Anda di halaman 1dari 24

1.

JUDUL

PERAN SERTA STAKEHOLDERS MEWUJUDKAN 30 % RUANG TERBUKA HIJAU DAN


RUANG EVAKUASI BENCANA MELALUI TEKNOLOGI GIS DAN GPS

2. PENDAHULUAN
Konflik penggunaan lahan merupakan salah satu dari masalah perwilayahan. Konflik
penggunaan lahan terjadi jika antara satu aktivitas memberikan dampak negatif terhadap aktivitas
lain pada lahan yang sama.
Sistem penataan ruang Bekasi hanya mengacu kepada aspek perekonomian saja tanpa
memperhatikan aspek kemampuan dan kesesuaian lahan. Fenomena tersebut menimbulkan
masalah penyimpangan penggunaan lahan di Bekasi. Dalam penataan ruang seharusnya
pembangunan dan system penataan ruang di Bekasi harus mengacu kepada kemampuan dan
kesesuaian lahan. Pemerintah daerah telah melihat masalah ini dan melakukan upaya
pengendaliannya. Namun upaya yang dilakukan pemerintah ternyata belum memberikan hasil
yang memuaskan. Tata guna lahan menerangkan mengenai aktivitas yang ada di atas sebidang
lahan dan intensitas penggunaan lahan. Suatu wilayah biasanya dibagi berdasarkan zona
kawasan untuk mempermudah analisis. Intensitas tataguna lahan diukur sesuai dengan zona
kawasan tersebut. Suatu zona kawasan dapat dikenali dengan jumlah populasi dan intensitas
serta variasi lapangan pekerjaan. Tataguna lahan akan menghasilkan (generate) lalu lintas, yaitu
orang–orang yang akan melakukan perjalanan dari dan ke zona kawasan tersebut.
Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai bagian integral
pembangunan nasional harus ditujukan untuk menjadi landasan kemajuan peradaban dan
kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan iptek pun harus tetap tanggap
dalam menghadapi perubahan global dan tatanan baru kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam pembangunan iptek juga tidak terlepas dari
tuntutan perubahan tersebut.
Alam berkembang menjadi guru. Sebuah ungkapan bijak dalam menyikapi berbagai
bencana beruntun yang melanda di berbagai belahan kota di Indonesia. Mulai dari ujung Aceh,
Nias, Palembang, Bandung, Alor, hingga Nabire di Papua. Sementara kecemasan akan gempa
bumi yang terus menggoyang (dan ketakutan datangnya tsunami) terus membayangi warga kota
Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Lampung, hingga Palu.
Sungguh naïf apabila kita selalu tergugah dan membangkitkan kesolidaritasan dalam
berkota yang ramah lingkungan jika harus menunggu datangnya bencana secara berulang kali.
Sikap solidaritas sering kali surut dan cepat terlupakan seiring dengan proses waktu tenggelam
dalam banalitas keseharian kehidupan normal yang egosentris sehingga penanggulangan dan
pencegahan bencana ikut pupus, tiba-tiba menjadi basi, dan tidak tuntas dikerjakan bersama.
Bencana yang terus terjadi berulang-ulang seharusnya menimbulkan niat serius
melakukan tindakan antisipasi dan mitigasi bencana agar tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun
seterusnya bencana tersebut tidak terulang kembali, atau setidaknya dampak korban dapat
ditekan semakin kecil.
Perencanaan kota tanggap bencana mensyaratkan perencanaan yang rasional, aplikatif,
dan berorientasi hasil (feasible, implementable, and achievable). Pemerintah (dan masyarakat)
harus proaktif berinisiatif mereformasi perencanaan kota yang tanggap bencana. Kota yang
terbangun kembali harus lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah dengan mewujudkan
ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana.
Kota yang terkonsep seharusnya berdasarkan pada pengalaman/kejadian bencana yang
terus terjadi. Kejadian di titik- titik rawan bencana dianalisis dan dijadikan bahan penyusunan
rencana strategis dan program kegiatan pembangunan yang terarah tepat sasaran untuk rencana
mitigasi bencana.
Bencana tidak bisa diperkirakan dengan tepat, tetapi upaya mitigasi bencana tetap perlu
disiapkan untuk meminimalkan korban (nyawa dan harta). Lebih baik mencegah daripada
memperbaiki berulang kali kerusakan yang sama dan boros dana.
Sistem peringatan dini bencana harus dibangun secara menyeluruh, baik di bidang fisik
kota (pembangunan peralatan mutakhir pendeteksi dini dalam sistem kota taman waspada
bencana), dan psikis kota (pendidikan dan pelatihan tanggap dan evakuasi bencana). Hidup di
kota rawan bencana harus mulai dibudayakan kepada seluruh warga kota bahwa bencana bisa
terjadi setiap saat. Untuk itu perlu dipersiapkan bagaimana cara terbaik mengakrabi, waspada,
evakuasi, dan bertahan hidup di daerah rawan bencana. Warga ditumbuhkan budaya sikap hidup
ramah lingkungan dan bencana alam sebagai bagian dari fenomena alam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran masyarakat, terutama di titik-titik rawan bencana, untuk sukarela tinggal di
rumah susun sedang (berlantai empat) yang layak huni akan menyisakan ruang-ruang terbuka
sebagai taman kota multifungsi yang signifikan. Taman dapat menjadi ruang evakuasi bencana,
tempat bermain dan belajar alam bagi anak-anak, dan tempat berolahraga (nilai sosial, budaya,
edukatif), taman konservasi kota-paru-paru kota dan daerah resapan air (nilai ekologis dan
estetis), serta tempat tujuan wisata kota (nilai ekonomi).
Sementara itu, sikap hidup tanggap bencana juga harus mulai disosialisasikan dalam
kurikulum pelajaran wajib segala tingkatan, disertai penyusunan panduan dan pelatihan evakuasi
bencana (banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami) di seluruh pelosok perkampungan dan
permukiman kota. Kelak warga tahu persis apa, ke mana, dan bagaimana proses evakuasi harus
dilakukan saat bencana tiba. Selama ini, latihan evakuasi bencana (kebakaran) dan ancaman bom
hanya dilakukan di gedung-gedung perkantoran. Lalu bagaimana dengan evakuasi bencana banjir
dan kebakaran yang sering terjadi di perkampungan padat penduduk, yang notabene belum
memiliki budaya tanggap dan evakuasi bencana.
Pengoptimalan RTH dalam kota taman waspada bencana adalah RTH dirancang sebagai
ruang-ruang evakuasi bencana dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik untuk
memitigasi bencana. Taman-taman dihubungkan jalur pedestrian lebar dan kuat untuk dilalui
kendaraan logistik. Lapangan olahraga (lapangan bola) menjadi tempat ideal penampungan
darurat dan posko penanggulangan bencana yang aman. Bencana yang sering kali menimbulkan
korban massal membutuhkan taman makam yang terencana baik, luas memadai, teknik
penguburan canggih, dan dikelola secara profesional. Prinsipnya efisien, higienis, dan ramah
lingkungan.

3. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH


Dengan berpedoman pada latar belakang, masalah tersebut coba diidentifikasi sebagai
berikut:
a. Masih kurangnya peran serta stakeholders dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH)
dan ruang evakuasi bencana di Bekasi.
b. Peraturan pemanfaatan ruang di Bekasi masih menggunakan Undang-undang No. 24
tahun 1992 padahal dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana
sudah diterbitkan undang-undang baru yaitu Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang
penataan ruang.
c. Penggunaan Geografical Information System (GIS) dan Geografical Positioning System
(GPS) masih digunakan dalam pembangunan proyek saja.
Dari latar belakang dan identifikasi masalah di lapangan tersebut peneliti mempunyai
gagasan untuk memberikan masukan terhadap pemerintah tentang ruang terbuka hijau (RTH) dan
ruang evakuasi bencana melalui teknologi GIS dan GPS.
Agar ruang lingkup penelitian tidak terlalu luas dan konsisten pada masalah yang diteliti,
serta terarah pada tujuan yang hendak dicapai, maka permasalahan penelitian difokuskan pada
peran stakeholders dalam mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana
melalui teknologi GIS dan GPS.
Rumusan masalah tersebut dapat dirinci menjadi beberapa sub pertanyaan, yaitu:
a. Bagaimana peran serta stakeholders dalam mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH) dan
ruang evakuasi bencana melalui teknologi GIS dan GPS ?
b. Bagaimana merealisasikan undang-undang No.26 tahun 2007 dalam mewujudkan ruang
terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana melalui teknologi GIS dan GPS sebagai
pengganti undang-undang No. 24 tahun 1992?
c. Bagaimana bentuk teknologi GIS dan GPS dapat mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH)
dan ruang evakuasi bencana di kota Bekasi?
Bencana gempa akhir-akhir ini telah mengajarkan kepada semua pihak, betapa rendahnya
pemahaman masyarakat terhadap upaya darurat menghadapi ancaman bencana dan tidak
siapnya pemerintah dengan infrastruktur pertahanan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.
Tidak mengherankan, apabila terjadi akumulasi jumlah korban melewati angka 10 ribu jiwa.
Sungguh sebuah bencana yang sangat memilukan.
Sebagai bahan pelajaran dan agar peristiwa ini tidak terulang lagi di masa mendatang,
pemerintah perlu membuat 4 langkah strategis. Langkah pertama fokus pada program darurat
untuk evakuasi dan rehabilitasi prasarana dan sarana umum. Fokus kedua pada upaya
rekonstruksi infrastruktur. Kegiatan pembangunan pada fokus kedua sebaiknya diarahkan untuk
memperkuat infrastruktur pertahanan, misalnya dengan memberi prioritas pembangunan rumah
dengan model konstruksi tahan gempa dan pemilihan ruang terbuka hijau. Fokus ketiga adalah
membangun sistem peringatan dini dan mitigasi bencana handal dalam skala nasional. Banyak
alternatif teknologi yang bisa diterapkan, namun yang paling ideal adalah memberikan kesempatan
sumber daya manusia (SDM) dalam negeri mengembangkan sistem tersebut berdasarkan
kemampuan dan penguasaan teknologi yang dimiliki dengan memperhitungkan faktor biaya dan
geografi Indonesia. Fokus keempat adalah pendidikan sosial untuk pembangunan budaya
masyarakat agar peka terhadap ancaman bencana. Semua pihak hendaknya menyadari
pentingnya proses pendidikan masyarakat ini. Pemerintah memasukkannya pada kurikulum
pendidikan dasar dan menengah dengan memberikan penjelasan detil potensi bencana gempa
dan tsunami di wilayah Indonesia. Pemerintah daerah yang berada pada wilayah rawan gempa
dan tsunami intensif melakukan simulasi upaya evakuasi dan penyelamatan terhadap bencana.
Demikian juga mass media membantu dengan menayangkan program yang memberi informasi
upaya penyelamatan terhadap berbagai bencana, dan sebagainya.
Hal utama dari semua upaya proses pendidikan itu adalah menanamkan pengetahuan
penting tersebut pada bawah sadar masyarakat Indonesia, sehingga ketika terjadi bencana yang
sesungguhnya mereka sudah siap dan tahu bagaimana cara efektif menghadapinya. Khusus untuk
bencana gempa dan tsunami misalnya, dalam benak mereka sudah terpola langkah-langkah
penyelamatan.
Terkadang, kita baru sadar kehilangan sesuatu, manakala sesuatu itu kita perlukan namun
tak ada lagi di tempatnya. Di tempat itu ternyata telah ada sesuatu yang baru, diinginkan atau
tidak, sebagai pengganti sesuatu yang hilang. Di saat itulah kita merasa sangat membutuhkan
sesuatu yang hilang itu, meskipun sesuatu yang baru juga sedikit bermanfaat.

