tertentu;
Nilai dari aset yang diakui yang memiliki pembatasan (restriction) dan sifat dari pembatasn
tersebut;
Keberadaan dan jumlah penerimaan pembayaran di muka atas transaksi non-exchange;
Jumlah kewajiban yang dihapuskan.
Entitas harus mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:
a. Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan pendapatan dari transaksi non-
exchange.
b. Basis/dasar pengukuran dari nilai wajar atas sumber daya yang masuk, untuk klasfikasi
utama pendapatan dari transaksi non-exchange.
c. Informasi mengenai sifat dari pajak, bagi klasifikasi utama pendapatan pajak dimana ent
19

itas tidak dapat mengukur secara andal pendapatan pajak, selama periode dimana peristiwa
kena pajak terjadi.
d. Sifat dan jenis dari klasifikasi utama atas bequest, gifts, dan donations, ditampilkan
secara terpisah klasifikasi utama darigoods in-kind yang diterima.

4. PENGAKUAN PENDAPATAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAH BERBASIS AKRUAL
4.1. Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
95. Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada
aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima di
rekening Kas umum Negara/ Daerah atau oleh entitas pelaporan.

4.2. Pernyataan No.01 (Penyajian Laporan Keuangan)
8. istilah-istilah yang dipergunakan dalam pernyataan standar dengan pengertian:
Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat/ daerah yang diakui sebagai penambah
ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.
Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/ Daerah yang
menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang
menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

4.3. Pernyataan No.02 (Laporan Realisasi Anggaran Berbasis Kas)
21. Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Negara/ daerah.
22. Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.
23. Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya
penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat dan dana bagi hasil dari pemerintah
provinsi.
24. Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
25. Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto (biaya) bersifat variabel
terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan
proses belum selesai, maka azas bruto dapat dikecualikan.
26. Dalam hal badan layanan umum, pendapatan diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
27. Pengembalian yang sifatnya sistemik (normal) dan berulang (recurring) atas penerimaan
pendapatan-LRA pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan
sebagai pengurang pendapatan-LRA.
20

28. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan
pendapatan-LRA yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan-LRA dibukukan
sebagai pengurang pendapatan-LRA pada periode yang sama.
29. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan
pendapatan-LRA yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang
Saldo Anggaran Lebih pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.
30. Akuntansi pendapatan-LRA disusun untuk memenuhi kebutuhan pertanggungjawaban
sesuai dengan ketentuan dan untuk keperluan pengendalian bagi manajemen pemerintah
pusat dan daerah.

4.4. Pernyataan No.12 (Laporan Operasional)
19. Pendapatan-LO diakui pada saat:
a) Timbul hak atas pendapatan;
b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
20. Pendapatan-LO yang diperoleh berdasarkan peraturan perundang-undangan diakui
pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan.
21. Pendapatan-LO yang diperoleh sebagai imbalan atas suatu pelayanan yang telah
selesai diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan, diakui pada saat timbulnya
hak untuk menagih imbalan.
22. Pendapatan-LO yang diakui pada saat direalisasi adalah hak yang telah diterima oleh
pemerintah tanpa terlebih dahulu adanya penagihan.
23. Pendapatan-LO diklasifikasikan menurut sumber pendapatan.
24. Klasifikasi menurut sumber pendapatan untuk pemerintah pusat dikelompokkan
berdasarkan jenis pendapatan, yaitu pendapatan perpajakan, pendapatan bukan pajak, dan
hibah.
25. Klasifikasi menurut sumber pendapatan untuk pemerintah daerah dikelompokkan
menurut asal dan jenis pendapatan, yaitu pendapatan asli daerah (PAD), pendapatan
transfer, dan lain-lain pendapatan yang sah. Masing-masing pendapatan tersebut
diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.
26. Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
27. Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto (biaya) bersifat variabel
terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat diestimasi terlebih dahulu dikarenakan
proses belum selesai, maka azas bruto dapat dikecualikan.
28. Dalam hal badan layanan umum, pendapatan diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
21

29. Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas pendapatan-LO pada
periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang
pendapatan.
30. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
pendapatan-LO yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai
pengurang pendapatan pada periode yang sama.
31. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
pendapatan-LO yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang
ekuitas pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.

