Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika suatu laporan keuangan menjalankan fungsinya
sebagaimana mestinya yaitu memberikan informasi yang wajar dan
relevan kepada pengguna, maka evaluasi menjadi suatu hal yang
sangat fundamental dalam pelaporan. Kinerja suatu laporan
keuangan meliputi beberapa aspek yang harus dinilai. Makalah ini
mencoba membahas secara lugas dan terfokus pada analisis atas
ukuran-ukuran kinerja keuangan. Bagian pertama menjelaskan
mengenai analisis rasio keuangan. Membahas perbedaan antar
suatu rasio. Bagian selanjutnya menjelaskan mengenai analisis
dupont yaitu profitabilitas perusahaan dan tingkat pengembalian
ekuitas. Selanjutnya menjelaskan keterbatasan dari analisa ratio.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja jenis dan fungsi dari rasio keuangan ?
2. Bagaimana menggunakan analisis dupont untuk menganalisis
profitabilitas perusahaan dan tingkat pengembalian ekuitas ?
3. Apa saja kelemahan yang mungkin ditemui dalam menghitung
dan menginterpretasikan rasio keuangan ?









2


BAB II
PEMBAHASAN


A. Kinerja Keuangan

1. Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan
perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas
perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.
Menurut Sucipto (2003) pengertian kinerja keuangan adalah penentuan
ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu
organisasi atau perusahaan dalam menghasilkan laba. Sedangkan
menurut IAI (2007) Kinerja Keuangan adalah kemampuan perusahaan
dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan
adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat
mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga
dapat melihat prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan baik
perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada. Suatu
perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila telah mencapai standar dan
tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan
diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan
lain. Analisis kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis


3
terhadap review data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan
memberi solusi terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode
tertentu.
Kinerja Keuangan dapat dinilai dengan beberapa alat analisis.
.Berdasarkan tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan menjadi 8
macam, yaitu menurut Jumingan (2006:242):
Analisis perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik
analisis dengan cara membandingkan laporan keuangan dua
periode atau lebih dengan menunjukkan perubahan, baik dalam
jumlah (absolut) maupun dalam persentase (relatif).
Analisis Tren (tendensi posisi), merupakan teknik analisis untuk
mengetahui tendensi keadaan keuangan apakah menunjukkan
kenaikan atau penurunan.
Analisis Persentase per Komponen (common size), merupakan
teknik analisis untuk mengetahui persentase investasi pada
masing-masing aktiva terhadap keseluruhan atau total aktiva
maupun utang.
Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik
analisis untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan
modal kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis
untuk mengetahui kondisi kas disertai sebab terjadinya perubahan
kas pada suatu periode waktu tertentu.
Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis keuangan
untuk mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca
maupun laporan laba rugi baik secara individu maupun secara
simultan.
Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis untuk
mengetahui posisi laba dan sebab-sebab terjadinya perubahan
laba.


4
Analisis Break Even, merupakan teknik analisis untuk mengetahui
tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.


B. Analisis Rasio Keuangan

Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Menurut Roos, Westerfield & Jordan (2004:78) Rasio Keuangan
adalah Hubungan yang dihitung dan informasi keuangan suatu
perusahaan dan digunakan untuk tujuan perbandingan. Sedangkan
menurut Jumingan (2006:242) Analisis Rasio Keuangan merupakan
analisis dengan membandingkan satu pos laporan dengan dengan pos
laporan keuangan lainnya, baik secara individu maupun bersama-sama
guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca
maupun dalam laporan laba rugi.
Rasio mengambarkan suatu hubungan dan perbandingan antara jumlah
tertentu dalam satu pos laporan keuangan dengan jumlah yang lain pada
pos laporan keuangan yang lain. Dengan menggunakan metode analisis
seperti berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan
gambaran tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan
suatu perusahaan. Dengan rasio keuangan pula dapat membantu
perusahaan dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan keuangan
perusahaan.

Jenis-jenis Rasio Keuangan
Ada beberapa jenis rasio keuangan yang sering dipakai, menurut
Bambang Riyanto (2001: 330) Apabila dilihat dari sumbernya dari mana
rasio itu dibuat, maka rasio-rasio dapat digolongkan dalam 3 golongan,
yaitu:


5
Rasio-rasio Neraca, yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang
berasal dari neraca, misalnya Current Ratio, Acid-test Ratio, dan
lain sebagainya.
Rasio-rasio Laporan Laba-Rugi, yaitu rasio-rasio yang disusun dari
data yang berasal dari Income Statement, misalnya Gross Profit
Margin, Net Operating Margin, dan lain sebagainya.
Rasio-rasio antar Laporan, yaitu rasio-rasio yan disusun dari data
yang berasal dari neraca dan data lainnya berasal dari Income
Statement, misalnya Assets Turnover, Inventory Turnover, dan lain
sebagainya.

