Anda di halaman 1dari 19

EKOWISATA SUNGAI CODE UTARA DI

KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA


BERBASIS KOMUNITAS
Oleh:
Totok Pratopo, Ketua Forum Masyarakat Code Yogyakarta
Suparwoko, Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia

Alamat: Jetisharjo JT2/519 Yogayakarta Hp. 081328802207

1
I. Latar Belakang

Sebagai salah satu entitas ruang, sungai memiliki karakteristik yang cukup unik. Hampir
seluruh peradaban agraris yang ada saat ini berawal dari keberadaan sebuah sungai. Dalam
konteks ini, sungai berfungsi sebagai penyedia air bersih sehingga area di sekitar sungai
cenderung memiliki ekosistemnya sendiri. Ekosistem sungai memiliki ketergantungan penuh
terhadap kondisi sungai secara keseluruhan, mulai dari bagian hulu hingga hilir. Apa yang
terjadi di bagian hulu akan memberi dampak pada ekosistem di bagian hilir sehingga sejatinya
penataan sungai tidak dapat dibatasi oleh batas administratif tetapi lebih pada batasan ekologis
(Maryono, 2005).
Sayangnya, keberadaan sungai terutama di kawasan perkotaan cenderung
mengabaikan fungsi sungai sebagai penyedia air bersih ataupun fungsi ekologisnya dan lebih
menekankan pada fungsi sungai sebagai saluran drainase dan pembuangan limbah yang
tersedia secara gratis. Frekuensi terjadinya bencana seperti banjir dan longsor pada kawasan
bantaran sungai pada akhirnya malah semakin mengubah morfologi sungai dan berfungsi
sebagai pemecahan masalah secara parsial tanpa menyadari bahwa perubahan morfologi
sungai tentunya akan berdampak pada ekosistem di bagian hilir.
Kondisi inilah yang juga terjadi di Sungai Code. Sebagai salah satu dari tiga sungai
utama yang membelah Kota Jogja, Sungai Code lebih sering diperlakukan sebagai saluran
drainase dan pembuangan limbah rumah tangga berikut limbah industri skala kecil daripada
dihargai sebagai sumber air bersih (Setiawan, 2003). Akibatnya, kondisi sungai Code menjadi
tercemar, bahkan sempat menjadi sungai paling tercemar dibnading tiga sungai lainnya di Jogja
(Harian Jogja, 2007). Ditambah lagi, kawasan bantaran sungai Code telah banyak dirambah
sebagai kawasan permukiman padat tanpa mempedulikan sempadan sungai seperti yang diacu
dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63/Prt/1993.
Sejauh ini, kawasan Code telah banyak mendapat sorotan dari berbagai pihak. Namun,
sebagian besar hanya berakhir sebagai hasil penelitian ataupun wacana penataan oleh
pemerintah tanpa tindak lanjut lebih jauh. Beberapa di antaranya seperti wacana menjadikan
Code seperti sungai di Venezia terkesan terlalu muluk dan membutuhkan dana dalam jumlah
yang cukup besar, selain juga waktu implementasi yang cukup lama. Dari titik ini, Code
membutuhkan sebuah penataan yang tidak hanya komprehensif (menyeluruh dengan
mempertimbangkan hubungan hulu-hilir sungai), tetapi juga bersifat ekologis dan partispatif.
Konsep partisipatif di sini memiliki artian agar komunitas lokal memiliki rasa kepemilikan dan