4. TINJAUAN PUSTAKA
Ruang publik terbuka khususnya ruang terbuka hijau merupakan salah satu kebutuhan
masyarakat perkotaan saat ini dan itu menjadi paru-paru kota. Di ruang publik terbuka itu, warga
dapat bersosialisasi melalu berbagai kegiatan seperti olahraga, bercengkerama, rekreasi, diskusi,
pameran/bazar, dan lainnya.Anak-anak mungkin bisa bermain dengan leluasa di bawah teduhnya
pohon-pohon yang rimbun. Singkatnya,ini menjadi tempat rekreasi dan olahraga yang
menyenangkan tanpa harus mengeluarkan biaya.
Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang
berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan
hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau
pekarangan. Ruang terbuka hijau diklasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan
bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2004).
Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan ruang
terbuka hijau di Wilayah Perkotaan. Ruang terbuka hijau adalah ruang-ruang dalam kota atau
wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area
memanjang/jalur dimana di dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka pada dasarnya tanpa
bangunan. Dalam ruang terbuka hijau pemanfatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau
tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman seperti lahan pertanian,
pertamanan, perkebunan dan sebagainya.
Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem berbasis komputer yang memberikan
empat kemampuan untuk menangani data bereferensi geografis, yaitu pemasukan, pengelolaan
atau manajemen data (menyimpan atau pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis serta
keluaran. Pemasukan data ke dalam sistem informasi geografis dilakukan dengan cara digitasi dan
tabulasi. Manajemen data meliputi semua operasi penyimpanan, pengaktifan, penyimpanan
kembali, dan pencetakan semua data yang diperoleh dari masukan data. Proses manipulasi dan
analisa data dilakukan interpolasi spasial dari data non-spasial menjadi data spasial, mengkaitkan
data tabuler ke data raster, tumpang susun peta yang meliputi map crossing, tumpang susun
dengan bantuan matriks atau tabel dua dimensi, dan kalkulasi peta. Keluaran utama dari sistem
informasi geografis adalah informasi spasial baru yang dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu
tersimpan dalam format raster dan tercetak ke hardcopy, sehingga dapat dimanfaatkan secara
operasional (Anonim, 2002).
Struktur data spasial dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu struktur data vektor dan raster. Struktur data vektor kenampakan keruangan
akan dihasilkan dalam bentuk titik dan garis yang membentuk kenampakan tertentu, sedangkan
struktur data raster kenampakan keruangan akan disajikan dalam bentuk konfigurasi sel-sel yang
membentuk gambar (Anonim, 2002).
Menurut Davis (1996) Sistem Informasi Geografi (SIG) terdiri dari tiga bagian yang
terintegrasi, yaitu : (a) Geografi; dunia nyata, atau realita spasial, atau ilmu bumi (geografi). (b)
Informasi; data dan informasi, meliputi arti dan kegunaanya, dan (c) Sistem; teknologi komputer
dan fasilitas pendukung. Dengan kata lain SIG merupakan kumpulan dari tiga aspek dalam
kehidupan dunia modern kita, dan menawarkan metode baru untuk memahaminya. Selanjutnya
Barus dan Wiradisastra (2000) menyatakan bahwa Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu
sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau
berkoordinat geografi. Burrough dan McDonnel (1986) memberikan definisi Sistem Informasi
Geografi (SIG) dalam konteks alat (toolbox based), sebagai seperangkat alat yang digunakan
untuk mengoreksi, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasi dan menyajikan data spasial
dari dunia nyata untuk tujuan tertentu. Dalam konteks basisdata (database based), Aronoff (1989)
menyatakan bahwa Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu sistem berbasis komputer
yang mempunyai kemampuan untuk menangani data yang bereferensi geografi, yaitu pemasukan
data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali), manipulasi dan analisis serta
keluaran (output). Sedangkan dalam konteks organisasi (organization based), Ozemoy et al. dalam
Burrough dan McDonnel (1986) mendefinisikan Sistem Informasi Geografi (SIG) sebagai
seperangkat fungsi-fungsi otomatis yang professional dengan kemampuan lebih baik dalam hal
penyimpanan, pemanggilan kembali, manipulasi, dan tampilan lokasi data secara geografis.
Informasi penutupan lahan dapat diekstrak langsung melalui proses interpretasi citra atau foto
udara yang kualitasnya baik. Namun demikian, informasi tentang penggunaan lahannya tidak
dapat diketahui secara langsung, oleh karena itu diperlukan pengecekan lapang untuk mengetahui
penggunaan lahan di suatu daerah. Menurut Murai (1996) pengecekan lapang atau disebut juga
ground “truth” didefinisikan sebagai observasi, pengukuran, dan pengumpulan informasi tentang
kondisi aktual di lapangan dalam rangka menentukan hubungan antara data penginderaan jauh
dan obyek yang diobservasi. Dengan demikian, apabila ditemukan perbedaan pola atau
kecenderungan yang tidak dimengerti pada data penginderaan jauh, bisa dilakukan verifikasi
dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) telah banyak digunakan untuk perencanaan
pertanian, industri, dan penggunaan lahan. Analisis terpadu terhadap penggunaan lahan, debit air,
data kependudukan dan pengaruh dari masing-masing data dapat dilakukan. Dengan
menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) maka keterkaitan antara faktor yang
mempengaruhi sistem dapat dianalisis (Aronoff, 1989).
5. TUJUAN
Secara khusus tujuan pengajuan proposal disesuaikan dengan tahap pelaksanaan
penelitian, yaitu :
a. Memperoleh pola kemampuan lahan dan kesesuaian lahan di kota Bekasi
b. Memperoleh pola fisik lingkungan yang sesuai untuk penataan ruang di Bekasi
c. Memperoleh model konseptual dan fungsional zonasi kawasan yang sesuai untuk
penataan ruang dan pembangunan berkelanjutan di kabupaten Bekasi;
d. Memperoleh luasan dan lokasi berdasarkan batas administrasi, kawasan–kawasan yang
sesuai untuk penataan ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana melalui
teknologi GIS dan GPS
e. Memperoleh besar volume lahan yang sesuai untuk pengembangan penataan ruang
terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana di Bekasi dengan peran serta
stakeholers