Ada pula yang mengelompokan rasio kedalam rasio-rasio likuiditas, rasio-
rasio manajemen aktiva, rasio-rasio manajemen utang, dan rasio-rasio
profitabilitas :

a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan pengelola
perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka
pendeknya. Artinya, seberapa mampu perusahaan untuk membayar
kewajiban atau utangnya yang sudah jatuh tempo. Jika perusahaan
mampu memenuhi kewajibannya, maka perusahaan dinilai sebagai
perusahaan yang likuid. Sebaliknya, jika perusahaan tidak dapat
memenuhi kewajibannya, maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan
yang illikuid. Pada saat jatuh tempo, Perusahaan harus membayar
kewajiban kepada pihak luar perusahaan atau
likuiditas badan usaha, ataupun di dalam perushaan atau likuiditas
perusahaan. Untuk dapat memenuhi kewajibannya perusahaan harus
memiliki jumlah kas atau investasi atau aktiva lancar lainnya yang dapat
segera dikonversi atau diubah menjadi kas untuk memenuhi kewajibanya
seperti membayar pengeluaran, tagihan, dan seluruh kewajiban lainnya
yang sudah jatuh tempo.


6


Jenis rasio likuiditas :

1) Rasio Lancar, Current Ratio

Rasio ini menunjukkan nilai relative antara aktiva lancar terhadap utang
lancar. Rasionya dihitung dengan membagi nilai aktiva lancar dengan
utang lancar. Formula untuk menghitung rasio lancar adalah sebagai
berikut:




Dari formulanya dapat diketahui bahwa rasio ini menunujukkan sebarapa
besar kemampuan aktiva yang dimiliki perusahaan dapat digunakan jika
kewajiban atau utang harus dibayar pada saat jatuh tempo. Semakin
besar nilai rasio semakin lancar perusahaan dalam memenuhi
kewajibannya. Jika perusahaan memiliki nilai rasio lancar dua, artinya
perusahaan memiliki aktiva lancar yang nilainya dua kali dari utang yang
harus dibayar. Nilai rasio lancar dua sudah dianggap cukup baik bagi
beberapa perusahaan. Perusahaan sudah berada pada keadaan yang
dianggap aman untuk jangka pendek.

2) Rasio Cepat, Quick Ratio, Atau Rasio Sangat Cepat, Acid Test Ratio

Rasio cepat menunjukkan nilai relative antara selisih aktiva lancar dengan
inventory terhadap utang lancar. Rasionya dihitung dengan membagi nilai
aktiva lancar setelah dikurangi nilai inventory dengan utang lancar.
Formula untuk menghitung rasio cepat adalah sebagai berikut:



7


Dari formulanya diketahui bahwa rasio cepat tidak memperhitungkan nilai
inventori atau persedian. Hal ini akan menyebabkan nilai rasio ini akan
menjadi lebih kecil dari nilai rasio lancar. Komponen inventory dianggap
tidak dengan mudah atau lancar dapat digunakan untuk mememenuhi
kewajiban atau utang yang segera jatuh tempo. Walaupun persediaan
termasuk dalam aktiva lancar, namun pesediaan tidak dengan lancar
dapat segera digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan.
Mengkonversi nilai persediaan menjadi uang kas membutuhkan waktu
relative lebih lama jika dibanding aktiva lainnya.
Semakin besar nilai rasio cepat, maka semakin cepat perusahaan dapat
memenuhi segala kewajibannya.


b.Rasio Manajemen Aktivita
Rasio Manajemen Aktiva yaitu seperangkat rasio yang mengukur
seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya, apakah jenis aktiva
yang dilaporkan dalam neraca sudah wajar, terlalu tinggi atau terlalu
rendah jika dibandingkan dengan penjualan.

