Anda di halaman 1dari 17

Digempur Media Online, Pertumbuhan Pers

Cetak Hanya 0,25 Persen


BENGKULU, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Pers (SPS), Asmono
Wikan menyebutkan gempuran media sosial digital dan media online, cukup membuat industri
cetak (print) terpengaruh.

Hal ini tercatat dari rendahnya pertumbuhan sirkulasi oplah dari 1.100 media di Indonesia pada
akhir tahun 2013, yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 0,25 persen. Angka itu sedikit
lebih baik dibanding pertumbuhan oplah media di Amerika.

Namun, jika dibandingkan dengan negara lain seperti China, India dan Brazil, pertumbuhan
oplah media cetak di Indonesia masih kalah jauh.

"Karena itu media harus meng-update diri di era digitalisasi. Konsepsi industri print bahwa
digitalisasi belum menghasilkan uang harus dibongkar. Tanpa upgrade dan update, ya repot,"
ujar Wiskan saat menggelar konfrensi pers Serikat Perusahaan Pers (SPS) di Bengkulu, Kamis
(6/2/2014).

Dari hasil kajian SPS, perkembangan media cetak di Indonesia memang mengalami turbulensi
yang kuat. Generasi pembaca baru mulai bermunculan, yakni generasi pembaca yang tidak lagi
membaca hal-hal serius, generasi yang tidak menyenangi kerumitan bahasa di media cetak dan
generasi yang tidak menyenangi tata wajah di media cetak.

"Inilah yang menjadi tantangan bagi industri media cetak saat ini. Bagaimana media melayani
pembacanya menjadi sangat penting. Kalau tetap ingin bertahan menghadapi konvergensi di
era multiplatform saat ini," ujar Wiskan.

Dia menuturkan, keberlanjutan hidup dari sebuah media sangat bergantung dengan
kemampuannya menangkap keinginan pembaca. Melalui penyajian konten berita yang
berkaitan dengan kebutuhan pembaca, diyakini akan tetap menghidupkan industri media,
khususnya cetak di Indonesia.

"Salah satu kuncinya adalah lewat penyajian konten berita. Konten harus nyambung dengan
pembaca, tanpa ini bisa berbahaya bagi media," bebernya.

Sementara itu, dalam konferensi pers jelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SPS yang digelar
dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) di Bengkulu pada 7-8 Februari 2014 ia
menyebutkan, SPS kembali menyerahkan penghargaan pemenang bagi sampul muka media
cetak komersial (Indonesia Print Media Awards/IPMA) dan majalah internal (Indonesia Inhouse
Magazine Awards/INMA) di Indonesia.

Termasuk pemberian penghargaan desain rubrik anak muda Surat kabar (Indonesia Young
Readers Awards/IYRA) dan sampul muka pers mahasiswa (Indonesia Student Print Media
Awards/ISPRIMA).

IPMA diikuti lebih 749 pendaftar dari 207 perusahaan media, INMA berhasil menghimpun 201
pendaftar dari 57 lembaga dan korporasi. Adapun IYRA diikuti 121 entri dari 20 perusahaan
pers dan ISPRIMA menyedot 54 entri dari 17 pers mahasiswa.

Hasil penjuriannya akan diumumkan pada Sabtu (8/2/ 2014). Selain agenda tersebut, juga akan
digelar CEO Media Conference. Dengan mengusung tema sentral "Konvergensi di era
multiplatform dan tantangan monetisasi", direncanakan menghadirkan dua pembicara talkshow
media, yakni Direktur Pengembangan Bisnis Kelompok Kompas Gramedia Edi Taslim dan CEO
Harian Pikiran Rakyat Djoko Hertanto.

-----------------------------------------------------
Earl J Wilkinson, Executive Director & CEO, International News Media Association (INMA)
akan menjadi pembicara pada Asia Pacific Media Forum (APMF) 2014 di Bali, 18-20 September
2014. Info lengkap mengenai APMF dapat dilihat di www.apmf.com.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Asia Pacific Media Forum 2014
Penulis : Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/06/1800231/Digempur.Media.Online.Pertumbuhan.
Pers.Cetak.Hanya.0.25.Persen







Konvergensi Media ala Indonesia
http://komunitas.yellowpages.co.id/konvergensi-media-ala-indonesia-2/


(Kandidat) anggota komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY Periode 2014-2017. Pun seorang
pengamen dan selengkapnya

