Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN
Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam cairan
oleh gaya gravitasi. Pada umumnya, proses sedimentasi dilakukan setelah proses
koagulasi dan flokulasi di mana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan
sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat. Proses
sedimentasi dalam industri kimia banyak digunakan, misalnya pada proses pembuatan
kertas dimana slurry berupa bubur selulose yang akan dipisahkan menjadi pulp dan
air, proses penjernihan air (water treatment), dan proses pemisahan buangan nira yang
akan diolah menjadi gula. (Suparni, S.R , 2009)
Sedimentasi merupakan pemisahan solid-liquid menggunakan pengendapan
secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Biasanya sedimentasi
diaplikasikan pada pengolahan air minum, maupun pengolahan air limbah. Dalam
setiap aplikasinya, metode maupun peralatan yang digunakan relatif sama. Pada
pengolahan air minum, terapan sedimentasi khususnya untuk:
1. Pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter pasir
cepat.
2. Pengendapan flok hasil koagulasi flokulasi,khususnya sebelum disaring
dengan filter pasir cepat.
3. Pengendapan flok hasil penurunan hasil kesadahan menggunakan soda kapur.
4. Pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.
Unit sedimentasi merupakan peralatan yang berfungsi untuk memisahkan solid
dan liquid dari suspensi untuk menghasilkan air yang lebih jernih dan konsentrasi
lumpur yang lebih kental melalui pengendapan secara gravitasi. Secara keseluruhan,
fungsi unit sedimentasi dalam instalasi pengolahan adalah:
a. Mengurangi beban kerja unit filtrasi dan memperpanjang umur pemakaian unit
penyaring selanjutnya.
b. Mengurangi biaya operasi instalasi pengolahan.

II. PROSES SEDIMENTASI
A. Jenis Sedimentasi
Proses sedimentasi dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu :
1. Cara Batch
Cara ini cocok dilakukan untuk skala laboratorium, karena
sedimentasi batch paling mudah dilakukan, pengamatan penurunan ketinggian
mudah. Mekanisme sedimentasi batch pada suatu silinder / tabung bisa dilihat
pada gambar berikut :

Gambar 1 . Mekanisme Sedimentasi Batch
Keterangan : A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Gambar di atas menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi
seragam dengan partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel
mulai mengendap dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan cepat.
Zona D yang terbentuk terdiri dari partikel lebih berat sehingga lebih cepat
mengendap. Pada zona transisi, fluida mengalir ke atas karena tekanan dari zona
D. Zona C adalah daerah dengan distribusi ukuran yang berbeda-beda dan
konsentrasi tidak seragam. Zona B adalah daerah konsentrasi seragam, dengan
komsentrasi dan distribusi sama dengan keadaan awal. Di atas zona B, adalah
zona A yang merupakan cairan bening.
Selama sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah
(gambar 2 b, c, d). Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang. Akhirnya
zona B, C dan transisi hilang, semua padatan berada di zona D. Saat ini disebut
critical settling point, yaitu saat terbentuknya batas tunggal antara cairan bening
dan endapan (Foust, 1980).
2. Cara Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch , hanya ada cairan keluar saja, atau cairan
masuk saja. Jadi, kemungkinan yang ada bisa berupa slurry yang masuk atau
beningan yang keluar. Mekanisme sedimentasi semi-batch bisa dilihat pada
gambar berikut :

Gambar 2. Mekanisme Sedimentasi Semi-Batch

Keterangan : A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
3. Cara Kontinyu
Pada cara ini, ada cairan slurry yang masuk dan beningan yang
dikeluarkan secara kontinyu. Saat steady state, ketinggian tiap zona akan konstan.
Mekanisme sedimentasi kontinyu bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3. Mekanisme Sedimentasi Kontinyu
Keterangan : A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Kecepatan sedimentasi didefinisikan sebagai laju pengurangan atau
penurunan ketinggian daerah batas antara slurry (endapan) dan supernatant
(beningan) pada suhu seragam untuk mencegah pergeseran fluida karena
konveksi (Brown, 1950).
Pada keadaan awal, konsentrasi slurry seragam di seluruh bagian tabung.
Kecepatan sedimentasi konstan, terlihat pada grafik hubungan antara Z
L
dan
L

membentuk garis lurus untuk periode awal:

. Periode ini
disebut free settling, dimana padatan bergerak turun hanya karena gaya gravitasi.
Kecepatan yang konstan ini disebabkan oleh konsentrasi di lapisan batas yang
relatif masih kecil, sehingga pengaruh gaya tarik-menarik antar partikel, gaya
gesek dan gaya tumbukan antar partikel dapat diabaikan. Partikel yang berukuran
besar akan turun lebih cepat, menyebabkan tekanan ke atas oleh cairan
bertambah, sehingga mengurangi kecepatan turunnya padatan yang lebih besar.
Hal ini membuat kecepatan penurunan semua partikel (baik yang kecil maupun
yang besar) relatif sama atau konstan.
Semakin banyak partikel yang mengendap, konsentrasi menjadi tidak
seragam dengan bagian bawah slurry menjadi lebih pekat. Konsentrasi pada
bagian batas bertambah, gerak partikel semakin sukar dan kecepatan turunnya
partikel berkurang. Kondisi ini disebut hindered settling.
Kondisi free settling dan hindered settling dapat diamati pada grafik
hubungan antara Z
L
dan
L.
Dimana untuk kondisi free settling ditunjukkan saat
grafik masih berupa garis lurus, sedangkan saat grafik mulai melengkung
merupakan kondisi hindered settling.

Gambar 4. Mekanisme Proses Sedimentasi.
Sumber: CASIDAY et al. (1999)


B. Bak Sedimentasi
Beberapa literatur banyak kita menemukan istilah sedimentation tank,
sedimentation basin, clarifier, settling tank, settling basin semua itu mempunyai satu
pengertian yaitu sebagai pengendap partikel, baik yang tersuspensi maupun tidak. Bak
sedimentasi umumnya dibangun dari bahan beton betulang dengan bentuk lingkaran,
bujur sangkar, atau segi empat. Bak berbentuk lingkaran berdiameter 10,7 meter
hingga 45,7 meter dan kedalaman 3 hingga 4,3 meter. Bak berbentuk bujur sangkar
umumnya mempunyai lebar 10 hingga 70 meter dan kedalaman 1,8 hingga 5,8 meter.
Bak berbentuk segiempat mempunyai lebar 1,5 hingga 6 meter panjang bak sampai 76
meter. Dengan kedalaman 1,8 meter.
Terdapat 4 zona dalam bak sedimentasi :
1. Zona inlet (pemasukkan)
2. Zona outlet (pengeluaran)
3. Zona pengendapan (settling)
4. Zona lumpur (sludge)