Rasio yang terdapat dalam rasio manajemen aktiva antara lain:

1) Rasio Perputaran Aktiva Tetap.
Rasio ini membagi penjualan dengan aktiva tetap bersih yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini digunakan perusahaan untuk menilai
seberapa efektif perusahaan menggunakan aktiva tetapnya.
Rumus yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah:
Rasio Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan X 100% Aktiva Tetap



8
2) Rasio Perputaran Aktiva
Rasio ini membagi pendapatan dengan total aktiva yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini digunakan perusahaan untuk menilai
seberapa efektif perusahaan menggunakan aktivanya.
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini adalah:
Rasio Perputaran Total Aktiva = Penjualan X 100% Total Aktiva

c. Rasio Manajemen Utang
Rasio Manajemen Utang yaitu rasio yang dimaksudkan untuk
mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
Rasio yang terdapat dalam manajemen aktiva antara lain:

1) Rasio Utang
Rasio ini membagi jumlah utang yang dimiliki perusahaan dengan total
aktiva.
Rumus yang digunakan untuk menghitung Rasio ini adalah:
Rasio Utang = Total Utang X 100% Total Aktiva

d. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas yaitu sekelompok rasio yang memperlihatkan
pengaruh gabungan dari likuiditas, aktivitas dan hutang terhadap hasil
operasi.

1) Pengembalian atas Total Aktiva
Rasio ini membandingkan laba bersih terhadap total aktiva,
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini adalah:
Rasio Pengembalian atas Total Aktiva =
Laba Bersih Total Aktiva X 100%

2) Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa
Rasio ini membandingkan laba bersih terhadap ekuitas saham


9
biasa. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang
saham.
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini adalah:

Laba Bersih
Rasio Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa = Ekuitas Saham Biasa X
100%

C. Analisis Dupont

Pada umumnya, suatu perusahaan bisa dianalisis secara tersendiri.
Anda bisa melakukan analisis terhadap bisnisnya secara mendalam dan
menghasilkan suatu kesimpulan. Walaupun begitu, ada kalanya kita perlu
untuk membandingkan kinerjanya dengan perusahaan lain terutama yang
berada di dalam industri yang sama. Dengan begitu, kita akan
mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai bisnis suatu
perusahaan. Tidak terbatas pada hal itu saja, analisis perbandingan juga
dapat dimanfaatkan
untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan dari waktu ke waktu.

Du Pont System adalah ROI yang dihasilkan melalui perkalian antara
keuntungan dari komponen-komponen sales serta efisiensi penggunaan
total asset didalam menghasilkan keuntungan tersebut (Syamsuddin,
2009:64).

1. Return On Investment (ROI)

ROI merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan
di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva
yang tersedia di dalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63)
ROI merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan


10
menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset yang tertentu. Rasio
ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi
perusahaan (Hanafi, 2003:84).
ROI dapat dihitung dengan menggunakan Du Pont System sebagai
berikut:
ROI = x x 100%
ROI = Net Profit Margin x Total Assets Turn Over x 100% (Syamsuddin,
2009:73).

2. Return On Equity (ROE)

ROE dapat dihitung dengan menggunakan Du Pont System sebagai
berikut:
ROE = x 100%
ROE = x 100%
(Syamsuddin, 2009:74)


Contoh analisis dupont :

1. Return On Investment (ROI)
ROI
=
NPM
x TATO x 100%
Tabel 15 Return On Investment PT. Nippon Indosari Corpindo, Tbk
Periode 2010 2012

Tahun NPM
(%)
TATO (kali) ROI
(%)


11







Berdasarkan hasil perhitungan Return On Investment PT. Nippon Indosari
Corpindo, Tbk selama periode 2010 sampai dengan 2012 mengalami
penurunan, yaitu pada tahun 2010 sebesar 17,43%, menurun menjadi
15,25% pada tahun 2011, mengalami penurunan lagi sebesar 11,14%
pada tahun 2012.
Hal ini juga dipengaruhi nilai NPM pada tahun 2011 yang mengalami
penurunan sebesar 14,25% dari tahun 2010. Tahun 2012, ROI mengalami
penurunan menjadi 11,14% dari tahun 2011. Hal ini disebabkan karena
NPM tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 12,52% yang semula
14,25% pada tahun 2011. Faktor lain yang menyebabkan penurunan ROI
pada tahun 2012 adalah penurunan perputaran total aktiva (TATO)
menjadi 0,98 kali yang semula 1,07 kali dari tahun 2011.
Penurunan ROI pada tahun 2012, mengindikasikan bahwa kemampuan
manajemen perusahaan menurun dalam melaksanakan pengelolaan
hartanya untuk menghasilkan laba operasi.