Implikasi Teknologi Digital dan Internet
(Paperless Newspaper) pada Industri
Media Cetak di Indonesia
OPINI | 16 December 2013 | 23:37 Dibaca: 448 Komentar: 8 3
Rekan-rekan Kompasianer di manapun Anda berada, baik di dalam negeri
maupun mancanegara.
Kehadiran teknologi Internet sejak tahun 1960-an silam, memiliki implikasi
besar pada peradaban manusia.
Terutama dalam bidang telekomunikasi, media, dan informatika. Termasuk
dalam bidang industri media cetak di Indonesia. Surat kabar tanpa kertas
(paperless newspaper), kini telah menjadi tren baru yang tak bisa
dikesampingkan dalam pengelolaan bisnis media. Kini media cetak, media
online, media elektronik, dan teknologi telekomunikasi, media, dan informatika
(telematika) sudah saling meleburkan diri, bersinergi. Di era konvergensi
media massa, pengintegrasian bisnis media massa tidak hanya bersifat
horisontal saja, tetapi sekaligus vertikal.
Bahkan tren yang terjadi di Indonesia belakangan ini, para pemilik media
massa itu terjun dalam dunia politik dengan menjadi politisi.
Internet merupakan puncak teknologi telekomunikasi, media dan informatika
(telematika) sepanjang Abad XX-XXI ini. Ada yang menyebut Internet sebagai
tonggak sejarah (milestone) dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK),
tangga atau jembatan (gangplank) antar TIK. Pengadopsian dan
pengimplementasian teknologi Internet dalam berbagai bidang kehidupan
(politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan-keamanan, kesehatan,
pariwisata, bisnis dll.) menjadi bukti sahih akan realitas sosial di atas.
Perkembangan jumlah pemakai teknologi Internet sejak ditemukannya
pertama kali pada tahun 60-an oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat
melalui proyek militer (rahasia) dengan menginisiatifi proyek ARPANET
(Advanced Research Project Agency Network) yang menghasilkan TCP/IP
(Transmission Control Protocol/Internet Protocol) hingga Agustus 2013 ini
sungguh luar biasa. Semula ARPANET hanya menghubungkan empat situs
yakni Stanford Reseacrh Institute, University of California (Santa Barbara dan
Los Angeles) dan University of Utah, namun kini setelah lebih dari setengah
abad (53 tahun), pengguna Internet sedunia mencapai lebih dari 2 miliar
pengguna. Berdasarkan data Internet World Stat Web Directory pada akhir
tahun 2012 kemarin, tercatat jumlah pemakai Internet sedunia sebesar 2,27
miliar pemakai.
Secara historis, banyak tokoh berkontribusi dalam menemukan dan
mengembangkan Internet. Mereka adalah Claude Shannon (idenya tentang A
Mathematical Theory of Communication), Paul Baran (gagasannya
tentang On Distributed Communication), Bob Taylor (The Computer as a
Communication Device), Douglas Englebart (perintis domain dan
penemu mouse), Larry Roberts (idenya Telenet), Vint Cerf dan Bob Kahn
(desainer TCP/IP, Bapak Internet), Paul Mockapetris (pencetus DNS/Domain
Name System), David Clark (membuat regulasi dalam berinternet), Steve
Wolff (mendesain salah satu jejaring gigabit yang mampu mempunyai
kecepatan tinggi), Marc Andreesen & Eric Bina (penemu Mosaic yakni
leluhur dari Internet Explorer, Mozilla Firefox, dan semua browser yang telah
beredar hingga kini) dan Leonard Kleinrock (pelopor jaringan komunikasi
digital) (Rosmawaty, 2010: 158-162).
Kita harus jujur mengakui bahwa sejak ditemukannya teknologi Internet
tersebut mampu mengubah peradaban dunia, dari yang berjalan lambat,
menjadi sangat cepat hingga sekarang. Internet juga mampu mengawinkan
antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika (telematika).
Implikasinya, setiap orang mampu berkomunikasi dengan sangat cepat,
menembus batas-batas negara melalui koneksi jaringan Internet. Sejarah
dunia komunikasi menjadi terbaharui kembali. Kejayaan peradaban kertas
semakin menipis dengan munculnya gelombang radio. Kedigdayaan
peradaban radio juga terus menipis, seiring penemuan teknologi televisi.
Apakah nanti ketangguhan teknologi televisi di atas juga akan terkalahkan
oleh Internet?
Tanda-tanda ke arah tersebut sudah sangat kuat di masa kini. Babak baru
peradaban industri media massa terkini, terstimulusi melalui teknologi
Internet, yang berhasil mengintegrasikan berbagai jenis media massa dalam
saluran tunggal yang terintegrasi. Babak baru tersebut dinamai sebagai era
konvergensi media massa, yang kemudian meningkat kompleksitasnya
menjadi konvergensi multimedia massa. Tren televisi digital, yang
mengawinkan antara televisi analog dan teknologi berjaringan Internet yang
merebak saat ini sebagai akhir dari peradaban televisi (analog). Perkawinan
antara teknologi Internet dan radio analog telah melahirkan radio digital.
Persilangan genetis antara media cetak dan teknologi Internet juga sudah
melahirkan surat kabar digital, atau yang disebut sebagai electronic-paper (e-
paper); dan pada konteks lain melahirkan media online. Fleksibilitas teknologi
Internet yang bisa disinergisasikan dengan berbagai jenis media massa
yang sudah ada sebelumnya menjadi sisi keunggulan dari teknologi maya
ini, pada aspek lain menimbulkan permasalahan kompleks pada sektor
industri media cetak, media radio, media televisi dan media online yang tidak
bisa mengikuti tren perkembangan dunia telematika mutakhir.
Sebagai contoh sederhana, di kancah Jateng dan DIY, kasus gulung
tikarnya Harian Pagi Jogja Raya (Jawa Pos Group) yang berkantor di DIY
pada tahun 2011 serta KR Bisnis milik KR Group yang sebelumnya bernama
Koran Merapi; lantas berganti nama menjadi Koran Merapi Pembaruan pada
tahun 2012 kemarin, serta bermetamorfosisnya koran kuning Meteor
menjadi Jateng Pos dan Jogjakarta Post dan juga Warta Jateng milik Kompas
Group menjadi Tribun Jateng yang berkantor pusat di Jateng pada tahun
2013; menunjukkan betapa bisnis media cetak di kawasan DIY dan Jateng
cukup riskan mengalami fluktuasi tinggi. Di luar negeri, kolapsnya perusahaan
koran tertua di Amerika Serikat sekaliber The New York Times (salah satu