2
selanjutnya penghargaan yang lebih tinggi terhadap Sungai Code sehingga program penataan
Code dapat bersifat implementable. Selain itu juga bertumpu pada kearifan lokal, sebagai
bagian dari efisiensi pelaksanaan program dan memberikan nilai tambah berupa keunikan dan
daya tarik wilayah.
Ekowisata sebagai sebuah konsep yang menggabungkan antara aspek ekologi dan
pariwisata diadaptasi menjadi konsep penataan untuk sungai Code dengan menambahkan
aspek partisipasi masyarakat di dalamnya. Sebagai langkah awal, program ekowisata Sungai
Code ini akan mengambil lokasi di bagian hulu sungai, yaitu kawasan Code bagian tengah-utara.
Selain masih memiliki beberapa ruang terbuka hijau, diharapkan dengan pemilihan lokasi
tersebut akan dapat memberikan dampak positif tidak hanya untuk ekosistem di bagian penggal
sungai tersebut tetapi juga dirasakan oleh ekosistem di bagian hilir (selatan).
Di masyarakat sendiri, istilah ekowisata belum cukup populer ataupun dipahami dengan
cukup baik. Pemahaman yang ada biasanya hanya terbatas pada aspek wisata tetapi kurang
memperhatikan aspek ekologisnya. Mengenai aspek ekologis tersebut, diperlukan upaya untuk
menumbuhkan kesadaran masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tentang pentingnya
menjaga kualitas ekologi sungai beserta bagaimana carannya. Landasan sosial budaya ini
merupakan landasan pengembangan bagi ekowisata Sungai Code. Setelah memantapkan
landasan sosial budaya diharapkan akan lebih mudah untuk mengimpelementasikan
pengembangan yang bersifat fisik.
Lebih lanjut, program ekowisata Sungai Code tidak berhenti pada perbaikan fungsi
ekologi saja melalui peningkatan kesadaran sosial budaya masyarakat, tetapi juga meletakkan
landasan ekonomi. Aspek ekonomi perlu diperhitungkan di sini, karena umumnya komunitas
yang tinggal di kawasan bantaran sungai berasal dari kalangan ekonomi bawah (survei
pendahuluan, 2009). Jika untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja masih sangat sulit,
bagaimana dapat memperhatikan kondisi ekologis lingkungan tempat tinggalnya ? Berawal dari
pemikiran ini, maka tercetus konsep ekowisata Sungai Code yang tidak hanya terfokus pada
aspek ekologis, tetapi juga bagaimana mengelola kekayaan ekologis tersebut agar memberikan
dampak ekonomi langsung terhadap komunitas bantaran sungai. Upaya mengangkat ekonomi
likal tersebut dapat dilakukan dengan sektor wisata. Sejumlah penelitian telah mengungkapkan
bahwa Code menyimpan sejumlah potensi wisata (Jawa Pos, 2008; Pemkot, 2008 ; Puspar
UGM, 2009).

3
II. Tujuan

Pelaksanaan program Ekowisata Sungai Code ini bertujuan untuk :


1. Meletakkan landasan sosial-budaya dan ekonomi bagi pengembangan ekowisata
Sungai Code berbasis masyarakat
2. Meningkatkan penghargaan komunitas bantaran Sungai Code terhadap keberadaan
Sungai Code
3. Meningkatkan kualitas fisik lingkungan dan ekologis Sungai Code
4. Meningkatkan kapasitas komunitas bantaran Sungai Code dalam pengelolaan Sungai
Lestari di kawasan perkotaan Yogyakarta

III. Manfaat

Program ekowisata Sungai Code diharapkan dapat membawa dampak positif berupa manfaat
terutama bagi kondisi sungai Code itu sendiri dan juga komunitas bantaran Kali Code :
1. Perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan di kawasan bantaran Kali Code
2. Peningkatankesejahteraan masyarakat melalui perbaikan kapasitas sosial ekonomi
komunitas bantaran Kali Code sebagai dampak ikutan dari peningkatan kualitas
lingkungan sungai Code
3. Meningkatkan pembangunan pariwisata wilayah kota Yogyakarta

Perumusan pendekatan dan identifikasi manfaat dari pelaksanaan program ekowisata Sungai
Code di Kota Jogja dijelaskan secara lebih rinci pada profil wilayah dan landasan
pengembangan.

Batasan Wilayah
Secara admimistratif, aliran Sungai Code meliputi 3 wilayah administratif, yaitu Kabupaten
Sleman di bagian hulu, Kota Yogyakarta di bagian tengah, dan Kabupaten Bantul di bagian hilir.
Untuk program ekowisata Sungai Code ini, cakupan pelaksanaan program adalah Sungai Code
bagian tengah-utara melintasi Jembatan Sardjito dan Jembatan Gondolayu. Berikut adalah
photo mapping dari wilayah cakupan program :

4
Sungai Code berikut photo mapping bantaran Kali Code

Cakupan area program adalah area yang berada pada lingkaran merah bagian utara
(foto nature). Di area tersebut, masih dapat dijumpai area terbuka hijau yang masih dapat
terselamatkan untuk konservasi ekologi sekaligus untuk pengembangan wisata.

Landasan Pengembangan

Program ekowisata Sungai Code merupakan sebuah program dengan tingkat


kemungkinan implementasi yang tinggi. Sejumlah landasan pengembangan telah diidentifikasi
sebelumnya, meliputi survei pendahuluan, analisa fisik wilayah dan identifikasi potensi.
1. Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan yang telah dilakukan di sini meliputi observasi lapangan. Dari
obeservasi lapangan diketahui bahwa 2,14% penduduk Jogja tinggal di bantaran sungai,
termasuk tinggal di bantaran Sungai Code. Sebagian besar (53%) penduduk yang
tinggal di bantaran Kali Code telah tinggal di lokasi yang sama selama 25 tahun.