6. MANFAAT
Manfaat pengajuan proposal yang dapat diharapkan dari keberhasilan penelitian ini adalah :
a. Mengoptimalkan kemampuan lahan dan kesesuaian lahan untuk pengembangan penataan
ruang di Bekasi
b. Meningkatkan dan mempertahankan kualitas lingkungan hidup yang berazazkan lestari,
optimal, serasi dan seimbang demi terjaminnya pembangunan yang berkesinambungan di
Bekasi.
c. Meningkatkan sinergi sektor-sektor dalam pengembangan wilayah Bekasi
d. Menghindarkan pemanfaatan dan penataan ruang yang tidak sebagaimana mestinya;
e. Mencegah terjadinya penipisan sumber daya yang ada di Bekasi secara cepat sehingga
dapat menyebabkan bencana dan kemiskinan bagi generasi yang akan datang;
f. Memberikan perluasan wawasan dan pengetahuan khususunya yang berkaitan dengan
ruang terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana untuk penataan ruang dan pembangunan
berkelanjutan di Bekasi.
g. Dapat dijadikan rujukan studi lebih lanjut bagi studi pemanfaatan ruang terbuka hijau
(RTH) dan ruang evakuasi bencana di daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia.
7. SASARAN
Sasaran pelaksanaan peran serta stakeholders dalam mewujudkan ruang terbuka hijau
(RTH) dan ruang evakuasi bencana melalui teknologi GIS dan GPS adalah pemerintah Bekasi
yang turut serta dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dalam penataan ruang kota
Bekasi.

8. METODE PELAKSANAAN
Melihat kondisi yang sangat mengkhawatirkan, tentunya diperlukan segera penanganan yang
serius, yang terintgerasi dan komprehensip. Hal yang penting dilakukan dalam mewujudkan ruang
terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana adalah memetakan daerah-daerah yang memiliki potensi
ancaman dari berbagai aspek.
Peneliti menekankan agar UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dapat dilaksanakan di
Bekasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap perwujudan dan kualitas ruang
karena perencanaan tata ruang merupakan kunci yang menentukan tingkat keberhasilan dalam
mencapai tujuan dari penataan ruang itu sendiri.
Dalam program penerapan Ipteks bagi masyarakat dengan mengikutsertakan pemerintah
mensosialisasi UU No. 26/2007 tentang penataan ruang diharapkan segenap masyarakat Bekasi
diharapkan mampu melaksanakan penataan ruang dengan semangat untuk meningkatkan kepedulian
terhadap perwujudan dan kualitas ruang di sekitar kita, meningkatkan peran masing-masing
pemangku kepentingan dengan menumbuhkembangkan kapasitas kelembagaan dan sumberdaya
manusia yang peduli penataan ruang, menyelesaikan RTRW Provinsi, Kabupaten dan Kota
sesuai jadwal yang terkandung di dalam UU No. 26/2007, menyelesaikan RTRW Provinsi,
Kabupaten dan Kota secara simultan dengan penyusunan pedoman pelaksanaan dan peraturan
yang konsisten, serta menata ruang secara bersama untuk kita semua tanpa kecuali bencana banjir
dan tanah longsor, krisis pangan akibat berkurangnya lahan pertanian, serta menurunnya kinerja
infrastruktur akibat pertambahan penduduk di daerah perkotaan. Untuk mengantisipasi isu
tersebut, bahwa pelaksanaan UU No. 26/2007 sebaiknya didasarkan pada spirit yang terkandung di
dalam pasal-pasalnya, berupa keterpaduan, keserasian, keselerasan, keseimbangan, keber lanjutan,
keberdayagunaan keberhasilgunaan, keterbukaan, kebersamaan, kemitraan, perlindungan
kepentingan umum, kepastian hukum, keadilan, akuntabilitas.
Ruang terbuka hijau (RTH) di setiap kota memiliki tiga fungsi penting yaitu fungsi ekologis,
sosial, ekonomi dan evakuasi. Dalam UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, jumlah
RTH di setiap kota harus sebesar 30% dari luas kota tersebut. RTH perkotaan adalah bagian dari
ruang-ruang terbuka suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi.
Fungsi ekologis RTH yaitu untuk meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi
udara dan pengatur iklim mikro. Selain itu RTH memiliki fungsi sosial-ekonomi sebagai ruang
interaksi sosial, sarana rekreasi dan sebagai tetenger (landmark) kota. Sementara fungsi
evakuasi antara lain untuk tempat pengungsian saat terjadi bencana alam. RTH juga dapat
mengurangi kadar polutan seperti timah hitam dan timbal yang berbahaya bagi kesehatan
manusia.
Untuk merealisasikan keberadaan RTH diperlukan komitmen kuat dari semua pihak baik
pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Upaya
tersebut antara lain mendorong pengembangan permukiman vertikal. Dengan tinggal di
permukiman yang vertikal, maka akan menggunakan lahan yang lebih sedikit, sehingga lahan
lainnya dapat dimanfaatkan untuk RTH.
Terdapat tiga strategi yang dibangun terkait dengan penataan ruang, yaitu pertama,
dibidang pendidikan dengan kurikulum berbasis kawasan, kedua, menjaga stabilitas ekonomi
jangan sampai ada monopoli, ketiga, menerapkan pemerintahan yang transparan dan selalu
interaktif dengan masyarakat.
Apresiasi dan sosialisasi NSPM ini merupakan arahan dalam melakukan rumusan
penyusunan rencana tata ruang yang optimal, serasi, dan selaras serta harmonis dengan
lingkungannya, serta memberikan pemahaman yang sinergis dalam merumuskan kegiatan rencana
tata ruang dan sistem pengendalian pemanfaatan ruang kepada para stakeholder terkait.
Adapun metode yang akan dikeluarkan dalam mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH) dan
ruang evakusi bencana evakuasi bencana di Bekasi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Pengumpulan referensi yang berhubungan dengan wilayah Bekasi
b. Pengumpulan data sekunder dari Badan Perencanaan Daerah dan Pembangunan
(BAPPEDA) di Bekasi,
c. Pembuatan model konseptual masukan, proses dan keluaran untuk sosialisasi UU No.
26/2007 Penataan Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
d. Pembuatan model fungsional masukan, proses dan keluaran untuk sosialisasi UU No.
26/2007 Penataan Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi,
e. Implementasi model fungsional Penataan Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana
Bekasi,
f. Verifikasi hasil analisis sosialisasi UU No. 26/2007 Penataan Ruang tentang Ruang
terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
g. Pelatihan sosialisasi UU No. 26/2007 Penataan Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan
evakuasi bencana di Bekasi.
h. Pembuatan model konseptual dan fungsional instrumen sosialisasi UU No. 26/2007
Penataan Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi yang
disebarkan kepada masyarakat yang berada di Bekasi,
i. Identifikasi jumlah masyarakat yang akan diberikan sosialisasi UU No. 26/2007 Penataan
Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
j. Kunjungan lapangan untuk menyebarkan angket melalui pertemuan yang dikoordinir oleh
fasilitator lapangan yang juga penanggung jawab kemitraan antara pihak masyarakat dan
aparatur pemerintah di daerah,
k. Pertemuan antara para peneliti, fasilitator lapangan, masyakarat, aparatur pemerintah dan
pihak swasta melalui forum diskusi kelompok untuk lebih mengenali dan mengetahui
kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman bagi kegiatan sosialisasi UU No. 26/2007
Penataan Ruang tentang Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
l. Catatan hasil pertemuan disepakati oleh para peserta yang hadir sebagai dasar
rekomendasi kepada para pengambil kebijakan terkait dengan Ruang terbuka hijau dan
evakuasi bencana di Bekasi.
m. Simulasi kelayakan Ruang terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
n. Pengambilan kesimpulan dan pemberian rekomendasi wilayah untuk penataan Ruang
terbuka hijau dan evakuasi bencana di Bekasi.
o. Pembuatan, penyerahan dan publikasi kegiatan kepada para pemangku kepentingan
(stakeholders).
p. Seminar hasil.
9. OUTPUT/PRODUK AKHIR YANG DIHARAPKAN
Dengan adanya peran serta stakeholders dalam mewujudkan ruang terbuka hijau dan
evakuasi bencana di Bekasi diharapkan mampu memberikan wawasan kepada masyarakat
mengenai ruang terbuka hijau. Dengan adanya peran serta stakeholders dalam mewujudkan ruang
terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana melalui teknologi GIS dan GPS dapat
merealisasikan undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang yang mengatur bahwa
ruang terbuka hijau untuk daerah perkotaan adalah sebesar 30 %.