surat kabar terbaik di AS) akhir tahun 2011, menjadi pukulan telak bagi para
pengusaha media cetak di Amerika (Kontan edisi 29 Desember 2011). Media
cetak lain, Newsweek, The Rocky Mountain News, The Seattle Post
Intelligencer, Lee Enterprises juga termasuk daftar media cetak di Amerika
Serikat yang bangkrut.
Di Jerman, surat kabar Financial Times Deutschland (FTD) sudah tamat
nasibnya pada 23 November 2012 kemarin. Koran Berliner Zeitung juga
tinggal menunggu ajalnya kini. Bahkan NewPage, pabrik kertas di Ohio yang
beroperasi di Amerika Serikat dan Kanada dengan produksi total kertas 3,5
juta ton per tahun untuk koran, majalah dan brosur, sudah tutup pada 30 Juni
2011. Tren penurunan oplah surat kabar menimpa juga koran dengan oplah
tertinggi sedunia, yang sekarang dipegang Yomiuri Shimbun (surat kabar di
Jepang) dengan oplah 10 juta per hari dan Asahi Newspaper yang beroplah
7,5 juta eksemplar per hari. Dalam The 33rd NSK-CAJ Fellowship Program di
Nippon Press Centre (24/9/2012), terungkap bahwa industri pers Jepang
tengah mengalami masalah besar; karena turunnya jumlah oplah sebanyak 1-
2 juta eksemplar dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya generasi-
generasi muda Jepang (usia 20-30 tahun) tak mau membaca koran (Media
Jepang Hadapi Masalah Besar, Kedaulatan Rakyat edisi 25 September 2012,
halaman 1). Tentunya mengkaji secara komprehensif tentang pengaruh
teknologi digitalisasi dan Internet terhadap industri media cetak di Indonesia,
bahkan dalam konteks dunia; bakal menjadi wilayah kajian etik-emik-epik
yang menarik dari berbagai sudut pandang ethos (spirit jiwa, etika), logos
(ilmu), pathos (pengaruh), dan telos (tujuan).
Pertumbuhan fantastis jumlah pengguna Internet di berbagai negara dalam 15
tahun terakhir, berimplikasi besar pada pergeseran tren masyarakat dunia
dalam berkomunikasi. Negara-negara dengan penetrasi Internet sangat tinggi
(angkanya lebih dari 70 persen dari jumlah penduduknya), adalah Amerika
Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan Kanada. Negara-negara dengan
penetrasi Internet cukup tinggi (angkanya lebih dari 50-69 persen dari jumlah
penduduknya) adalah Italia, Spanyol, Prancis dan Argentina (Internet World
Start, 2010).
Bercermin dari negara-negara di atas, nyatanya eksistensi media cetak
mengalami tren penurunan jumlah tiras. Bahkan berbagai perusahaan media
cetak di negara mengalami kebangkrutan (kolaps) dalam beberapa tahun
terakhir. Majalah dan surat kabar di Amerika Serikat yang bangkrut itu
misalkan The New York Times, Newsweek, The Rocky Mountain News, The
Seattle Post Intelligencer, dan Lee Enterprises. Media cetak di Jerman yang
kolaps yakni Financial Times Deutschland (FTD) dan sebentar lagi akan
menyusul Berliner Zeitung. Yomiuri Shimbun, surat kabar di Jepang dengan
oplah tertinggi sedunia mencapai 10 juta per hari, danAsahi Newspaper yang
beroplah sebanyak 7,5 juta eksemplar per hari terus mengalami penurunan
oplah sebanyak 1-2 juta eksemplar dalam beberapa tahun terakhir (Media
Jepang Hadapi Masalah Besar, Kedaulatan Rakyat edisi 25 September 2012,
halaman 1).
Jika perusahaan media cetak tidak melakukan berbagai strategi dan
perubahan inovatif (kreatif) dalam menyikapi perkembangan zaman,
dipastikan eksistensi surat kabar yang kini sudah berusia sekitar 404 tahun
jika dihitung sejak surat kabar pertama di dunia bernama Relation yang
dicetak dengan menggunakan mesin cetak di Staarsburg dan diterbitkan oleh
Johan Carolus pada tahun 1609 (Barus, 2010: 5) bakal musnah, atau
setidaknya kehilangan jumlah pembaca loyal dalam jumlah besar.
Berikut ini dibeberkan sebanyak empat ancaman yang menimpa media cetak
di tengah sengitnya bisnis media massa saat ini. Pertama, kehadiran
teknologi Internet menjadi ancaman besar bagi eksistensi media cetak
berbasiskan kertas. Pemerataan infrastruktur Internet pada sebuah negara,
tentulah menjadi kiamat bagi peradaban media cetak berbasis kertas.
Pemanfaatan teknologi Internet untuk mendukung kehadiran media online
maupun media elektronik, secara langsung maupun tidak langsung menarik
pembaca media cetak untuk beralih dalam mengonsumsi jenis media massa
yang terintegrasikan ke jaringan Internet. Akibatnya jumlah pembaca atau
pelanggan media cetak menjadi berkurang.
Ancaman kedua bersumber dari perubahan perilaku anak-anak muda zaman
sekarang yang lebih care pada teknologi Internet daripada teknologi kertas.
Menurut Agung Adiprasetyo, dalam Sularto (2007: 238), pada tahun 2006
sebanyak 16 persen anak muda sedunia memanfaatkan Internet sebagai
sumber informasi, 42 persen anak muda masih membaca koran, 28 persen
menonton televisi dan 10 persen mengakses informasi dari radio.
Berdasarkan survei lapangan yang dilakukan Supadiyanto (akhir Desember
2012) di Kampus UIN Sunan Kalijaga dan AKRB (AMIKOM Grup) Yogyakarta
terhadap sebanyak 150 mahasiswa; hasilnya adalah 95 persen mahasiswa
mengakses informasi dari Internet, 50 persen menikmati televisi, 5 persen
mendengarkan radio dan tinggal 10 persen yang membaca surat kabar.
Dari angka-angka di atas menunjukkan penetrasi Internet di kalangan anak
muda sangat tinggi, dan surat kabar berbasis kertas semakin tidak populer di
kalangan anak muda.
Ancaman ketiga, yakni bermigrasinya para pengiklan media cetak ke media
jenis lainnya, terutama ke media online. Menurut Danny Oey Wirianto (Ketua
Pengembangan Digital Advertising P3I), sejak tahun 2009-2011 belanja iklan
digital naik 100 persen per tahun. Belanja iklan digital (media online) pada
tahun 2012 kemarin berhasil meraup Rp 1 triliun, belanja iklan di televisi
sebesar Rp 55,98 triliun; belanja iklan di surat kabar Rp 28,9 triliun, dan
belanja iklan di majalah dan tabloid mencapai Rp 2,6 triliun. Total belanja
iklan media Indonesia mencapai Rp 87,471 triliun sepanjang tahun 2012.
Memang belanja iklan untuk media digital masih kecil, namun laju