Gambar 6. Zona dalam Bak Sdimentasi

Gambar 6. Tangki Sedimentasi Melingkar dan Karakteristiknya
Di dalam tangki melingkar, aliran masuk menuju ke pusat tangki atau ke
sebelah sisi tangki. Jika diameter tangki kurang dari 30 ft (9.14 m), pipa inlet akan
masuk melalui dinding dan mengarah ke bawah. Jika tangki lebih besar dari 30 ft (
9.14 m), pipa masuk melalui bawah tangki dan debit air tegak lurus menuju pusat
baffle. Kedalaman clarifier melingkar dipertimbangkan pada kedalaman bagian
samping tangki, dan dikenal dengan sebutan side water depth (swd). Kedalaman ini
digunakan untuk menentukan waktu detensi dan volume tangki.
Outlet untuk tangki melingkar terdiri dari suatu weir di sekitar batas luar yang
menyebarkan aliran menjadi seragam. Center-feed pada clarifier yang melingkar yang
digunakan pada pengolahan air limbah mempunyai penggaruk lumpur
secara mekanik (mechanical sludge rakes) yang terletak di bagian bawah dan
penggaruk permukaan (surface skimming) yang terletak di bagian atas.
Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistem
pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi, sebaiknya dilakukan proses
sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi,
dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya. Sedangkan
sedimentasi kedua (secondary sedimentation) yang terletak pada akhir treatment
gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya
(activated sludge, OD) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan ke unit
pengolahan lumpur tersendiri.
Suatu konsep yang umum dari operasi sedimentasi ini dapat diperoleh dari
suatu proses sedimentasi batch sederhana, yang dilakukan dengan mensuspensikan
sejumlah padatan halus ke dalam air di dalam beberapa buah tabung dan
menempatkan tabung-tabung tersebut secara vertikal. Waktu rata-rata berkurangnya
ketinggian dari batas yang jelas antara cairan jernih dan endapan yang mengandung
partikel-partikel disebut dengan kecepatan sedimentasi. Sedimentasi harus
dilakukan pada suhu yang tetap untuk mencegah pergerakkan dari fluida atau
terjadinya suatu proses konveksi yang disebabkan perbedaan massa jenis yang
dihasilkan karena adanya perbedaan suhu.
Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi dan kemampuan partikel
berinteraksi yaitu :
1. Sedimentasi Tipe I/Plain Settling/Discrete particle
Merupakan pengendapan partikel tanpa menggunakan koagulan. Pengendapan
partikel diskret ini dilakukan secara individual dan tanpa interaksi antar partikel.
Tujuan dari unit ini adalah menurunkan kekeruhan air baku dan digunakan pada grit
chamber. Dalam perhitungan dimensi efektif bak, faktor-faktor yang mempengaruhi
performance bak seperti turbulensi pada inlet dan outlet, pusaran arus lokal,
pengumpulan lumpur, besar nilai G sehubungan dengan penggunaan perlengkapan
penyisihan lumpur dan faktor lain diabaikan untuk menghitung performance bak yang
lebih sering disebut dengan ideal settling basin.

2. Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)
Pengendapan material koloid dan solid tersuspensi terjadi melalui adanya
penambahan koagulan, biasanya digunakan untuk mengendapkan flok-flok kimia
setelah proses koagulasi dan flokulasi. Selama dalam operasi pengendapan, terjadi
interaksi antar partikel, ukuran partikel flokulen bertambah besar dan kecepatannya
juga bertambah. Pengendapan partikel flokulen akan lebih efisien pada ketinggian bak
yang relatif kecil. Karena tidak memungkinkan untuk membuat bak yang luas dengan
ketinggian minimum, atau membagi ketinggian bak menjadi beberapa kompartemen,
maka alternatif terbaik untuk meningkatkan efisiensi pengendapan bak adalah dengan
memasang tube settler pada bagian atas bak pengendapan untuk menahan flokflok
yang terbentuk. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan efisiensi bak pengendapan
adalah:
a. Luas bidang pengendapan;
b. Penggunaan baffle pada bak sedimentasi;
c. Mendangkalkan bak;
d. Pemasangan plat miring.

3. Hindered Settling (Zone Settling)
Merupakan pengendapan dengan konsentrasi koloid dan partikel tersuspensi
adalah sedang, di mana partikel saling berdekatan sehingga gaya antar partikel
menghalangi pengendapan partikel-partikel di sebelahnya. Partikel berada pada posisi
yang relatif tetap satu sama lain dan semuanya mengendap pada suatu kecepatan yang
konstan. Hal ini mengakibatkan massa pertikel mengendap sebagai suatu zona, dan
menimbulkan suatu permukaan kontak antara solid dan liquid.
4. Compression Settling
Pengendapan jenis ini berada pada konsentrasi yang paling tinggi pada
suspended solid dan terjadi pada jangkauan yang paling rendah dari clarifiers.
Pengendapan partikel dengan cara memampatkan (compressing) massa partikel
dari bawah. Tekanan (compression) terjadi tidak hanya di dalam zone yang paling
rendah dari secondary clarifiers tetapi juga di dalam tangki sludge thickening.