10. JADWAL PELAKSANAAN


Penelitian akan dilaksanakan selama 8 bulan (efektif 4 bulan) dan dimulai oleh kegiatan
pembuatan proposal penelitian. Jadwal pelaksanan disajikan dalam tabel di bawah ini.
NO Kegiatan Okt Nov Des Jan Febr Mar Apr Mei
Pembuatan
1
proposal
Penelitian
2
Instrumen
Pengumpulan
3
Data
4 Pengolahan Data
Pembuatan
5
Laporan
Seminar Hasil
6
Penelitian
Revisi Hasil
7
Penelitian
8 Laporan Akhir
Penyerahan Hasil
9
Penelitian
11. PERSONALIA PELAKSANA

Ketua Peneliti :
Nama : Bambang Eko Wiyanto

Anggota Penelitian I :
Nama : Dr Dra Rina Marina Masri, MP
NIP : 19650530 199101 2 001
Jabatan fungsional : Lektor
Pangkat / Golongan : Penata Muda Tingkat I / III – d
Bidang Keakhlian : Analisis Sistem dan Permodelan
Pengampu Kuliah : Teknik Penyehatan
Ilmu Ukur Tanah
Praktikum Ilmu Ukur Tanah

Anggota Penelitian II
Nama : Dr Ir Drs H Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
NIP : 19641018 199101 1 001
Jabatan fungsional : Lektor Kepala
Pangkat / Golongan : Pembina / IV- a
Bidang Keakhlian : Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Pengampu Kuliah : Ilmu Ukur Tanah
Praktikum Ilmu Ukur Tanah
Pengukuran dan Pemetaan I
Pengukuran dan Pemetaan II
12. PERKIRAAN BIAYA
No Uraian Unit Cost/Unit Cost
1. Bahan Habis
a. Bahan Peta 10 Rp. 1.000.000,00 Rp. 10.000.000,00
b.Instrumen penelitian 20 Rp. 500.000,00 Rp. 10.000.000,00
c. Model DTM 20 Rp. 500.000,00 Rp. 10.000.000,00
d.Laporan penelitian 10 Rp. 50.000,00 Rp. 500.000,00
e. Artikel penelitian 10 Rp. 50.000,00 Rp. 500.000,00
f. Tinta printer A4 40 cartridge Rp. 250.000,00 Rp. 10.000.000,00
g. Tinta plotter A1 40 cartridge Rp. 250.000,00 Rp. 10.000.000,00
h. Flash disk 512 MB 40 buah Rp. 250.000,00 Rp. 10.000.000,00
i. Kertas HVS A4 200 rim Rp. 50.000,00 Rp. 10.000.000,00
j. Poster & Setting Lumpsum Rp. 500.000,00 Rp. 500.000,00
k. Kertas HVS A1 40 rol Rp. 250.000,00 Rp. 10.000.000,00
l. Sofrware DTM Lumpsum Rp. 7.500.000,00 Rp. 7.500.000,00
m. Software CAD Lumpsum Rp. 10.000.000,00 Rp. 10.000.000,00
Sub-Total Rp. 99.000.000,00
2. Manajemen :
a. Penelitian 4 bulan Rp. 1.750.000,00 Rp. 7.000.000,00
b. Keuangan 4 bulan Rp. 1.750.000,00 Rp. 7.000.000,00
c. Administrasi 4 bulan Rp. 1.750.000,00 Rp. 7.000.000,00
Sub-Total Rp. 2 1.000.000,00
3. Honorarium :
a. Ketua Peneliti 4 bulan Rp. 4.000.000,00 Rp. 16.000.000,00
b. Anggota Peneliti I 4 bulan Rp. 3.500.000,00 Rp. 14.000.000,00
Anggota Peneliti II 4 bulan Rp. 3.500.000,00 Rp. 14.000.000,00
Anggota Peneliti III 4 bulan Rp. 3.500.000,00 Rp. 14.000.000,00
Sub-Total Rp. 58.000.000,00
4. Lain-lain :
Sewa LCD 2 unit 15 hr Rp. 100.000,00 Rp. 3.000.000,00
Sewa digitizer A3 2 unit 5 hr Rp. 300.000,00 Rp. 3.000.000,00
Sewa notebook 2 unit 5 hr Rp. 400.000,00 Rp. 4.000.000,00
Sewa plotter A1 1 unit 10 hr Rp. 200.000,00 Rp. 2.000.000,00
Sewa GPS navigasi 1 unit 40 hr Rp. 50.000,00 Rp. 2.000.000,00
Sewa Waterpass 2 unit 20 hr Rp. 100.000,00 Rp. 4.000.000,00
Sewa Theodolite 2 unit 20 hr Rp. 100.000,00 Rp. 4.000.000,00
Sub-Total Rp. 22.000.000,00

Total Rp. 200.000.000,00

Terhitung senilai dua ratus juta rupiah.


