Anda di halaman 1dari 11

METODE GEOFISIKA UNTUK EKSPLORASI BATUBARA

Metode geofisika merupakan metode tidak langsung dalam survey mencari endapan
berharga termasuk dalam mencari endapan batubara. Survey metode-metode geofisika
berikut ini akan membantu dalam pelaksanaan eksplorasi dan pengembangan batubara secara
kontinu, struktur (patahan, lipatan), ketebalan dari lapisan batubara, kedalaman dari lapisan
batubara, dan analisa-analisa mengenai keadaan di bawah permukaan bumi. Metode-metode
geofisika tersebut antara lain :
1. Metode Elektromagnetik ( Electromagnetic Conductivity )
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam prospeksi geofisika adalah
metode elektromagnetik. Metode elektromagnetik ini biasanya digunakan untuk
eksplorasi benda-benda konduktif. Kegunaan metode elektromagnetik ini yaitu untuk
menentukan kontras konduktivitas bawah permukaan berdasarkan perubahan dalam
kualitas air tanah dan tipe tanah dan batuan. Perubahan komponen-komponen medan
akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan struktur bawah permukaan.
Medan elektromagnetik yang digunakan dapat diperoleh dengan sengaja, seperti
dengan membangkitkan medan elektromagnetik di sekitar daerah observasi, pengukuran
semacam ini disebut teknik pengukuran aktif. Contoh metode ini adalah Turam
elektromagnetik. Metode ini kurang praktis dan daerah observasi dibatasi oleh besarnya
sumber yang dibuat.
Teknik pengukuran lain adalah teknik pengukuran pasif, yaitu dengan
memanfaatkan medan elektromagnetik yang berasal dari sumber yang tidak secara
sengaja dibangkitkan di sekitar daerah pengamatan. Gelombang elektromagnetik seperti
ini berasal dari alam dan dari pemancar frekuensi rendah (15-30 Khz) yang digunakan
untuk kepentingan navigasi kapal selam. Teknik ini lebih praktis dan mempunyai
jangkauan daerah pengamatan yang luas.
Prinsip pemanfaatan gelombang elektromagnetik untuk keperluan eksplorasi
bawah permukaan adalah dengan memancarkan sumber gelombang primer ke dalam
tanah. Bila di bawah permukaan ada lapisan yang bersifat sebagai konduktor terhadap
gelombang elektromagnetik maka konduktor ini akan terinduksi, sebagai akibatnya
muncullah arus induksi di dalam konduktor tersebut yang kemudian dapat berfungsi
sebagai sumber gelombang sekunder. Karena ada medan gelombang primer dan medan
gelombang sekunder maka diantena penerima terjadilah interferensi antara keduanya.
Perbedaan fasa antara gelombang primer dan gelombang sekunder menjadi salah satu
besaran fisis yang menarik untuk dianalisa.
Keuntungan dari metode elektromagnetik antara lain mobilitas yang tinggi,
resolusi dan penafsiran data cepat di lapangan, aksesibilitas yang tinggi, dan sangat
efektif dalam analisa dari konduktivitas tinggi. Sedangkan kekurangan dari metode
elektomagnetik antara lain mudah dipengaruhi oleh permukaan atau sumber-sumber daya
bawah permukaan dan resolusi vertikal kurang dibandingkan metode lain.

2. Metode Geolistrik ( Electrical Resistivity )
Metoda ini menggunakan medan potensial listrik bawah permukaan sebagai
objek pengamatan utamanya. Kontras resistivity yang ada pada batuan akan mengubah
potensial listrik bawah permukaan tersebut sehingga bisa kita dapatkan suatu bentuk
anomali dari daerah yang kita amati.
Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran
listrik didalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal
ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik yang terjadi baik
secara alamiah ataupun akibat injeksi arus ke dalam bumi.
Pada metode geolistrik tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi
melalui dua elektroda arus. Kemudian beda potensial yang terjadi diukur melalui dua
elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak
elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-
masing lapisan di bawah titik ukur (sounding point). Metoda ini lebih efektif jika
digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, jarang memberikan informasi lapisan
dikedalaman lebih dari 1000 feet atau 1500 feet.

