Anda di halaman 1dari 9

MODUL 3

TEKNIK VAKUM
Zulfikar Lazuardi Maulana, Faridz Ilham Maulana, Jeremia Bonifasius Manurung, Chandra
Widiananda Winardhi
10212034, 10212098, 10212058, 10212076
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Email: lazuardizulfikar@s.itb.ac.id

Asisten: Astari Rantiza / 10211034
Tanggal Praktikum: (20-10-2014)

Abstrak
Percobaan Teknik Vakum kali ini bertujuan untuk mengamati proses perubahan fasa yang terjadi dari suatu
zat cair yang berbeda akibat pemvakuman, serta menentukan perubahan laju pemompaan terhadap
tekanan, konstanta kebocoran system vakum, laju pemvakuman, konduktansi selang dan tekanan residu.
Vakum adalah keadaan gas yang memiliki konsentrasi molekul yang lebih rendah dari konsentrasi molekul
udara di atmosfer disekitar permukaan bumi. Untuk mendapatkan keadaan vakum, kita akan menggunakan
pompa vakum. Pompa vakum adalah sebuah alat untuk mengeluarkan molekul-molekul gas dari dalam
sebuah ruangan tertutup untuk mencapai tekanan vakum. Percobaan dibagi menjadi 2, percobaan pertama
adalah mengukur tekanan dan suhu dari cairan yang dimasukan ke ruang vakum. Cairan tersebut adalah
aquadm, alcohol 70%, alcohol 90%, serta glyserin. Pada percobaan kali ini, perhitungan dilakukan selama 60
detik pertama serta 60 detik berikutnya setelah pompa dimatikan. Percobaan yang kedua adalah mengamati
sarung tangan yang dimasukan ke ruang vakum. Hasil yang didapat dari kedua percobaan ini adalah fasa zat
cair berubah menjadi uap dan sarung tangan mengembang. Perubahan fasa zat ini sesuai dengan diagram
fasa P-T.

Kata Kunci : Fasa, Pompa Vakum , Selang, Tabung Vakum, Vakum.

1. Pendahuluan
Pada praktikum ini, kita akan melakukan
dan memahami percobaan pemvakuman,
mengamati proses perubahan fasa dari suatu
zat cair akibat pemvakuman dengan prinsip
termodinamika, serta menentukan
perubahan laju pemompaan terhadap
tekanan, konstanta kebocoran system
vakum, laju pemvakuman, konduktansi
selang, dan tekanan residu.
Vakum adalah keadaan gas yang memiliki
konsentrasi molekul yang lebih rendah dari
konsentrasi molekul udara di atmosfer
disekitar permukaan bumi. Pengukuran dan
proses fisika biasanya dilakukan dalam
keadaan vakum untuk memindahkan
partikel-partikel atmosfer sehingga dapat
menyebabkan reaksi fisika maupun kimia,
untuk mengganggu keadaan setimbang yang
ada pada keadaan ruang normal, untuk
meregangkan jarak tempuh partikel sebelum
saling bertumbukan, dan mengurangi jumlah
tumbukan molecular per detik sehingga
memperkecil kontaminasi permukaan ruang
yang akan divakumkan.
Alat untuk membuat keadaan menjadi
vakum adalah pompa vakum. Pompa vakum
adalah sebuah alat untuk mengeluarkan
molekul-molekul gas dari dalam sebuah
ruangan tertutup untuk mencapai tekanan
vakum.
Berdasarkan prinsip kerjanya, pompa
vakum diklasifikasikan menjadi 3 yaitu:
1. Positive Displacement :
menggunakan cara mekanis untuk
mengekspansi sebuah volume secara
terus-menerus, mengalirkan gas
melalui pompa tersebut, men-sealing
ruang volume sistem, dan
membuang gas ke atmosfer.
2. Pompa Momentum Transfer :
menggunakan sistem jet fluida
kecepatan tinggi, atau menggunakan
sudu putar kecepatan tinggi untuk
menghisap gas dari sebuah ruang
tertutup.
3. Pompa Entrapment :
menggunakan suatu zat padat atau
zat adsorber tertentu untuk mengikat
gas di dalam ruangan tertutup.
[1]