III. ALAT SEDIMENTASI
1. Simple Gravity Settling Tank
Sebuah tangki sedimentasi
dirancang untuk waktu retensi tertentu,
memastikan aliran dengan turbulensi yang
minimal. Desain dan susunan struktur inlet,
outlet dan membingungkan yang penting dan
perlu di perhatikan. Selain itu, desain harus
memungkinkan untuk menghilangkan padatan
yang terakumulasi di bagian bawah tangki. Hal ini paling sering dicapai dengan
posisi menguras katup berdiameter besar pada titik terendah dari tangki. Lantai
tangki harus lereng menuju katup ini sehingga padatan cenderung mengalir menuju
titik ini. Sebuah tangki pengendapan khas sederhana Baffle ditunjukkan pada
Gambar 1.

Gambar 1. Tangki Pengendapan Sederhana
Waktu retensi air dalam tangki sedimentasi biasanya sekitar dua jam.
Biasanya struktur inlet tangki menetap akan mencakup penyekat vertikal yang
berlubang agak jauh ke depan dari pipa inlet untuk mendistribusikan air secara merata
di seluruh tangki. Air harus mengalir secara merata ke dalam tangki untuk
menghindari turbulensi dan daerah stagnasi. Ada juga mungkin bendung melintasi
lebar dari tangki sebelum membingungkan para. Rapid transit air di tangki harus
dihindari sebagai waktu retensi akan terlalu rendah untuk memungkinkan padatan
tersuspensi untuk menyelesaikan keluar.
Zona menetap adalah area di mana padatan mengendap pada dasar tangki.
Fitur penting adalah waktu retensi air di sini. Untuk perairan sebagian besar waktu
retensi minimal dua jam diperlukan untuk menghapus lebih dari 50 persen dari
padatan tersuspensi dalam air baku. Waktu retensi teoritis dan nyata sering berbeda
karena desain tangki miskin menetap.
Outlet dari tangki menetap adalah bendung yang mengumpulkan air
diklarifikasi dari lapisan atas tangki setelah zona menetap. Zona lumpur adalah area di
mana padatan menumpuk di bagian bawah tangki itu harus lereng menuju saluran
pembuangan. Operasi dan pemeliharaan tank menetap sederhana
Pemeliharaan rutin dari tangki pengendapan sederhana adalah terbatas pada
penghapusan akumulasi padatan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menguras katup
terhubung ke titik terendah dari tangki menetap.
Pemeriksaan Kebersihan Tangki Pengedapan harus dilakukan secara teratur
untuk memastikan bahwa tangki telah dibersihkan secara teratur dan benar. Selain itu,
Pemeriksaan perlu dilakukan agar mengetahui apakah tangki itu berfungsi dengan
benar atau tidak. Poin-poin penting dan pengamatan untuk membuat selama inspeksi
sanitasi adalah :
Katup pembuangan harus fungsional dan berminyak.
Lantai tangki harus secara teratur dibersihkan.
Para kekeruhan air di Outlet harus 70-90 persen lebih rendah daripada
kekeruhan air baku. Jika kekeruhan pengurangan kurang dari 50 persen
tangki harus dikuras dan dibersihkan.

2. Sedimentation Tank

Pada dasarnya, prinsip kerja semua tangki sedimentasi sama. Pada gambar di
atas, tangki sedimentasi umum jenisnya antara lain adalah : (a) aliran persegi panjang
tangki horisontal; (b) melingkar, aliran radial tangki; (c) hopper-bottomed, tangki
aliran ke atas. Ada empat zona penting dalam tangki :
(a) zona Inlet - di pusat, yang memiliki pelat penyekat bulat, aliran didirikan dalam
arah radial seragam sehingga arus pendek tidak terjadi.
(b) zona settling - air mengalir menuju outlet.
(c) zona Outlet - di mana aliran tersebut konvergen.
(d) zona sludge - di mana bahan menetap, dikumpulkan dan dipompa keluar.
3. Classification Equipment