5
Rentang waktu yang cukup lama tersebut membuat ikatan antar warga menjadi kuat
dan membentuk komunitas Code. Sayangnya, hampir semua penghuni bantaran Code
merupakan penghuni ilegal, hanya 38% yang memiliki SHM (Sertifikat Hak Milik).
Selain observasi lapangan tentang kondisi fisik, dan sosial ekonomi, juga dilakukan
wawancara pendahuluan dengan 100 orang yang merupakan komunitas lokal bantaran
Kali Code. Pertanyaan wawancara adalah jika ada bantuan program, apa yang mereka
ingin lakukan terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Hasil wawancara tersebut
adalah sebagai berikut :
a. 25% responden menginginkan adanya perbaikan sanitasi
b. 25% menginginkan adanya penataan lingkungan dan penambahan fasilitas
kebersihan
c. 50% lainnya menginginkan adanya tamanisasi.

Hasil survei tersebut menggambarkan bahwa sebenanya responden telah memiliki


kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan merasa kualitas
lingkungan tempat tinggal mereka telah terdegradasi. Hal ini tampak dari keinginan
responden yang ingin meningkatkan kondisi kualitas lingkungan mereka dengan
perbaikan sanitasi, penambahan fasilitas kebersihan, ataupun tamanisasi.

2. Analisa Fisik Wilayah


Berdasarkan observasi lapangan di bantaran Kali Code, tata guna lahan telah
didominasi oleh permukiman padat. Kepadatan penduduk yang cukup tinggi tercatat di
RT 69/RW 19 Dusun Karang Anyar Kelurahan Bronto Kusuman yaitu sebesar 481
jiwa/ha. Beberapa di antaranya cenderung ke arah kumuh. Jarak antara rumah hingga
badan sungai terbilang sangat dekat sehingga sebagian besar rumah warga berada di
kawasan rawan longsor. Selain itu, ditinjau dari segi kesehatan dan kualitas lingkungan,
kepadatan yang cukup tinggi tersebut menyebabkan komunitas Code rentan terhadap
beberapa jenis penyakit, terutama tubercolosis (Chrysantina, dkk 2004)

6
Gambar : Pemukiman padat di bantaran sungai Code

Kondisi Sungai Code sendiri dapat dibilang telah tercemar. Air sungai berwana keruh
kecoklatan, dan tidak lagi jernih. Kerap ditemukan area bantaran yang dijadikan
sebagai tempat pembuangan sampah ilegal. Pembuangan limbah cair rumah tangga
pun kerap ditemukan langsung dialirkan ke badan sungai. Di sisi lain, masih terdapat
warga yang menggunakan air dar Sungai Code untuk keperluan MCK (mandi cuci
kakus).

Gambar : Tumpukan sampah di bantaran sungai Code (kiri), penggunaan air sungai
Code untuk MCK

Di penggal tengah-utara yang menjadi lokasi studi, masih dapat ditemukan ruang-ruang
terbuka yang cukup potensial sebagai area terbuka hijau. Penyediaan area terbuka
hijau sebagai taman komunitas dapat mengembalikan fungsi ekologi sungai dan
berfungsi menahan longsor. Perlu diketahui, kejadian longsor cukup sering terjadi di
bantaran Kali Code walaupun kejadian tersebut tidak memakan korban dalam jumlah
banyak.

7
3. Identifikasi Potensi
Keberadaan Sungai Code sebagai salah satu dari tiga sungai besar yang membelah
kota Jogja menyimpan sejumlah potensi ekologis jika dikelola denghan baik. Fungsi
ekologis tersebut antara lain keanekaragaman hayati lokal baik flora maupun fauna,
sebagai penyedia air bersih, sebagai saluran drainase alami, dan sejumlah fungsi
estetik lainnya seperti menghadirkan unsur sejuk di wiliayah perkotaan. Pengembangan
dan pelestarian Sungai Code pada fungsi ekologisnya tentu saja membutuhkan dana
yang cukup besar. Padahal, kondisi ekonomi komunitas bantaran Sungai Code
tergolong rendah sehingga kepedulian mereka terhadap sungai juga rendah. Diperlukan
sebuah sistem pengelolaan ekologis yang tidak hanya memberi manfaat jangka
panjang dalam bentuk pelestarian lingkungan, tetapi juga manfaat jangka pendek dalam
bentuk peningkatan pendapatan ekonomi.
Pengembangan wisata ekologi di kawasan bantaran Sungai Code sebenanya adalah
suatu peluang yang siap dimanfaatkan kapan pun. Identifikasi potensi pengembangan
wisata Sungai Code antara lain sebagai berikut :