2. Metode Percobaan
Percobaan kali ini dibagi menjadi 2.
Percobaan pertama adalah percobaan
pemvakuman. Langkah pertama dari
percobaan ini adalah dengan meletakan
cawan kosong dengan thermometer pada
ruangan vakum. Simpan thermometer
dengan posisi yang dapat diamati saat tabung
ditutup. Nyalakan pompa vakum, saat terjadi
loncatan jarum pertama catat sebagai P
0
nya,
lalu catat perubahan P dan T setiap 10 detik
sehingga P stabil selama 1 menit.
Pengambilan data tiap 10 detik bertujuan
agar sampel yang diambil dapat mewakilkan
data selama 1 menit. Ketika setelah 1 menit,
matikan pompa vakum dan catat P dan Tnya
tiap 10 detik selama 1 menit. Lakukan
percobaan ini dengan cawan diisi dengan
aquades, alcohol 70%, alcohol 90%, dan
gliserin. Percobaan kedua adalah percobaan
mengamati sarung tangan karet yang akan
dimasukan ke dalam ruang vakum. Langkah
pertama adalah masukkan sarung tangan
karet kedalam tabung vakum. Nyalakan
pompa dan amati perubahan volume yang
terjadi pada sarung tangan tersebut, sudahi
percobaan pada volume sarung tangan sudah
maksimal.

3. Data dan Pengolahan Data
3.1. Data Tekanan Vs Waktu saat
Pemvakuman
Tabel 1. Pemvakuman Kosong
Pemvakuman Kosong
t (s) P (mb)
0 900
10 470
20 280
30 180
40 140
50 105
60 98

Gambar 1. Tekanan vs Waktu Kosong

Tabel 2. Pemvakuman Aquadm
Pemvakuman Aquadm
t (s) P (mb)
0 920
10 470
20 270
30 180
40 130
50 105
60 100

Gambar 2. Tekanan vs Waktu Aquadm

Tabel 3. Laju Pemvakuman Alkohol 70%
Pemvakuman Alkohol 70%
t (s) P (mb)
0 940
10 480
20 260
30 190
40 120
50 120
60 105

Gambar 3. Tekanan vs Waktu Alkohol 70%

Tabel 4. Laju Pemvakuman Alkohol 95%
Pemvakuman Alkohol 95%
t (s) P (mb)
0 960
10 500
20 290
30 190
40 140
50 120
60 105

Gambar 4. Tekanan vs Waktu Alkohol 95%

Tabel 5. Laju Pemvakuman Glycerin
Pemvakuman Glycerin
t (s) P (mb)
0 960
10 470
20 280
30 185
40 130
50 105
60 90

Gambar 5. Tekanan vs Waktu Glycerin

Dan dari hasil curve fitting menggunakan
matlab, didapat konstanta-konstanta
eksponensialnya sebagai berikut,

Tabel 6. Nilai A,B,C dan R
2
dari hasil plotting
Bahan A B C
Rsquar
e
Kosong 807,5 0,0738 90,74 0,999
Aquad
m 826,8 0,0772 92,08 0,999
Al kohol
70% 841,5 0,0799 98,81 0,999
Al kohol
95% 860,6 0,0756 98,71 0,999
Gl yceri n 865 0,0787 91,17 0,999

3.2. Data Tekanan Vs Waktu saat Setelah
Pemvakuman

Tabel 7. Setelah Pemvakuman Kosong
Setelah Kosong
t (s) P (mb)
0 98
10 110
20 120
30 170
40 190
50 220
60 240

Gambar 6. Tekanan vs Waktu Kosong

Tabel 8. Setelah Pemvakuman Aquadm
Setelah Aquadm
t (s) P (mb)
0 100
10 120
20 140
30 160
40 180
50 208
60 213

Gambar 7. Tekanan vs Waktu Aquadm

Tabel 9. Setelah Pemvakuman Alkohol 70%
Setelah Alkohol 70%
t (s) P (mb)
0 105
10 120
20 145
30 165
40 190
50 210
60 230

Gambar 8. Tekanan vs Waktu Alkohol 70%

Tabel 10. Setelah Pemvakuman Alkohol 95%
Setelah Alkohol 95%
t (s) P (mb)
0 105
10 130
20 150
30 180
40 200
50 225
60 250

Gambar 9. Tekanan vs Waktu Alkohol 95%

Tabel 11. Setelah Pemvakuman Glycerin
Setelah Glycerin
t (s) P (mb)
0 90
10 110
20 130
30 150
40 175
50 200
60 220