2. Return On Equity (ROE)

ROE = return on ivestment / (1-Debt Ratio) x 100%
Tabel 16 Return On Equity PT. Nippon Indosari Corpindo, Tbk Periode
2010 2012
2010 16,29 1,07 17,43
2011 14,25 1,07 15,25
2012 12,52 0,89 11,14


12





Berdasarkan hasil perhitungan Return On Equity PT. Nippon Indosari
Corpindo, Tbk selama periode 2010 sampai dengan 2012 yaitu pada
tahun 2010 sebesar 21,74% menurun menjadi 21,17% pada tahun 2011,
dan pada tahun 2012 mengalami penurunan lagi sebesar 20,14%.
Pada tahun 2011 dan tahun 2012, yang semula tahun 2011 sebesar
21,17% menjadi 20,14% pada tahun 2012. Turunnya ROE
mengindikasikan bahwa tingkat penghasilan bersih yang diperoleh oleh
pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan di dalam perusahaan
menurun.

Dari data diatas dapat disimpulkan :
Return On Investment selama periode 2010 sampai dengan 2012 relatif
kecil dan mengalami penurunan. Penurunan ROI mengindikasikan bahwa
kemampuan manajemen perusahaan menurun dalam melaksanakan
pengelolaan hartanya untuk menghasilkan laba operasi.
Return On Equity selama periode 2010 sampai dengan 2012 sangat kecil,
Return On Equity mengalami penurunan selama 3 tahun terakhir,
Turunnya ROE mengindikasikan bahwa tingkat penghasilan bersih yang
diperoleh oleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan di
Tahun ROI
(%)
Debt
Ratio
(%)
1 - DR ROE
(%)
2010 0,1743 0,1985 0,8014 21,74
2011 0,1524 0,2801 0,7198 21,17
2012 0,1114 0,4467 0,5532 20,14


13
dalam perusahaan menurun.

D. Keterbatasan Analisis Rasio

Adapun keterbatasan analisis rasio menurut Sofyan Syofii Harahap
(1998 : 298) ini antara lain :
a. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan
untuk kepentingan pemakainya
b. Keterbatasan yang dimiliki laporan keuangan juga menjadi
keterbatasan analisis ini seperti :
1. Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak
mengandung taksiran yang dapat dinilai biasa atau objektif.
2. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dari rasio adalah
nilai perolehan ( cost ) bukan harga pasar.
3. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka
rasio.
4. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi
bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
c. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan
menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
d. Jika data yang tersedia tidak sinkron maka akan kesulitan dalam
menghitung rasio.
e. Jika dua atau lebih perusahaan dibandingkan teknik dan metode
yang digunakan berbeda maka perbandingan dapat menimbulakn
kesalahan.








14

BAB III
KESIMPULAN

Mengetahui bagaimana kondisi keuangan suatu perusahaan, diperlukan
laporan keuangan yang disusun setiap akhir periode tertentu. Laporan
keuangan tersebut dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang diberikan kepada manajer.
Laporan keuangan yang dimaksud berupa neraca dan laporan laba-rugi.
Neraca menunjukkan posisi keuangan (aktiva, kewajiban dan ekuitas)
perusahaan pada saat tertentu, sedangkan laporan laba rugi menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang telah terjadi
pada periode tertentu, kemudian laporan keuangan tersebut dianalisis
untuk mengetahui secara jelas posisi keuangan dengan menggunakan
analisis rasio.
Analisis rasio merupakan teknik untuk mengukur kinerja perusahaan.
Analisis rasio ini diharapkan dapat menyingkap hubungan antara pos-pos
tertentu, kemudian dapat diambil kesimpulan. Mengingat peranan penting
Analisis Rasio Keuangan untuk menilai laju usaha dan perkembangan
usaha suatu perusahaan sangatlah besar, maka pengetahuan yang
diimbangi kemahiran dalam menganalisis dan menginterprestasikan data-
data dari laporan keuangan sangat bermanfaat bagi perusahaan sebagai
acuan dalam pengambilan keputusan yang terkait tentang kebijakan
perusahaan untuk memajukan dan mengembangkan usaha.






15

DAFTAR PUSTAKA

http://ardra.biz/ekonomi/ekonomi-keuangan-manajemen-
keuangan/analisis-rasio-keuangan-perusahaan/analisis-rasio-keuangan-
likuiditas-liquidity-ratio/

http://eprints.uny.ac.id/7632/3/BAB%202-09409131020.pdf

http://www.google.co.in/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ve
d=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fmyunanto.staff.gunadarma.ac.id%2
FDownloads%2Ffiles%2F35049%2FCatatan%2BKuliah%2Bke-
2%2BMenggunakan%2BAnalisis%2BDu%2BPont%2BUntuk%2BMemaha
mi%2BKarakteristik%2BIndustri.pdf&ei=gDoJVJClIMSeugTA84FQ&usg=A
FQjCNHOKCpNCtXpr8_kII3HdrGIDoiVYQ&bvm=bv.74649129,d.c2E