perkembangannya setiap tahun menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil
survei AGB Nielsen pada 22 Agustus 2011, didapatkan fakta menarik bahwa
73 persen konsumen di Asia Tenggara merasa hidupnya lebih mudah setelah
membaca/melihat iklan di Internet.
Keempat, ancaman lainnya yakni semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat
untuk mencintai lingkungan hidup. Bahan baku kertas yang bersumber dari
pohon-pohon hutan; jelaslah menimbulkan permasalahan kompleks terhadap
lingkungan hidup. Sebab pabrik-pabrik kertas itu membutuhkan suplai pohon-
pohon hutan dalam jumlah besar. Hal tersebut memicu terjadinya
penebangan pohon-pohon hutan secara liar (illegal logging). Kesadaran
penduduk dunia untuk peduli pada kelestarian lingkungan hidup; berpeluang
besar untuk memunculkan gerakan pemboikotan untuk tidak memakai,
membeli, maupun membaca segala produk yang berasal dari kertas;
termasuk di dalamnya media cetak.
Di samping ancaman besar di atas, ada lima peluang emas yang dimiliki
media cetak di tengah sengitnya kompetisi bisnis media massa, terutama
agresivitas media online, yaitu: Pertama, media cetak tetap memiliki peluang
dalam merebut perhatian pembaca tradisional (loyal) di mana usia mereka
saat ini berada pada kisaran lebih dari 40 tahun ke atas. Model pembaca
tradisional menjadikan surat kabar sejak usia kecil hingga sekarang atau
dalam sepanjang hidupnya menjadi rujukan informasi utama. Sangat sulit bagi
mereka untuk mengubah/menggeser gaya hidup dalam menjadikan media
cetak sebagai sumber rujukan utamanya. Mario R. Garcia, CEO Garcia Media
pernah mengelompokkan pembaca surat kabar dalam tiga jenis. Satu,
pembaca tradisional yang serius, yang ingin membaca koran dengan lebih
santai. Dua, pembaca selintas (scanner), yang hanya melihat judul, foto dan
membaca potongan-potongan baris, serta berita sekilas. Tiga, pembaca yang
sangat cepat (supersonic readers), yang hanya memiliki waktu lima menit di
pagi hari untuk melihat sekilas berita-berita yang ada (Garcia, 2005; Sularto,
2007: 78).
Kedua, dari sisi konten media cetak tidak bisa tergantikan oleh jenis media
massa lainnya. Dari sisi kedalaman, kelengkapan dan keragaman dimensi
berbagai persoalan yang disajikan sebagai total news atau lebih
tepatnya news in its totality. Setiap total news siap untuk dibedah dalam arti
dibuat terbuka untuk diperikan (description), dijelaskan (explanation) dan
bersama itu penyelesaian soal ditawarkan (solution) (Dhakidae, 2005; Sularto,
2007: 77).
Ketiga, teknologi surat kabar sangat welcome untuk dipersilangkan dengan
teknologi Internet sehingga menghasilkan tablet newspaper atau paperless
newspaper; di mana surat kabar tidak lagi berwujud kertas, melainkan berujud
media digital. Secara substansial, konten yang ada di surat kabar berbasis
kertas sama persis yang terkandung dalam tablet newspaper maupun
paperless newspaper atau electronic paper (e-paper).
Masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri memiliki dua pilihan dalam
mengakses surat kabar bersangkutan, yakni dalam bentuk kertas atau dalam
versi lain yang berbentuk digital. Dalam perspektif lain, peluang yang ketiga
ini bisa bersifat dekonstruktif terhadap eksistensi media cetak berbasis
kertas; sebab akan banyak pembaca surat kabar kertas yang mengalihkan
pilihannya pada e-paper; mengingat lebih mudah diakses dan dapat diunduh
secara gratis. Namun juga bersifat konstruktif terhadap media cetak berbasis
kertas, sebab konten yang disajikan oleh media bersangkutan tersampaikan
kepada pembaca dalam jumlah yang lebih besar lagi. Dengan kata lain,
hadirnya paperless newspaper (tablet newspaper atau e-paper) akan
mengurangi oplah/tiras surat kabar berbasis kertas, yang otomatis
menurunkan tingkat keterbacaan (readership) koran tersebut; namun pada
saat bersamaan berpeluang besar menambah jumlah pembaca surat
kabarnya dalam versi digitalnya, yang otomatis meningkatkan derajat
keterbacaan (readership) koran elektronik tersebut.
Keempat, adanya peluang pasar di Indonesia yang belum tersentuh oleh
media cetak masih sangat besar. Hal tersebut menjadi peluang emas bagi
industri media cetak. Dengan membandingkan tingkat penetrasi Internet di
Indonesia pada Agustus 2013 yang masih berkisar antara 40 juta - 85 juta
pengguna (penetrasi Internet di Indonesia sebesar 16,7 - 35,4 persen);
sedangkan jumlah oplah/tiras seluruh media cetak di Indonesia mencapai 21
juta eksemplar (artinya tingkat penetrasi media cetak di Indonesia baru
mencapai 8,75 persen); sedangkan komposisi penduduk Indonesia yang
berjumlah sekitar 240 juta jiwa; masih terbuka peluang bisnis untuk
mengembangkan industri media cetak di Indonesia.
Kelima, sektor industri media cetak dapat menggerakkan sektor
perekonomian yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan industri media
online. Pada media cetak melibatkan para wartawan, penulis, desainer, editor,
tukang pengecer/loper koran, agen, pengiklan, karyawan pabrik kertas,
karyawan percetakan, sopir, dsb. Sedangkan pada media online hanya
melibatkan kalangan tertentu saja. Dari sisi pemberdayaan masyarakat
secara massal, media cetak lebih unggul. Namun dari sisi efesiensi biaya
produksi, media online jauh lebih unggul.
Catatan: tulisan ini saya kutip dari bagian prolog dalam makalah yang
akan saya sajikan (presentasikan) dalam Seminar Nasional Menuju
Masyarakat Madani 2013 pada Rabu, 18 Desember 2013 di Ruang
Auditorium Perpustakaan Kampus Terpadu UII Yogyakarta dengan
keynote speaker Mantan Ketua MK Profesor Mohammad Mahfud M.D.
dan Rektor UII Profesor Edy Suandi Hamid.
Keterangan foto: sumber foto diambil dari Sekretariat PPWI. Foto ini
diambil ketika saya (duduk di kursi nomor lima dari kiri-depan) ketika
diundang berbicara dalam Diklat J urnalisme Warga bagi puluhan
Anggota Paspampres RI di Markas Komando Pasukan Pengamanan
Presiden RI J akarta Pusat pada 25 J uni - 02 J uli 2013.
Tags:

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/12/16/implikasi-teknologi-digital-dan-internet-
paperless-newspaper-pada-industri-media-cetak-di-indonesia-617120.html





















RABU, 21 MEI 2014 | 20:06 WIB
Industri Media Cetak di Luar Jawa Lebih Prospektif
TEMPO.CO, Jakarta - Hasil riset PT.Nielsen Indonesia menunjukkan potensi industri media cetak di
luar Pulau Jawa lebih besar dibanding di dalam Pulau Jawa. Hal tersebut ditunjukkan dengan
tingginya konsumsi media cetak tersebut di luar Pulau Jawa.

"Jawa memang paling padat dan infrastrukturnya paling baik. Tapi potensinya lebih besar luar Jawa.
Ini harus digarap betul," kata Managing Director Media Nielsen Indonesia Irawati Pratignyo di kantor
Nielsen Indonesia, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu, 21 Mei 2014. (Baca: 7 Media Ini Dituding
Berpihak dan Tendensius)

Menurut hasil riset Nielsen sepanjang 2010-2014, tingkat konsumsi media cetak di lima kota besar
luar Jawa, seperti Medan, Palembang, Denpasar, Makassar, dan Banjarmasin, lebih tinggi
dibanding lima wilayah besar di Jawa. (Baca: PT Temprint Sudah Cetak 10 Juta Surat Suara)

Kelima wilayah besar di Jawa yang dimaksud meliputi Jakarta dengan wilayah megapolitannya,
Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi); Surabaya dengan Gerbangkertosusila (Gresik,
Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan); Bandung; Semarang; dan Yogyakarta yang berdekatan
dengan Sleman dan Bantul.

Temuan selama empat tahun itu didapat dari pemantauan kepemirsaan televisi, pengukuran
teknologi meter dengan GSM & GPRS, serta berbagai metode lainnya sesuai dengan jenis media.
Survei dilakukan di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang,
Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Namun PT.Nielsen
Indonesia menegaskan hasil survei tak mewakili populasi Indonesia.

Lebih jauh, Irawati menjelaskan, dalam temuan Nielsen itu, praktis hanya konsumsi media via
Internet di Jawa yang lebih tinggi ketimbang wilayah luar Jawa. Konsumsi media via Internet di Jawa
sebanyak 34 persen, sementara luar Jawa 32 persen. Selebihnya, konsumsi media via televisi,
radio, koran, tabloid, dan majalah tercatat lebih tinggi di luar Jawa.

Tingginya pertumbuhan tingkat konsumsi media cetak di luar Jawa ini sejalan dengan data Badan
Pusat Statistik yang menunjukkan pertumbuhan penduduk di luar Jawa lebih tinggi dibanding Jawa.
Besaran dan laju peningkatan produk domestik bruto (PDB) di luar Jawa juga lebih tinggi dibanding
Jawa, dan akan bertahan hingga 2030. "Perkembangan di luar Jawa sangat luar biasa. Ini
merupakan peluang luar biasa bagi para pelaku industri," kata Irawati.
http://www.tempo.co/read/news/2014/05/21/090579407/Industri-Media-Cetak-di-Luar-Jawa-Lebih-
Prospektif



Dahlan Iskan: Era media cetak hampir selesai
10 April 2013 pukul 0:45
JAKARTA. Pengusaha media, Dahlan Iskan mensinyalir era bisnis media cetak hampir selesai di
Indonesia. Dahlan Iskan yang kini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
tersebut bilang, tidak akan banyak pelaku bisnis media cetak yang mampu mempertahankan
bisnisnya saat ini.