Gambar 10. Tekanan vs Waktu Glycerin

Dari hasil diatas didapat konstanta plotting
sebagai berikut,

Tabel 12. P1, P2, dan R
2
setelah pemvakuman
Bahan P1 P2 Rsquare
Kosong 2,557 87,29 0,9722
Aquadm 1,982 100,7 0,9899
Alkohol
70% 2,143 102,1 0,9978
Alkohol
95% 2,411 104,8 0,9987
Glycerin 2,196 87,68 0,998

Setelah didapatkan nilai-nilai konstanta
A,B,C,P1, dan P2 kita pun dapat mengolah
data sebagai berikut,

= . (1)
= Pr (

) (2)
1

=
1

(3)
= . (4)

Keterangan :
S = laju pemvakuman
Ps = tekanan
Pr = tekanan residu
Q = throughput
V = volume sistem (volum tabung vessel)

Dan didapatkan hasilnya,
Tabel 13. Hasil Pengolahan Data
Bahan
Vtotal
(L)
S
(L/s)
Ps
(mbar)
QL
(mbar
L/s)
F
(L/s)
Q
(mbar
L/s)
Kosong 8,373 0,618 86,604 21,41 -1,6 53,546
Aquadm 8,373 0,646 89,013 16,60 -1,4 57,517
Al kohol
70%
8,373 0,669 95,608
17,94
-1,3 63,997
Al kohol
95%
8,373 0,633 94,902
20,19
-1,5 60,083
Gl ycerin 8,373 0,659 87,836 18,39 -1,4 57,853

3.3. Data Tekanan Vs Suhu


Gambar 11. Tekanan vs Suhu Kosong

Gambar 12. Tekanan vs Suhu Aquadm

Gambar 13. Tekanan vs Suhu Alkohol 70%


Gambar 14. Tekanan vs Suhu Alkohol 95%


Gambar 15. Tekanan vs Suhu Glycerin

Tabel 14. Volume awal sebelum pemvakuman
dan setelah
Bahan Vawal (ml) Vakhir (ml)
Aquadm 10 9,7
Alkohol 70% 10 9,1
Alkohol 95% 10 8,4
Glycerin 10 9,8

3.4. Balon dan Botol
Pada percobaan balon dan botol
didapat hasilnya sebagai berikut

Gambar 16. Sarung Tangan Sebelum Berada
dalam Keadaan Vakum

Gambar 17. Sarung Tangan Setelah Berada
dalam Keadaan Vakum (mengembang)

Gambar 18. Botol Plastik Sebelum Berada dalam
Keadaan Vakum



Gambar 19. Botol Plastik Setelah Berada dalam
Keadaan Vakum (mengembang)

4. Pembahasan
Pada grafik P-T (gambar 1-5) yang
dihasilkan dari percobaan ini bisa kita
dapatkan hubungan antara tekanan dan
suhu. Grafik yang dihasilkan menurun dan
berbentuk eksponensial dengan persamaan
regresi sebagai berikut.
=

+
Dari persamaan regresi tersebut didapat nilai
A, B, dan C.
Persamaan regresi diatas setara dengan
persamaan
[(

)] = [ (

)]
[(

)]