4. Identifikasi Potensi Pasar

Profil wisatawan di Kota Yogyakarta dalam upaya menyusun konsep dan strategi
pemasaran yang efektif dan tepat sasaran. Dari jumlah responden 800 wisatawan pada
bulan Mei-Juni 2008 diperoleh data antara lain; mayoritas wisatawan yang datang ke
jogja adalah anak muda berusia 20-24 tahun (17%) diikuti dengan remaja (abg)
sebanyak 14%. Pengeluaran wisata/hari untuk wisnus rata-rata < Rp. 500.000/hari
dengan nilai pembelanjaan: makan minum (26%), akomodasi (14,29%), cenderamata
(16,74%) dan transportasi (13,81%). Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) yang paling
banyak diminati adalah Budaya (62,2%), Kuliner (57%) dan Belanja (55%). Sedangkan
rata-rata lama tinggal wisatawan (Length of Stay) di Jogja adalah 3 dalam arti sebagian
besar tinggal di Jogja 1-3 hari (Puspar UGM, 2008).
Hingga tahun 2005, wisatwan yang berkunjung ke Yogyakarta mencapai 958.644. Jika
diasumsikan 2% dari angka tersebut bisa berkunjung ke kawasan dan pinggiran sungai
Code maka kira-kira 19.173 wisatwan akan memberikan kontribusi untuk makan minum
dan souvenir. Berdasarkan potensi pasar wisatawan Yogyakarta dan asumsi bahwa
25% belanja makanan dan souvenir bisa disediakan di kawasan sungai Code maka
bisa potensi ekonomi pasar wisata Code adalah sbb.:

8
1. Potensi makan minum = (2% x 958.644) x (25% x 26%) x Rp. 500.000,-
= Rp. 623.118.600,-
2. Potensi Souvenir= (2% x 958.644) x (25% x 16%) x Rp. 500.000,-
= Rp. 383.457.600,-

Jika kawasan Sungai Code bisa dikembangkan secara baik akan mampu
mendatangkan wisatawan yang akan belanja hampir satu milyar rupiah per tahun dan
uang tersebut akan langsung masuk pada ekonomi masyarakat lokal sungai Code.

Sejauh ini, dari observasi lapangan di Jembatan Sardjiito dan Jembatan Gondolayu
pada sore hari dan cuaca cerah, kerap ditemukan banyak warga yang sekedar berhenti
sejenak di tepi jembatan dan melihat pemandangan sungai Code di bawahnya. Kerap
pula didapati aktivitas panjat tebing dari jembatan turun ke arah Sungai Code. Ini
mengindikasikan bahwa sebenarnya Code menyimpan potensi wisata yang cukup
besar dan pasar pun telah bersedia untuk merespon atraksi wisata tersebut.

Gambar : beberapa komunitas berkumpul di Jembatan Sarjito di sore hari untuk


sekedar ngobrol dan menikmati pemandangan atau melakukan olahraga panjat tebing
(29/10)

5. Identifikasi Potensi Infrastruktur


Lebih jauh lagi, potensi wisata ekologi tersebut dapat dikembangkan melalui pembuatan
lokasi khusus semacam gardu pandang dilengkapi dengan akses jalan ke bantaran
sungai. Akses jalan ini dapat berupa jalan setapak yang nantinya dapat difungsikan

9
sebagai jogging track. Untuk saat ini, beberapa akses jalan sudah tersedia hanya saja
kondisi ruang di sekitarnya kurang terawat.

Gambar : Aksesibilitas jalan di sepanjang bantaran Kali Code yang dapat berfungsi sebagai
jogging track

Selain potensi gardu pandang dan jogging track, bantaran Code juga potensial untuk
dikembangkan sebagai area pemancingan. Hanya saja, keberadaannya masih belum
cukup terekspos sehingga hanya dimanfaatkan oleh beberapa komunitas saja.

Gambar : Gardu pandang yang terbengkalai di bantaran Code

Konsep ekowisata Sungai Code yang dikembangkan di sini tidak hanya terfokus pada
aspek ekologi semata, tetapi juga berusaha mengelola Sungai Code agar memberikan dampak
ekonomi langsung kepada komunitas lokal. Insentif ekonomi yang didapat dari pengembalian
kondisi ekologi Sungai Code akan dapat dipergunakan sebagai dana perawatan dan
pengelolaan sungai Code ke depannya. Sehingga diharapkan hasil implementasi dari konsep
ekowisata Sungai Code tidak hanya memberi manfaat berupa peningkatan kualitas lingkungan
kawasan bantaran Code tapi juga peningkatan kapasitas ekonomi komunitas lokal Code.
Melalui konsep ekowisata Sungai Code, kawasan bantaran sungai ditanami kembali
dengan tanaman lokal dan dapat berfungsi sebagai taman sekaligus pemanis jogging track.