Gambar 1. Penyebaran listrik yang diinjeksikan ke dalam bumi

Gambar 2. Contoh hasil survey menggunakan metode geolistrik resistivity
Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda arus, dikenal beberapa jenis
metode resistivitas tahanan jenis, antara lain :
a. Metoda Wenner
b. Metoda Gradien
c. Metoda Schlumberger
d. Metoda Dipole-dipole
e. Metoda Pole-dipole

Gambar 3. Kofigurasi elektroda-elektroda arus pada metode geolistrik

3. Ground Penetrating Radar ( GPR )
Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan metode geofisika dengan
menggunakan teknik elektromagnetik yang dirancang untuk mendeteksi objek yang
terkubur di dalam tanah dan mengevaluasi kedalaman objek tersebut. GPR juga dapat
digunakan untuk mengetahui kondisi dan karakteristik permukaan bawah tanah tanpa
mengebor ataupun menggali tanah. Sistem GPR terdiri atas pengirim (transmitter), yaitu
antena yang terhubung ke sumber pulsa (generator pulsa) dengan adanya pengaturan
timing circuit, dan bagian penerima (receiver), yaitu antena yang terhubung ke LNA dan
ADC yang kemudian terhubung ke unit pengolahan (data processing) serta display
sebagai tampilan outputnya.
Pada dasarnya GPR bekerja dengan memanfaatkan pemantulan sinyal. Semua
sistem GPR pasti memiliki rangkaian pemancar (transmitter), yaitu sistem antena yang
terhubung ke sumber pulsa, dan rangkaian penerima (receiver), yaitu sistem antena yang
terhubung ke unit pengolahan sinyal. Rangkaian pemancar akan menghasilkan pulsa
listrik dengan bentuk, prf (pulse repetition frequency), energi, dan durasi tertentu. Pulsa
ini akan dipancarkan oleh antena ke dalam tanah. Pulsa ini akan mengalami atenuasi dan
cacat sinyal lainnya selama perambatannya di tanah. Jika tanah bersifat homogen, maka
sinyal yang dipantulkan akan sangat kecil. Jika pulsa menabrak suatu inhomogenitas di
dalam tanah, maka akan ada sinyal yang dipantulkan ke antena penerima. Sinyal ini
kemudian diproses oleh rangkaian penerima. Kedalaman objek dapat diketahui dengan
mengukur selang waktu antara pemancaran dan penerimaan pulsa. Dalam selang waktu
ini, pulsa akan bolak balik dari antena ke objek dan kembali lagi ke antena. Jika selang
waktu dinyatakan dalam t, dan kecepatan propagasi gelombang elektromagnetik dalam
tanah v, maka kedalaman objek yang dinyatakan dalam h adalah

Untuk mengetahui kedalaman objek yang dideteksi, kecepatan perambatan dari
gelombang elektromagnetik haruslah diketahui. Kecepatan perambatan tersebut
tergantung kepada kecepatan cahaya di udara, konstanta dielektrik relative medium
perambatan :

Berikut ini adalah gambaran ilustrasi prinsip kerja Ground Penetrating Radar
( GPR ) :

Gambar 4. Ilustrasi prinsip kerja GPR

Gambar 5. Ilustrasi prinsip kerja GPR

4. Seismik Refraction dan Seismik Reflection
Metoda seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada
pengukuran respon gelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam tanah dan
kemudian direleksikan atau direfraksikan sepanjang perbedaan lapisan tanah atau batas-
batas batuan. Sumber seismik umumnya adalah palu godam (sledgehammer) yang
dihantamkan pada pelat besi di atas tanah, benda bermassa besar yang dijatuhkan atau
ledakan dinamit. Respons yang tertangkap dari tanah diukur dengan sensor yang disebut
geofon, yang mengukur pergerakan bumi.
Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang
dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan dengan
menggunakan sumber seismic (palu, ledakan, dll). Setelah usikan diberikan, terjadi
gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memenuhi hukum-hukum
elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat
munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan partikel
tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat diperkirakan
bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.
Terdapat dua macam metoda dasar seismik yang sering digunakan, yaitu seismik
refraksi dan seismik refleksi.
a. Seismik refraksi (bias)
Metoda seismik refraksi mengukur gelombang datang yang dipantulkan
sepanjang formasi geologi di bawah permukaan tanah. Peristiwa refraksi umumnya
terjadi pada muka air tanah dan bagian paling atas formasi bantalan batuan cadas.
Grafik waktu datang gelombang pertama seismik pada masing-masing geofon
memberikan informasi mengenai kedalaman dan lokasi dari horison-horison geologi
ini. Informasi ini kemudian digambarkan dalam suatu penampang silang untuk
menunjukkan kedalaman dari muka air tanah dan lapisan pertama dari bantalan
batuan cadas.