Gambar 12. Simple clasifier
Dalam classifier sederhana, desainnya mirip dengan straight gravity
settling tank, kecuali bahwa bagian bawah dibagi menjadi beberapa partisi
yang sama. Cara kerjanya adalah partikel-partikel kasar terkumpul di ruang
pertama, intermediet partikel terkumpul di tengah partisi, dan partikel halus,
debu, akan ditangkap di partisi bagian terakhir. Kemudian, dengan
mengeringkan bagian dari bawah dan sedimen terpisah akan terbentuk.

Gambar 13. Spitzkasten Chamber
Cara kerja Spitzkasten chamber berjalan seperti berikut. Serangkaian
bangun kerucut dengan peningkatan ukuran sudah diatur dalam arah aliran
(semakin ke kanan ukurannya semakin besar). Partikel-partikel kasar
terkumpul dalam ruang kerucut pertama, dan meluber terus ke ruang kerucut
berikutnya, di mana terjadi pemisahan lebih lanjut. Keunikan Spitzkasten
Chamber adalah laju aliran di antara setiap ruang kerucut dapat diatur sesuai
dengan derajat pemisahan yang diperlukan.

Gambar 14. Thickener
Pada dasarnya apa yang terjadi adalah bahan dimasukkan ke pusat
tangki, beberapa meter di bawah permukaan cairan. Sekitar tepi atas adalah
semacam outlet meluap yang hanya menghapus cairan bening bagian atas.
Bagian bawah tangki berisi yang miring terus bergerak.
Prinsip utamanya adalah menjaga kecepatan terminal partikel yang
menetap lebih besar daripada kekuatan cairan yang dikompresi keluar dari
zona yang lebih rendah. Jika kecepatannya lebih rendah, kekuatan cairan akan
mendorong lebih kuat dan menciptakan daya apung yang besar sehingga
memaksa partikel kembali dan tidak berhasil memisahkan padatan-cairannya.





IV. APLIKASI SEDIMENTASI
Pada pengolahan air minum, terapan sedimentasi khususnya untuk:
1. pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter pasir
cepat
2. pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring
dengan filter pasir cepat
3. pengendapan flok hasil penurunan kesadahan menggunakan soda-kapur
4. pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.
Penyebab kontaminasi dalam sumber air yang ada harus dihilangkan sebelum
air tersebut dikonsumsi publik. Sumber air permukaan, seperti sungai, kolam dan
danau, sering terkontaminasi dan selalu terbuka kemungkinan terkena kontaminasi.
Untuk alasan ini, air permukaan memerlukan pengolahan sebelum digunakan untuk
keperluan minum.
Aplikasi teori sedimentasi pada pengolahan air minum adalah pada
perancangan bangunan prasedimentasi dan sedimentasi II.
a. Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bagian dari bangunan pengolahan air minum yang
berfungsi untuk mengendapkan partikel diskret yang relatif mudah mengendap
(diperkirakan mengendap dalam 1-3 jam). Teori sedimentasi yang dipergunakan
adalah teori sedimentasi tipe I karena teori ini mengemukakan bahwa pengendapan
partikel berlangsung secara individu dan tidak terjadi interaksi antar partikel.
b. Sedimentasi II
Bak sedimentasi II merupakan bagian dari bangunan pengolahan air minum yang
berfungsi untuk mengendapkan partikel hasil proses koagulasi-flokulasi yang relatif
mudah mengendap (karena telah menggabung menjadi partikel berukuran besar).
Tetapi partikel ini mudah pecah dan kembali menjadi partikel koloid. Teori
sedimentasi yang dipergunakan dalam aplikasi pada bak sedimentasi II adalah teori
sedimentasi tipe II karena teori ini mengemukakan bahwa pengendapan partikel
berlangsung akibat adanya interaksi antar partikel.
Proses pengolahan air
Penyimpanan utama adalah penyimpanan air setelah abstraksi dan sebelum
pengolahan. Ini membantu kelancaran variasi dalam kualitas dan kuantitas sumber air,
dan dapat menyediakan cadangan sementara terhadap interupsi jangka pendek dari
sumber. Penyimpanan utama harus mengurangi kekeruhan dan membantu dalam
pengurangan patogen (mikroba penyebab penyakit). Jika air dalam penyimpanan
dilindungi selama minimal 48 jam maka risiko penularan penyakit sangat berkurang
karena serkaria tidak dapat menemukan host dan akan mati. Penyimpanan utama ini
dilakukan pada sebuah tangki tertutup yang luas.
Pra-filtrasi melalui media kasar seperti kerikil yang digunakan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan mikroorganisme dari air. Dalam pra-filtrasi,
pengurangan kekeruhan air sangat berguna sebagai pengolahan pra-filtrasi pasir
lambat. Operasi dan pemeliharaan pra-filtrasi umumnya mudah.