10
Pengembangan kawasan pemancingan juga dapat dilakukan sejalan dengan konsep ekowisata
melalui pembibitan ikan.

Penanaman Tamanisasi
tanaman lokal di Estetika kawasan
bantaran sungai
Code Riverfront
Ekowisata Sungai Code Tourism
Mengembalikan Sungai Code Sungai Code sebagai
Pembibitan ikan Potensi pemancingan
ke fungsi ekologisnya dan potensi wisata berbasis
pengembangan wisata Potensi kuliner
ekologi
Peningkatan Wisata komunitas
kesadaran
masyarakat

Yang perlu diperhatikan dalam upaya pengembalian fungsi ekologi Sungai Code dan
sekaligus upaya pengembangan wisata adalah penyertaan komunitas lokal. Kesadaran untuk
menghargai sungai yang masih rendah disertai dengan stigma bahwa komunitas bantaran
sungai adalah komunitas yang sering terlibat masakah kriminil masih melekat di masyarakat.
Komunitas bantaran Code sendiri cenderung bersifat “tertutup” terhadap orang asing sehingga
seakan-akan menguatkan stigma negatif tersebut.

IV. Rencana Kerja dan Strategi

Pelaksanaan program ekowisata Sungai Code akan dilakukan melalui sejumlah


tahapan yang dirumuskan dalam rencana aksi dan strategi. Proses pembuatan rencana aksi
dan strategi dilakukan melalui koordinasi dengan tokoh masyarakat komunitas Code, sejumlah
praktisi tata kota, dan pihak pemerintah daerah.
Pada tahap pertama dari program ekowisata Sungai Code adalah melakukan
identifikasi dan inventarisasi potensi ekologi dan wisata untuk eco-river . Hasil akhir dari tahap
pertama ini adalah terwujudnya visi yang jelas mengenai ekowisata yang sesuai dengan
karakter fisik dan sosial Sungai Code. Perumusan visi ini dilakukan bersama dengan komunitas
lokal dan juga membahas mengenai keberlanjutan pengelolaan Code setelah program
ekowisata Sungai Code ini selesai.

11
Tahap kedua merupakan proses perancangan dan implementasi. Secara garis besar di
tahap kedua ini adalah mempersiapkan daya dukung budaya, lingkungan, dan ekonomi. Daya
dukung budaya berupa membangun kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sungai yang
benar. Daya dukung lingkungan mencakup pengelolaan aspek ekologi seperti flora dan fauna
lokal yang hidup di bantaran sungai Code. Sementara daya dukung ekonomi mencakup upaya
pengembangan wisata ekologi suangi Code sebagai basis pendanaan pengelolaan lingkungan
bantaran sungai. Perumusan sistem dan mekanisme manajerial antara wisata ekologis dan
pengelolaan sungai Code juga dibahas dalam tahap ini. Pembahasan dilakukan bersama
dengan komunitas lokal untuk meningkatkan rasa kepemilikan program yang selanjutnya
meningkatkan tingkat keberhasilan implementasi.
Tahap ketiga atau tahap akhir berupa penyusunan guideline ekowisata Sungai Code.
Guideline ini berfungsi sebagai pengontrol keberlanjutan program ekowisata Sungai Code.
Termasuk dalam guideline tersebut mengenai bagaimana membuat Code go public sebagai
kawasan wisata ekologis. Sistem kontrol dan pemeliharaan juga merupakan bagian dari
guideline eco-river untuk menjaga agar kegiatan wisata yang dikembangkan tidak merusak
ekologi alami Code.