LAMPIRAN 1
CURRICULUM VITAE

Nama : Bambang Eko Widyanto


Alamat Rumah : Perum Griya Persada Elok Blok D/12 Rt 001/016
Kelurahan Mustika Jaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi
085694354100, 0226002972, 0218251278
PENDIDIKAN
2009 : Saat ini masih aktif sebagai mahasiswa Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI Bandung
PELATIHAN
2008 : Mengikuti Pelatihan GIS Innovation Challenge “GIS for Our Lifestyle” di ITB Bandung.

Tanda Tangan :

Tanggal Penandatanganan : 04/11/2009


LAMPIRAN 2
CURRICULUM VITAE
Nama : Dr. Dra. Rina Marina Masri, MP
NIP/Pangkat/Golongan : 196505301991012001/Penata Tingkat I/ III d
Jabatan Akademik : Lektor
Jabatan Struktural :-
Alamat Kantor : Jalan Dr.Setiabudhi No 207 Bandung 40154
Telephone : 62-22-2013163 Pesawat 3409
Alamat Rumah : Jalan Soka No. 3 Kampus Darmaga Bogor. Telephone 081315177863

PENDIDIKAN
2009 : Memperoleh gelar Doktor dari Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
2002 : Memperoleh gelar Magister Pertanian dari Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran
Bandung.
1989 : Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik dari Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
IKIP Bandung.
PELATIHAN
2004 : Memperoleh sertifikat pelatihan AMDAL B Plus dari Program Studi Pengelolaan Sumber Daya
Alam dan Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (setara 70 jam pelatihan).
2003 : Memperoleh sertifikat pelatihan AMDAL A Plus dari Program Studi Pengelolaan Sumber Daya
Alam dan Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (setara 70 jam pelatihan).
2001 : Memperoleh sertifikat pelatihan GIS (Geographical Information Sistem) di Badan Koordinasi Survei
dan Pemetaan Nasional, Cibinong Bogor.
1998 : Mengikuti pelatihan TOEFL di Balai Bahasa IKIP Bandung.
1996 : Memperoleh sertifikat pelatihan GIS (Geographical Information Sistem) di Dellasonta Computer
Center di Bandung.
BIDANG KEAKHLIAN
Analisis Sistem dan Permodelan, Teknik Sipil, Evaluasi Lahan, Lingkungan (Konstruksi Bangunan,
Praktikum Ilmu Ukur Tanah, Manajemen Konstruksi, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan / AMDAL).
PENGALAMAN PROFESIONAL
2008 : Konsultan perencana untuk Kajian Implikasi Undang-Undang No 26 Tahun 2007 terhadap Sistem
Pengembangan Kawasan Perumahan dan Permukiman (Kota Padang, Palembang, Banjarmasin
dan Makasar) di Deputi Pengembangan Kawasan Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat
Jakarta.
2005 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pertambangan Batu Bara di
Mamuju.
2005 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pertambangan Batu Bara di
Bayah.
2004 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pertambangan Batu Bara di
Bojongmanik.
2004 : Konsultan lingkungan untuk Pengembangan Model dan Tipologi Agropolitan di Tujuh Kabupaten di
Pulau Jawa.
2004 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Bogor Agribisnis Center di
Kota Bogor.
2003 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Tempat Pembuangan
Sampah Akhir (TPA) di Anyer Kabupaten Serang.
2003 : Konsultan lingkungan untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pangrango Internusa Plaza
(PIP) di Kota Bogor.
2002 : Konsultan perencana pada penelitian Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Evaluasi
Kesesuaian Lahan di Kabupaten Sumedang.
2002 : Konsultan perencana pada penelitian Zonasi Kawasan Perumahan Berwawasan Lingkungan
Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Bandung.
2002 : Ketua Tim Evaluasi Lahan Pasca Industri Genteng di Kabupaten Majalengka.
1998 : Civil Engineer pada Konstruksi Pembangunan Klinik Rancaekek di Kabupaten Bandung.
PENELITIAN (5 TAHUN TERAKHIR)
2008 : Implementasi Perancangan Berbantuan Komputer pada Tugas Terstruktur Jalan Rel untuk
Meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Teknik Sipil (Penelitian Hibah Kompetitif Internal
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2007 : Aplikasi Model Eksplanatoris pada Mata Kuliah Praktikum Ilmu Ukur Tanah untuk Meningkatkan
Pemahaman Mahasiswa D3 Teknik Sipil FPTK UPI (Penelitian Hibah Kompetitif Internal
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2007 : Analisis Sosial Ekonomi Pembibitan dan Budidaya Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas
Linnaeus) untuk Menghasilkan Bahan Bakar Nabati yang Ramah Lingkungan (Penelitian
Fundamental DP3M Dikti Depdiknas Jakarta).
2007 : Perbandingan Alokasi Hutan Hasil Analisis Spasial Kepmenhut SK-79/2001 dengan Kemampuan
Lahan BPDAS di Kabupaten Bandung
2007 : Model Dinamis Alokasi Lahan Kawasan Perumahan dan Konservasi Kawasan Lindung di Kawasan
Bandung Utara.
2003 : Model Dinamis Pendidikan dan Kesempatan Kerja di Kota Bandung Jawa Barat (Penelitian Hibah
Pembinaan Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2002 : Zonasi Kawasan Perumahan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Bandung
(Penelitian Hibah Pembinaan Univeristas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2001 : Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh bagi Evaluasi Kemampuan Lahan di
Kabupaten Sumedang (Penelitian Hibah Pembinaan Universitas Pendidikan Indonesia di
Bandung).
PRESENTASI MAKALAH (5 TAHUN TERAKHIR)
2008 : Tinjauan Hukum terhadap Polusi Kebisingan : Sumber, Baku Mutu, Pemantauan dan
Pengelolaannya (Pembicara pada Seminar Hukum Lingkungan yang diselenggarakan oleh
Himpunan Mahasiswa Fakultas Hukum UNIKOM Bandung).
2003 : Aplikasi GIS untuk Zonasi Kesesuaian Lahan Perumahan di Kabupaten Bandung.
2001 : Hubungan Luas Lahan Sawah Beririgasi dengan Produktivitas Gabah Kering Giling di Kabupaten
Subang.