Figure 1. A horizontal gravel pre-filter
Dalam horizontal gravel pre-filter, digunakan bentuk pengolahan biologis
yang sangat efisien dalam penghilangan patogen dari air. Filter ini menggunakan pasir
halus sebagai media melalui air filter.. Horizontal gravel pre-filter mudah dalam
mengoperasikan dan memelihara tetapi harus dilindungi terhadap kekeruhan di
sumber air, misalnya dengan menggunakan pra-filtrasi. Sebuah filter pasir lambat
sederhana ditunjukkan pada Gambar 2.

Figure 2. A simple slow sand filter
Koagulasi dan flokulasi melibatkan penambahan bahan kimia untuk air dalam
rangka meningkatkan penghapusan padatan tersuspensi. Padatan bergabung bersama
sebagai "flok" dan dihapus oleh sedimentasi dalam tangki menetap, atau klarifikasi.
Kontrol proses diperlukan dan pemeliharaan penting untuk koagulasi dan flokulasi
yang efisien. Sebuah flocculator sederhana ditunjukkan dalam Gambar 3.

Figure 3. A flocculator
Terjadi sedimentasi sederhana dalam tangki pengendapan besar di mana air
mengalir stasioner atau lambat sehingga partikel dapat tenggelam ke bawah dan
menetap. Tangki ini sering digabungkan dengan filter pasir lambat dan kombinasi
teknologi pengolahan dapat efektif jika sumber air tidak terlalu keruh dan kekeruhan
bukan karena partikel kecil (tanah liat dan lumpur halus). Sebuah sedimentor
sederhana tipikal ditunjukkan pada Gambar 4.

Figure 4. A simple sedimentor
Filter pasir cepat adalah tangki di mana air lewat di bawah tekanan melalui
suatu media filter, dan jenis pasirnya biasanya pasir kasar. Tangki-tangki biasanya
terbuka, dalam hal ini, menyediakan tekanan untuk mendorong filtrasi. Filter ini
tergolong sebagai filter yang cepat menghilangkan padatan efektif. Biasanya, gravity
rapid sand filter digunakan untuk mengolah air di pabrik pengolahan air yang besar,
yang melayani kota-kota besar.

Figure 5. A gravity rapid sand filter
Pemantauan Pengolahan Air
Sangat penting bahwa proses pengolahan air perlu dipantau secara teratur untuk
memastikan fungsi yang memadai dalam pengolahannya. Pemantauan harus melibatkan :
a. Memeriksa kualitas air selama berbagai tahapan pengolahan dan ketika meninggalkan
pabrik pengolahan. Minimal, pengujian wajibnya adalah pengujian residu klorin,
pengujian kekeruhan, serta pengujian pH (tingkat keasaman air).
b. Mengkonfirmasi bahwa semua proses beroperasi dalam batas-batas desain, misalnya,
bahwa filter dan tangki pengendapan tidak over-load.
Beberapa contoh gambar dari tangki sedimentasi yang digunakan dalam
pengolahan air minum :





Circular clarifier