Identifikasi dan inventarisasi potensi Proses Perancangan & Implementasi Menyusun pedoman perancangan
Target ekologi dan wisata (guideline) eco-River

 Survei lapangan, meliputi  Mempersiapkan daya dukung  Menyusun prosedur tata guna
observasi langsung dan budaya  membangun lahan
wawancara dengan komunitas kesadaran komunitas mengenai  Menyusun rencana
lokal serta stakeholder terkait pengelolaan sungai yang benar pengembangan Code sebagai
 Penyusunan kompilasi data  Mempersiapkan daya dukung kawasan wisata ekologis untuk
potensi ekologi dan wisata ekonomi  penyiapan alokasi
Aksi bersama dengan komunitas lokal dana mandiri melalui
go public meliputi (1) penciptaan
image dan (2) strategi pemasaran
melalui FGD atau forum diskusi perancangan pengembangan  Menyusun sistem kontrol dan
kampung. wisata ekologi pemeliharaan aset ekologi dan
 Gerakan menyusuri sungai Code wisata
untuk menjaring umpan balik
perancangan eco-river Code

Membangun visi yang jelas dan Desain perancangan eco-river Code & Guideline Ekowisata
disepakati bersama komunitas lokal kondisi lingkungan ekologi bantaran
Pencapaian mengenai eco-river Code dan Code yang mambaik
Sungai Code Utara
keberlanjutannya

Bagan Rencana Aksi dan Strategi Eco-River Code

Lebih lanjut, rencana aksi tersebut tertuang dalam rincian program dengan alokasi
waktu pelaksanaan mencapai 6 bulan pengerjaan. Detil rencana program disajikan dalam tabel
sebagai berikut :

12
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
Program
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Identfikasi dan inventarisasi potensi ekologi dan wisata
Rembug warga
Survei lapangan
Penyusunan kompilasi data dan potensi
Rembug warga : Perumusan visi
Proses perancangan dan implementasi
Rembug warga : penumbuhan kesadaradaran pengelolaan sungai
Perancangan desain ekowisata Sungai Code
Gerakan menyusuri Code
Rembug warga : umpan balik
Penyempurnaan desain
Penyusunan guideline
Rembug warga : penyusunan gudeline
Prosedur Tata Guna Lahan
Penyiapan manajerial : pengelolaan, sistem kontrol, dan pengawasan
Brand Imaging sebagai kawasan wisata ekologis
Penyusunan strategi pemasaran
Rembug warga : finalisasi

13
V. Rencana Anggaran

Rencana anggaran dalam program ekowisata Sungai Code meliputi 4 variabel, yaitu gaji dan
upah, belanja bahan, belanja operasional, dan belanja bahan non operasional yang dijabarkan
dalam tabel rincian anggaran biaya kegiatan sebagai berikut :

RINCIAN ANGGARAN BIAYA KEGIATAN

No Jenis Pembiayaan Jumlah Vol Biaya Sub Jumlah Total


A. GAJI DAN UPAH
1 Pengarah 1 6 bulan Rp 500,000 Rp 3,000,000
2 Penanggung Jawab 1 6 bulan Rp 400,000 Rp 2,400,000
3 Koordinator 1 6 bulan Rp 300,000 Rp 1,800,000
4 Ketua 1 6 bulan Rp 300,000 Rp 1,800,000
5 Anggota 3 6 bulan Rp 200,000 Rp 3,600,000
6 Tenaga Teknis Lapangan 5 6 bulan Rp 150,000 Rp 4,500,000
SUB TOTAL Gaji dan Upah Rp 17,100,000

B. BELANJA BAHAN
1 ATK 1 2 Rp 3,000,000 Rp 6,000,000
2 Cetak Dokumentasi 1 3 Rp 1,500,000 Rp 4,500,000
3 FlashDisk 10 1 Rp 200,000 Rp 2,000,000
4 CD Blank 100 1 Rp 6,000 Rp 600,000
5 Kertas HVS 20 1 Rp 50,000 Rp 1,000,000
6 Alat Gambar 1 2 Rp 3,000,000 Rp 6,000,000
7 Tinta Printer (Black & Color) 5 1 Rp 200,000 Rp 1,000,000
8 Sewa Foto Digital 1 6 Rp 50,000 Rp 300,000
9 Sewa Recorder, Handycam 1 7 Rp 300,000 Rp 2,100,000
10 Sewa Computer/Laptop untuk
Operasional Kegiatan 1 7 Rp 1,500,000 Rp 10,500,000
Percetakan Laporan Kemajuan
11 Kegiatan 200 10 Rp 200 Rp 400,000
12 Percetakan Laporan 300 25 Rp 200 Rp 1,500,000
SUB TOTAL Belanja Bahan Rp. 35.900.000

BELANJA PERJALANAN
1 Tahap observasi Lapangan
a. Uang Perjalanan 10 5 Rp 50,000 Rp 2,500,000
b. Konsumsi 10 5 Rp 85,000 Rp 4,250,000
Total Rp 6,750,000
2 Rembug Warga
Konsumsi 10 100 Rp 10,000 Rp 10,000,000
Uang Perjalanan 10 5 Rp 50,000 Rp 2,500,000
Total Rp 12,500,000
3 Training Pengelolaan Sungai
Konsumsi peserta 3 100 Rp 10,000 Rp 3,000,000
Honor Pembicara 3 2 Rp 1,000,000 Rp 6,000,000