Tanda Tangan :

Tanggal Penandatanganan : 04/11/2009


LAMPIRAN 3
CURRICULUM VITAE
Nama : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
NIP/Pangkat/Golongan : 196410181991011001/Pembina/IV a
Jabatan Akademik : Lektor Kepala
Jabatan Struktural : -
Alamat Kantor : Jalan Dr.Setiabudhi No 207 Bandung 40154
Telephone : 62-22-2013163 Pesawat 3409
Alamat Rumah : Jalan Soka No. 3 Kampus Darmaga Bogor
Telephone : 022-4241525 ; 022-7200761 ; 08174843722 ;
0818224581;081221591924
PENDIDIKAN
2005 : Memperoleh gelar Doktor dari Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
1999 : Memperoleh gelar Magister Teknik dari Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung.
1992 : Memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi
Bandung.
1977 : Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik dari Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
IKIP Bandung.
PELATIHAN
2007 : Mengikuti pelatihan Pembuatan Buku Kejuruan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dikmenjur Depdiknas Jakarta.
2006 : Mengikuti pelatihan Penelitian Pengembangan Kegiatan Pembelajaran (PPKP) di Jakarta yang
diselenggarakan oleh Direktorat Ketenagaan Dikdasmen Depdiknas Jakarta.
2005 : Mengikuti pelatihan Penelitian Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri (RAPID) di Bandung
yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DP3M) Dikti
Depdiknas Jakarta.
2003 : Mengikuti pelatihan Model Sistem Dinamis menggunakan perangkat lunak Powersim 2.5 c di
Bogor yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (FATETA
IPB).
1998 : Mengikuti pelatihan TOEFL di Balai Bahasa IKIP Bandung.
1992 : Mengikuti pelatihan Sistem Informasi Geografis menggunakan perangkat lunak Mapinfo, Arcinfo,
Arcview, AutoCAD di Dellasonta Computer Center Bandung.
BIDANG KEAKHLIAN
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Pendidikan Teknik Sipil, Teknik Geodesi, Perencanaan Wilayah dan
Kota, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
PENGALAMAN PROFESIONAL
2009 : Ketua tim Penyusunan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Batu Bara Propinsi
Sumatra Utara.
2008 : Ketua tim merangkap konsultan perencana untuk Kajian Implikasi Undang-Undang No 26 Tahun
2007 terhadap Sistem Pengembangan Kawasan Perumahan dan Permukiman (Kota Padang,
Palembang, Banjarmasin dan Makasar) di Deputi Pengembangan Kawasan Kantor Menteri
Negara Perumahan Rakyat Jakarta.
2007 : Konsultan teknik sipil untuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek
Pembangunan Teknik Sipil Busway Koridor VIII dari Pusat Grosir Cililitan sampai dengan
Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.
2006 : Konsultan perencana untuk Natural Resources Management in decentralized framework (NRMdf)
di Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Teknik Sipil Daerah dan Badan Perencanaan
Pembangunan Teknik Sipil Nasional yang didanai oleh Asian Development Bank.
2005 : Konsultan teknik geodesi untuk Pekerjaan Rehabilitasi Mangrove di Jalan Tol Sedyatmo
Tangerang dari PT Jasa Marga BUMN Jakarta.
2005 : Konsultan perencana untuk Analisis Studi Kelayakan Pembangunan Teknik Sipil Infrastruktur di
Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Tangerang.
2004 : Konsultan teknik sipil untuk Analisis Studi Kelayakan Pembangunan Teknik Sipil Pusat Agribisnis
Institut Pertanian Bogor di Kota Bogor.
2003 : Konsultan perencana untuk Perancangan Masterplan Kota Agropolitan di Badan Perencanaan
Daerah Kabupaten Bekasi.
2003 : Konsultan perencana untuk Perancangan Model Dinamis Pendidikan dan Kesempatan Kerja di
Kota Bandung.
2003 : Konsultan perencana untuk Studi Kelayakan Finansial Usaha Padi Sawah di Kabupaten
Sumedang Menggunakan Model Dinamis.
2003 : Konsultan lingkungan untuk Pembangunan Teknik Sipil Kapasitas Lembaga Lingkungan di Tingkat
Kabupaten/Kota dari Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Jakarta.
2002 : Konsultan perencana untuk Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh bagi
Evaluasi Kemampuan Lahan di Kabupaten Sumedang.
2002 : Konsultan perencana untuk Zonasi Kesesuaian Lahan Perumahan Menggunakan Sistem Informasi
Geografis di Kabupaten Bandung.
2002 : Konsultan teknik geodesi untuk Pemetaan Situasi dengan Survei Terestris.
2002 : Konsultan teknik geodesi untuk Pemrosesan Citra Satelit di Propinsi Banten.
2001 : Konsultan perencana untuk Perencanaan dan Pengembangan Kota Bandung.
2000 : Konsultan teknik sipil untuk Studi Kelayakan Pembangunan Teknik Sipil Laboratorium Uji Mutu
Buah-Buahan dari Dinas Pertanian DKI Jakarta.
2000 : Konsultan teknik geodesi untuk Proyek Pengembangan Kampus UPI Bandung.
1999 : Konsultan manajemen untuk Proyek Pemberdayaan Daerah dan Masyarakat karena Dampak
Krisis Ekonomi dari Badan Perencanaan Daerah Kota Bandung.
1998 : Konsultan teknik sipil untuk Pembangunan Teknik Sipil Konstruksi Klinik Pengobatan di
Perumahan Rancaekek Kencana dari Yayasan Ar-Rahman di Kabupaten Bandung.
1997 : Konsultan teknik geodesi untuk Pelatihan Sistem Informasi Geografis di Departemen
Pertambangan dan Eksplorasi Jakarta.
1996 : Konsultan perencana Pembangunan Teknik Sipil Jaringan Komputer Lokal di Bank Tabungan
Pensiunan Nasional (BTPN) Kantor Cabang Kota Bogor dan Banda Aceh.
1996 : Konsultan teknik geodesi untuk Pengukuran dan Pemetaan Lahan dari Yayasan Endjar di