Gambar 6. Geometri Metode Seismik Reflection

Seismik bias dihitung berdasarkan waktu jalar gelombang pada tanah/batuan
dari posisi sumber ke penerima pada berbagai jarak tertentu. Pada metode ini,
gelombang yang terjadi setelah usikan pertama (first break) diabaikan, sehingga
sebenarnya hanya data first break saja yang dibutuhkan. Parameter jarak (offset) dan
waktu jalar dihubungkan oleh sepat rambat gelombang dalam medium. Kecepatan
tersebut dikontrol oleh sekelompok konstanta fisis yang ada di dalam material dan
dikenal sebagai parameter elastisitas.

b. Seismik refleksi
Metoda seismik refleksi mengukur waktu yang diperlukan suatu impuls suara
untuk melaju dari sumber suara, terpantul oleh batas-batas formasi geologi, dan
kembali ke permukaan tanah pada suatu geophone. Refleksi dari suatu horison
geologi mirip dengan gema pada suatu muka tebing atau jurang.Metoda seismic
repleksi banyak dimanfaatkan untuk keperluan Explorasi perminyakan, penetuan
sumber gempa ataupun mendeteksi struktur lapisan tanah.
Seismic refleksi hanya mengamati gelombang pantul yang datang dari batas-
batas formasi geologi. Sedangkan dalam seismik pantul, analisis dikonsentrasikan
pada energi yang diterima setelah getaran awal diterapkan. Secara umum, sinyal
yang dicari adalah gelombang-gelombang yang terpantulkan dari semua interface
antar lapisan di bawah permukaan. Analisis yang dipergunakan dapat disamakan
dengan echo sounding pada teknologi bawah air, kapal, dan sistem radar. Informasi
tentang medium juga dapat diekstrak dari bentuk dan amplitudo gelombang pantul
yang direkam. Struktur bawah permukaan dapat cukup kompleks, tetapi analisis
yang dilakukan masih sama dengan seismik bias, yaitu analisis berdasar kontras
parameter elastisitas medium.

Gambar 6. Geometri Metode Seismik Reflection

Perbandingan metode seismik dengan metode geofisika lainnya antara lain sebagai
berikut :
Keunggulan :
1. Dapat mendeteksi variasi baik lateral maupun kedalaman dalam parameter fisis
yang relevan, yaitu kecepatan seismik.
2. Dapat menghasilkan citra kenampakan struktur di bawah permukan
3. Dapat dipergunakan untuk membatasi kenampakan stratigrafi dan beberapa
kenampakan pengendapan.
4. Respon pada penjalaran gelombang seismik bergantung dari densitas batuan dan
konstanta elastisitas lainnya. Sehingga, setiap perubahan konstanta tersebut
(porositas, permeabilitas, kompaksi, dll) pada prinsipnya dapat diketahui dari
metode seismik.
5. Memungkinkan untuk deteksi langsung terhadap keberadaan hidrokarbon

Kelemahan :
1. Banyaknya data yang dikumpulkan dalam sebuah survei akan sangat besar jika
diinginkan data yang baik
2. Perolehan data sangat mahal baik akuisisi dan logistik dibandingkan dengan
metode geofisika lainnya.
3. Reduksi dan prosesing membutuhkan banyak waktu, membutuhkan komputer
mahal dan ahli-ahli yang banyak.
4. Peralatan yang diperlukan dalam akuisisi umumnya lebih mahal dari metode
geofisika lainnya.
5. Deteksi langsung terhadap kontaminan, misalnya pembuangan limbah, tidak
dapat dilakukan.


5. Metode Gravity ( Gaya Berat )
Secara umum metoda gaya berat merupakan metoda geofisika yang mengukur
variasi gaya berat (gravitational) di bumi. Metoda ini jarang digunakan pada tahapan
lanjut eksplorasi bijih, namun cukup baik digunakan untuk mendefinisikan daerah target
spesifik untuk selanjutnya disurvei dengan metoda-metoda geofisika lain yang lebih
detil.
Adanya variasi medan gravitasi bumi ditimbulkan oleh adanya perbedaan rapat
massa (density) antar batuan. Adanya suatu sumber yang berupa suatu massa (masif,
lensa, atau bongkah besar) di bawah permukaan akan menyebabkan terjadinya gangguan
medan gaya berat (relatif). Adanya gangguan ini disebut sebagai anomali gaya berat.
Karena perbedaan medan gayaberat ini relatif kecil maka diperlukan alat ukur yang
mempunyai ketelitian yang cukup tinggi. Alat ukur yang sering digunakan adalah
Gravimeter. Alat pengukur gayaberat di darat telah mencapai ketelitian sebesar 0.01
mGal dan di laut sebesar 1 mGal.