14
Uang Perjalanan (panitia, tamu
undangan) 3 20 Rp 25,000 Rp 1,500,000
Total Rp 10,500,000
4 Gerakan Menyusuri Sungai Code
a. Uang Perjalanan 10 10 Rp 50,000 Rp 5,000,000
Rp
b. Konsumsi 10 100 Rp 10,000 10,000,000
c. Souvenir 10 10 Rp 30,000 Rp 3,000,000
d. Umbul-umbul 100 1 Rp 30,000 Rp 3,000,000
e. Promosi kegiatan via radio dan
cetak 1 3 Rp 2,750,000 Rp 8,250,000
f. Poster dan flyer 1 250 Rp 10,000 Rp 2,500,000
Total Rp 31,750,000

Penjajagan kerjasama dengan


5
pihak swasta
Konsumsi 10 100 Rp 10,000 Rp 10,000,000
Uang Perjalanan 10 5 Rp 50,000 Rp 2,500,000
Total Rp 12,500,000
SUB TOTAL Belanja Perjalanan Rp. 74.000.000

BELANJA PERJALANAN NON OPERASIONAL


Brand Imaging :
1
Pembuatan website Code 1 3 Rp 5,000,000 Rp 15,000,000
2 Pelatihan penggunaan internet
2 Desain 20 lbr 2 Rp 200,000 Rp 8,000,000

SUB TOTAL Belanja Perjalanan non


Rp. 23.000.000
operasional
TOTAL KEBUTUHAN ANGGARAN Rp. 150.000.000

VI. Aktor Pelaksana Program

Program ekowisata Sungai Code dilakukan oleh aktor utama komunitas lokal bantaran
Sungai Code dibawah koordinasi Totok Pratopo (ketua Forum Masyarakat Code (Merti Code) –
Kota Yogyakarta dan secara aktif Merti Code melkukan kerjasama dari banyak pihak, seperti
perguruan Tinggi (UGM dan UII), Badan Lingkungan Hidup DIY, Dinas Pariwisata dan
Bappeda DIY, dan peerintah Kelurahan Jetisharjo kabupaten Sleman. Komunitas lokal
berperan berperan aktif bersama perguruan tinggi dan pemerintah daerah merumuskan visi
dari ekowosata sungai Code utara, mempersiapkan daya dukung lingkungan dan budaya,
serta ikut dalam penyusunan guideline. Komunitas lokal juga memegang fungsi pengawasan
dan kontrol atas pelaksanaan program.

15
Rintisan kerjasama dengan perguruan tinggi yaitu UII Yogyakarta telah mulai dijajagi
sehingga dapat membantu dalam hal transfer pengetahuan mengenai bagaimana cara
pengelolaan sungai yang baik dan benar. Begitu pula rintisan kerjasama dengan Pemkot Jogja
dan Pemda kabupaten Sleman sehingga dapat membantu memberikan arahan mengenai
kebijakan tentang sungai yang berlaku.
Di tahap akhir, akan ada rintisan kerjasama dengan pihak swasta untuk membantu
pengembangan ekowisata Code sebagai tempat wisata ekologi. Kerjasama dengan pihak
swasta ini akan lebih ditekankan pada promosi. Perumusan kerjasama dilakukan bersam-sama
dengan komunitas lokal sehingga keuntungan dari wisata ekologis dapat dirasakan langsung
oleh komunitas lokal. Pada tahap akhir ini, perlu pula dikembangkan sistem manajemen
pengelolaan keuangan di tingkat lokal komunitas agar sebagian keuntungan ekonomi yang
mengalir dapat dikelola sebagai modal pengelolaan sungai berbasis konsep ekowisata.

Komunitas
Masyarakat
Kali Code

Akademisi Pemerintah
Yogyakarta

Swasta

Bagan sistem kerja antar aktor yang terlibat dalam ekowisata Sungai Code. Komunitas
masyarakat sebagai aktor utama berada pada bagian atas.

VII. Produk Akhir

Tujuan utama dari program ini adalah meletakkan landasan bagi pengembangan
sungai Code dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat. Landasan ini dapat berupa fisik
dan non-fisik. Sebagai langkah awal, landasan pengembangan berupa adanya kesadaran
komunitas lokal mengenai pentingnya mengelola sungai secara ekologi. Penumbuhan

16
kesadaran ini diharapkan akan diikuti dengan kegiatan pendataan kekayaaan ekologi sungai
Code yang dilakukan oleh komunitas lokal itu sendiri.