5. KLASIFIKASI PENDAPATAN
Berdasarkan Public Sector Committee (PSC): Study 9. Definition and Recognition of
Revenues Ch. 6, terdapat sejumlah sistem yang mengklasifikasi arus masuk ke pemerintah
untuk tujuan analisis ekonomi dan perbandingan internasional. Sistem yang sering
digunakan adalah United Nations System of National Accounts (SNA), International
Monetary Funds Government Finance Statistics (GFS) dan European System of National
and Regional Accounts (ESA).
Kerangka SNA digunakan oleh analis ekonomi untuk mengukur aktivitas pada sektor
ekonomi, termasuk sektor publik. Kerangka tersebut menyediakan informasi atas belanja
pemerintah, investasi, saving dan net lending, yang semuanya relevan dengan analisis
kebijakan fiskal dan implikasi makroekonomi. Sistem klasifikasi IMF menyediakan contoh
yang dapat dibandingkan secara internasional untuk negara-negara anggotanya. Sampai
saat ini, klasifikasi tersebut sebagian besar berbasis kas dan tidak ada penyisihan untuk
depresiasi dan item non kas, meskipun pendapatan dan pengeluaran dipisahkan menjadi
current dan capital flow.
Laporan keuangan pemerintah yang berbasis akrual penuh menyediakan informasi
ringkas yang memberikan overview atas posisi finansial dan kinerja operasi pemerintah.
Laporan keuangan ini melengkapi data fiskal yang lain. Informasi pendapatan, bersama
dengan informasi biaya (expense), penting untuk menilai kebutuhan pemerintah atas
pinjaman jangka panjang dan juga menyediakan data apakah ekuitas antar periode tetap
terjaga. Klasifikasi pendapatan menjadi beberapa jenis membantu pengguna menentukan
seberapa besar ketergantungan pemerintah atas sumber tertentu dan tentu saja
berpengaruh pada keberlanjutan (sustainability) dari posisi keuangan. Penting untuk
membedakan pajak (pendapatan fiskal) dan pendapatan bukan pajak untuk menilai
ketergantungan pemerintah atas sumber pendapatannya dan kapasitasnya untuk
mendapatkan pendapatan yang lebih banyak dari sumber tersebut.
22

Terlepas dari basis pengukuran yang diadopsi, dimungkinkan untuk membedakan
transaksi pembiayaan dari transaksi lain pada laporan arus kas. Penerimaan dapat
diklasifikasikan untuk menyoroti sumber terbesar atau jenis arus kas. Laporan arus kas
biasanya mengelompokkan penerimaan dan pembayaran kas menjadi aktivitas operasional,
investasi dan pembiayaan. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah penerimaan pajak
harus diklasifikasikan sebagai arus kas operasional atau arus kas pembiayaan.
Menurut IAS 7, Laporan Arus Kas mengandung definisi seperti yang ada di bawah ini:
Operating activities are the principal revenue-producing activities of the enterprise and
other activities that are not investing or financing activities. Investing activities are the
acquisition and disposal of long-term assets and other investments not included in cash
equivalents. Financing activities are activities that result in changes in the size and
composition of the equity capital and borrowings of the enterprise.
Dari definisi di atas, penerimaan pajak dapat diklasifikasikan sebagai arus kas operasi
karena berasal dari kegiatan penghasil pendapatan utama pemerintah. Jenis utama
pendapatan seperti yang terdapat pada sub bagian DEFINITION OF EXCHANGE
REVENUES dan DEFINITION OF NON-RECIPROCAL REVENUES dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
I. EXCHANGE
REVENUES AND
GAINS
II. REVENUES FROM THE USE OF
SOVEREIGN POWERS
III. GRANTS AND DONATIONS
(a). Realized revenues and
gains
Sales
Dividends
Interest
Royalties
Gain on asset sales
etc.
(b). Unrealized gains
Foreign exchange
gains
Increases in market
value of asset
Increases due to
natural accretio