Banyak hal yang menjadi pemicunya, salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi yang
kina maju. Akses informasi yang cepat melalui media internet menjadi salah satu sumber petaka
bagi bisnis media cetak. Nanti di satu kota hanya ada satu, dua atau tiga media cetak saja, terang
pemilik group bisnis Jawa Pos ini di dalam diskusi buku berjudul Dapur Media di kantor Aliansi
Jurnalis Independen di Jakarta, Selasa (9/4).

Selain masalah akses informasi yang kian dekat dengan pembaca, bisnis media cetak juga
berhadapan dengan ongkos produksi yang mahal. Maklum, bisnis media cetak berupa koran, tabloid
serta majalah bergantung dengan harga kertas yang sumber dayanya terbatas. Khusus majalah
akan mengalami masa sulit, imbuhnya.

Namun sebaliknya, industri media online malah bertumbuh dan mengkristal. Namun begitu, Dahlan
Iskan yakin hanya beberapa situs media online saja yang bisa besar dengan skala pembaca yang
banyak. Sekarang menuju kristalisasi media online yang jumlahnya nanti akan banyak sekali,
ungkap Dahlan Iskan yang pernah menjadi Direktur Utama PLN itu.

Masa suram industri media
Peliknya nasib bisnis media khususnya cetak sudah dirasakan oleh pekerja media yang tergabung
dalam Federasi Pekerja Media Independen (FSPMI). Hal ini disampaikan oleh Abdul Manan, Ketua
Umum FSPMI dalam kesempatan yang sama.

Manan menyebutkan, dari 3.000 media termasuk cetak, online, elektronik yang beroperasi di
Indonesia, hanya segelintir yang bisa dibilang menguntungkan secara bisnis. Dalam catatan kami,
hanya ada 300 media atau 10% yang mencatat untung dalam bisnis media, jelasnya.

Kondisi memprihatinkan terjadi di industri media cetak. Bahkan saat ini masih ada media yang saat
ini kadang terbit terkadang tidak. Sebab, kepentingan mendirikan media bukan bertujuan untuk
melayani informasi, melainkan untuk kepentingan lain.
https://id-id.facebook.com/notes/catatan-dahlan-iskan/dahlan-iskan-era-media-cetak-hampir-
selesai/10152736447145360