Implementasi dan
Konsep ekowisata S.Code Perancangan GUIDELINE
Ekowisata
FGD komunitas S. Code
Landasan Fisik Lingkungan :
Rancangan Desain
Permusan Visi
Ekowisata Sungai Code Landasan Sosial :
KONSEP Peningkatan kesadaran komunitas
tentang pengelolaan sungai yang
benar secara ekologis

Landasan Ekonomi :
Penyiapan mekanisme sistem
pendanaan mandiri
Pengembangan Wisata Ekologi

Bagan Tahapan Pengerjaan ekowisata Sungai Code

Produk akhir yang diharapkan akan berwujud guideline pengembangan ekowisata


Sungai Code yang disusun berdasarkan umpan balik dari diskusi dan interaksi intensif dengan
komunitas lokal. Isi dari guideline tersebut akan mencakup inventarisasi kekayaan ekologi
sungai Code, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pengelolaan Sungai Code,
strategi implementasi dalam jangka menengah dan jangka panjang, serta strategi
pengembangan wisata.

VIII. Keberlanjutan (Post-Program)

Program-program berbasis lingkungan umumnya hanya berkutat pada peningkatan


kesadaran masyarakat tanpa menyentuh persoalan kehidupan masyarakat yang mendasar.
Tak dapat dipungkiri, program-program lingkungan, termasuk program peningkatan kualitas
lingkungan Sungai Code akan membutuhkan dana dalam jumlah yang cukup besar. Padahal
komunitas lokal yang kerap menjadi obyek program lingkungan tidak berasal dari kalangan

17
ekonomi kelas atas. Ketidakpedulian mereka terhadap permasalahan lingkungan menjadi
sebuah kewajaran ketika mereka masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan
sehari-hari. Untuk itu, diperlukan sebuah program lingkungan yang tidak hanya meningkatkan
kualitas lingkungan tetapi juga bagaimana menciptakan sebuah sistem agar masyarakat bisa
subsisten menjaga lingkungannya sendiri.

GUIDELINE
Ekowisata Sungai Code
Implemented Program

Post Program

Atraksi wisata Fungsi Evaluasi


Pengelolaan sungai Pengembangan
ekologis wisata ekologis dan Kontrol
Pendanaan

Bagan Keberlanjutan Program

Berdasarkan hal tersebut, program ekowisata Sungai Code tidak hanya terfokus pada
peningkatan kualitas lingkungan Sungai Code. Aspek ekonomi juga turut diperhatikan dengan
membuat rencana strategi pengembangan wisata ekologi Code. Harapannya, keuntungan
ekonomi dari wisata ekologi tersebut dapat digunakan sebagai modal pengelolaan sungai
secara ekologis. Sehingga dalam jangka waktu 6 bulan setelah guideline tersusun dan
kesadaran masyarakat tentang sungai mulai terbangun, keberlanjutan program dapat terjamin
karena telah memiliki sumber dana mandiri.
Aspek keberlanjutan program ekowisata Sungai Code juga tertuang dalam guideline
ekowisata Code itu sendiri. Guideline untuk pengelolaan sungai Code disusun dengan
melibatkan seluruh aktor pelaksana program (stakeholder). Selain memuat sistem kontrol dan
pengawasan, guideline juga memuat rencana pengelolaan Code untuk jangka menengah dan
jangka panjang. Penyusunan guideline yang dilakukan bersama komunitas akan mempertinggi
tingkat keberlanjutan program. Adanya rasa kepemilikan program dan kontrak sosial yang
secara tidak langsung terjadi pada proses penyusunan akan membantu dalam proses kontrol
keberlanjutan.

18
Pustaka

Chrysantina, Aprisa et.al, (2004). Analisis Spasial dan Temporal Kasus Tuberkulosis di Kota
Yogya, Juli - Desember 2004

Harian Jogja, 26 Desember 2007, “Code Paling Teremar”

Jawa Pos, 5 Januari 2008, “Merti Code”

Maryono, Agus (2005). Eko Hidraulik Pembangunan Sungai. MST UGM., Yogyakarta

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63/Prt/1993 Tentang Garis Sempadan Dan
Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai Dan Bekas Sungai

Puspar UGM, 2009, Seminar Analisis Pasar Wisatawan Kota Yogyakarta, Januari 9, 2009
diakses 10 Mei 2009, dari sumber
http://dimasdiajengjogja.wordpress.com/2009/01/09/seminar-analisis-pasar-wisatawan-
kota-yogyakarta/#comment-7

19