Taxes on income, profits and cap
Sales taxes
Property taxes
Payroll taxes
Poll taxes
Social security contributions
Taxes on specific services
Excises
Customs and import duties
Licence and permit fees
Profits of fiscal monopolies
Fines
Seigniorage

(a). Unrestricted Grants and
Donation
From other levels of
government
From other governments
From supranational
authorities
From the private sector
(b). Restricted Grants and Donat
From other levels of
government
From other governments
From supranational
authorities
From the private sector

23


Di Indonesia, untuk pendapatan dalam sistem akuntansi pemerintah dapat dibagi
menjadi Pendapatan-LRA dan Pendapatan-LO berdasarkan PP No.71 Tahun 2010.
Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan (paragraf 22 Lampiran I.03
PSAP No 02). Pada LO, Pendapatan wajib diklasifikasi berdasar sumber pendapatan
(Paragraf 23 PSAP 12, Lampiran I PP 71/2010). Sumber pendapatan dikelompokkan
menjadi tiga kelompok besar jenis pendapatan, yaitu (1) pendapatan pajak, (2) pendapatan
bukan pajak, dan (3) pendapatan hibah, sesuai Paragraf 24 Lampiran 1.13 PSAP 12.
Pendapatan LO diklasifikasikan berdasar sumber pendapatan dan klasifikasi ekonomi
atau fungsi/program. Pendapatan wajib diklasifikasi berdasar sumber pendapatan sejalan
dengan Paragraf 23 PSAP 12, lampiran I PP 71/2010, pendapatan akrual LO diklasifikasi
menurut klasifikasi ekonomi atau klasifikasi fungsi/program, sejalan dengan Paragraf 93
Lampiran 1.02 PSAP 01.
Klasifikasi menurut sumber pendapatan untuk pemerintah daerah dikelompokkan
menurut asal dan jenis pendapatan, yaitu pendapatan asli daerah, pendapatan transfer, dan
lain-lain pendapatan yang sah. Masing-masing pendapatan tersebut diklasifikasikan menurut
jenis pendapatan




















24

KESIMPULAN

IPSAS memang telah mengamanatkan penerapan akuntansi berbasis akrual bagi sektor
publik di berbagai negara. Namun dalam penerapannya, banyak negara yang tidak bisa
menerapkan basis akrual penuh baik dalam akuntansi maupun anggarannya. Hal tersebut
telah memunculkan basis alternatif yang merupakan modifikasian dari basis dasar yang ada
seperti basis kas modifikasian dan basis akrual modifikasian.
Selain itu, dalam IPSAS telah tercakup 2 jenis pendapatan yang mungkin muncul di
sektor publik, yaitu Exchange Revenue dan Non Resiprocal Revenue. Exchange Revenue
merupakan transaksi di mana satu entitas menerima aktiva atau jasa atau telah
menggugurkan kewajibannya dan langsung memberikan nilai yang sama (terutama dalam
bentuk uang tunai, barang, atau jasa, atau penggunaan aset) ke entitas lain dalam
pertukaran. Sedangkan Non Resiprocal Revenue adalah suatu transfer dimana entitas
menerima aset atau layanan atau memperoleh penghapusan kewajiban tanpa secara
langsung memberikan nilai yang setara sebagai gantinya kepada pihak yang memberi
transfer seperti pajak dan hibah.
Di indonesia, pengakuan pendapatan terkait dengan pengungkapan di dalam laporan
realisasi anggaran (LRA) atau laporan operasional (LO). Pendapatan LRA adalah
penerimaan Rekening Kas Umum Negara/ Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak
perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Pendapatan LRA diakui pada saat diterima pada
Rekening Kas Umum Negara/ daerah. Sedangkan Pendapatan LO adalah hak pemerintah
pusat/ daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali. Pendapatan-LO diakui pada saat a)Timbul
hak atas pendapatan;dan b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber
daya ekonomi.











25

DAFTAR PUSTAKA

International Public Sector Accounting Standards Boards. 2014. Handbook of
International Public Sector Accounting Pronouncements. New York.
____. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan. Jakarta
International Federation of Accountant Public Sector Commitee. t.t. Study 9 Definition
and Recognition of Revenues. New York