Kabupaten Bandung.
1995 : Konsultan teknik geodesi untuk Pembangunan Teknik Sipil Data Pokok Pembangunan Teknik Sipil
dan Pemetaan Digital dari Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Sumedang.
1995 : Konsultan perencana Pembangunan Teknik Sipil Jaringan Lokal di Badan Perencanaan Daerah
Kabupaten Subang.
1994 : Konsultan teknik geodesi untuk Aplikasi Sistem Informasi Geografis bagi Pengembangan Data
Pokok Pembangunan Teknik Sipil Daerah dari Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Subang.
1994 : Konsultan teknik geodesi untuk Aplikasi Sistem Informasi Geografis bagi Program Pengembangan
Prasarana Kota Terpadu di Kabupaten Subang.
1993 : Konsultan teknik geodesi untuk Pemetaan Digital Data Pokok Pembangunan Teknik Sipil dari
Badan Perencanaan Daerah di Kabupaten Subang.
1992 : Konsultan teknik geodesi untuk Pelatihan Sistem Informasi Geografis dan Pemetaan Digital bagi
Dellasonta Computer Center Kota Bandung, Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Bandung,
Dinas Survei Perusahaan Listrik Negara DKI Jakarta, Pusat Penelitian Tambang dan Mineral Kota
Bandung.
1992 : Konsultan teknik geodesi untuk Pengukuran dan Pemetaan Lahan dari Jurusan Teknik Industri IPB
Bogor.
1991 : Konsultan teknik sipil untuk Perancangan Pembangunan Teknik Sipil Konstruksi Sipil Pengolah
Limbah Tahu dan Tempe di Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia Jakarta Selatan.
PENELITIAN (5 TAHUN TERAKHIR)
2008 : Implementasi Perancangan Berbantuan Komputer pada Tugas Terstruktur Jalan Rel untuk
Meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Teknik Sipil (Penelitian Hibah Kompetitif Internal
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2008 : Konversi Peta Analog Menjadi Digital pada Pembelajaran Praktikum Ilmu Ukur Tanah untuk
Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa Teknik Sipil (Penelitian Hibah Pembinaan Universitas
Pendidikan Indonesia di Bandung).
2008 : Perancangan Model Dinamis Kependudukan yang Memenuhi Syarat Validitas di Kecamatan
Lembang, Cimenyan dan Cilengkrang (Penelitian Hibah Pembinaan Pusat Studi Pendidikan
Kependudukan dan Lingkungan Hidup).
2007 : Pengembangan Model Diagram Alir pada Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah untuk Meningkatkan
Pemahaman Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI (Penelitian Pengembangan
Kegiatan Pembelajaran – Direktorat Ketenagaan Dikdasmen Depdiknas Jakarta).
2007 : Aplikasi Model Eksplanatoris pada Mata Kuliah Praktikum Ilmu Ukur Tanah untuk Meningkatkan
Pemahaman Mahasiswa D3 Teknik Sipil FPTK UPI (Penelitian Hibah Kompetitif Internal
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2007 : Analisis Sosial Ekonomi Pembibitan dan Budidaya Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas
Linnaeus) untuk Menghasilkan Bahan Bakar Nabati yang Ramah Lingkungan (Penelitian
Fundamental DP3M Dikti Depdiknas Jakarta).
2006 : Evaluasi Perubahan Lingkungan di Koridor Jalan Soekarno Hatta di Kota Bandung Jawa Barat
(Penelitian Hibah Pembinaan Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2005 : Pola Perubahan Lingkungan yang Disebabkan oleh Prasarana dan Sarana Jalan (Studi Kasus :
Jalan Soekarno Hatta di Kota Bandung Jawa Barat) (Disertasi untuk Doktor di Program Studi Ilmu
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian
Bogor).
2003 : Model Dinamis Pendidikan dan Kesempatan Kerja di Kota Bandung Jawa Barat (Penelitian Hibah
Pembinaan Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2002 : Zonasi Kawasan Perumahan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Bandung
(Penelitian Hibah Pembinaan Univeristas Pendidikan Indonesia di Bandung).
2001 : Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh bagi Evaluasi Kemampuan Lahan di
Kabupaten Sumedang (Penelitian Hibah Pembinaan Universitas Pendidikan Indonesia di
Bandung).
1999 : Kelayakan Relokasi Industri Genteng dan Implikasinya terhadap Pengembangan Wilayah di
Kabupaten Majalengka (Tesis untuk Magister Teknik di Program Studi Perencanaan Wilayah dan
Kota Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung).
PRESENTASI MAKALAH (5 TAHUN TERAKHIR)
2006 : Perubahan Lingkungan di Koridor Jalan Soekarno Hatta di Kota Bandung Jawa Barat (Pembicara
pada Seminar Mansoer Wiraatmadja yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan
Pengabdian pada Masyarakat Institut Teknologi Nasional Bandung dan Pemerintah Kota Bandung
serta Asian Development Bank).
2006 : Perencanaan Spasial Partisipatif pada Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Kerangka Kerja
Desentralisasi di Kabupaten Cianjur, Lombok Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Kutai Barat
(Pembicara pada Lokakarya Nasional Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Kerangka Kerja
Desentralisasi yang diselenggarakan oleh Dirjen Bangda Depdagri, Bappenas, BPPT dan Asian
Development Bank).
2005 : Studi Kelayakan Pembangunan Teknik Sipil Infrastruktur di Badan Perencanaan Daerah
Kabupaten Tangerang Provinsi Banten (Pembicara pada Rapat Teknis Perencanaan dan
Pembangunan Teknik Sipil Daerah yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan
Pengabdian pada Masyarakat Institut Pertanian Bogor dengan Pemerintah Daerah Kabupaten
Tangerang
Tanda Tangan

Tanggal Penandatanganan : 04/11/2009