Kisah konvergensi media di Indonesia adalah buah dari proses perubahan gradual yang melanda
industri media itu sendiri. Efisiensi, perluasan pasar, kecepatan menyiarkan, dan integrasi
sumberdaya adalah esensi konvergensi media di Indonesia. Teknologi informasi dan komunikasi
menjadi penopang di bawahnya.
Hampir satu dekade belakangan, industri media di Indonesia mengalami hingar-bingar seiring
kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Awalnya adalah ketika sejumlah media
melakukan resizing dan reformat produk, terutama suratkabar harian, pada medio dekade 2000-an.
Perubahan format itu membawa implikasi pada penyesuaian ukuran dan kualitas konten di masing-
masing media. Budaya jurnalisme pun ikut berubah. Gaya menulis tidak bisa lagi sepanjang dan
sebanyak tatkala masih menggunakan ukuran dan format lama (murni broadsheet). Ini karena
surakatkabar-suratkabar di Indonesia telah mengubah ukuran produk mereka menjadi enam atau
tujuh kolom (junior broadsheet), bahkan hingga yang berukuran kompak (compact size).
Pada saat yang bersamaan, sejumlah perusahaan media cetak mulai serius mengembangkan versi
digitalnya. Patut dicatat, hampir satu dekade sebelumnya, beberapa perusahaan suratkabar telah
merilis versi online, seperti Republika dan Kompas, namun baru sekadar sebagai komplimentari
versi cetak dan belum digarap serius dalam konteks konvergensi media. Perubahan format tersebut
dipicu oleh tren multimedia yang dihasilkan teknologi komunikasi melalui kehadiran internet.
Belakangan, internet dan mobile communication menjadikan orang semakin mudah mengakses
informasi media melalui aneka platform. Secara umum, dalam kasus Indonesia, konvergensi media
berangkat dari basis model suratkabar cetak yang berkolaborasi dengan versi online. Inilah jejak
otentik konvergensi media di Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian, kolaborasi surakabar
cetak dengan media online, lalu menular dengan mengikutsertakan medium radio dan televisi dalam
line up konvergensi. Bahkan, model lain yang berangkat dari majalah cetak dan online juga muncul.
Akar konvergensi media sebagaimana dikutip Aulia Nastiti (2012) mendapat penjelasan dari Dailey,
et.al (2005). Menurutnya, konvergensi media merupakan kolaborasi yang terdiri dari lima tahap
aktivitas: (1) cross-promotion, (2) cloning, (3) coopetition, (4) content-sharing, dan (5) full
convergence. Konvergensi media membuat khalayak memiliki lebih banyak pilihan media dengan
konten yang semakin beragam pula (Grant dan Wilkinson, 2009). Tidak hanya berkaitan produksi
dan konsumsi, konvergensi media juga penanda perubahan berbagai elemen komunikasi: media,
kultur, khalayak, teknologi, dan industrinya. Dalam bukunya, Understanding Media Convergence:
The State of the Field, Grant dan Wilkinson menjelaskan bahwa konvergensi media meliputi lima
dimensi besar konvergensi teknologi, konten multimedia, kepemilikan, kolaborasi, dan koordinasi
(Grant dan Wilkinson, 2009: 3 15). Namun, Grant dan Wilkinson (2009) sendiri menyatakan bahwa
kelima dimensi ini tidak dapat dipandang secara statis dan eksklusif, karena inti dari konvergensi
sebenarnya adalah perubahan. Kolaborasi menekankan pada kerja sama oleh media yang berada
dalam kepemilikan atau platform berbeda. Cara-cara yang dilakukan misalnya, sharing content,
kerja sama promosi (cross-promotion), atau koordinasi antarmedia (Grant dan Wilkinson, 2009).
Dari segi operasional, konvergensi media menuntut pekerja media menjadi multitasking karena hasil
satu peliputan berita dimuat di berbagai jenis media sehingga lebih efisien.
Konvergensi media juga berimplikasi pada perubahan struktur industri media massa yang
cenderung mengarah kepada crossownership atau kerja sama kepemilikan (Straubhaar dan La
Rose, 2006). Pergeseran struktur industri ini diakibatkan oleh tuntutan produksi konten multimedia
yang harus terdistribusi dalam berbagai platform media, baik media cetak, siar, maupun online.
Konvergensi kepemilikan media memainkan peranan penting dalam menentukan konsolidasi antar
pemain dalam industri media karena berorientasi pada skala ekonomi produksi, yang berarti
produkproduk media yang terkonvergen berpotensi menjadi produksi massal (Grant dan Wilkinson,
2009).
Dua Model di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, pola konvergensi media yang belakangan dianut sejumlah perusahaan
pers nasional, tampaknya lebih mendekati pola yang disebutkan Grant dan Wilkinson (2009), yang
mencakup konvergensi teknologi, konten multimedia, kepemilikan, kolaborasi, dan koordinasi.
Hampir semua perusahaan pers di Indonesia yang telah mengembangkan praktik konvergensi
media, berangkat dari kepemilikan konten multimedia dalam tubuh satu kelompok usaha yang
sama. Seperti konten suratkabar, majalah, radio, televisi, dan online.
Konvergensi media di Indonesia juga memiliki dua arus besar: Arus suratkabar harian dan arus
majalah mingguan. Pada arus suratkabar harian, bisa disebutkan di sini antara lain dipelopori oleh
Kompas, Seputar Indonesia, Bisnis Indonesia, Republika, Media Indonesia, Bali Post, dan masih
banyak yang lain. Sementara dari arus majalah berita mingguan, Tempo adalah pelopornya yang
selanjutnya diikuti oleh Gatra.
Di Bisnis Indonesia, misalnya, yang telah mengaplikasikan konvergensi sejak 2009, model
konvergensi dibangun secara multiplatform, multichannel, dan multimedia. Mereka
mengkonvergensikan media cetak, radio, outdoor, dan online, serta mobile application sekaligus.
Aplikasi konten pun lalu menjadi multichannel, bisa dalam format tablet dan mobile dengan program
android dan OS. Berita atau artikel hasil
riset Bisnis Indonesia dipublikasikan melalui berbagai saluran medium tersebut, tutur Endy
Subiantoro, Direktur Pemasaran dan Penjualan Bisnis Indonesia. Benefit dari praktik konvergensi
tentu saja memberikan nilai tambah bagi audiens dan memperluas audiens pembaca koran maupun
target pasar produk Bisnis Indonesia yang lain.
Dalam kasus majalah Tempo, malah tidak ada satupun model konvergensi di dunia yang mereka
anut. Gagasan aplikasi konvergensi media di Tempo telah menampakkan jejaknya mulai akhir 2009.
Dua tahun kemudian, uji coba pun dilakukan secara terbatas, dimulai dari kompartemen seni yang
bekerja melayani semua platform media di bawah kelompok usaha media Tempo. Namun, seperti
diakui Toriq Hadad,