6. Metode Magnetic
Metode dilakukan dengan berdasarkan pada hasil pengukuran anomaly
geomagnet yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas, atau permeabilitas
magnetik tubuh cebakan dari daerah di sekelilingnya. Perbedaan permeabilitas relatif itu
diakibatkan oleh perbedaan distribusi endapan ferromagnetic, paramagnetic, dan
diamagnetic.
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik
di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi
di bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang
medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian
ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian
dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Metode magnetik
memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-
sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya sering disebut sebagai
metoda potensial.

Gambar 7. Metode Magnetic

Kelebihan metode magnetic yaitu cakupan area secara cepat, mobilitas yang
tinggi, serta resolusi dan penafsiran data lapangan terpercaya. Sedangkan kekurangannya
yaitu pendeteksian tergantung atas ukuran, kedalaman dari kandungan besi dari objek
tertanam serta resolusi data sulit dalam area pemukiman.

7. Geophysical Well Logging
Logging geofisik untuk eksplorasi batubara dirancang tidak hanya untuk
mendapatkan informasi geologi, tetapi untuk memperoleh berbagai data lain, seperti
kedalaman, ketebalan dan kualitas lapisn batubara, dan sifat geomekanik batuan yang
menyrtai penambahan batubara.
Dari sekian banyak prinsip logging yang ada, yang paling sering digunakan
adalah resistansi listrik, kecepatan gelombang elastis dan radioaktif. Untuk eksplorasi
batubara, logging densitas adalah yang paling efektif dan kombinasi logging densitas dan
sinar gama adalah yang direkomendasi untuk menentukan sifat geologi sekitar lapisan
batubara. Setiap logging mempunyai keistimewaannya masing-masing, oleh karena itu
lebih baik melakukan kombinasi logging untuk analisa menyeluruh.
Geofisika Well Logging merupakan suatu metode geofisika yang dapat
memberikan informasi bawah permukaan yang meliputi karakteristik litologi, ketebalan
lapisan, kandungan fluida, korelasi struktur, dan kontinuitas batuan dari lubang bor
(Gordon H., 2004).
Prinsip dari Gamma Ray Log adalah perekaman radioaktivitas alami bumi,
dimana sinar gamma mampu menembus batuan dan dideteksi oleh sensor sinar gamma
yang umumnya berupa detektor sintilasi. Setiap Gamma Ray log yang terdeteksi akan
menimbulkan pulsa listrik pada detektor.

Gambar 8. Well Logging

Parameter yang terekam adalah jumlah pulsa yang tercatat per satuan waktu
(cacah GR). Radioaktivitas gamma ray berasal dari 3 unsur radioaktif yang ada dalam
batuan yaitu Thorium, Uranium, dan Potasium, yang secara kontinu memancarkan sinar
gamma dalam bentuk pulsa pulsa energi radiasi tinggi.
Tingkat radiasi shale (serpih) lebih tinggi dibandingkan batuan lain karena unsur
unsur radioaktif cenderung mengendap di lapisan serpih yang tidak permeabel, hal ini
terjadi selama proses perubahan geologi batuan.
Log Gamma Ray diskala dalam satuan API (American Petroleum Institute), satu
GAPI = 1/200 dari tanggapan yang didapat dari kalibrasi standar suatu formasi tiruan
yang berisi Thorium, Uranium, dan Potasium dengan kuantitas yang diketahui dengan
tepat. Log Gamma ray biasanya ditampilkan pada kolom pertama bersama sama kurva
Kaliper dan SP, biasanya diskala dari kiri ke kanan dalam 0-100 atau 0-150 GAPI.

DAFTAR PUSTAKA :
Pryono Awali, 2 Maret 2000, Metode Seismik Dalam Usaha Pendeteksian Reservoir Minyak
dan Gas Bumi (Penerapan Metode AVO), Jurusan Metereologi dan Geofisika F-MIPA ITB
Supriyanto, 2007, Analisis Data Geofisika: Memahami Teori Inversi, Edisi 1, Departemen
Fisika-FMIPA, Universitas Indonesia, 2007.
Azhar dan Gunawan Handayani, 2004, Penerapan Metode Geolistrik Konfigurasi
Schulemberger Untuk Penentuan Tahanan Jenis Batubara, Jurnal Natur Indonesia, hal 122-
126.
Broto, Sudaryo, 2008, Pengolahan Data Geolistrik dengan Metode Schulemberger, Jurnal
Teknik, Vol. 29, No.2.
Joenil Kahar, 1990, Potensial Gayaberat Dalam Penentuan Bentuk dan Besar Bumi,
KontribusiFisika Indonesia, vol.1, no.2A, Bandung.