A mewakili P
0
(Ps + Ql/S), B merupakan nilai
tekanan residu, dan C adalah Ps + Ql/S.
Dimana S laju pemvakuman, V volume total
(volume tabung vessel), Ql konstanta
kebocoran, Ps tekanan sistem per zat.
Fenomena penurunan tekanan pada grafik P-
T ini disebabkan karena tekanan
mengeluarkan partikel-partikel gas yang ada
di dalamnya. Laju penurunan tekanan secara
eksponensial terjadi pada saat memulai
pemvakuman.
Konduktansi selang merupakan
kemampuan selang meloloskan atau
melepaskan partikel-partikel gas dari tabung
vakum tiap satuan waktu. Kemampuan
meloloskan partikel ini berpengaruh
terhadap kecepatan penurunan tekanan
pada tabung vakum. Semakin besar
konduktansi selang, maka akan semakin
cepat juga penurunan tekanan pada tabung
vakum. Jika semakin kecil konduktansi selang,
maka akan semakin lambat juga penurunan
tekanan pada tabung vakum. Ketika
konduktansi berpengaruh dal am penurunan
tekanan, maka konduktansi juga dapat
berpengaruh terhadap plotting grafik.
Pada saat pompa vakum dimatikan,
terjadi kebocoran. Kebocoran dilihat dengan
penaikan tekanan yang sebelumnya vakum.
Kebocoran ini terjadi pada selang yang
menghubungkan pompa vakum dengan
tabung vakum. Hal ini dapat terjadi karena
material penyusun pada selang memiliki
diameter yang tidak terlalu kecil
dibandingkan diameter dari partikel molekul
gas. Oleh karena itu, ada gas yang keluar
melalui sela-sela material selang. Nilai
konstanta kebocoran tiap keadaan
pemvakuman didapatkan dari hasil plotting
grafik perubahan tekanan tiap satuan waktu.
Selain itu faktor yang dapat menyebabkan
kebocoran adalah silicon grease tidak merata.
Karena tidak meratanya silicon grease,
partikel gas dapat keluar melalui selah-selah
tabung yang tidak terdapat silicon grease.
Faktor selanjutnya adalah tabung vakum
yang tidak homogeny menyebabkan terdapat
partikel gas yang dapat keluar.
Perubahan tekanan terhadap suhu tiap
satuan waktu pada percobaan kali ini
menunjukan hasil yang menurun. Bisa dilihat
pada gambar grafik Gambar. 11, 12, 13, 14,
15. Sedangkan pada referensi, perubahan
tekanan terhadap temperature
menggunakan grafik diagram fasa. Pada
diagram fasa, setelah titik triple, diagram
akan turun seperti meluruh. Maka antara
percobaan dengan referensi sesuai.
Ketika dilakukan pemvakuman, partikel-
partikel pada cairan mengalami penurunan
tekanan dan temperature sehingga berubah
fasa menjadi uap (embun). Pada diagram
fasa, ketika tekanan diturunkan, maka cairan
yang kita ukur akan menjadi uap karena
tekanan turun dan tanpa perubahan suhu.
Aplikasi dalam pemvakuman adalah
pembungkus makanan. Makanan akan
membusuk ketika ada reaksi antara molekul
makanan dengan molekul yang diudara yang
menyebabkan reaksi redoks. Maka aplikasi
vakum membuat udara disekitar makanan
dalam bungkus tersebut vakum dan makanan
tidak bias membusuk dengan jangka waktu
yang cukup lama.
Sarung tangan diikatkan di bagian ujung
dan dimasukkan ke dalam tabung vakum.
Dilakukan pemvakuman dan didapatkan
volume sarung tangan semakin membesar .
Fenomena ini terjadi ketika dilakukan proses
pemvakuman, tekanan dalam tabung vakum
akan menurun, namun tidak pada sarung
tangan karet. Sarung tangan karet memiliki
udara yang terjebak didalamnya. Sarung
tangan berbahan karet digunakan karena
bahan karet itu berfungsi menjaga udara
yang berada didalamnya dari pengaruh
pemvakuman. Sehingga dalam pemvakuman
ini, partikel-partikel udara yang dipindahkan
ke luar sistem adalah partikel dalam tabung
saja. Karena tekanan dalam tabung yang
semakin mengecil, maka tekanan yang
diberikan kepada sarung tangan semakin
kecil pula. Tekanan dalam sarung tangan
menjadi lebih besar dibandingkan
lingkungannya (tabung vakum). Akibatnya
partikel-partikel udara dalam sarung tangan
akan dapat bergerak secara lebih bebas.
Dengan pergerakan partikel-partikel udara
dalam sarung tangan ini akan membuat
volume sarung tangan semakin membesar.

5. Kesimpulan
Proses pemvakuman yang dilakukan
menggunakan sistem yang terdiri atas pompa
vakum, selang, dan tabung vakum. Prinsip
kerja pompa vakum adalah membuang
partikel-partikel gas yang ada di dalam
tabung ke lingkungan. Dengan pelepasan
partikel-partikel gas ke lingkungan, tekanan
dalam tabung akan semakin menurun.
Penurunan tekanan tiap satuan waktu juga
diiringi dengan perubahan suhu.
Perubahan fasa yang terjadi akibat
pemvakuman dari zat cair menjadi uap air.
Perubahan fasa tersebut mengikuti diagram
fasa. Pada diagram fasa, ketika tekanan
diturunkan, maka cairan yang kita ukur
menjadi uap air. Hasil percobaan kali ini
ditunjukan pada table 13.

6. Pustaka
[1]
http://artikel-teknologi.com/prinsip-kerja-
pompa-vakum/ [Diakses pada tanggal 22
Oktober 2014]