Kepala Divisi Pemberitaan Korporat Tempo, uji coba ini tidak memuaskan, karena faktor leadership
dan bukannya faktor model konvergensi yang sedang dikembangkan.
Model konvergensi media mensyaratkansatu hal: penyatuan lokasi newsroom. Sulit membayangkan
sebuah kelompok usaha media yang memiliki beberapa format media, menjalankan model
konvergensinya dari sejumlah lokasi newsroom yang terpisah. Inilah yang awalnya menjadi kendala
di Tempo. Setelah terjadi penyatuan newsroom di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, proses
agregasi dan konvergensi media bisa lebih mudah dijalankan.
Setelah berhasil menyelesaikan kendala internalnya, termasuk faktor leadership, praktis sejak
Januari 2012, Tempo telah resmi melakoni konvergensi media. Kini, Tempo memiliki tiga platform
yang dikembangkan secara serentak cetak, digital, dan TV (Tempo TV). Khusus platform digital
berwujud dalam Tempo online dan format aplikasi berbasis tablet (majalah) dan android (Koran
Tempo). Tempo juga dikenal
memelopori konsep aplikasi berbayar yang bisa diunduh di Scoop dan iTunes.
Tak lama kemudian, Sindo pun mengikuti jejak Tempo. Setelah melalui proses bertahap, sejak Juni
2012, berbagai platform media di MNC Grup (induk usaha Sindo) disatukan dalam payung
SindoMedia yang terdiri dari SindoTV, Sindo Radio, Koran Sindo, Sindo Weekly, dan
Sindonews.com. Konvergensi media pun berlangsung di tubuh kelompok usaha media ini. Sama
seperti yang berlangsung pada Tempo, penyatuan newsroom juga menjadi faktor krusial bagi
kemulusan Sindo tatkala menjalankan praktik konvergensi.
Menurut penuturan Sururi Alfaruq, Pemimpin Redaksi Sindo, seiring perjalanan waktu, proses
sinergi akan semakin banyak sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas yang dimiliki oleh masing-
masing media platform. Saat ini proses itu sedang berjalan secara bertahap. Yang jelas pertama
dilakukan adalah konvergensi nama yang semua bernada sama: Sindo. Tujuannya untuk
memudahkan orang mengingat karena brand
Sindo dinilai sudah melekat di hati audience saat Koran Seputar Indonesia diluncurkan pertama kali
tahun 2005.
Konvergensi yang dilakukan Sindo Media hampir sama dengan yang dilakukan grup media lain.
Tidak ada satu model yang secara khusus dianut dalam konvergensi ini, tapi bisa campuran dari
sejumlah model konvergensi media yang telah ada sebelumnya. Bentuk konkret konvergensi yang
dilakukan adalah dengan menggabungkan semua multiplatform ke dalam portal berita
Sindonews.com dimana tv, radio, majalah, koran, dan online bisa dilihat, didengarkan dan dibaca
oleh pengunjung portal Sindonews.com.
Kini, platform Sindomedia bisa diakses melalui PC, mobile, dan tablet. Secara jangkauan audience
diharapkan akan meningkat dan bertambah luas. Secara bisnis juga diyakini bertambah kuat
dengan model saling melengkapi antarmedia platform.
Jika melongok media di daerah, Bali Post rasanya pantas dijadikan salah satu contoh media yang
juga telah menjalankan konvergensi media. Sama seperti halnya Harian Sindo dan Bisnis Indonesia,
Bali Post mengembangkan versi digitalnya yang bisa diakses dalam format tablet, yang
dikombinasikan dengan saluran televisi miliknya, Bali TV. Di saluran TV mereka, setiap informasi
aktual dari wartawan Bali Post juga ditayangkan dalam bentuk running text.
Pilihan Strategis
Konvergensi media apapun bentuk dan skalanyapada akhirnya adalah pilihan strategis yang
harus ditempuh perusahaan media di Indonesia jika hendak mengembangkan pasarnya (pembaca
dan pengiklan) lebih luas di masa depan. Paling tidak ada dua alasan penting menjelaskan
hal ini. Pertama, karena keniscayaan teknologi dan perangkat telekomunikasinya yang hadir di
depan kita dan tidak bisa dihindarkan. Kedua, karena kultur audience (baca: pasar) yang terus
berubah.
Audience hari ini berbeda dengan audience di masa lalu ketika antara media cetak, penyiaran, dan
online belum disatukan oleh jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Kini, melalui jasa jaringan
telekomunikasi dan informasi, setiap orang bisa mengakses berbagai platform media dalam satu
format digital. Efek positif paling besar yang dinikmati perusahaan pers tentu saja berupa ekstensi
pasar produk mereka. Pasar menjadi tidak bersekat, melintasi batasbatas geografis.
Tinggal kini, isu berikutnya setelah praktik konvergensi berlangsung adalah bagaimana mengelola
aset dan produk konvergensi media ini menjadi bernilai (kapitalisasi). How to monetizing? Selama
beberapa tahun terakhir, upaya mengkapitalisasi aplikasi digital dan belakangan konvergensi media
ini menjadi diskusi sentral para pelaku usaha pers. Keyakinan bahwa digitalisasi produk dan
konvergensi akan menciptakan nilai tambah bagi perusahaan pers memang membumbung tinggi.
Paling tidak karena buah dari proses tersebut berupa efisiensi produksi, massifikasi produk,
agregasi sumber daya manusia, dan perluasan pasar (pembaca dan pemirsa) produk sudah
berhasil dinikmati.
Namun secara bisnis? Sebagaimana diakui Toriq Hadad, memang pertumbuhan bisnis hasil
digitalisasi dan konvergensi media cukup eksponensial. Walaupun jika dibandingkan dengan
pendapatan dari bisnis konvensional (cetak) nilai bisnisnya masih jauh, katanya terus terang.
Sungguh pun demikian, model konvergensi media adalah pilihan strategis yang mengandung
tantangan besar bagi para pelaku pers di
Indonesia untuk terus berinovasi sekaligus mengedukasi pasar.
Bukan sekadar pasar pembaca yang kini telah menikmati produk konvergensi. Lebih dari itu adalah
pasar pengiklan. Dalam hemat saya, kunci dari pengembangan bisnis konvergensi media tetaplah
bersandar pada faktor konten. Kualitas dan kredibilitas konten menjadi basis utama bisnis media.
Kredo Content is King, hingga kapan pun masih berlaku. Apalagi di tengah sorotan masih
banyaknya potensi pelanggaran etika jurnalistik yang berasal dari platform media online yang secara
natural lebih mengedepankan kecepatan dibanding akurasi, ini menjadikan konten butuh perhatian
khusus. Apapun platformnya, konten tetaplah yang utama!
Pendek kata, keberhasilan meraih pasar semakin besar bagi praktik konvergensi media sangat
ditentukan pertama-tama karena faktor (inovasi) konten. Selebihnya, adalah kepemimpinan. Dalam
bisnis apapun, kepemimpinan yang kuat dan handal, akan mampu men-drive perusahaan untuk
mencapai sukses. Termasuk perusahaan media. (Asmono Wikan)

Anda mungkin juga menyukai